DI BUKIT SOEHARTO KM. 60 KAB. KUTAI KARTANEGARA
Oleh : Bambang Tono NIM .120500005
Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya Pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
PROGRAM STUDI PENGELOLAAN HUTAN JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
2015
DI BUKIT SOEHARTO KM. 60 KAB. KUTAI KARTANEGARA
Oleh : Bambang Tono NIM .120500005
Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya Pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
PROGRAM STUDI PENGELOLAAN HUTAN JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
2015
i
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Karya Ilmiah : Pengukuran Diameter, Tinggi dan Volume Tegakan Sungkai (Paronema canescens JACK) Umur 18 Tahun Di Bukit Soeharto Km. 60 Kab. Kutai Kartanegara
Nama : Bambang Tono
NIM : 120500005
Program Studi : Pengelolaan Hutan Jurusan : Manajemen Pertanian
Pembimbing,
Ir. Rudy Nurhyadi, MP NIP. 195901111987031002
Penguji I,
Ir. Masrudy, MP NIP. 196008051988031003
Penguji II,
Rudi Djatmiko, S.Hut. MP NIP. 197009151995121001
Menyetujui,
Program Studi Pengelolaan Hutan
Agustina Murniyati, S.Hut. MP NIP. 197208031998022001
Mengesahkan,
Ketua Jurusan Manajemen Pertanian
Ir. Masrudy, MP NIP. 196008051988031003
Lulus ujian pada tanggal, ……….. September 2015
ii
ABSTRAK
Bambang Tono Pengukuran Diameter, Tinggi dan Volume Tegakan Sungkai (Paronema Canescens JACK) Umur 18 Tahun Di Bukit Soeharto Km. 60 Kab.
Kutai Kartanegara (di bawah bimbingan Rudy Nurhayadi).
Pengukuran merupakan hal yang paling penting dilakukan, karena dapat mengetahui atau menduga potensi suatu tegakan ataupun suatu komunitas tertentu. Tinggi dan diameter pohon merupakan dimensi pohon yang sangat penting dalam pendugaan potensi pohon dan tegakan. Data tinggi dan diameter bukan hanya diperlukan untuk menghitung nilai luas bidang dasar suatu tegakan melainkan juga dapat digunakan untuk menentukan volume pohon dan tegakan, berguna dalam pengaturan penebangan dengan batas tinggi dan diameter tertentu serta dapat digunakan untuk mengetahui struktur suatu tegakan hutan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sebaran diameter dan tinggi di areal Bukit Soeharto dan untuk mengetahui potensi tegakan sungkai.
Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah dapat memberikan hasil informasi potensi tegakan sungkai pada umur 18 tahun di Bukit Soeharto.
Adapun metode penelitian yang digunakan adalah dengan cara metode sampling. Metode sampling adalah bagian dari metodologi statistika yang berhubungan dengan pengambilan sebagian dari populasi. Cara Pengambilan sampling yang digunakan adalah Quota Sampling (Penarikan sampel secara jatah) adalah suatu cara pengambilan sampel ini dilakukan dengan atas jumlah atau jatah yang ditentukan.
Dari hasil pengukuran diameter tanaman Sungkai (P. canescens JACK) didapatkan data statistik diameter rata-rata 19,53 cm, simpangan baku 4,38 cm dan koefisien variasi sebesar 22,43%, dari hasil pengukuran tinggi tanaman Sungkai (P. canescens JACK) didapatkan data statistik tinggi rata-rata 12,75 m, simpangan baku 3,02 m dan koefisien variasi sebesar 23,67% dan dari hasil pengukuran volume tanaman Sungkai (P. canescens JACK) didapatkan data statistik diameter rata-rata 0,25 m3, simpangan baku 0,13 m3 dan koefisien variasi sebesar 53,56%.
Kata Kunci: Pengukuran Diameter, Tinggi dan Volume Tegakan Sungkai (Paronema canescens JACK).
iii
RIWAYAT HIDUP
Bambang Tono. Lahir pada tanggal 03 September 1990 di Tawau, Malaysia. Merupakan anak 3 dari delapan bersaudara, dari pasangan Bapak Kamal dan Ibu Masriah. Pada tahun 1997 memulai pendidikan di sekolah dasar Sekolah Dasar Negeri 001 Nunukan dan lulus pada tahun 2003, pada tahun yang sama melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 001 Nunukan di Nunukan dan lulus tahun 2006. Pada tahun yang sama melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Nunukan di kab. Nunukan dan lulus pada tahun 2009.
Pada tahun 2010 Penulis bekerja di sebuah perusahaan swasta yaitu PT. Adindo Hutani Lestari menjabat sebagai supervisi selama 1 tahun kemudian tahun 2011 sampai 2012 selanjutnya diangkat menjadi senior supervisor di persemaian PT. Adindo Hutani Lestari.
Dan Pada tahun yang sama Penulis diterima sebagai mahasiswa di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda mengambil Program Studi Pengelolan Hutan, Jurusan Manajemen Pertanian.
Pada tanggal 08 Maret 2015 sampai tanggal 6 Juni 2015 Penulis mengikuti kegiatan Praktik Kerja Lapang (PKL) di PT. Inhutani I Wilayah I Tarakan UMH Kunyit Kab. Nunukan.
iv
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, akhirnya penulis dapat menyelesaikan penulisan laporan Karya Ilmiah ini.
Penulisan Karya Ilmiah ini dapat terselesaikan karena bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu, Penulis menyampaikan terima kasih secara tulus kepada semua pihak yang telah memberikan kesempatan dan berbagai kemudahan dalam rangka menyelesaikan penulisan Karya Ilmiah ini.
Pada kesempatan ini tak lupa Penulis menyampaikan ucapan terima kasih setulus hati kepada :
1. Ir. Rudy Nurhayadi. MP, selaku dosen pembimbing 2. Ir. M. Masrudy, MP selaku dosen penguji satu 3. Rudi Djatmiko. S.Hut, MP selaku dosen penguji dua.
4. Agustina Murniyati S. Hut, MP selaku Ketua Program Studi Pengelolaan Hutan.
5. Ir. M. Masrudy. MP, Selaku Ketua Program Studi Pengelolaan Hutan 6. Ir. Hasanudin. MP, selaku Direktur Politeknik Pertanian
7. Orang tua tercinta yang telah banyak memberikan dukungan, baik dari segi moril maupun materi kepada penulis
Semoga segala bantuan yang telah diberikan dalam kegiatan Karya Ilmiah, mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT, Amin.
Penulis,
Kampus Sei Keledang, September 2015
v
DAFTAR TABEL
Nomor Tubuh Utama Halaman 1. Distribusi Diameter Tanaman Sungkai (P. canescens JACK) 33 2. Hasil Statistik Diameter ………. 35 3. Distribusi Tinggi Tanaman Sungkai (P. canescens JACK) 35 4. Hasil Statistik Tinggi ……….. 37 5. Distribusi Volume Tanaman Sungkai (P. canescens JACK) 37 6. Hasil Statistik Volume ……… 39
vi
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Tubuh Utama Halaman 1. Data Pengukuran Diameter, Tinggi dan Volume Pohon
Sungkai …... 44 2. Hasil Penghitungan Diameter, Tinggi dan Volume Sungkai...
