PENGANTAR
Dalam kehidupan sosial di masyarakat, penyandang cacat tubuh seringkali dirundung rasa curiga dan rasa tidak percaya diri yang kuat sehingga tidak berani menyampaikan berbagai gejolak atau pun emosi yang ada di dalam dirinya kepada orang lain, apalagi jika menyangkut kecacatan yang dimilikinya. Akibatnya individu tersebut lebih banyak memendam berbagai persoalan hidup yang akhirnya seringkali terlalu berat untuk ditanggung sendiri sehingga menimbulkan berbagai masalah psikologis maupun fisiologis dan akibatnya muncul kecenderungan perilaku agresif pada diri sendiri maupun terhadap orang lain.
Penyandang cacat tubuh sampai sekarang masih saja mengalami perlakuan sebagai warga kelasa dua di negeri sendiri, ini disebabkan karena banyak yang menganggap bahwa penyandang cacat tubuh tidak seperti layaknya orang normal. Adanya perlakuan kurang menyenangkan dari orang lain membuat penyandang cacat tubuh merasa dibedakan sehingga timbul perilaku agresif yaitu dengan cara membalas perbuatan orang tersebut. Sikap penyandang cacat tubuh yang belum mampu menerima kecacatanya akan memunculkan berbagai tindakan, yang salah satunya adalah tindakan agresif. Adanya perlakuan buruk seperti diejek dan disakiti oleh teman-teman sebaya membuat penyandang cacat tubuh berusaha untuk membela diri dengan cara membalas perbuatan orang tersebut (www.ypac-solo.org).
Adapun kasus yang pernah terjadi pada seorang penyandang cacat tubuh ketika dia hendak pulang ke kota Purworejo sendirian. Biasanya jika akan pulang dia akan diantar oleh pihak yayasan tetapi untuk kali ini tidak seperti biasanya. Ketika sedang menunggu bus jurusan Purworejo tidak ada satu pun bus yang mau berhenti, berkali-kali berusaha tetap tidak ada bus yang mau berhenti. Individu pun merasa kesal, marah dan ada keinginan untuk membalas karena dia menganggap bahwa orang lain tidak mau menolongnya, merasa dicemoohkan, dan dibedakan. Pada hal dia tidak membutuhkan bantuan orang lain untuk bisa naik bus, walaupun dengan keadaan menggunakan kursi roda, individu merasa mampu melakukan sendiri tanpa bantuan orang lain. Seperti dikatakan di atas, perilaku agresif dapat diperoleh atau dipengaruhi oleh lingkungan. Masalah ini menjadi kompleks dengan adanya sikap atau perlakuan negatif dari lingkungannya. Sebagai akibatnya, timbul perasaan rendah diri, perasaan tidak mampu/berdaya, mudah putus asa, dan merasa tidak berguna sehingga menimbulkan kecenderungan menarik diri dari lingkungan pergaulan atau sebaliknya dan memperlihatkan tingkah laku agresif.
Istilah agresif sering diartikan sebagai suatu perilaku yang bertujuan untuk menyakiti orang lain baik secara fisik maupun verbal. Pada dasarnya perilaku agresi merupakan kecenderungan yang dimiliki oleh setiap orang, hanya kadarnya saja yang berbeda-beda. Berkowitz (1995) mendefinisikan agresif sebagai segala bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk menyakiti orang lain secara fisik maupun mental. Pendapat lain menyatakan bahwa menyakiti bukan satu-satunya tujuan karena agresi dapat juga bertujuan untuk melindungi diri sendiri sebagai cara untuk menunjukkan patriotisme ataupun alat untuk mendapat dukungan sosial. Dalam
ensiklopedia psikologi sosial (Manstead dan Hewstone, dalam Faturochoman, 2006) agresi adalah segala bentuk perilaku yang disengaja terhadap makhluk lain dengan tujuan untuk melukainya dan pihak yang dilukai tersebut berusaha untuk menghindarinya.
