• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Pengaruh Profitabilitas, Growth, Leverage, dan Komite Audit terhadap Manajemen Laba Perusahaan Sektor Perbankan yang terdaftar di BEI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Analisis Pengaruh Profitabilitas, Growth, Leverage, dan Komite Audit terhadap Manajemen Laba Perusahaan Sektor Perbankan yang terdaftar di BEI"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

127

Analisis Pengaruh Profitabilitas, Growth, Leverage, dan Komite Audit terhadap Manajemen Laba Perusahaan Sektor Perbankan yang terdaftar di BEI

Rohmat Galang Chaniago1

Jl. Ahmad Yani, Pabelan, Kartasura, Surakarta, Universitas Muhammadiyah Surakarta [email protected]

Rina Trisnawati2

Jl. Ahmad Yani, Pabelan, Kartasura, Surakarta, Universitas Muhammadiyah Surakarta [email protected]

ABSTRAK

Manajemen laba adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh perusahaan dengan memilih k ebijak an ak untansi tertentu, sehingga laba dapat meningk at atau menurun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah profitabilitas, pertumbuhan, leverage, dan komite audit b erpengaruh terhadap manajemen laba. Populasi penelitian ini adalah seluruh perusahaan sektor perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2017-2019. Sampel penelitian diperoleh dengan menggunakan tek nik purposive sampling, dimana terdapat 44 perusahaan perbankan yang memenuhi semua kriteria, sehingga diperoleh 132 data yang k emudian outlier menjadi 129 data sebagai sampel penelitian.

Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari website BEI. Jenis penelitian kuantitatif. Alat analisis yang digunakan adalah SPSS versi 21 dengan pengujian regresi linier berganda. Variabel manajemen laba diprok sik an dengan ak rual disk resioner. Hasil analisis penelitian menunjuk k an bahwa profitabilitas dan pertumbuhan berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba, sedangkan leverage dan k omite audit tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.

Kata kunci : pertumbuhan; komite audit; manfaat; manajemen laba; profitabilitas

PENDAHULUAN

Tujuan utama perusahaan untuk jangka panjang adalah memaksimalkan nilai perusahaan. Nilai perusahaan yang tinggi akan menggambarkan kesejahteraan perusahaan tersebut. Laporan keuangan dapat menggambarkan nilai dan kesejahteraan perusahaan.

Menurut Wiyadi, dkk. (2017) Laporan keuangan digunakan sebagai penyalur informasi yang bermanfaat bagi perusahaan dan pemilik modal. Informasi material yang ada dalam laporan keuangan sangat penting bagi pihak internal maupun eksternal perusahaan. Bagi pihak eskternal, laporan laba bisa menjadi rujukan untuk mereka melakukan rencana investasi dan dapat digunakan untuk menganalisis kemampuan perusahaan menghasilkan laba pada periode tertentu. Dalam praktiknya perusahaan sering kali melakukan manipulasi-manipulasi dalam informasi labanya untuk meningkatkan nilai perusahaan. Sering kali perusahaan melakukan manajemen laba. Manajemen laba adalah tindakan yang dilakukan perusahaan dengan cara memilih kebijakan akuntansi tertentu, sehingga laba dapat dinaikkan atau diturunkan sesuai keiinginan (Yanti, 2018). Manajemen laba dilakukan oleh manajer di akhir periode ketika sudah mengetahui besar laba sebelum di rekayasa, sehingga manajer dapat mengambil keputusan berapa besar manipulasi laba akrual yang akan dilakukan. Terdapat berbagai metode untuk melakukan manajemen laba, salah satunya adalah akrual diskresioner (disrectionary accrual). Menurut Astuti (2010) dalam Muhammadinah (2016) akrual diskresioner atau discretionary accruals adalah mengendalikan transaksi akrual sehingga menghasilkan laba yang terlihat tinggi. Kebijakan ini tidak mempengaruhi aliran kas, tetapi

(2)

128 hanya mempengaruhi kebijakan-kebijakan akuntansi yang akan digunakan manajer dalam memanipulasi laba. Akrual diskresioner merupakan komponen akrual hasil rekayasa petinggi perusahaan dengan memanfaatkan kebebasan dari keleluasaan dalam estimasi dan pemakaian standar akuntansi (Sulistyanto, 2008). Praktik manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan, banyak faktor yang mempengaruhi manajemen laba, salah satunya adalah profitabilitas. Kemampuan perusahaan menghasilkan laba disebut dengan profitabilitas.

Menurut Herni dan Susanto (2011) dalam Muhammadinah (2016) profitabilitas akan menjadi acuan jangka panjang bagi pemegang saham (investor) karena untuk mengukur seberapa dividen yang akan mereka terima. Perusahaan dengan profitabilitas tinggi jarang melakukan praktik manajemen laba tetapi perusahaan dengan profitabilitas rendah biasanya akan melakukan perataan laba agar laporan laba terlihat baik sehingga menarik para inve stor.

Perataan laba itu merupakan bagian dari manajemen laba. Manajer cenderung melakukan perataan laba karena dengan laba yang rendah atau bahkan menderita kerugian, akan memperburuk kinerja manajer di hadapan pemilik perusahaan dan nantinya akan memperburuk citra perusahaan di mata publik (Rahayu, 2018). Penelitian Muhammadinah (2016) menyimpulkan bahwa profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Hal sebaliknya ditunjukkan oleh Rahayu (2018) bahwa profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba, dengan penjelasan bahwa perusahaan yang menghasilkan profitabilitas tinggi cenderung melakukan manajemen laba.

Growth (pertumbuhan aset perusahaan) juga dapat menjadi salah satu indikator dilakukannya manajemen laba. Jika growth meningkat biasanya investor akan lebih tertarik untuk menanamkan dananya pada perusahaan tersebut sebaliknya jika growth menurun investor akan melihat laporan lain sebagai pertimbangan investasi mereka. Karena pertumbuhan aset (growth) mencerminkan bahwa perusahaan mempunyai jaminan untuk membayar hutangnya kepada pihak ketiga atau investor (Annisa dan Hapsoro, 2017). Tidak hanya itu, sejalan dengan peningkatan laba perusahaan berkewajiban membayar pajak sesuai dengan laba yang diperolehnya. Menurut Sulistyanto (2011) dalam Muhammadinah (2016) perusahaan meminimalisir pajak yang harus dibayar, sehingga manajer melakukan pengelolaan agar laba yang dilaporkan lebih rendah dari laba sesungguhnya. Penelitian yang dilakukan Annisa dan Hapsoro (2017) menyimpulkan bahwa growth berpengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen laba. Hasil yang berbeda diberikan oleh Pangesti (2019) bahwa growth tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.Faktor lain yang mempengaruhi manajemen laba adalah leverage. Leverage adalah kondisi dimana tingkat hutang yang dimiliki perusahaan lebih tinggi daripada aset yang dimiliki. Menurut Muhammadinah (2016) leverage atau risiko keuangan adalah sejauh mana aktiva yang dimiliki perusahaan dibiayai oleh hutang. Keadaan ini akan mendorong manajer untuk melakukan manajemen laba supaya laporan keuangannya terlihat baik. Menurut Saptantinah (2005) dalam Yanti dan Setiawan (2019) perusahaan yang leveragenya tinggi berarti proporsi hutang yang dimiliki lebih tinggi dibanding aktiva yang dimiliki sehingga cenderung akan melakukan manipulasi untuk menghindari perjanjian hutang. Untuk menghindari kerugian biasanya investor akan memilih perusahaan dengan leverage yang rendah. Dalam hal ini penelitian yang dilakukan Yanti dan Setiawan (2019) menyatakan bahwa leverage berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Hal sebaliknya diungkapkan oleh Annisa dan Hapsoro (2017) bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap manajemen laba.

