LANDASAN TEORI
2.1 Komunikasi Data
Komunikasi data merupakan transmisi data elektronik melalui sebuah media.
Media tersebut dapat berupa kabel tembaga, fiber optik, radio frequency dan microwave (gelombang mikro) dan sebagainya. Sistem yang memungkinkan terjadinya transmisi data seringkali disebut jaringan komunikasi data.
Perbedaan mendasar antara jaringan komputer dan komunikasi data adalah komunikasi data lebih cenderung pada kehandalan dan efisiensi transfer sejumlah bit- bit dari satu titik ke tujuannya sementara jaringan komputer menggunakan teknik komunikasi data namun lebih mementingkan arti dari tiap bit dalam proses pengiriman hingga diterima di tujuannya seperti di tunjukkan pada Gambar 2.1.
Gambar 2.1 Diagram umum komunikasi data
Media transmisi digunakan pada beberapa peralatan elektronika untuk menghubungkan antara pengirim dan penerima agar dapat melakukan pertukaran data. Sebagai contohnya yaitu pesawat telepon, media transmisi yang digunakan untuk menghubungkan dua buah telepon adalah kabel. Setiap peralatan elektronika memiliki media transmisi yang berbeda-beda dalam pengiriman datanya.
Jenis media transmisi dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Guided Transmission Media : Guided Transmission Media atau media transmisi jaringan mengunakan sistem kabel. Contohnya : twisted pair cable, coaxial cable and fiber optic.
2. Unguided Transmission Media : Media transmisi mengunakan sistem gelombang dengan medianya adalah udara. Contohnya : satelit, bluetooth, dan inframerah.
2.2 Fiber Optik
Optical Fiber (Serat Optik) merupakan salah satu Guided Transmission
Media yang telah banyak digunakan saat ini. Serat Optik adalah media kabel terbuat
dari kaca atau plastik yang digunakan untuk mentransmisikan sinyal cahaya dari
suatu tempat ke tempat lain. Berdasarkan mode transmisi yang digunakan serat optik
terdiri atas Multimode Step Index, Multimode Graded Index dan Single mode Step
Index . Keuntungan serat optik adalah bentuknya lebih ramping, kapasitas transmisi
yang lebih besar, sedikit sinyal yang hilang, data diubah menjadi sinyal cahaya
sehingga lebih cepat, tidak berkarat dan tidak mudah terbakar. Kelemahan serat optik
antara lain biaya yang mahal untuk peralatannya, memerlukan konversi data listrik ke
cahaya dan sebaliknya yang rumit, memerlukan peralatan khusus dalam prosedur pemakaian dan pemasangannya serta untuk perbaikan yang kompleks membutuhkan tenaga yang ahli di bidang ini.
Secara garis besar kabel serat optik terdiri dari 2 bagian utama, yaitu cladding dan core. Cladding adalah selubung dari inti (core). Cladding mempunyai indek bias lebih rendah dari pada core akan memantulkan kembali cahaya yang mengarah keluar dari core kembali kedalam core lagi. Dalam aplikasinya serat optik biasanya diselubungi oleh lapisan resin yang disebut dengan jacket (coating), biasanya berbahan plastik. Lapisan ini dapat menambah kekuatan untuk kabel serat optik, walaupun tidak memberikan peningkatan terhadap sifat gelombang pandu optik pada kabel tersebut. Namun lapisan resin ini dapat menyerap cahaya dan mencegah kemungkinan terjadinya kebocoran cahaya yang keluar dari selubung inti. Serta hal ini dapat juga mengurangi cross talk yaitu gangguan/interferensi pada suatu kabel, yang timbul karena ada satu atau lebih kabel yang saling berdekatan. Berikut ini adalah Struktur dari Serat Optik yang di tunjukkan pada Gambar 2.2.
