• Tidak ada hasil yang ditemukan

KRISIS KESEHATAN KABUPATEN / KOTA RAWAN BENCANA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KRISIS KESEHATAN KABUPATEN / KOTA RAWAN BENCANA"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

(1)

KRISIS KESEHATAN

KABUPATEN / KOTA RAWAN BENCANA

Pusat Krisis Kesehatan

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 2018

PROVINSI SUMATERA UTARA

(2)
(3)

Daftar Isi

DAFTAR ISI 03

KATA PENGANTAR 05

BAB I: PENDAHULUAN 07

1.1. Latar Belakang 07

1.2. Tujuan 08

1.3. Dasar Hukum 08

1.4. Metodologi 09

A. Penyusunan Kuesioner 09

B. Pengambilan Data 10 C. Input Data 11 D. Pengolahan Data 11 E. Penyusunan Naskah Profil Penanggulangan Krisis Kesehatan 11 1.5. Definisi Operasional 11 BAB II: PROFIL PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN 17 2.1. Pendahuluan 18 2.2. Karakteristik Wilayah 18 2.3. Ancaman (Hazard) 18 2.4. Kerentanan 19 2.5. Kapasitas 19 BAB III: KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 25 3.1. Kesimpulan 25 3.2. Rekomendasi 25 LAMPIRAN

- KUISIONER ASISTENSI 29

Daftar Tabel

Tabel 2.1 Ancaman Bencana 18

Tabel 2.2 Rincian Penilaian Kapasitas 19 Tabel 3.1 Rekapitulasi Penilaian Kapasitas 25 Tabel 3.2 Rekomendasi Peningkatan Kapasitas Kabupaten Bima

Berdasarkan Tahun Kegiatan 25

(4)
(5)

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan izin dan karunia-Nya penyusunan buku “Profil Penanggulangan Krisis Kesehatan tahun 2018” dapat diselesaikan.

Profil ini menggambarkan kajian risiko krisis kesehatan akibat bencana di 9 provinsi dan 37 kabupaten/kota target Renstra Kementerian Kesehatan tahun 2018. Sebagaimana diketahui bahwa wilayah Indonesia memiliki potensi bahaya, kerentanan masyarakat dan kapasitas yang berbeda. Kondisi yang beragam inilah yang melatarbelakangi perbedaan tingkat risiko bencana tersebut.

Program pengurangan risiko bencana haruslah berdasarkan kepada suatu kajian risiko bencana, di mana risiko berbanding lurus dengan ancaman/bahaya dan kerentanan serta berbanding terbalik dengan kapasitas. Kajian risiko tersebut digunakan sebagai acuan dalam menilai, merencanakan, mengimplementasikan, memonitoring, dan mengevaluasi upaya pengurangan risiko bencana pada suatu wilayah. Oleh karena itu Pusat Krisis Kesehatan menyusun buku profil ini untuk dapat dicermati oleh pemerintah daerah sebagai bahan referensi dalam menyusun program “Pengurangan Risiko Bencana” di wilayahnya masing-masing. Pengambilan data dilakukan secara langsung ke masing-masing daerah terpilih menggunakan alat bantu kuesioner, kemudian diperdalam dengan wawancara dan pada akhirnya dilakukan validasi.

Kami sangat berterima kasih sekiranya ada kritik dan saran dari semua pihak guna penyempurnaan penyajian informasi buku sejenis di masa mendatang. Kepada semua pihak yang telah berkontribusi tenaga dan pikiran dalam penyusunan buku ini tidak lupa kami ucapkan terima kasih. Semoga buku ini bermanfaat dalam mewujudkan keberhasilan upaya pengurangan risiko bencana di negara kita.

Jakarta, Agustus 2018

Kepala Pusat Krisis Kesehatan

dr. Achmad Yurianto

NIP. 196203112014101001

Kata Pengantar

(6)
(7)

meninggal sejak tahun 2014 hingga 2017 seba nyak 1.917 jiwa atau sekitar 639 jiwa per tahun, korban luka berat/rawat inap sebanyak 8.585 orang atau sekitar 2.861 orang per tahun, korban luka ringan/rawat jalan sebanyak 622.882 orang atau sekitar 207.627 orang per tahun, dan pengungsi sebanyak 781.143 jiwa atau sekitar 260.381 jiwa per tahun. 1

Bencana umumnya memiliki dampak yang merugikan. Rusaknya sarana prasarana fisik, pemukiman dan fasilitas umum. Dampak lain adalah permasalahan kesehatan seperti korban meninggal, korban cedera berat yang memerlu- kan perawatan intensif, peningkatan risiko penyakit menular, tidak memadainya jumlah dan jenis obat serta alat kesehatan, terbatasnya tenaga kesehatan, kerusakan fasilitas kesehatan, rusaknya sistem penyediaan air, stress pasca trauma, masalah gizi, dan psikososial. Kejadian bencana seringkali diikuti dengan adanya arus pengungsian penduduk ke lokasi yang aman, yang akan menimbulkan permasalahan kesehatan yang baru di lokasi tujuan pengungsian tersebut.

Hal ini tentu akan berdampak pada pembangunan kesehatan baik tingkat nasional maupun daerah.

Dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk memulihkan keadaan. Belum lagi waktu yang hilang untuk mengejar ketertinggalan.

Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019 menetapkan 190 kabupaten/kota rawan bencana untuk menjadi sasaran peningkatan kapasitas dalam rangka pengurangan risiko krisis kesehatan. Salah satu langkah awal dalam upaya peningkatan kapasitas tersebut adalah dengan melakukan asistensi ke kabupaten kota untuk selanjutnya memetakan risiko krisis kesehatan di wilayah tersebut. Pemilihan provinsi 1.1. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara yang wilayahnya rawan terhadap terjadinya bencana. Berdasarkan Indeks Risiko Bencana Indonesia tahun 2013 yang dikeluarkan BNPB, dari 496 kabupaten/

kota, 65% nya adalah lokasi berisiko tinggi.

Secara geografis Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia, dan Samudera Pasifik. Pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari Pulau Sumatera, Jawa - Nusa Tenggara, Sulawesi, yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa.

Kondisi tersebut sangat berpotensi sekaligus rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir, dan tanah longsor.

Selain faktor alam, secara geopolitik, Indonesia memiliki peran ekonomi internasional yang cukup penting karena memiliki pelabuhan internasional yang menjadi lalu lintas antar negara. Ditambah jumlah penduduk yang banyak (nomor 4 dunia) dan terdiri dari multi-etnis serta multi-agama menyebabkan Indonesia berisiko untuk terjadinya konflik sosial.

Dalam beberapa tahun terakhir ini Indonesia sering dilanda bencana, baik bencana alam (banjir, gunung meletus, tanah longsor, gempa bumi, banjir dan banjir bandang), non-alam (kegagalan teknologi), maupun bencana sosial (konflik dan terorisme). Berdasarkan data yang dikumpulkan Pusat Krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan, dari tahun 2015 hingga 2017 telah terjadi 1.477 kejadian krisis kesehatan. Jumlah korban yang ditimbulkan pun tidak sedikit. Tercatat korban

Pendahuluan

(8)

d. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana;

e. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan Pengelolaan Bantuan Bencana;

f. Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2013 tentang Program Dekade Aksi Keselamatan Jalan;

g. Peraturan Menteri Koordinator Kesejah- teraan Rakyat Nomor 54 Tahun 2013 tentang Rencana Pengembangan Tenaga Kesehatan tahun 2011-2025;

h. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 81 Tahun 2004 tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan Sumber Daya Manusia Kesehatan di Tingkat Provinsi, Kabupaten/

Kota Serta Rumah Sakit;

i. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 66 Tahun 2006 tentang Pedoman Manajemen Sumber Daya Manusia Kesehatan pada Penanggulangan Bencana;

j. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 971 Tahun 2009 tentang Standar Kompetensi Pejabat Struktural Kesehatan;

k. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2013 tentang Penanggulangan Krisis Kesehatan;

l. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 77 Tahun 2014 tentang Sistem Informasi Penanggulangan Krisis Kesehatan;

m. Peraturan Kepala BNPB Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana;

n. Peraturan Kepala BNPB Nomor 3 Tahun 2012 tentang Panduan Penilaian Kapasitas Daerah dalam Penanggulangan Bencana;

o. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/MENKES/52/2015 tentang Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019; dan

p. Keputusan Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK. 02.03/4/77/2017 tentang Perubahan atas Keputusan Kepala Pusat Krisis Kesehatan (Kementerian Kesehatan) Nomor HK.02.04/4/1515/2016 tentang Penetapan 34 Kabupaten/Kota Rawan Bencana Tahun 2017 - 2019.

