RANTF
(Recovery Aceh Nias Trust Fund) Info Memo
Trust Fund yang dibentuk untuk mendukung proses Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh & Nias
pasca bencana Tsunami Oleh
Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias
2005 - 2009
Daftar Isi
I. Latar Belakang
II. Sekilas tentang RANTF
III. Tujuan dan Kriteria Proyek yang Dibiayai RANTF
IV. Elemen Efektivitas Trust Fund: Speed, Flexibility, and Transparency V. Landasan Hukum
VI. Jenis-jenis Trust Fund VII. Mekanisme Operasi RANTF VIII. Lembaga Pendukung RANTF IX. Biaya Pengelolaan RANTF
X. Siapa saja yang dapat berpartisipasi dalam RANTF?
XI. Bagaimana Cara Berpartisipasi dalam RANTF ? XII. Nomor Rekening Bank dan Kontak RANTF
Info-Memo ini antara lain memberikan gambaran mengenai latar belakang, tujuan, aspek operasional, dan mekanisme pendanaan RANTF (Recovery Aceh Nias Trust Fund), sebuah trust fund yang dibentuk untuk mendukung upaya pemulihan (recovery) di Aceh dan Nias pasca bencana Tsunami.
Recovery Aceh Nias Trust Fund (RANTF)
I. Latar Belakang
Pada tanggal 26 Desember 2004, gempa bumi dahsyat berkekuatan 9,0 pada skala Richter mengguncang kawasan pantai barat laut Sumatra. Menyusul gempa bumi tersebut, gelombang tsunami menghantam pantai barat laut Sumatra, terutama daerah Aceh dan Sumatera Utara, yang mengakibatkan kerusakan dahsyat serta kematian dalam jumlah sangat besar. Diperkirakan bahwa sedikitnya 131.000 orang meninggal dunia, 37.000 orang hilang, serta 550.000 warga harus mengungsi akibat bencana tersebut. Pemerintah memperkirakan total kerugian harta benda yang terjadi adalah senilai 5,9 Miliar dollar Amerika Serikat. Kerusakan teramat parah terjadi di Banda Aceh serta kota-kota pesisir lainnya di kawasan barat laut Sumatra. Bencana alam tersebut menghancurkan banyak industri lokal, termasuk industri perikanan yang menjadi salah satu andalan mata pencaharian masyarakat.
Seakan tak ada habisnya musibah yang menerpa bangsa Indonesa, pada tanggal 28 Maret 2005, sebuah gempa bumi berkekuatan 8,7 pada skala Richter kembali mengguncang kawasan lepas pantai pada jarak sekitar 75 mil dari kepulauan Nias. Badan Koordinasi Nasional untuk Penanganan Bencana Alam dan Pengungsi memperkirakan bahwa sedikitnya 676 orang meninggal dunia serta
36.830 warga Kepulauan Nias dan Simeulue harus mengungsi sebagai akibat bencana gempa bumi tersebut.
Bencana tsunami dan gempa bumi yang teramat dahsyat tersebut mengundang simpati dan bantuan yang luar biasa besarnya dari seluruh penjuru dunia, baik donatur perseorangan maupun lembaga-lembaga donor, lembaga swadaya masyarakat, baik domestik maupun internasional, swasta maupun pemerintahan.
Rekonstruksi dan rehabilitasi tidaklah cukup dengan membangun kembali jalan raya, perumahan, gedung sekolah, dan rumah sakit. Lebih luas lagi, upaya rekonstruksi harus mencakup upaya-upaya untuk mengembalikan seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat korban bencana, sehingga mereka dapat memiliki kembali ruang gerak ekonomi serta membebaskan diri dari belenggu penderitaan emosional akibat kehilangan harta, benda, dan sanak keluarga akibat bencana.
Pada tanggal 16 April 2005, pemerintah Republik Indonesia membentuk BRR (Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi) untuk Aceh dan Nias dengan mandat sebagai koordinator tunggal untuk seluruh upaya rekonstruksi dan rehabilitasi di Aceh dan Nias. Sejak pembentukannya, BRR telah menunjukkan kepemimpinannya dalam proses rekonstruksi di Aceh dan Nias yang didasarkan pada partisipasi dan aspirasi masyarakat (community driven reconstruction).
