IMPLEMENTASI ASAS KEBEBASAN BERKONTRAK
DALAM PERJANJIAN
PEMBERIAN KREDIT(Studi Kasus di PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk. di Surakarta) Maria Anggita Dian Pramestie
Mahasiswa Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta
Jamal Wiwoho [email protected]
Dosen Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta
Abstract
The purpose of this article is to determine implementation of freedom of contract in the agreement standards of credit at PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk. in Surakarta. This study is descriptive research which could be classified on socio-legal research, so it could be said that it is using non doctrinal method. The types of legal materials in this study are primary legal material, secondary one, and tertiary one. The data collection is done by interviews, focus group discussion, questioner, and documents. A systems method for this study is in interactive qualitative analysis. Result of this study had shown that the principle of freedom of contract in the agreement standards of credit is categorized in failure implementation of policy which non implementation (could not be implemented). The clauses of the agreement standards of credit at PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk. in Surakarta only protect PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk. as the creditor without pay attention to debtor’s legal rights. PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk. and banking institutions are expected to implement all the rules and regulations associated with the credit agreement. Enforcement of sanctions firmly by law enforcement officers against banking institutions that had violated provision of the standard clause incriminating replacement debtor so that the law can work in the community. Debtors have to read the credit agreement critically so they understand and agree with the terms before they sign it. Keywords: Freedom of Contract, Bank Credit Agreement, Standard Contract
Abstrak
Artikel ini bertujuan untuk mengetahui dan mengkaji implementasi asas kebebasan berkontrak dalam perjanjian pemberian kredit di PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk. di Surakarta. Penelitian ini termasuk penelitian hukum sosiologis atau empiris yang bersifat deskriptif. Jenis bahan hukum yang digunakan adalah bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, focus group discussion, kuisioner, dan dokumen. Teknik analisis data menggunakan kualitatif interaktif mengalir. Berdasarkan penelitian ini diperoleh hasil bahwa asas kebebasan berkontrak dalam perjanjian pemberian kredit dikategorikan sebagai kegagalan implementasi kebijakan yang non implementation (tidak dapat diimplementasikan) yang mana klausul-klausul dalam perjanjian pemberian kredit hanya melindungi pihak PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk. sebagai kreditur tanpa memperhatikan hak-hak debitur. PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk. pada khusunya dan lembaga perbankan pada umumnya diharapkan dapat mengimplementasikan peraturan perundang-undangan terkait pembuatan perjanjian kredit tersebut di dalam praktik perbankan.
Kata Kunci: Asas Kebebasan Berkontrak, Perjanjian Kredit, Perjanjian Baku
A. Pendahuluan
Usaha manusia untuk memenuhi segala
baik bekerja pada orang lain maupun berkegiatan usaha sendiri atau yang sering disebut wirausaha.
yang dapat ditempuh untuk mendapatkan modal tersebut, salah satunya adalah dengan melalui kredit perbankan.
Pengertian kredit menurut Pasal 1 butir 11 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga. Kredit yang diberikan oleh bank didasarkan atas kepercayaan sehingga dengan demikian pemberian kredit merupakan pemberian kepercayaan kepada nasabah. Oleh karena pemberian kredit oleh bank dimaksudkan sebagai salah satu usaha bank untuk mendapatkan keuntungan, maka bank hanya boleh meneruskan simpanan masyarakat kepada nasabahnya dalam bentuk kredit, jika ia betul-betul yakin bahwa si debitur akan mengembalikan pinjaman yang diterimanya sesuai dengan jangka waktu dan syarat-syarat yang telah disetujui oleh kedua belah pihak. Hal tersebut menunjukkan perlu diperhatikannya faktor kemampuan dan kemauan sehingga tersimpul kehati-hatian dengan menjaga unsur keamanan dan sekaligus unsur keuntungan (profitability) dari suatu kredit. (Muhamad Djumhana, 2003, hlm. 299)
Pasal 1233 KUHPerdata menyebutkan bahwa tiap-tiap perikatan dilahirkan baik karena persetujuan, baik karena undang-undang. Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata menyebutkan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Kedua pasal tersebut dapat diartikan bahwa hukum perjanjian memberikan kebebasan yang seluas-luasnya kepada para pihak yang bersangkutan untuk mengadakan perjanjian tentang apa saja asalkan perjanjian tersebut tidak bertentangan dengan undang-undang, ketertiban umum, dan kesusilaan.
