• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Psak No. 58 Terhadap Aset Tidak Lancar Yang Dimiliki Untuk Dijual Pada PT Bengkalis Kuda Laut Grup

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Penerapan Psak No. 58 Terhadap Aset Tidak Lancar Yang Dimiliki Untuk Dijual Pada PT Bengkalis Kuda Laut Grup"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Penerapan Psak No. 58 Terhadap Aset Tidak Lancar Yang Dimiliki Untuk Dijual Pada PT Bengkalis Kuda Laut Grup

Sumira

1)

, Yefni

2)

, Heri Ribut Yuliantoro

3)

1 ) Jurusan Akuntansi, Politeknik Caltex Riau, Pekanbaru 28265, mail:su m ir am ir a 1 9 9 5@ g ma i l. com 2 ) Jurusan Akuntansi, Politeknik Caltex Riau, Pekanbaru 28265, email:ye fn i @ p cr . a c. i d

3 ) Jurusan Akuntansi, Politeknik Caltex Riau, Pekanbaru 28265, email: [email protected] Abstrak – PT Bengkalis Kuda Laut yang bergerak di bidang jasa konstruksi terintegrasi atau engineering, procement and construction (EPC) yang kegiatan operasionalnya berkaitan dengan penanganan proyek yang rata-rata proyeknya membutuhkan pengadaan kendaraan. Selama ini perusahaan memperlakukan kendaraan proyek yang sudah habis kontraknya sebagai aset tetap sesuai dengan PSAK No.16, namun seharusnya perusahaan harus membedakan antara kendaraan yang masuk klasifikasi aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual dan aset tetap. Pada penelitian ini, sebanyak 166 unit kendaraan yang masuk Kategori aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual dengan 113 unit sudah terjual dan 53 unit belum terjual sampai akhir tahun 2016.

Penerapan PSAK No.58 terhadap aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual berdampak pada Laporan laba rugi dengan penurunan beban depresiasi kendaraan dari 113 unit kendaraan sebesar Rp899.147.638 dan dari 53 unit kendaraan sebesar Rp545.306.250. Selain itu, juga berdampak pada kenaikan laba perusahaan pada akhir tahun 2016 sebesar Rp132.881.250. Penerapan PSAK No.58 juga berdampak pada kenaikan nilai aset karena munculnya akun aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual sebesar Rp4.951.714.583.

Kata Kunci : aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual, reklasifikasi, kendaraan

Abstract - PT Bengkalis Kuda Laut which is engaged in integrated construction services (engineering, procement and construction (EPC) whose operational activities are related to project handling which the average project requires vehicle procurement. So far, the company treats project vehicles that have expired contracts as fixed assets in accordance with PSAK No.16, but the company should distinguish between vehicles classified as non-current assets held for sale and fixed assets. In this study, as many as 166 units of vehicles entering the category of non-current assets held for sale with 113 units have been sold and 53 units have not been sold until the end of 2016. The adoption of PSAK No.58 against non-current assets held for sale affects the Earnings Report loss with decrease in vehicle depreciation expense from 113 units of vehicles amounting to Rp899,147,638 and from 53 units of vehicles amounting to Rp545,306,250. In addition, it also affects the increase in corporate profits by the end of 2016 amounting to Rp132.881.250. The adoption of PSAK No.58 also affected the increase in asset value due to the advent of non-current assets held for sale of Rp4,951,714,583.

Keywords: non-current assets held for sale, reclassification, vehicles

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penyajian dan pengungkapan aset tetap berdasarkan PSAK No. 16 dan PSAK No. 58 berbeda, karena untuk aset yang diklasifikasikan sebagai aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual tidak diungkapkan sebagai aset tetap dalam laporan keuangan dan aset tersebut tidak lagi merupakan subjek untuk penyusutan.Pengungkapan dan penyajian aset tetap yang dimiliki untuk dijual harus sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku umum, karena hal tersebut sangat penting bagi penyusun laporan keuangan, pihak internal perusahaan, dan auditor eksternal yang melakukan audit atas laporan keuangan dengan harapan laporan keuangan yang disajikan akan lebih berkualitas dengan opini wajar tanpa pengecualian dan dapat

dipertanggungjawabkan kepada para pengguna laporan keuangan.