51
vii
DAFTAR GAMBAR
Nomor Tubuh Utama Halaman
1. Tekstur Kayu Sungkai (P. canescens JACK) ………... 4
2. Klasifikasi Struktur Pohon Sungkai Sungkai (P.canescens JACK)... 4
3. Perbanyakan Tanaman Sungkai Secara Stek Batang (Vegetatif) ... 7
4. Lubang Tanam ……….. 11
5. Pita Ukur Diameter dan Bagian-Bagiannya ……….. 17
6. Pengukuran Pohon Berdiri ……….. 19
7. Pengukuran Pohon Berbanir ……….. 19
8. Pengukuran Pohon Cacat ………... 20
9. Pengukuran Batang Bercabang atau Menggarpu …………... 21
10. Pengukuran Pohon Lahan Basah ……….. 21
11. Tinggi Total dan Tinggi Bebas Cabang pada Pohon ……….. 23
12. Pengukuran Tinggi Pohon dengan Trigonometri atau Segitiga Sebangun (Clinometer) ……… 25
13. Distribusi Diameter Tegakan Sungkai (P. canescens JACK) Umur 18 Tahun ……… 34
14. Distribusi Tinggi Tegakan Sungkai (P. canescens JACK) Umur 18 Tahun ………. 36
15. Distribusi Volume Tegakan Sungkai (P. canescens JACK) Umur 18 Tahun ………. 38
16. Pengukuran Tinggi Pohon ………... 52
17. Pengukuran Diameter Pohon ………. 52
18. Pemberian Label pada Pohon ……… 52
BAB I PENDAHULUAN
Pengukuran merupakan hal yang paling penting dilakukan, karena dapat mengetahui atau menduga potensi suatu tegakan ataupun suatu komunitas tertentu. Dalam memperoleh data pengukuran, jenis dan cara penggunaan alat merupakan faktor penentu utama yang mempengaruhi ketelitian data yang diperoleh. Semakin bagus alat yang di pergunakan maka semakin baik pula hasil pengukuran yang akan di dapat. Demikian pula halnya dengan kemampuan pengamatan dalam pengukuran, semakin baik dalam penggunaan suatu alat maka semakin baik pula data yang dikumpulkan.
Pendugaan suatu komunitas salah satunya dilakukan dengan melakukan pengukuran pada tinggi dan diameter pohon dari komunitas yang akan diketahui tersebut. Tinggi dan diameter pohon merupakan dimensi pohon yang sangat penting dalam pendugaan potensi pohon dan tegakan. Data tinggi dan diameter bukan hanya diperlukan untuk menghitung nilai luas bidang dasar suatu tegakan melainkan juga dapat digunakan untuk menentukan volume pohon dan tegakan, berguna dalam pengaturan penebangan dengan batas tinggi dan diameter tertentu serta dapat digunakan untuk mengetahui struktur suatu tegakan hutan.
Pengukuran tinggi dan diameter pohon dengan menggunakan beberapa alat yang berbeda akan menghasilkan data yang berbeda pula. Dengan demikian, perbedaan relatif dari keakuratan data yang diperoleh di antara alat yang berbeda akan terlihat. Sehingga dapat diketahui pula kelebihan dan kelemahan suatu alat tertentu.
Tujuan dari Penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui sebaran diameter, tinggi dan volume tegakan Sungkai (Paronema canescens JACK) di areal Bukit Soeharto.
2. Untuk mengetahui potensi tegakan Sungkai (Paronema canescens JACK).
Dengan diadakannya kegiatan penelitian ini diharapkan dapat memberikan hasil informasi potensi tegakan sungkai pada umur 18 tahun di Bukit Soeharto.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Uraian Umum Tentang Sungkai (Paronema canescens JACK).
1. Klasifikasi Tanaman Sungkai (P. canescens JACK)
Menurut Plantamor (2008), dalam dunia tumbuhan tanaman sungkai (P.
canescens JACK) tersusun dalam sistematika sebagai berikut:
Kingdom : Plantae (tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (berpembuluh) Superdivisio : Spermatophyta (menghasilkan biji) Divisio : Magnoliophyta (berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil) Subkelas : Asteridae
Ordo : Lamiales Familia : Verbenaceae Genus : Paronema
Spesies : Paronema canescens JACK
2. Morfologi Tanaman Sungkai (P. Canescens JACK)
Tinggi pohon mencapai 20 - 30 meter panjang batang bebas cabang mencapai 15 meter, dengan diameter 60 cm atau lebih, batang lurus dan sedikit berlekuk dangkal, tidak berbanir, dan ranting penuh bulu halus. Kulit luar berwarna kelabu atau sawo muda, beralur dangkal, mengelupas kecil-kecil dan tipis. Kayu teras berwarna krem atau kuning muda. Tekstur kayu kasar dan tidak merata. Arah serat lurus, kadang-kadang bergelombang dengan permukaan kayu agak kesat. Tanaman sungkai berbuah sepanjang tahun, terutama pada bulan Maret - Juni. Tiap kilogram biji berisi 262.000 butir (Dephut, 2006).
Gambar 1. Tekstur Kayu Sungkai (P. canescens JACK)
Permukaan daun berbulu halus, berwarna abu-abu kotor atau abu-abu terang. Dalam satu cabang terdapat lebih dari empat helai daun. Tajuk pohon berbentuk avoid, skala tajuk halus sampai sedang. Daun pertama pinnate, ujung daun ovate, bentuk daun petiolate pada bentuk cotyledon gambar sama dengan perkecambahan epigeal gambar 2c (Zulfahmi, 2007).
a. Ujung Daun (ovate) b. Bentuk Daun (petiolate) c. Cotyledon (epigeal) Gambar 2. Klasifikasi Struktur Pohon Sungkai Sungkai (P. canescens J )
Tanaman sungkai merupakan tanaman kayu-kayuan yang bisa mencapai tinggi 20-30 meter, dengan diameter batang mencapai 60 cm atau lebih. Tinggi batang bebas cabang bisa mencapai 15 meter. Bentuk batang lurus dengan lekuk kecil, tapi kadang-kadang bentuk batangnya jelek akibat serangan hama pucuk. Kulit berwarna abu-abu atau sawo muda, beralur dangkal mengelupas
kecil-kecil dan tipis. Penampang kulit luar berwarna coklat, kuning atau merah muda (Dephut, 2006).
Kayunya berteras dengan warna sawo muda. Rantingnya penuh dengan bulu-bulu halus. Tajuk tanaman berbentuk bulat telur dan pada umumnya kurang rimbun. Daun mejemuk bersirip ganjil, letak berpasangan dan anak-anak daun letaknya berpasangan atau berselang-selang, lancip, melancip pada ujungnya, anak daun di bagian bawahnya tertutup rapat dengan bulu-bulu halus. Bentuk buah kecil-kecil dan letak bunga berpasangan serta berkedudukan malai.
