• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 4 TAHUN 2002 TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA DENPASAR,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 4 TAHUN 2002 TENTANG PAJAK HOTEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA DENPASAR,"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 4 TAHUN 2002

TENTANG PAJAK HOTEL

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA DENPASAR,

Menimbang: a. bahwa dengan telah ditertibkan Undang – undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang – undang Nomor 18

Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, maka Perautran Kota Denpasar Nomor 4 Tahun 2001 tentang Pajak Hotel dan Restaurant perlu disesuaikan;

b. bahwa untuk melaksanakan penyesuaian sebagaimana dimaksud huruf a perlu mengatur kembali Pajak Hotel dengan Peraturan Daerah Kota Denpasar.

Mengingat: 1. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3209);

2. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1992 tentang Pembentukan Kota Denpasar (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 9, Tambhan Lembaran Negara Nomor 3465);

3. Undang-undang Nomor 17 Tahun 1997 tentang Badan Penyelesaian Sengketa Pajak (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 40, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3684);

4. Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3685);

5. Undang-undang Nomor 19 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah (Lem,baran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambhan Lembaran Negara Nomor 3839);

(2)

dengan Surat Paksa (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 129, Tambahan Lembaran Nomor 3988);

7. Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4048);

8. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1`983 Nomor, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3258);

9. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4138);

10. Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang- undangan dan Bentuk Rancangan Undang-undang, Rancangan Peraturan Pemerintah, dan Rancangan Peraturan Pemerintah, dan Rancangan Keputusan Presiden);

11. Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 22 Tahun 1995 tentang Penyidik Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kota Denpasar (Lembaran Daerah Kota Denpasar Tahun 1996 Nomr 14 Seri C Nomor 3);

Memperhatikan: Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Denapsar Tanggal 14 Nopember 2002 Nomor 18 Tahun 2002 tentang Persetujuan Penetapan 14 Empat Belas) Rancangan Peraturan Daerah Kota Denpasar menjadi Peraturan Daerah Kota Denpasar.

Dengan Persetujuan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KOTA DENPASAR M E M U T U S K A N:

Menetapkan: PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR TENTANG PAJAK HOTEL

(3)

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah yang dimaksud :

a. Kota Denpasar adalah Daerah Denpasar;

b. Pemerintah Kota Denpasar adalah Pemerintah Daerah Kota Denp asar;

c. Walikota adalah Kepala Daerah Kota Denpasar;

d. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Denpasar selanjutnya di sebut DPRD Kota Denpasar adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Denpasar;

e. Pejabat adalah Dewan Pegawai yang diberi tugas tertentu dibidang perpajakan daerah sesuai dengan Perautranh Perundang-undang yang berlaku;

f. Dinas Pendapatan Daerah adalah Dinas Pendapatan Kota Denpasar;

g. Pajak Hotel yang selanjutnya disebut Pajak adalah punggutan daerah atas pelayanan hotel dan tempat menginap lain yang sejenis;

h. Hotel adalah bangunan yang khusus disediakan bagi orang untuk dapat menginap/istirahat, memperoleh pelayanan dan fasilitas lainnya dengan dipunggut bayaran, termasuk bangunan lainnya yang menyatu, dikelola dan dimiliki oleh pihak yang sama, kecuali untuk pertokoan dan perkantoran;

i. Pengusaha hotel adalah orang atau badan hukuman yang menyelenggarakan usaha hotel untuk dan atas namanya sendiri atau untuk dan atas nama pihak lain yang menjadi tanggungannya;

j. Surat Pemberitahuan Tasgihan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat SPTPD adalah surat yang digunkan oleh Wajib Pajak untuk melaporkan perhitungan dan pembayaran pajak yang terhutang menurut Peraturan Perundang- undangan perpajakan Daerah;

k. Surat Seto ran Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat SSPD adalah surat yang digunakan oleh Wajib Pajak untuk melakukan pembayaran atau penyetoran pajak yang terutang menurut Peraturan Perundang-undang yang berlaku;

l. Surat Ketetapan Pajak Daerah yang selanjutnya dis ingkat SKPD adalah surat keputusan yang menentukan besarnya jumlah pajak yang terutang;

m. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar yang selanjutnya disingkat SKPDKB adalah surat keputusan yang menentukan besarnya jumlah pajak yang terutang, jumlah kridit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrasi dan jumlah yang masih harus dibayar;

n. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan yang selanjutnya disingkat SKPDKBT adalah surat keputusan yang menentukan jumlah kelebihan atas jumlah pajak yang ditetapkan;

o. Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar yang selanjutnya disingkat SKPDLB adalah surat keputusan yang menetukan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kridit pajak lebih besar dari pajak yang terutang atau tidak seharusnya

(4)

p. Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil,yang selanjutnya disingkat SKPDN adalah surat keputusan yang menentukan jumlah pajak yang terutang sama besarnya jumlah kredit pajak atau pajak tidak terutang dan tidak ada kredit pajak;

BAB II

NAMA OBYEK DAN SUBYEK PAJAK Pasal 2

(1) Dengan Nama Pajak Hotel dipunggut pajak atas setiap jasa pelaayanan hotel.

(2) Obyek Pajak adalah setiap pelayanan yang disediakan dengan pembayaran dan atau yang seharusnya dibayar di hotel atau yang di peruntukan untuk itu.

(3) Obyek pajak sebagaimana dimaksud ayat (2) termasuk antara lain:

a. Fasilitas penginapan atau fasilitas tinggal jangka pendek;

b. Pelayanan penunjang sebagai kelengkapan fasilitas penginapan atau tinggal jangka pendek yang sifatnya memberikan kemudahan dan kenyamanan;

c. Fasilitas olahraga dan hiburan yang disediakan khusus untuk tamu hotel, bukan untuk umum;

d. Jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan dihotel

Pasal 3

Tidak termasuk obyek pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 adalah:

a. Pelayanan tinggal di asrama, dan po ndok pesantren;

b. Pertokoan, perkantoran, perbankan dan salon yang dipergunakan oleh umum di hotel;

c. Pelayanan perjalanan wisata yang diselengarakan oleh hotel dan dapat dimanfaatkan oleh umum.

Pasal 4

(1) subyek pajak adalah orang pribadi atau badan yang melaksanakan pembayaran atas pelayanan hotel.

(2) Wajib pajak adalah pengusaha hotel .

(5)

BAB III

DASAR PENGENAAN DAN TARIP PAJAK Pasal 5

Dasar pengenaan pajak adalah jumlah pembayaran dan atau pembayaran yang seharusnya dilakukan kepada hotel .

Pasal 6

Tarip pajak ditetapkan sebesar 10% (Sepuluh Prosen)

BAB IV

WILAYAH PEMUNGUTAN DAN CARA PENGHITUNGAN PAJAK Pasal 7

(1) Pajak yang terhutang dipungut di Kota Denpasar.

(2) Besarnya pajak terhutang dihitung dengan cara mengalihkan tarip sebagaimana di maksud pasal 6 dengan dasar pengenaan sebagaimna dimaksud dalam pasal 5.

BAB V

MASA PAJAK, SAAT PAJAK TERHUTANG DAN SURAT PEMBERITAHUAN PAJAK DAERAH

Pasal 8

Masa pajak adalah jangka waktu yang lamanya 1 (satu) bulan takwin

Pasal 9

Pajak terhutang dalam masa pajak terjadi pada saat pelayanan di hotel

(6)

Pasal 10

(1) Wajib pajak dalam memungut pembayaran pajak hotel herus mengunakan nota pembayaran/bill dan atau yang disamakan dengan nota pembayaran/bill, dengan diberi nomor seri dan diporporasi oleh Dinas Pendapatan Kota Denpasar.

(2) Salinan nota pambayaran/bill yang sudah dipergunakan harus disimpan oleh wjib pajak dalam jangka waktu setahun sebagai bukti dalam pembuatan surat pemberitahuan pajak daerah.

Pasal 11

(1) Setiap wajib pajak harus SPTPD.

(2) SPTPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diisi dengan jelas, benar dan lengkap serta ditanda tangani oleh wajib pajak atau kuasanya .