PT Bengkalis Kuda Laut Grup merupakan suatu grup perusahaan yang terdiri dari PT Bengkalis Kuda Laut sebagai induk perusahaan dan PT Persada Subur Makmur, PT Karya Lestari Perkasa dan PT Mitra Kurnia Serasih sebagai anak perusahaan yang didanai oleh PT Bengkalis Kuda Laut. PT Bengkalis Kuda Laut sendiri yang bergerak di bidang jasa konstruksi terintegrasi atau engineering, procement and construction (EPC) yang kegiatan operasionalnya berkaitan dengan penanganan proyek yang rata-rata proyeknya membutuhkan pengadaan kendaraan.

Setiap proyek yang selesai kontrak, maka kendaraan yang dipergunakan dalam proyek tersebut akan dijual dan ditempatkan pada satu lokasi khusus. Kendaraan yang tidak lagi dipergunakan dalam kegiatan operasional proyek karena kontrak proyek tersebut telah selesai, maka akan dijual dan dilokasikan

(2)

showroom mobil milik perusahaan khusus untuk penempatan kendaraan yang tidak digunakan lagi dalam kegiatan operasional perusahaan hingga kendaraan tersebut terjual.

Total unit kendaraan yang terjual selama tahun 2015 sebanyak 70 unit dari total unit keseluruhan tahun 2015 adalah 120 unit dengan jenis kendaraan yang berbeda-beda. Total 70 unit kendaraan yang terjual di tahun 2015 merupakan kendaraan dari proyek yang berakhir pada tahun 2015 yaitu 43 unit kendaraan dari proyek pool 12 unit kendaraan dari proyek bali age dan 15 unit kendaraan dari proyek ex7334. Proyek pool dan ex7334 merupakan proyek penyediaan kendaraan kawasan Jakarta dan proyek bali age merupakan proyek penyedia jasa angkut pengangkutan seng. Dari total unit yang terjual pada tahun 2015, total aset tetap yang dapat diklasifikasikan sebagai aset yang dimiliki untuk dijual cukup signifikan.

Pembebanan yang tidak seharusnya dilakukan akan menyajikan informasi keuangan yang tidak relevan bagi pengambil keputusan karena laba yang disajikan di laporan keuangan sangat kecil disebabkan oleh pembebanan yang tidak tepat. Berdasarkan pemaparan sebelumnya, penulis melakukan penelitian ini untuk membantu PT Bengkalis Kuda Laut dalam menerapkan PSAK No. 58 agar informasi keuangan yang disajikan relevan dan sesuai standar yang berlaku dengan penelitian yang berjudul “Penerapan PSAK No. 58 terhadap Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual pada PT Bengkalis Kuda Laut Grup”.

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah penelitian ini adalah:

1. Bagaimana perlakuan aset tetap pada PT Bengkalis Kuda Laut untuk aset telah dijual?

2. Bagaimana penerapan PSAK No. 58 terhadap Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual pada PT Bengkalis Kuda Laut?

3. Bagaimana dampak laba yang ditampilkan pada laporan keuangan terhadap penerapan PSAK No. 58 pada PT Bengkalis Kuda Laut?

1.3 Batasan Masalah

Penelitian ini akan dibatasi pada penerapan PSAK No. 58 pada periode pembukuan tahun 2016.

