• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 2.1 tanaman Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn.) Sumber : Gambar milik pribadi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Gambar 2.1 tanaman Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn.) Sumber : Gambar milik pribadi"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

6

2.1.1 Tinjauan Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn.)

Ginseng jawa (Talinum paniculatum Gaertn.) berasal dari kawasan tengah dan selatan benua Amerika serta daerah Afrika bagian selatan, kemudian menyebar ke daerah tropis lainnya (Hidayat et al., 2008). Sebutan lain untuk tanaman ini Flame flower, Jewels of Opar, tu ren shen dan di Jawa dikenal dengan nama som jawa atau ginseng jawa. Tanaman ginseng jawa biasanya dikenal sebagai tanaman hias, tanaman obat atau tanaman liar (Ikhtimami, 2012).

Tanaman ginseng jawa memiliki klasifikasi sebagai berikut (Ikhtimami, 2012) :

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Ordo : Caryophyllales Famili : Portulacaceae Genus : Talinum

Spesies : Talinum paniculatum Gaertn.

Gambar 2.1 tanaman Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn.) Sumber : Gambar milik pribadi

(2)

2.1.2 Deskripsi Tanaman Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn.) Ginseng jawa adalah tanaman herba tahunan yang memiliki batang bulat sukulen dan berdiri tegak mencapai tinggi 40-60cm, daun tersebar bersilang berhadapan dengan bentuk bulat telur terbalik, memiliki permukaan daun lembut dan licin, agak berdaging, bagian atas berwarna hijau terang, licin dan gundul, sedangkan permukaan bagian bawah hijau muda, ukuran daun 3-10 x 1,5-5cm, pangkal daun runcing, ujung membulat dan tumpul, pertulangan daun menyirip, dan berwarna hijau pucat (Ikhtimami, 2012).

Bunga yang dihasilkan adalah bunga majemuk berbentuk malai terminal, berbentuk anak payung menggarpu, berbunga banyak, cabang terujung bercabang lagi dengan cara menggarpu, bunga kecil dengan daun mahkota berwarna merah ungu berjumlah 5 helai berbentuk oval atau bulat telur terbalik dengan panjang 3-4 mm. Daun kelopak berjumlah 2 helai yang lepas, daun kelopak lepas, berwarna ungu, berbentuk bulat telur, panjang sekitar 2 mm.

Tangkai bunga langsing. Tangkai karangan bunga segi 3 tajam.

Bunga membuka sebelum tengah hari. Benang sari berjumlah 5-15, kebanyakan 8-12. Tangkai putik bercabang 3. Buah berbentuk bola atau agak kotak berwarna merah kecoklatan dengan diameter 3 mm, memiliki biji kecil bentuk agak membundar pipih atau gepeng dengan ukuran 0,7-1 mm yang berwarna hitam mengkilat (Hidayat et al., 2008).

Tanaman ginseng jawa memiliki bakal buah yang menumpang dan buah kotak membuka dengan 3 katup. Ginseng jawa memiliki akar tunggang, berwarna cokelat. Akar dan daun ginseng jawa mengandung saponin dan flavonoid, serta tannin (Ikhtimami, 2012).

(3)

2.1.3 Kandungan Tanaman Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn.)

Secara umum, tanaman ginseng jawa memiliki kandungan zat kimia antara lain adalah saponin, flavonoid, dan tannin. Secara farmakologis akar tanaman ginseng jawa juga mengandung senyawa-senyawa kimia yang bersifat androgenik. Senyawa androgenik yang berhasil diidentifikasi dari akar tanaman ginseng jawa adalah stigmast 5-en 3-ol atau disebut juga senyawa B- sitosterol yang termasuk dalam golongan sterol tumbuhan (Ikhtimami, 2012).

2.1.3.1 Saponin

Saponin merupakan suatu glikosida yang memiliki berat molekul dan kepolaran yang tinggi. Sebagai glikosida saponin dapat dihidrolisis dengan asam atau enzim untuk menghasilkan aglikon (sapogenin), gula, dan asam uronat.