Ketentuan kedua pasal KUHPerdata tersebut dan Pasal 1 butir 11 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor Tahun 1992 tentang Perbankan, bahwa bentuk dari perjanjian kredit bank diserahkan kepada pihak kreditur (bank) dan pihak debitur (nasabah) untuk membuatnya. Selain daripada itu, suatu perjanjian juga harus memenuhi empat syarat
sahnya perjanjian sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1320 KUHPerdata, yaitu: sepakat mereka yang mengikatkan dirinya, kecakapan untuk membuat suatu perikatan, suatu hal tertentu, dan suatu sebab yang halal. Perjanjian menjadi sah dan mengikat secara hukum bagi para pihak yang membuatnya apabila memenuhi empat syarat sahnya perjanjian tersebut.
Bank sebagai lembaga keuangan, banyak diminati oleh masyarakat untuk pengajuan kredit. Mayoritas kegiatan perekonomian di Indonesia menggunakan fasilitas kredit, terutama dalam kegiatan usaha karena hampir semua dunia usaha membutuhkan kredit untuk menambah modal, memperluas usaha, dan produktifitas mereka. PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk., yang selanjutnya disebut BRI, merupakan salah satu bank umum di Indonesia yang memberikan kredit dalam bentuk sederhana, prosedur mudah dan tidak rumit, serta syarat yang tidak memberatkan dengan jaminan yang ringan.
Pembuatan perjanjian yang dilakukan secara sepihak tanpa melibatkan nasabah sudah biasa terjadi di dalam lingkungan perbankan. Perjanjian tersebut dalam bentuk formulir yang telah disiapkan oleh bank, kemudian diserahkan kepada nasabah dengan prinsip take it or leave it contract atau yang lazim disebut perjanjian baku. Nasabah tidak dapat mengajukan usul, masukan, maupun keberatan terhadap format perjanjian dan klausula-klausula yang ada di dalamnya. Fenomena adanya ketidakseimbangan dalam berkontrak sebagaimana tersebut dapat dicermati dari beberapa model kontrak, terutama kontrak-kontrak konsumen dalam bentuk standar/baku yang di dalamnya memuat klausul-klausul yang isinya (cenderung) berat sebelah. (Agus Yudha Hernoko, 2010, hlm. 2-3). Terdapat syarat dan ketentuan perjanjian pemberian kredit oleh BRI Surakarta yang mewajibkan nasabah untuk tunduk pada aturan-aturan yang ditetapkan oleh bank, baik yang sudah ada atau yang akan diatur kemudian. Dari klausul tersebut dapat dilihat bahwa isi dari perjanijan pemberian kredit oleh BRI tersebut telah diserahkan pada pihak bank untuk membuatnya, sedangkan nasabah tidak dilibatkan dalam pembuatan perjanjian pemberian kredit tersebut. Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai implementasi asas kebebasan berkontrak dalam perjanjian pemberian kredit di BRI Surakarta.