Faktor berikutnya yang dapat mempengaruhi manajemen laba adalah komite audit.

Komponen komite audit yang dapat mempengaruhi manajemen laba antara lain ukuran dan frekuensi pertemuan komite audit. Semakin banyak jumlah komite audit dan semakin sering frekuensi pertemuan/rapat dalam komite audit diharapkan akan mengurangi resiko

(3)

129 manajemen laba yang dilakukan manajer. Alves (2013) dalam Lestari dan Kusumadewi (2019) mendefiniskan komite audit adalah komite yang dibentuk oleh dewan komisaris dan juga bertanggung jawab untuk memberikan pengawasan terhadap laporan keuangan yang disusun oleh manajemen, kualitas auditor eksternal, sistem pengendalian internal dan manajemen resiko dalam sebuah perusahaan. Dalam hal itu komite audit harus mampu menjaga kredibilitas laporan keuangan yang dikeluarkan perusahaan. Dengan adanya komite audit diharapkan mampu memaksimalkan pengawasan pada laporan keuangan dan memperkecil praktik manajemen laba Sari dan Purwanto (2019). Penelitian yang dilakukan Lestari dan Kusumadewi (2019), Sari dan Purwanto (2018) komite audit tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Hal sebaliknya diungkapkan oleh Yanti (2018) menyimpulkan bahwa komite audit yakni ukuran dan jumlah pertemuan/rapat komite audit berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah profitabilitas berpengaruh terhadap manajemen laba?; apakah growth berpengaruh terhadap manajemen laba?; apakah leverage berpengaruh terhadap manajemen laba?; apakah komite audit berpengaruh terhadap manajemen laba?. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji dan menganalisis pengaruh profitabilitas terhadap manajemen laba;

untuk menguji dan menganalisis pengaruh growth terhadap manajemen laba; untuk menguji dan menganalisis pengaruh leverage terhadap manajemen laba; untuk menguji dan menganalisis pengaruh komite audit terhadap manajemen laba.

KAJIAN TEORI

Teori Keagenan (Agency Theory)

Menurut Jansen dan Meckling (1976) hubungan keagenan adalah sebuah kontrak antara manajer (agent) dengan investor (principal). Principal bertindak sebagai investor atau pemilik perusahaan. Sedangkan manajer adalah tenaga profesional yang ditunjuk oleh investor atau pemilik perusahaan dan diberi tugas untuk mengelola perusahaan (Pangesti, 2019). Sesuai dengan kontrak tersebut investor menyerahkan wewenang pengambilan keputusan kepada manajemen (agent). Artinya manajer mempunyai informasi lebih dibandingkan investor. Adanya teori keagenan ini menjadikan manajemen akan selalu bertindak sesuai dengan kepentingan investor. Tetapi tidak menutup kemungkinan terjadi perbedaan kepentingan antara manajemen dengan investor. Konflik yang terjadi biasanya adalah investor yang ingin memaksimalkan keuntungan dengan dikelolanya perusahaan oleh tenaga profesional (manajer) sedangkan manajer yang ingin meningkatkan kesejahteraannya.

Sejalan dengan pernyataan Yanti (2018) konflik kepentingan antara prinsipal dan agen terjadi karena kemungkinan agen tidak selalu berbuat sesuai dengan keinginan prinsipal, sehingga menimbulkan biaya keagenan (agency cost). Dengan adanya masalah keagenan ini manajemen cenderung melakukan manajemen laba. Manajer melakukan manajemen laba dengan cara memilih metode akuntansi yang sesuai tetapi tidak menyimpang dari Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang berlaku. Apabila dihubungkan manajemen laba dengan asumsi sifat dasar manusia tersebut dapat disimpulkan bahwa manajer sebagai manusia akan bertindak mementingkan diri sendiri dan melakukan berbagai hal untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Manajemen Laba

Tujuan utama perusahaan adalah menghasilkan laba semaksimal mungkin sehingga nilai perusahaan meningkat. Nilai perusahaan dapat dilihat dari laporan keuangan khususnya laporan laba rugi yang dilaporkan perusahaan. Laba perusahaan yang tinggi akan menarik minat investor menanamkan modalnya, sebaliknya apabila laba yang dihasilkan rendah

(4)

130 investor cenderung enggan untuk melakukan investasi. Hal ini yang menyebabkan manajer cenderung melakukan praktik manajemen laba. Menurut Schipper (1989) dalam Astari dan Suryanawa (2017) Manajemen laba merupakan sebuah tindakan dimana manajemen melakukan intervensi dalam proses penyusunan laporan keuangan bagi pihak eksternal sehingga dapat meratakan, menaikkan, dan menurunkan laba. Manajemen laba biasanya dilakukan di akhir periode setelah laba perusahaan diketahui sebelum di rekayasa, sehingga dapat ditentukan seberapa besar manipulasi laba akrual yang akan ditentukan. Manajemen laba juga dapat di definisikan sebagai pemilihan kebijakan akuntansi tertentu oleh manajer untuk mencapai tujuan tertentu (Scott, 2010 dalam Muhammadinah (2016). Kebijakan akuntansi yang dapat dilakukan oleh manajer berhubungan dengan metode dalam melakukan manajeman laba salah satunya adalah discretionary accruals. Metode ini dilakukan dengan cara mengendalikan transaksi akrual sehingga laba terlihat tinggi. Kebijakan ini tidak mempengaruhi aliran kas, tetapi hanya mempengaruhi kebijakan akuntansi yang akan digunakan manajer dalam memanipulasi laba.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wiyadi, dkk. (2019) manajemen laba adalah perilaku manajer untuk bermain dengan komponen discretionary accruals dalam menentukan besarnya laba. Praktik manajemen laba yang dilakukan perusahaan dapat menurunkan kualitas dan kredibilitas laporan keuangan bagi pengguna laporan keuangan, hal ini akan mengakibatkan berkurangnya kepercayaan investor terhadap keandalan informasi keuangan yang diterbitkan oleh perusahaan (Uygur, 2013 dalam Wirayana dan Sudana (2019). Praktik manajemen laba sebenarnya masih menjadi perdebatan.