Perakaran menyebar dangkal, tidak tahan terhadap kekurangan zat asam lebih dari 10 hari (Dephut, 2006).
Menurut Anonim 1999 menyatakan bahwa pertumbuhan tinggi pohon Sungkai (P. canescens JACK) di umur 6 tahun bisa mencapai tinggi 10 meter, untuk diameter bisa mencapai 15 cm dengan besaran volume 0,11 m3, maka tinggi pohon untuk umur 18 tahun dapat mencapai tinggi 30 meter dengan diameter 45 cm dengan volume 0,33 m3.
3. Sebaran Tempat Tumbuh Sungkai (P. canescens JACK)
Sungkai adalah jenis pohon yang tumbuh pada daerah tropis. Jenis ini termasuk ke dalam suku Verbenaceae dengan berbagai nama daerah seperti Jati sebrang atau Ki sebrang (Sunda), Jati Sumatra (Sumatra Selatan), Sungkai atau Kayu Lurus (Kalimantan Selatan). Daerah penyebaran adalah Bagian Barat Kepulauan Indonesia yaitu Jawa Barat, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur (Dephut, 2006).
Sungkai tumbuh di hutan sekunder pada berbagai jenis tanah dan tidak memerlukan persyaratan tumbuh yang baik, namun biasanya tumbuh baik pada tanah yang cukup mengandung air, seperti di tepi sungai dan secara bermusim
tergenang air tawar. Sungkai tahan terhadap persaingan alang-alang dan terhadap kebakaran. Sungkai pada umumnya tumbuh baik pada ketinggian 0 - 600 meter dari permukaan laut (dpl) dan pada daerah yang mempunyai tipe iklim A-C menurut tipe curah hujan (Anonim, 1980).
4. Manfaat Dan Kegunaan Sungkai (P. Canescen JACK)
Pohon Sungkai termasuk kayu kelas awet III dan kelas kuat II - III, serta berat jenis 0,63. Kayu ini dapat digunakan sebagai bahan bangunan lantai, papan dinding, mebel, patung, ukiran dan kerajinan tangan. Selain hal tersebut sungkai juga dapat diolah menjadi finir mewah karena memiliki nilai dekorasi, kulitnya dapat digunakan dinding lumbung padi. Begitu pula daunnya digunakan sebagai obat sakit gigi dan demam panas (Anonim, 1992).
5. Pembibitan Sungkai (P. Canescen JACK)
Untuk keperluan pembibitan pemilihan benih (biji) dilakukan dengan cara mengambil buah-buah yang sudah tua yang ditandai warna coklat tua. Akan tetapi mengingat perbanyakan secara biji (generatif) lebih kecil persentase tumbuhnya, maka untuk pengadaan benih lebih mudah dilaksanakan dengan cara perbanyakan vegetatif penanaman digunakan stek batang, yang diambil dari terubusan-terubusan yang berumur lebih kurang dua tahun pada tunggul bekas tebangan. Tunggul yang dipilih sebagai induk dari terubusan calon stek adalah tunggul yang berasal dari tegakan terpilih/tegakan plus (Dephut, 2006).
Gambar 3. Perbanyakan Tanaman Sungkai Secara Stek Batang (Vegetatif)
Pemilihan terubusan yang akan dipakai sebagai bahan stek dilakukan dengan cara memilih terubusan yang sehat dan sudah berkayu dengan diameter lebih kurang 2,5 cm dan panjang 25 - 30 cm. Untuk merangsang pertumbuhan akar, maka stek dapat diberi hormon tumbuh (Rooton F), kemudian ditanam/disemaikan dalam kantong plastik. Kantong-kantong plastik sebaiknya dibuat bedengan dan dinaungi. Cara pemeliharaan bibit adalah penyiraman dua kali sehari dan jika terserang hama/penyakit dilakukan pemberantasan dengan insektisida/fungisida. Dengan cara ini biasanya bibit siap dipindahkan kelapangan pada umur lebih kurang 3 bulan (Dephut, 2006).
Menurut Zulfahmi (2007), metode perbanyakan yang sering digunakan adalah stek. Pohon dari pemotongan stek, akan membentuk sistem akar yang rumit, yang sama dengan pertumbuhan pohon yang berasal dari benih. Tetapi jika perbanyakan yang digunakan dari benih, maka benih yang dikoleksi tidak berkecambah dengan baik. Benih berkecambah dengan cepat di bawah sinar matahari penuh.
Bahan stek dapat diperoleh dari cabang-cabang pohon yang mempunyai persentase hidup 80%-100%, stek pucuk 60%-80% dan terubusan atau anakan.
Bahan stek sungkai sebaiknya diambil dari terubusan-terubusan yang berumur
diatas 2 tahun dari tungkul bekas tebangan. Pertumbuhan akar dapat dirangsang dengan pemberian zat pengatur tumbuh. Ukuran stek sungkai sebaiknya berdiameter 1,5 - 2,0 cm dan ukuran panjang stek 10 - 12 cm (Suita, 2005).
Selama ini penyediaan bibit sungkai dilakukan dengan stek batang, namun jumlahnya terbatas. Perbanyakan melalui biji juga sulit dilakukan karena bunganya hanya dijumpai dua kali setahun dan viabilitasnya sangat rendah.
Perbanyakan in vitro tanaman sungkai melalui proliferasi tunas aksiler untuk skala laboratorium telah berhasil dikembangkan di Pusat Bioteknologi, LIPI (Imelda, 2003).
Menurut Sagala (1994), bibit yang baik itu akan tumbuh terus setelah ditanam di lapangan. Bibit yang tidak baik disebut bibit stagnasi yaitu setelah ditanam di lapangan, daunnya gugur. Setelah beberapa minggu, baru pucuknya berkembang. Ada yang pucuknya mati dan gugur, kemudian tunas baru tumbuh dari cabang. Ada yang batangnya mati setelah beberapa bulan, tetapi tunas baru lalu keluar dari leher batang.
Dalam memilih bibit tanaman yang perlu diperhatikan pertama kali adalah pertumbuhan batang, cabang, dan daunnya. Kemudian bisa diperhatikan juga penampakan luarnya, apakah ada gejala serangan hama dan penyakit atau tidak. Bentuk batang dan cabang yang baik kelihatan mulus dan kokoh, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek sesuai dengan umurnya. Tanaman yang kerdil biasanya pertumbuhan meningginya juga terhambat sehingga kelihatan pendek dari yang seharusnya. Ada pula bibit yang pertumbuhan tingginya terlalu pesat, sedangkan batangnya kelihatan kecil dan terkesan kurang kokoh.
Demikian pula pertumbuhan daunnya kelihatan subur dengan warna hijau cerah.
Jika pertumbuhan daunnya terlalu lebat, maka bisa dipangkas sebagian. Untuk
melihat apakah bibit yang kita dapatkan bebas penyakit atau tidak, bisa dilihat secara sepintas. Namun, untuk lebih pastinya kita perlu tahu dulu gejala-gejala serangan penyakit tersebut (Setiawan, 2000).