Saponin adalah senyawa surfaktan yang kuat yang menimbulkan busa bila dikocok dalam air dan pada konsentrasi rendah sering menyebabkan hemolsis sel darah merah. Saponin banyak ditemukan pada tanaman tingkat tinggi dan merupakan zat pahit. Saponin larut dalam air dan etanol tetapi tidak larut dalam eter (Octaviani, 2009). Saponin dapat menghambat pertumbuhan sel kanker, mengikat kolesterol, dan bersifat antibiotik (Ikhtimami, 2012).

2.1.3.2 Flavonoid

Flavonoid merupakan salah satu kelompok senyawa metabolit sekunder yang paling banyak ditemukan di dalam jaringan tanaman. Flavonoid termasuk dalam golongan senyawa phenolik dengan struktur kimia C6-C3- C6. Kerangka flavonoid terdiri atas satu cincin aromatik A, satu cincin aromatik B, dan cincin tengah berupa

(4)

heterosiklik yang mengandung oksigen dan bentuk teroksidasi cincin ini dijadikan dasar pembagian flavonoid ke dalam sub-sub kelompoknya. Sistem penomoran digunakan untuk membedakan posisi karbon di sekitar molekulnya. Berbagai jenis senyawa, kandungan dan aktivitas antioksidatif flavonoid sebagai salah satu kelompok antioksidan alami yang terdapat pada sereal, sayur-sayuran dan buah, telah banyak dipublikasikan.

Flavonoid berperan sebagai antioksidan dengan cara mendonasikan atom hidrogennya atau melalui kemampuannya mengkelat logam, berada dalam bentuk glukosida (mengandung rantai samping glukosa) atau dalam bentuk bebas yang disebut aglikon (Redha, 2010).

Flavonoid mempunyai fungsi sebagai antibakteri, antiinflamasi, antialergi, antimutagenik, antivirus, antineoplastik, antitrombosis, antioksidan, dan aktivitas vasodilatasi (Ikhtimami, 2012).

2.1.3.3 Tannin

Tannin merupakan zat organik yang sangat kompleks dan terdiri dari senyawa fenolik yang bnayak terdapat pada bermacam-macam tumbuhan, umumnya tannin tersebar hampir pada seluruh bagian tumbuhan seperti pada bagian kulit kayu, batang, daun, dan buah (Sajaratud, 2013).

Istlah tanin pertama kali diaplikasikan pada tahun 1796 oleh Seguin. Tannin merupakan senyawa aktif metabolit sekunder yang diketahui mempunyai beberapa khasiat diantaranya sebagai astringent, antidiare, antibakteri, dan antioksidan (Desmiaty et al., 2008).

Secara kimia, tannin dibagi menjadi empat golongan yaitu tannin terhidrolisis, tannin terkondensasi, tannin

(5)

kompleks, dan pseudotanin. Tannin memiliki peranan biologis yang kompleks mulai dari pengendap protein hingga pengkelat logam. Tannin juga dapat berfungsi sebagai antioksidan biologis (Amelia, 2015).

2.1.4 Khasiat Tanaman Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn.) Bagian tanaman ginseng jawa yang dapat digunakan sebagai obat adalah akar dan daun. Akar ginseng jawa dapat dimanfaatkan sebagai tonikum, kebugaran tubuh, menghilangkan lelah, berkeringat dingin, pusing, aprodisiaka, batuk dahak, radang paru- paru, diare, banyak kencing, haid tidak teratur dan keputihan (Ikhtimami, 2012). Daun ginseng dapat digunakan untuk meningkatkan produksi ASI, meningkatkan nafsu makan, sebagai obat bisul, aprodisiaka (obat kuat) (Hariana, 2008).

2.2 Ekstraksi 2.2.1 Simplisia

2.2.1.1 Definisi

Simplisia atau herbal adalah bahan alam yang telah dikeringkan yang digunakan untuk pengobatan dan belum mengalami pengolahan, kecuali dinyatakan lain suhu pengeringan simplisia tidak lebih dari 600oC (Ditjen POM, 2008).