Penerimaan diri yang tinggi pada penyandang cacat tubuh akan menyadari dan mengakui karekteristik pribadi dan menggunakannya dalam menjalani kelangsungan hidupnya serta mampu berpikir positif, yang berarti individu mampu memahami dirinya berbeda dengan orang lain. Dalam menerima diri sendiri, seseorang harus dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat dan kehidupannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Hurlock (1980) bahwa tingkat penerimaan diri seseorang akan menentukan tingkat penyesuaian dimana penerimaan diri membantu seseorang untuk mewujudkan kemampuan dirinya.
Chaplin (2004) mengemukakan bahwa penerimaan diri adalah sikap yang pada dasarnya merasa puas dengan diri sendiri, kualitas-kualitas dan bakat-bakat sendiri dan pengakuan akan keterbatasan-keterbatasan sendiri. Dari pengertian diatas dapat diketahui bahwa individu yang mampu menerima dirinya dengan baik maka tidak merasa malu atau merasa dirinya kurang bahkan merasa bersalah dengan keterbatasan yang ada pada dirinya, sehingga individu dapat memunculkan suatu sikap yang mencerminkan perasaan senang, bahagia akan segala kondisi yang ada pada dirinya.
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas maka penulis tertarik untuk meneliti bagaimana hubungan antara penerimaan diri dengan kecenderungan perilaku agresif pada remaja penyandang cacat tubuh.
METODE PENELITIAN
A. Subjek Penelitian
Subjek pada penelitian ini adalah remaja penyandang cacat tubuh yang berada di Pusat Rehabilitasi Penyandang Cacat Tubuh Yakkum Yogyakarta dan Pusat Rehabilitasi Anak Yayasan Penyandang Anak Cacat (YPAC) Surakarta. Kriteria kecacatan yang digunakan adalah seseorang yang mempunyai kekurangan atau ketidaksempurnaan pada anggota tubuhnya (tangan dan kaki) baik secara struktural maupun fungsional.
B. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode skala penerimaan diri dan skala kecenderungan perilaku agresif. Subjek akan diminta untuk mengisi skala tersebut. Aitem-aitem skala dibuat dengan pernyataan yang bersifat favourable, pernyataan favourable adalah pernyataan yang memihak objek penelitian. Skala penelitian ini menggunakan metode likert yang telah dimodifikasikan menjadi empat alternatif jawaban; sangat sesuai (SS), sesuai (S), tidak sesuai (TS), dan sangat tidak sesuai (STS). Teknik pengambilan subjek yang digunakan adalah metode purposive sampling dimana harus sesuai dengan karakteristik yang telah ditentukan.
C. Alat Ukur
Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala yang dikembangkan sendiri oleh peneliti. Variabel penerimaan diri diukur berdasarkan jumlah skor yang diperoleh individu atas respon yang diberikan terhadap skala tersebut. Jumlah aitem pada skala penerimaan diri adalah 40 aitem favorable. Semakin tinggi skor yang diperoleh maka konflik peran ganda pun semakin tinggi, begitu juga sebaliknya. Aspek-aspek penerimaan diri berdasarkan Sheerer (Cronbach dalam Andini, 2005) yaitu Percaya kemampuan sendiri, perasaan sederajat, orientasi keluar, bertanggung jawab, berpendirian, menerima kelebihan dan kekurangan diri, menerima sifat kemanusiaan.
Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala yang dikembangkan dari adaptasi dan modifikasi. Variabel kecenderungan perilaku agresif diukur berdasarkan jumlah skor yang diperoleh individu atas respon yang diberikan subjek terhadap skala tersebut. Jumlah aitem pada skala perilaku agresif adalah 29 favorable. Semakin tinggi skor yang diperoleh maka kecenderungan perilaku agresif pun semakin tinggi, begitu juga sebaliknya. Aspek-aspek kecenderungan perilaku agresif berdasarkan teori Buss & Perry (1992), yaitu Agresi fisik (physical aggression), agresi verbal (verbal aggression), kemarahan (anger), permusuhan (hostility).