Pada tanaman sungkai ini, anakan yang berada di bawah naungan saling terserang karat daun, sedangkan batang pohon sungkai kadang-kadang diserang hama penggerek pucuk. Penanggulangan yang dapat dilakukan untuk masalah hama dan penyakit ini adalah dengan cara pemangkasan daun (Dephut,1998). Eradikasi perlu dilakukan apabila anakan dan pohon sungkai yang terserang hama dan penyakit sudah tidak dapat ditanggulangi lagi dengan cara lain.
Penanaman untuk produksi harus tumbuh dengan baik. Metode yang baik untuk menumbuhkan tanaman yang baik untuk tujuan konsumsi pada umumnya sama dengan untuk tujuan produksi benih kecuali adanya pengendalian mutu internal untuk pertanaman benih. Dalam pengendalian mutu internal ini, produsen benih harus mengamankan pertanamannya dari kontaminasi oleh serbuk sari asing ketika penyerbukan berlangsung (Mugnisjah dan Setiawan, 1995).
Menurut Johnson dan Cline (1991), nilai Indeks Mutu Minimum bibit adalah 0,09. Dan indeks mutu minimum ini banyak digunakan didalam penilaian bibit tanaman pertanian dan perkebunan. Dengan kesimpulan apabila nilai Indeks Mutu Bibit Rata-rata <0,09 berarti bibit tersebut tidak layak untuk ditanam di lapangan dan apabila nilai Indeks Mutu Bibit Rata-rata >0,09 berarti bibit tersebut layak untuk ditanam di lapangan. Mutu bibit tanaman yang tinggi secara umum ditentukan oleh bibit yang dapat beradaptasi di lapangan secara cepat,
tingkat daya hidup yang tinggi, dan mempunyai pertumbuhan yang tinggi (Barnett dan Baker, 1991 ; Johnson dan Cline, 1991).
6. Persiapan lapangan a. Penataan Lapangan
Penataan areal penanaman dimaksudkan untuk mengatur tempat dan waktu, pengawasan serta keperluan pengelolaan hutan lebih lanjut.
Areal dibagi menjadi blok-blok tata hutan dan blok dibagi lagi menjadi petak-petak tata hutan. Batas-batas blok dapat dipakai berupa batas alam seperti sungai, punggung bukit atau batas buatan seperti jalan, patok kayu atau beton dapat dilihat pada lampiran 1.
b. Pembersihan Lapangan
Beberapa kegiatan yang di lakukan sebelum penanaman meliputi : 1) Menebang pohon-pohon sisa dan meninggalkan pohon yang
dilarang di tebang.
2) Mengumpulkan semak belukar, alang-alang dan rumput-rumputan.
3) Sampah-sampah yang telah terkumpul dibakar.
c. Pengolahan tanah
Pengolahan tanah diperlukan pada tanah-tanah yang padat dengan cara sebagai berikut:
1) Tanah dicangkul sedalam 20 - 25 cm kemudian dibalik
2) Bungkalan-bungkalan tanah dihancurkan, akar-akar dikumpulkan, dijemur dan dibakar
3) Tanah pada jalur-jalur tanaman dihaluskan dan dibersihkan, kemudian dibuat lubang tanaman
Gambar 4. Lubang Tanam
7. Penanaman Sungkai (P. Canescen JACK) a. Sistem Penanaman
Beberapa macam sistem penanaman yang dapat dipilih yaitu tumpang sari dan cemplongan yang pemilihannya ditentukan oleh tersedianya biaya, tenaga kerja, keadaan tanah dan keadaan sosial ekonomi masyarakat di sekitarnya.
1) Sistem Tumpang Sari
Sistem tumpang sari adalah pembuatan tanaman yang dilaksanakan oleh peserta tumpang sari dengan pihak kehutanan selama jangka waktu 2,5 tahun. Lokasi tanaman yang dapat dilaksanakan dengan sistem ini harus memenuhi syarat-syarat:
a) Tanah dalam keadaan subur.
b) Kemiringan tanah tidak lebih dari 40%.
c) Tenaga kerja tersedia cukup.
d) Kebutuhan masyarakat terhadap tanah garapan.
Dalam pelaksanaannya perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a) Palawija tidak diperkenankan ditanam pada jarak 30 cm kiri- kanan larikan.
b) Tanaman pokok dan tanaman sela.
c) Tanaman palawija tidak diperkenankan yang mengganggu pertumbuhan tanaman pokok dan tanaman sela. Jenis tanaman palawija yang dilarang antara lain ketela pohon, ketela rambat, pisang, sereh, kentang, kol dan akar wangi.
d) Kewajiban para peserta tumpang sari adalah melaksanakan penanaman tanaman pokok dan tanaman sela serta pemeliharaannya di samping kewajiban-kewajiban lain yang tercantum dalam perjanjian kerja.
2) Sistem Cemplongan.
Pada cara cemplongan tanaman pokok ditanam dalam lubang pada larikan yang telah disiapkan, pembersihan lapangan tidak dilakukan secara total melainkan hanya dalam cemplongan radius 1 - 2 m di sekeliling lubang tanaman. Sistem ini sangat baik dilakukan pada lahan miring yang tanahnya peka erosi, tenaga kerja sulit dipleh dan areal yang kesuburannya rendah.
b. Pengangkutan Bibit
Stek batang sungkai diatur dengan arah yang sama sebanyak ± 50 batang dan diikat, diusahakan agar mata tuntas tidak rusak, kemudian di masukkan ke dalam keranjang atau peti secara tegak baru diangkut.
Jangka waktu sejak stek baru dibuat sampai ditanam di lapangan harus disesuaikan dengan kemampuan penanaman per hari dengan
maksimum penyimpanan 2 hari. Hal ini untuk menghindari agar stek tidak menjadi kering dan rusak.
c. Teknik Penanaman
Stek batang sungkai yang telah dikeluarkan dari kantong plastik dan disiapkan di lubang-lubang tanam mulai di tanam dengan cara sebagai berikut :
1) Stek ditanam miring 45° searah dengan larikan,
2) Kemudian ditutup dengan tanah gembur sehingga hanya bagian stek yang bermata tunas terletak diatas permukaan tanah.
3) Bakal tunas harus ada disamping agar tumbuhnya tidak berputar dan akar yang keluar dari tunas cepat mencapai tanah,
4) Tanah di sekeliling stek ditekan supaya menjadi padat.
d. Pemeliharaan
Kegiatan pemeliharaan mencakup penyiangan dan pendangiran, penyulaman serta pemupukan.
1) Penyiangan dan Pendangiran
Penyiangan adalah pembebasan tanaman pokok dari belukar dan tumbuhan pengganggu lainnya. Sungkai merupakan jenis yang memerlukan cahaya dan penanamannya akan berhasil apabila penyiangan dilakukan secara intensif. Oleh karena itu harus dilakukan penyiangan terutama pada tahun pertama dan kedua.
Penyiangan dikerjakan sepanjang kiri-kanan larikan tanaman sebesar 50 cm. Pendangiran pun perlu dilakukan, yaitu menggemburkan tanah di sekitar tanaman minimal sekeliling lubang tanam.
