• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

7

BAB II

LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Landasan Teori 2.1 Konsentrasi Belajar

2.1.1. Definisi Konsentrasi Belajar

Konsentrasi belajar merupakan suatu prilaku dan fokus perhatian siswa untuk dapat memperhatikan dalam setiap pelaksanaan pembelajaran, serta dapat memahami setiap materi pelajaran yang telah diberikan. (Sumartno, : 2004).

Konsentrasi belajar merupakan tingkatan pemahaman siswa yang dapat memperhatikan dengan baik dalam setiap pelaksanaan pembelajaran. Berbagai upaya terus dilakukan oleh pemerintah, misalnya dengan penataran, pembekalan, seminar, diskusi, sampai penelitian yang intinya bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan. (Republika, 24 Desember 2008).

Konsentrasi bagi seseorang PrP (Pineal re Programming) adalah kesadaran yang mampu mengintepretasi dan menyimpan segala informasi tanpa pilih - pilih yang dianggap berguna atau tidak, yang meliputi :

1. Intepretasi dari setiap individual indra yang diproses oleh masing - masing panca indra yang memiliki output sendiri – sendiri, seperti :

a. Mata menerima input secara visual dan kemudian otak mengintepretasikannya.

b. Telinga menerima input getaran suara dan kemudian otak menginterpretasikannya c. Hidung menerima input penciuman bau dari lingkungan sekitar dan kemudian otak menginterpretasikannya.

d. Kulit menerima input peraba udara, kasar, halus, yang dirasakan dan kemudian

(2)

8

disampaikan ke otak lalu menginterpretasikannya.

e. Lidah menerima input perasa dan kemudian otak menginterpretasikannya.

Dari tiap output interpretasi tiap individual panca indera, lalu terbentuk general language (bahasa lintas indera) yang memberikan informasi detail dalam satu jenis bahasa

tentang hal yang diterima semua indera secara merata.

2. Tiap individual object information yang masih dalam jangkauan, dapat diterima oleh kelima indera dalam radius tertentu,kemudian diinterpretasikan oleh tiap masing - masing indera secara individual sebagai individual objek tanpa tereduksi oleh individual object information lain. Kemudian tiap individual object information juga diinterpretasikan mengenai sebab akibat satu dengan yang lainnya.

2.1.2. Indikator Konsentrasi Belajar

Indikator merupakan alat untuk mengukur realisasi dari standar permasalahan dalam penelitian yang muncul serta membimbing penerapan berbagai perbaikan dan perubahan yang diperlukan. Dalam penelitian permasalahan yang akan dibahas mengenai tingkat konsentrasi belajar siawa yang merupakan suatu perasaan atau sikap yang timbul dari pengalaman subjektif, keberadaan dan fokus perhatian yang dapat diketahui melalui suatu pengukuran dengan menggunakan alat ukur tertentu.

Menurut Super dan Crites, yang dikutip oleh Karnoto (1986:16) bahwa cara untuk mengukur konsentrasi belajar adalah sebagai berikut :

1. Memperhatikan setiap materi pelajaran yang disampaikan guru

2. Dapat merespon dan memahami setiap materi pelajaran yang diberikan 3. Selalu bersikap aktif dengan bertanya dan memberikan argumentasi mengenai

materi pelajaran yang disampaikan guru

(3)

9

4. Menjawab dengan baik dan benar setiap pertanyaan yang diberikan guru

5. Kondisi kelas tenang dan tidak gaduh saat menerima materi pelajaran

Untuk mengukur tingkat konsentrasi belajar siswa, yang terpenting adalah mengetahui seberapa jauh individu tersebut menerima, menolak atau menghindari setiap pelaksanaan pembelajaran yang menjadi kecenderungannya.