Menurut Arthawan dan Wirasedana (2018) Manajemen laba berada di grey area antara sebuah kecurangan dan merupakan aktivitas yang diijinkan oleh prinsip akuntansi.

Profitabilitas

Tujuan utama perusahaan adalah menghasilkan profitabilitas atau laba. Profitabilitas diduga mempengaruhi manajemen laba karena perhatian investor yang besar pada tingkat profitabilitas perusahaan dapat mendorong manajer untuk melakukan manajemen laba (Rahayu, 2018). Semakin rendah laba yang diperoleh maka perusahaan cenderung melakukan manajemen laba untuk menarik para investor menyetorkan modalnya ke perusahaan.

Profitabilitas akan menjadi acuan jangka panjang bagi investor karena menyangkut tingkat pengembalian yang mereka harapkan pada periode tertentu. Dimata publik perusahaan yang mempunyai rasio profitabilitas tinggi juga akan terlihat baik dibandingkan yang rendah.

Semakin tinggi nilai ROA (Return on Assets) berarti penggunaan aktiva perusahaan semakin baik untuk menghasilkan laba. Laba perusahaan juga berhubungan dengan pajak yang dibayarkan, semakin tinggi laba maka semakin tinggi pula pajak yang dibayar hal ini memotivasi manajer untuk meminimalisir laba sehingga berpengaruh pada pembayaran pajak.

Growth

Menurut Annisa dan Hapsoro (2017) pertumbuhan perusahaan (growth) merupakan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan usahanya yang dihitung berdasarkan perubahan tingkat pertumbuhan tahunan perusahaan dari aset total. Growth dapat menjadi salah satu hal yang mempengaruhi manajemen laba. Pertumbuhan aset menandakan bahwa aset yang dimiliki perusahaan setiap periode bertambah dan jaminan perusahaan untuk membayar hutang kepada pihak ketiga atau investor meningkat. Peningkatan pertumbuhan perusahaan akan diikuti dengan peningkatan laba yang dilaporkan (Muhammadinah, 2016).

Untuk meminimalisir pajak yang dibayarkan manajer akan melakukan pengelolaan laba dengan manajemen laba. Disisi lain perusahaan sangat membutuhkan aset dan perusahaan

(5)

131 yang ingin berkembang membutuhkan dana pendukung yang substantial guna menjaga laporan neracanya terlihat baik. Dana perusahaan dapat berasal dari dana internal maupun eksternal. Sehingga praktik manajemen laba diharapkan mampu untuk meminimalisir kerugian perusahaan.

Leverage

Rasio leverage merupakan seberapa besar aset dibiayai oleh hutang. Menurut penelitian Agustia dan Suryani (2018) Perusahaan yang asetnya banyak dibiayai oleh hutang cenderung melakukan manajemen laba untuk mengurangi beban bunga, karena leverage berbanding lurus dengan beban bunga. Semakin besar rasio leverage berarti semakin tinggi hutang yang dimiliki perusahaan. Pendanaan eksternal (hutang) berasal dari dana yang diberikan oleh kreditur. Tingkat hutang yang tinggi mengindikasikan resiko perusahaan juga tinggi sehingga kreditur akan melihat resiko perusahaan tersebut untuk menilai apakah perusahaan mampu melunasi perjanjian hutangnya dikemudian hari. Maka tekanan bagi perusahaan akan meningkat. Hal ini yang memicu manajer untuk melakukan manajemen laba menghindari pelanggaran perjanjian hutang.

Komite Audit

Komite audit merupakan komponen penting dalam penerapan corporate governance.

Menurut Wiyadi, dkk. (2019) komite audit adalah komite yang dibentuk oleh dewan komisaris untuk melakukan tugas pengawasan manajemen perusahaan. Komite audit menjadi hal penting dalam perusahaan. Dalam hal ini komite audit sebagai penghubung antara pemegang saham dan dewan komisaris terhadap manajemen. Pengawasan yang dilakukan terhadap manajemen adalah agar manajemen tidak bertindak merugikan pemilik perusahaan.

Hal yang juga diawasi adalah dalam proses pelaporan keuangan agar laporan keuangan semakin meningkat kredibilitas serta tranparansinya. Diharapkan dengan adanya komite audit akan memperkecil praktik-praktik manajemen laba yang dilakukan manajemen guna memperkaya diri sendiri. Pembentukan komite audit juga diatur dalam Peraturan Bapepam- LK No.IX.I.5 yang mengatur pembentukan dan pedoman pelaksanaan kerja Komite Audit, dimana setiap perusahaan publik wajib membentuk komite audit dengan anggota minimal 3 (tiga) orang yang diketuai satu orang komisaris independen dan 2 (dua) orang dari luar perusahaan yang independen terhadap perusahaan (Janartha dan Suprasto, 2016).

Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu yang berkaitan dengan pengaruh profitabilitas, growth, leverage, dan komite audit terhadap manajemen laba telah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya yang menunjukkan hasil berbeda-beda. Penelitian Muhammadinah (2016) menyimpulkan bahwa profitabilitas tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Hal sebaliknya ditunjukkan oleh Rahayu (2018) bahwa profitabilitas berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba, dengan penjelasan bahwa perusahaan yang menghasilkan profitabilitas tinggi cenderung melakukan manajemen laba. Penelitian yang dilakukan Annisa dan Hapsoro (2017) menyimpulkan bahwa growth berpengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen laba. Hasil yang berbeda diberikan oleh Pangesti (2019) bahwa growth tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Penelitian yang dilakukan Yanti dan Setiawan (2019) menyatakan bahwa leverage berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Hal sebaliknya diungkapkan oleh Annisa dan Hapsoro (2017) bahwa leverage tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Penelitian yang dilakukan Lestari dan Kusumadewi (2019), Sari dan Purwanto (2018) komite audit tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba. Hal sebaliknya diungkapkan oleh Yanti (2018) menyimpulkan bahwa komite audit yakni ukuran

(6)

132 dan jumlah pertemuan/rapat komite audit berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, maka dapat ditarik hipotesis dibawah ini :

Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dalam satu periode. Hal ini berarti seberapa maksimal perusahaan menggunakan aktiva yang dimiliki kemudian digunakan untuk menghasilkan laba dari aktivitas operasi perusahaan. Semakin meningkat laba yang dihasilkan maka semakin baik kinerja perusahaan. Investor akan tertarik menanamkan modal pada perusahaan yang memiliki tingkat profitabilitas tinggi. Menurut Herni dan Susanto (2011) dalam Muhammadinah (2016) profitabilitas akan menjadi acuan jangka panjang bagi pemegang saham (investor) karena untuk mengukur seberapa dividen yang akan mereka terima. Perusahaan dengan profitabilitas tinggi jarang melakukan praktik manajemen laba, tetapi perusahaan dengan profitabilitas rendah biasanya akan melakukan manajemen laba. Karena rasio profitabilitas yang rendah akan berpengaruh pada kinerja internal perusahaan dimata publik dan bagi pihak eksternal yaitu investor. Bagi pihak eksternal laba menjadi hal yang penting untuk mempengaruhi keputusannya dalam menanamkan modal. Hal ini memotivasi manajer untuk melakukan manajemen laba. Manajer melakukan manajemen laba dengan harapan laba terlihat stabil dan baik tidak mengalami fluktuatif yang tinggi. Dengan rasio profitabilitas yang rendah maka manajer cenderung melakukan perataan laba. Perataan laba bisa dilakukan ketika laba terlihat terlalu tinggi dan bisa juga dilakukan pada saat laba terlihat terlalu rendah. Perataan laba merupakan bagian dari manajemen laba. Manajer cenderung melakukan perataan laba karena dengan laba yang rendah atau bahkan menderita kerugian, akan memperburuk kinerja manajer di hadapan pemilik perusahaan dan nantinya akan memperburuk citra perusahaan di mata publik (Rahayu, 2018). Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Astari dan Suryanawa (2017) profitabilitas berpengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen laba. Hal ini membuktikan bahwa rasio profitabilitas tinggi akan meningkatkan motivasi manajer melakukan manajemen laba. Sehingga dapat disimpulkan hipotesis sebagai berikut :

H1 : Profitabilitas berpengaruh terhadap Manajemen Laba

Growth merupakan pertumbuhan perusahaan dari periode tertentu terhadap periode sebelumnya. Pertumbuhan yang dimaksud adalah pertumbuhan aset. Aset perusahaan merupakan hal yang penting bagi perusahaan. Kemampuan perusahaan meningkatkan aset dapat dilakukan dengan memperbanyak aktivitas operasi dan investasi. Aset yang tinggi mengindikasikan bahwa perusahaan sedang dalam keadaan baik tetapi jika aset perusahaan rendah perusahaan terancam akan kekurangan dana dalam aktivitas operasi dan investasinya.

Menurut Joni dan Lina (2010) dalam Pangesti (2019) pertumbuhan perusahaan pada dasarnya menggambarkan bagaimana perusahaan menginvestasikan dana yang ia miliki untuk kegiatan operasi dan investasi. Aset perusahaan terdiri dari aset lancar dan aset tidak lancar.

Perusahaan yang sedang berkembang dan membutuhkan aset akan membutuhkan dana, dana tersebut dapat melalui pendanaan internal maupun eksternal. Menurut Pangesti (2019) peningkatan jumlah aset, baik aset lancar maupun aset jangka panjang membutuhkan dana, dengan alternatif pendanaan internal atau dengan pendanaan eksternal. Pendanaan eksternal berasal dari modal yang disetor oleh investor atau pembelian saham beredar. Growth (pertumbuhan aset perusahaan) dapat menjadi salah satu indikator dilakukannya manajemen laba. Jika growth meningkat biasanya investor akan lebih tertarik untuk menanamkan dananya pada perusahaan tersebut, sebaliknya jika growth menurun investor akan lebih berhati-hati. Growth berpengaruh terhadap tingkat pengembalian yang diterima oleh investor serta jaminan perusahaan dalam membayar hutang. Pertumbuhan aset (growth) mencerminkan bahwa perusahaan mempunyai jaminan untuk membayar hutangnya kepada

(7)

133 pihak ketiga atau investor (Annisa dan Hapsoro, 2017). Sehingga apabila aset tinggi investor akan lebih percaya. Hal ini dapat memotivasi manajer untuk melakukan manajemen laba untuk mendapatkan pendanaan.

Apabila growth rendah maka investor akan melihat laporan lain sebagai pertimbangan investasi mereka. Jika perusahaan memiliki aset yang rendah, maka investor juga dapat melihat dari sisi lain yaitu laba (Annisa dan Hapsoro, 2017). Laba atau profitabilitas yang tinggi mengindikasikan bahwa perusahaan mampu memaksimalkan penggunaan aktiva yang dimiliki. Tetapi pertumbuhan laba yang terlalu tinggi juga akan mengundang kecurigaan bagi regulator maupun pihak lain dan akan berdampak pada tuntunan perusahaan yang tinggi serta kecurigaan regulator. Hal ini juga akan memotivasi manajer untuk melakukan manajemen laba. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Annisa dan Hapsoro (2017) Growth berpengaruh positif terhadap manajemen laba. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan yang mengalami pertumbuhan memiliki kecenderungan untuk menaikkan laba dengan tujuan untuk menarik perhatian investor agar tetap menginvestasikan dananya pada perusahaan.

Sehingga dapat disimpulkan hipotesis sebagai berikut : H2 : Growth berpengaruh terhadap Manajemen Laba

Leverage merupakan jumlah hutang yang digunakan untuk membiayai aset perusahaan.

Menurut Kusumawardana dan Haryanto (2019) tingkat leverage menunjukkan besarnya aktiva (aset) yang dimiliki oleh perusahaan dibiayai dengan hutang. Untuk menambah modal, perusahaan akan membuat perjanjian hutang dengan kreditur. Kreditur dalam hal ini adalah pemegang saham (investor). Leverage digunakan untuk meningkatkan keuntungan sehingga keuntungan yang diperoleh lebih dari biaya aset dan sumber dananya. Hal ini dapat meningkatkan keuntungan bagi kreditur. Leverage juga dapat dijadikan indikasi meningkatkan risiko keuntungan. Apabila keutungan lebih rendah dari biaya tetapnya maka keuntungan kreditur selaku pemberi pinjaman akan menurun (Agustia dan Suryani, 2018).

Leverage dapat menjadi tolok ukur dalam praktik manajemen laba. Ketika leverage tinggi maka perusahaan akan melakukan manajemen laba untuk menunjukkan pada publik dan pasar bahwa perusahaan mempunyai kinerja yang baik, padahal tingkat hutang yang dimiliki tinggi. Leverage yang tinggi mengakibatkan tekanan dan resiko perusahaan juga meningkat.

Menurut Saptantinah (2005) dalam Yanti dan Setiawan (2019) perusahaan yang leveragenya tinggi berarti proporsi hutang yang dimiliki lebih tinggi dibanding aktiva yang dimiliki sehingga cenderung akan melakukan manipulasi untuk menghindari perjanjian hutang.