B. Metode Penelitian
Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika, dan pemikiran tertentu yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu dengan jalan menganalisanya. Kecuali itu, maka juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum tersebut untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam gejala yang bersangkutan. Menurut Soerjono Soekanto, penelitian hukum ini berdasarkan tujuannya termasuk dalam Penelitian Hukum Sosiologis atau Empiris, yang mencakup penelitian terhadap identifikasi hukum (tidak tertulis) dan penelitian terhadap efektivitas hukum. Sifat penelitian dalam penulisan hukum ini adalah penelitian deskriptif, yang bertujuan untuk memberikan data yang seteliti mungkin mengenai implementasi asas kebebasan berkontrak dalam perjanjian pemberian kredit yang dibuat secara notariil maupun yang dibuat di bawah tangan oleh BRI Surakarta. Penelitian hukum ini menggunakan pendekatan kualitatif yaitu suatu cara analisis hasil penelitian yang menghasilkan data deskriptif analitis yaitu data yang dinyatakan oleh responden secara tertulis atau lisan, serta juga tingkah laku yang nyata yang diteliti dan dipelajari sebagai sesuatu yang utuh. Dalam analisis dengan pendekatan kualitatif ini yang dipentingkan adalah kualitas data, artinya peneliti melakukan analisis terhadap data-data atau bahan-bahan hukum yang berkualitas saja, yang mana tidak semata-mata bertujuan mengungkapkan kebenaran saja, tetapi juga memahami kebenaran tersebut. Sumber data dalam penelitian empiris yaitu data yang diperoleh langsung dari masyarakat (data primer) di lokasi penelitian penulis yaitu BRI Kantor Cabang Surakarta (yang selanjutnya disebut BRI Kanca) dan BRI Unit: Adi Sucipto, Jurug, Pasar Legi, Semanggi, Nusukan, serta data dasar yang kedua (data sekunder) yaitu peraturan perundang-undangan yang berlaku. Metode pengumpulan data yang digunakan penulis untuk memperoleh data yang diperlukan yaitu pengumpulan data primer (wawancara, focus group discussion, kuisioner) dan pengumpulan data sekunder (studi kepustakaan dan dokumentasi).
C. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Pengikatan antara BRI sebagai penyedia dana/terjadi pada saat penandatanganan Akta Perjanjian Kredit antara nasabah dan pejabat bank BRI Kanca di hadapan notaris, sedangkan untuk BRI Unit, pengikatan terjadi pada saat penandatanganan Surat Pengakuan Hutang oleh nasabah di hadapan Kepala Unit masing-masing.
1. Akta Perjanjian Kredit
Terdapat 8 (delapan) pasal dalam Akta Perjanjian Kredit yang mana masing-masing pasal mengatur mengenai: Jumlah Kredit, Provisi dan Administrasi, Bunga Kredit, Jangka Waktu, Jaminan, Syarat-syarat Kredit, Asuransi, dan Domisili Hukum. Klausul-klausul baku yang penulis teliti terdapat dalam pasal Syarat-syarat Kredit yang di dalamnya meliputi: Syarat Penandatanganan Perjanjian, syarat Pencairan Fasilitas Kredit, Syarat-syarat Umum Kredit, Hal-hal yang Harus Dilaksanakan (Affirmative Covenants), Hal-hal yang Tidak Boleh Dilakukan oleh Pihak Kedua atau Debitur (Negative Covenants), Pelunasan Dipercepat/Maju, Pernyataan Menjamin (Representation and Warranties), Syarat-syarat Agunan, Klausula Asuransi, Pelanggaran atas Ketentuan Pemberian Kredit (Event of Default), Klausula Kuasa Pendebetan Rekening, Klausula Perjumpaan Hutang, Klausula Publikasi, Klausula Kepailitan, Klausula Parate Eksekusi, Klausula Kuasa-kuasa, Syarat-syarat Lainnya.
Perjanjian pemberian kredit meskipun yang dalam praktiknya berbentuk perjanjian baku, terdapat 6 (enam) syarat isi yang harus dipenuhi dalam pembuatan perjanjian pemberian kredit tersebut, yaitu: jumlah hutang, besarnya bunga, waktu pelunasan, cara-cara pembayaran, klausul opeisbaarheid, dan barang jaminan. Akta Perjanjian Kredit yang penulis teliti telah memenuhi keenam syarat isi dalam pembuatan perjanjian. Bentuk perjanjian tersebut berpedoman pada model perjanjian pemberian kredit yang telah ditetapkan oleh bank yang dalam hal ini adalah BRI yaitu bahwa notaris hanya menuangkan apa yang telah dituliskan dalam Surat Penawaran Putusan Kredit (SPPK) ke dalam isi daripada Akta Perjanjian Kredit.