Gambar 2.2 Struktur Kabel Serat Optik
2.2.1 Pelemahan Fiber Optic
Pelemahan (Attenuation) cahaya sangat penting diketahui terutama dalam merancang sistem telekomunikasi serat optik itu sendiri. Pelemahan cahaya dalam serat optik adalah adanya penurunan rata-rata daya optik pada kabel serat optik, biasanya diekspresikan dalam decibel (dB) tanpa tanda negatif. Berikut ini beberapa hal yangmenyebabkan pelemahan cahaya pada serat optik :
a. Penyerapan (Absorption) yaitu kehilangan cahaya yang disebabkan adanya penyerapan dari luar dan penyerapan dari dalam. Untuk penyerapan dari luar terjadi karena imputy dalam fiber optik seperti: besi, cobalt dan ion OH.
Sedangkan penyerapan dari dalam disebabkan bahan pembuat fiber itu sendiri.
b. Penyebaran (Scattering) yaitu gangguan yang disebabkan karena tidak homogennya struktur fiber optik, kerapatan (density) yang tidak merata dan komposisi yang tidak fluktuasi dari bahan fiber glass sehingga ada energi cahaya yang keluar dari fiber optik.
c. Kehilangan Radiasi (Radiative Losses) yaitu gangguan yang disebabkan karena bending (tekukan) dan coupling (sambungan).
Tingkat kehandalan serat optik dapat ditentukan dengan satuan BER (Bit Error Rate ) yaitu jumlah kesalahan bit selama penyaluran informasi persatuan waktu.
Dengan intensitas laser yang rendah dan dengan panjang serat mencapai beberapa
km, maka akan menghasilkan nilai BER.
2.2.2 Jenis- jenis Fiber Optik 2.2.2.1 Single Mode Step index
Serat Optik ini berarti hanya satu berkas cahaya saja yang bisa dilewatkannya.
Oleh karena satu berkas cahaya, maka tidak ada perubahan index bias terhadap perjalanan cahaya dan tidak terjadi dispersi. Dengan demikian serat optik Step Index Singlemode ini memiliki lebar pita frekuensi yang lebih lebar. Sehingga serat optik Step Index Singlemode sering dipergunakan pada sistem komunikasi jarak jauh, karena mampu menyalurkan data dengan kecepatan yang tinggi. Idealnya cahaya merambat hanya melalui satu ragam saja, yang sejajar dengan sumbu serat. Serat optik Step Index Singlemode mempunyai lebar pita frekuensi 50 GHz dan mempunyai diameter secara keseluruhan 125 µm dan diameter inti berkisar > 9 µm seperti yang di tunjukkan pada Gambar 2.3.
Gambar 2.3 Single Mode Step Index
Susunan tipe dari serat kaca Single Mode Step Index : 1. Diameter Inti (core) : 2-10 µm 2. Diameter Selimut (Cladding) : 50-125 µm 3. Diameter Coating/Jaket : 250-1000 µm 4. Numerical Aperture : 0.08-0.15
(standar 0.1)
5. Redaman : 1-5 dB/km
Indeks Bias
Keuntungan Single Mode Step Index adalah pengaruh dispersi sangat kecil dan kapasitas lebar pita frekuensi sangat besar, sedangkan kelemahannya adalah harga yang sangat mahal.
2.2.2.2 Multi Mode Step Index
Sesuai dengan namanya, kabel jenis ini memiliki beberapa serat optik yang dibundel secara bersama. Berdasarkan susuan indeksnya, serat optik Step Index
Multimode mempunyai dua bentuk yaitu serat optik yang indeks biasnya sama (Step Index) dan indeks biasnya Continue (Graded Index). Keuntungan dari kabel ini adalah inti yang besar sehingga penyambungannya mudah dilakukan. Sedangkan kerugian dari kabel ini adalah terjadinya Dispersi. Oleh karena itu serat optik ini digunakan untuk jarak pendek. Serat optik ini mempunyai lebar pita frekuensi antara 10 – 100 MHz dengan diameter inti 50 µm dan diameter secara keseluruhan 125 µm seperti yang di tunjukkan pada Gambar 2.4.