(3) SPTPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus disampaikan pada Walikota selambat- lambatnya 15 (Lima Belas) hari setelah berakhirnya masa pajak.

(4) Bentuk, isi dan tata cara pengisian SPTPD ditetapkan dengan keputusan Walikota.

BAB VI

TATA CARA PENGHITUNGAN DAN PENETAPAN PAJAK Pasal 12

Dalam pemeriksaan Pembukuan Perpajakan, Walikota dapat menunjukan Konsultan.

Pasal 13

(1) Berdasarkan SPTPD sebagaimana dimaksud pasal 11 ayat (1) Walikota menetapkan pajak terhutang dengan menerbitkan SKPD.

(2) Apabila SKPD sebagaimna dimaksud ayat (1), tidak atau kurang dibayar setelah lewat waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak SKPD diterima, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua prosen) sebulan dan ditagih dengan menerbitkan STPD.

Pasal 14

(1) Wajib pajak yang sendiri, membayar sendiri, SPTPD sebagaimana dimaksud dalam pasal 11 ayat (1) digunakan untuk menhitung, memperhitungkan dan menetapkan pajak sendiri yang terhutang.

(7)

(2) Dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun sesidah saat terhutang pajak Walikota dapat menerbitkan :

a. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar (SKPDKB)

b. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT) c. Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil (SKPDN).

(3) SKPDKB sebagaimana dimaksud pada ayat (2), huruf a diterbitkan :

a. Apabila berdasarkan hasil pemeriksaan atau keterangan lain pajak yang terhutang tidak atau kurang bayar, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua prosen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terhutangnya pajak;

b. Apabila SPTPD tidak disampaikan dalam jangka waktu yang ditentukan dan telah ditegur secara tertulis, dikenakan sanksi adminitrasi berupa kenaikan sebesar 25% (dua puluh lima prosen) dari pokok pajak ditambah sanksi adminitarsi berupa bunga sebesar 2% (dua prosen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung saat terhutangnya pajak;

c. Apabila kewajiban mengisi SPTPD tidako dipenuhi pajak yang terhutang dihitung secara jabatan dan dikenakan sanksi administrasi berupa kenaikan bunga sebesar 25% (dua puluh lima prosen) dari pokok pajak ditambah sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua prosen) sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dihitung sejak saat terhutangnya pajak.

(4) SKPDKBT sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b diterbitkan apabila ditemukan data baru atau data yang semula terungkap yang menyebabkan penambahan jumlah pajak yang terhutang, akan dikenakan sanksi adminitrasi berupa kenaikan sebesar 100% (seratus prosen) dari jumlah kekurangan jumlah pajak tersebut.

(5) SKPDN sebagaimana dimaksud ayat (2) huruf c diterbitkan apabila jumlah pajak yang terhutang sama besarnya dengan jumlah kredit pajak tidak terhutang dan tidak ada kredit pajak.

(6) Apabila kewajiban membayar pajak terhutang SKPDKB dan SKPDKBT sebagaimana dimaksud ayat (2) huruf a dan b tidak sepenuhnya dibayar dalam jangka waktu yang telah ditentukan, ditagih dengan menerbitkan STPD ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua prosen) sebulan.

(7) Penambahan jumlah pajak yang terhutang sebagaimana dimaksud ayat (4) tidak dikenakan apabila wajib pajak melaporkan sendiri sebelum dilakukan tindkan pemeriksaan.

(8)

BAB VII

TATA CARA PEMBAYARAN Pasal 15

(1) Pembayaran Pajak dilakukan di Kas Daerah atau tempat lain yang ditunjuk oleh Walikota sesuai waktu yang ditentukan dalam SPTPD, SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, dan STPD.

(2) Apabila pembayaran pajak dilakukan ditenpat lain yang ditunjuk, hasil penerimaan pajak harus disetor ke Kas Daerah selambat- lambatnya 1x24 jam atau dalam waktu yang ditentukan oleh Walikota.

(3) Pembayaran pajak sebagaimana dimaksud ayat (1) dan ayat (2) dilakukan dengan menggunakan SSPD.