Perusahaan membutuhkan dana untuk kegiatan operasinya dan pengadaan aktiva, sehingga perusahaan akan melakukan peminjaman dana atau hutang kepada kreditur. Terdapat beberapa pertimbangan yang akan dilakukan kreditur untuk pemberian modal tersebut. Salah satu hal yang dilakukan adalah melihat record perjanjian hutang yang sebelumnya yang dilakukan perusahaan. Apabila perusahaan mempunyai hutang yang tinggi maka akan beresiko bagi kreditur. Karena akan berdampak pada kemampuan pengembalian dana yang dipinjam oleh perusahaan. Untuk menghindari kerugian biasanya investor akan memilih perusahaan dengan leverage yang rendah. Keadaan ini akan mendorong manajer untuk melakukan manajemen laba supaya keadaan keuangan dalam laporan keuangannya terlihat baik. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Agustia dan Suryani (2018) bahwa leverage berpengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen laba. Leverage yang tinggi akan mempengaruhi minat investor dalam menanamkan modalnya. Hal yang sama juga disampaikan Astari dan Suryanawa (2017) leverage berpengaruh positif dan signifikan terhadap manajemen laba Sehingga dapat disimpulkan hipotesis sebagai berikut :

H3 : Leverage berpengaruh terhadap Manajemen Laba.

(8)

134 Komite audit merupakan komite yang penting bagi perusahaan. Menurut Alves (2013) dalam Lestari dan Kusumadewi (2019) mendefinisikan komite audit adalah komite yang dibentuk oleh dewan komisaris dan juga bertanggung jawab untuk memberikan pengawasan terhadap laporan keuangan yang disusun oleh manajemen, kualitas auditor eksternal, sistem pengendalian internal dan manajemen resiko dalam sebuah perusahaan. Komite audit juga bertujuan untuk mengawasi manajemen dalam melaksanakan tugas agar tidak merugikan pemilik perusahaan. Menurut Yanti (2018) komite audit merupakan salah satu unsur kelembagaan dalam konsep Good Corporate Governance yang diharapkan mampu memberikan kontribusi tinggi dalam level penerapannya. Komite audit adalah pengawas dalam hal kredibiltas laporan keuangan yang ditunjuk oleh dewan direksi dan praktik manajemen laba. Manajer akan cenderung berlaku mementingkan diri sendiri untuk meningkatkan kesejahteraannya. Hal ini menjadi salah satu tujuan utama dibentuknya komite audit yaitu untuk meminimalisir manajemen laba yang dilakukan manajer. Komponen komite audit yang dapat mempengaruhi pengawasan manajemen laba antara lain ukuran komite audit. Ukuran komite audit adalah jumlah anggota yang dibentuk oleh dewan komisaris untuk membantu mengelola dan mengawasi pelaksanaan operasional perusahaan.

Menurut Peraturan BAPEPAM nomor IX.1.5. jumlah anggota komite audit sekurang- kurangnya adalah tiga orang yang merupakan perwakilan dari pemegang saham, manajemen dan pihak independen. Semakin banyak anggota komite audit diharapkan akan meningkatkan monitoring praktik manajemen laba. Sejalan dengan penelitian Yanti (2018) bahwa komite audit berpengaruh terhadap manajemen laba. Semakin banyak anggota komite audit diharapkan meminimalisir praktik manajemen laba. Sehingga dapat disimpulkan hipotesis sebagai berikut :

H4 : Komite Audit berpengaruh terhadap Manajemen Laba METODE

Populasi dan Sampel

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif. Metode ini digunakan karena informasi yang didapatkan untuk menjawab permasalahan penelitian ini adalah berupa angka- angka yang dapat dianalisis dan dihitung untuk mendapatkan hasil yang diharapkan. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif asosiatif, yaitu jenis penelitian yang melihat hubungan antara dua variabel atau lebih. Dengan metode ini diharapkan dapat mengetahui hubungan sebab-akibat antara variabel-variabel yang diteliti.

Berdasarkan sampel yang diambil, terdapat 44 perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dengan menggunakan laporan keuangan dan laporan tahunan (Annual Report) selama tiga tahun. Sehingga total data yang diperoleh sebanyak 132 sampel dan outlier sebanyak 3, teknik penentuan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria yang ditentukan untuk pengambilan sampel dalam peneltian ini adalah sebagai berikut :

1. Perusahaan sektor perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2017-2019.

2. Perusahaan sektor perbankan yang menerbitkan laporan keuangan dan laporan tahunan secara berkala di Bursa Efek Indonesia pada periode tahun 2017-2019.

3. Perusahaan sektor perbankan yang memuat informasi berupa : Profitabilitas, Growth, Leverage dan Komite Audit.

(9)

135 HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan teknik non-parametrik One Sample Kolmogorov Smirnov, yaitu apabila nilai signifikansi lebih besar sama dengan 5% atau 0,05 berarti data tersebut terdistribusi secara normal. Sedangkan nilai signifikansi lebih kecil sama dengan 5% atau 0,05 berarti data tidak terdistribusi secara normal. Berikut uji normalitas setelah outlier (N) 129 sampel, hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel 2 sebagai berikut :

Tabel 2. One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

Kolmogorov-Smirnov Z 1,074

Asymp. Sig. (2-tailed) 0,199

Sumber : Data sekunder diolah penulis, 2021

Berdasarkan tabel diatas, diperoleh hasil signifikansi uji One-Sample Kolmogorov- Smirnov Test dan mendapatkan hasil Asymp. Sig. (2-tailed) lebih besar dari 0,05 yaitu 0,199. Hal ini menunjukkan bahwa data terdistribusi secara normal.

Hasil Analisis Regresi Linear Berganda

Analisis regresi linier berganda dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh gambaran mengenai pengaruh profitabilitas, growth, leverage, komite audit terhadap manajemen laba secara bersama maupun secara parsial. Hasil pengujian statistik regresi linear berganda, dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut :

Tabel 6. Hasil Analisis Regresi Linear Berganda

Variabel Beta t Sig. Keterangan

(Constant) ,082 2,347 ,020

Profitabilitas ,708 2,523 ,013 H1 Diterima

Growth -,289 -6,967 ,000 H2 Diterima

Leverage -,050 -1,510 ,134 H3 Ditolak

Komite Audit -,005 -,760 ,449 H4 Ditolak

Uji Kelayakan Model (Uji F) : Sig. = 0,000

Uji Koefisien Determinasi (R2) : Adjusted R Square = 0,263 Sumber : Data sekunder diolah penulis, 2021

Berdasarkan tabel diatas maka persamaan regresi sebagai berikut :

Manajemen Laba = α + β.Profitabilitas + β.Growth + β.Leverage + β.Komite Audit + ε

Manajemen Laba = 0,082 + 0,708 Profitabilitas – 0,289 Growth – 0,050 Leverage – 0,005 Komite Audit + ε

Dari persamaan regresi tersebut dapat diinterpretasikan sebagai berikut :

Konstanta sebesar 0,082 menunjukkan bahwa jika tidak terdapat variabel independen (Profitabilitas, Growth, Leverage, Komite Audit) maka Manajemen Laba sebesar 0,082. Nilai koefisien Profitabilitas sebesar 0,708. Nilai ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan Profitabilitas sebesar 1% akan diikuti dengan kenaikan Manajemen Laba sebesar 0,708. Nilai

(10)

136 koefisien Growth sebesar -0,289. Nilai ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan Growth sebesar 1% akan diikuti dengan penurunan Manajemen Laba sebesar 0,289. Nilai koefisien Leverage sebesar -0,050. Nilai ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan Leverage sebesar 1%

akan diikuti penurunan Manajemen Laba sebesar 0,050. Nilai koefisien Komite Audit sebesar -0,005. Nilai ini menunjukkan bahwa setiap kenaikan Komite Audit sebesar 1% akan diikuti penurunan Manajemen Laba sebesar 0,005.