Penandatanganan kesepakatan damai di Helsinki antara pemerintah Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) telah memberikan harapan besar bahwa upaya rekonstruksi akan dapat berjalan lancar dan berkesinambungan. Namun perlu ditekankan pula bahwa upaya rekonstruksi perlu diintegrasikan dengan proses rekonsiliasi di Aceh, sehingga harapan
rakyat Aceh akan terwujudnya suasana damai dan suksesnya rekonstruksi dapat terpenuhi.
Tahun 2006 akan menjadi tahapan yang sangat penting dari seluruh proses rekonstruksi jangka panjang di Aceh dan Nias. Sabagai suatu contoh, diproyeksikan bahwa sekitar 80.000 rumah akan harus selesai dibangun menjelang akhir 2006, dan seluruh rumah sejumlah 120,000 unit harus selesai dibangun sebelum akhir 2007. Jelaslah bahwa semua masalah dan hambatan yang teridentifikasi pada tahun pertama, tahun 2005, harus segera diatasi untuk menjamin percepatan rekonstruksi di Aceh dan Nias pada tahun 2006 dan tahun-tahun selanjutnya.
Proses rekonstruksi dan rehabilitasi di Aceh dan Nias merupakan ujian, tidak hanya bagi masyarakat Indonesia, namun juga bagi seluruh komunitas internasional secara keseluruhan. Masyarakat Indonesia tidak akan mampu sendirian membalikkan kehancuran dahsyat akibat tsunami secara cepat tanpa bantuan dunia internasional. Oleh karena itu, partisipasi dan bantuan seluruh lapisan masyarakat, baik domestik maupun internasional, individual maupun institusional, akan sangat berarti bagi rakyat Aceh dan Nias yang mendambakan pulihnya kondisi kehidupan mereka pasca bencana gempa bumi dan tsunami.
Jika Anda berkenan untuk menyumbangkan dana untuk membantu melanjutkan upaya pemulihan kembali Aceh dan Nias, baik secara individu maupun atas nama lembaga, mohon agar dana Anda dapat disalurkan ke RANTF (Reconstruction Aceh Nias Trust Fund), melalui alamat dan nomor rekening bank sebagaimana tertera pada bagian berikutnya dari Info-memo ini.
II. Sekilas tentang RANTF
RANTF (Recovery Aceh Nias Trust Fund) adalah fasilitas pengelolaan dana bantuan (hibah) yang disediakan oleh BRR NAD-Nias untuk mengelola dana hibah yang dikumpulkan dari mancanegara, perusahaan, organisasi masyarakat, dan dana masyarakat lainnya. Fasilitas ini diperlukan sebagai wadah penyaluran dana hibah mereka (para donatur) yang tergerak untuk membantu percepatan pemulihan Aceh-Nias pasca tsunami. Kebutuhan ini muncul karena sebagian donatur tidak menyalurkan dana hibah mereka melalui APBN, MDTF (Multi Donor Trust Fund), atau badan-badan multilateral seperti PBB, World Bank, Asian Development Bank dan NGO. Banyak donatur yang tidak mempunyai waktu dan fasilitas untuk mengelola dana dan program mereka sendiri. RANTF adalah salah satu solusinya, karena dana yang masuk ke dalam RANTF akan dikelola secara profesional, bertanggung jawab, dan transparan oleh BRR sebagai badan resmi pemerintah yang memperoleh mandat dari pemerintah Republik Indonesia untuk mengkoordinasi kegiatan rekonstruksi dan rehabilitasi di Aceh dan Nias.
III. Tujuan dan Kriteria Proyek yang Dibiayai RANTF
Sebagai institusi yang mengemban mandat resmi dari pemerintah Indonesia sebagai koordinator aktivitas rekonstruksi dan rehabilitasi di Aceh dan Nias, BRR telah mempelajari dan memantau bahwa dalam tahap pemulihan ini ada sejumlah aktivitas yang sangat diperlukan sebagai proyek penghubung (intermediary projects), proyek lintas sektor untuk mengantisipasi kesenjangan (sectoral gaps), dan aktivitas yang sifatnya darurat. Proyek penghubung adalah prasyarat yang harus dilakukan untuk kelangsungan proyek-proyek lainnya.
Proyek lintas sektor adalah proyek yang dimaksudkan untuk mengantisipasi dan memberikan solusi dalam usaha mengurangi kesenjangan (gap).
Kesenjangan ini muncul secara alamiah karena dinamika yang tinggi dalam masa rehabilitasi dan rekonstruksi dalam berbagai sektor, termasuk perumahan,
infrastruktur, pendidikan, kesehatan, agama dan sosial budaya, pemberdayaan ekonomi serta penguatan lembaga pemerintah daerah, ormas dan NGO lokal.