Gambar 2.4 Multi Mode Step Index
Susunan tipe dari fiber optic Multimode Step Index:
1. Diameter Inti (Core) : 50-250 µm
2. Diameter Selimut (Cladding) : 125-400 µm
Indeks Bias
3. Diameter Coating/Jaket : 250-1000 µm 4. Numerical Aperture : 0.16-0.5
5. Redaman : 4-20 dB/km
Tipe kedua dari serat optik Multimode adalah serat optik yang indeks biasnya Continue (Graded Index). Kabel ini terdiri dari inti yang mempunyai indeks bias berkurang sedikit demi sedikit secara bertahap (Step by Step), mulai dari pusat inti sampai batas antara inti dan selubung dengan diameter inti 50 µm dan diameter keseluruhan 125 µm, bentuk Graded Index di tunjukkan pada Gambar 2.5.
Gambar 2.5 Graded Index Multimode
Berkas cahaya yang merambat melalui kabel ini dibelokkan sampai arah rambatnya sejajar dengan sumbu serat. Gelombang cahaya yang merambat melalui lapisan bagian luar berjalan lebih jauh dari pada cahaya yang melalui lapisan bagian dalam. Tetapi indeks bias lapisan luar lebih kecil, berarti kecepatan cahaya bagian luar lebih cepat dari bagian dalam. Serat optik ini mempunyai lebar pita frekuensi 1 GHz.
Susunan tipe dan fiber optik Multimode Graded Index yaitu :
1. Diameter Inti (core) : 30-60 µm
(standar 50 µm) 2. Diameter Selimut (cladding) : 100-150 µm
(standar 125 µm) 3. Diameter Coating/Jaket : 250-1000 µm 4. Numerical Aperture : 0.2-0.3
5. Redaman : 2-10 dB/Km
2.3 Modulasi
Modulasi adalah penumpangan sinyal informasi kedalam sinyal pembawa untuk menyaluran informasi. Dengan proses modulasi, suatu informasi (biasanya berfrekeunsi rendah) bisa dimasukkan ke dalam suatu gelombang pembawa, biasanya berupa gelombang sinus berfrekuensi tinggi. Peralatan untuk melaksanakan proses modulasi disebut modulator, sedangkan peralatan untuk memperoleh informasi informasi awal (kebalikan dari dari proses modulasi) disebut demodulator dan peralatan yang melaksanakan kedua proses tersebut disebut modem. Ada dua jenis modulasi yaitu :
1. Modulasi Analog 2. Modulasi Digital
2.3.1 Modulasi Analog
Teknik umum yang dipakai dalam modulasi analog adalah:
1. Modulasi Fase (Phase Modulation - PM)
Modulasi fase adalah modulasi dimana sinyal informasi mengikuti variasi fase dari sinyal pembawa.
Sinyal Input Sinyal Output
Gambar 2.6 Phase Modulation
2. Modulasi Frekuensi (Frequency Modulation - FM)
Modulasi frekuensi adalah suatu bentuk modulasi dimana frekuensi sinyal pembawa divariasikan secara proposional berdasarkan amplitudo sinyal input.
Gambar 2.7 Frequency Modulation
3. Modulasi Amplitudo (Amplitudo Modulation - AM)
Modulasi amplitudo adalah salah satu bentuk modulasi dimana amplitudo sinyal pembawa divariasikan secara proposional berdasarkan sinyal pemodulasi (sinyal informasi).
Gambar 2.8 Amplitudo Modulation
2.3.2 Modulasi Digital
Teknik yang umum dipakai dalam modulasi digital adalah : 1. Phase Shift Keying (PSK)
PSK adalah modulasi digital yang mengubah tiap bit data digital (logik 0 & 1) ke dalam sinyal analog yang sepadan.
2. Frekuensi Shift Keying (FSK)
FSK adalah modulasi digital yang mengubah frekuensi dari gelombang pembawa sesuai dengan sinyal informasi digital.
3. Amplitudo Shift Keying (ASK)
ASK adalah modulasi digital yang mengubah amplitudo dari gelombang
pembawa sesuai dengan sinyal informasi digital.