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.4.1 Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah dibahas sebelumnya, tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui bagaimana perlakuan aset tetap pada PT Bengkalis Kuda Laut untuk aset telah dijual

2. Untuk mengetahui bagaimana penerapan PSAK No. 58 terhadap Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual pada PT Bengkalis Kuda Laut

3. Untuk mengetahui bagaimana dampak laba yang ditampilkan pada laporan keuangan terhadap penerapan PSAK No. 58 pada PT Bengkalis Kuda Laut

1.4.2 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah:

1. Bagi Perusahaan

Manfaat penelitian ini bagi PT Bengkalis Kuda Laut adalah untuk membantu menerapkan PSAK No. 58 terhadap aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual sehingga dapat menjadi masukan bagi perusahaan dalam membantu menerapkan standar sesuai klasifikasi aset yang dimiliki oleh perusahaan.

2. Bagi Penulis

Manfaat penelitian ini bagi penulis adalah untuk menerapkan ilmu akuntansi keuangan menengah atau intermediate accounting terutama untuk perlakuan aset tetap,dan aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual yang belum pernah dibahas selama perkuliahan diharapkan dapat menambah wawasan bagi penulis sendiri.

3. Bagi Pembaca

Manfaat penelitian ini bagi pembaca adalah untuk menambah wawasan dan dapat menjadi referensi dan rujukan bagi penelitian selanjutnya.

1.5 Metode Penelitian

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif- komparatif, dimana penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data-data yang dibutuhkan.

Langkah-langkah analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mengumpulkan data – data yang dibutuhkan seperti laporan posisi keuangan periode 31 Desember 2016, laporan laba rugi untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2016, daftar aset tetap kendaraan untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2016 dan daftar aset tetap kendaraan yang telah dijual oleh perusahaan selama tahun 2016.

2. Mengklasifikasikan aset tetap kendaraan berupa kendaraan yang termasuk kategori aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual berdasarkan data daftar aset tetap kendaraan untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2016 dan daftar aset tetap kendaraan yang telah dijual oleh perusahaan selama tahun 2016.

3. Menyusun laporan posisi keuangan per 31 Desember 2016 dan laporan laba rugi untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2016 untuk perkiraan-perkiraan pada laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi yang berpengaruh pada proses reklasifikasi.

(3)

4. Membandingkan laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi jika menerapkan PSAK No.

16 saja tanpa penerapan PSAK No. 58 dan jika menerapkan PSAK No. 16 dan juga menerapkan PSAK No. 58 terhadap aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual.

5. Mengidentifikasi dampak penerapa PSAK No. 58 terhadap laba yang terdapat dalam laporan keuangan perusahaan.

6. Kesimpulan dari hasil penelitian penerapan PSAK No. 58 terhadap aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual pada PT Bengkalis Kuda Laut.

2. LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Aset Tidak Lancar

Terdapat dua kategori aset yaitu aset lancar (current asset) dan aset tidak lancar (non current asset) [3]. Aset lancar adalah aset yang dimiliki oleh perusahaan yang diharapkan dapat dikonversikan menjadi kas, atau dikonsumsi tidak lebih dari dua belas bulan atau satu tahun ke depan. Aset lancar pada umumnya meliputi kas, piutang dagang, investasi jangka pendek, dan lain sebagainya.

2.2 Kategori Aset Tidak Lancar

Kategori utama aset tidak lancar adalah properti, pabrik, dan peralatan atau (property, plant and equipment), aset tidak berwujud dan investasi jangka panjang. Aset tetap pada laporan posisi keuangan harus tercatat sebesar harga perolehannya yaitu jumlah uang atau utang yang timbul dalam perolehan aset tetap tersebut sampai dengan aset tersebut siap untuk digunakan [5]

2.3 Klasifikasi Aset Tidak Lancar yang Dimiliki Untuk Dijual

Pengklasifikasikan suatu aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual jika jumlah tercatat akan dipulihkan terutama melalui transaksi penjualan daripada melalui pemakaian berlanjut [8]. Dalam hal ini, aset atau kelompok aset tersebut harus berada dalam keadaan segera dapat dijual dan penjualannya harus sangat mungkin terjadi (highly probable).