2.1.3. Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Konsentrasi Belajar

Menurut (Tonie Nase :2007) Konsentrasi belajar siswa, dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu :

1. Lingkungan

Lingkungan dapat mempengaruhi kemampuan dalam berkonsentrasi, kita akan dapat memaksimalkan kemampuan konsentrasi. Jika kita dapat mengetahui faktor apa saja yang berpengaruh terhadap konsentrasi, kita mampu menggunakan kemampuan kita pada saat dan suasana yang tepat. Faktor lingkungan yang mempengaruhi konsentrasi belajar adalah suara, pencahayaan, temperatur, dan desain belajar.

a. Suara

Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda terhadap suara, ada yang menyukai belajar sambil mendengarkan musik, belajar ditempat ramai, dan bersama teman. Tetapi ada yang hanya dapat belajar ditempat yang tenang tanpa suara, atau ada juga yang dapat belajar ditempat dalam keadaan apapun.

b. Pencahayaan

Pencahayaan merupakan salah satu faktor yang pengaruhnya kurang begitu dirasakan dibandingkan pengaruh suara, tetapi terdapat juga seseorang yang senang belajar ditempat terang, atau senang belajar ditempat yang gelap, tetapi kenyamanan visual dapat juga

(4)

10

digolongkan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kenyamanan di dalam ruangan maupun bangunan.

c. Temperatur

Temperatur sama seperti faktor pencahayaan, merupakan faktor yang pengaruhnya kurang begitu dirasakan dibandingkan pengaruh suara, tetapi terdapat juga seseorang yang senang belajar ditempat dingin, atau senang belajar ditempat yang hangat, dan juga senang belajar ditempat dingin maupun hangat.

d. Desain Belajar

Desain belajar merupakan salah satu faktor yang memiliki pengaruh juga, yaitu sebagai media atau sarana dalam belajar, seperti halnya terdapat seseorang yang senang belajar ditempat santai sambil duduk di kursi, sofa, tempat tidur, maupun di karpet. Cara tersebut merupakan salah satu cara yang dapat membuat kita lebih dapat berkonsentrasi.

2. Modalitas Belajar

Modalitas belajar yang menentukan siswa dapat memproses setiap informasi yang diterima. Konsentrasi dalam belajar dan kreativitas guru dalam mengembangkan strategi dan metode pembelajaran di kelas akan meningkatkan konsentrasi belajar siswa sehingga hasil belajarnya pun akan meningkat pula.

Semakin banyak informasi yang diterima dan diserap oleh siswa, maka kemampuan berkonsentrasi pun harus semakin baik dan fokus dalam mengikuti setiap proses pembelajaran. Banyak cara yang ditawarkan oleh para ahli dalam meningkatkan konsentrasi belajar siswa, misalnya dengan cara meningkatkan gelombang alfa agar setiap siswa dapat berkonsentrasi dengan baik (Depoter,dkk; 2000), kemudian dapat juga dengan

(5)

11

mengatur posisi tubuh pada saat belajar, dan mempelajari materi (informasi) sesuai dengan karakteristik siswa itu sendiri.

3. Pergaulan

Pergaulan juga dapat mempengaruhi siswa dalam menerima pelajaran, perilaku dan pergaulan mereka, dapat mempengaruhi konsentrasi belajar yang dipengaruhi juga oleh beberapa faktor, seperti faktor teknologi yang berkembang saat ini contohnya televisi, internet, dll hal ini sangat berpengaruh pada sikap dan prilaku siswa.

4. Psikologi

Faktor psikologi juga dapat mempengaruhi bagaimana sikap dan perilaku siswa dalam berkonsentrasi, misalnya karena adanya masalah dalam lingkungan sekitar dan keluarga, hal ini tentunya akan mempengaruhi psikologi siswa, karena siswa akan kehilangan semangat dan motivasi belajar mereka, tentunya akan berpengaruh juga terhadap tingkat konsentrasi siswa yang akan semakin menurun.

2.2 Temperatur dan Pecahayaan Ruang 2.2.1. Definisi Temperatur Ruang

Temperatur ruang bila dihubungkan dengan temperatur ruang kelas, kata temperatur ruang yang nyaman memiliki pengertian ruangan yang memiliki suhu udara sejuk, santai dan nyaman, sebagai sarana pendidikan ( kamus ilmiah.com ). Dalam mendeskripsikan kondisi itu sendiri ada yang berupa Kondisi temperatur, dimana kondisi temperatur adalah suatu kondisi thermal yang dirasakan oleh psikologi sikap dan perilaku manusia bukan

(6)

12

oleh benda, tetapi yang dikondisikan dan disebabkan oleh lingkungan sekitar dan benda- benda lainnya yang terdapat di sekitar. (Fanger, :1997).