Pasal 16

(1) Pembayaran Pajak harus dilakukan seka ligus atau lunas.

(2) Walikota dapat memberikan persetujuan kepada Wajib Pajak untuk mengangsur pajak terutang dalam kurun waktu tertentu, setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan.

(3) Angsuran pembayaran pajak sebagaimana dimaksud ayat(2) harua dilakukan secara teratur dan berturut-turut dengan dikenakan bunga sebesar 2% (dua prosen) sebulan, dari jumlah pajak yang belum atau kurang dibayar.

(4) Walikota dapat memberikan persetujuan pada Wajib Pajak untuk menunda pembayaran pajak sampai batas waktu yang ditentukan setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan dengan dikenakan bunga sebesar 2% (dua prosen) sebulan dari jumlah pajak yang belum atau kurang dibayar.

(5) Persyaratan untuk dapat mengangsur dan menunda pembayaran serta tata cara pembayaran angsuran dan penundaan sebagaimana dimaksud ayat (2) dan ayat (4) ditetapkan dengan keputusan Walikota.

Pasal 17

(1) Setiap pembayaran pajak sebagaimana di maksud pasal 16 diberikan tanda bukti pembayaran dan dicatat dalam buku penerimaan.

(2) Bentuk, jenis, isi, ukuran tanda bukti pembayaran dan buku penerimaan pajak sebagaimana dimaksud ayat(1), ditetapkan dengan Keputusan Walikota.

(9)

BAB VIII

TATA CARA PEMBUKUAN DAN PELAPORAN Pasal 18

Tata cara pembukuan dan pelaporan pelaksanaannya sesuai dengan peraturan perundang- undangan yang berlaku.

BAB IX

TATA CARA PENAGIHAN PAJAK Pasal 19

(1) Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis sebagai awal tindakan pelaksanaan penagihan pajak dikeluarkan 7 (tujuh) hari sejak saat jatuh tempo pembayaran.

(2) Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis sebagai awal tindakan pelaksanaan penagihan pajak dikeluarkan 7 (tujuh) hari setelah tanggal Surat peringatan atau surat lain yang sejenis, Wajib Pajak harus melunasi pajak yang terhutang.

(3) Surat peringatan atau surat lain yang sejenis sebagai mana dimaksud ayat (1) dikeluarkan oleh Walikota atau Pejabat yang ditunjuk

Pasal 20

(1) Apabila jumlah pajak yang belum dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu sebagaimana ditentukan dalam surat peringatan atau surat lain yang sejenis, jumlah pajak yang harus dibayar ditagih dengan surat paksa.

(2) Pejabat menerbitkan surat paksa setelah lewat 21 (dua puluh satu ) hari sejak surat peringatan atau surat lain yang sejenis diterima oleh Wajib Pajak.

Pasal 21

Apabila pajak yang harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari sesudah tanggal pemberitahuan surat paksa, pejabat segera menerbitkan surat perintah melaksanakan penyitaan.

(10)

Pasal 22

Setelah dilakukan penyitaan dan wajib pajak belum juga melunasi hutang pajaknya maka lewat 10 (sepuluh) hari sejak tanggal pelaksanaan surat perintah melaksanakan penyitaan, pejabat mengajukan permintaan penetapan tanggal pelelangan kepada Kantor Lelang Negara.

Pasal 23

Setelah Kantor Lelang Negara menetapkan hari, tanggal, jam dan tempat pelaksanaan lelang, juru sita memberitahukan dengan segera secara tertulis kepada Wajib Pajak.

Pasal 24

Penunjukan juru sita sebagaimana dimaksud Pasal 23 ditetapkan denagn Keputusan Walikota.

Pasal 25

Bentuk, jenis dan formulir yang dipergunakan untuk melaksanakan penagihan pajak daerah ditetapkan dengan Keputusan Walikota.

BAB X

PENGURANGAN, KERINGANAN DAN PEMBEBASAN PAJAK Pasal 26

(1) Walikota berdasarkan permohonan wajib pajak dapat memberikan pengurangan, keringanan dan pembebasan pajak.

