30 SEPTEMBER 30 SEPTEMBER
Catatan 2010 2009
Rp Rp
AKTIVA
Kas dan setara kas 2g,3 67,824,957,118 22,600,371,877
Investasi sementara 2h 8,036,073,128 4,181,189
Piutang 2i
Usaha 14,428,104,247 15,650,970,008
Lain -lain 6,357,905,631 9,650,131,873
Persediaan 2j 2,162,958,495 2,519,483,363
Uang muka 20,732,295,414 18,401,774,835
Pajak dibayar dimuka 2v,4 6,200,595,206 6,160,161,093
Biaya dibayar dimuka 2k 6,792,361,611 5,109,897,260
Aktiva real estate 2l,3s,5 294,533,457,975 296,678,764,185
Investasi dalam bentuk saham 2n,2o,6 49,158,848,800 49,158,848,800
Aktiva pajak tangguhan 493,258,711 4,097,012,516
Properti investasi 130,772,197,069 124,957,075,545
Aktiva Tetap 134,362,348,501 152,027,842,785
Aktiva Tetap Dalam Rangka Kelola dan Alih 2p 29,455,626,082 31,896,005,834
Aktiva lain- lain 5,263,113,368 6,795,206,176
JUMLAH AKTIVA 776,574,101,356 745,707,727,339
Catatan : Laporan Keuangan tidak diaudit
Lihat Catatan atas laporan keuangan konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konoslidasi
PT INDONESIA PRIMA PROPERTY Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN NERACA KONSOLIDASI
30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009
30 SEPTEMBER 30 SEPTEMBER
Catatan 2010 2009
Rp Rp
KEWAJIBAN DAN EKUITAS KEWAJIBAN
Wesel bayar 7 - 87,930,951,000
Hutang
Usaha 5,451,396,894 5,633,110,165
Lain - lain pihak ketiga 8 119,842,054,912 8,432,907,937
Hutang pajak 2v,9 8,075,885,189 3,440,117,658
Biaya yang masih harus dibayar 68,854,850,343 134,313,507,812
Hutang pensiun 27,732,321,601 23,351,439,667
Uang muka penjualan 86,833,350,498 81,109,201,270
Pendapatan diterima dimuka 2t 19,968,314,577 19,630,279,577
Kewajiban pajak tangguhan - 1,415,945,000
Hutang bank jangka panjang 10 33,316,564,163 36,142,722,732 Hutang lain lain pihak ketiga jangka panjang 11 48,003,237,145 75,417,935,016
Uang jaminan penyewa 12,168,265,001 12,106,831,916
Jumlah Kewajiban 430,246,240,323 488,924,949,750
KEPEMILIKAN MINORITAS - 37,459,036
Goodwill 4,405,787,301 4,655,171,488
EKUITAS
Modal saham - nilai nominal Rp 1.000 per saham seri A dan Rp 200 per saham seri B
Modal ditempatkan dan disetor 745,000,000,000 745,000,000,000 495.000.000 shm seri A dan 1.250.000.000 shm seri B 12 36,750,000,000 36,750,000,000
Agio saham 13 (439,827,926,268) (529,659,852,935)
Laba (rugi) ditahan
341,922,073,732 252,090,147,065 Jumlah Ekuitas
776,574,101,356 745,707,727,339 JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS
Catatan : Laporan Keuangan tidak diaudit
Lihat Catatan atas laporan keuangan konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konoslidasi
2010 2009
Catatan (9 BULAN) (9 BULAN)
Rp Rp
PENDAPATAN USAHA
Penjualan 2t 53,676,920,798 48,436,057,701
Jasa 110,165,304,143 84,833,951,123
Hotel 63,222,923,923 54,378,400,244
Jumlah Pendapatan Usaha 227,065,148,864 187,648,409,068
BEBAN POKOK PENJUALAN DAN 2t
BEBAN LANGSUNG
Beban pokok & beban langsung 53,425,775,954 46,762,962,446
Beban pegawai 25,562,481,891 23,811,330,178
Beban langsung hotel 41,627,340,582 40,363,665,589
Beban penyusutan dan amortisasi 12,956,433,654 14,385,595,109
Jumlah beban pokok penjualan dan
Beban langsung 133,572,032,081 125,323,553,322
LABA KOTOR 93,493,116,783 62,324,855,746
BEBAN USAHA 2t
Beban penjualan 3,776,873,707 1,751,629,776
Beban administrasi & umum 34,829,994,311 33,622,054,611
JUMLAH BEBAN USAHA 38,606,868,018 35,373,684,387
LABA USAHA 54,886,248,765 26,951,171,359
PENDAPATAN (BEBAN) LAIN-LAIN 2t
Beban bunga - bersih (4,307,512,013) (3,766,548,785)
Laba (rugi) selisih kurs - bersih 2d 4,550,674,803 30,680,719,709
Pendapatan (Beban) lain -lain 471,269,095 719,373,295
Pendapatan (Beban) Lain-lain - Bersih 714,431,885 27,633,544,219
LABA (RUGI) SEBELUM PAJAK 55,600,680,650 54,584,715,578
TAKSIRAN PAJAK PENGHASILAN 2v 14,895,230,354 10,275,318,256
HAK MINORITAS ATAS BAGIAN LABA
(RUGI) ANAK PERUSAHAAN 2b (15,058,696)
LABA (RUGI) BERSIH 40,705,450,296 44,294,338,626
LABA (RUGI) USAHA PER SAHAM 31 15
LABA (RUGI) BERSIH PER SAHAM 2w 23 25
Catatan : Laporan keuangan tidak diaudit
Lihat Catatan atas laporan keuangan konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi
P.T. INDONESIA PRIMA PROPERTY DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN PERUBAHAN EKUITAS KONSOLIDASI
UNTUK PERIODE 9 (SEPTEMBER ) BULAN YANG BERAKHIR 30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009
Jumlah ekuitas
Modal disetor Agio Saham Defisit (Defisiensi Modal)
Saldo per 1 Januari 2009 745,000,000,000 36,750,000,000 (573,954,191,561) 207,795,808,439
Laba bersih tahun berjalan 44,294,338,626 44,294,338,626
Saldo per 30 September 2009 745,000,000,000 36,750,000,000 (529,659,852,935) 252,090,147,065
Saldo per 1 Januari 2010 745,000,000,000 36,750,000,000 (480,533,376,563) 301,216,623,437
Laba bersih tahun berjalan 40,705,450,296 40,705,450,296
Saldo per 30 September 2010 745,000,000,000 36,750,000,000 (439,827,926,267) 341,922,073,733
Catatan : Laporan keuangan tidak diaudit
Lihat Catatan atas laporan keuangan konsolidasi yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan konsolidasi
2010 2009
Rp. Rp.