Penjualan dikatakan sangat mungkin terjadi, jika manajemen berkomitmen terhadap rencana penjualan aset, melalui suatu program aktif untuk mencari pembeli dan penyelesaian rencana tersebut, aset harus dipasarkan secara aktif pada harga yang pantas sesuai dengan nilai wajar kininya, penjualan diperkirakan memenuhi ketentuan pengakuan sebagai penjualan dalam waktu satu tahun dari tanggal klasifikasi, tidak mungkin terjadi perubahan signifikan atau pembatalan atas rencana. Keadaan yang dapat memperpanjang periode penyelesaian lebih dari satu tahun adalah penundaan terjadi disebabkan oleh peristiwa atau keadaan diluar kendali perusahaandan entitas tetap berkomitmen dengan rencana penjualan.

2.4 Pengukuran Aset Tidak Lancar yang Dimiliki Untuk Dijual

Pengukuran aset tetap atau kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual yaitu [4]:

1. Aset diukur pada nilai yang lebih rendah antara jumlah tercatat dan nilai wajar setelah dikurangi biaya untuk menjual.

2. Rugi penurunan nilai diakui 3. Penyusutan dihentikan

Pada saat pelepasan akhir atau pada saat terjual, selisih antara nilai tercatat saat ini dengan perolehan diakui sebagai keuntungan atau kerugian pelepasan aset.

2.5 Penyajian Aset Tidak Lancar yang Dimiliki Untuk Dijual di Laporan Posisi Keuangan

Aset yang diklasifikasikan sebagai aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual menyajikan dan mengungkapkan dalam laporan posisi keuangan secara terpisah dari aset lainnya [4]. Liabilitas dalam kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual disajikan secara terpisah dari liabilitas lainnya dalam laporan posisi keuangan.

2.6 Kebijakan Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual Menurut PSAK No. 58

PSAK No.58 tentang aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual yang telah telah disahkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan pada tanggal 27 Agustus 2014 yang merupakan perubahan atas PSAK No. 58tahun 2009. Berdasarkan revisi PSAK No. 58 tahun 2014, aset yang termasuk aset tetap yang dimiliki untuk dijual harus berada dalam keadaaan segera dapat dijual maka diperlukan reklasifikasi pada aset tersebut pada saat aset tersebut memenuhi syarat dan kualifikasi sebagai aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual. Selain itu, pembebanan penyusutan tidak lagi dilakukan sejak aset tersebut diklasifikasikan sebagai aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual.

Pada saat pengklasifikasian, aset tetap akan dipindahkan ke akun aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual yang termasuk kelompok akun tidak lancar dalam laporan posisi keuangan. Selain itu, akumulasi penyusutan selama aset tersebut masuk dalam kelompok aset tetap akan di tutup di akun debet sebesar nilai akumulasi aset tetap pada tanggal pengklasifikasian aset tetap menjadi aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual. Nilai dari aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual adalah sebesar nilai terendah antara nilai tercatat dan nilai wajar setelah dikurangi biaya untuk dijual.

2.7 Laporan Keuangan

Laporan Keuangan adalah suatu dokumen bisnis yang digunakan untuk melaporkan aktivitas bisnis suatu perusahaan pada tanggal atau periode tertentu yang digunakan oleh kelompok kepentingan tertentu untuk membuat berbagai keputusan bisnis [2].

(4)

PSAK yang sudah mengadopsi IFRS menggunakan istilah karakteristik kualitatif untuk menggambarkan atribut yang membuat informasi keuangan yang tersedia dalam laporan keuangan bermanfaat bagi pemakai, karakteristik kualitatif utama tersebut yaitu [1]:

1. Dapat dipahami 2. Relevan

3. Dapat diandalkan 4. Dapat diperbandingkan

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Reklasifikasi Aset Kendaraan Menjadi Aset Tidak Lancar yang Dimiliki Untuk Dijual