2.2.1.2 Penggolongan Simplisia

Simplisia dibagi menjadi tiga golongan, yaitu:

a. Simplisia nabati

Simplisia nabati adalah simplisia berupa tanaman utuh, bagian tanaman dan eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau isi sel dikeluarkan dari selnya dengan cara tertentu atau zat

(6)

yang dipisahkan dari tanaman dengan cara tertentu masih belu berupa zat kimia murni (Istiqomah, 2013).

b. Simplisia hewani

Simplisia hewani adalah simplisia berupa hewan utuh atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan.

Contohnya adalah minyak ikan dan madu (Gunawan, 2010).

c. Simplisia pelikan atau mineral

Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana. Contohnya serbuk seng dan serbuk tembaga (Gunawan, 2010).

2.2.1.3 Proses Pembuatan Simplisia

Proses pembuatan simplisia meliputi beberapa tahap, yaitu : a. Pengumpulan bahan baku

Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia berbeda-beda yang tergantung pada beberapa faktor, antara lain: bagian tumbuhan yang digunakan, umur tumbuhan atau bagian tumbuhan pada saat panen, waktu panen dan lingkungan tempat tumbuh. Waktu panen sangat erat hubungannya dengan pembentukan senyawa aktif di dalam bagian tumbuhan yang akan dipanen. Waktu panen yang tepat pada saat bagian tumbuhan tersebut mengandung senyawa aktif dalam jumlah yang terbesar. Senyawa aktif akan terbentuk secara maksimal didalam bagian tumbuhan atau tumbuhan pada umur tertentu (Gunawan, 2010).

b. Sortasi basah

Sortasi basah adalah pemilihan hasil panen ketika tanaman masih segar. Sortasi dilakukan terhadap:

(7)

1) Tanah atau kerikil 2) Rumput-rumputan

3) Bahan tanaman lain atau bagian lain dari tanaman yang tidak digunakan

4) Bagian tanaman yang rusak (dimakan ulat atau sebagainya) (Gunawan, 2010).

c. Pencucian

Pencucian simplisia dilakukan untuk membersihkan kotoran yang melekat, terutama bahan-bahan yang berasal dari dalam tanah dan juga bahan-bahan yang tercemar peptisida. Cara sortasi dan pencucian sangat mempengaruhi jenis dan jumlah mikroba awal simplisia.

Misalnya jika air yang digunakan untuk pencucian kotor, maka jumlah mikroba pada permukaan bahan simplisia dapat bertambah dan air yang terdapat pada permukaan bahan tersebut dapat mempercepat pertumbuhan mikroba. Bakteri yang umum terdapat dalam air adalah Pseudomonas, Bacillus, Streptococcus, Enterobacter, dan Escherichia (Gunawan, 2010).

d. Pengubahan bentuk

Pada dasarnya tujuan pengubahan bentuk simplisia adalah untuk memperluas permukaan bahan baku.

Semakin luas permukaan maka bahan baku akan semakin cepat kering. Perajangan dapat dilakukan dengan pisau, dengan alat mesin perajangan khusus sehingga diperoleh irisan tipis atau potongan dengan ukuran yang dikehendaki (Gunawan, 2010).

e. Pengeringan

Proses pengeringan simplisia bertujuan sebagai berikut:

1) Menurunkan kadar air sehingga bahan tersebut tidak mudah ditumbuhi kapang dan bakteri.

(8)

2) Menghilangkan aktivitas enzim yang bisa menguraikan lebih lanjut kandungan zat aktif.