(kabupaten/kota) berdasarkan 136 kabupaten/

kota rawan bencana pusat pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan dalam RPJMN 2015-2019. Selain itu juga ditambahkan kabupaten/kota bermasalah kesehatan yang memiliki indeks risiko bencana dengan kelas risiko tinggi.

Pusat Krisis Kesehatan pada tahun 2018 telah melakukan asistensi di 37 kabupaten/kota rawan bencana dari 190 Kabupaten/Kota yang telah ditetapkan. Kabupaten/kota tersebut berada di 9 provinsi yaitu Provinsi Sumatera Utara, Bangka Belitung, Nusa Tenggara Barat, D.I. Yogyakarta, Maluku, Riau, Aceh, Sulawesi Selatan, dan Kepulauan Riau. Hasil asistensi tersebut dikaji untuk selanjutnya disusun menjadi profil krisis kesehatan kabupaten/kota yang menggambarkan bahaya, kerentanan dan kapasitas terkait dengan penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana di daerah.

1.2. Tujuan

Tujuan penyusunan profil penanggulangan krisis kesehatan yaitu :

a. Memetakan ancaman (hazard), kerentanan, dan kapasitas terkait penanggulangan krisis kesehatan di 9 provinsi rawan bencana target tahun 2018;

b. Mengidentifikasi permasalahan terkait penanggulangan krisis kesehatan di 9 provinsi rawan bencana target tahun 2018;

c. Memberikan usulan/rekomendasi kebi- jakan-kebijakan yang perlu diambil oleh Dinas Kesehatan Provinsi dan Kementerian Kesehatan dalam rangka menyelesaikan permasalahan yang ditemui di Dinas Kesehatan Provinsi terkait upaya penanggulangan krisis kesehatan; dan d. Memberi masukan untuk kebijakan nasional

terkait penanggulangan krisis kesehatan.

1.3. Dasar Hukum

a. Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana;

b. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;

c. Undang–undang Nomor 44 Tahun 2009

tentang Rumah Sakit;

(9)

a. Standar penilaian untuk potensi ancaman bencana (Hazard) adalah potensi yang rendah di suatu wilayah untuk terjadi kejadian bencana/krisis kesehatan;

b. Standar untuk menilai kerentanan yaitu kondisi sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat baik sehingga mampu bertahan dari sisi kesehatan dalam menghadapi bahaya/ancaman; dan c. Standar untuk menilai kapasitas adalah

daerah dan masyarakat memiliki kemampuan untuk melakukan pengurangan tingkat ancaman dan tingkat kerugian bidang kesehatan akibat bencana.

3. Menentukan Indikator > untuk mengetahui apakah standar dari Hazard, Kerentanan dan Kapasitas sudah tercapai/sudah terpenuhi atau belum, dengan rincian sebagai berikut:

a. Indikator untuk Potensi Ancaman Bencana (Hazard), antara lain :

1) Jenis ancaman bencana di wilayah tersebut; dan

2) Jumlah kejadian krisis kesehatan di wilayah tersebut dalam kurun waktu 5 tahun terakhir (2014 -2018)

b. Indikator untuk Kerentanan (Vulnerability), antara lain :

1) Jumlah populasi rentan, terdiri dari bayi, balita, ibu hamil, ibu menyusui, lansia, dan penyandang disabilitas;

2) Status kesejahteraan masyarakat dilihat dari nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM); dan

3) Status kesehatan masyarakat dilihat dari nilai Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM).

c. Indikator untuk Kapasitas (Capacity).

Indikator kapasitas dalam penang- gulangan krisis kesehatan terbagi dalam:

1) Kelembagaan Kebijakan a. Kebijakan/peraturan b. Struktur organisasi

penanggulangan krisis kesehatan c. Keterlibatan institusi/lembaga non

pemerintahan dalam koordinator penanggulangan krisis kesehatan.

q. Keputusan Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK. 02.03/4/300.1/2018 tentang Perubahan atas Keputusan Kepala Pusat Krisis Kesehatan (Kementerian Kesehatan) Nomor HK.02.04/4/1515/2016 tentang Penetapan 34 Kabupaten/Kota Rawan Bencana Tahun 2017 - 2019.

1.4. Metodologi

Metodologi penyusunan Profil Penanggulangan Krisis Kesehatan Tahun 2018 terdiri dari beberapa tahap, antara lain :

A. Penyusunan Kuesioner

Kuesioner berisi pertanyaaan-pertanyaan yang menggambarkan faktor risiko dalam penanggulangan krisis kesehatan yang mencakup potensi ancaman bencana (Hazard), Kerentanan (Vulnerability) dan Kapasitas (Capacity). Referensi penyusunan kuesioner yaitu peraturan perundangan/regulasi yang berlaku, SPHERE Handbook (2011), Global Health Cluster Suggested Set Of Core Indicators and Benchmarks By Category (IASC) serta Benchmarks, Standards and Indicators for Emergency Preparedness and Response (WHO).

Tahap Penyusunan Kuesioner terdiri dari :

1. Menentukan Tolok Ukur > dilakukan untuk mengetahui komponen-komponen yang di- gu nakan untuk menilai Hazard, Kerentanan dan Kapasitas, yaitu :

a. Tolok ukur untuk menilai potensi ancaman bencana (Hazard) berupa probabilitas dan dampak;

b. Tolok ukur untuk menilai Kerentanan (Vulnerability) berupa faktor-faktor sosial budaya, ekonomi, fisik, dan lingkungan; dan

c. Tolok ukur untuk menilai kapasitas meliputi kelembagaan/kebijakan, penguatan kapasitas, peringatan dini, mitigasi, dan kesiapsiagaan.

2. Menentukan Standard > dilakukan untuk

menentukan tingkat kualitas/kuantitas

yang disepakati/ditetapkan menjadi patokan

untuk tolok ukur yang ditetapkan, yaitu:

(10)

Metode pengambilan data yaitu dengan :

1. Wawancara dengan responden yaitu Pengelola Program Penanggulangan Krisis Kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten/

Kota yaitu staf dan/atau pejabat terkait.

Dalam wawancara ini Tim Asistensi menanyakan secara langsung pertanyaan yang terdapat di dalam kuosioner. Data yang diperoleh berupa data/jawaban langsung dari responden disertai dokumen-dokumen pendukung seperti :

a. Peraturan Kepala Daerah/Kepala Dinas Kesehatan;

b. Dokumen Rencana Kontinjensi;

c. SK Tim Penanggulangan Krisis Kesehatan;

d. SK Tim Penanggulangan Bencana Di Rumah Sakit;

e. Dokumen Hospital Disaster Plan;

f. Data Kejadian Krisis Kesehatan 5 Tahun Terakhir;

g. Data Contact Person;

h. Peta Rawan Bencana, dll

2. Kunjungan dalam rangka koordinasi dan advokasi ke Dinas Kesehatan Provinsi, BPBD Povinsi, dan Rumah Sakit Umum Provinsi.

Kunjungan ke Rumah Sakit Umum Provinsi untuk menilai kesiapan rumah sakit dan puskesmas dalam penanggulangan krisis kesehatan dari segi bangunan, manajemen, sumber daya manusia dan sarana prasarana.