Gambar 2.9 Modulasi Digital
2.4 Synchronous Digital Hirarki (SDH)
PDH menciptakan angka-angka saluran yang lebih besar dengan standarisasi 30 kanal (PCM 30) yang digunakan di Eropa dan 24 kanal (PCM 24) yang digunakan di Amerika. Solusi ini bekerja hanya sesaat karena masih terdapat banyak kelemahan sehingga diciptakan SDH. Hal-hal yang menjadikan teknologi SDH lebih digunakan daripada teknologi PDH :
1. Bersifat synchronous artinya dalam multiplexing bit-bit informasi disinkronisasikan secara serentak menggunakan bit sinkronisasi.
2. Kapasitas SDH yang lebih besar dari PDH.
3. Penyaluran infomasi pada SDH lebih cepat dibandingkan PDH.
SDH telah menjadi standart transmisi yang utama dikebanyakan jaringan
telekomunikasi. SDH dikembangkan dari besarnya E1 yaitu sebesar 2.048 Mbps
supaya tercipta SDH yang lebih besar yang dikenal dengan Synchronous Transport Modules (STM). STM-1 memiliki kecepatan sebesar 155,52 Mbit/S. SDH dapat disamakan dengan Ethernet, PPP dan ATM dan kapasitas SDH terdiri dari STM-1, STM-4, STM-16 dan STM 64.
Jaringan SDH berfungsi untuk menyalurkan sinyal informasi dengan menggunakan serat optik dengan kecepatan yang tinggi. Serat optik menggunakan pulsa cahaya untuk memindahkan data dan memang prosesnya sangat cepat.
Penyaluran sinyal informasi menggunakan serat optik menghasilkan Wavelength Division Multiplexing (WDM) atau penyaluran sinyal informasi dengan jarak yang jauh dimana sinyal disalurkan dengan panjang gelombang yang berbeda.
Prinsip elemen dasar pada teknologi SDH (Synchronous Digital hierarchy) antara lain:
1. Container (C)
2. Virtual Container (VC) 3. Administrative Unit (AU)
4. Administrative Unit Group (AUG) 5. Tributary Unit (TU)
6. Tributary Unit Group (TUG)
Proses kerja multiplexing E-1 (2Mb/s) menjadi STM-1 ditunjukan pada
Gambar 2.3 Struktur STM-1/A-4/VC-4/TU-3/TUG-2/TUG-12 dan Gambar 2.4
Hierarki SDH (synchronous Digital Herarchy).
Gambar 2.10 Hierarki SDH ( Synchronous Digital Herarchy )
Di dalam sistem SDH dikenal tiga tahapan proses multiplexing yang tergantung dari sinyal masukan yang dikirim. Proses tersebut terdiri dari:
1. Mapping
Mapping adalah proses pemetaan sinyal-sinyal PDH yang akan dibawa melalui jaringan SDH. Pertama sinyal-sinyal PDH dimasukan ke dalam Container tesebut (C-n) multiplexing sesuai dengan laju bit masing-masing.
Kemudian C-n ditambahkan POH untuk membentuk Virtual Container (VC-n). Proses inilah yang disebut dengan mapping. POH berfungsi untuk memantau kualitas dan mengidentifikasi tipe dari Container. VC merupakan elemen dasar yang akan di kontrol dan diatur dalam sistem SDH. Ada beberapa janis VC yaitu VC-11, VC-12, VC-2 disebut dengan VC orde rendah dan VC-3 dan VC-4 disebut sebagai VC orde tinggi.
2. Multiplexing Orde Rendah
Multiplexing orde rendah adalah membentuk VC orde tinggi dengan
memultiplexing VC orde rendah. Untuk VC orde rendah pertama kali
dilakukan adalah dengan menambahkan pointer untuk membentuk TU (Tributary Unit) sesuai dengan VC-nya yang disebut dengan aligning. TU tesebut digabungkan untuk membentuk TUG (Tributary Unit Group).