3) Memudahkan dalam hal pengolahan proses selanjutnya (ringkas, mudah disimpan, tahan lama, dan sebagainya) (Gunawan, 2010).

f. Sortasi kering

Sortasi kering adalah pemilihan bahan setelah mengalami proses pengeringan. Pemilihan dilakukan terhadap bahan-bahan yang terlalu gosong atau bahan yang rusak (Gunawan, 2010).

g. Pengepakan dan penyimpanan

Setelah tahap pengeringan dan sortasi kering selesai maka simplisia perlu ditempatkan dalam suatu wadah tersendiri agar tidak saling bercampur antara simplisia satu dengan lainnya (Gunawan, 2010).

2.2.2 Ekstraksi

2.2.2.1 Definisi

Ekstraksi adalah suatu cara memisahkan komponen tertentu dari suatu bahan sehingga didapatkan zat yang terpisah secara kimiawi maupun fisik (Ira, 2013). Ekstraksi merupakan proses pemisahan bahan dari campurannya dengan menggunakan pelarut yang sesuai (Mukhrani, 2014).

Proses ekstraksi dihentikan ketika tercapai kesetimbangan antara konsentrasi senyawa dalam pelarut dengan konsentrasi dalam sel tanaman. Setelah proses ekstraksi, pelarut dipisahkan dari sampel dengan penyaringan. Ekstrak awal sulit dipisahkan melalui teknik pemisahan tunggal untuk mengisolasi senyawa tunggal. Oleh karena itu,

(9)

ekstrak awal perlu dipisahkan ke dalam fraksi yang memiliki polaritas dan ukuran molekul yang sama (Mukhrani, 2014).

2.2.2.2 Metode Ekstraksi a. Cara Dingin

1) Maserasi

Maserasi merupakan metode ekstraksi paling sederhana. Proses maserasi adalah proses menggabungkan bahan yang telah dihaluskan dengan bahan ekstraksi. Metode ekstraksi maserasi memiliki kelebihan karena pengerjaan dan alat yang digunakan lebih sederhana. Proses pengekstrakan simplisia dilakukan dengan menggunakan suatu pelarut tertentu, dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruang (kamar) yaitu pada suhu 40oC-50oC (Simanjuntak, 2008).

2) Perkolasi

Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru (Exhaustiva extraction) yang umumnya dilakukan pada temperatur ruangan. Prinsip perkolasi adalah dengan menempatkan serbu simplisia pada suatu bejana silinder, yang bagian bawahnya diberi sekat berpori (Istiqomah, 2013).

b. Cara Panas 1) Refluks

Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik. Umumnya dilakukan penggulangan proses pada residu pertama sampai 3-

(10)

5 kali sehingga dapat termasuk proses ekstraksi sempurna (Istiqomah, 2013).

2) Sokhletasi

Sokhletasi merupakan ekstraksi dengan menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi yang terus menerus dengan jumlah pelarut yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Istiqomah, 2013).

3) Digesti

Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan) pada temperatur ruangan, yaitu secara umum dilakukan pada temperatur 40oC -50 oC (Istiqomah, 2013).

4) Infusa

Infusa adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur penangas air, bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih dengan temperatur terukur 96-98oC selama waktu tertentu (15-20 menit) (Istiqomah, 2013).

5) Dekokta

Dekokta adalah infusa pada waktu yang lebih lama (suhu lebih dari 30oC) dan temperatur sampai titik didih air (Istiqomah, 2013).

2.2.3 Pelarut

2.2.3.1 Definisi

Pelarut adalah benda cair atau gas yang melarutkan benda padat, cair atau gas, yang menghasilkan sebuah larutan (Fessenden, 2009).

(11)

2.2.3.2 Jenis Pelarut

Jenis pelarut berkaitan dengan polaritas dari pelarut tersebut. Hal yang perlu diperhatikan dalam proses ekstraksi adalah senyawa yang memiliki kepolaran yang sama akan lebih mudah tertarik/ terlarut dengan pelarut yang memiliki tingkat kepolaran yang sama. Berkaitan dengan polaritas dari pelarut, terdapat tiga golongan pelarut yaitu:

a. Pelarut polar

Memiliki tingkat kepolaran yang tinggi, cocok untuk mengekstrak senyawa-senyawa yang polar dari tanaman.