3. Selain itu, untuk melengkapi pengambilan data di lapangan, dilakukan pengambilan data di situs-situs serta buku resmi pemerintahan yang resmi yaitu antara lain :

• http://bppsdmk.kemkes.go.id/info_sdmk/

• http://www.bankdata.depkes.go.id/

puskesmas/

• w w w. d e p k e s . g o . i d / re s o u rc e s / . . . / datadasar-puskesmas-tahun-2013.pdf

• http://sirs.buk.depkes.go.id/rsonline/

r e p o r t / p r o y e k s i _ b o r _ k a b k o t a . php?id=17prop

• http://sirs.buk.depkes.go.id/rsonline/

data_list.php

• www.litbang.depkes.go.id/penerbitan/

index.php/blp/catalog/book/85

• www.bps.go.id

• www.inarisk.bnpb.go.id 2) Penguatan Kapasitas

a. Fasilitas pelayanan kesehatan;

b. Sumber daya manusia kesehatan;

3) Peringatan Dini

a. Sosialisasi peringatan dini ke kabupaten/kota.

b. Pemetaan ketersediaan peringatan dini

4) Mitigasi

a. Pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan krisis kesehatan;

b. Kapasitas untuk memetakan risiko krisis kesehatan;

c. Anggaran kegiatan pengurangan risiko kegiatan.

d. Sistem Informasi 5) Kesiapsiagaan

a. Rencana penanggulangan krisis kesehatan dan SOP;

b. Pembiayaan tanggap darurat krisis kesehatan;

c. Sarana dan prasarana

penanggulangan krisis kesehatan 4. Membuat Pertanyaan.

Dari indikator-indikator yang telah ditentukan dari tiap komponen Hazard, Kerentanan, dan Kapasitas langkah selanjutnya adalah membuat pertanyaan-pertanyaan untuk masing-masing indikator tersebut. Misalnya untuk mengetahui kepemilikan Tim Penanggulangan Krisis Kesehatan di Dinas Kesehatan dibuat pertanyaan : Apakah Dinas Kesehatan telah membentuk/memiliki Tim Penanggulangan Krisis Kesehatan? Bila sudah, jenis tim apakah yang dimiliki? Tim RHA, Tim Gerak Cepat, atau Tim Bantuan Kesehatan?

B. Pengambilan Data

Pengambilan data dilakukan di Dinas

Kesehatan Provinsi oleh tim yang terdiri

dari petugas dari Pusat Krisis Kesehatan

Kementerian Kesehatan dan Dinas

Kesehatan Provinsi setempat. Pengambilan

data dilakukan pada periode Bulan Februari

– April 2018 di 9 provinsi rawan bencana yang

telah ditetapkan untuk tahun 2018.

(11)

kedaulatan (negara/provinsi/kabupaten/

kota) dalam kilometer persegi (km 2 ).

2. Jumlah Penduduk

Jumlah penduduk adalah jumlah manusia yang bertempat tinggal/berdomisili pada suatu wilayah atau daerah dan memiliki mata pencaharian tetap di daerah itu serta tercatat secara sah berdasarkan peraturan yang berlaku di daerah tersebut. Pencatatan atau pengkategorian seseorang sebagai penduduk biasanya berdasarkan usia yang telah ditetapkan.

3. Penduduk/Populasi Rentan

Kelompok penduduk yang dapat/lebih mudah mengalami dampak kesehatan apabila terkena kejadian bencana. Yang termasuk kelompok penduduk/populasi rentan dalam buku profil ini adalah ibu hamil, ibu menyusui, bayi (0-1 tahun), balita (0-5 tahun), lanjut usia (di atas 55 tahun), dan penyandang disabilitas.

4. Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) / Human Development Index (HDI) adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan, dan standar hidup untuk semua negara seluruh dunia. IPM digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, negara berkembang atau negara terbelakang, dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup. Status Kesejahteraan Masyarakat ditetapkan berdasarkan nilai IPM, yaitu : a. Tinggi = Nilai IPM lebih dari atau sama

dengan 80

b. Menengah Atas = Nilai IPM 65 – 79 c. Menengah Bawah = Nilai IPM 50 - 64 d. Rendah = Nilai IPM < 50

5. Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM)

Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) adalah kumpulan indikator kesehatan yang dapat dengan mudah dan langsung diukur untuk menggambarkan masalah kesehatan. Status Kesehatan Masyarakat ditetapkan berdasarkan nilai IPKM, yaitu : a. Di atas rata-rata = Nilai IPKM > 0.7270 b. Rata-rata = Nilai IPKM 0.6401 - 0.7270 c. Di bawah rata-rata = Nilai IPKM < 0.6401

• www.dibi.bnpb.go.id

• terbitan.litbang.depkes.go.id

• disdukcapil.pemkomedan.go.id

• dinkes.sulselprov.go.id

• dinkes.babelprov.go.id C. Input Data

Jawaban pertanyaan/data yang ada dalam kuesioner diinput/dimasukkan secara manual dalam file microsoft word untuk kemudian dianalisa. Saat ini, input data belum bisa dilakukan ke dalam Sistem Informasi Penanggulangan Krisis Kesehatan (SIPKK) yang dapat diakses di website www.

pusatkrisis.kemkes.go.id/pemantauan.

D. Pengolahan Data

Data yang telah diinput di dalam SIPKK oleh tim asistensi selanjutnya akan diolah dalam Decision Support System (DSS) kemudian dianalisa oleh tim dimana hasilnya berupa nilai dari masing-masing indikator yang diolah dengan membandingkan jawaban/

data kuesioner dengan standar masing- masing indikator.

E. Penyusunan Naskah Profil Penanggulangan Krisis Kesehatan

Penyusunan naskah profil dilakukan dengan mendeskripsikan indikator-indikator penilaian risiko krisis kesehatan yang diperoleh dari hasil pengolahan data oleh Decision Support System (DSS). Kegiatan ini dibagi dalam 3 tahap/kegiatan, yaitu : Penyusunan Draft 1, Penyusunan Draft 2 serta Finalisasi. Penyusunan Profil dilakukan oleh Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan dengan turut melibatkan unit lintas program terkait di Kementerian Kesehatan. Unit lintas sektor yang terlibat antara lain Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Penyusunan Profil ini juga melibatkan Universitas serta LSM/NGO.

1.5. Definisi Operasional 1. Luas Wilayah

Luas wilayah adalah sebuah daerah yang

dikuasai atau menjadi teritorial dari se buah

(12)

13. Kapasitas adalah kemampuan daerah untuk melakukan tindakan pengurangan tingkat ancaman dan tingkat kerugian akibat bencana. Kategori kapasitas dihitung dari pencapaian indikator kapasitas yang terdiri dari 5 komponen kapasitas, yaitu kebijakan/peraturan, penguatan kapasitas, peringatan dini, mitigasi, dan kesiapsiagaan.

Pengkategorian tingkatan kapasitas daerah adalah sebagai berikut:

Rendah : pencapaian 1 % - 33 % dari seluruh indikator

Sedang : pencapaian 34 % - 66 % dari seluruh indikator

Tinggi : pencapaian 67 % - 100 % dari seluruh indikator

14. Rawan Bencana

Rawan bencana adalah kondisi atau karakteristik geologis, biologis, hidrologis, klimatologis, geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi pada suatu wilayah untuk jangka waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah, meredam, mencapai kesiapan, dan mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu.

15. Risiko Bencana

Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau harta, dan gangguan kegiatan masyarakat.

16. Pemerintah Pusat

Pemerintah pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

17. Pemerintah Daerah

Pemerintah daerah adalah gubernur, bupati/

walikota, atau perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah.

6. Krisis Kesehatan

Krisis kesehatan adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam kesehatan individu atau masyarakat yang disebabkan oleh bencana dan/atau berpotensi bencana.

7. Bencana

Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

8. Kesiapsiagaan

Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi krisis kesehatan melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna.

9. Mitigasi Kesehatan

Mitigasi kesehatan adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko krisis kesehatan, baik melalui penyadaran dan peningkatan kemampuan sumber daya kesehatan maupun pembangunan fisik dalam menghadapi ancaman krisis kesehatan.

10. Peringatan Dini

Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang.

11. Tanggap Darurat

Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.

12. Ancaman Bencana (Hazard)

Ancaman bencana adalah suatu kejadian

atau peristiwa yang bisa menimbulkan

bencana.

(13)

Pemerintah. pemerintah daerah, dan/

atau masyarakat. Penilaian ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan dihitung dari jumlah total fasyankes/10.000 penduduk (fasyankes = RS + puskesmas perawatan + puskesmas non perawatan + klinik swasta).

Standar minimal yang dipakai adalah 1 fasyankes/10.000 penduduk.

24. Puskesmas

Puskesmas adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan kabupaten/kota bertanggung jawab menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, dapat diterima, dan terjangkau oleh masyarakat dengan peran serta aktif masyarakat dan menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna dengan biaya yang dapat dipikul oleh pemerintah dan masyarakat.