(2) Tata Cara pemberian pengurangan, keringanan dan pembebasan pajak sebagaimana dimaksud ayat (1) ditetapkan Dengan Keputusan Walikota.

(11)

BAB XI

TATA CARA PEMBETULAN, PEMBATALAN, PENGUNGARAN KETETAPAN, DAN PENGHAPUSAN ATAU PENGURANGAN SANKSI ADMINISTRASI

Pasal 27

(1) Walikota karena jabatan atau atas permohonan wajib pajak dapat :

a. Membetulkan SKPD atau SKPDKB atau SKPDKBT atau STPD yang dalam penerimaannya terdapat kesalahan tulis, kesalahan hitung, dan atau kekeliruan dalam penerapan Peraturan Perundang – undangan perpajakan daerah;

b. Membatalkan atau mengurangkan ketetapan pajak yang tidak benar;

c. Mengurangkan atau menghapuskan saanksi administrasi berupa bunga, denda dan kenaikan pajak yang terhutang dalam hal sanksi tersebut dikenakan karena kehilapan Wajib Pajak atau bukan karena kesalahan.

(2) Permohonan pembetulan, pembatalan, pengurangan ketetapan dan penghapusan sanksi adminitrasi atas SKPD, SKPDKB, SKPDKBT dan STPD sebagaimana dimaksud ayat (1) harus disampaikan secara tertulis oleh Wajib Pajak kepada Wlikota atau Pajabat yang ditunjuk selambat – lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal diterima SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, atau STPD dengan memberikan alasan yang jelas.

(3) Walikota atau Pejabat yang ditunjuk paling lama 3 (tiga) bulan sejak surat permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diterima, sudah harus memberikan keputusan.

(4) Apabila setelah lewat waktu 3 (tiga) bulan sebagaimana dimaksud ayat (3) Walikota atau Pejabat yang ditunjuk tidak memberikan keputusan, peremohonan pembetulan, pembatalan, pengurangan ketetapan dan penghapusan atau pengurangan sanksi administrasi dianggap dikabulkan.

BAB XII

KEBERATAN DAN BANDING Pasal 28

(1) Wajib pajak dapat menbajukan keberatan hanya kepada Wqalikota atau pejabat yang ditunjuk atas suatu :

a. Surat Keterangan Pajak Daerah (SKPD);

(12)

c. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan (SKPDKBT);

d. Surat Ketetapan Daerah Lebih Bayar (SKPDLB);

e. Surat Ketetapan Pajak Daerah Nihil (SKPDN).

(2) Permohonan keberatan sebagaimana dimaksud ayat (1) harus disampaikan secara tertulis dalam bahasa Indonesia paling lama 3(tiga) bulan sejak tanggal SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, SKPDLB, dan SKPD diterima oleh Wajib Pajak, kecuali apabila Wajib Pajak dapat mengajukan bahwa jangka waktu tidak dapat dipenuhi karena keadaan diluar kekuasaannya.

(3) Walikota atau Pejabat yang ditunjuk dalam waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak tanggal surat permohonan keberatan sebagaimana dimaksud ayat (2) diterima, sudah memberikan keputusan.

(4) Apabila setelah lewat waktu 12 (dua belas) bulan sebagaimana dimaksud ayat (3) Walikota atau Pejabat yang ditunjuk tidak memberikan keputusan, permohonan keberatan dianggap dikabulkan.

(5) Pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud ayat (1) tidak menunda kewa jiban membayar pajak.

Pasal 29

(1) Wajib Pajak dengan mengajukan banding kepada Badan Penyelesaian Sengketa Pajak dalam jangka waktu 3 (tiga) bulan setelah diterimanya keputusan keberatan.

(2) Pengajuan banding sebagaimana dimaksud ayat (1) tidak menunda kewa jiban membayar pajak.

Pasal 30

Apabila pengajuan keberatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 28 atau banding sebagaimana dimaksud pasal 29 dikabulkan sebagian atau seluruhnya, kelebihan pembayaran pajak dikembalikan dengan ditambah imbalan bunga sebesar 2 % (dua prosen) sebulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan.