Perjanjian baku mempunyai ciri yang khas dibandingkan dengan perjanjian lainnya yang penulis temui dalam Akta Perjanjian Kredit
a. Isinya ditetapkan secara sepihak oleh pihak yang lebih kuat
Kedudukan para pihak dalam perjanjian tidak seimbang yaitu pihak pembuat perjanjian biasanya mempunyai kedudukan yang lebih kuat dalam hal ekonomi atau politik. Dalam kuisioner yang penulis sebarkan kepada 3 (tiga) nasabah debitur di BRI Kanca, 2 (dua) dari 3 (tiga) nasabah menyatakan bahwa mereka tidak diberi kesempatan untuk mengadakan perundingan atau negosiasi mengenai isi Akta Perjanjian Kredit tersebut, sedangkan 1 (satu) nasabah menerangkan bahwa beliau diberi kesempatan untuk mengadakan perundingan atau negosiasi mengenai isi Akta Perjanjian Kredit, dan menurut keterangan beliau perundingan tersebut mengenai besarnya provisi, administrasi, dan biaya notaris. Lain halnya yang dikemukakan oleh Asisten Manajer Pemasaran Kredit BRI Kanca yaitu syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang ada pada perjanjian kredit tersebut bertujuan untuk melindungi BRI dari kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dari pemberian pinjaman, misalnya saja kredit macet atau keadaan lain di luar kendali kami. Klausul-klausul yang terdapat dalam perjanjian kredit tersebut merupakan tindakan preventif BRI apabila terjadi kemungkinan-kemungkinan tersebut. b. Adanya klausul atau syarat-syarat
eksonerasi
Klausul eksonerasi/eksemsi adalah suatu klausul dalam suatu perjanjian, yang dalam hal ini adalah perjanjian pemberian kredit, bertujuan untuk membebaskan atau membatasi tanggung jawab salah satu pihak (in casu pihak bank) terhadap gugatan pihak lainnya, padahal mestinya yang bersangkutan telah melakukan hal-hal yang tidak semestinya dilakukan dan tidak dalam keadaan force majeur. Syarat eksonerasi terdapat dalam Pasal 6 butir XIII Akta Perjanjian Kredit tentang Klausula Publikasi. Dalam KUHPerdata tidak ada ketentuan yang dengan tegas melarang klausul eksemsi asalkan dalam
perjanjian pemberian kredit tersebut telah memenuhi keempat syarat sahnya perjanjian (Pasal 1320 KUHPerdata), dan dalam perjanjian pemberian kredit tersebut tidak ada unsur memaksa atau menipu, serta tidak melanggar kebiasaan atau itikad baik.
c. Perjanjian baku kebanyakan adalah perjanjian adhesi
Perjanjian adhesi adalah perjanjian di mana salah satu pihak pembuat perjanjian berada dalam keadaan terjepit atau terdesak yang mana keadaan tersebut dimanfaatkan oleh pihak lain yang mempunyai kedudukan lebih kuat. Nasabah sebagai pihak yang membutuhkan pinjaman dana mau tidak mau harus tunduk kepada aturan-aturan atau syarat-syarat yang terdapat dalam Akta Perjanjian Kredit. Dapat dikatakan bahwa perjanjian pemberian kredit yang berbentuk perjanjian baku ini ada sebagian dari kebebasan berkontrak yang hilang karena klausul-klausul telah ditentukan oleh salah satu pihak (BRI) dan pihak yang lain (nasabah) hanya diberi pilihan untuk menerima atau menolak. Hal inilah yang menyebabkan perjanjian baku disebut dengan perjanjian adhesi (adhesive contracten).