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan kas dari pelanggan 236,862,341,193 204,817,980,720 Pembayaran pada karyawan dan pemasok (98,896,755,153) (97,060,628,770) Kas dihasilkan dari operasi 137,965,586,040 107,757,351,950 Pembayaran bunga dan beban keuangan (56,403,239,395) (46,558,641,684) Pembayaran pajak penghasilan (5,986,097,214) (9,573,257,540) Arus Kas Bersih Diperoleh Dari Aktivitas Operasi 75,576,249,431 51,625,452,726 ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Penerimaan bunga 404,372,734 169,852,964 Hasil penjualan aktiva tetap 583,227,046 285,901,930 Perolehan aktiva tetap (9,823,635,769) (4,298,433,085) Penambahan ( penurunan ) investasi (11,987,437,244) 3,046,150,000 Penambahan aktiva bangun kelola serah (66,378,901) (46,420,000) Kenaikan (penurunan) beban ditangguhkan 758,600,613 1,029,492,881 Penurunan uang jaminan 297,133,000 17,409,661 Kas Bersih Diperoleh Dari (Digunakan Untuk) Aktivitas Investasi (19,834,118,521) 203,954,351 ARUS KAS DARI AKTIVITAS PENDANAAN
Pemberian pinjaman kepada pihak ketiga 1,822,599,936 (9,949,596,858) Kenaikan (penurunan) hutang kepada pihak yang mempunyai
hubungan istimewa - 799,000,000 Penambahan (Pengurangan) Hutang Leasing (10,000,000,000) (233,366,400) Pembayaran hutang bank jangka panjang (8,810,924,570) (35,544,123,829) Kas Bersih Digunakan Untuk Aktivitas Pendanaan (16,988,324,634) (44,928,087,088) KENAIKAN (PENURUNAN) BERSIH KAS DAN SETARA KAS 38,753,806,276 6,901,319,990 KAS SETARA KAS AWAL TAHUN 29,188,865,630 15,787,350,999 Pengaruh perubahan kurs mata uang asing (117,714,787) (88,299,112) KAS SETARA KAS AKHIR TAHUN 67,824,957,119 22,600,371,877
PT. INDONESIA PRIMA PROPERTY Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI
30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL TERSEBUT
1. UMUM
a. Pendirian dan Informasi Umum
PT. Indonesia Prima Property Tbk (Perusahaan) didirikan dalam rangka Undang-Undang Penanaman Modal Dalam Negeri No. 6 tahun 1968 jo. Undang-Undang No. 12 tahun 1970 berdasarkan akta No. 31 tanggal 23 April 1983 dari Sastra Kosasih, S.H., notaris di Surabaya.
Akta pendirian ini disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusannya No. C2-6044-HT.01.01-TH'83 tanggal 5 September 1983 serta diumumkan dalam Lembaran Berita Negara Republik Indonesia No. 19 tanggal 6 Maret 1984, Tambahan No. 241. Anggaran dasar Perusahaan telah beberapa kali mengalami perubahan, terakhir dengan akta notaris No. 21 tanggal 23 Juli 2008 dari Isyana Wisnuwardhani Sadjarwo, S.H., notaris di Jakarta, mengenai penyesuaian anggaran dasar Perusahaan dengan Undang- undang No. 40 tahun 2007 mengenai Perseroan Terbatas. Akta perubahan ini telah memperoleh persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusannya No. AHU-82927.AH.01.02.Th.2008 tanggal 6 Nopember 2008.
Perusahaan berdomisili di Jakarta dengan kantor pusat beralamat di Wisma Sudirman Lt. 11, Jl.
Jendral Sudirman Kav.34, Jakarta.
Ruang lingkup kegiatan Perusahaan dan anak perusahaan terutama meliputi bidang persewaan perkantoran, pusat perbelanjaan (mal), apartemen dan hotel, pembangunan perumahan beserta segala fasilitasnya. Perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada bulan April 1983.
Susunan pengurus Perusahaan pada tanggal 30 September 2010 adalah sebagai berikut:
Presiden Komisaris : Boediman Gozali Wakil Presiden Komisaris
(merangkap komisaris independen)
: H Lutfi Dahlan
Komisaris : Soedibyo
Yugi Prayanto
Komisaris Independen : Matheus Rukmasaleh Arif Satriyana
Presiden Direktur : Husni Ali Wakil Presiden Direktur : Chiu Man Sing Direktur yang tidak terafiliasi : Njudarsono Yusetijo
Direktur : Ng Haker Larson
Sriyanto Muntasram Anna Susanti Komite Audit
Ketua : Satriyana
Anggota : Bakrin Rintis
Didi Fariadi
b. Anak Perusahaan
Perusahaan memiliki, baik langsung maupun tidak langsung, lebih dari 50% saham anak perusahaan berikut:
Tahun Operasi
Anak Perusahaan 2010 2009 Komersial Nama Proyek
Perumahan
PT Graha Mitrasantosa (GMS) 1994 Bukit Tiara
Pemilikan: (Tangerang)
Langsung 99,99% 99,99%
Tidak langsung, melalui
LAL, anak perusahaan 0,01% 0,01%
PT Paramita Swadaya (PS) Pra-operasi Bukit Tiara II
Pemilikan: (Tangerang)
Tidak langsung, melalui
GMS, anak perusahaan 99,92 % 99,92 % Tidak langsung, melalui
LAL, anak perusahaan 0,08 % 0,08 %
Hotel dan Apartemen
PT Griyamas Muktisejahtera 1996 Hotel Novotel
(GMMS) (Surabaya)
Pemilikan:
Langsung 99,91% 99,91%
Tidak langsung, melalui
LAL, anak perusahaan 0,09% 0,09%
PT Mahadhika Girindra (MG) Pra-operasi -
Pemilikan:
Langsung 99,95% 99,95%
Tidak langsung, melalui
LAL, anak perusahaan 0,05% 0,05%
PT Graha Hexindo (GH) 1995 Tropik Apartemen
Pemilikan: dan Grand Tropic
Langsung 99,95% 99,95% Suites Hotel
Tidak langsung, melalui (Jakarta)
LAL, anak perusahaan 0,05% 0,05%
PT Angkasa Interland (AIL) Puri Casablanca
Pemilikan:
Langsung 99.59% 98,96% 1995 (Jakarta)
Tidak langsung, melalui
LAL, anak perusahaan 0.41% -
Pusat Perbelanjaan
PT Langgeng Ayomlestari (LAL) Mal Blok M
Pemilikan: (Jakarta)
Langsung 99,99 % 99,99 % 1993
Tidak langsung, melalui
GH, anak perusahaan 0,002% -
PT Almakana Sari (AS) Plaza Parahyangan
Pemilikan tidak langsung, melalui (Bandung)
LAL, anak perusahaan 99.81% 99.77%
GH, anak perusahaan 0.19% 0.23%
Perkantoran
PT Panen Lestari Basuki (PLB) Wisma Sudirman
Pemilikan:
Langsung 99.33% 96,67% 1986
Tidak langsung, melalui
LAL , anak perusahaan 0.67% -
(Jakarta) Lain-lain
PT Karya Makmur Unggul (KMU) Pra - operasi -
Pemilikan tidak langsung, melalui
LAL, anak perusahaan 99.98% 99.98%
GH, anak perusahaan 0.02% 0.02%
PT Mega Buana Sentosa (MBS) Pra - operasi -
Pemilikan tidak langsung, melalui
LAL, anak perusahaan 99.97% 99.97%
GH, anak perusahaan 0.03% 0.03%
Persentase Pemilikan
Kecuali GMMS dan AS yang masing-masing berdomisili di Surabaya dan Bandung, seluruh anak perusahaan berdomisili di Jabotabek.
PT. INDONESIA PRIMA PROPERTY Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI
30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL TERSEBUT (Lanjutan)
c. Penawaran Umum Efek Perusahaan
Pada tanggal 29 Juni 1994, Perusahaan memperoleh pernyataan efektif dari Ketua Badan Pengawas Pasar Modal Bapepam (sekarang Bapepam-LK) dengan suratnya No. S-1194/PM/1994 untuk melakukan penawaran umum atas 35.000.000 saham Perusahaan kepada masyarakat. Pada tanggal 22 Agustus 1994 saham tersebut telah dicatatkan pada Bursa Efek Jakarta.
Pada tanggal 28 Nopember 1996, Perusahaan memperoleh pernyataan efektif dari Ketua Bapepam (sekarang Bapepam-LK) dengan suratnya No. S-1937/PM/1996 untuk melakukan Penawaran Umum Terbatas Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu sebesar 360.000.000 saham. Pada tanggal 19 Desember 1996 saham tersebut telah dicatatkan pada Bursa Efek Jakarta.