Hasil Uji Kelayakan Model (Uji F)

Uji F digunakan untuk menguji signifikansi pengaruh variabel indpenden terhadap variabel dependen secara simultan atau bersama sama dengan membandingkan nilai F.

Berdasarkan tabel 6 diatas, dapat disimpulkan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000. Nilai tersebut < 0,05 maka seluruh variabel independen (Profitabilitas, Growth, Leverage, Komite Audit) secara simultan bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen (Manajemen Laba) pada perusahaan sektor perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2017 sampai 2019.

Hasil Uji Statistik (Uji T)

Uji T digunakan untuk menguji signifikansi seberapa jauh pengaruh antara satu variabel independen dalam menerangkan variabel dependennya. Hasil dari pengujian uji t yang dijabarkan pada tabel 6 dan dijelaskan sebagai berikut :

1. Hasil Uji Hipotesis Pertama (H1)

Berdasarkan uji t dari hipotesis pertama (H1) yaitu Profitabilitas, dan melihat hasil uji t dapat disimpulkan bahwa Profitabilitas memiliki nilai signifikansi sebesar 0,013 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H1 diterima. Dapat diartikan bahwa variabel Profitabilitas berpengaruh terhadap Manajemen Laba.

2. Hasil Uji Hipotesis Kedua (H2)

Berdasarkan uji t dari hipotesis kedua (H2) yaitu Growth, dan melihat hasil uji t dapat disimpulkan bahwa Growth memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000 <

0,05. Hal ini meunjukkan bahwa H2 diterima. Dapat diartikan bahwa variabel Growth berpengaruh terhadap Manajemen Laba.

3. Hasil Uji Hipotesis Ketiga (H3)

Berdasarkan uji t dari hipotesis ketiga (H3) yaitu Leverage, dan melihat hasil uji t dapat disimpulkan bahwa Leverage memiliki nilai signifkansi sebesar 0,134 > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H3 ditolak. Dapat diartikan bahwa variabel Leverage tidak berpengaruh terhadap Manajemen Laba.

4. Hasil Uji Hipotesis Keempat (H4)

Berdasarkan uji t dari hipotesis keempat (H4) yaitu komite audit, dan melihat hasil uji t dapat disimpulkan bahwa Komite Audit memiliki nilai signifikansi sebesar 0,449 > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H4 ditolak. Dapat diartikan bahwa variabel Komite Audit tidak berpengaruh terhadap Manajemen Laba.

Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2)

Uji koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengetahui seberapa besar persentase kemampuan variabel independen (Profitabilitas, Growth, Leverage, dan Komite Audit) dalam menjelaskan secara komprehensif terhadap variabel dependen (Manajemen Laba).

Berdasarkan tabel 6 diatas, dapat disimpulkan bahwa nilai Adjusted R Square adalah sebesar 0,263. Pengaruh variabel independen (Profitabilitas, Growth, Leverage, Komite

(11)

137 Audit) terhadap variabel dependen (Manajemen Laba) pada perusahaan sektor perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2017 sampai 2019 yaitu sebesar 26,3% dan sisanya sebesar 73,7% dipengaruhi oleh faktor lain diluar penelitian.

DISKUSI

Pengaruh Profitabilitas Terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan uji t dari hipotesis pertama (H1) yaitu Profitabilitas. Dan melihat hasil uji t pada tabel 6, dapat disimpulkan bahwa Profitabilitas memiliki nilai signifikansi sebesar 0,013 < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H1 diterima.

Salah satu tujuan utama perusahaan adalah menghasilkan laba. Seberapa maksimal perusahaan menggunakan aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan laba dari aktivitas operasi perusahaan. Profitabilitas dapat mempengaruhi manajemen laba, karena perhatian investor yang besar pada tingkat profitabilitas. Sesuai dengan hasil diatas dapat disimpulkan bahwa manajemen laba yang dilakukan dapat berupa memaksimalkan laba ataupun meminimalkan laba. Profitabilitas akan menjadi acuan jangka panjang bagi investor karena menyangkut tingkat pengembalian yang diharapkan pada periode tertentu. Hal ini berarti apabila tingkat profitabilitas rendah maka manajer akan melakukan manajemen laba agar terlihat tinggi sehingga menarik perhatian investor. Karena laba yang tinggi akan terlihat baik dihadapan investor. Laba yang terlihat tinggi memang terlihat baik untuk para investor dan masyarakat.

Tetapi bagi perusahaan hal ini merupakan sebuah kerugian karena pada saat tingkat profitabilitas tinggi akan berpengaruh pada pengeluaran yang dilakukan khususnya kewajiban pembayaran pajak. Sehingga manajemen akan cenderung melakukan manajemen laba dengan cara meminimalkan laba agar laba tidak terlalu tinggi dan pembayaran pajak lebih rendah dari profitabilitas yang didapatkan. Laba yang terlalu tinggi juga akan memicu kecurigaan terhadap regulator dan pihak lain, karena laba yang tinggi dapat memicu indikasi adanya monopoli perusahaan. Sebaliknya apabila profitabilitas rendah maka manajemen akan cenderung menaikkan laba hal ini agar kinerja manajemen terlihat baik dihadapan dewan komisaris dan nilai perusahaan terlihat baik dihadapan publik, sehingga perusahaan mendapatkan kepercayaan dari investor agar mau berinvestasi dalam perusahaan tersebut.

Hal ini juga dilakukan untuk menunda pelanggaran jatuh tempo pembayaran hutang. Hal ini sejalan dengan dengan penelitian Purnama (2017), Astari dan Suryanawa (2017), Yanti dan Setiawan (2019) yang menunjukkan hasil penelitian bahwa profitabilitas berpengaruh dan signifikan terhadap manajemen laba.

Pengaruh Growth Terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan uji t dari hipotesis kedua (H2) yaitu Growth. Dan melihat hasil uji t pada tabel 6, dapat disimpulkan bahwa Growth memiliki nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05.