2) Penyulaman
Penyulaman dilakukan pada tahun pertama dan tahun kedua.
Selama musim hujan pada tahun pertama, tanaman yang mati atau merana disulam dengan bibit dari persemaian dan diulang selama hujan masih cukup. Penyulaman dalam tahun kedua dilakukan pada saat hujan pertama jatuh.
3) Pemupukan
Pemupukan perlu diberikan pada tanaman setiap melakukan penyiangan yaitu 3 atau 4 bulan sekali dengan menggunakan pupuk NPK atau campuran Urea:TSP:KCL (1:2:1) diberikan dengan ditabur mengelilingi lubang tanam sesuai dengan pengalaman.
Badan LITBANG Departemen Kehutanan (1994) 4) Hama dan penyakit
Hama dan penyakit pada sungkai belum diketahui, kadang-kadang serangan hama penggerek pucuk dapat menyebabkan bentuk batang menjadi jelek.
8. Risalah Umum Taman Hutan Raya Bukit Soeharto
Menurut Anonim 1990, menyatakan bahwa Taman Hutan Raya Bukit Soeharto adalah sebuah taman hutan raya yang terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur dengan luas ± 61.850 hektar.
Wilayah hutan yang berada di kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara dan kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara ini ditunjuk sebagai kawasan taman hutan raya berdasarkan :
a. Keputusan Menteri Kehutanan No. 270/Kpts-II/1991 tanggal 20 Mei 1991, telah ditetapkan Kawasan Taman Wisata Alam Bukit Soeharto seluas ± 61.850 hektare.
b. Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor. SK.419/
Menhut-II/2004 tanggal 19 Oktober 2004, tentang Perubahan fungsi Taman Wisata Alam Bukit Soeharto seluas ± 61.850 hektare yang terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur menjadi Taman Hutan Raya.
Pemanfaatan potensi kawasan dan berfungsi sebagai wilayah untuk koleksi tumbuhan dan satwa yang alami atau bukan alami, jenis asli dan atau bukan asli yang dapat dipergunakan untuk kepentingan penelitian, pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.
Ekosistem Taman Hutan Raya Bukit ini terdiri dari hutan campuran Dipterocarpaceae dataran rendah, hutan kerangas, hutan pantai, semak belukar dan alang-alang.
Kawasan Taman Hutan Raya Bukit Soeharto pada saat ini telah berubah sebagai ekosistem hutan tanaman yang merupakan upaya rehabilitasi dengan berbagai jenis tanaman seperti Sungkai (P. canascene JACK), Acasia (Acasia mangium), Sengon (Albasia sp.), Mahoni (Swietenia mahagoni spp), flora asli yang didominasi jenis Meranti (Shorea sp.), dan sebagian merupakan hutan penelitian berupa persemaian berbagai jenis flora seperti Mahang (Macaranga hypoleuca), diantaranya jenis dilindungi seperti Ulin (Eusideraxylon zwageri), Kayu arang (Diospyros sp), dan Kempas (Koompassia malaccensis), Palaman (Iristania spp), Resak (Vatica spp), Bayur (Pterospermum spp), Gmelina
(Gmelina arborea), Karet (Havea brasiliensis), Rotan (Calamus sp), Aren (Arenga catechu), Ketapang (Terminalia catappa).
Kawasan Taman Hutan Raya Bukit Soeharto terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara dan sebagian kecil di Kabupaten Penajam Paser Utara Kalimantan Timur. Sebagian kawasan terpotong oleh jalan poros Samarinda-Balikpapan.
B. Pengukuran Diameter
1. Definisi Pengukuran DiameterDiameter pohon adalah jarak antara dua titik pada lingkaran yang melalui titik pusat lingkaran. Dalam pelaksanaan pengukuran pohon makin ke atas semakin kecil (Pariadi. A, 1979).
Diameter pohon adalah panjang garis lurus yang melalui pusat penampang melintang pohon dan menghubungkan pohon dan menghubungkan dua titik yang terdapat pada garis lingkaran luar pohon (Bruce dan Schumacher ,1950 dalam Handayani, 2003). Diameter rataan adalah diameter rata-rata dari sejumlah pohon yang di ukur untuk mengetahui keadaan pertambahan diameter dari pohon-pohon dalam tegakan (Endang, 1990).
2. Alat Pengukuran Diameter
Menurut Anonim (1992), menyatakan bahwa dalam pengukuran diameter pohon maka kita akan menggunakan alat Phi band sebagai alat pendugaan diameter.
Pita Ukur Diameter atau disebut juga dengan Phi band yaitu alat yang berfungsi sebagai pengukur diameter. Satuan ukur yang dipakai metrik dan inggris. Material pita yang digunakan biasanya terbuat dari kain, fiber glass, atau baja. lebar kurang lebih 12,5 mm.
Gambar 5. Pita Ukur Diameter dan Bagian-bagiannya
Cara menggunakan Pita Ukur Diameter adalah sebagai berikut :
a. Pita diameter dililitkan pada batang pohon yang akan diukur diameternya.
b. Lilitan pita melingkar dan menempel pada batang pohon dengan posisi horizontal/tegak lurus terhadap batang pohon.
c. Diameter batang dapat dibaca pada skala diameter yang berimpit dengan titik nol.
3. Ketentuan Pengukuran Diameter Pohon
Ketentuan pengukuran pohon adalah berbanir dari 1,3 m di atas permukaan tanah maka pengukuran dilakukan pada 20 cm di atas banir.
Diameter pohon diperlukan dalam penentuan volume, luas bidang dasar dan pendugaan umur pohon. (Dirjen Kehutanan,1976 dalam Handayani 2003).
Menurut Anonim (1991), disebutkan bahwa Luas bidang dasar (Lbds) suatu pohon adalah luas penampang melintang dari batang pohon tersebut pada setinggi 130 cm dari permukaan tanah.
Menurut Anonim (1992), menyatakan bahwa pengukuran diameter atau keliling batang setinggi dada dari permukaan tanah disepakati, tetapi setinggi dada untuk setiap bangsa punya kesepakatan masing-masing yang di sesuaikan dengan tinggi rata-rata dada masyarakat bangsa itu. Setinggi dada untuk pengukuran kayu berdiri di Indonesia disepakati setinggi 1,30 meter dari permukaan tanah.
Menurut Endang (1990), menyatakan bahwa ada beberapa standar untuk ukuran pohon diameter tertentu yaitu :
a. Kondisi Pohon Berdiri
Gambar 6. Pengukuran Pohon Berdiri
Pengukuran dilakukan pada:
1) Pengukuran diameter atau keliling setinggi 1,30 m di dasarkan untuk pohon berdiri tegak pada permukaan tanah yang relatif datar.
2) Jika pohon berdiri miring, maka Letak pengukuran diameter (Lpd) dilakukan pada bagian miring batang di sebelah atasnya, sejauh 1,30 m dari permukaan tanah.