Pelarut polar cenderung universal digunakan karena biasanya walaupun polar, tetap dapat menyari senyawa- senyawa dengan tingkat kepolaran lebih rendah. Salah satu contoh pelarut polar adalah: air, metanol, etanol dan asam asetat (Fessenden, 2009).

b. Pelarut semipolar

Pelarut semipolar memiliki tingkat kepolaran yang lebih rendah dibandingkan dengan pelarut polar. Pelarut ini baik untuk mendapatkan senyawa-senyawa semipolar dari tumbuhan. Contoh pelarut ini adalah: aseton, etil asetat dan kloroform (Fessenden, 2009).

c. Pelarut nonpolar

Pelarut nonpolar, hampir sama sekali tidak polar. Pelarut ini baik untuk mengekstrak senyawa-senyawa yang sama sekali tidak larut dalam pelarut polar. Senyawa ini baik untuk mengekstrak berbagai jenis minyak. Contoh:

heksana dan eter (Fessenden, 2009).

2.2.3.3 Macam-macam pelarut a. Gliserin

Gliserin adalah pelarut yang baik untuk tanin-tanin dan hasil-hasil oksidanya, jenis-jenis gom dan albumin juga

(12)

larut dalam gliserin. Terutama dipergunakan sebagai cairan penambah pada cairan menstrum untuk penarikan simplisia yang mengandung zat samak. Karena cairan ini tidak atsiri, tidak sesuai untuk pembuatan ekstrak-ekstrak kering (Fessenden, 2009).

b. Aseton

Tidak dipergunakan untuk sediaan galenik obat dalam, pelarut yang baik untuk bermacam-macam lemak, minyak atsiri, damar. Baunya kurang enak dan sukar hilang dari sediaan. Dipakai misalnya pada pembuatan capsicum oleoresin (Fessenden, 2009).

c. Hexan

Cairan ini adalah salah satu hasil dari penyulingan minyak tanah kasar. Pelarut yang baik untuk lemak- lemak dan minyak-minyak. Biasanya dipergunakan untuk menghilangkan lemak dari simplisia yang mengandung lemak-lemak yang tidak diperlukan, sebelum simplisia tersebut dibuat sediaan galenik, misalnya strychni, secale cornutum (Fessenden, 2009).

d. Kloroform

Tidak dipergunakan untuk sediaan dalam, karena efek farmakologinya. Bahan pelarut yang baik untuk basa alkaloida, damar, minyak lemak dan minyak atsiri (Fessenden, 2009).

e. Eter

Eter jika digunakan sebagai pelarut sangat mudah menguap sehingga cairan ini kurang tepat untuk pembuatan sediaan untuk obat dalam atau sediaan yang nantinya disimpan lama (Fessenden, 2009).

(13)

f. Etanol

Alkohol adalah senyawa hidrokarbon berupa gugus hidroksil (-OH) dengan dua atom karbon (C). Jenis alkohol yang banyak digunakan adalah CH3OH yang disebut dengan metil alkohol (metanol), C2H5OH yang disebut dengan etil alkohol (etanol). Dalam dunia perdagangan yang disebut alkohol adalah etanol atau etil alkohol atau metil karbinol dengan rumus kimia C2H5OH (Rama, 2008). Etanol mempunyai titik didih 78,4oC.

Etanol memiliki sifat tidak berwarna, volatil dan dapat bercampur dengan air (Purba, 2009). Ada dua jenis etanol menurut Rama (2008), etanol sintetik sering disebut metanol atau metil alkohol atau alkohol kayu, terbuat dari etilen, salah satu derivat minyak bumi atau batu bara. Sedangkan bioetanol direkayasa dari biomassa (tanaman) melalui proses biologi (enzimatik dan fermentasi). Etanol yang mempunyai grade 90-96,5%

dapat digunakan pada industri, sedangkan etanol yang mempunyai grade 96-99,5% dapat digunakan sebagai campuran untuk bahan dasar industri farmasi (Purba, 2009).