(13)

BAB XIII

PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK Pasal 31

(1) Wajib pajak dapat mengajukan permohonan pengembalian kelabihan pembayaran pajak kepada Walikota atau Pejabat yang ditunjuk secara tertulis dengan menyebutkan sekurang-kurangnya :

a. Nama dan alamat Wajib Pajak;

b. Masa Pajak;

c. Besarnya kelebihan pembayaran pajak;

d. Alasan yang jelas.

(2) Walikota atau Pejabat yang ditunjuk dalam jangka waktu paling lama 12 (dua belas) bulan sejak diterimanya permohonan pengembalaian kelebihan pe,mbayaran pajak sebagaimana dimaksud ayat (1) harus memberikan keputusan.

(3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada Pejabat yang ditumjuk tidak memberikan keputusan, peermohonan pengembalian kelebihan pembayaran oajak dianggap dikabulkan dan SKPDLB harus diterbitkan dalam waktu lama 1(satu) bulan.

(4) Apabila wajib pajak mempunyai hutang lainnya, kelebihan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (2) langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu hutang pajak dimaksud.

(5) Pengembalian kelebihan pembayaran pajak dilakukan dalam waktu paling lama 2(dua) bulan sejak diterbitkannya SKPDLB dengan menerbitkan surat perintah membayar kelebihan pajak (SPMKP).

(6) Apabila pengembalian kelebihan pembayaran pajak dilakukan setelah lewat 2 (dua) bulan sejak diterbitkannya SKPDLB, Walikota atau Pejabat yang ditunjuk memberikan imbalan bunga sebesar 2% (dua prosen) sebulan atas keterlambatan pembayaran kelebihan pajak.

Pasal 32

Apabila kelebihan pembayaran pajak diperhitungkan dengan hutang pajak sejenis dan atau pajak lainnya. Sebagaimana dimaksud dalam pasal 31 ayat (4), pembayarannya dilakukan dengan cara kompensasi untuk pajak sejenis dan pemindah bukuan untuk pajak lainnya.

(14)

BAB XIV

KEDALUWARSA PENAGIHAN Pasal 33

(1) Hak untuk malakukan penagihan pajak, kedaluwarsa penagihan setelah melampui jangka waktu 5(lima) tahun terhitung sejak saatv terhutang pajak, kecua;li apabila wajib pajak melakukan tindak pidana dibidang Perpajakan Daerah.

(2) Kedaluwarsa penagihan pajak sebagaimana dimaksud ayat(1) tertangguh apabila:

a. Diterbitkan Surat Peringatan dan Surat Paksa;

b. Ada pengakuan hutang Pajak dari Wajib Pajak, baik langsung maupun tidak langsung.

BAB XV

PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 34

(1) Dalam rangka pembinaan dan pengawasan disamping dikenakan sanksi pidana sebagaimana diatur dalam pasal 36 Peraturan Daerah ini maka bila dipandang perlu Walikota dapat menutup sementara kegiatan usaha wajib pajak dalam hal wajib pajak terbukti tidak membayar pajak.

(2) Dalam rangka pembinaan dan pengawasan dimaksud ayat (1) Walikota dsapat melakukan pemeriksaan terhadap Wajib Pajak untuk menguji kepatuhan pemenuhan Perpajakan Daerah.

Pasal 35

Setiap Wajib Pajak yang tidak menggunakan Nota Pembayaran (Bill) dan atau sejenisnya sebagaimana diatur dalam pasal 10 ayat (1) Peraturan Daerah dikenakan sanksi administrasi sebesar 400% (empat ratus prosen) dari pajak terhutang.

(15)

BAB XVI

KETENTUAN PIDANA Pasal 36

(1) Wajib pajak karena kealpaannya tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan Daerah dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1(satu) tahun dan denda paling banyak 2(dua) kali jumlah pajak yang terhutang.

(2) Wajib pajak yang dengan sengaja tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan Keuangan Daerah dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda pa ling banyak 4(empat) kali jumlah pajak yang terhutang.