Pada tanggal 30 Juni 2003 berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa, pemegang saham menyetujui peningkatan modal ditempatkan dan disetor perseroan sebesar 1.250.000.000 saham melalui pengeluaran saham baru tanpa Hak Memesan Efek terlebih dahulu sesuai dengan Peraturan Bapepam Nomor IX.D.4.
Pada tanggal 30 September 2010, seluruh saham perusahaan atau sejumlah 1.745.000.000 saham telah dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (d/h Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya).
2. KEBIJAKAN AKUNTANSI
a. Penyajian Laporan Keuangan Konsolidasi
Laporan keuangan konsolidasi disusun dengan menggunakan prinsip dan praktek akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
Dasar penyusunan laporan keuangan konsolidasi, kecuali untuk laporan arus kas, adalah dasar akrual. Mata uang pelaporan yang digunakan untuk penyusunan laporan keuangan konsolidasi adalah mata uang Rupiah (Rp) dan laporan keuangan konsolidasi tersebut disusun berdasarkan nilai historis, kecuali beberapa akun tertentu disusun berdasarkan pengukuran lain sebagaimana diuraikan dalam kebijakan akuntansi masing-masing akun tersebut.
Laporan arus kas konsolidasi disusun dengan menggunakan metode langsung dengan mengelompokkan arus kas dalam aktivitas operasi, investasi dan pendanaan.
b. Prinsip Konsolidasi
Laporan keuangan konsolidasi menggabungkan laporan keuangan Perusahaan dan entitas yang dikendalikan oleh Perusahaan (dan anak perusahaan). Pengendalian dianggap ada apabila perusahaan mempunyai hak untuk mengatur dan menentukan kebijakan finansial dan operasional dari investee untuk memperoleh manfaat dari aktivitasnya. Pengendalian juga dianggap ada apabila induk perusahaan memiliki baik secara langsung atau tidak langsung melalui anak perusahaan lebih dari 50% hak suara.
Hasil dari anak perusahaan yang diakuisisi atau dijual selama tahun berjalan dari tanggal efektif akusisi atau sampai dengan tanggal efektif penjualan termasuk dalam laporan laba rugi konsolidasi.
Hak minoritas terdiri dari jumlah kepemilikan pada tanggal terjadinya penggabungan usaha (Catatan 2c) dan bagian minoritas dari perubahan ekuitas sejak tanggal dimulainya penggabungan usaha. Kerugian yang menjadi bagian minoritas melebihi hak minoritas dialokasikan kepada bagian induk perusahaan.
Penyesuaian dapat dilakukan terhadap laporan keuangan anak perusahaan agar kebijakan akuntansi yang digunakan sesuai dengan kebijakan akuntansi yang digunakan oleh Perusahaan.
Seluruh transaksi antar perusahaan, saldo, penghasilan dan beban dieliminasi pada saat konsolidasi.
c. Penggabungan Usaha
Akuisisi anak perusahaan dicatat dengan menggunakan metode pembelian (purchase method). Biaya penggabungan usaha adalah keseluruhan nilai wajar (pada tanggal pertukaran) dari aset yang diperoleh, kewajiban yang terjadi atau yang diasumsikan dan instrumen ekuitas yang diterbitkan sebagai penggantian atas pengendalian dari perolehan ditambah biaya-biaya lain yang secara langsung dapat diatribusikan pada penggabungan usaha tersebut.
Pada saat akuisisi, aset dan kewajiban anak perusahaan diukur sebesar nilai wajarnya pada tanggal akuisisi. Selisih lebih antara biaya perolehan dan bagian Perusahaan atas nilai wajar aset dan kewajiban yang dapat diidentifikasi diakui sebagai goodwill. Jika biaya perolehan lebih rendah dari bagian Perusahaan atas nilai wajar aset dan kewajiban yang dapat diidentifikasi yang diakui pada tanggal akuisisi (diskon atas akuisisi), maka nilai wajar aset non-moneter yang diakuisisi harus diturunkan secara proposional, sampai seluruh selisih tersebut tereliminasi. Sisa selisih lebih setelah penurunan nilai wajar aset dan kewajiban non moneter tersebut diakui sebagai goodwill negatif, dan diperlakukan sebagai pendapatan ditangguhkan dan diakui sebagai pendapatan dengan menggunakan garis lurus selama 20 tahun.
Hak pemegang saham minoritas dinyatakan sebesar bagian minoritas dari biaya perolehan historis aset bersih.
d. Transaksi dan Saldo dalam Mata Uang Asing
Pembukuan Perusahaan dan anak perusahaan diselenggarakan dalam mata uang Rupiah.
Transaksi-transaksi selama tahun berjalan dalam mata uang asing dicatat dengan kurs yang berlaku pada saat terjadinya transaksi. Pada tanggal neraca, aset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing disesuaikan untuk mencerminkan kurs yang berlaku pada tanggal tersebut. Keuntungan atau kerugian kurs yang timbul dikreditkan atau dibebankan dalam laporan laba rugi konsolidasi tahun yang bersangkutan.
e. Transaksi Hubungan Istimewa
Pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa adalah:
1) Perusahaan baik langsung maupun melalui satu atau lebih perantara, mengendalikan, atau dikendalikan oleh, atau berada di bawah pengendalian bersama, dengan Perusahaan (termasuk holding companies, subsidiaries dan fellow subsidiaries);
2) perusahaan asosiasi;
3) perorangan yang memiliki, baik secara langsung maupun tidak langsung, suatu kepentingan hak suara di Perusahaan yang berpengaruh secara signifikan, dan anggota keluarga dekat dari perorangan tersebut (yang dimaksudkan dengan anggota keluarga dekat adalah mereka yang dapat diharapkan mempengaruhi atau dipengaruhi perorangan tersebut dalam transaksinya dengan Perusahaan);
4) karyawan kunci, yaitu orang-orang yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab untuk merencanakan, memimpin dan mengendalikan kegiatan Perusahaan, yang meliputi
PT. INDONESIA PRIMA PROPERTY Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI
30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL TERSEBUT (Lanjutan)
anggota dewan komisaris, direksi dan manajer dari Perusahaan serta anggota keluarga dekat orang-orang tersebut; dan
5) perusahaan di mana suatu kepentingan substansial dalam hak suara dimiliki baik secara langsung maupun tidak langsung oleh setiap orang yang diuraikan dalam butir (3) atau (4), atau setiap orang tersebut mempunyai pengaruh signifikan atas perusahaan tersebut.
Ini mencakup perusahaan-perusahaan yang dimiliki anggota dewan komisaris, direksi atau pemegang saham utama dari Perusahaan dan perusahaan-perusahaan yang mempunyai anggota manajemen kunci yang sama dengan Perusahaan.
Semua transaksi dengan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa, baik yang dilakukan dengan atau tidak dengan tingkat bunga atau harga, persyaratan dan kondisi yang sama sebagaimana dilakukan dengan pihak ketiga, diungkapkan dalam laporan keuangan konsolidasi.
f. Penggunaan Estimasi
Penyusunan laporan keuangan konsolidasi sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia mengharuskan manajemen membuat estimasi dan asumsi yang mempengaruhi jumlah aset dan kewajiban yang dilaporkan dan pengungkapan aset dan kewajiban kontinjensi pada tanggal laporan keuangan konsolidasi serta jumlah pendapatan dan beban selama periode pelaporan. Realisasi dapat berbeda dengan jumlah yang diestimasi.
g. Kas dan Setara Kas
Kas dan setara kas terdiri dari kas, bank dan semua investasi yang jatuh tempo dalam waktu tiga bulan atau kurang dari tanggal perolehannya dan yang tidak dijaminkan serta tidak dibatasi penggunaannya.
h. Investasi
Unit Penyertaan Reksadana
Unit penyertaan reksadana disajikan sebesar nilai aset bersih. Kenaikan (penurunan) nilai aset bersih unit penyertaan reksadana dibebankan pada laba rugi konsolidasi tahun berjalan.