Proyek yang bersifat darurat (emergency) diperlukan manakala terjadi kondisi darurat yang menimbulkan hambatan pelaksanaan proyek utama yang telah direncanakan sebelumnya. Misalnya, sebuah jembatan mengalami kerusakan berat dan terputus karena terjadi banjir. Padahal, jembatan itu merupakan satu- satunya jalan menuju lokasi sebuah proyek perumahan untuk korban tsunami.
Maka diperlukan tindakan cepat untuk segera memperbaiki jembatan tersebut, karena proyek perumahan merupakan proyek yang bersifat urgent dan tidak dapat ditunda, mengingat masih banyak korban tsunami yang tinggal di tenda dan barak sementara. Untuk memperbaiki jembatan tersebut, sudah pasti diperlukan dana yang harus segera dapat diproses pencairannya tanpa melalui prosedur panjang birokrasi atau revisi anggaran yang memakan waktu lama, namun tetap memperhatikan akuntabilitas. Pembentukan trust fund merupakan salah satu alternatif jalan keluar untuk mengantisipasi masalah tersebut. Kriteria dan kondisi proyek atau pengeluaran yang memenuhi syarat untuk didanai dengan trust fund akan dirumuskan oleh Komite Trust Fund (KTF), sebuah komite yang beranggotakan lima pimpinan senior BRR dan berwenang mengambil keputusan dan persetujuan terkait dengan penggunaan dana RANTF.
Secara ringkas, tujuan akhir RANTF adalah untuk mengelola dana hibah dari berbagai donatur (individu maupun lembaga) serta masyarakat luas untuk direalisasikan secara efisien, efektif, bertanggung jawab, transparan, guna memberikan manfaat secara optimal, khususnya untuk masyarakat Aceh-Nias dalam masa pemulihan pasca bencana gempa bumi dan tsunami.
IV. Elemen Efektivitas Trust Fund: Speed, Flexibility, and Transparency Untuk memastikan efektivitas penggunaan dana trust fund dalam menunjang kegiatan rekonstruksi dan rehabilitasi di Aceh & Nias, RANTF dirancang sedemikian rupa sehingga pengelolaannya ditekankan pada kecepatan proses (khususnya untuk proyek yang bersifat darurat) serta fleksibilitas, namun dalam saat yang bersamaan mengedepankan transparansi dan akuntabilitas pelaporannya. Inilah yang kami maksud dengan segitiga elemen efektivitas RANTF: Speed (Kecepatan), Flexibility (Fleksibilitas), dan Transparency (Transparansi). Dalam proses rekonstruksi dan rehabilitasi pasca bencana alam, yang dibutuhkan adalah tindakan yang segera (rapid response) untuk menolong korban, namun dengan tetap mempertanggungjawabkan penggunaan dana secara transparan.
Transparency
Speed
Flexibility EFFECTIVETRUST FUND
V. Landasan Hukum
BRR (Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi) Aceh dan Nias dibentuk pada tanggal 16 April 2005, berdasarkan Perpu No. 2/2005. Setelah disahkan oleh DPR, Perpu tersebut sekarang ditetapkan menjadi Undang-undang No. 10/2005.
Dengan landasan hukum yang kuat tersebut, BRR mengemban amanat sebagai koordinator seluruh upaya rekonstruksi dan rehabilitasi di Aceh dan Nias.
RANTF dibentuk oleh BRR berdasarkan interpretasi Perpu No.2/2005 (kini menjadi Undang-undang No. 10/2005), khususnya ayat 20 dan 21. RANTF terbuka untuk menerima bantuan dana selama periode kerja BRR hingga April tahun 2009.
VI. Jenis-jenis Trust Fund
Dalam usaha memahami karakteristik para donor dan sekaligus mengantisipasi kondisi dinamis dan aspirasi masyarakat di Aceh-Nias, RANTF menyediakan dua saluran Penampung Dana. Sekaligus sebagai sarana untuk melakukan
‘fund-project matching’ yang merupakan tugas utama BRR. Open-end Fund menekankan proyek-proyek yang dibutuhkan, sedangkan ‘Close-end fiund’ lebih mengakomodasi karakteristik khusus dari pihak donor.
a. Open-end Fund. Yaitu rekening dana yang menampung dana hibah yang dikumpulkan dari berbagai donor dalam satu rekening escrow.