Penilaian ketersediaan puskesmas dihitung dari jumlah total (puskesmas perawatan + puskesmas non perawatan) /50.000 penduduk. Standar minimal yang dipakai adalah 1 puskesmas/50.000 penduduk.

25. Rumah Sakit

Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.

Penilaian ketersediaan rumah sakit menggunakan standar minimal yaitu 1 rumah sakit/250.000 penduduk.

26. Puskesmas Perawatan

Puskesmas perawatan atau puskesmas rawat inap merupakan Puskesmas yang diberi tambahan ruangan dan fasilitas untuk menolong penderita gawat darurat, baik berupa tindakan operatif terbatas maupun rawat inap sementara. Sesuai Standard Pelayanan Minimal bidang kesehatan di kabupaten/kota.

27. Kapasitas Tempat Tidur

Kapasitas tempat tidur adalah jumlah tempat tidur untuk pasien di ruang rawat inap rumah sakit. Penilaian kapasitas tem- pat tidur menggunakan standar 10 tempat tidur/10.000 penduduk.

18. Dana Siap Pakai (DSP)

Dana siap pakai adalah dana yang selalu tersedia dan dicadangkan oleh pemerintah untuk digunakan pada status keadaan darurat bencana, yang dimulai dari status siaga darurat, tanggap darurat, dan transisi darurat ke pemulihan.

19. Biaya Tak Terduga (BTT)

Biaya tak terduga adalah dana yang disediakan oleh Pemerintah yang sifatnya tidak biasa. Bukan merupakan kegiatan normal dari aktivitas pemerintah daerah dan tidak dapat diprediksi sebelumnya, tidak diharapkan terjadi secara berulang ; berada di luar kendali dan pengaruh pemerintah daerah ; dan memiliki dampak yang signifikan terhadap anggaran dalam rangka pemulihan yang disebabkan oleh keadaan darurat, sesuai dengan PP Nomor 58 Tahun 2005 tentang Keuangan Daerah.

20. Kesehatan

Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

21. Sumber Daya Kesehatan

Sumber daya kesehatan adalah sumber daya di bidang kesehatan adalah segala bentuk dana, tenaga, perbekalan kesehatan, sediaan farmasi, dan alat kesehatan serta fasilitas pelayanan kesehatan dan teknologi yang dimanfaatkan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.

22. Obat

Obat adalah bahan atau paduan bahan, termasuk produk biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan, dan kontrasepsi untuk manusia.

23. Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Fasilitas pelayanan kesehatan adalah

suatu alat dan/atau tempat yang digunakan

untuk menyelenggarakan upaya pelayanan

kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif,

dan rehabilitatif yang dilakukan oleh

(14)

34. Perawat

Perawat adalah seseorang yang telah lulus pendidikan tinggi keperawatan, baik di dalam maupun di luar negeri yang diakui oleh pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Penilaian ketersediaan perawat berdasarkan standar.

Jumlah total perawat/100.000 penduduk.

Dinyatakan kurang apabila jumlah perawat

< 158 /100.000 penduduk dan sesuai standar apabila ≥ 158 / 100.000 penduduk.

35. Bidan

Bidan adalah seorang wanita yang telah mengikuti dan menyelesaikan pendidikan kebidanan yang telah diakui pemerintah dan lulus ujian sesuai dengan persyaratan yang berlaku dan diberi izin secara sah untuk melaksanakan praktik. Penilaian ketersediaan bidan berdasarkan standar jumlah total bidan/100.000 penduduk.

Dinyatakan kurang apabila jumlah bidan

<100 /100.000 penduduk dan sesuai standar apabila ≥ 100 / 100.000 penduduk.

36. Rencana Kontinjensi

Rencana kontinjensi adalah suatu proses identifikasi dan penyusunan rencana yang didasarkan pada keadaan kontinjensi atau yang belum tentu tersebut. Suatu rencana kontinjensi mungkin tidak selalu pernah diaktifkan, jika keadaan yang diperkirakan tidak terjadi.

37. Pemberdayaan Masyarakat dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan

Segala upaya fasilitasi yang bersifat musyawarah, guna meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat, agar mampu mengidentifikasi masalah krisis kesehatan yang dihadapi, potensi untuk penanggulangan krisis kesehatan yang dimiliki, merencanakan, dan melaku- kan penyelesaiannya dengan memanfaatkan potensi masyarakat setempat.

38. Simulasi/Gladi Penanggulangan Krisis Kesehatan

Simulasi/gladi penanggulangan krisis kesehatan adalah tindakan atau proses meniru penampilan tertentu atau bentuk pemodelan dari serangkaian masalah 28. Bed Occupancy Rate (BOR)

BOR adalah persentase pemakaian tempat tidur pada satu satuan waktu tertentu. BOR merupakan persentase dari jumlah hari perawatan dibagi jumlah tempat tidur dikali periode tertentu.

29. Tim Penanggulangan Krisis Kesehatan Tim penanggulangan krisis kesehatan adalah sumber daya manusia kesehatan dan non kesehatan yang dimobilisasi apabila terjadi kejadian bencana.

30. Emergency Medical Team (EMT) / Tim Darurat Medis

EMT adalah kelompok profesional di bidang kesehatan yang melakukan pelayanan medis secara langsung kepada masyarakat yang terkena dampak bencana atau kegawatdaruratan sebagai tenaga kesehatan bantuan dalam mendukung sistem pelayanan kesehatan setempat.

31. Public Health Rapid Response Team (PHRRT) / Tim Respon Cepat Kesehatan Masyarakat PHRRT adalah kelompok tenaga kesehatan masyarakat yang bertugas merespon cepat kondisi kesehatan masyarakat yang terdampak bencana atau keadaan darurat.

32. Dokter Spesialis

Dokter spesialis adalah dokter yang meng- khususkan diri dalam suatu bidang ilmu kedokteran tertentu. Penilaian ketersediaan dokter spesialis berdasarkan standar. Jum- lah total dokter spesialis/100.000 penduduk.

Dinyatakan kurang apabila jumlah dokter spesialis < 10 /100.000 penduduk dan sesuai standar apabila ≥ 10 / 100.000 penduduk.

33. Dokter Umum

Dokter umum adalah tenaga medis

yang diperkenankan untuk melakukan

praktik medis tanpa harus spesifik

memiliki spesialisasi tertentu. Hal ini

memungkinkannya untuk memeriksa

masalah-masalah kesehatan pasien

secara umum untuk segala usia. Penilaian

ketersediaan dokter umum berdasarkan

standar Jumlah total dokter umum/100.000

penduduk. Dinyatakan kurang apabila jumlah

dokter spesialis < 40 /100.000 penduduk

dan sesuai standar apabila ≥ 40 /100.000

penduduk.

(15)

42. Relawan Penanggulangan Bencana

Relawan adalah orang yang menyediakan tenaga dan waktunya untuk membantu upaya penanggulangan bencana dengan tanggung-jawab yang besar atau terbatas, tanpa atau dengan sedikit latihan khusus, tetapi dapat pula dengan latihan yang sangat intensif dalam bidang tertentu, untuk bekerja sukarela/tanpa pamrih membantu tenaga profesional.

43. Memorandum of Understanding (MoU)

MoU atau nota kesepahaman, adalah sebuah dokumen legal yang menjelaskan persetujuan antara dua belah pihak.

44. Public Safety Center (PSC)

Pusat pelayanan terpadu yang menjamin kebutuhan masyarakat dalam hal-hal yang berhubungan dengan kegawatdaruratan, termasuk pelayanan medis yang dapat dihubungi dalam waktu singkat di manapun berada. Merupakan ujung tombak pelayanan yang bertujuan untuk mendapatkan respon cepat (quick response) terutama pelayanan pra rumah sakit.

atau peristiwa yang dapat digunakan untuk mengajarkan seseorang bagaimana melakukan sesuatu.

39. Table Top Exercise (TTX)

TTX adalah latihan meja atau gladi ruang, melibatkan personel kunci membahas skenario simulasi dalam suasana informal yang dirancang untuk menguji kemampuan teoritis dari suatu kelompok untuk menanggapi situasi tertentu.

40. Surveilans Penyakit

Surveilans penyakit adalah kegiatan analisis secara sistematis dan terus-menerus terhadap penyakit atau masalah-masalah kesehatan dan kondisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah-masalah kesehatan tersebut agar dapat dilakukan tindakan penanggulangan.