Investasi saham
Investasi dalam bentuk saham dengan pemilikan kurang dari 20% yang nilai wajarnya tidak tersedia dan dimaksudkan untuk investasi jangka panjang dinyatakan sebesar biaya perolehan (metode biaya). Bila terjadi penurunan nilai yang bersifat permanen, maka nilai tercatatnya dikurangi untuk mengakui penurunan tersebut dan kerugiannya dibebankan pada laporan laba rugi konsolidasi tahun berjalan.
i. Penyisihan Piutang Ragu-ragu
Perusahaan dan anak perusahaan menetapkan penyisihan piutang ragu-ragu berdasarkan penelaahan terhadap masing-masing akun piutang pada akhir tahun.
j. Persediaan
Persediaan dinyatakan sebesar biaya perolehan atau nilai realisasi bersih, mana yang lebih rendah. Biaya perolehan ditentukan dengan metode rata-rata tertimbang (weighted average method).
k. Biaya Dibayar Dimuka
Biaya dibayar dimuka diamortisasi selama masa manfaat masing-masing biaya dengan menggunakan metode garis lurus.
l. Aset Real Estat
Aset real estat terdiri dari tanah dan bangunan (rumah tinggal) dan bangunan strata title yang siap dijual dan tanah yang belum dikembangkan, dinyatakan sebesar biaya perolehan atau nilai realisasi bersih, mana yang lebih rendah.
Biaya perolehan tanah yang belum dikembangkan meliputi biaya praperolehan dan perolehan tanah ditambah biaya pinjaman dan dipindahkan ke tanah yang sedang dikembangkan pada saat pematangan tanah akan dimulai.
Biaya perolehan tanah yang sedang dikembangkan meliputi biaya perolehan tanah yang belum dikembangkan ditambah dengan biaya pengembangan langsung dan tidak langsung yang dapat diatribusikan pada aset pengembangan real estat serta biaya pinjaman (beban bunga dan selisih kurs). Tanah yang sedang dikembangkan akan dipindahkan ke bangunan yang sedang dikonstruksi pada saat tanah tersebut selesai dikembangkan atau dipindahkan ke aset tanah bila tanah tersebut siap dijual dengan menggunakan metode luas areal.
Biaya perolehan bangunan (rumah tinggal) dan bangunan strata title meliputi biaya perolehan tanah yang telah selesai dikembangkan ditambah dengan biaya konstruksi, biaya lainnya yang dapat diatribusikan pada aktivitas pengembangan real estat dan biaya pinjaman.
Biaya pinjaman yang secara langsung dapat diatribusikan dengan kegiatan pengembangan dikapitalisasi ke proyek pengembangan. Kapitalisasi dihentikan pada saat proyek pengembangan tersebut ditangguhkan/ditunda pelaksanaannya atau secara substansial siap untuk digunakan sesuai tujuannya.
m. Properti Investasi
Properti investasi adalah properti (tanah atau bangunan atau bagian dari suatu bangunan atau kedua-duanya) untuk menghasilkan rental atau untuk kenaikan nilai atau kedua-duanya.
Properti investasi diukur sebesar nilai perolehan setelah dikurangi akumulasi penyusutan dan setiap akumulasi kerugian penurunan nilai.
Penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis dari properti investasi selama 5 – 20 tahun.
Properti investasi sewa pembiayaan disusutkan berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis yang sama atau disusutkan selama jangka waktu yang lebih pendek antara periode sewa dan umur manfaatnya.
Tanah dinyatakan berdasarkan biaya perolehan dan tidak disusutkan.
n. Aset Tetap – Pemilikan Langsung
Aset tetap yang dimiliki untuk digunakan dalam penyediaan barang atau jasa atau untuk tujuan administratif dicatat berdasarkan biaya perolehan setelah dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi kerugian penurunan nilai.
PT. INDONESIA PRIMA PROPERTY Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI
30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL TERSEBUT (Lanjutan)
Penyusutan dihitung dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis aset tetap sebagai berikut:
Tahun
Bangunan dan prasarana 8 – 20
Peralatan kantor 3 – 10
Peralatan dan perlengkapan operasional 4 – 10
Kendaraan 3 – 5
Masa manfaat ekonomis, nilai residu dan metode penyusutan direview setiap akhir tahun dan pengaruh dari setiap perubahan estimasi tersebut berlaku prospektif.
Aset sewa pembiayaan disusutkan berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis yang sama dengan aset yang dimiliki sendiri atau disusutkan selama jangka waktu yang lebih pendek antara periode masa sewa dan umur manfaatnya.
Tanah dinyatakan berdasarkan biaya perolehan dan tidak disusutkan.
Beban pemeliharaan dan perbaikan dibebankan pada laporan laba rugi konsolidasi pada saat terjadinya. Biaya-biaya lain yang terjadi selanjutnya yang timbul untuk menambah, mengganti atau memperbaiki aset tetap dicatat sebagai biaya perolehan aset jika dan hanya jika besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan berkenaan dengan aset tersebut akan mengalir ke entitas dan biaya perolehan aset dapat diukur secara handal. Aset tetap yang sudah tidak digunakan lagi atau yang dijual dikeluarkan dari kelompok aset tetap berikut akumulasi penyusutannya. Keuntungan atau kerugian dari penjualan aset tetap tersebut dibukukan dalam laporan laba rugi konsolidasi pada tahun yang bersangkutan.
Aset dalam penyelesaian dinyatakan sebesar biaya perolehan. Biaya perolehan tersebut termasuk biaya pinjaman yang terjadi selama masa pembangunan yang timbul dari hutang yang digunakan untuk pembangunan aset tersebut. Akumulasi biaya perolehan akan dipindahkan ke masing-masing aset tetap yang bersangkutan pada saat selesai dan siap digunakan.
o. Sewa
Sewa diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan jika sewa tersebut mengalihkan secara substantial seluruh risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan aset. Sewa lainnya, yang tidak memenuhi kriteria tersebut, diklasifikasikan sebagai sewa operasi.
Sebagai Lessor
Dalam sewa pembiayaan, lessor mengakui aset berupa piutang sewa pembiayaan sebesar jumlah investasi sewa neto Perusahaan dan anak perusahaan. Pengakuan penghasilan sewa pembiayaan dialokasikan pada periode akuntansi yang mencerminkan suatu tingkat pengembalian periodik yang konstan atas investasi bersih lessor.
Pendapatan sewa dari sewa operasi diakui sebagai pendapatan dengan dasar garis lurus selama masa sewa. Biaya langsung awal yang terjadi dalam proses negosiasi dan pengaturan sewa operasi ditambahkan ke jumlah tercatat dari aset sewaan dan diakui dengan dasar garis lurus selama masa sewa.
Sebagai Lessee
Aset pada sewa pembiayaan dicatat pada awal masa sewa sebesar nilai wajar aset sewaan Perusahaan dan anak perusahaan yang ditentukan pada awal kontrak atau, jika lebih rendah, sebesar nilai kini dari pembayaran sewa minimum. Kewajiban kepada lessor disajikan di dalam neraca sebagai kewajiban sewa pembiayaan.
Pembayaran sewa harus dipisahkan antara bagian yang merupakan beban keuangan dan bagian yang merupakan pengurangan dari kewajiban sewa sehingga mencapai suatu tingkat bunga yang konstan (tetap) atas saldo kewajiban. Beban keuangan dibebankan langsung ke laba rugi. Rental kontijen dibebankan pada periode terjadinya.