2.3 Jerawat

2.3.1 Definisi Jerawat

Jerawat merupakan kelainan folikel umum yang mengenai folikel polisebasea (folikel rambut) yang rentan dan paling sering ditemukan di daerah muka, leher serta badan bagian atas (Muttaqin dan Sari, 2011). Jerawat adalah reaksi dari penyumbatan pori-pori kulit disertai peradangan yang bermuara pada saluran kelenjar minyak kulit. Sekresi minyak kulit menjadi tersumbat, membesar dan akhirnya mengering menjadi jerawat (Muliyawan dan Suriana,

(14)

2013).Jerawat terjadi akibat reaksi peradangan folikel sebasea yang pada umumnya dan biasanya disertai dengan pembentukan papula, pustula, dan abses terutama di daerah yang banyak mengandung kelenjar sebasea (Nugroho, 2013).

2.3.2 Klasifikasi Jerawat

Menurut Muliyawan dan Suriana (2013) jerawat dibedakan menjadi:

2.3.2.1 Acne punctata, merupakan blackhead comedo atau whitehead comedo yang bisa menjadi cikal bakal tumbuhnya jerawat. Bila kuman masuk ke dalam sumbatan pori-pori kulit, maka kedua komedo tersebut berganti rupa menjadi jerawat dengan tingkatan yang lebih tinggi.

2.3.2.2 Acne papulosa, merupakan jerawat dalam bentuk papul, yaitu peradangan disekitar komedo yang berupa tonjolan kecil.

2.3.2.3 Acne pustulosa, merupakan jerawat dalam bentuk pustul, yaitu jerawat papul dengan puncak berupa pus atau nanah.

Biasanya usia pustul lebih pendek dari pada papul.

2.3.2.4 Acne indurate, merupakan jerawat yang terinfeksi bakteri Staphylococcus epidermidis sehingga menimbulkan abses.

2.3.2.5 Cystic acne, (jerawat batu) merupakan jerawat dengan ukuran yang besar dan apabila terjadi jumlahnya bisa hampir memenuhi wajah (Muliyawan dan Suriana, 2013).

2.3.3 Penyebab Jerawat

Faktor penyebab jerawat bermacam-macam antara lain : 2.3.3.1 Genetik

Beberapa peneliti menunjukkan bahwa faktor genetik berperan terhadap timbulnya acne. Diduga faktor genetik berperan dalam menentukan gambaran klinis, penyebaran lesi dan lamanya penyakit. Dalam suatu penelitian

(15)

menunjukkan 82% penderita acne mempunyai salah satu atau kedua orang tua dengan riwayat acne (Nugroho, 2013).

Apabila kedua orangtua pernah menderita jerawat berat, anak-anak mereka akan memiliki kecenderungan serupa (Ramdani et al., 2015).

2.3.3.2 Hormonal

Timbulnya jerawat dapat dipengaruhi oleh faktor hormonal.

Adapun hormon yang berperan adalah dehidrotestoteron yang dapat merangsang sekresi kelenjar sebasea dan menyebabkan hiperkornifikasi dari duktus pilosebaseus (Nugroho, 2013).

2.3.3.3 Bahan Kimia

Mengonsumsi obat-obatan jenis tertentu bisa membuat jumlah bakteri penyebab timbulnya jerawat bertambah banyak, sehingga jerawat menjadi lebih sering muncul (Muliyawan dan Suriana, 2013).

2.3.3.4 Kosmetika

Menggunakan alas bedak, blush on dan bedak padat bisa memicu munculnya jerawat, hal ini dikarenakan partikel kosmetik tersebut bisa menyumbat pori-pori atau bersifat comedogenic (Muliyawan dan Suriana, 2013).