41. Standard Operating Procedure (SOP)

SOP yaitu suatu set instruksi (perintah kerja)

terperinci dan tertulis yang harus diikuti demi

mencapai keseragaman dalam menjalankan

suatu pekerjaan tertentu.

(16)
(17)

Bab II

PROFIL PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN

PROVINSI SUMATERA UTARA

(18)

Utara, Nias Barat, Kota Gunung Sitoli, dan Batubara. Kondisi topografi yaitu Sumatera Utara yaitu pantai, dataran rendah, dan dataran tinggi. Jumlah penduduk di Provinsi Sumatera Utara adalah 14,102,911 jiwa.

Akses komunikasi dan transportasi relatif tidak ada masalah, umumnya lancar . Jenis alat transportasi yang dapat digunakan untuk mencapai tiap kabupaten/kota yaitu mobil, sepeda motor, kapal laut, pesawat.

sedangkan alat transportasi untuk mencapai ibu kota provinsi meliputi. rentang waktu tempuh dari ibu kota provinsi ke ibu kota kabupaten/kota yaitu 5 menit.

2.3. Ancaman (Hazard)

Jenis ancaman bencana yang ada di Provinsi Sumatera Utara yaitu banjir, letusan gunung api, gempa bumi, gempa bumi dan tsunami, tanah longsor, banjir bandang, angin puting beliung, banjir dan tanah longsor, kebakaran, kebakaran hutan dan lahan, kejadian luar biasa (KLB) penyakit , kejadian luar biasa (KLB) keracunan, wabah penyakit (epidemi pandemi), konflik sosial atau kerusuhan sosial, aksi teror dan sabotase. Selama 5 tahun terakhir, krisis kesehatan yang pernah dialami adalah :

2.1. Pendahuluan

Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara terletak di Jalan Prof H. M. Yamin, SH No. 41 AA Medan. Telpon 4535320 dan fax 4524550. Mereka memiliki website yaitu dinkes.sumutprov.go.id dan email dinkes.

sumutprov.go.id. Responden dr. N.G. Hikmet, M.Kes, (085270786989) dan Suhadi, SKM, M.kes, (081260252425).

2.2. Karakteristik Wilayah

Provinsi Sumatera Utara mempunyai luas wilayah 72981.83 km 2 . Batas-batas wilayah yaitu sebelah utara dan sebelah timur Selat Malaka dan Negara Malaysia, sebelah selatan Provinsi Riau dan Sumatera Barat, sebelah barat Samudera Hindia. Provinsi Sumatera Utara terdiri dari 33 kabupaten/

kota, yaitu Tapanuli, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Nias, Langkat, Karo, Deliserdang, Simalungun, Asahan, Lanuhan Batu, Dairi, Toba Samosir, Mandailing Natal, Nias Selatan, Pakpak Batar, Humbang Hasudutan, Samosir, Serdang Bedagai, Padang Lawas Utara, Padang Lawas, Kota Medan, Kota Pematang Siantar, Kota Sibolga, Kota Tanjung Balai, Kota Binjai, Kota Tebing Tinggi, Kota Padang Sidempuan, Labuhan Batu Selatan, Labuhan Batu Utara, Nias

Tabel 2.1 Ancaman Bencana

No Tahun

Bencana Nama Bencana

Jumlah Korban Meninggal Hilang Luka

Berat

Luka

Ringan Pengungsi

1 2018 Banjir 0 0 0 0 86

2 2018 Kecelakaan Transportasi 3 164 6 15 0

3 2018 Angin Puting Beliung 0 0 2 0 0

4 2018 Kebakaran 0 0 0 0 80

5 2018 Angin Puting Beliung 0 0 0 2 0

6 2018 Banjir 0 0 0 0 200

7 2018 Angin Puting Beliung 0 0 4 0 0

8 2018 Kejadian Luar Biasa

(KLB) - Keracunan 0 0 0 63 0

9 2018 Banjir 0 0 0 0 150

(19)

2.5. Kapasitas

Dari 45 indikator kapasitas, sebanyak 23 indikator telah dipenuhi oleh Provinsi Sumatera Utara. Nilai tersebut termasuk kategori sedang. rinciannya sebagai berikut : 2.4. Kerentanan

Populasi kelompok rentan di Provinsi Sumatera Utara yaitu 8,083,300 jiwa atau 57.32% dari seluruh populasi. Proporsi kelompok rentan tersebut termasuk buruk karena diatas rata-rata bila dibandingkan proporsi kelompok rentan nasional. IPM termasuk tinggi (bagus) yaitu 70.00. IPKM termasuk rata-rata (cukup) yaitu 0.6861.

No Tahun

Bencana Nama Bencana

Jumlah Korban Meninggal Hilang Luka

Berat

Luka

Ringan Pengungsi

10 2017 Banjir 0 0 0 0 30

11 2017 Banjir 0 0 0 0 40

12 2017 Kecelakaan Transportasi 0 0 2 0 0

13 2017 Banjir 0 0 0 0 60

14 2017 Banjir 0 0 0 0 41

15 2017 Angin Puting Beliung 0 0 0 2 0

16 2017 Letusan Gunung Api 0 0 0 0 7214

17 2017 Gempa Bumi 0 0 1 0 0

18 2017 Banjir 0 0 0 0 116

19 2017 Banjir Bandang 1 0 0 0 0

20 2017 Kejadian Luar Biasa

(KLB) - Keracunan 0 0 31 69 0

21 2017 Kejadian Luar Biasa

(KLB) - Keracunan 0 0 92 42 0

22 2016 Banjir Bandang 0 0 0 0 516

23 2016 Kejadian Luar Biasa

(KLB) - Keracunan 0 0 72 0 0

24 2016 Banjir 1 0 0 0 0

25 2015 Banjir Bandang 0 0 0 0 51

26 2015 Banjir 1 0 0 4138 1986

Tabel 2.2 Rincian Penilaian Kapasitas

No Indikator Pencapaian Standar Sesuai

Standar

Kurang dari Standar

Keterangan/

Referensi 1 Kebijakan/Peraturan

a. Kebijakan/Peraturan 1. Peraturan yang dibuat

pemerintah provinsi terkait penanggulangan bencana/krisis kesehatan

Ada Ada

(20)

No Indikator Pencapaian Standar Sesuai Standar

Kurang dari Standar

Keterangan/

Referensi 2. Peraturan/SK Kadinkes

terkait penanggulangan bencana/krisis kesehatan

Ada Ada

3. Tersedia/SOP mekanisme

koordinasi terkait PKK Ada Ada

b. Struktur Organisasi Penanggulangan Krisis Kesehatan

4. Pelaksanaan pertemuan koordinasi klaster kesehatan

Sewaktu-waktu saja, bila terjadi bencana/ada hal

yang penting

Rutin, tidak hanya kalau terjadi bencana 5. Unit di dinas kesehatan

yang memiliki tugas mengkoordinasikan upaya penanggulangan krisis kesehatan

Ada Ada

6. SK klaster kesehatan

provinsi Tidak Ada Ada

c. Keterlibatan Institusi/Lembaga Non Pemerintahan Dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan 7. Dinas kesehatan

telah mengidentifikasi institusi/lembaga non pemerintahan yang dilibatkan dalam penanggulangan krisis kesehatan

Belum Sudah

8. Dinas kesehatan pernah mengadakan MoU dengan LSM/Instansi/lembaga non pemerintah dalam penanggulangan krisis kesehatan

Ya Ya

2 Penguatan Kapasitas

a. Fasilitas Pelayanan Kesehatan 9. Pembinaan teknis/

pendampingan kabupaten/kota dalam melakukan penilaian risiko fasilitas pelayanan kesehatan yang aman terhadap berbagai ancaman bencana yang

Tidak Ya

(21)

No Indikator Pencapaian Standar Sesuai Standar

Kurang dari Standar

Keterangan/

Referensi b.Sumber Daya Manusia

10. Ketenagaan pada unit yang mengkoordinir upaya penanggulangan krisis kesehatan di dinas kesehatan

Terdapat 2857 Tenaga S2 Kesehatan dan Tenaga S2 Non

Kesehatan

Ada setidak tidaknya

4 orang S2 (2 manaje- men dan 2 medis)