Hal ini menunjukkan bahwa H2 diterima. Growth merupakan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan usahanya yang dihitung berdasarkan perubahan tingkat pertumbuhan tahunan perusahaan dari aset total. Jadi, pertumbuhan aset menandakan bahwa aset yang dimiliki perusahaan setiap periode bertambah dan jaminan perusahaan membayar hutang kepada pihak ketiga atau investor meningkat. Growth dapat menjadi indikator manajer melakukan manajemen laba. Pertumbuhan aset yang tinggi mengindikasikan bahwa perusahaan sedang dalam keadaan baik, tetapi jika aset perusahaan rendah perusahaan terancam akan kekurangan dana dalam aktivitas operasi dan investasinya. Pertumbuhan aset akan berpengaruh pada kepercayaan investor. Bagi investor apabila growth meningkat maka investor akan lebih tertarik untuk menanamkan dananya pada perusahaan tersebut, sebaliknya jika growth menurun investor akan lebih berhati-hati. Hal ini juga berpengaruh terhadap

(12)

138 tingkat pengembalian yang diterima oleh investor serta jaminan perusahaan dalam membayar hutang. Pertumbuhan aset (growth) mencerminkan bahwa perusahaan mempunyai jaminan untuk membayar hutangnya kepada pihak ketiga atau investor. Sehingga apabila pertumbuhan aset rendah maka manajer cenderung melakukan manajemen laba agar terlihat baik. Pertumbuhan aset juga berpengaruh terhadap pembayaran pajak, semakin meningkat aset perusahaan maka semakin meningkat pajak yang harus dibayarkan. Untuk meminimalisir pajak yang akan dibayarkan manajer akan melakukan manajemen laba. Hal ini sejalan dengan dengan penelitian Annisa dan Hapsoro (2017) yang menunjukkan hasil penelitian bahwa growth berpengaruh dan signifikan terhadap manajemen laba.

Pengaruh Leverage Terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan uji t dari hipotesis ketiga (H3) yaitu Leverage. Dan melihat hasil uji t pada tabel 6, dapat disimpulkan bahwa Leverage memiliki nilai signifikansi sebesar 0,134 >

0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H3 ditolak. Jadi semakin tinggi atau rendahnya leverage tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Hal ini disebabkan karena pendanaan perusahaan tidak hanya melalui utang saja tetapi juga dapat melalui peredaran saham ataupun investor. Sehingga tidak mempengaruhi keputusan manajemen dalam mengatur jumlah laba yang akan dilaporkan apabila terjadi perubahan pada tingkat hutang. Leverage yang tinggi juga menyebabkan perusahaan dimonitoring oleh pihak ketiga (debtholders). Tindakan monitoring yang dilakukan oleh pihak ketiga terhadap perusahaan menyebabkan manajer akan bertindak sesuai dengan kepentingan perusahaan, sehingga leverage tidak berpengaruh terhadap manajemen laba (Annisa & Hapsoro, 2018). Selain itu sesuai dengan hasil pengujian, informasi leverage dalam laporan keuangan kurang bermakna bagi para pemakai laporan keungan, padahal leverage dapat memicu praktik manajemen laba dikarenakan kepentingan oportunistik manajer maupun perusahaan. Hal ini sejalan dengan dengan penelitian Annisa dan Hapsoro (2017), Purnama (2017), Kusumawardana dan Haryanto (2019) yang menunjukkan hasil penelitian bahwa leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.

Pengaruh Komite Audit Terhadap Manajemen Laba

Berdasarkan uji t dari hipotesis keempat (H4) yaitu Komite Audit. Dan melihat hasil uji t pada tabel 6, dapat disimpulkan bahwa Komite Audit memiliki nilai signifikansi sebesar 0,449 > 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H4 ditolak. Jumlah komite audit tidak berpengaruh terhadap manajemen laba. Jumlah komite audit yang banyak belum tentu menekan praktik manajemen laba, karena semakin banyak maka komunikasi dan koordinasi semakin sulit.

Sehingga masih memungkinkan manajer melakukan manajemen laba. Hal ini juga diperjelas di Indonesia terdapat Peraturan BAPEPAM nomor IX.1.5. yang menyebutkan bahwa sekurang-kurangnya anggota komite audit sebanyak 3 orang yang terdiri dari pemegang saham, manajemen dan pihak independen. Sehingga komite audit dibentuk terkesan hanya untuk memenuhi aturan yang ada agar terhindar dari sanksi hukum. Oleh sebab itu, komite audit menjadi tidak efektif dalam melakukan pengawasan praktik manajemen laba.

Dipertegas oleh Wiyadi, Trisnawati, dan Sulistyowati (2019:64) penunjukkan komite audit pada perusahaan publik bersifat mandatory, yaitu lebih didasarkan pada kedekatan dengan dewan komisaris, bukan didasarkan pada kompetensi dan kapabilitas anggota tersebut. Hal seperti ini membuat komite audit tidak bekerja secara profesional. Sejalan dengan adanya pernyataan tersebut bahwa komite audit yang efektif bukan tentang kuantitas tetapi kualitas anggota komite audit. Kualitas komite audit dapat meliputi independensi, pengalaman, dan

(13)

139 keahlian sesuai bidangnya. Hal ini sejalan dengan dengan penelitian Wiyadi, Trisnawati, dan Sulistyowati (2019), Sari dan Purwanto (2018), Lestari dan Kusumadewi (2019), Trisnawati, Mardyaningrum, & Khotimah (2018) yang menunjukkan hasil penelitian bahwa komite audit tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang dijelaskan sebelumnya, bahwa penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh profitabilitas, growth, leverage, dan komite audit terhadap manajemenlLaba pada perusahaan sektor perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2017-2019. Sehingga dapat disimpulkan bahwa profitabilitas berpengaruh terhadap manajemen laba, sehingga H1 dalam penelitian ini diterima. Growth berpengaruh terhadap manajemen laba, sehingga H2 dalam penelitian ini diterima. Leverage tidak berpengaruh terhadap manajemen laba, sehingga H3 dalam penelitian ini ditolak. Komite Audit tidak berpengaruh terhadap manajemen laba, sehingga H4 dalam penelitian ini ditolak.

Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian-penelitian terdahulu. Namun, penelitian ini masih memiliki keterbatasan, sehingga perlu diperhatikan bagi penelitian selanjutnya.

Adapun keterbatasan dalam penelitian ini adalah pengambilan populasi dan sampel dalam penelitian ini hanya terbatas pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2017-2019, sehingga kurang mampu menjelaskan keseluruhan perusahaan diluar sektor perbankan. Menggunakan rentang waktu yang relatif pendek yaitu hanya 3 tahun, sehingga kurang mampu menjelaskan kondisi sesungguhnya yang relatif panjang. Penelitian ini menggunakan data sekunder, sehingga kesimpulan yang dikemukakan hanya berdasarkan yang terkumpul melalui laporan keuangan perusahaan yang terdaftar di BEI. Variabel yang terbatas yaitu profitabilitas, growth, leverage, dan komite audit terhadap manajemen laba. Sehingga faktor lain yang mempengaruhi manajemen laba, tidak dimasukkan dalam penelitian ini. Berdasarkan kesimpulan dan keterbatasan yang telah dijelaskan, saran yang dapat diberikan untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambahkan jumlah sampel perusahaan yang terdaftar di BEI dengan memperluas sektor perusahaan yang akan dijadikan sampel. Penelitian selanjutnya diharapkan menambah periode masa penelitian, sehingga menunjukkan hasil yang lebih akurat dan maksimal.