D. Metode Analisis Data
Model analisis statistik yang digunakan dalam penelitian ini dengan memakai Sperman Rho, karena penelitian ini ingin mengukur korelasi atau hubungan antara dua variabel serta untuk mengetahui besarnya korelasi linier antara dua variabel tersebut yang dinyatakan dalam suatu hubungan. Analisis data penelitian yang diperoleh dalam bentuk angka akan dianalisis dengan memanfaatkan fasilitas komputerisasi SPSS 11.5 for windows.
HASIL PENELITIAN
Berdasarkan data yang telah terkumpul dan dilakukan pengolah data diperoleh hasil yang dapat dideskripsikan sebagi berikut :
Tabel 1
Deskripsi Data Penelitian
Skor Hipotetik Skor Empirik Variabel X max X min Mean SD X max X min Mean SD Penerimaan diri 116 29 72,5 14,5 89 30 57,57 14,175 Kecenderungan perilaku agresif 112 28 70 14 107 81 95,35 7,154 Berdasarkan deskripsi statistik penelitian di atas dapat diketahui tinggi rendahnya konflik peran ganda dan perilaku agresif subjek melalui pengkategorian skor total yang diperoleh oleh masing-masing subjek pada kedua skala. Tujuan pengkategorian ini adalah untuk menempatkan subjek dalam kelompok-kelompok terpisah secara berjenjang menurut suatu kontinum berdasar atribut yang diukur, sehingga dapat diketahui kontinum jejang dari tingkat rendah hingga ke tingkat tinggi.
Terdapat lima kategorisasi yang akan digunakan dalam penelitian ini, yaitu sangat rendah, rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Untuk menentukan batasan kategori akan digunakan rumus sebagai berikut:
Tabel 2
Rumus Norma Kategorisasi
No. Kategori Rumus Norma
1. Sangat Rendah x < (µ - 1,8s ) 2. Rendah (µ - 1,8s ) = x = (µ - 0,6s ) 3. Sedang (µ - 0,6s ) = x = (µ + 0,6s ) 4. Tinggi (µ + 0,6s ) < x = (µ + 1,8s ) 5. Sangat Tinggi x > (µ + 1,8s ) Ket: µ : Mean Hipotetik
s : Standar Deviasi
A. Penerimaan Diri
Kategorisasi variabel Penerimaan Diri ditentukan berdasarkan skor total subjek pada Skala Penerimaan Diri. Skala tersebut terdiri dari 29 aitem dengan skor minimal 1 dan skor maksimal 4. Rentang skor minimum dan maksimum skala tersebut adalah Rentang skor minimum dan maksimum skala tersebut adalah 29x1 sampai dengan 29x4, yaitu 29 – 116. Standar deviasinya adalah 14,5 sedangkan mean-nya adalah 72,5. Berdasarkan data tersebut dapat ditentukan kategorisasi untuk variabel penerimaan diri sebagai berikut:
Tabel 3
Kriteria Kategorisasi Skala Penerimaan Diri
Kategori Rumus Norma Jumlah Persentase Sangat Rendah x = 46,4 0 0 % Rendah 46,4 = x = 63,8 0 0 % Sedang 63,8< x = 81,2 1 2,703 % Tinggi 81,2 < x = 98,6 23 62,162 % Sangat Tinggi X > 98,6 13 35,703 % 37 100 %
Berdasarkan hasil kategorisasi diatas, dapat dilihat bahwa terdapat subjek dengan penerimaan diri yang sedang, tinggi dan sangat tinggi. Sebanyak 23 orang (62,162%) memiliki tingkat penerimaa diri yang tinggi dan sisanya (2,703%) berada pada kategori sedang dan (35,703%) berada pada kategori sangat tinggi. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa penerimaan diri subjek berada pada kategori tinggi, karena jumlah subjek yang berada pada rentang skor 81,2 < x = 98,6 lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah subjek pada rentang skor lain.