Temperatur ruangan merupakan suatu suhu pada ruangan tersebut yang nyaman atau tidaknya suhu suatu ruangan atau lingkungan thermal akan tergantung pada menyala dan matinya signal syaraf reseptor temperatur yang terdapat pada kulit dan otak manusia, maka kenyamanan temperatur merupakan kondisi pikiran yang dapat mengekspresikan tingkat kepuasan seseorang terhadap suhu ruangan serta lingkungan thermal disekitarnya. (Peter Hoppe, : 1997).

Temperatur merupakan tingkatan suhu suatu benda yang berhubungan dengan energi dalam berbagai skala, di kehidupan sehari - hari biasanya ukuran suhu udara dapat dinyatakan derajat celcius (kamus ilmiah.com). Manusia dapat menginderakan suhu udara disekitarnya, kondisi suhu udara di lingkungan sekitar manusiaatau di atmosfer dinamakan dengan ambient temperature (suhu lingkungan).

Penginderaan temperatur lingkungan itu sendiri bersumber ada dua komponen, yaitu komponen fisik dan komponen psikis. Komponen fisik adalah kadar suhu udara lingkungan yang diukur dengan skala Celcius (C) atau Fahrenheit (F). Sedangkan komponen psikis lebih majemuk, bagian komponen psikis yang pertama adalah suhu tubuh kita sendiri yang dinamakan dengan temperatur internal (body temperature). Bagian lain yang peka terhadap suhu udara pada tubuh kita yaitu pada kulit yang merupakan reseptor yang peka terhadap perubahan suhu udara lingkungan sekitar.

Reaksi tubuh sangat dipengaruhi oleh suhu udara lingkungan. Untuk ukuran suhu tubuh manusia normalnya memiliki suhu tubuh sekitar 37ºC, jika suhu tubuh manusia kurang dari 25ºC atau lebih dari 55ºC, maka akan mati. Oleh karena itu didalam tubuh manusia terdapat organ tertentu yang mempertahankan suhu tubuh agar tetap normal.

(7)

13

Organ tersebut adalah hypothalamus. Jika temperatur udara lingkungan meningkat, maka fungsi hypothalamus untuk merangsang pembesaran pori-pori kulit, percepatan peredaran darah, pengeluaran keringat dan reaksi-reaksi tubuh lainnya yang bertujuan untuk dapat mengurangi panas tubuh yang berlebihan.

Gejala yang akan terjadi, ketika hypothalamus tidak dapat mempertahankan suhu tubuh manusia pada suhu normal, maka gejala yang akan terjadi :

a. Heat exhaustion : akan menimbulkan rasa lelah akibat panas yang berlebihan, disertai rasa mual, sakit kepala dan gelisah.

b. Heat stroke : akan mengakibatkan delerium (mengigau), pingsan (tidak sadar), dan dapat mengakibatkan meninggal dunia akibat panas yang berlebihan.

c. Heat aesthenia : akan mengakibatkan kejenuhan, sakit kepala, gelisah, susah untuk tidur insomnia dan mudah tersinggung.

d. Mengakibatkan serangan jantung, karena suhu lingkungan yang tinggi daya kerja jantung lebih cepat mengalirkan darah keseluruh tubuh untuk menurunkan suhu.

Reaksi penyesuaian diri dari suhu lingkungan yang satu dengan suhu lingkungan yang Lainnya yang memiliki suhu berbeda-beda disebut acclimatization (aklimatisasi).

2.2.2. Definisi Pencahayaan Ruang

Pencahayaan ruang adalah faktor pencahayaan pada ruangan sehingga intensitas cahaya dari luar yang masuk pada masing-masing ruang dapat terpenuhi sesuai dengan fungsi dan kebutuhannya. Satuan intensitas cahaya adalah “candela” (disingkat cd) dan lumen/lux. Satu candela adalah intensitas cahaya suatu sumber cahaya yang memancarkan radiasi monokromatik pada frekuensi 540 × 1012 hertz dengan intensitas radiasi sebesar 1/683 watt per steradian dalam arah tersebut (CGPM ke-16, 1979)

(8)

14

Pencahayaan merupakan kestabilan sirkulasi Pencahayaan yang masuk ke dalam ruangan dan sebagai salah satu faktor yang sebenarnya pengaruhnya kurang begitu dirasakan dibandingkan pengaruh suara, karena terdapat juga seseorang yang senang belajar ditempat terang, atau senang belajar ditempat yang gelap, tetapi pencahayaan dapat juga digolongkan sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat kenyamanan di dalam ruangan maupun bangunan.