2.3.3.5 Infeksi Bakteri

Kelebihan sekresi dan hiperkeratosis pada infundibulum rambut menyebabkan terakumulasinya sebum. Sebum ini yang mengandung banyak timbulnya bakteri jerawat. Enzim lipase yang dihasilkan dari bakteri menguraikan trigliserida pada sebum menjadi asam lemak bebas, yang menyebabkan inflamasi dan akhirnya terbentuk jerawat. Pengobatan yang lazim digunakan untuk mengobati jerawat akibat infeksi bakteri adalah dengan menggunakan antibiotik seperti tetrasiklin, eritromisin, doksisiklin dan klindamisin

(16)

(Dermawan et al., 2015). Jerawat dapat disebabkan oleh bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. Bakteri ini tidak patogen pada kondisi normal, tetapi bila terjadi perubahan kondisi kulit, maka bakteri tersebut berubah menjadi invasif (Purwanti, 2010).

2.3.4 Staphylococcus epidermidis

Staphylococcus epidermidis merupakan flora normal yang banyak terdapat di kulit dan selaput mukosa manusia (Maftuhah et al., 2015). Bakteri Staphylococcus epidermidis mempunyai bentuk bulat, termasuk bakteri yang berkelompok, dan berwarna ungu sehingga termasuk kedalam golongan bakteri Gram positif (Perwitasari, 2012).

Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri oportunistik yang menyerang individu ketika sistem kekebalan tubuh lemah. Bakteri ini memiliki klasifikasi sebagai berikut (Santi, 2010) :

Kingdom : Bacteria Filum : Firmicutes Kelas : Bacilli Ordo : Bacillales

Famili : Staphylococcaceae Genus : Staphylococcus

Spesies : Staphylococcus epidermidis

Staphylococcus epidermidis merupakan bakteri pencemar, dalam habitat aslinya merupakan flora normal, namun dalam habitat lain bakteri ini dapat menimbulkan infeksi terutama dalam keadaan imunitas yang lemah. Infeksi bakteri Staphylococcus epidermidis sulit untuk disembuhkan, karena bakteri ini dapat tumbuh pada alat prostese yang dimana bakteri ini dapat menghindar dari sirkulasi

(17)

sehingga mampu terhindar dari obat antimikroba, hampir 75% strain Staphylococcus epidermidis resisten terhadap nafsilin (Vandepitte et al., 2010). Bakteri ini mampu bertahan dalam lapisan kulit walaupun sudah diberi desinfektan saat pengambilan darah sehingga masuk kedalam aliran darah menjadi bakterikimia (Vandepitte et al., 2010).

2.4 Uji Aktivitas Antibakteri 2.4.1 Metode Difusi

2.4.1.1 Cara Cakram (disc)

Zat antibakteri dijenuhkan kedalam kertas cakram kemudian ditanam pada media pembenihan agar padat yang telah dicampur dengan bakteri yang akan diuji, kemudian diinkubasi pada suhu 37oC selama 18-24 jam. Selanjutmnya diamati adanya area (zona) jernih disekitar kertas cakram yang menunjukkan ada tidaknya pertumbuhan bakteri (Maradona, 2013).

2.4.1.2 Cara Parit (ditsh)

Media pembenihan agar padat yang telah dicampur dengan bakteri uji dibuat parit kemudian diisikan zat antibakteri dan diinkubasi pada suhu 37oC selama 18-24 jam. Selanjutnya diamati adanya zona jernih disekitar parit yang menunjukkan ada tidaknya pertumbuhan bakteri (Maradona, 2013).

2.4.1.3 Cara Sumur (cup)

Media pembenihan agar padat yang telah dicampur dengan bakteri uji dibuat sumuran kemudian diisikan zat antibakteri dan di inkubasi pada suhu 37oC selama 18-24 jam.

Selanjutnya diamati adanya zona jernih disekitar sumur yang menunjukkan ada tidaknya pertumbuhan bakteri (Maradona, 2013).

(18)

2.4.2 Metode Dilusi

2.4.2.1 Cara Penapisan Lempeng Agar / Dilusi Padat

Cara yang dilakukan adalah dengan membuat seri pengenceran kelipatan dua zat antibakteri dalam media agar yang masih cair, kemudian dituang ke dalam cawan petri.