d. Perjanjian baku memuat default clauses D e f a u l t c l a u s e s ( k l a u s u l opeisbaarheid) yaitu mengenai klausul yang memberikan hak salah satu pihak yang lebih kuat kedudukannya dan memutuskan sebelum waktunya tentang hal-hal tertentu tanpa pemberitahuan sebelumnya. Klausul opeisbaarheid terdapat dalam Pasal 6 butir X Akta Perjanjian Kredit yang berisi mengenai Syarat-syarat Kredit yang telah penulis uraikan tersebut di atas.
e. Terdapat klausul-klausul yang tidak wajar Klausul yang tidak wajar akan timbul apabila dalam suatu perjanjian terdapat lebih banyak hak-hak salah satu pihak dan kewajiban pada pihak lain. Klausul-klausul tersebut terdapat dalam Akta Perjanjian Kredit yaitu Klausula Kepailitan, Klausula Parate Eksekusi, dan Syarat-syarat Lainnya.
2. Surat Pengakuan Hutang
Penulis akan membahas 2 (dua) dari 5 (lima) Surat Pengakuan Hutang di BRI Unit yang penulis teliti, yaitu yang dibuat oleh BRI Nusukan dan BRI Unit Pasar Legi. Dalam Surat Pengakuan Hutang tersebut terdapat 11 (sebelas) pasal yang masing-masing pasal mengatur mengenai: Penggunaan Pinjaman; Jangka Waktu, Angsuran, Pelunasan Maju, dan Pengembalian Bunga Tepat Waktu; Provisi, Denda, dan Biaya-biaya; Agunan; Asuransi; Kewajiban Lain yang Berhutang; Pengawasan dan Pemeriksaan; Pernyataan; Klausula Publikasi; Domisili; Ketentuan Lain-lain. Dari kesebelas pasal tersebut, klausul-klausul baku yang penulis teliti terdapat dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 11, sedangkan 4 pasal pertama menyesuaikan dengan data-data dan ketentuan-ketentuan kredit yang diberikan oleh BRI Unit kepada nasabah.
6 (enam) syarat isi yang harus dipenuhi dalam pembuatan perjanjian pemberian kredit yang merupakan perjanjian baku, yaitu: jumlah hutang, besarnya bunga, waktu pelunasan, cara-cara pembayaran, klausul opeisbaarheid, dan barang jaminan. Penulis meneliti keenam syarat isi tersebut dalam Surat Pengakuan Hutang yaitu sebagai berikut:
a. Jumlah Hutang
Jumlah hutang debitur tidak disebutkan dalam pasal tersendiri, namun di halaman terakhir di atas kolom tanda tangan, nasabah debitur diminta untuk menuliskan nominal sejumlah kredit yang diterimanya yaitu yang berbunyi, “Baik untuk sejumlah Rp … (… Rupiah) ditambah dengan bunga dan ongkos-ongkos.” Selain daripada itu, dalam Pasal 3 yang mengatur mengenai Provisi, Denda, dan Biaya-biaya disebutkan nominal jumlah hutang yang digunakan untuk menghitung provisi.
b. Besarnya Bunga
Besarnya bunga kredit dan denda atas keterlambatan pembayaran diatur dalam Pasal 3 Surat Pengakuan Hutang.
c. Waktu Pelunasan
Waktu pelunasan kredit diatur dalam
digunakan/dicoret apabila BRI Unit tidak memberikan syarat atau ketentuan tersebut. d. Cara-cara Pembayaran
Cara-cara pembayaran kredit tidak diatur dalam Surat Pengakuan Hutang. e. Klausul Opeisbaarheid
Klausul opeisbaarheid yaitu klausul yang mengatur hak bank untuk mengakhiri perjanjian pemberian kredit secara sepihak walaupun jangka waktu perjanjian pemberian kredit tersebut belum berakhir. Klausul-klausul tersebut dalam Surat Pengakuan Hutang dinyatakan dalam Pernyataan, Klausula Publikasi, Ketentuan Lain-lain.
f. Barang Jaminan
Barang jaminan sebagai salah satu syarat kredit diatur dalam Pasal 4 Surat Pengakuan Hutang.