Pembayaran sewa operasi diakui sebagai beban dengan dasar garis lurus (straight-line basis) selama masa sewa, kecuali terdapat dasar sistematis lain yang dapat lebih mencerminkan pola waktu dari manfaat aset yang dinikmati pengguna. Rental kontijen diakui sebagai beban di dalam periode terjadinya.
Dalam hal insentif diperoleh dalam sewa operasi, insentif tersebut diakui sebagai kewajiban.
Keseluruhan manfaat dari insentif diakui sebagai pengurangan dari biaya sewa dengan dasar garis lurus kecuali terdapat dasar sistematis lain yang lebih mencerminkan pola waktu dari manfaat yang dinikmati pengguna.
p. Aset Bangun Kelola Serah
Aset tetap berupa bangunan dalam rangka bangun kelola dan serah (B.O.T.) beserta mesin dan instalasi yang melekat serta peralatan yang berada pada bangunan tersebut dinyatakan berdasarkan biaya perolehan dan diamortisasi dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan umur ekonomis dari aset tetap yang bersangkutan dengan batas maksimum sesuai jangka waktu perjanjian bangun kelola dan serah, sebagai berikut:
Tahun
Bangunan 30
Mesin dan instalasi 10
Hak pakai atas aset B.O.T. yang dijual dikeluarkan dari kelompok aset B.O.T. berikut akumulasi amortisasinya. Keuntungan atau kerugian dari penjualan tersebut dibukukan dalam laporan laba rugi konsolidasi tahun yang bersangkutan.
q. Beban Tangguhan – Hak Atas Tanah
Biaya yang terjadi sehubungan dengan pengurusan legal hak atas tanah ditangguhkan dan diamortisasi dengan metode garis lurus sepanjang umur hukum hak atas tanah karena umur hukum hak atas tanah lebih pendek dari umur ekonomisnya.
r. Penyisihan Penggantian Peralatan dan Perlengkapan Hotel
Penyisihan untuk penggantian peralatan dan perlengkapan hotel dibentuk berdasarkan persentase tertentu dari pendapatan hotel. Pembelian dan penggantian pada periode berjalan dibebankan ke penyisihan tersebut.
s. Penurunan Nilai Aset
Bila nilai tercatat suatu aset melebihi taksiran jumlah yang diperoleh kembali (estimated recoverable amount) maka nilai tercatat tersebut diturunkan ke jumlah yang dapat diperoleh kembali tersebut, yang ditentukan sebagai nilai tertinggi antara nilai jual neto dan nilai pakai.
t. Pengakuan Pendapatan dan Beban Penjualan Real Estat
PT. INDONESIA PRIMA PROPERTY Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI
30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL TERSEBUT (Lanjutan)
Pendapatan dari penjualan real estat berupa bangunan rumah tinggal dan bangunan sejenis lainnya beserta kapling tanahnya serta apartemen yang telah selesai pembangunannya diakui dengan metode akrual penuh (full accrual method) apabila seluruh kriteria berikut terpenuhi:
proses penjualan telah selesai;
harga jual akan tertagih, yaitu jumlah yang telah dibayar sekurang-kurangnya telah mencapai 20% dari harga jual;
tagihan penjual tidak akan bersifat subordinasi di masa yang akan datang terhadap pinjaman lain yang akan diperoleh pembeli; dan
penjual telah mengalihkan risiko dan manfaat ke pemilikan unit bangunan kepada pembeli melalui suatu transaksi yang secara substansi adalah penjualan dan penjual tidak lagi berkewajiban atau terlibat secara signifikan dengan unit bangunan tersebut.
Pendapatan penjualan kapling tanah tanpa bangunan, diakui dengan menggunakan metode akrual penuh (full accrual method) pada saat pengikatan jual beli apabila seluruh kriteria berikut ini terpenuhi:
jumlah pembayaran oleh pembeli sekurang-kurangnya telah mencapai 20% dari harga jual yang disepakati dan jumlah tersebut tidak dapat diminta kembali oleh pembeli;
harga jual akan tertagih;
tagihan penjual tidak akan bersifat subordinasi di masa yang akan datang terhadap pinjaman lain yang akan diperoleh pembeli; dan
proses pengembangan tanah telah selesai sehingga penjual tidak berkewajiban lagi untuk menyelesaikan kapling tanah yang dijual, seperti kewajiban untuk mematangkan kapling tanah atau kewajiban untuk membangun fasilitas-fasilitas pokok yang dijanjikan oleh atau yang menjadi kewajiban penjual, sesuai dengan pengikatan jual beli atau ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
hanya kapling tanah saja yang dijual, tanpa diwajibkan keterlibatan penjual dalam pendirian bangunan di atas kapling tanah tersebut.
Apabila persyaratan tersebut di atas tidak dapat dipenuhi, maka seluruh uang yang diterima dari pembeli diperlakukan sebagai uang muka dan dicatat dengan deposit method sampai seluruh persyaratan tersebut dipenuhi.
Pendapatan Sewa
Pendapatan sewa diakui pada saat penggunaan aset oleh pihak lain sejalan dengan berlalunya waktu. Uang muka sewa yang diterima dari penyewa dicatat ke dalam akun pendapatan yang diterima di muka dan akan diakui sebagai pendapatan secara berkala sesuai dengan kontrak sewa yang berlaku.
Pendapatan Hotel
Pendapatan sewa hotel dan pendapatan hotel lainnya diakui pada saat jasa diberikan atau barang diserahkan.
Pendapatan Bunga
Pendapatan bunga diakui berdasarkan waktu terjadinya dengan acuan jumlah pokok terhutang dan tingkat bunga yang sesuai.
Beban
Beban diakui pada saat terjadinya.
u. Imbalan Pasca Kerja
Perusahaan dan anak perusahaan memberikan imbalan pasca kerja imbalan pasti untuk karyawan sesuai dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan No.13/2003. Tidak terdapat
pendanaan yang disisihkan oleh Perusahaan dan anak perusahaan sehubungan dengan imbalan pasca kerja ini.
Perhitungan imbalan pasca kerja menggunakan metode Projected Unit Credit. Akumulasi keuntungan dan kerugian aktuarial bersih yang belum diakui yang melebihi 10% dari nilai kini imbalan pasti diakui dengan metode garis lurus selama rata-rata sisa masa kerja yang diprakirakan dari para pekerja dalam program tersebut. Biaya jasa lalu dibebankan langsung apabila imbalan tersebut menjadi hak atau vested, dan sebaiknya akan diakui sebagai beban dengan metode garis lurus selama periode rata-rata sampai imbalan tersebut menjadi vested.
Jumlah yang diakui sebagai kewajiban imbalan pasti di neraca merupakan nilai kini kewajiban imbalan pasti disesuaikan dengan keuntungan dan kerugian aktuaria yang belum diakui, dan biaya jasa lalu yang belum diakui.
v. Pajak Penghasilan Pajak Penghasilan Final
Atas penghasilan sewa dan jasa pelayanan dan pemeliharaan yang dikenakan pajak penghasilan final, beban pajak diakui proposional dengan jumlah pendapatan menurut akuntansi. Selisih antara jumlah pajak penghasilan final dengan jumlah yang dibebankan sebagai pajak kini pada perhitungan laba rugi diakui sebagai pajak dibayar dimuka atau hutang pajak. Akun pajak penghasilan final dibayar dimuka disajikan terpisah dari hutang pajak penghasilan final.
Perusahaan tidak mengakui aset atau kewajiban pajak tangguhan yang timbul dari perbedaan nilai tercatat dengan dasar pengenaan pajak untuk aset atau kewajiban yang berhubungan dengan pajak penghasilan final.