3.1.1 Reklasifikasi Aset Kendaraan yang Terjual Tahun 2016

Tabel 3.1.1 Perhitungan Reklasifikasi Aset Kendaraan Terjual Tahun 2016

Sumber : PT Bengkalis Kuda Laut

Berdasarkan data tersebut, nilai yang terendah antara nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual dengan nilai tercatat adalah nilai tercatat sebesar Rp10.806.816.230. Nilai tercatat dihitung dengan mengurangi harga perolehan kendaraan sebesar Rp28.839.321.662 dengan akumulasi penyusutan kendaraan mulai saat kendaraan tersebut diperoleh sampai saat kendaraan tersebut diklasifikasi sebagai aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual atau pada tanggal kontrak proyek selesai sebesar Rp18.032.505.431. Nilai wajar dikurangi dengan biaya untuk menjual dihitung dengan mengurangi nilai wajar sebesar Rp13.944.300.000 dengan komisi penjualan sebesar Rp400.425.000, maka nilai wajar setelah dikurangi biaya untuk menjual sebesar Rp13.543.875.000. komisi penjualan nominalnya adalah 3% dari harga jual kendaraan yang sudah ditetapkan oleh perusahaan.

Nilai tercatat sebesar Rp10.806.816.230.

merupakan nilai yang dimasukkan ke dalam akun aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual dan terpisah dari aset tetap, maka jurnal yang seharusnya dicatat pada saat reklasifikasi adalah sebagai berikut:

(d) Aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual Rp10.806.816.230.

(d) Akumulasi penyusutan – kendaraan Rp18.032.505.431

(k) Kendaraan Rp28.839.321.662

Namun jurnal tersebut tidak perlu dilakukan oleh perusahaan, karena kendaraan tersebut sudah terjual atau sudah lewat waktu reklasifikasi kendaraan tersebut maka tidak ada jurnal penyesuaian untuk kendaraan tersebut. Saat penjualan kendaraan tersebut, perusahaan membuat jurnal penjualan sebagai berikut:

31 Des 2016

(d)Beban komisi Rp400.425.000 (k)Kas dan setara kas Rp400.425.000 (d)Kas dan setara kas Rp12.947.075.000 (d) Akumulasi penyusutan kendaraan

Rp19.514.112.298

(k) Kendaraan Rp28.839.321.662

(k) Keuantungan atas penjualan aset tetap Rp3.621.865.636

Jika berdasarkan data Tabel 3.1.1 perhitungan reklasifikasi aset terjual tahun 2016, maka jurnal yang seharusnya dibuat adalah:

(d) Kas dan setara kas Rp12.947.075.000 (k) Aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual

Rp10.806.816.230

(k) Keuntungan atas penjualan aset tetap Rp2.140.258.770

Namun jurnal tersebut tidak dilakukan oleh perusahaan, karena kendaraan tersebut sudah terjual atau sudah lewat waktu reklasifikasi kendaraan tersebut maka tidak ada jurnal penyesuaian untuk kendaraan tersebut.

3.1.2 Reklasifikasi Aset Kendaraan yang Terjual Tahun 2016

Tabel 3.1.2 Perhitungan Reklasifikasi Kendaraan Belum Terjual Tahun 2016

Sumber : PT Bengkalis Kuda Laut

Berdasarkan data tersebut, nilai yang terendah antara nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual dengan nilai tercatat adalah nilai tercatat sebesar Rp4.951.714.583. Nilai tercatat dihitung dengan mengurangi harga perolehan kendaraan sebesar Rp13.228.500.000 dengan akumulasi penyusutan kendaraan dari saat kendaraan diperoleh sampai saat kendaraan tersebut diklasifikasi sebagai aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual atau pada tanggal kontrak proyek selesai sebesar Rp8.276.785.417. Nilai wajar dikurangi dengan biaya untuk menjual dihitung dengan mengurangi nilai wajar atau harga jual sebesar Rp6.404.000.000 dengan komisi penjualan sebesar Rp192.120.000. atau sebesar 3% dari harga jual yang sudah merupakan ketetapan dan ketentuan dari perusahaan dalam setiap penjualan kendaraan.