Dari uraian tersebut dapat diketahui bahwa perjanjian pemberian kredit yang dituangkan dalam Surat Pengakuan Hutang belum memenuhi keenam syarat isi dalam pembuatan perjanjian. Hal ini dapat diketahui dari tidak adanya pasal yang mengatur mengenai cara-cara pembayaran. Mengenai hal tersebut, Kepala BRI Unit Nusukan dan Kepala BRI Unit Pasar Legi menerangkan bahwa hal ini dikarenakan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan perjanjian pemberian kredit yang lebih lengkap telah diatur dalam Syarat-syarat Umum Perjanjian Pinjaman dan Kredit PT. Bank Rakyat Indonesia, Tbk. (Lampiran Model SU).
Perjanjian baku mempunyai ciri yang khas dibandingkan dengan perjanjian lainnya yang penulis temui dalam Surat Pengakuan Hutang tersebut, yaitu:
a. Isinya ditetapkan secara sepihak oleh pihak yang lebih kuat
Seperti halnya dalam Akta Perjanjian Kredit yang telah diuraikan sebelumnya, kedudukan para pihak dalam perjanjian pemberian kredit yang dituangkan dalam Surat Pengakuan Hutang tidak seimbang yaitu pihak pembuat perjanjian (BRI Unit) mempunyai kedudukan yang lebih kuat
(tiga belas) dari 15 (lima belas) nasabah debitur di BRI Unit menyatakan bahwa mereka tidak diberi kesempatan untuk mengadakan perundingan atau negosiasi mengenai isi Surat Pengakuan Hutang tersebut. Menurut keterangan salah satu debitur di tiap BRI Unit mengenai syarat-syarat dalam Surat Pengakuan Hutang yang harus dipenuhi, bahwa pada dasarnya mereka menyetujui syarat-syarat tersebut karena kebutuhan akan dana untuk kegiatan usahanya. Adanya klausul atau syarat-syarat eksonerasi. Syarat eksonerasi/ eksemsi adalah syarat yang membatasi atau membebaskan tanggung jawab salah satu pihak atau perseorangan dalam melaksanakan perjanjian, namun syarat ini tidak terdapat dalam Surat Pengakuan Hutang.
b. Perjanjian baku kebanyakan adalah perjan-jian adhesi
Nasabah sebagai pihak yang membu-tuhkan pinjaman dana mau tidak mau harus tunduk kepada aturan-aturan atau syarat-syarat yang terdapat dalam Surat Pengakuan Hutang. Dapat dikatakan bahwa perjanjian pemberian kredit yang berbentuk perjanjian baku ini ada sebagian dari kebebasan berkontrak yang hilang karena klausul-klausul telah ditentukan oleh salah satu pihak (BRI Unit) dan pihak yang lain (nasabah) hanya menerima atau menolak. Hal inilah yang menyebabkan perjanjian baku disebut dengan perjanjian adhesi (adhesive contracten).
c. Perjanjian baku memuat default clauses D e f a u l t c l a u s e s ( k l a u s u l opeisbaarheid) dituangkan dalam Pasal 7 Surat Pengakuan Hutang tentang Pengawasan dan Pemeriksaan.
d. Terdapat klausul-klausul yang tidak wajar Klausul yang tidak wajar tersebut terdapat dalam Surat Pengakuan Hutang dalam Pasal 6 tentang Kewajiban Lain yang Berhutang, Pasal 7 tentang Pengawasan dan Pemeriksaan, dan Pasal 8 tentang Pernyataan.
Hukum perjanjian di Indonesia menganut asas kebebasan dalam membuat perjanjian
sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata yaitu semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Dapat dikatakan bahwa maksud dari pasal tersebut yaitu setiap orang boleh membuat perjanjian apapun dan dengan siapapun ia akan mengikatkan diri. Para pihak yang mengadakan perjanjian diperbolehkan membuat dan mengatur ketentuan-ketentuan sendiri dalam perjanjian yang mereka adakan. Kebebasan tersebut tentunya harus dilakukan dengan itikad baik dan adapun pembatasan terhadap kebebasan ini yaitu ketertiban umum dan kesusilaan.