Kemudian menambahkan POH pada TUG sehingga terbentuk VC orde tinggi.
3. Multiplexing Orde Tinggi
Multiplexing Orde Tinggi diperoleh dengan memultiplexing AU orde tinggi (AU-4) untuk membentuk frame STM-n. AU-4 bisa didapat dari multiplexing orde rendah atau langsung melalui pemetaan Container C-3 dan C-4, Seperti halnya multiplexing orde rendah, VC orde tinggi tesebut ditambahkan pointer untuk membentuk AU (Administrative Unit) sesuai dengan VC-nya (aligning). Selanjutnya AU tersebut digabungkan untuk membentuk AUG (Administative Unit Goup). Frame STM-n dibentuk dengan memultiplexing AUG.
2.5 Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM)
Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM) merupakan teknologi
terbaru dalam telekomunikasi dengan media kabel serat optik yang merupakan
perkembangan dari teknologi SDH. Dense Wavelength Division Multiplexing
(DWDM) merupakan suatu metode penggabungan sinyal-sinyal optik dengan
panjang gelombang operasi yang berbeda-beda yang ditransmisikan kedalam sebuah
serat optik tunggal dengan memperkecil spasi antar kanal sehingga terjadi
peningkatan jumlah kanal yang mampu dimultiplexing. Inti dari DWDM ini terdapat
pada infrastruktur yang digunakan, seperti jenis laser dan penguat. Perbaikan teknologi ini dipicu dengan adanya perkembangan teknologi fotonik, seperti penemuan EDFA (Erbium Doped Fiber Amplifier) sebagai penguat optik dan laser dengan presisi yang lebih tinggi. Penemuan EDFA memungkinkan DWDM beroperasi pada daerah 1550 nm yang memiliki attenuasi rendah.
Secara sederhana sebuah jaringan yang menggunakan DWDM dapat digambarkan pada Gambar 2.9 Jaringan DWDM.
Gambar 2.11 Jaringan DWDM
Dalam komunikasi serat optik, Wavelength Division Multiplexing (WDM)
adalah teknologi yang memultiplexing sejumlah sinyal carrier optik ke sebuah serat
optik tunggal dengan menggunakan panjang gelombang yang berbeda. Teknik WDM
memungkinkan komunikasi dua arah lebih dari satu serat optik serta penggandaan
kapasitas. Sebuah sistem WDM menggunakan multiplexer disisi pengirim untuk
menggabungkan beberapa sinyal informasi kedalam satu kanal informasi dan
demultiplexer disisi penerima untuk memisahkan beberapa sinyal informasi dari satu
kanal.
2.5.1 Sejarah Perkembangan DWDM
Konsep ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1970 dan 1978 sistem WDM sedang direalisasikan di laboratorium. Sistem WDM pertama hanya menggabungkan dua sinyal. Sistem modern dapat menangani hingga 160 sinyal dengan kecepatan hingga 10 Gbps didalam satu fiber optik. Sistem WDM populer dengan perusahaan telekomunikasi karena memungkinkan untuk memperluas kapasitas jaringan tanpa menggunakan lebih banyak serat optik. Kapasitas link yang diberikan dapat diperluas dengan hanya meningkatkan multiplexer dan demultiplexer.
Sistem umum WDM beroperasi pada kabel serat optik mode tunggal, yang memiliki diameter inti 9 um. WDM juga dapat digunakan dalam kabel serat optik multi-mode yang memiliki diameter inti 50 atau 62,5 um. Sistem WDM dibagi menjadi 2 CDWM dan DWDM. CWDM menyediakan hingga 8 kanal di jendela transmisi (C-Band) dari serat optik dengan panjang gelombang 1550 nm. Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM) menggunakan jendela transmisi yang sama dengan 40 saluran pada jarak 100 GHz atau 80 saluran dengan jarak 50 GHz.