Dana dari open-end fund dipergunakan secara keseluruhannya untuk proyek-proyek yang dikoordinasikan oleh Tim RANTF.
b. Close-end Fund. Yaitu penampungan dana yang dikhususkan untuk dana hibah dari donor tertentu secara terpisah dari dana hibah lainnya. Rencana proyek dalam tipe pendanaan ini telah ditentukan oleh pihak donor, namun demikian Tim RANTF mempunyai keleluasaan untuk mengusulkan proyek-proyek tertentu sampai
maksimum 30% dari total dana hibah tersebut. Perincian selanjutnya untuk membuka saluran dana ini akan didiskusikan lebih lanjut antara pihak Donor dan Tim Hubungan Donor BRR.
VII. Mekanisme Operasi RANTF
Siklus pendanaan proyek yang dibiayai dengan trust fund dapat digambarkan sebagai berikut:
Penggunaan Dana Kontribusi Dana
Donor menyumbang kan dana
Unit Proyek Sektoral mengajukan proposal
KTF mereview
& mengapprove
Manajer Proyek melaksanakan proyek Pengawasan
& Evaluasi Laporan &
Audit
Domain: BRR Domain:
Stakeholders
& Institusi Penunjang
Siklus Operasi di atas dapat diuraikan tahap demi tahap sebagai berikut:
Transfer dana dan konfirmasi. Donor mentransfer dana mereka ke rekening bank trustee dan menginformasikannya ke Tim Hubungan Donor BRR. Bank trustee
melaporkan adanya sumbangan tersebut ke Tim Hubungan Donor BRR, yang selanjutnya akan mengirimkan surat konfirmasi kepada Donor dalam waktu dua minggu.
Persetujuan atas usulan proyek. Komite Trust Fund (KTF) menyetujui daftar usulan proyek yang diusulkan oleh Sektor berdasarkan Proposal Proyek, ToR atau Concept Notes. KTF menyusun laporan setiap 6 bulan sekali.
Pelaksanaan proyek. Berdasarkan daftar proyek yang disetujui oleh KTF, Direktur Eksekutif RANTF meminta Manajer Proyek untuk membentuk Tim Pengadaan berdasarkan prosedur RANTF yang telah ditentukan.
Verifikasi, pengawasan, dan pengelolaan dana. Direktur Eksekutif RANTF bersama- sama dengan bank trustee akan memverifikasi dan memonitor permintaan pembayaran yang diajukan oleh Manajer Proyek. KTF akan menyetujui dan menerbitkan instruksi pembayaran dan cek. Bank menerbitkan laporan dana RANTF per bulan.
5. Pengawasan Proyek, Evaluasi, Pelaporan, dan Audit. Direktur Eksekutif RANTF akan bekerja sama dengan auditor lapangan, lembaga anti korupsi, dan konsultan hukum dalam memonitor dan mengevaluasi laporan proyek yang dibuat oleh Manajer Proyek.
Proses awal. Donor yang hendak menyumbangkan dana menghubungi Tim Hubungan Donor BRR, dan selanjutnya akan menerima informasi rinci mengenai proses selanjutnya dan daftar rekening bank Trustee yang tersedia. Donor dapat pula mendiskusikan tujuan penggunaan dana hibah dengan Tim Hubungan Donor BRR.
VIII. Lembaga Pendukung RANTF
Hingga saat ini RANTF telah bekerja sama dengan lima bank internasional dan lokal yang telah dikenal luas reputasinya, yaitu: HSBC, Deutsche Bank, BNI,
Bank Niaga, and Standard Chartered Bank. Kelima bank tersebut bertanggung jawab menampung, melaksanakan adminstrasi, dan membuat laporan status dana secara berkala. Keterlibatan kelima bank tersebut merupakan salah satu wujud partisipasi mereka dalam pembangunan masyarakat, dan merupakan realisasi program CSR (Corporate Social Resposibility) atau program tanggung jawab sosial perusahaan.
RANTF juga didukung oleh konsultan hukum independen, konsultan perpajakan, akuntan publik, dan lembaga anti korupsi. Dukungan tersebut akan memberikan keyakinan penuh bahwa seluruh proyek rehabilitasi dan rekonstruksi di Aceh dan Nias yang didanai oleh RANTF akan sepenuhnya terkontrol, termonitor, transparan, efisien, dan efektif sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
IX. Biaya Pengelolaan RANTF
Biaya-biaya aktual yang berkaitan dengan pengelolaan RANTF dikenakan dan dikeluarkan dari dana RANTF itu sendiri, dan sedapat mungkin tidak dibebankan pada bagian anggaran BRR lainnya. Biaya-biaya tersebut mencakup biaya administrasi bank, biaya pengurusan proyek, biaya pengendalian dan pengawasan, serta biaya-biaya terkait lainnya. Diharapkan bahwa biaya-biaya tersebut dapat ditutup dari pendapatan bunga yang diperoleh dari bank sepanjang periode penyimpanannya.