Penelitian selanjutnya diharapkan dapat menambahkan variabel-variabel lain diluar penelitian ini yang dapat memprediksi adanya aktivitas manajemen laba, agar menghasilkan perspektif baru bagi penelitian lain di masa mendatangkan.

REFERENSI

Agustia, Y. P., & Suryani, E., 2018. Pengaruh Ukuran Perusahaan, Umur Perusahaan, Leverage, dan Profitabilitas Terhadap Manajemen Laba (Studi Pada Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2014 -2016). Jurnal ASET (Akuntansi Riset). Vol. 10(1), 63-74.

Annisa, A. A., & Hapsoro, D., 2017. Pengaruh Kualitas Audit, Leverage, Dan Growth Terhadap Praktik Manajemen Laba. Jurnal Akuntansi. Vol. 5 No. 2 Desember 2017 Arthawan, P. T., & Wirasedana, I. W. P., 2018. Pengaruh Kepemilikan Manajerial, Kebijakan Utang Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Manajemen Laba . E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana. Vol.22.1. Januari (2018) : 1-29

Astari, A.A.M.R., & Suryanawa, I. K., 2017. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Manajemen Laba. E-Jurnal Universitas Udayana. Vol. 20. 1. Juli (2017) : 290-319.

(14)

140 Janartha, I.W.P., & Bambang, S. H., 2016. Pengaruh Ukuran Perusahaan, Keberadaan Komite Audit Dan Leverage Terhadap Audit Delay. E- Jurnal Akuntansi Udayana.

Vol. 16. 3. September (2016) : 2374-2407.

Jensen, M. C., & H. Meckling, W., 1976. “Theori of The Firm : Manajerial Behavior.

Agency Cost and Ownership structure”. Journal of Financial Economics 3, p.305- 360

Kusumawardana, Y., & Haryanto, M., 2019. Analisis Pengaruh Ukuran Perusahaan, Laverage, Kepemilikan Institusional, Dan Kepemilikan Manajerial Terhadap Manajemen Laba. Diponegoro Jurnal Of Management. Vol. 8, No. 2, 2019 : 148- 158.

Lestari, V. D., & Kusumadewi Rr. K. A., 2019. Komite Audit, Kualitas Audit, dan Manajemen Laba (Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2015-2017). Diponegoro Jurnal Of Accounting. Vol.8 No.4 Tahun (2019) : 1- 15

Muhammadinah. 2016. Pengaruh Profitabilitas, Resiko Keuangan, Ukuran Perusahaan, Growth, Struktur Kepemilikan Manajerial Dan Dividend Payout Ratio Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Sektor Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. I-Finance. Vol. 2. No. 1. Juli 2016.

Pangesti, L., 2019. Pengaruh Firm Size Dan Growth Terhadap Manajemen Laba . Jurnal Ekonomi Manajemen Dan Bisnis. Vol. 20, No. 2, Oktober 2019.

Purnama, D., 2017. Pengaruh Profitabilitas, Leverage, Ukuran Perusahaan, Kepemilikan Institusional Dan Kepemilikan Manajerial Terhadap Manajemen Laba. JRKA Volume 3 Issue 1, Februari 2017 : 1-14.

Rahayu, L. P., 2018. Pengaruh Profitabilitas Terhadap Manajemen Laba Dengan Ukuran Perusahaan Sebagai Moderasi (Studi Empiris Pada Perusahaan Industri Dasar Dan Kimia Yang terdapat Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2014 -2016). Jurnal Ekobis Dewantara. Vol.1 No. 2 Februari 2018

Sari, I. P., & Purwanto A., 2018. Pengaruh Surplus Arus Kas Bebas, Audit Eksternal dan Komite Audit Terhadap Manajemen Laba. Diponegoro Jurnal Of Accounting. Vol.7 No.4 Tahun (2018) : 1-12

Sulistyanto, S., 2008. Manajemen Laba Teori dan Model Empiris: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Trisnawati, R., Mardayaningrum, & Khotimah, L., 2018. Determinan Manajemen Laba Akrual Pada Indeks LQ45 JII Periode 2010 -2015. Riset Akuntansi dan Keuangan Indonesia, 3 (2), 2018.

Wirayana, I. M. A., & Sudana, I. P., 2018. Pengaruh Konsentrasi Kepemilikan dan Kompetensi Dewan Komisaris Pada Manajemen Laba Di Perusahaan Perbankan . E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana. Vol 22.3. Maret (2018) : 2117-2147

Wiyadi, Amalina, N., Trisnawati, R., & Sasongko, N., 2017. Perspektif Positif Praktik Manajemen Laba : Kajian Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Go Publik Di Bursa Efek Indonesia. Riset Akuntansi dan Keuangan Indonesia 2(1) 2017.

Wiyadi, Trisnawati, R., & Sulistyowati, E., 2019. Mekanisme Corporate Governance Dan Manajemen Laba Model Long Term Discrectionary Accrual Pada Perusahaan Go Publik Di Indonesia. Daya Saing Jurnal Ekonomi Manajemen Sumber Daya. Vol.

20, No. 1, Juni 2019.

(15)

141 Yanti, F., 2018. Pengaruh Komite Audit Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2014 -2016.

JOM FEB, Volume 1 Edisi 1

Yanti, N. P. T. R., & Setiawan, P. E., 2019. Pengaruh Asimetri Informasi, Ukuran Perusahaan, Leverage Dan Profitabilitas Pada Manajemen Laba . E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana Vol. 27.1 April (2019) : 708-736

Referensi

Dokumen terkait

pengaruh ukuran KAP, audit tenure, leverage, komite audit, dan ukuran perusahaan terhadap manajemen laba pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek

Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa kualitas audit yang diproksikan dengan ukuran KAP dalam penelitian ini tidak berpengaruh terhadap manajemen

Penulisan skripsi yang berjudul Pengaruh Komite Audit, Ukuran Perusahaan, Kepemilikan Institusional dan Leverage Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Manufaktur di BEI

Skripsi dengan judul Pengaruh Ukuran Perusahaan, Umur Perusahaan, Profitabilitas, dan Leverage terhadap Manajemen Laba (Studi Kasus pada: Perusahaan Manufaktur sektor

Kesimpulan yang dapat ditarik dalam penelitian ini adalah Terdapat cukup bukti bahwa ukuran perusahaan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap manajemen laba, Tidak terdapat

Menyatakan bahwa skripsi dengan judul : “PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, PROFITABILITAS, LEVERAGE, DAN CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP MANAJEMEN LABA PADA PERUSAHAAN

4.1.5.1Pengaruh Profitabilitas Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan sub Sektor Transportasi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2017-2021 ....

1 PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE, PROFITABILITAS, DAN LEVERAGE TERHADAP MANAJEMEN LABA PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR SEKTOR INDUSTRI BARANG KONSUMSI YANG TERDAFTAR DI BEI TAHUN 2015