B. Kecenderungan Perilaku Agresif
Kategorisasi variabel kecenderungan perilaku agresif juga dapat diperoleh melalui cara yang sama. Skala kecenderungan perilaku agresif terdiri dari 28 aitem, dengan skor minimal 1 dan skor maksimal 4. Rentang skor minimum dan maksimumnya antara 28x1 sampai dengan 28x4, yaitu 28 – 112. Standar deviasinya adalah 14, sedangkan mean-nya adalah 70. Berdasarkan data tersebut dapat ditentukan kategorisasi untuk variabel kecenderungan perilaku agresif sebagai berikut:
Tabel 4
Kriteria Kategorisasi Skala Kecenderungan Perilaku Agresif
Kategori Rumus Norma Jumlah Persentase Sangat Rendah x = 44,8 4 10,811 % Rendah 44,8 = x = 61,6 22 59,459 % Sedang 61,6 < x = 78,4 8 8,108 % Tinggi 78,4 < x = 95,2 3 21,622 % Sangat Tinggi X > 95,2 0 0 % 37 100 %
Berdasarkan hasil kategorisasi diatas, dapat diketahui bahwa subjek yang termasuk kategori sangat rendah sebanyak 4 orang (10,811%), kategori rendah sebanyak 22 orang (59,459%), kategori sedang sebanyak 8 orang (21,622%), kategori tinggi sebanyak 3 orang (8,108%), dan tidak ada kategori sangat tinggi (0%). Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa kecenderungan perilaku agresif subjek berada pada kategori rendah, karena jumlah subjek yang berada pada rentang skor 44,8 – 61,6 lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah subjek pada rentang skor lain.
1. Uji asumsi
Sebelum melakukan analisis data penelitian dengan teknik korelasi Product Moment dari Pearson, maka terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat analisis, yaitu berupa uji asumsi yang meliputi uji normalitas dan uji linieritas sebagai syarat untuk pengetesan nilai korelasi agar kesimpulan yang ditarik tidak menyimpang dari kebenaran yang seharusnya. Uji asumsi ini dilakukan dengan menggunakan program komputer Statistical Package for Social Science (SPSS) for Windows 11.5. a. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah bentuk sebaran dari skor jawaban subjek normal atau tidak. Pengujian normalitas dilakukan terhadap distribusi skor penerimaan diri dan kecenderungan perilaku agresif, dengan menggunakan teknik One Sample Kolmogorov Smirnov test pada program komputer SPSS for windows 11.5. Kaidah yang digunakan untuk mengetahui normal tidaknya sebaran data adalah jika p>0,05 maka sebaran dinyatakan normal, namun jika p<0,05 maka sebaran dinyatakan tidak normal. Dari hasil pengolahan data
penerimaan diri diperoleh koefisien K-SZ = 0,659 dengan p = 0,777 (p>0,05) dan data kecenderungan perilaku agresif diperoleh K-SZ = 0,631 dengan p = 0,821 (p>0,05). Hasil uji normalitas tersebut menunjukkan bahwa data penerimaan diri dan kecenderungan perilaku agresif terdistribusi atau tersebar dengan normal.
b. Uji Linieritas
Uji linieritas merupakan pengujian garis regresi antara variabel bebas dengan variabel tergantung. Uji ini bertujuan untuk mengetahui apakah hubungan antara variabel penerimaan diri dengan kecenderungan perilaku agresif mengikuti garis linier atau tidak, dengan menggunakan program komputer SPSS for windows 11,5. Dari hasil pengolahan data diperoleh F = 2,332 dengan p = 0,136. Hasil tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara penerimaan diri dengan kecenderungan perilaku agresif tidak linier atau tidak mengikuti garis lurus.
2. Uji Hipotesis
Uji normalitas dan uji linearitas sebelumnya menunjukkan bahwa data penelitian memenuhi syarat normalitas yaitu variabel berdistribusi normal namun tidak linear. Untuk itu uji hipotesis ini menggunakan teknik korelasi Sperman’s Rho. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah adanya hubungan negatif antara penerimaan diri dengan kecenderungan perilaku agresif. Pengujian terhadap hipotesis tersebut menggunakan Sperman Rho pada program komputer SPSS for windows 11,5.