3) Sedangkan untuk pohon berdiri tegak pada permukaan tanah yang cukup miring (lereng) Dapat dilakukan dua cara yaitu:
a) Mengukur di atas lereng b) Mengukur di bawah lereng.
b. Kondisi Pohon Berbanir
Gambar 7. Pengukuran Pohon Berbanir
Pengukuran dilakukan pada:
1) Jika Batas ujung banir (Bub) kurang dari 110 cm, maka pengukuran (Lpd) dilakukan setinggi 1,30 m dari permukaan tanah.
2) Jika Bub tepat setinggi dari 110 cm, maka pengukurannya (Lpd) ditambah 20 cm di atas banir. Jadi Lpd-nya setinggi 1,30 m dari permukaan tanah.
3) Jika Bub-nya lebih tinggi dari 110 cm, maka pengukurannya (Lpd) ditambah 20 cm di atas banir. Jadi letak pengukurannya setinggi (Bub + 20 cm).
c. Kondisi Pohon Cacat
Gambar 8. Pengukuran Pohon Cacat
Pengukuran dilakukan pada:
1) Jika setinggi 110 cm melebihi Batas bawah cacat (Bbc), maka letak pengukurannya (Lpd) setinggi Batas atas cacat (Bac + 20) cm.
2) Jika Bbc lebih tinggi dari 110 cm, maka letak pengukurannya setinggi (Bbc – 20) cm.
3) Jika bagian tengah cacat lebih kurang setinggi 1,30 m dari permukaan tanah maka pengukurannya dilakukan setinggi Bbc (Lpd2) dan Bac (Lpd1). Sehingga hasil ukurannya (diameter atau keliling) adalah ukuran (Lpd1 + Lpd2) / 2.
d. Kondisi Pohon Batang Bercabang Atau Menggarpu
Gambar 9. Pengukuran Batang Bercabang atau Menggarpu
Pengukuran dilakukan pada:
1) Jika tinggi 1,30 m maka pengukuran dilakukan tetap setinggi 1,30 m dari permukaan tanah.
2) Jika tinggi cacat kurang dari 1,10 m, maka Lpd-nya dilakukan pada kedua batang setinggi 1,30 m.
e. Kondisi Pohon Lahan Basah
Gambar 10. Pengukuran Pohon Lahan Basah
Pengukuran dilakukan pada:
1) Jenis Bruguiera spp yang dijadikan awal pengukuran bukan dari permukaan tanah, tapi pada bagian akarnya. Letak pengukurannya setinggi 1,30 m.
2) Untuk jenis Ceriops spp yang dijadikan awal pengukuran pada bagian akar yang berbatasan dengan air. Di samping adanya bagian-bagian akar yang berupa banir, maka ditinjau dulu berapa tinggi banir tersebut. Jika tinggi banir tersebut kurang dari 1,30 m, maka letak pengukuran dilakukan setinggi 1,30 m dari batas bagian akar yang kena air.
3) Untuk jenis Rhizophora spp dilakukan pengukuran setinggi 20 cm dari ujung bagian akar teratas.
C. Pengukuran Tinggi
1. Definisi Pengukuran TinggiMenurut Pariadi (1979), mengemukakan tinggi adalah jarak terpendek antara suatu titik dengan titik proyeksinya pada bidang datar atau pada bidang horizontal. Sebagai komponen untuk menentukan volume kayu, tinggi pohon dibedakan atas dua macam notasi, yaitu:
a. Tinggi pohon seluruhnya (tinggi total), yaitu jarak antara titik puncak pohon dengan proyeksinya pada bidang datar atau horizontal.
b. Tinggi lepas dahan atau bebas cabang atau sampai batas permulaan tajuk yaitu jarak antara titik bebas cabang atau permulaan tajuk dengan proyeksinya pada bidang datar atau horizontal.
Gambar 11. Tinggi Total dan Tinggi Bebas Cabang pada Pohon Keterangan:
TT = Tinggi Total
Tbc = Tinggi bebas cabang
Menurut Simon, H (1996) tinggi pohon merupakan parameter lain setelah diameter yang memiliki arti penting dalam penaksiran hasil hutan.
Bersama diameter, tinggi pohon diperlukan untuk menaksir volume pohon.
Terdapat beberapa macam tinggi pohon yang dikenal dalam inventarisasi hutan, yaitu :
a. Tinggi total, yaitu tinggi dari pangkal pohon di permukaan tanah sampai puncak pohon.
b. Tinggi bebas cabang, yaitu tinggi pohon dari pangkal batang di permukaan tanah sampai cabang pertama untuk jenis daun lebar atau crow point untuk jenis konifer, yang membentuk tajuk.
c. Tinggi batang komersial, yaitu tinggi batang yang pada saat itu laku dijual dalam perdagangan.
d. Tinggi tunggak, yaitu tinggi pangkal pohon yang ditinggalkan pada waktu penebangan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan, sebagai berikut : 1. Jumlah tanaman yang diukur adalah sebanyak 500 pohon.
2. Didapatkan data statistik diameter rata-rata sebesar 19,53 cm, standar deviasi 4,38 cm dan koefisien variasi sebesar 22,43%,
3. Pengukuran tinggi didapatkan data statistik tinggi rata-rata sebesar 12,75 m, standar deviasi 3,02 m dan koefisien variasi sebesar 23,67 %
4. Pengukuran volume didapatkan data statistik diameter rata–rata sebesar 0,25 m3 standar deviasi sebesar 0,13 m3 dan koefisien variasi sebesar 53,56%.
5. Potensi tegakan Sungkai (Paronema canescens JACK) di Bukit Soeharto Km. 60 adalah 100 m3/hektar, namun dengan variasi yang sangat beragam.
B. Saran
Adapun saran yang dapat diberikan untuk tegakan diameter, tinggi dan volume pohon sungkai (Paronema canescens JACK) di Bukit Soeharto Km. 60 Kab. Kutai Kartanegara diharapkan adanya pembersihan tegakan agar pertumbuhan baik itu diameter, tinggi dan volume pohon bisa dapat bertambah.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1980. Pedoman Pertumbuhan Tanaman. Direktorat Jendral Kehutanan Jakarta.
Anonim, 1990. Taman Hutan Raya Bukit Soeharto. (terhubung berkala) https://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Hutan_Raya_Bukit_Soeharto#cite_not e-1 (20 Agustus 2015)
Anonim, 1991. PENDUGAAN LUAS BIDANG DASAR (terhubung berkala) https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=5&c ad=rja&uact=8&ved=0CEIQFjAEahUKEwiP8q3n4cPHAhWUv44KHWT7A r4&url=http%3A%2F%2Fetd.repository.ugm.ac.id%2Findex.php%3Fmod
%3Dpenelitian_detail%26sub%3DPenelitianDetail%26act%3Dview%26ty p%3Dhtml%26buku_id%3D67756&ei=XiDcVY_LJJT_ugTk9ovwCw&usg=
AFQjCNH3YEhlhq2VECVZEhq2Dix7v1_2bg (30 Mei 2015)
Anonim, 1992. Manual Kehutanan. Departemen Kehutanan Republik Indonesia.
Jakarta.
Anonim, 1999. Perhitungan dan Penentuan Volume Batang. IPB, Bogor, Indonesia.