2.2.3. Reaksi Fisiologis Terhadap Kondisi Temperatur dan Pencahayaan

Penjelasan bagaimana manusia dapat mengerti dan memahami lingkungan serta fisiologis yang dapat mempengaruhi kenyamanan, seperti :

a. Pendekatan Konvensional

Bermula dari adanya rangsangan luar dari diri individual (stimulus), individu menjadi sadar akan adanya stimulus ini melalui sel - sel syaraf reseptor (penginderaan) yang peka terhadap bentuk-bentuk energi tertentu cahaya maupun suara yang dapat mempengaruhi tingkat kenyamanan. Menurut Wirawan (1992), bila sumber energi itu cukup kuat, maka akan berpengaruh terhadap penginderaan manusia dan akan disatukan kemudian dikoordinasikan di dalam sel - sel syaraf dan otak, sehingga manusia bisa mengenali objek dan kenyamanan di lingkungan sekitar, maka keadaan ini dinamakan persepsi.

Pandangan konvensional ini menganggap persepsi sebagai kumpulan penginderaan (sensation). Jadi kalau kita melihat benda yang terbuat dari kayu dan berkaki empat, maka indera kita akan mengkoordinasikan secara tertentu, yang dikaitkan dengan ingatan dan pemahaman kita, yang diberi makna tertentu sehingga kita bisa mengenal, misalnya benda tersebut adalah kursi. Cara pandang seperti ini dinamakan juga sebagai pendekatan

(9)

15

kontruktivisme. Karena sebetulnya kerja otak kita tidak secara pasif mengkumulasikan pengalaman dan memori kita, melainkan aktif untuk menilai dan memberikan makna.

b. Pendekatan Ekologik

Pendekatan ini dikemukakan oleh (Gibson, ;1997), individu tidak menciptakan makna- makna dari apa yang di inderakannya, karena sesungguhnya makna itu telah terkandung dalam stimulus itu sendiri dan tersedia untuk organisme yang siap menyerapnya.Ia berpendapat bahwa persepsi terjadi secara spontan dan langsung. Spontanitas ini terjadi karena organisme selalu menjajaki (eksplorasi) lingkungannya dan dalam penjajakan itu melibatkan setiap objek yang ada di lingkungannya dan setiap objek menonjolkan sifat- sifatnya yang khas untuk organisme bersangkutan.

2.2.4. Dampak Kondisi Temperatur dan Pencahayaan Terhadap Perilaku

Menurut Bell dkk (Wirawan,: 1992) menuturkan bahwa kondisi temperatur dan pencahayaan sampai batas tertentu dapat menimbulkan arousal yang dapat mempengaruhi dan merangsang prestasi, tetapi setelah sudah melewati batas kenyamanan tertentu, akan mengakibatkan terganggunya pula tingkat konsentrasi dan prestasi belajar.

Kondisi temperatur lingkungan, dan sirkulasi cahaya yang terlalu tinggi dapat menyebabkan meningkatnya beban psikis (stress) sehingga akhirnya akan menurunkan attention. Teori behavioral constraint, suhu lingkungan yang terlalu tinggi akan

meyebabkan menurunnya persepsi kontrol terhadap lingkungan sehingga dapat mempengaruhi kosentrasi dan perilaku individu.

Di lingkungan industri maupun di lingkungan sekolah, kondisi temperatur dan pencahayaan yang kurang baik, menimbulkan kejenuhan, kelelahan dan berkurangnya

(10)

16

konsentrasi. Serta pengaruhnya kondisi temperatur dan pencahayaan yang kurang baik, akan mempengaruhi terhadap tingkah laku sosial, misalnya peningkatan agresivitas dan perubahan perilaku sosial yang signifikan dari sebelumnya.

a. Reaksi Terhadap Panas

Menurut Bell dkk (Wirawan, 1992), mengemukakan kenaikan suhu sampai batas tertentu menimbulkan arousal yang merangsang prestasi, tetapi setelah melebihi batas tertentu, kenaikan suhu yang melebihi batas suhu normal ini sudah mulai mempengaruhi suhu tubuh manusia yang mengakibatkan terganggunya pula prestasi kerja. Ditinjau dari teori overload, suhu lingkungan yang berlebihan dan terlalu tinggi menyebabkan meningkatnya beban psikis (stress) pada manusia sehingga akan menurunkan attention. Di tinjau dari teori behavioral constraint, suhu lingkungan yang terlalu tinggi akan menyebabkan menurunnya persepsi kontrol manusia terhadap lingkungan sehingga bisa menurunkan tingkat konsentrasi.