Pasal 37

Tindak pidana sebagaimana dimaksud pasal 36 tidak dituntut setelah melampaui jangka waktu 10 (sepuluh) tahun sejak saat terhutangnya pajak atau berakhirnya masa pajak.

BAB XVII P E N Y I D I K A N

Pasal 38

(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan Pemerintah Kota Denpasar diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana dibidang perpajakan daerah.

(2) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah:

a. Menerima, mencari mengumpulkan dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana dibidang perpajakan daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lengkap dan jelas;

b. Meneliti, mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana dibidang perpajakan daerah tersebut;

(16)

c. Meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau badan sehubungan dengan tindak pidana dibidang perpajakan daerah;

d. Memeriksa buku-buku, catatan – catatan dan dokumen – dokumen lain yang berkenaan dengan tindak pidana dibidang perpajakan daerah;

e. Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, pencatatan, dan dokumen-dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;

f. Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana dibidang perpajakan daerah;

g. Menyuruh berhenti, melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf e;

h. Memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana di bidang perpajakan daerah;

i. Memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;

j. Menghentikan penyidikan;

k. Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana dibidang perpajakan daerah menurut hukum yang dapat dipertanggung jawabkan.

(3) Penyidik sebagaimana dimaksud ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menya mpaikan hasil penyidikannya kepada penuntut umum, sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-undang Hukum Acara Pidana yang berlaku.

BAB XVIII

KETENTUAN PENUTUP Pasal 39

Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut dengan Keputusan Walikota.

(17)

Pasal 40

Dengan berlakunya Peraturan Daerah ini, maka Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 4 Tahun 2001 tentang Pajak Hotel dan Restaurant dinyatakan tidak berlaku.

Pasal 41

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar supaya setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kota Denpasar.

Disahkan di Denpasar

Pada tanggal 14 Nopember 2002, WALIKOTA DENPASAR

Ttd

PUSPAYOGA

Diundangkan di Denpasar Pada tanggal 18 Nopember 2002

SEKRETARIS DAERAH KOTA DENPASAR

Ttd

MADE WESTRA

LEMBARAN DAERAH KOTA DENPASAR TAHUN 2002 NOMOR 4

(18)

PENJELASAN ATAS

PERATURAN DAERAH KOTA DENPASAR NOMOR 4 TAHUN 2002

TENTANG PAJAK HOTEL

I. U M U M:

Bahwa dengan semakin meningkatnya pelaksanaan tugas Pemerintahan, pembangunan serta pelayanan kepada masyarakat maka menuntut tersedianya dana yang lebih memadai.

Sejalan dengan berlakunya Undang- undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah sebagai pengganti Undang – undang nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok – pokok Pemerintahan di Daerah, dimana titik berat bertumpu pada Daerah Kabupaten / Kota, maka seyogya nya sumber pembiayaan untuk pelaksanaan kegiatan tersebut dapat digali dari Pendapatan Asli Daerah, dimana salah satunya adalah yang berasal dari pajak hotel yang merupakan potensi pajak yang cukup besar di Kota Denpasar.

Oleh karena itu perlu diambil langkah – langkah peninjauan kembali terhadap Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 4 Tahun 2001 tentang Pajak Hotel dan Restaurant dengan menetapkan Peraturan Daerah tentang Pajak Hotel yang baru, serta sekaligus menyatakan tidak berlaku lagi Peraturan Daerah Kota Denpasar Nomor 4 Tahun 2001 tentang Pajak Hotel dan Retaurant.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1 : Cukup Jelas

Pasal 2 (ayat 3) huruf a : Dalam pengertian rumah penginapan termasuk rumah kos dengan jumlah ka mar 10 (sepuluh) atau lebih yang menyediakan fasilitas seperti rumah Penginapan. Fasilitas penginapan / fasilitas tinggal jangka pendek, antara lain gubuk pariwisata (cottage), motel, wisma, pariwisata, pesanggrahan (hostel), losmen dan rumah penginapan.

Huruf b : Pelayanan penunjang antara lain telepon, faksimil, teleks, fotocopy, pelayanan cuci, seterika, taksi dan pengangkutan lainnya yang disediakn atau dikelola hotel.