Kepmenkes no. 81/2004 tentang Pedoman Penyusunan Perenca- naan SDM di Tingkat Prov, Kab/

Kota dan RS

11. Tim RHA Memiliki Memiliki

12. Tim penyelidikan

epidemiologi Memiliki Memiliki 13. TGC atau EMT dan

PHRRT Tidak Memiliki Memiliki

14. SOP mekanisme mobilisasi tim RHA/

TGC/EMT/PHRRT saat bencana

Ada Ada

15. Petugas yang terlatih terkait manajemen penanggulangan krisis kesehatan

Tidak Memiliki Memiliki

16. Petugas yang terlatih terkait teknis medis Penanggulangan Krisis Kesehatan

Tidak Memiliki Memiliki

17. Petugas yang terlatih terkait teknis non medis penanggulangan krisis kesehatan

Tidak Memiliki Memiliki

18. Memetakan/

mengidentifikasi petugas kesehatan di wilayahnya yang siap untuk dimobilisasi pada kondisi bencana

Melakukan Melaku- kan

19. Perencanaan

peningkatan kapasitas SDM terkait PKK yang rutin dan berkesinambungan

Tidak Melakukan Melaku-

kan

(22)

No Indikator Pencapaian Standar Sesuai Standar

Kurang dari Standar

Keterangan/

Referensi 3 Peringatan Dini

20. Sosialisasi/peningkatan kapasitas pada

kabupaten/kota tentang sistem peringatan dini

Tidak Melakukan Melaku- kan

21. Memetakan

ketersediaan sistem peringatan dini di kabupaten/kota yang menjadi wilayahnya

Tidak Melakukan Melaku- kan

4 Mitigasi

a. Pemberdayaan Masyarakat dalam Penanggulangan Krisis Kesehatan 22. Pembinaan teknis dan

pendampingan dalam rangka pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan krisis kesehatan

Tidak Melakukan Melaku- kan

23. Peningkatan kapasitas terkait pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan krisis kesehatan bagi aparatur provinsi dan kabupaten/

kota

Tidak Melakukan Melaku- kan

b. Kapasitas untuk memetakan risiko Krisis Kesehatan 24. Peta/pemetaan

kapasitas atau data kapasitas sumberdaya yang dapat digunakan untuk penanggulangan krisis kesehatan

Tidak Ada Ada

25. Peta/pemetaan kelompok rentan per kabupaten/kota

Tidak Ada Ada

26. Peta/pemetaan jenis ancaman bencana per kabupaten/kota

Tidak Ada Ada

c. Anggaran pengurangan risiko kesehatan 27. Dinas Kesehatan

mengalokasikan anggaran kegiatan pengurangan risiko

Tidak Ya

(23)

No Indikator Pencapaian Standar Sesuai Standar

Kurang dari Standar

Keterangan/

Referensi d. Sistem Informasi

28. Data kejadian krisis kesehatan 5 tahun terakhir

Ada Ada

29. Daftar kontak person lintas program dan lintas sektor terkait penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana baik di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi

Ada Ada

30. Media informasi yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dalam kesiapsiagaan bencana

Tidak Ada Ada

31. Sarana pengumpulan, pengolahan data, dan penyampaian informasi terkait penanggulangan krisis kesehatan

Ada, yaitu telepon, fax, hp, komputer,

internet

Ada

32. Sistem pemantauan 24

jam Tidak Ada Ada

5 Kesiapsiagaan

a. Rencana Penanggulangan Krisis Kesehatan dan Standard Operating Procedure 33. Memfasilitasi/

mendukung/

mengadvokasi dinkes kabupaten/kota untuk melakukan penyusunan rencana kontinjensi bidang kesehatan

Ada Ada

34.Memiliki Dokumen renkon bidang kesehatan untuk bencana tingkat provinsi

Ada Ada

35. SOP Pengelolaan obat dan logistik kesehatan bencana

Ada Ada

36. SOP pengelolaan

bantuan relawan Ada Ada

(24)

No Indikator Pencapaian Standar Sesuai Standar

Kurang dari Standar

Keterangan/

Referensi 37. SOP pemantauan

kejadian krisis kesehatan

Tidak Ada Ada

38. SOP pelaporan kejadian

krisis kesehatan Ada Ada

39. SOP pelayanan rujukan

(pra RS-RS) Ada Ada

40. SOP pelayanan kesehatan untuk penanggulangan krisis kesehatan

Ada Ada

b. Pembiayaan Tanggap Darurat Krisis Kesehatan 41.Dinas kesehatan

memahami penggunaan biaya tak terduga di BPBD

Tidak Ya

42. Dinas kesehatan memahami DSP di BNPB

Ya Ya

c. Sarana Prasarana PKK 43. Sarana rasarana khusus

untuk penanggulangan krisis kesehatan

Ya Ya

44. Penyediaan sarana prasarana telah menyesuaikan dengan jenis ancaman bencana di wilayahnya

Ya Ya

45. Sarana prasarana telah

mencukupi Ya Ya

(25)

(KLB) keracunan, wabah penyakit (epidemi - pandemi), konflik sosial atau kerusuhan sosial, aksi teror, dan sabotase.

b. Kerentanan yang bermasalah adalah Proporsi Kelompok Rentan.

c. Kapasitas Provinsi Sumatera Utara yaitu 51.11%, termasuk kategori sedang dengan rincian :

3.1. Kesimpulan

a. Ancaman bencana di Provinsi Sumatera Utara adalah banjir, letusan gunung api, gempa bumi, gempa bumi dan tsunami, tanah longsor, banjir bandang, angin puting beliung, banjir dan tanah longsor, kebakaran, kebakaran hutan dan lahan, kejadian luar biasa (KLB) penyakit, kejadian luar biasa

Tabel 3.1 Rekapitulasi Penilaian Kapasitas

No. Indikator Kapasitas Jumlah Indikator

Sesuai Standar/Sudah Tersedia/Sudah Ada/Sudah

Melakukan

Kurang dari Standar/

Tidak Tersedia/Belum Ada/

Belum Melakukan

1 Kebijakan/Peraturan 8 5 3

2 Penguatan Kapasitas 11 4 7

3 Peringatan Dini 2 0 2

4 Mitigasi 11 3 8

5 Kesiapsiagaan 13 11 2

Jumlah 45 23 22

3.2. Rekomendasi

Berdasarkan penilaian asistensi di atas, ada beberapa rekomendasi yang perlu menjadi tindak lanjut bagi masing-

masing tingkatan pemerintah. Rincian rekomendasi tersebut ialah sebagai berikut:

Tabel 3.2 Rekomendasi Peningkatan Kapasitas Kabupaten Bima Berdasarkan Tahun Kegiatan

NO Kegiatan Tahun

2018 2019 2020 1 Mensosialisasikan peraturan pemerintah provinsi yang ada terkait

penanggulangan bencana/krisis kesehatan

2 Mensosialisasikan peraturan Kadinkes terkait penanggulangan bencana/krisis kesehatan

3 Sosialisasi dan melaksanakan koordinasi sesuai SOP mekanisme koordinasi yang ada

4 Melakukan koordinasi klaster kesehatan secara rutin 5

Bab III

Kesimpulan dan Rekomendasi

(26)

NO Kegiatan Tahun 2018 2019 2020 6 Membentuk klaster kesehatan melalui SK Kadinkes

7 Mengidentifikasi & melibatkan institusi/lembaga non pemerintahan dalam penanggulangan krisis kesehatan

8

Evaluasi berkesinambungan dan meningkatkan koordinasi untuk implementasi MoU dengan LSM/instansi/lembaga non pemerintah dalam penanggulangan krisis kesehatan

9

Melakukan upaya pembinaan secara teknis dan manajemen untuk kesiapan kabupaten/kota dalam melakukan penilaian risiko fasilitas pelayanan kesehatan yang aman terhadap berbagai ancaman bencana yang terjadi di wilayah tersebut

10

Menetapkan kebijakan untuk penempatan tenaga kesehatan pada unit yang mengkoordinir upaya penanggulangan krisis kesehatan di dinas kesehatan agar sesuai dengan standard yang ditetapkan