Dari hasil pengolahan data penerimaan diri dengan kecenderungan perilaku agresif diperoleh koefisien korelasi r = -0,308 dan p = 0,032 (p<0,05). Hal ini berarti bahwa ada hubungan signifikan antara penerimaan diri dengan kecenderungan
perilaku agresif. Dengan demikian, hipotesis yang diajukan peneliti diterima. Hasil analisis juga menunjukkan koefisien determinasi (R squared) variabel penerimaan diri dengan kecenderungan perilaku agresif sebesar 0,095. Dengan demikian sumbangan efektif penerimaan diri terhadap kecenderungan perilaku agresif sebesar 9,5% sedangkan 90,5% sumbangan lainnya dipengaruhi oleh variabel lain.
PEMBAHASAN
Penelitian ini bertujuan untuk menguji hipotesis tentang adanya hubungan negatif antara penerimaan diri dengan kecenderungan perilaku agresif. Setelah melalui beberapa proses pengolahan data diperoleh hasil yang mendukung hipotesis tersebut. Hal ini berarti semakin tinggi penerimaan diri yang dimiliki oleh penyandang cacat tubuh, maka semakin rendah kecenderungan perilaku agresif. Sebaliknya, jika penerimaan diri yang dimiliki oleh penyandang cacat tubuh rendah maka kecenderungan perilaku agresif semakin tinggi.
Pengaruh penerimaan diri terhadap kecenderungan perilaku agresif penyandang cacat tubuh terlihat pada menurunya kecenderungan perilaku agresif yang berada pada rentang 44,8 = x = 61,6 (tabel 9). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecenderungan perilaku agresif berada pada kategori rendah sebesar 59,459%. Rendahnya kecenderungan perilaku agresif ini disebabkan karena perilaku agresif yang muncul merupakan adanya faktor dari luar yaitu lingkungan, selain itu adanya faktor imitasi atau peniruan, jadi bila tidak ada sumber yang mendorong terjadinya perilaku agresif maka perilaku tersebut tidak akan muncul.
Rendahnya kecenderungan agresif pada remaja penyandang cacat tubuh karena bentuk kecendrungan perilaku agresif yang sering muncul di asrama adalah agresif verbal dan agresif pasif. Dimana individu ketika ada masalah atau merasa kesal dengan orang lain maka individu akan menunjukkan dengan bersikap marah, berkata kasar, diam, tidak mau berbicara dan membuang muka ketika bertemu dengan orang lain. Menurut Dayakisni (2003) agresif pasif adalah suatu perilaku agresif yang ditunjukkan dengan cara tidak berhadapan secara langsung dengan individu lain dan tidak terjadi kontak fisik secara langsung seperti peduli, apatis, masa bodoh, menolak berbicara bungkan dan sebagainya. Rendahnya kecenderungan perilaku agresif akan meningkatkan penerimaan diri penyandang cacat tubuh.
Adanya penerimaan diri yang tinggi pada penyandang cacat tubuh adalah karena yayasan penyandang cacat tubuh memberikan pendidikan yang berupa pelatihan pengembangan diri. Pelatihan pengembangan diri didapat oleh individu selama tinggal diasrama. Adapun pengembangan diri yang dilatihkan mencakup kepercayaan diri, pemerimaan diri, sosialisasi dengan masyarakat, komunikasi dengan orang tua tentang kecacatan yang diderita, dan tujuan hidup. Tujuannya adalah untuk melatih individu agar selesai dari pendidikan pengembangan ini mampu menunjukkan kepada masyarakat bahwa dirinya bisa melakukan sesuatu seperti orang normal, sehingga individu tidak merasa malu dengan keadaan dirinya serta mampu menjalankan kehidupan layaknya seperti orang normal yaitu dengan kemampuan yang dimilikinya. Disisi lain penyandang cacat tubuh juga memiliki kegiatan di luar asrama seperti kegiatan di lingkungan gereja, lingkungan sekitarnya
sehingga penyandang cacat memiliki kesempatan untuk bersosialisasi dengan masyarakat sekitar asrama, sehingga individu akan mampu menghadapi situasi-situasi yang dapat memunculkan timbulnya kecenderungan agresif. Hal ini didukung oleh penerlitian yang dilakukan oleh (Kuswidyawati, 2002) yang menyatakan bahwa kecenderungan perilaku agresif tidak akan muncul jika tidak ada sumber yang mempengaruhinya. Dalam hal ini, munculnya kecenderungan perilaku agesif karena adanya faktor imitasi/peniruan terhadap sumber agresif.