Dalam kuisioner yang disebarkan penulis kepada nasabah debitur di BRI Surakarta, kedelapan belas nasabah menyatakan bahwa pihak BRI (BRI Kanca dan BRI Unit) telah memberitahukan mengenai isi dan syarat-syarat perjanjian pemberian kredit secara jelas. Lebih lanjut, keenam belas dari kedelapan belas nasabah tidak membaca isi perjanjian pemberian kredit tersebut sebelum menandatanganinya. Menurut keterangan sebagian besar dari nasabah yang tidak membaca isi perjanjian pemberian kredit tersebut, hal ini dikarenakan mereka membutuhkan dana sesegera mungkin sehingga mereka menyetujui aturan apapun yang dibuat oleh BRI. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa apabila seseorang menandatangani suatu perjanjian, seseorang tersebut dianggap memahami dan menyetujui isi perjanjian yang ditandatanganinya, sehingga dalam hal ini nasabah dianggap telah memahami dan menyetujui bahwa Akta Perjanjian Kredit di BRI Kanca dan Surat Pengakuan Hutang di BRI Unit berlaku sebagai undang-undang bagi nasabah maupun bagi BRI.
Perjanjian pemberian kredit pada umumnya ditentukan secara sepihak oleh bank yang dalam hal ini yaitu BRI, nasabah hanya dapat menerima atau menolak menandatangani perjanjian pemberian kredit tersebut. Tidak terbuka ruang bagi nasabah untuk melakukan perubahan klausul-klausul yang telah dibuat oleh BRI. Klausul-klausul baku yang dibuat secara sepihak oleh BRI Surakarta yang menurut penulis dapat memberatkan nasabah, yaitu: Klausul Bunga Kredit, Klausul Penarikan Fasilitas Kredit, Klausul Asuransi Jaminan Kredit, Klausul Eksekusi Barang Jaminan.
Istilah perlindungan konsumen berkaitan dengan perlindungan hukum, sehingga perlindungan konsumen mengandung aspek hukum. Pengertian konsumen menurut Pasal 1 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yaitu setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain, maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan. Materi yang mendapatkan perlindungan itu bukan sekedar fisik saja tetapi juga hak-hak yang bersifat abstrak sehingga perlindungan konsumen sangat identik dengan perlindungan yang diberikan hukum terhadap hak-hak konsumen yang diatur dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Tidak hanya konsumen saja, namun pelaku usaha juga mendapatkan perlindungan hukum. Pengertian pelaku usaha menurut Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yaitu setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi. Hak pelaku usaha diatur dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Dari kedua pasal tersebut dapat diketahui bahwa konsumen dan pelaku usaha adalah mempunyai hak yang sama dalam aspek perlindungan hukum.