EDFA memberikan aplikasi pita lebar yang efisien untuk C-band dan aplikasi raman menambahkan mekanisme untuk amplifikasi pada pita-L. Sebelum standarisasi ITU , makna umum untuk WDM berarti menggabungkan dua (atau mungkin lebih) sinyal informasi ke sebuah serat tunggal, dimana satu sinyal dengan panjang gelombang 1.550 nm dan sinyal informasi lainnya pada panjang gelombang 1310.
Pada tahun 2002 ITU standar saluran jarak grid untuk digunakan dengan CWDM
(ITU-T G.694.2), dengan menggunakan panjang gelombang dari 1270 nm sampai
1610 nm dengan saluran jarak 20 nm.
DWDM awalnya memultiplexing sinyal optik dalam band 1550 nm dan untuk meningkatkan kemampuan penguatan sinyal digunakan erbium doped fiber amplifier (EDFAs) untuk panjang gelombang antara kira-kira 1525-1565 nm (C band), atau 1570-1610 nm (L band). EDFAs awalnya dikembangkan untuk menggantikan SONET / SDH optik-listrik-optik (OEO) regenerator.
2.5.2 Konsep DWDM
Masukan sistem DWDM berupa traffik yang memiliki format data dan laju bit yang berbeda dihubungkan dengan laser DWDM. Laser tersebut akan mengubah masing-masing sinyal informasi dan memancarkan dalam panjang gelombang yang berbeda-beda λ 1, λ 2, λ 3,………, λN. Kemudian masing-masing panjang gelombang tersebut dimasukkan kedalam MUX (multiplexer) dan keluaran dimasukkan ke dalam sebuah serat optik. Selanjutnya keluaran MUX ini akan ditransmisikan sepanjang jaringan serat optik. Untuk mengantisipasi pelemahan sinyal, maka diperlukan penguatan sinyal sepanjang jalur transmisi. Sebelum ditransmisikan sinyal ini diperkuat terlebih dahulu dengan menggunakan penguat akhir (post amplifier) untuk mencapai tingkat daya sinyal yang cukup. ILA (in line amplifier ) digunakan untuk menguatkan sinyal sepanjang saluran transmisi.
Sedangkan penguat awal (pre-amplifier) digunakan untuk menguatkan sinyal
sebelum dideteksi. DEMUX (demultiplexer) digunakan pada ujung penerima untuk
memisahkan antar panjang gelombang yang selanjutnya akan dideteksi menggunakan
photo detector . Multiplexing serentak kanal masukan dan demultiplexing kanal
keluaran dapat dilakukan oleh komponen yang sama, yaitu multiplexer/demultiplexer.
2.5.3 Konfigurasi DWDM
Menurut konfigurasinya sistem DWDM dibagi menjadi 2 :
1. Sistem DWDM satu arah (one way transmission), pada sistem ini dalam satu serat optik dapat terjadi beberapa transmisi dengan satu arah. Sistem DWDM satu arah ditunjukkan pada Gambar 2.10 Sistem DWDM satu arah (one way transmission).
Gambar 2.12 Sistem DWDM satu arah (one way transmission)
2. Sistem DWDM dua arah (two way transmission), dimana dalam sebuah serat
terjadi dua dimana pada serat terjadi pengiriman informasi dari DWDM 1 ke
DWDM 2 dengan panjang gelombang λ 1 dan pada saat yang bersamaan
ditransmisikan informasi dari DWDM2 ke DWDM 1 dengan panjang
gelombang λ 2. Sistem DWDM dua arah ditunjukkan pada Gambar 2.11
Sistem DWDM dua arah ( two way transmission ).
Gambar 2.13 Sistem DWDM dua arah ( two way transmission)
2.5.4 Spasi Kanal
Spasi kanal merupakan jarak minimum antar panjang gelombang agar tidak terjadi interferensi. Standarisasi spasi kanal perlu dilakukan agar sistem DWDM dari berbagai vendor yang berbeda dapat saling berkomunikasi. Jika panjang gelombang berbanding terbalik dengan frekuensi, hubungan bedanya dikenal dalam panjang gelombang masing- masing sinyal. Faktor yang mengendalikan besar spasi kanal adalah bandwitdh pada penguat optic dan kemampuan penerima mengindetifikasi dua set panjang gelombang yang melewati penguat. Saat ini terdapat dua pilihan untuk melakukan standarisai kanal, yaitu menggunakan spasi lamda atau spasi frekuensi.