Berdasarkan hasil tersebut peneliti menyimpulkan bahwa penyandang cacat tubuh yang penerimaan dirinya baik akan mempengaruhi rendahnya kecenderungan perilaku agresif terutama agresif verbal yang ada pada penyandang cacat tubuh. Adanya penerimaan diri menurut Yusuf (2005) yaitu individu yang mempunyai keyakinan terhadap kemampuannya untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan yang dihadapi, dan ketika mengalami kegagalan individu tidak mereaksinya dengan frustrasi tetapi dengan sikap optimisme (penuh harapan).
Pada penelitian ini, penerimaan diri yang berada pada kategorisasi tinggi sebesar 62,162% pada rentang 81,2 < x = 98,6 (tabel 8) menunjukkan bahwa para penyandang cacat tubuh rata-rata telah mampu menerima keadaan yang ada di dirinya serta tidak ada rasa malu terhadap kekurangan yang dimilikinya. Kepercayaan diri yang besar dalam diri individu ini ditanam oleh pendidik agar penyandang cacat tubuh mampu bersosialisasi dengan orang lain tanpa ada rasa minder dan dapat menunjukkan bahwa individu tersebut memiliki kelebihan yang tidak kalah dengan orang normal. Seseorang yang memiliki penerimaan diri yang positif akan mengetahui keunggulan-keunggulan diri yang dimilikinya dan tidak
terlalu memperhatikan sisi kelemahannya. Adanya penerimaan sosial yang baik dari lingkungan sekitarnya, akan membangkitkan rasa percaya diri individu untuk melibatkan diri mengambil bagian peran sosial di lingkungannya. Penerimaan sosial ini akan mendorong setiap individu untuk mengembangkan sifat dan ciri-ciri kepribadian yang positif. Hubungan timbal balik antara penerimaan diri dan penerimaan sikap positif dari lingkungannya akan menjadi modal bagi individu untuk mengembangkan diri lebih baik lagi.
Sikap penyandang cacat tubuh sering menganggap bahwa dirinya tidak pantas berada di lingkungan orang-orang normal karena cacat tubuh yang dimilikinya, sehingga individu merasa rendah diri, tidak mampu menerima keadaan yang ada pada dirinya. Perlakuan masyarakat yang sering diterima membuat individu menjadi marah dan bahkan ada keinginan untuk membalas perbuatan orang tersebut terhadap dirinya. Sejalan dengan pendapat Somantri (2006) mengatakan bahwa faktor lain yang dapat memunculkan kecenderungan perilaku agresif pada penyandang cacat tubuh adalah gambaran tubuh (body image). Nampak atau tidaknya kondisi kecacatan, menunjukkan pengaruh terhadap perkembangan kepribadian individu dan memiliki pengaruh besar dalam menentukan sikap lingkungan terhadap penyandang cacat tubuh dan sebaliknya sikap penyandang cacat tubuh terhadap lingkungannya.
Sumbangan efektif penerimaan diri terhadap kecenderungan perilaku agresif pada penelitian ini sebesar 9,5%, sehingga dapat diketahui bahwa penerimaan diri hanya memberikan dampak yang cukup kecil terhadap kecenderungan perilaku agresif seseorang. Penerimaan diri bukanlah satu-satunya faktor yang dapat
mempengaruhi kecenderungan perilaku agresif penyandang cacat tubuh. Masih banyak faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kecenderungan perilaku agresif. Dalam hal ini, provokasi, media yang menyampaikan kekerasan, orang tua dan peer,dan interaksi sosial sebagai faktor eksternal. Sedangkan faktor internal yang dapat memperngaruhi kecenderungan perilaku agresifitas adalah naluri agresif, frustrasi dan karekteristik psikologis individu itu sendiri.