11 Melakukan pembinaan dan peningkatan kapasitas Tim RHA

12 Melakukan pembinaan dan peningkatan kapasitas tim penyelidikan epidemiologi

13 Membentuk tim reaksi cepat/tim gerak cepat/emergency medical team

& PHRRT melalui SK Kadinkes

14 Sosialisasi, Evaluasi dan implementasi SOP mekanisme mobilisasi tim Penanggulangan Krisis Kesehatan

15 Melakukan peningkatkan kapasitas petugas kesehatan dalam manajemen Penangulangan Krisis Kesehatan

16 Menyiapkan kebijakan dan program untuk pelatihan petugas teknis medis penanggulangan krisis kesehatan

17 Menyiapkan kebijakan dan program untuk pelatihan petugas teknis non medis penanggulangan krisis kesehatan

18 Melakukan pembinaan pada petugas kesehatan yang siap untuk dimobilisasi pada saat bencana

19 Menyusun perencanaan program peningkatan kapasitas SDM terkait penanggulangan krisis kesehatan yang rutin dan berkesinambungan 20 Melakukan Sosialisasi/peningkatan kapasitas pada kabupaten/kota

tentang sistem peringatan dini

21 Melakukan pemetaan ketersediaan sistem peringatan dini di kabupaten/

kota yang menjadi wilayahnya

22

Melakukan Pembinaan teknis dan pendampingan pada kabupaten/

kota dalam rangka pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan krisis kesehatan dengan kegiatan minimal yaitu :

1) Sosialisasi penanggulangan krisis kesehatan 2) Pelatihan Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support)

23

Melakukan/memfasilitasi peningkatan kapasitas terkait pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan krisis kesehatan bagi aparatur provinsi dan kabupaten/kota

24 Membuat peta/pemetaan kapasitas atau data kapasitas sumber daya

yang dapat digunakan untuk penanggulangan krisis kesehatan

(27)

NO Kegiatan Tahun 2018 2019 2020 25 Membuat Peta/pemetaan kelompok rentan per kabupaten/kota

26 Membuat peta/pemetaan jenis ancaman bencana per kabupaten/kota 27 Mengalokasikan anggaran kegiatan pengurangan risiko krisis kesehatan 28 Menggunakan data kejadian krisis untuk perencanaan program PRB

29

Memanfaatkan daftar kontak person yang ada untuk memperlancar koordinasi dengan lintas program dan lintas sektor terkait penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana baik di tingkat kabupaten maupun provinsi

30 Membuat media informasi yang dapat diakses oleh seluruh masyarakat untuk untuk meningkatkan kesadaran dalam kesiap-siagaan bencana 31 Melakukan pemantauan dan menyampaikan informasi terkait

penanggulangan krisis kesehatan 32 Membuat sistem pemantauan 24 jam

33

Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan penyusunan rencana kontinjensi bidang kesehatan oleh kabupaten/kota dan memastikan berkoordinasi dengan BPBD setempat

34

Melakukan TTX, simulasi untuk uji coba renkon, dan mengevaluasi rencana kontijensi bidang kesehatan berkoordinasi dengan BPBD provinsi

35 Sosialisasi, simulasi, dan evaluasi SOP pengelolaan obat dan logistik kesehatan bencana.

36 Sosialisasi, simulasi dan evaluasi SOP pengelolaan bantuan relawan 37 Membuat SOP pemantauan kejadian krisis kesehatan

38 Sosialisasi, simulasi, dan evaluasi SOP pelaporan kejadian krisis kesehatan

39 Sosialisasi, simulasi dan evaluasi SOP sistem rujukan pada kondisi bencana

40 Sosialisasi, simulasi, dan evaluasi SOP pelayanan kesehatan untuk penanggulangan krisis kesehatan

41 Mengikuti kegiatan sosialisasi tentang biaya tak terduga di BPBD 42 Mensosialisasikan tentang penggunaan dana siap pakai di BNPB pada

klaster kesehatan

43

Melakukan pemeliharaan dan perawatan sarana prasarana untuk penanggulangan krisis kesehatan dan memastikan sarana tersebut telah memenuhi minimal:

a. Paket pelayanan kesehatan saat krisis kesehatan seperti perlengkapan tim (rompi dan spanduk pos kesehatan), kebutuhan bahan habis pakai kesehatan lingkungan, media KIE, dan ATK.

b. Paket pengurangan risiko krisis kesehatan bagi penduduk rawan

bencana di wilayahnya yaitu kebutuhan dalam melakukan

peningkatan kapasitas bantuan hidup dasar untuk awam (Basic Life

Support) bagi penduduk di wilayah rawan bencana .

(28)

NO Kegiatan Tahun 2018 2019 2020 44 Melakukan pemeliharaan dan perawatan sarana prasarana untuk

penanggulangan krisis kesehatan

45 Melakukan pemeliharaan dan perawatan sarana prasarana untuk

penanggulangan krisis kesehatan

(29)

KEMENTERIAN KESEHATAN RI PUSAT KRISIS KESEHATAN

Jalan H.R. Rasuna Said Blok X 5 Kav. No. 4-9 Blok A Lantai VI - Jakarta 12950 Telp. : (021) 526-5043, 521-0411, 521-0420

Fax. : (021) 527-1111 E-mail : ppkdepkes @yahoo.com

________________________________________________________________

KUESIONER

PENGUMPULAN DATA DALAM RANGKA

PENYUSUNAN PROFIL PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN DINAS KESEHATAN PROVINSI

I. UMUM Tahun : 2018

Provinsi : SUMATERA UTARA Kabupaten :

1. Dinas Kesehatan : PROVINSI SUMATERA UTARA

2. Alamat Lengkap : JALAN PROF H.M. YAMIN, SH NO.41 AA MEDAN 3. Telepon : 4535320

4. Fax : 4524550

5. Website : dinkes.sumutprov.go.id 6. Email :

7. Responden 1 :

Nama : dr. N.G. Hikmet, M.Kes

Jabatan :

Nomer HP : 085270786989

Responden 2 :

Nama : Suhadi, SKM, M.kes

Jabatan :

Nomer HP : 081260252425

II. GAMBARAN UMUM DAN AKSESIBILITAS WILAYAH (1-9) A. LUAS WILAYAH DAN JUMLAH PENDUDUK

1. Luas wilayah, jumlah dan kepadatan penduduk Provinsi

No Kode

Wilayah Uraian

Luas Wilayah

(km 2 )

Jumlah Penduduk

Kepadatan

Peduduk Topografi 1 1204 TAPANULI

TENGAH 2188,00 356918 163.13 jiwa/

km²

Dataran Rendah, Dataran Tinggi 2 1205 TAPANULI

UTARA 3791,64 295613 77.98 jiwa/km² Pegunungan, Dataran Rendah 3 1203 TAPANULI

SELATAN 6030,47 276889 45.92 jiwa/km² Dataran Rendah, Dataran Tinggi

4 1201 NIAS 1842,51 141403 76.77 jiwa/km²

Pegunungan, Pantai, Dataran Rendah, Dataran

Tinggi

(30)

No Kode

Wilayah Uraian

Luas Wilayah

(km 2 )

Jumlah Penduduk

Kepadatan

Peduduk Topografi

5 1213 LANGKAT 6264.29 1021208 163.02 jiwa/

km²

Pantai, Dataran Rendah, Dataran

Tinggi, Rawa- Rawa

6 1211 KARO 2127.25 396598 186.44 jiwa/

km²

Pegunungan, Dataran Tinggi 7 1212 DELI

SERDANG 2497.72 2072521 829.77 jiwa/

km²

Pantai, Dataran Rendah, Dataran

Tinggi

8 1209 SIMA-

LUNGUN 4372.50 854489 195.42 jiwa/

km²

Dataran Rendah,Dataran

Tinggi 9 1208 ASAHAN 3732,97 712684 190.97 jiwa/

km² 10 1207 LABUHAN

BATU 2156,02 470511 218.23 jiwa/

km²

Pegunungan, Dataran Tinggi 11 1210 DAIRI 1927,80 280610 145.62 jiwa/

km² 12 1206 TOBA

SAMOSIR 2328,89 180694 77.62 jiwa/km²

Pegunungan, Dataran Rendah,

Dataran Tinggi

13 1202

MANDAI- LING NATAL

6134,00 435303 70.97 jiwa/km²

Pegunungan, Pantai, Dataran Rendah, Dataran

Tinggi

14 1214 NIAS

SELATAN 1825,20 311319 170.59 jiwa/

km²

Pegunungan, Pantai, Dataran Rendah, Dataran

Tinggi 15 1216 PAKPAK

BHARAT 1218,30 46392 38.09 jiwa/km² Pegunungan, Dataran Tinggi 16 1215

HUMBANG HASUN- DUTAN

2335,33 184915 79.19 jiwa/km²

17 1217 SAMOSIR 2069,05 124496 60.17 jiwa/km²

Pegunungan, Pantai, Dataran Rendah, Dataran

Tinggi 18 1218 SERDANG

BEDAGAI 1900,22 610906 321.53 jiwa/

km²

Pegunungan, Dataran Rendah 19 1220

PADANG LAWAS UTARA

3918,05 257807 65.80 jiwa/km² Pegunungan, Dataran Rendah 20 1221 PADANG

LAWAS 3892,74 263784 67.78 jiwa/km² Pegunungan, Dataran Tinggi 21 1275 KOTA

MEDAN 265.10 2229408 8,409.69jiwa/

km² Dataran Rendah

(31)