b. Reaksi Terhadap Dingin

Reaksi fisiologis terhadap suhu udara yang dingin (dibawah 68ºF atau 20ºC) dalam beberapa hal berbeda dengan reaksi fisiologis terhadap suhu panas. Dampak suhu udara yang dingin terhadap perilaku manusia sangat kompleks karena beberapa hal, yaitu : 1. Manusia jarang sekali melakukan aktifitas pada suhu udara dingin, tanpa memakai

pelindung misalnya pakaian yang tebal atau memakai jaket.

2. Dikarenakan reaksi fisiologis dan perilaku manusia berbeda-beda terhadap suhu udara dingin, hal inilah yang menyebabkan perbedaan dan menjadi kompleks. Hal ini disebabkan juga kekebalan suhu tubuh manusia itu berbeda-beda

(11)

17 2.3. Suhu Udara Efektif

Kombinasi suhu udara, kelembaban udara dan kecepatan angin tidak pernah mempunyai besaran yang tetap, karena keadaannya selalu mengalami perubahan dan Keadaan saling mempengaruhi tersebut akan membentuk suhu udara efektif yang nyaman bagi manusia untuk beraktifitas. Meskipun perasaan nyaman tersebut bersifat subjektif tetapi dapat ditentukan daerah kenyamanan dan berlaku umum bagi orang-orang yang tinggal di daerah yang sama. kondisi kenyamanan thermal sampai batas efektif dengan suhu udara berkisar 25ºC dan dapat menimbulkan arousal yang mempengaruhi dan merangsang kenyamanan serta prestasi kerja, tetapi setelah melewati batas kenyamanan tertentu, akan mengakibatkan terganggunya pula tingkat konsentrasi dan prestasi belajar.

Pada daerah yang memiliki iklim tropis, zona kenyamanan thermal suatu ruangan berkisar pada tingkatan suhu udara efektif antara 22ºC sampai 27ºC, lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

Tabel 2.1

Suhu Udara Efektif Daerah Tropis (Sumber Direja, 1999: 3)

Suhu Udara Efektif (ET)(ºC)

Kategori

27.5ºC nyaman - hangat

25.8ºC nyaman - optimal

22.1ºC nyaman - sejuk

20.5ºC nyaman - sejuk

(12)

18 2.4. Intensitas Cahaya Efektif

Dalam merancang ruangan maupun bangunan selain melihat aspek tata letak dan morfologi bangunan, juga harus memperhatikan aspek sirkulasi pencahayaan yang masuk pada bangunan (Sumalyo1993:9). Bangunan dan ruangan yang baik dibangun dengan gaya dan karakteristik dengan adanya penyesuaian terhadap iklim tropis basah di Indonesia. Penyesuaian terhadap iklim tropis basah tersebut sangat mempengaruhi corak arsitektur memiliki ciri khas pada bukaan bangunannya. Bukaan pada bangunan seperti pintu dan jendela merupakan suatu elemen penting pada suatu ruang. Rancangan pintu dan jendela, serta dimensi dan tata letaknya dalam suatu ruang juga akan mempengaruhi sirkulasi bangunan tersebut dan aktivitas di dalamnya.

Ruang terlalu terang, mata akan silau dan cepat lelah. Ruang kurang terang, mata

berakomodasi maksimal terus menerus sehingga cepat lelah juga. Ruang membaca sedikitnya membutuhkan cahaya 250 lux ( lumen/ kuat cahaya dibagi luas ruang ), idealnya antara 300-400 lux. Tes mudahnya, jika selama 15 menit kita tak merasa lelah maka cahayanya sudah cukup ideal.Pintu dan jendela tidak hanya berfungsi sebagai pembatas antar ruang, akses masuk, transisi ruang, penghubung antar ruang, dan sekaligus pengaman.