Bentuk perjanjian baku dalam perjanjian pemberian kredit oleh BRI Surakarta tersebut tidaklah menjadi suatu pengingkaran atas asas kebebasan berkontrak sepanjang tetap ditegakkannya asas-asas umum perjanjian. Rumusan perjanjian baku tersebut harus terhindar dari kandungan unsur-unsur yang mengakibatkan adanya pemaksaan karena ketidakseimbangan kekuatan para pihak, menguntungkan salah satu pihak atau resiko yang hanya dibebankan pada satu pihak saja, serta pembatasan hak dalam menggunakan upaya hukum. Dengan demikian, meskipun perjanjian pemberian kredit dituangkan dalam
penulisan klausul-klausulnya harus jelas. Hal ini tercantum dalam Pasal 18 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, yang menyatakan bahwa pelaku usaha dilarang mencantumkan klausula baku yang letak atau bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas, atau yang pengungkapannya sulit dimengerti. Apabila ternyata dalam perjanjian tersebut memuat klausul-klausul yang sulit terlihat atau tidak jelas atau sulit dimengerti, maka perjanjian tersebut tidak mempunyai daya mengikat dan menurut Pasal 18 ayat (3) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, perjanjian tersebut dinyatakan batal demi hukum. Perjanjian yang di dalamnya terdapat klausul yang bertentangan dengan ketentuan undang-undang tersebut wajib segera disesuaikan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
D. Simpulan
Berdasarkan uraian dan pembahasan penulis menarik simpulan bahwa berdasarkan pada Teori Implementasi, asas kebebasan berkontrak dalam perjanjian pemberian kredit di BRI Surakarta dikategorikan sebagai kegagalan implementasi kebijakan yang non implementation (tidak dapat diimplementasikan). Hal ini dibuktikan dengan banyak terdapat klausul baku yang cenderung melindungi BRI tanpa memperhatikan hak-hak debitur. Maksud dan tujuan perjanjian baku sebetulnya adalah efisiensi tetapi harus memperhatikan bahwa hukum yang berwibawa berarti hukum yang efisien, di mana seseorang dapat melaksanakan hak-haknya tanpa takut melaksanakan kewajibannya tanpa penyimpangan. Lahirnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen memberikan dampak positif bagi konsumen agar dapat terlindungi hak dan kewajibannya, juga memberikan dampak positif pelaku usaha, yang dalam hal ini adalah BRI, yaitu untuk meningkatkan produktivitas kerja dan kualitas agar hak-hak debitur terpenuhi. Namun dalam praktiknya, klausul-klausul baku dalam perjanjian pemberian kredit di BRI Surakarta tersebut dapat dikatakan berat sebelah, sedangkan asas keseimbangan juga perlu diperhatikan dalam membuat suatu perjanjian, namun tidak cukup melalui susbtansi hukum/peraturannya saja, melainkan struktur/aparat birokrasinya dan
E. Saran
Implementasi kebijakan merupakan sesuatu yang penting, bahkan mungkin lebih penting daripada pembuatan kebijakan. Dalam hal substansi hukum/peraturannya, aturan-aturan yang telah ada dalam Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, maupun peraturan-peraturan yang telah ada dan mungkin akan ada di kemudian hari, agar mendapatkan hasil yang sesuai dengan tujuan atau sasaran kebijakan itu sendiri, maka BRI pada khusunya dan lembaga perbankan pada umumnya diharapkan dapat mengimplementasikan aturan-aturan tersebut di dalam praktik perbankan.
F. Daftar Pustaka
Agus Yudha Hernoko. 2010. Hukum Perjanjian Asas Proporsionalitas dalam Kontrak Komersial. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Aloysius R. Entah. 2016. ”Clause – Clause Not
Balanced in the “Agreement Standards of
Credit Bank””. International Knowledge and Sharing Platform, 6 (9): 87-93.
http://www.iiste.org/Journals/index.php.PPAR/ article/download/32814/33711. (Diakses 8 Desember 2016 pukul 22.15)
Miftah Idris. 2015. “Perjanjian Kredit Perbankan Konvensional dan Akad Pembiayaan Perbankan Syariah: Suatu Tinjauan Deskriptif dalam Hukum di Indonesia”. Jurnal Komunikasi Hukum, 1 (1): 24-42. http:// www.ejournal.undiksha.ac.id/index.php/jkh/ article/view/5007. (Diakses 17 April 2016 pukul 11.00 WIB)
Muhamad Djumhana. 2003. Hukum Perbankan di Indonesia. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti. Yenny Eta Widyanti. 2011. “Perjanjian Baku Ditinjau
dari Prinsip-prinsip Pemberian Kredit dan Tolak Ukur Perjanjian Baku Agar Mengikat Para Pihak”. Jurnal Poli Humaniora, 1 (1): 191-211.
http://hukum.ub.ac.id/wp-content/uploads/2013/03/ Jurnal-yeni-eta.pdf. (Diakses 7 Desember pukul 22.45)