Pajak Penghasilan Tidak Final
Beban pajak kini ditentukan berdasarkan laba kena pajak dalam periode yang bersangkutan yang dihitung berdasarkan tarif pajak yang berlaku.
Aset dan kewajiban pajak tangguhan diakui atas konsekuensi pajak periode mendatang yang timbul dari perbedaan jumlah tercatat aset dan kewajiban menurut laporan keuangan konsolidasi dengan dasar pengenaan pajak aset dan kewajiban kecuali perbedaan yang berhubungan dengan pajak penghasilan final. Kewajiban pajak tangguhan diakui untuk semua perbedaan temporer kena pajak dan aset pajak tangguhan diakui untuk perbedaan temporer yang boleh dikurangkan, sepanjang besar kemungkinan dapat dimanfaatkan untuk mengurangi laba kena pajak pada masa datang.
Pajak tangguhan diukur dengan menggunakan tarif pajak yang berlaku atau secara substansial telah berlaku pada tanggal neraca. Pajak tangguhan dibebankan atau dikreditkan dalam laporan laba rugi konsolidasi, kecuali pajak tangguhan yang dibebankan atau dikreditkan langsung ke ekuitas.
Aset dan kewajiban pajak tangguhan disajikan di neraca, kecuali aset dan kewajiban pajak tangguhan untuk entitas yang berbeda, atas dasar kompensasi sesuai dengan penyajian aset dan kewajiban pajak kini.
w. Laba (Rugi) Per Saham
Laba (rugi) per saham dasar dihitung dengan membagi laba (rugi) bersih residual dengan jumlah rata-rata tertimbang saham yang beredar pada tahun yang bersangkutan.
x. Informasi Segmen
Informasi segmen disusun sesuai dengan kebijakan akuntansi yang dianut dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan konsolidasi. Bentuk primer pelaporan segmen adalah segmen usaha sedangkan segmen sekunder adalah segmen geografis.
Segmen usaha adalah komponen perusahaan yang dapat dibedakan dalam menghasilkan produk atau jasa (baik produk atau jasa individual maupun kelompok produk atau jasa terkait) dan komponen itu memiliki risiko dan imbalan yang berbeda dengan risiko dan imbalan segmen lain.
PT. INDONESIA PRIMA PROPERTY Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI
30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL TERSEBUT (Lanjutan)
Segmen geografis adalah komponen perusahaan yang dapat dibedakan dalam menghasilkan produk atau jasa pada lingkungan (wilayah) ekonomi tertentu dan komponen itu memiliki risiko dan imbalan yang berbeda dengan risiko dan imbalan pada komponen yang beroperasi pada lingkungan (wilayah) ekonomi lain.
Aset dan kewajiban yang digunakan bersama dalam satu segmen atau lebih dialokasikan kepada setiap segmen jika, dan hanya jika, pendapatan dan beban yang terkait dengan aset tersebut juga dialokasikan kepada segmen-segmen tersebut.
3. KAS DAN SETARA KAS
2010 2009
Rp Rp
Kas
Rupiah 488,285,671 743,836,031
Dollar Singapura 7,007,850 8,613,247
Bank Rupiah
Bank Central Asia 7,539,579,789 2,667,895,872
Bank Mandiri 4,528,903,501 6,963,499,032
Bank Permata 1,858,902,848 2,267,015,435
Bank Danamon Indonesia 4,235,411,843 5,626,156,932
Bank Internasional Indonesia 626,485,033 277,982,990
Bank Ganesha 2,431,892,068 1,268,380,713
Lain-lain 2,032,052,369 1,980,947,269
Dollar Amerika Serikat
Bank Central Asia 2,774,760,316 329,112,934
Bank Danamon - 83,282,257
Lain-lain (masing-masing dibawah Rp 220 juta) 515,806,709 - Deposito berjangka
Rupiah
Bank Danamon 32,050,000,000 -
Bank Ganesha 2,358,160,000 300,000,000
Bank Niaga 5,000,000,000 -
Bank Internasional Indonesia 1,300,000,000 -
Dollar Amerika Serikat
Bank Internasional Indonesia 77,709,121 83,649,165
Jumlah 67,824,957,118 22,600,371,877
Tingkat bunga deposito berjangka per tahun
Rupiah 6% - 7% 8.5 - 8.75 %
Dollar Amerika Serikat 0.75% 0.75%
4. PAJAK DIBAYAR DIMUKA
2010 2009
Rp Rp
Pajak penghasilan 23 1,480,302,162 1,758,369,714
Pajak penghasilan - pasal 25 4,548,601,764 4,081,932,404
Pajak Bumi dan Bangunan 99,739,177
Pajak pertambahan nilai - bersih 171,691,280 220,119,798
Jumlah 6,200,595,206 6,160,161,093
5. ASET REAL ESTAT
2010 2009
Rp Rp
Tanah dan bangunan siap dijual
Puri Casablanca (Apartemen) 15,110,303,167 20,780,359,956
Bukit Tiara (Perumahan) 7,428,672,632 7,798,881,282
Tropik (Apartemen) 850,190,937 850,190,937
Jumlah 23,389,166,736 29,429,432,175
Tanah yang belum dikembangkan
Bukit Tiara (Perumahan) 248,146,196,620 227,605,008,325
Lebak Bulus 16,646,229,065
Lebak Bulus - Karang Tengah 13,474,083,265 13,474,083,265
Puri Casablanca (Apartemen) 9,524,011,354 9,524,011,354
Jumlah 271,144,291,239 267,249,332,009
Jumlah Aset Real Estat 294,533,457,975 296,678,764,184
Tanah perumahan Bukit Tiara yang belum dikembangkan merupakan tanah milik GMS , terletak di Desa Pasir Jaya, Tangerang.
Tanah Lebak Bulus yang belum dikembangkan merupakan tanah milik MBS seluas 14.020 m2 yang terletak di Lebak Bulus, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan. Tanah dijual di bulan Juni 2010.
Tanah Lebak Bulus - Karang Tengah yang belum dikembangkan merupakah tanah milik KMU seluas 13.732 m2, terletak di Kampung Lebak Bulus, Jakarta Selatan.
Tanah Puri Casablanca yang belum dikembangkan merupakan tanah milik AIL seluas 5.386 m2, terletak di proyek apartemen Puri Casablanca, Jakarta.
Sebagian aset real estat milik GMS digunakan sebagai jaminan hutang lain-lain pihak ketiga jangka panjang pada tanggal 30 September 2010 .
PT. INDONESIA PRIMA PROPERTY Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI
30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL TERSEBUT (Lanjutan)
Pada tanggal 30 September 2010 dan 2009, aset real estat, kecuali tanah, telah diasuransikan terhadap risiko kebakaran, bencana alam dan risiko lainnya kepada PT Asuransi Dayin Mitra Tbk, dengan jumlah pertanggungan masing-masing sebesar US$ 73.000.000 dan US$ 53.000.000.
Manajemen berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutupi kemungkinan kerugian atas aset yang dipertanggungkan.
6. INVESTASI SAHAM
Tempat Persentase
kedudukan pemilikan 2,010 2,009
% Rp
Metode biaya
PT Nusadua Graha International Jakarta 18.27 48,268,848,800 48,268,848,800
PT Agung Ometraco Muda Jakarta 0.52 890,000,000 890,000,000
Jumlah 49,158,848,800 49,158,848,800
PT Nusadua Graha International bergerak dalam bidang usaha jasa perhotelan (Westin Hotel) yang berlokasi di Nusa Dua, Bali.