Badan LITBANG Departemen Kehutanan. 1994. Pedoman teknis penanaman jenis-jenis kayu komersial
.
Barnett, P.J and Baker, 1991. Regeneration Methods in M.L. Deuryea and P.M . Dougherty (eds). Forest Regeneration Manual. Kluwer Academic Publisher. London. Pp. 35-50.
Direktorat Jenderal Kehutanan, 1976. Vademecum Kehutanan Indonesia, Direktorat Jenderal Kehutanan. Departemen Pertanian.
Dephut, 2006. Budidaya Sungkai (Paronema canescens JACK).(terhubung berkala) http://www.dephut.go.id/INFORMASI/PROPINSI/SUMSEL/bdysu ngkai.hmtl (19 Juni 2015)
Endang. Dkk, 1990. Manajemen Hutan. Departemen Pendidikan Kehutanan Cepu, Direksi Perum Perhutani Cepu.
Handayani, Laela. 2003. Penyusunan Tabel Volume Lokal Jenis Tegakan Rhizophora apicula dan Bruguira gymnorriza di Hutan Mangrove HPH.
PT. Thai Rajvithi, Riau. Universitas Lancang Kuning. Pekanbaru
Husch, B. 1963. Forest Mensuration and Statistic. The Ronald Press Company:
New York.
Husch, B. TW Beers, JA Kershaw. 2003. Forest Mensuration. John Wiley and Sons Inc.: New Jersey.
Imelda, 2003.Pengembangan Teknik In Vitro yang Efisien untuk Produksi Bibit Sungkai Unggul. Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI. Jakarta.
Johnson, J.D. and M.L. Cline. 1991. Seedling Culture In M.L. Duryea and P.M.
Dougherty (eds). Forest Regeneration Manual. Kluwer Academic Publisher. London. Pp. 143-159.
Mugnisjah, Q.W. dan Setiawan, A., 1995. Produksi Benih. Bumi Aksara dan Pusat Antar Universitas. Institut Pertanian Bogor. Jakarta
.
Pariadi. A. 1979. Ilmu Ukur Kayu. Lembaga Penelitian Bogor.
Prihanto, Budi dan Muhdin. 2005. Metode Statistika Diktat Kuliah. Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor. Bogor Plantamor, 2008. Informasi Spesies. Sungkai. (terhubung berkala)
http://www.plantamor.com/spcdtail.php?recid=969&popname=sungkai&sa tugen=satuspc (30 Mei 2015)
Sagala, P., 1994. Mengelola Lahan Kehutanan Indonesia. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta
.
Setiawan, A.I. 2000. Penghijauan dengan Tanaman Potensial. Penebar Swadaya. Jakarta.
Simon , H. 1996. Metode Inventore Hutan. Cetakan Kedua. Aditya Media.
Jogjakarta
Suita, E., 2005. Atlas Benih Tanah Hutan Indonesia. Volume 4 Jilid V. Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi Bogor
.
Zulfahmi, 2007. Characteristic Target Species. (terhubung berkala) http://ssntdp.com/index.php?option=com_content&task=view&id=55&item id (30 Juli 2015)
LAMPIRAN
Lampiran 1. Hasil Pengukuran Diameter, Penghitungan Tinggi dan Volume
No.
Phn
DataTinggi Tinggi Total (m)
Dia.
(cm) Vol.
(m3)
No.
Phn
Data Tinggi Tinggi Total (m)
Dia.
(cm) Vol.
(m3) Ht
(%) Hp (%)
Hb (%)
Ht (%)
Hp (%)
Hb (%)
1 120 40 -10 10,40 13,0 0,10 51 80 20 -15 10,86 29,1 0,51 2 110 20 -10 16,00 16,0 0,23 52 85 26 -15 9,76 21,2 0,24 3 120 40 -5 11,11 12,9 0,10 53 87 21 -15 11,33 21,0 0,27 4 100 28 -3 13,29 17,8 0,23 54 78 15 -15 12,40 20,4 0,28 5 90 38 -19 7,65 21,9 0,20 55 84 12 -15 14,67 16,5 0,22 6 98 30 -10 10,80 17,3 0,18 56 83 30 -5 10,06 17,4 0,17 7 87 42 -10 7,46 12,0 0,06 57 90 32 -10 9,52 17,6 0,16 8 90 31 -15 9,13 14,9 0,11 58 69 25 -10 9,03 13,3 0,09 9 97 33 -15 9,33 17,4 0,16 59 88 30 -5 10,63 22,2 0,29 10 117 43 -15 9,10 16,3 0,13 60 85 20 -5 14,40 19,0 0,29 11 103 39 -13 8,92 15,5 0,12 61 80 30 5 12,00 13,8 0,13 12 97 37 -3 10,00 13,1 0,09 62 83 27 -5 11,00 18,3 0,20 13 78 25 -10 10,06 17,4 0,17 63 79 25 5 14,80 22,8 0,42 14 105 31 -9 11,40 15,3 0,15 64 85 25 -10 10,86 26,1 0,41 15 98 24 -11 12,46 12,7 0,11 65 88 20 -10 13,07 17,2 0,21 16 105 45 -13 8,14 18,8 0,16 66 97 20 -10 14,27 21,8 0,37 17 103 44 -14 8,07 19,7 0,17 67 76 20 -5 12,96 20,7 0,31 18 105 33 -10 10,70 17,6 0,18 68 94 26 -5 12,77 20,9 0,31 19 103 30 -19 9,96 15,8 0,14 69 93 30 5 14,08 15,3 0,18 20 85 23 5 17,78 16,7 0,27 70 89 20 -10 13,20 25,6 0,48 21 92 22 -10 12,75 16,8 0,20 71 95 28 -10 11,05 21,3 0,28 22 77 23 -10 10,55 19,3 0,22 72 93 30 -3 11,64 25,9 0,43 23 92 30 -10 10,20 17,9 0,18 73 96 31 -10 10,34 24,2 0,33 24 66 24 -5 9,79 12,4 0,08 74 66 20 -5 11,36 23,8 0,35 25 87 30 -5 10,51 17,7 0,18 75 78 15 -10 14,08 20,6 0,33 26 98 24 -5 14,21 12,8 0,13 76 68 20 -5 11,68 27,6 0,49 27 74 25 -5 10,53 18,5 0,20 77 78 17 -7 14,17 18,4 0,26 28 62 20 0 12,40 17,7 0,21 78 84 30 -5 10,17 20,2 0,23 29 80 30 5 12,00 15,8 0,16 79 87 32 5 12,15 15,9 0,17 30 76 21 5 17,75 18,9 0,35 80 90 30 0 12,00 19,7 0,26 31 89 30 5 13,44 16,7 0,21 81 85 32 0 10,63 13,7 0,11 32 90 25 -15 10,50 17,4 0,17 82 75 25 -5 10,67 17,4 0,18 33 73 20 -5 12,48 19,8 0,27 83 78 40 15 10,08 19,6 0,21 34 93 29 -5 11,53 18,9 0,23 84 77 25 5 14,40 22,6 0,40 35 91 29 -5 11,29 21,7 0,29 85 79 23 -15 9,89 18,6 0,19 36 73 23 -5 11,14 17,4 0,19 86 86 40 -10 7,68 21,8 0,20 37 69 20 -10 10,53 13,9 0,11 87 83 26 5 14,86 19,9 0,32 38 110 21 -12 14,79 16,7 0,23 88 90 25 0 14,40 14,8 0,17 39 90 25 -5 12,67 17,5 0,21 89 96 30 0 12,80 18,4 0,24 40 109 20 5 27,73 18,8 0,54 90 69 25 -5 9,87 16,2 0,14 41 105 40 5 11,43 19,7 0,24 91 68 22 -5 10,81 15,8 0,15 42 69 23 5 14,22 20,3 0,32 92 90 27 5 15,45 14,9 0,19 43 92 30 5 13,92 14,7 0,17 93 77 24 5 15,16 15,1 0,19 44 95 15 -10 16,80 15,9 0,23 94 85 20 -10 12,67 17,9 0,22 45 88 25 -10 11,20 21,7 0,29 95 70 30 -5 8,57 20,8 0,20 46 95 30 -10 10,50 20,5 0,24 96 79 27 -5 10,50 15,2 0,13 47 97 25 -5 13,60 17,1 0,22 97 85 30 5 12,80 26,7 0,50 48 100 45 10 10,29 21,7 0,27 98 70 25 7 14,00 18,5 0,26 49 87 35 -15 8,16 16,3 0,12 99 90 32 5 12,59 21,9 0,33 50 85 20 -15 11,43 22,5 0,32 100 85 24 -10 11,18 19,8 0,24
Lampiran 1. (sambungan)
No.