Bakteri uji diinokulasikan setelah campuran media agar dan zat uji membeku dan kering, kemudian diinkubasi pada suhu 37oC selama 18-24 jam. Aktivitas zat uji ditentukan sebagai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM), yaitu konsentrasi terkecil dari zat antibakteri uji yang menghambat pertumbuhan mikroba uji (Maradona, 2013).

2.4.2.2 Cara Pengenceran Tabung / Dilusi Cair

Cara yang dilakukan adalah dengan membuat seri pengenceran zat antibakteri pada medium cair yang ditambahkan dengan bakteri uji. Larutan kemudian diinkubasi pada suhu 37oC selama 18-24 jam. Aktivitas zat uji ditentukan sebagai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM), yaitu konsentrasi terkecil dari zat antibakteri uji yang menghambat pertumbuhan mikroba uji. Dengan cara melihat media cair yang tetap terlihat jernih dibandingkan dengan kontrol setelah diinkubasi (Maradona, 2013).

Larutan yang sudah ditentukan sebagai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dapat dikultur ulang pada media baru tanpa penambahan mikroba uji atau agen antimikroba yang diinkubasi selama 18-24 jam, jika hasilnya tetap terlihat jernih setelah diinkubasi dapat ditetapkan sebagai Konsentrasi Bunuh Minimum (KBM) (Nuraina,2015).

Keuntungan uji dilusi adalah uji tersebut dapat memungkinkan adanya hasil kuantitatif, yang menunjukkan jumlah obat tertentu yang diperlukan untuk menghambat atau membunuh mikroba yang

(19)

diuji. Metode dilusi hanya dapat digunakan untuk mengisolasi atau mengidentifikasi bakteri yang lebih dominan dalam suatu populasi campuran berbagai bakteri (Brooks et al., 2013).

2.5 Kerangka Konsep

Kerangka konsep merupakan konstruksi berfikir yang bersifat logis dengan argumentasi yang konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun. Dalam kerangka konsep diuraikan pola pikir peneliti ketentuan dari pustaka dan dari hasil penelitian terdahulu yang kemudian ditarik kesimpulan menurut jalan pikiran peneliti (Suryana, 2010).

Simplisia Daun Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn.)

Ekstrak Daun Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn.)

Uji Aktivitas Antibakteri

Menghambat Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus

epidermidis

Gambar 2.2 Skema Kerangka Konsep

Tidak Menghambat Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus epidermidis

(20)

Gambar

Gambar 2.1 tanaman Ginseng Jawa (Talinum paniculatum Gaertn.)  Sumber : Gambar milik pribadi
Gambar  2.2 Skema Kerangka Konsep

Referensi

Dokumen terkait

Disarankan kepada perusahaan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi keselamatan kerja dan membuat variasi yang baru dalam mengkomunikasikan keselamatan kerja,

Adapun transaksi pada PT. Star Solusi Indonesia meliputi transaksi penjualan, pembelian, dan persediaan barang dimana pencatatan setiap transaksinya masih dicatat dalam bentuk

Proses terbentukya delaminasi dengan variasi penyusunan komposit serat nanas yang berbeda diyakini akan meningkatkan kekuatan komposit serat nanas, sehingga perlu dilakukan

Setelah mengembalikan ikan ke dalam air, petani itu bertambah terkejut, karena tiba-tiba ikan tersebut berubah menjadi seorang wanita yang sangat cantik?. “Jangan takut Pak, aku

Pengukuran luas daun dilakukan dengan metode gravimetri. Berdasarkan hasil uji statistik didapatkan bahwa waktu pemaparan dan variasi konsentrasi Pb yang ditambahkan memberikan

Judul yang penulis ajukan adalah “Perbedaan Nilai Praktikum Anatomi Hewan Mahasiswa Pendidikan Biologi Fkip Universitas Muhammadiyah Surakarta Berdasarkan Media

[r]