Banyak sekali hal–hal yang dapat digali dari penilaian kecenderungan perilaku agresif. Permasalahan seperti lingkungan sosial dan latar belakang keluarga diasumsikan juga dapat mempengaruhi kecenderungan perilaku agresif. Penelitian kali ini tidak membahas variabel–variabel tersebut, disarankan penelitian– penelitian selanjutnya dapat mengangkat topik tersebut atau bahkan mencari topik– topik lain untuk memperkaya referensi tentang kecenderungan perilaku agresif. Selain itu karena penelitian ini hanya sebatas menilai sumbangan kecenderungan perilaku agresif secara umum terhadap penerimaan diri, maka penelitian selanjutnya diharapkan dapat membahas secara mendetail mengenai sumbangan masing– masing aspek kecenderungan perilaku agresif terhadap aspek penerimaan diri.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data dalam penelitian, dapat diambil kesimpulan bahwa ada hubungan negatif antara penerimaan diri dengan kecenderungan perilaku agresif pada remaja penyandang cacat tubuh. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis diterima.
SARAN
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka saran-saran yang dapat diajukkan adalah sebagai berikut:
1. Subjek Penelitian
Penulis menyarankan kepada para remaja penyandang cacat tubuh agar dapat lebih menyesuaikan diri dalam lingkungan sekitar terutama lingkungan masyarakat. Dapat membina hubungan dengan teman secara baik, akrab dan dapat menciptakan lingkungan yang menyenangkan. Penerimaan diri merupakan modal utama bagi penyandang cacat tubuh untuk dapat melakukan penyesuaian diri dan dapat mengontrol emosi serta dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapi.
2. Bagi Yayasan
Lebih memperhatikan keluhan-keluhan anak-anak sehingga tidak merasa terbebani dengan adanya peraturan yang ada di yayasan. Begitu juga dengan komunikasi dan kegiatan yang melibatkan seluruh anak perlu ditingkatkan sehingga mampu lebih mengakrabkan satu dengan yang lain dan diharapkan mampu meminimalkan munculnya perilaku agresif.
3. Peneliti Selanjutnya
Peneliti selanjutnya disarankan untuk dapat melakukan penelitian yang lebih teliti dan mendetail. Peneliti disarankan untuk mengadakan observasi terhadap subjek penelitian agar bisa memahami keadaan subjek sebenarnya. Selain itu peneliti hendaknya dapat mengembangkan lebih lanjut dengan memperhatikan faktor-faktor lain seperti latar belakang, kondisi psikologis, ataupun lingkungan fisik di sekitar yayasan.
DAFTAR PUSTAKA
Agustiani, Dr. H. 2006. Psikologi Perkembangan, Pendekatan Ekologi Kaitannya dengan Konsep Diri dan Penyesuaian Diri pada remaja. Bandung: Refika Aditama.
Andangsari, E. W. 2007. Menerima Diri Sendiri. http://www.BinusCareer.com-article. Januari 2007.
Andini, M. 2005. Hubungan antara Berfikir Positif dan Penerimaan Diri dengan Kecenderungan Depresi pada Wanita Menopouse. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Surakarta: Fakultas Psikologi Muhammadiyah Surakarta.
Atrofiyati. 1996. Hubungan antara Penerimaan Diri dengan Kecemasan Sosial. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada.
Azwar, S. 2000. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Balhaqi, Drs. MIF. dkk. 2005. Psikiatri Konsep Dasar dan Gangguan-gangguan. Bandung: PT. Refika Aditama.
Baron, R. A. & Bryne, B. D. 2003. Psikologi Sosial. Edisi Kesepuluh. Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Berkowitz, L. 1995. Agresi Sebab dan Akibatnya. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo.
Breakwell, G. M. 1998. Coping Aggresive Behavior. Penerjemah: Bernadus Hidayat. Yogyakarta: Kanisius.
Buss, A. & Perry, M. 1992. The Aggression Questioner. Journal of Personality and Social Psychology. 63. No.3. 452-459.http://www.google.com. Maret 2007 Chaplin, JP. 2004. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Dayakisni, T. & Hudaniah. 2003. Psikologi Sosial. Malang: UMM Press.
Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. 2001. Portal Informasi Pendidikan di Indonesia. http://www.depdiknas.go.id.8/7/2007
Effendi, Dr. M. 2006. Pengantar Psikopedagogik Anak Berkelainan. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Elia, D. 2007. Hambatan Fisik Pengaruhi Penerimaan Diri Anak. http://www.pikiranrakyat.com.8/7/2007.
Faturochman, MA. 2006. Pengantar Psikologi Sosial. Yogyakarta: Pinus.
Handayani, M. M. dkk. 1998. Efektifitas Pelatihan Pengenalan Diri Terhadap Peningkatan Penerimaan Diri dan Harga Diri. Jurnal Psikologi No.2, 47-55. http://www.yahoo.com.
Hurlock, E. B. 1980. Psikologi Perkembangan. Edisi Kelima. Jakarta: Erlangga. Kartono, K. 1980. Mental Hygiene (Kesehatan Mental). Bandung: Alumni. Koeswara, E. 1988. Agresi Manusia. Bandung: PT. Eresco.
Krahe, B. 2005. Perilaku Agresif Buku Panduan Psikologi Sosial. Cetakan Pertama. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Kurniawati, A. 2005. Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Penerimaan diri pada Remaja di Panti Asuhan. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Surakarta: Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Kuswidyawati, L. H. 2002. Kecenderungan Agresif Ditinjau Dari Interaksi Sosial Pada Remaja Pria yang Dibesarkan di Panti Asuhan Asrama. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Semarang: Fakultas Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata Semarang.
Laporan Amerika Serikat Tentang Pelaksanaan Hak Asasi Manusia di Indonesia Tahun 1998. http://www.yahoo.com. September 2006.
Lewis, B. A. 2004. Character Building Untuk Remaja. Batam: Karisma Publishing Group.
Mahendrato, I. 2006. Taman Bintang Penerimaan Diri (bersyukur). http://www.google.com.22/7/2007
Mu’tadin, Z. 2002. Tanda-Tanda Kedewasaan Seorang Pemimpin. http://www.e-psikologi.com.24/3/2007
--- Penyesuaian Diri Remaja. http://www.e-psikologi.com.8/7/ 2007.
Pikiran Rakyat Cyber Media. 2002. Anak akan agresif bila diperlakukan kejam. Bandung Raya. http://www.google.com.30/1/2003.
Rini, Y. S. 2004. Hubungan antara Frustasi dengan Kecenderungan Perilaku Agresif pada Remaja Penyandang Cacat Tubuh. Skipsi (Tidak Diterbitkan). Surakarta: Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Sapariadi, Drs. S. Ny. F. G. Sinaga P. & I. Nyoman Subaga BBA. 1982. Mengapa Anak Berkelainan Perlu Mendapatkan Pendidikan. Jakarta: Balai Pustaka. Sari, H. & Irwan. N. K. 2004.Psikologika Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi.
Motivasi dan Reorientasi Pendidikan Kita. Pengaruh Pelatihan Kecerdasan Emosi Terhadap Penurunan Agresifitas Anak di Sekolah. Terakreditas:23a/DIKTI/Kep/2004. Psikologika No.18 Tahun IX Juli 2004. Schultz, D. 1991. Psikologi Pertumbuhan Model-Model Kepribadian Sehat.
Yogyakarta: Kanisius.
Semiun, Y. 2006. Kesehatan Mental 1. Yogyakarta: Kanisius.
Somantri, T. S. 2006. Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: Refika Aditama.
Taylor, Shelley E. Dkk. 2000. Social Psychology. New Jersey: Prentice Hall International.
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1993. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Walters, J. D. 2006. Rahasia Penerimaan Diri. Yogyakarta: Kanisius.
Yayasan Pendidikan Anak Cacat. 2006. Tidak Ada Manusia Cacat di Dunia. http://www.ypac-solo.org.9/11/2006.
Yulianti, F. N. 2006. Hubungan antara Religiusitas dengan Penerimaan Diri pada Istri yang Di Poligami. Skripsi (Tidak Diterbitkan). Surakarta: Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Yusuf, S. 2005. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Identitas Penulis
Nama : TRI VIKA LISTIYAWATI
Alamat Rumah : JL. BUKIT MERAPIN NO.92 PANGKAL PINANG BANGKA BELITUNG