X. Siapa saja yang dapat berpartisipasi dalam RANTF?
BRR mengajak seluruh lapisan masyarakat yang tergerak untuk membantu sesama, dalam hal ini masyarakat korban tsunami dan gempa bumi di Aceh dan Nias yang masih memerlukan banyak bantuan untuk bisa membangun kembali kehidupan mereka, kembali ke kehidupan normal seperti sebelum terjadinya bencana yang telah merenggut ratusan ribu nyawa keluarga serta melenyapkan
harta benda mereka. Ingatlah bahwa proses pembangunan kembali Aceh dan Nias tidak dapat dilakukan secara instant dalam sekejap mata. Diperlukan waktu yang cukup panjang untuk membangun kembali seluruh sarana dan prasarana yang sedikit demi sedikit dibangun oleh masyarakat dan pemerintah selama berpuluh-puluh tahun lamanya sebelum akhirnya hancur total dalam waktu singkat oleh bencana alam yang dahsyat. Dengan demikian sudah pasti diperlukan pula dukungan dana secara berkesinambungan.
Kami mengundang partisipasi seluruh donatur, baik dalam negeri maupun luar negeri, baik individual maupun secara kelembagaan, seperti kedutaan besar negara sahabat, perusahaan-perusahaan BUMN maupun swasta, baik dana perusahaan maupun dana yang dikumpulkan dari para karyawan, LSM, Yayasan, dan sebagainya. Siapapun yang menyumbang, berapapun besarnya donasi, setiap rupiah atau sen dollar akan sangat membantu upaya BRR untuk membangun kembali Aceh dan Nias.
XI. Bagaimana Cara Berpartisipasi dalam RANTF ?
• Silakan membaca Info-Memo ini dengan seksama;
• Jika Anda hendak menyumbang dalam bentuk “Open-end Fund”, silakan langsung mentransfer dana ke rekening bank yang tersedia seperti tercantum pada bagian akhir Info-Memo ini. Silakan kontak bank yang bersangkutan untuk memastikan prosedur transfer dana. Silakan cantumkan secara lengkap identitas Anda atau lembaga Anda sebagai donatur. Setelah dana masuk, Anda akan memperoleh surat konfirmasi dari BRR.
• Jika Anda hendak menyumbang dalam bentuk “Close-end Fund”, silakan kontak BRR secara langsung untuk memperoleh informasi yang lebih terinci.
• Laporan perkembangan proyek dapat dilihat pada website BRR: www.e- aceh-nias.org serta berbagai publikasi pada media massa nasional.
XII. Nomor Rekening Bank dan Kontak RANTF di BRR
Untuk menghubungi bagian Hubungan Donor BRR, silakan kontak Ririn, nomor telepon: +62-21-725 5816, +62-21-725 4750, atau telepon selular 08561899411.
Berikut ini daftar nama bank yang bekerja sama dengan RANTF, nomor rekening RANTF, serta kontak yang dapat dihubungi:
Nama Bank Nomor Rekening Nama Rekening Kontak HSBC,
Sudirman
USD 001-841311-115 IDR 001-841311-068
Aceh-Nias Open End Trust Fund
CTA Team
HSBC Securities Services Dept Ph 021 524 6474 / 5291 4901 Fax 021 521 1105
Email [email protected] Bank Niaga
Pusat USD
079.02.00005.007 IDR
079.01.00226.004
Aceh-Nias Open
End Trust Fund Ms. Tutu Sabiatun Ph 021 250 5151 ext 6613 Fax 021 250 5777
Email [email protected] Deutsche
Bank AG, USD 0013 813 050 IDR 0013 813 000
Aceh-Nias Ope -
End Trust Fund Ms. Vonty Hermawati Ph 021 318 9414 Fax 021 391 1472
Email [email protected] Standard
Chartered, Sudirman
USD 3060 1119549 IDR 3060 111 9581
Aceh Nias Open End Trust Fund
Ms. Tantrie Soetjipto Said Ph 021 57 999 454 Fax 021 571 9686 Email
[email protected] d.com