Hubungan antara spasi lamda dan spasi frekuensi adalah : Δ f ≈ -c/λ
2Δλ
Keterangan :
Δf = spasi frekuensi (GHz)
Δλ = spasi lamda (nm)
λ = panjang gelombang daerah operasi (nm) c = 3 x 108 m/s.
Konversi spasi lamda ke spasi frekuensi (dan sebaliknya ) akan menghasilkan nilai yang kurang presisi, sehingga sistem DWDM dengan satuan yang berbeda akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. ITU-T kemudian mengunakan spasi frekuensi sebagai spasi kanal.
Tabel 2.1 Konversi spasi lamda ke spasi frekuensi standar ITU-T
Spasi Lamda Spasi Frekuensi
(nm) (GHz)
0,4 50
0,8 100
1 120
1,6 200
2 250
2.5.5 Arsitektur Jaringan DWDM
Dalam perancangan suatu link fiber optik menggunakan DWDM maka perlu
diperhatikan arsitektur jaringannya. Arsitektur suatu jaringan komunikasi data adalah
gambaran umum konfigurasi dari link yang dipakai yang tentunya disesuaikan
dengan kebutuhan. Arsitektur jaringan DWDM terdiri dari 2 jenis yaitu Point to Point
dan Point to Multipoint. Untuk Point to Multipoint sendiri memiliki 3 jenis topologi
diantaranya adalah Topologi Ring, Topologi Linear dan Topologi Mesh.
2.5.5.1 Point to Point
Untuk konfigurasi Point to Point dapat digunakan sebagai Line Terminal yang letaknya di titik ujung point to point dan digunakan untuk Multiplexer dan Demultiplexer sinyal tributary. Konfigurasi Point to Point ini juga dapat digunakan sebagai Line Repeater yang berfungsi untuk memperkuat sinyal optik tanpa memerlukan konversi dari cahaya ke listrik. Seperti di tunjukkan pada Gambar 2.13.
Gambar 2.14 Topologi Point to Point
2.5.5.2 Point to Multipoint
Pada konfigurasi Point to Multipoint dapat pula digunakan sebagai Line
Terminal seperti konfigurasi Point to Point yang terletak pada titik ujung Point to Point dan digunakan untuk Multiplexer dan Demultiplexer sinyal tributary.
Konfigurasi ini juga bisa digunakan sebagai Line Repeater dengan fungsinya memperkuat sinyal optik tanpa memerlukan konversi dari cahaya ke listrik. OADM yang digunakan pada konfigurasi ini berfungsi untuk menambah atau mengurangi bagian dari trafik. Kemudian untuk Back to Back Terminal digunakan untuk menambah atau mengurangi kecepatan sinyal. Topologi – topologi yang digunakan dalam konfigurasi Point to Multipoint yaitu :
Topologi Linear
Topologi Linear merupakan topologi yang paling sederhana dan digunakan untuk menghubungkan satu buah titik pada satu jaringan. Seperti ditunjukkan pada Gambar 2.14.
Gambar 2.15 DWDM sebagai Topologi Linear
Topologi Ring
Topologi Ring adalah topologi jaringan dimana setiap titik terkoneksi ke dua titik lainnya, membentuk jalur melingkar membentuk cincin. Pada topologi cincin, komunikasi data dapat terganggu jika satu titik mengalami gangguan. Jaringan ring mengantisipasi kelemahan dengan mengirim data searah jarum jam dan berlawanan dengan arah jarum jam secara bersamaan agar ketika terjadi kerusakan link maka komunikasi tidak terganggu. Berikut tampilan topologi ring ditunjukkan pada Gambar 2.15.
Gambar 2.16 DWDM sebagai Topologi Ring