7. WESEL BAYAR YANG SUDAH JATUH TEMPO
Merupakan wesel bayar yang diterbitkan oleh Perusahaan dan GMS kepada PT Gajah Tunggal Tbk, dengan rincian sebagai berikut:
2009 Rp
Rupiah 13,668,000,000
Dollar Amerika Serikat - US$ 7.671.000 74,262,951,000
Jumlah 87,930,951,000
Wesel bayar ini telah jatuh tempo sejak tanggal 30 Nopember 2000.
Berdasarkan surat Perjanjian Penyelesaian Hutang dari PT Gajah Tunggal Tbk (GT) tanggal 23 Desember 2009, wesel bayar dan biaya bunga yang masih harus dibayar dikonversi seluruhnya menjadi hutang dalam Rupiah sebesar Rp 113.412.000.000 dan dicatat sebagai hutang lain-lain kepada pihak ketiga
8. HUTANG LAIN-LAIN KEPADA PIHAK KETIGA
2010 2009
Rp Rp
PT Gajah Tunggal Tbk (GT) 113,412,000,000 -
Lainnya 6,430,054,912 8,432,907,937
Jumlah 119,842,054,912 8,432,907,937
Hutang kepada GT merupakan hutang milik Perusahaan dan GMS yang berasal dari konversi wesel bayar . Atas pinjaman ini tidak dikenakan bunga, tanpa jaminan dan jatuh tempo pada tanggal 30 Desember 2010.
9. HUTANG PAJAK
2010 2009
Rp Rp
Pajak penghasilan final 1,986,459,749 1,249,491,529
Pajak penghasilan:
Pasal 21 415,939,394 1,156,531,284
Pasal 23 611,318,032 137,703,774
Pasal 25 3,306,950,108
Pajak pembangunan 1 369,076,615 313,903,564
Pajak pertambahan nilai - bersih 1,386,141,291 582,487,507
Jumlah 8,075,885,189 3,440,117,658
10. HUTANG BANK JANGKA PANJANG
Merupakan pinjaman sindikasi anak perusahaan (GMMS) yang dikoordinasi oleh Bank Bira dengan jumlah maksimum sebesar US$ 14.000.000. Pinjaman ini sudah jatuh tempo pada tanggal 4 April 2002. Jaminan pinjaman adalah tanah dan bangunan Hotel Novotel serta Apartemen di jalan Ngagel No. 173 dan 175, Surabaya dan jaminan perusahaan.
Sejak Bank Bira menjadi Bank Beku Kegiatan Usaha (BBKU), GMMS melakukan negosiasi secara bilateral dengan masing-masing kreditur untuk penyelesaian pinjaman. Pinjaman yang belum diselesaikan pada tanggal neraca adalah sebagai berikut:
2010 2009
Rp Rp
Bank Pan Indonesia (US$ 2.800.000) 24,987,200,000 27,106,800,000 Top World Pacific Limited (US$ 933.367) 8,329,364,163 9,035,922,732
Jumlah 33,316,564,163 36,142,722,732
Tingkat suku bunga yang dikenakan adalah 10% per tahun.
PT. INDONESIA PRIMA PROPERTY Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI
30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL TERSEBUT (Lanjutan)
Hutang kepada Top World Pasific Limited merupakan hasil pengalihan dari anggota sindikasi lainnya (Bank Merincorp).
11. HUTANG LAIN-LAIN PIHAK KETIGA JANGKA PANJANG
2010 2009
Rp Rp
PT Bukit Baiduri Energi (BBE) 22,996,257,474 40,410,955,345
PT Ventura Investasi Utama (VIU) 5,000,000,000 15,000,000,000
PT Equity Finance Indonesia 17,200,000,000 17,200,000,000
Lainnya 2,806,979,671 2,806,979,671
Hutang lain-lain pihak ketiga jangka panjang - bersih 48,003,237,145 75,417,935,016
PT Bukit Baiduri Energi (BBE)
Hutang ini timbul sehubungan dengan pelunasan hutang bank milik anak perusahaan kepada Bank Pan Indonesia yang dilakukan oleh BBE, sehingga seluruh hutang beralih ke BBE.
Hutang BBE ini tidak dikenakan bunga, tanpa jaminan dan harus dilunasi selambatnya dalam jangka waktu 5 tahun terhitung sejak tanggal perjanjian 11 Agustus 2008.
PT Ventura Investasi Utama (VIU)
Merupakan hutang milik Perusahaan dengan tingkat bagi hasil sebesar 14% dan jatuh tempo tanggal 15 Mei 2011.
PT Equity Finance Indonesia (EFI)
Merupakan hutang milik anak Perusahaan dan jatuh tempo tanggal 28 April 2014. Fasilitas pinjaman ini dijamin dengan sebagian asset real estat.
12. MODAL SAHAM
Sesuai dengan daftar pemegang saham yang dikeluarkan oleh Biro Administrasi Efek Perusahaan (PT Datindo Entrycom), susunan pemegang saham Perusahaan adalah sebagai berikut:
13. AGIO SAHAM
Akun ini merupakan agio saham yang diperoleh dari penawaran umum saham Perusahaan pada tahun 1994.
14. LABA (RUGI) BERSIH PER SAHAM DASAR
Berikut ini adalah data yang digunakan sebagai dasar untuk perhitungan laba (rugi) bersih per saham dasar:
2010 2009
Rp Rp
Laba (rugi) bersih 40,705,450,296 44,294,338,626
Lembar Lembar
Jumlah rata-rata tertimbang saham beredar 1,745,000,000 1,745,000,000
Pada tanggal neraca, Perusahaan tidak memiliki efek yang berpotensi saham biasa yang dilutif.
15. IKATAN
a. Berdasarkan perjanjian Kerjasama Pembangunan/Peremajaan dan Pengembangan Terminal Blok M Jakarta tanggal 14 Mei 1990 antara Pemerintah DKI Jakarta dengan LAL dan Berita Acara Serah Terima atas Bangunan Terminal Blok M dan fasilitasnya antara Pemerintah DKI Jakarta dengan LAL, Pemerintah DKI Jakarta setuju untuk menyerahkan hak pengelolaan atas “Bangunan Terminal Blok M dan fasilitasnya” kepada LAL. Hak pengelolaan tersebut diberikan untuk jangka waktu 30 tahun sejak Berita Acara Serah Terima ditandatangani pada tanggal 5 Oktober 1992. Perjanjian kerjasama ini juga mencakup persyaratan tertentu dan risiko atas pelanggaran perjanjian.
b. GMMS melakukan perjanjian-perjanjian dengan pihak-pihak sebagai berikut:
Accor Asia Pacific Australia Pty. Ltd. (AAPC Australia Pty. Ltd.)
PT. INDONESIA PRIMA PROPERTY Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI
30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL TERSEBUT (Lanjutan)
Perjanjian mengenai “Tradename and Trademark Licence Agreement” atas penggunaan nama Novotel, dengan pembayaran jasa royalti sebesar 2,75% dari pendapatan hotel.
Pada tanggal 27 Nopember 1999, disetujui bahwa mulai 1 Januari 1999 pembayaran jasa royalti adalah sebesar 2,33% dari pendapatan hotel. Berdasarkan surat manajemen AAPC Australia Pty. Ltd., tertanggal 9 Pebruari 2000, seluruh kewajiban pembayaran jasa royalti tersebut telah dialihkan oleh AAPC Australia Pty. Ltd. kepada PT AAPC Indonesia.
PT AAPC Indonesia (AAPC)
Setiap 3 bulan, GMMS membayar kepada AAPC jasa pendukung pemasaran sebesar US$ 7 per kamar.