Tetapi juga berfungsi sebagai sirkulasi pencahayaan yang masuk kedalam ruangan Oleh karena itu, rancangan desain pintu dan jendela harus disesuaikan dengan fungsinya dan peletakannya. Karena Peranan pintu sebagai penghubung antar ruang juga mempengaruhi visual penghuni bangunan, meskipun antar ruang memiliki keterkaitan, tetapi ada berbagai batasan-batasan yang melingkupinya. Jendela merupakan elemen bukaan pada rumah tinggal yang memiliki peranan penting untuk memberikan kenyamanan pergantian sirkulasi udara, memasukkan cahaya ke dalam ruang, penghubung visual dari sisi dalam maupun luar ruangan, dan jendela dapat mempercantik bangunan dan ruangan. Jendela pada

(13)

19

bangunan dan ruangan memiliki karakteristik yang unik dari segi fungsi, material, maupun rancangannya mempunyai ciri khas, yaitu adaptif dengan iklim setempat. Oleh karena itu, rancangan bukaan pada bangunan sangat penting untuk diperhatikan, karena memegang peranan penting terhadap kenyamanan penghuni bangunan, dan desain bukaannya juga menambah nilai estetis pada suatu bangunan.

B. Anggapan Dasar

Setiap penelitian perlu ditunjang adanya anggapan dasar untuk memperkuat landasan penelitian. Anggapan merupakan titik tolak penelitian dalam suatu penelitian yang kebenarannya tidak diragukan lagi. Hal ini sejalan dengan pendapat Winarno Surakhmad yang dikutip oleh Suharsimi Arikunto (2002 : 58) bahwa : “Anggapan dasar atau postulat adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik”.

Anggapan dasar merupakan landasan teoritis yang penulis gunakan dalam melakukan penelitian sehingga penelitian ini dapat sejalan dengan kaidah-kaidah keilmuan yang sudah ada sebelumnya.

Berdasarkan uraian tersebut maka sebagai asumsi penulis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

” Adanya kecenderungan bahwa kondisi temperatur dan pencahayaan ruang kelas dapat mempengaruhi tingkat konsentrasi belajar siswa ”

C. Hipotesis

Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian. Hipotesis disimbolkan dengan (Ha) dan perlu didampingi oleh

(14)

20

pernyataan lain yang isinya berlawanan. Pernyataan ini merupakan hipotesis tandingan dengan simbol (Ho) untuk ( Ha).

Berdasarkan pengertian diatas, hipotesis yang dirumuskan penulis pada penelitian ini sebagai berikut :

(Ho) : “ Tidak terdapat perbedaan tingkat konsentrasi belajar siswa yang signifikan berdasarkan kondisi temperatur dan pencahayaan ruang kelas di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 5 Bandung “

(Ha) : “ Terdapat perbedaan tingkat konsentrasi belajar siswa yang signifikan berdasarkan kondisi temperatur dan pencahayaan ruang kelas di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 5 Bandung “

Referensi

Dokumen terkait

Cara yang dilakukan dalam pencucian uang antara lain dengan menginvestasikan, mentransferkan, membelanjakan, mengirim, meng- hibahkan atau perbuatan lain atas harta

menemukan rumus luas dan keliling serta menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan bangun belah ketupat, layang-layang,1. K

Hasil analisis ragam pada Gambar 3b menunjukkan konsentrasi ekstrak biji pinang yang berbeda pada proses penyamakan nabati memberikan pengaruh yang tidak

Demikian pula kemajuan bidang teknologi informasi (internet) memberi tantangan pada dunia pendidikan, khususnya dalam proses belajar mengajar, yaitu dijadikannya

KOMISI INFORMASI PUSAT.. Publik dalam mengelola informasi sesuai dengan UU No. 14 Tahun 2008, dengan harapan akan terjadi refleksi atas kinerja kelembagaan dan munculnya

Penelitian ini menunjukan terdapat earning management dalam perusahaan yang masuk dalam tahapan growth, mature dan stagnant akan tetapi untuk perbedaan perilaku tidak ada,

Ilmu Teknik Industri sebagai salah satu kajian ilmu teknik, dapat diterapkan dalam pembuatan gerobak usaha martabak yaitu dengan Antropometri dan Quality Function Deployment

Berdasarkan tersebut di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian “Pengaruh Pre Akreditasi JCI (Joint Commission International) Terhadap Kelengkapan Data