Nilai tercatat sebesar Rp4.951.714.583.

merupakan nilai yang dimasukkan ke dalam akun aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual dan terpisah dari aset tetap, maka jurnal yang seharusnya dicatat pada saat reklasifikasi adalah sebagai berikut:

(5)

(d)Aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual Rp.4.951.714.583.

(d)Akumulasi penyusutan – kendaraan Rp.8.276.785.417

(k)Kendaraan Rp.13.228.500.000

Saat penjualan aset kendaraan tersebut, perusahaan membuat jurnal penjualan seharusnya sebagai berikut:

(d) Kas dan setara kas Rp.xxx.xxx.xxx

(k) Aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual Rp.xxx.xxx.xxx

(k) Keuntungan atas penjualan aset teta Rp.xxx.xxx.xxx

3.2 Analisis dan Perbandingan Laporan Posisi Keuangan dan Laporan Laba Rugi Tahun 2016 Sebelum dan Sesudah Penerapan PSAK No.58 3.2.1 Analisis dan Perbandingan Laporan Posisi

Keuangan Sebelum dan Sesudah Penerapan PSAK No.58

Gambar 3.2.1 berikut merupakan tampilan laporan posisi keuangan per 31 Desember 2016 sesudah dilakukan penerapan PSAK No.58:

Gambar 3.2.1 Laporan posisi keuangan per 31 Desember 2016 sesudah dilakukan penerapan PSAK No.58 Sumber : PT Bengkalis Kuda Laut

Setelah melakukan reklasifikasi terhadap kendaraan PT Bengkalis Kuda Laut untuk periode tahun 2016, maka dapat dilihat pada Gambar 4.3.2 laporan posisi keuangan Per 31 Desember 2016 sesudah penerapan PSAK No.58 bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada laba perusahaan yaitu laba ditahan sebesar Rp32.878.754.843 menjadi Rp34.772.787.394 mengalami kenaikan sebesar Rp1.894.032.551 dan laba tahun berjalan sebesar Rp23.088.198.588 menjadi Rp23.221.079.838 mengalami kenaikan sebesar Rp132.881.250.

Pada sisi aset sebesar Rp122.294.834.777 menjadi Rp124.321.748.578 mengalami kenaikan sebesar Rp2.026.913.801. Hal ini disebabkan oleh munculnya akun aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual pada aset lancar sebesar Rp4.951.714.583, namun terjadi penurunan nilai kendaraan pada aset tetap sebesar Rp13.228.500.000 dari Rp20.256.160.000 menjadi Rp7.027.660.000 dan penurunan juga terjadi pada akumulasi penyusutan kendaraan sebesar Rp10.303.699.218 dari Rp12.885.383.542 menjadi Rp2.581.684.324.

3.2.2 Analisis dan Perbandingan Laporan Laba Rugi Sebelum dan Sesudah Penerapan PSAK No.58 Gambar 3.2.2 berikut merupakan tampilan laporan laba rugi untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2016 sesudah dilakukan penerapan PSAK No.58:

Gambar 3.2.2 Laporan laba rugi untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2016 sesudah dilakukan penerapan PSAK

No.58 Sumber : PT Bengkalis Kuda Laut

(6)

Berdasarkan Gambar 3.2.2 laporan laba rugi untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2016 mengalami kenaikan pada laba tahun berjalan sebesar Rp132.881.250. dari Rp23.088.198.588 menjadi Rp23.221.079.83. Hal ini disebabkan oleh penurunan beban operasional sebesar Rp7.670.024.913 dari Rp22.401.666.630 menjadi Rp22.268.758.380.

Penurunan beban operasional dikarenakan adanya penurunan beban depresiasi kendaraan dikarenakan untuk perlakuan menurut PSAK No.58 bahwa saat aset diklasifikasikan sebegai aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual maka beban depresiasi atas aset tersebut akan dihentikan, maka hal ini akan berdampak pada kecilnya beban perusahaan yang akan menaikkan laba perusahaan.