Huruf c : Fasilitas olah raga dan hiburan antara lain pusat kebugaran (fitness cent re), kolam renang, tennis, golf,

(19)

karaoke, pub, diskotik yang disediakan atau dikelola hotel.

Huruf d : Cukup Jelas

Pasal 3 : Cukup Jelas

Pasal 4 : Cukup Jelas

Pasal 5 : Cukup Jelas

Pasal 6 : Cukup Jelas

Pasal 7 : Cukup Jelas

Pasal 8 : Cukup Jelas

Pasal 9 : Cukup Jelas

Pasal 10 : Cukup Jelas

Pasal 11 Ayat (1) : Cukup Jelas Ayat (2) : Cukup Jelas Ayat (3) : Cukup Jelas

Ayat (4) : a. bahwa Wajib Pajak yang wajib mengisi SPTPD adalah wajib pajak yang menggunakan pembukuan.

b. Wajib Pajak yang tid ak menggunakan pembukuan, pajaknya ditetapkan secara taksasi / penafsiran berdasarkan data yang diperoleh dari:

- Interview

- Pengamatan di lapangan - Dan sejenisnya

Pasal 12 : Dalam pemeriksaan pembukuan perpajakan Walikota dapat menunjuk konsultan atau kerjasama dengan perguruan tinggi, tetapi tidak termasuk penetapan dan penagihan pajak.

Pasal 13 : Cukup Jelas

Pasal 14 ayat (3) huruf c : Yang dimaksud dengan penetapan pajak secara jabatan adalah Pentapan besarnya pajak terutang yang dilakukan oleh Walikota atau pejabat yang ditunjuk berdasakan data yang ada atau keterangan lain yang dimiliki oleh Walikota atau pejabat yang ditunjuk.

Pasal 15 : Cukup Jelas

Pasal 16 : Cukup Jelas

Pasal 17 : Cukup Jelas

Pasal 18 : Cukup Jelas

Pasal 19 : Cukup Jelas

Pasal 20 : Cukup Jelas

Pasal 21 : Cukup Jelas

Pasal 22 : Cukup Jelas

Pasal 23 : Cukup Jelas

Pasal 24 : Cukup Jelas

Pasal 25 : Cukup Jelas

Pasal 26 : Cukup Jelas

(20)

Pasal 28 : Cukup Jelas

Pasal 29 : Cukup Jelas

Pasal 30 : Cukup Jelas

Pasal 31 : Cukup Jelas

Pasal 32 : Cukup Jelas

Pasal 33 : Cukup Jelas

Pasal 34 : Cukup Jelas

Pasal 35 : Cukup Jelas

Pasal 36 : Cukup Jelas

Pasal 37 : Cukup Jelas

Pasal 38 : Cukup Jelas

Pasal 39 : Cukup Jelas

Pasal 40 : Cukup Jelas

Pasal 41 : Cukup Jelas

Referensi

Dokumen terkait

(1) Apabila jumlah pajak yang masih harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu sebagaimana ditentukan dalam surat teguran atau surat peringatan atau surat lain yang sejenis

Apabila jumlah pajak yang masih harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu sebagaimana ditentukan dalam Surat Teguran atau Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis,

(1) Apabila sejumlah pajak yang masih harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu sebagaimana ditentukan dalam surat teguran atau surat peringatan atau surat lain

Apabila jumlah pajak yang harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu 21 (dua puluh satu hari) sebagaimana ditentukan pada pasal 15 penagihan selanjutnya dilakukan dengan

(1) Apabila jumlah pjak yang masih harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu sebagaimana ditentukan dalam surat teguran atau surat peringatan atau surat lain yang sejenis,

(1) Apabila jumlah pajak yang masih harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu sebagaimana ditentukan dalam tanggal surat teguran atau surat peringatan atau surat

Apabila jumlah pajak yang masih harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu sebagaimana ditentukan dalam Surat Teguran atau Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis,

(1) Apabila jumlah Pajak yang masih harus dibayar tidak dilunasi dalam jangka waktu sebagaimana ditentukan dalam Surat Teguran atau Surat Peringatan atau Surat lain yang sejenis,