GMMS juga dalam tahap akhir penyelesaian perjanjian konsultasi manajemen dengan AAPC dimana AAPC akan menyediakan jasa manajemen untuk membantu pengoperasian hotel. Pada tanggal 27 Nopember 1999, tarif insentif disetujui sebagai berikut:
Bila laba kotor < 35% dari total pendapatan 5%
Bila laba kotor > 35% < 45% dari total pendapatan 6%
Bila laba kotor > 45% dari total pendapatan 7%
16. KONTINJENSI
a. Perkara AlL Melawan SW
Pada tahun 1999, terjadi perselisihan antara AlL dengan PT SAE-Waskita Karya (SW) yang disebabkan SW sebagai kontraktor utama yang ditunjuk Perusahaan untuk membangun apartemen Puri Casablanca yang terletak di JI. Casablanca kav 7, Jakarta tidak dapat menyelesaikan proyek pada waktu yang ditetapkan.
Pemeriksaan arbitrase mengenai perkara ini tidak dapat dilaksanakan karena terjadi ketidaksependapatan mengenai panel arbitrase yang berhak memeriksa perkara sehingga terjadi saling gugat antara AlL dengan SW di pengadilan untuk menetapkan panel arbitrase yang sah untuk memeriksa perkara tersebut.
Pada tanggal 2 Pebruari 2000 Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengeluarkan surat penetapan No. 14/Pdt.P/2000/PN.Jak-Sel yang memenangkan panel arbitrase pilihan AlL dan SW. Namun demikian, arbitrase tunggal bentukan SW telah mengambil putusan yang mengharuskan AlL untuk membayar ganti rugi kepada SW sebesar Rp 61 miliar berikut biaya bunganya dan putusan ini didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan No. 06/Eks.Arb/2000/PN.Jak.Sel. AlL melakukan perlawanan hukum atas putusan arbitase tunggal tersebut dan pada tanggal 23 Maret 2001, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengeluarkan putusan No. 282/Pdt.G/2000/PN.Jak.Sel yang memenangkan AlL. Putusan arbitrase tunggal bentukan SW tersebut di atas dianggap cacat hukum karena merupakan arbiter tunggal yang ditetapkan tanpa persetujuan Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Pengadilan Tinggi menguatkan keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang dibatalkan pada tingkat kasasi. Sampai tanggal diterbitkannya laporan keuangan, perkara ini masih dalam proses peninjauan kembali di Mahkamah Agung.
Pada tahun 2004, AlL mengajukan gugatan perdata terhadap SW. Menurut AlL, pihak SW telah melakukan perbuatan melanggar hukum dengan mengangkat arbiter tunggal, yang dilakukan tanpa persetujuan Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan tidak sesuai dengan surat penetapan No. 14/Pdt.P/2000/PN.Jak-Sel tanggal 2 Pebruari 2000, yang dikeluarkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. AlL juga menuntut ganti rugi sebesar jumlah sama dengan putusan arbiter tunggal di atas, ditambah kerugian immaterial dan kerugian lainnya sejumlah Rp 122 miliar.
Pada tanggal 3 Pebruari 2005 dikeluarkan surat penetapan No. 832/Pdt.G/2004/PN.Jak- Sel selanjutnya PN Jak-Sel dengan Putusannya tanggal 2 Agustus 2005 telah memenangkan
gugatan AIL, kecuali untuk jumlah kerugian immaterial dan lainnya, yang hanya disetujui Rp 5 miliar. Selanjutnya pada tanggal 25 Agustus 2006, Pengadilan Tinggi dengan Putusannya No. 183/Pdt/2006/PT.DKI menguatkan keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan kecuali untuk jumlah kerugian immaterial dan lainnya, yang hanya disetujui sebesar Rp 3 miliar.
Berdasarkan Putusan Kasasi yang diterima AIL pada tanggal 31 Maret 2009 bahwa permohonan kasasi pihak SW ditolak oleh Mahkamah Agung.
Sampai tanggal diterbitkannya laporan keuangan, perkara ini masih dalam proses peninjauan kembali di Mahkamah Agung.
b. Perkara Perdata Melawan BNP – LIPPO
Perkara perdata ini merupakan akibat SW tidak menyelesaikan proyek dengan tepat waktu (butir a), dimana BNP – LIPPO merupakan penjamin atas pelaksanaan proyek milik AIL dengan memberikan Surat Jaminan (Performance Bond) No. BG/0049/SC/94 senilai Rp 14.620.139.302 pada tanggal 25 Nopember 1994.
Karena ketidakmampuan SW untuk menyelesaikan proyek tersebut dengan tepat waktu, AIL melakukan klaim atas pencairan surat jaminan tersebut, tetapi pihak BNP-LIPPO menolak untuk mencairkan jaminan sehingga akhirnya AIL melalui kuasa hukumnya, Yan Apul, S.H., mengajukan gugat perdata mengenai wanprestasi kepada BNP-LIPPO dan meminta agar BNP-LIPPO membayar kerugian kepada AIL.
Pengadilan Negeri memutuskan bahwa mereka tidak berwenang mengadili perkara tersebut tetapi Pengadilan Tinggi menetapkan bahwa Pengadilan Negeri berwenang mengadili perkara tersebut.
Pada tanggal 9 Maret 2004 telah diterima putusan kasasi dari Mahkamah Agung tertanggal 31 Juli 2003 yang menyatakan menguatkan putusan Pengadilan Tinggi, berarti Pengadilan Negeri harus mengadili sengketa ini.
Sampai tanggal diterbitkannya laporan keuangan, Keputusan Mahkamah Agung tersebut belum disampaikan kepada pihak-pihak yang berkaitan dengan perkara ini sehingga persidangan belum dapat dimulai.
17. PENGARUH KRISIS KEUANGAN GLOBAL TERHADAP PERUSAHAAN
Pasar modal dan keuangan global mengalami krisis yang signifikan dan berfluktuasi. Perusahaan tidak dapat meningkatkan harga sewa di pusat perbelanjaan dan perkantoran meskipun tingkat hunian diharapkan tetap stabil. Perusahaan dan anak perusahaan juga menunda pengembangan kegiatan dalam bidang real estate.
Namun demikian, stabilnya penerimaan kas dari pusat perbelanjaan dan perkantoran yang telah memiliki kontrak sewa jangka panjang dan perhotelan yang memiliki tingkat hunian relatif stabil, merupakan sumber keuangan yang cukup untuk memenuhi komitmen pengeluaran modal dan penyelesaian kewajibannya.
Untuk mengatasi hal tersebut manajemen Perusahaan dan anak perusahaan mengambil langkah- langkah sebagai berikut:
1. Melakukan efisiensi di semua bidang.
2. Tetap mempertahankan lokasi perkantoran, apartemen maupun pusat perbelanjaan yang dimiliki dalam keadaan baik dan melakukan perencanaan agar Perusahaan dan anak perusahaan dapat melanjutkan proyek serta memasarkan produk.
3. Membuat kebijaksanaan yang membantu para penyewa dan tamu hotel agar Perusahaan dan anak perusahaan dapat terus menjalankan kegiatan usahanya seperti antara lain memberikan kurs dollar yang terjangkau (untuk pusat perbelanjaan, perkantoran dan hotel).
4. Mengelola arus kas dengan baik.
PT. INDONESIA PRIMA PROPERTY Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI
30 SEPTEMBER 2010 DAN 2009 SERTA UNTUK TAHUN-TAHUN YANG BERAKHIR PADA TANGGAL TERSEBUT (Lanjutan)
5. Melakukan program pemasaran yang lebih menarik untuk menjaga tingkat hunian tetap terisi penuh (untuk pusat perbelanjaan, perkantoran dan hotel).
6. Melakukan negosiasi dengan kreditur untuk melakukan restrukturisasi sisa pinjaman.
7. Mengembangkan investasi pada perusahaan properti yang berprospek baik dalam rangka menunjang pengembangan Perusahaan jangka menengah dan jangka panjang.