Phn
DataTinggi Tinggi Total (m)
Dia.
(cm) Vol.
(m3)
No.
Phn
Data Tinggi Tinggi Total (m)
Dia.
(cm) Vol.
(m3) Ht
(%) Hp (%)
Hb (%)
Ht (%)
Hp (%)
Hb (%)
101 90 30 5 13,60 22,6 0,38 151 105 38 -10 9,58 19,8 0,21 102 76 25 5 14,20 29,1 0,66 152 100 40 -10 8,80 22,6 0,25 103 66 10 -10 15,20 21,2 0,38 153 89 29 -5 11,06 24,0 0,35 104 90 30 -10 10,00 21,0 0,24 154 90 34 -5 9,74 17,0 0,15 105 83 30 -5 10,06 20,4 0,23 155 73 12 -15 13,04 23,5 0,40 106 110 40 5 12,00 16,5 0,18 156 65 20 -10 10,00 26,0 0,37 107 105 34 5 13,79 17,4 0,23 157 85 20 -10 12,67 20,5 0,29 108 95 28 0 13,57 17,6 0,23 158 90 35 -5 9,50 18,0 0,17 109 79 25 5 14,80 13,3 0,14 159 85 30 -6 10,11 23,5 0,31 110 80 23 3 15,40 22,2 0,42 160 70 20 -10 10,67 21,5 0,27 111 85 30 1 11,59 19,0 0,23 161 110 40 -15 9,09 19,5 0,19 112 97 31 0 12,52 13,8 0,13 162 120 45 -5 10,00 16,0 0,14 113 95 23 7 22,00 18,3 0,41 163 90 24 -5 13,10 22,5 0,36 114 105 36 0 11,67 22,8 0,33 164 130 40 -5 12,00 19,5 0,25 115 95 30 5 14,40 26,1 0,54 165 65 20 -5 11,20 24,0 0,35 116 90 32 8 13,67 17,2 0,22 166 90 15 -20 12,57 19,5 0,26 117 100 29 0 13,79 21,8 0,36 167 110 20 -15 14,29 24,5 0,47 118 90 35 5 11,33 20,7 0,27 168 120 20 -15 15,43 19,0 0,31 119 94 27 -15 10,38 20,9 0,25 169 90 15 -25 11,50 23,5 0,35 120 65 30 10 11,00 15,3 0,14 170 130 10 -35 14,67 24,0 0,46 121 78 33 10 11,83 25,6 0,43 171 140 25 -20 14,22 23,5 0,43 122 66 27 3 10,50 21,3 0,26 172 140 25 -30 12,36 24,0 0,39 123 78 32 10 12,36 25,9 0,46 173 65 10 -25 10,29 23,3 0,31 124 59 29 10 10,32 24,2 0,33 174 60 10 -20 10,67 26,7 0,42 125 87 20 10 30,80 23,8 0,96 175 80 15 -20 11,43 21,0 0,28 126 90 40 -5 8,44 20,6 0,20 176 120 30 -15 12,00 24,7 0,40 127 95 30 -5 11,43 27,6 0,48 177 90 20 -20 11,00 25,7 0,40 128 87 23 5 18,22 18,4 0,34 178 60 15 -18 9,45 23,3 0,28 129 86 34 5 11,17 20,2 0,25 179 100 30 -12 10,67 25,2 0,37 130 89 28 -5 11,39 15,9 0,16 180 100 30 -20 9,60 22,7 0,27 131 90 30 9 15,43 19,7 0,33 181 100 10 -10 22,00 25,2 0,77 132 85 23 -5 12,86 13,7 0,13 182 110 10 -10 24,00 25,3 0,84 133 88 37 10 11,56 17,4 0,19 183 105 10 -30 13,50 23,5 0,41 134 79 29 -5 9,88 19,6 0,21 184 103 10 -25 14,63 18,9 0,29 135 90 36 -5 9,27 22,6 0,26 185 60 5 -30 10,29 19,3 0,21 136 110 45 -15 8,33 18,6 0,16 186 50 10 -25 8,57 17,1 0,14 137 100 40 -15 8,36 21,8 0,22 187 100 3 -25 17,86 21,4 0,45 138 96 30 5 14,56 19,9 0,32 188 100 20 -20 12,00 13,4 0,12 139 90 25 5 17,00 14,8 0,20 189 80 3 -25 15,00 6,7 0,04 140 86 30 0 11,47 18,4 0,21 190 95 5 -25 16,00 15,7 0,22 141 87 35 -10 8,62 16,2 0,12 191 80 3 -30 13,33 21,3 0,33 142 89 30 -10 9,90 15,8 0,14 192 120 20 -30 12,00 19,8 0,26 143 65 23 -5 10,00 14,9 0,12 193 100 7 -30 14,05 17,9 0,25 144 78 20 -5 13,28 15,1 0,17 194 90 0 -20 22,00 16,5 0,33 145 89 25 -10 11,31 17,9 0,20 195 90 15 -25 11,50 19,7 0,25 146 93 40 -10 8,24 20,8 0,20 196 100 15 -25 12,50 18,9 0,25 147 97 35 -10 9,51 15,2 0,12 197 55 10 -20 10,00 20,2 0,22 148 65 30 -10 7,50 26,7 0,29 198 90 20 -15 12,00 16,7 0,18 149 70 25 -5 10,00 18,5 0,19 199 103 5 -35 13,80 15,0 0,17 150 110 40 -5 10,22 21,9 0,27 200 55 10 -23 9,45 17,8 0,16