4. KESIMPULAN

Dari penelitian yang telah dilakukan penulis, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Perlakuan dan penyajian untuk kendaraan habis kontrak proyek dilakukan oleh perusahaan berdasarkan PSAK No.16. kendaraan yang habis kontrak proyeknya seharusnya di sajikan dan diperlakukan sebagai aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual sesuai dengan PSAK No.58.

2. Dari total 113 unit kendaraan yang terjual selama tahun 2016, seluruhnya masuk kategori aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual. 82 unit kendaraan diklasifikasikan sebagai aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual tahun 2016 dan 31 unit kendaraan diklasifikasikan sebagai aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual di tahun 2015. Sebanyak 113 unit kendaraan tersebut sudah terjual, maka tidak perlu dilakukannya reklasifikasi atas nilai kendaran tersebut. Namun hanya mempengaruhi nilai beban depresiasinya saja. Hal ini akan mempengaruhi kenaikan nilai laba di tahun 2016 karena terjadinya penurunan beban depresiasi kendaraan.

3. Pembebanan depresiasi tidak dilakukan untuk 53 unit kendaraan yang kontrak proyeknya sudah selesai dan belum terjual sampai akhir taun 2016 sejak kendaraan tersebut masuk kategori aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual atau pada saat habis masa kontrak proyek untuk kendaraan yang bersangkutan. Berdasarkan 53 unit kendaraan yang masuk kategori aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual, maka nilai dari 53 unit kendaraan tersebut dikeuarkan dari aset kendaraan dan masuk ke akun aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual sebesar nilai tercatat

Rp4.951.714.583. Nilai tersebut akan mempengaruhi nilai aset pada laporan posisi keuangan dan mengalami kenaikan sebesar Rp2.026.913.801. Hal ini menampilkan laporan posisi keuangan perusahaan yang andal dan relevan sehingga perusahaan berkesempatan memenangkan lebih banyak tender proyek baru karena akan mempengaruhi penilaian klien terhadap kemampuan perusahaan dari segi keuangan.

Beberapa saran yang dapat penulis berikan kepada PT Bengkalis Kuda Laut adalah sebagai berikut:

1. Dengan adanya penelitian ini diharapkan perusahaan dapat menerapkan PSAK No.58 tentang aset tidak lancar yang dimiliki untuk dijual untuk menghasilkan informasi yang lebih relevan dan tepat sehingga dapat menghasilkan keputusan yang tepat pula oleh pihak pengambil keputusan.

2. Diharapkan dengan penitian ini dapat dijadikan gambaran oleh perusahaan, bahwa dengan penerapan PSAK No.58 dapat memperlihatkan pemisahan nilai antara kendaraan operasional dan kendaraan hasil proyek pada laporan posisi keuangan yang disajikan.

3. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi referensi bagi perusahaan, bahwa dengan penerapan PSAK No.58 maka akan menyajikan laporan keuangan yang terlihat baik terutama berdampak pada kenaikan nilai aset dan laba perusahaan. Hal ini akan sangat mempengaruhi penilaian klien terhadap perusahaan dari segi keuangan.

DAFTAR REFERENSI [1] Ankarath, J. Mehta, Ghosh, & Alkafaji:

Memahami IFRS standar pelaporan keuangan internasional: indeks, 2012

[2] Azhani, D: Pedoman Praktis Memahami Laporan Keuangan : Andi Offset ,2008

[3] Harrison, Horngres, Thomas & Suwardy:

Akuntansi Keuangan: Erlangga,2011 [4] Ikatan Akuntansi Indonesia: Standar Akuntansi

Keuangan: Ikatan Akuntansi Indonesia, 2014 [5] Sudana: Manajemen Keuangan Perusahaan Teori

dan Praktik: Erlangga, 2011

Gambar

Tabel 3.1.1 Perhitungan Reklasifikasi Aset Kendaraan  Terjual Tahun 2016

Referensi

Dokumen terkait