No Kode

Wilayah Uraian

Luas Wilayah

(km 2 )

Jumlah Penduduk

Kepadatan

Peduduk Topografi

22 1273

KOTA PEMATANG SIANTAR

55,66 249505 4,536.45 jiwa/

km² 23 1271 KOTA

SIBOLGA 41,31 86789 2,116.80 jiwa/

km² 24 1272

KOTA TANJUNG BALAI

107,83 169084 1,580.22 jiwa/

km²

25 1276 KOTA

BINJAI 59,19 267901 4,540.69 jiwa/

km²

Pegunungan, Dataran Rendah,

Dataran Tinggi 26 1274

KOTA TEBING TINGGI

31,00 158902 5,125.87 jiwa/

km²

27 1277

KOTA PADANG SIDEM- PUAN

114,66 212917 1,867.69 jiwa/

km²

28 1222

LABUHAN BATU SELATAN

3596,00 320381 89.09 jiwa/km² Pegunungan, Dataran Tinggi

29 1223

LABUHAN BATU UTARA

3570,98 354485 99.30 jiwa/km² Pegunungan, Dataran Tinggi

30 1224 NIAS

UTARA 1202,78 135013 112.32 jiwa/

km²

Pegunungan, Pantai, Dataran Rendah, Dataran

Tinggi

31 1225 NIAS

BARAT 473,73 80785 170.79 jiwa/

km²

Pegunungan, Pantai, Dataran Rendah, Dataran

Tinggi 32 1278

KOTA GUNUNG SITOLI

280,78 137693 491.76 jiwa/

km²

Pegunungan, Pantai, Dataran

Rendah 33 1219 BATUBARA 922,20 404906 439.16 jiwa/

km² Total 73,261.86 14,102,829.00 192.50 jiwa/

km²

Jika Tidak Ditemukan Data Terpilah Maka Isikan Data Dibawah Ini : (Jika Data Dibawah Ini Memiliki Nilai Maka Data Dibawah Ini Akan Mengabaikan Tabel Diatas)

Topografi Pegunungan

Pantai

Dataran Rendah

(32)

Dataran Tinggi Rawa - Rawa

Luas Wilayah : 72981.83 Jumlah Penduduk : 14.102.911 Kepadatan Penduduk : 193.24 2. Letak geografis wilayah (Batas Wilayah)

Utara : Provinsi Aceh

Selatan : Provinsi Riau dan Sumatera Barat Tenggara :

Barat : Samudera Hindia Barat Laut :

Barat Daya :

Timur : Selat Malaka dan Negara Malaysia Timur Laut :

3. Jumlah Populasi Kelompok Rentan (balita, bumil, buteki, lansia dan penyandang disabilitas)

No Kode

Wilayah Uraian

Jumlah Populasi Kelompok Rentan Bayi Balita Ibu Hamil Ibu

Menyusui Lansia

1 1204 TAPANULI TENGAH 0 0 0 0 0

2 1205 TAPANULI UTARA 0 0 0 0 0

3 1203 TAPANULI SELATAN 0 0 0 0 0

4 1201 NIAS 0 0 0 0 0

5 1213 LANGKAT 22091 103519 22459 20417 233370

6 1211 KARO 8444 20554 15529 7015 97044

7 1212 DELI SERDANG 44724 221698 49197 44724 423636

8 1209 SIMALUNGUN 15620 90123 19104 6897 230154

9 1208 ASAHAN 10697 0 16237 10697 0

10 1207 LABUHAN BATU 0 0 0 0 0

11 1210 DAIRI 0 0 0 0 0

12 1206 TOBA SAMOSIR 0 0 0 0 0

13 1202 MANDAILING NATAL 0 0 0 0 0

14 1214 NIAS SELATAN 0 0 0 0 0

15 1216 PAKPAK BHARAT 0 0 0 0 0

16 1215 HUMBANG

HASUNDUTAN 0 0 0 0 0

17 1217 SAMOSIR 0 0 0 0 0

18 1218 SERDANG BEDAGAI 0 0 0 0 0

19 1220 PADANG LAWAS

UTARA 0 0 0 0 0

20 1221 PADANG LAWAS 0 0 0 0 0

21 1275 KOTA MEDAN 47541 217331 56115 47541 355752

22 1273 KOTA PEMATANG

SIANTAR 0 0 0 0 0

23 1271 KOTA SIBOLGA 0 0 0 0 0

24 1272 KOTA TANJUNG BALAI 0 0 0 0 0

25 1276 KOTA BINJAI 0 0 0 0 0

(33)

No Kode

Wilayah Uraian

Jumlah Populasi Kelompok Rentan Bayi Balita Ibu Hamil Ibu

Menyusui Lansia

26 1274 KOTA TEBING TINGGI 0 0 0 0 0

27 1277 KOTA PADANG

SIDEMPUAN 18267 0 0 0 0

28 1222 LABUHAN BATU

SELATAN 0 0 0 0 0

29 1223 LABUHAN BATU

UTARA 0 0 0 0 0

30 1224 NIAS UTARA 0 0 0 0 0

31 1225 NIAS BARAT 0 0 0 0 0

32 1278 KOTA GUNUNG SITOLI 0 0 0 0 0

33 1219 BATUBARA 0 0 0 0 0

Jika Tidak Ditemukan Data Terpilah Maka Isikan Data Dibawah Ini : (Jika Data Dibawah Ini Memiliki Nilai Maka Data Dibawah Ini Akan Mengabaikan Tabel Diatas)

Jumlah Bayi : 2.844.149 Jumlah Balita : 1.550.033 Jumlah Ibu Hamil : 339.523 Jumlah Ibu Menyusui : 281.449 Jumlah Lansia : 3.068.146

4. Nilai IPM (Indeks Pembangunan Manusia) provinsi 70.00

5. Nilai IPKM (Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat) provinsi 0.6861 B. AKSES KOMUNIKASI

6. Bagaimana akses komunikasi dari Provinsi ke kabupaten/kota?

Tidak ada masalah, umumnya lancar

Beberapa kabupaten/kota mengalami kendala; Jelaskan

Sebagian besar/seluruh kabupaten/kota mengalami kendala; Jelaskan.

C. AKSES TRANSPORTASI

7. Bagaimana akses transportasi dari provinsi ke ibu kota kabupaten/kota?

Tidak ada masalah, umumnya lancar

Beberapa kabupaten/kota akses transportasinya tidak mudah. Jelaskan

Sebagian besar/seluruh kabupaten/kota tidak mudah akses transportasinya. Jelaskan 8. Jenis alat transportasi apa saja yang dapat digunakan untuk mencapai tiap ibu kota kabupaten/

kota? (Jawaban boleh lebih dari satu) Mobil

Sepeda Motor Perahu

Kapal Laut Pesawat

Lain-lain, Sebutkan

9. Rentang waktu tempuh dariIbu Kota Provinsi ke Ibu Kota kabupaten/kota

(34)

III. KRISIS KESEHATAN (10)

10. Jenis ancaman bencana di wilayah ini? (Jawaban boleh lebih dari satu) Banjir

Letusan Gunung Api Gempa Bumi

Gempa Bumi dan Tsunami Tanah Longsor

Banjir Bandang Kekeringan

Angin Puting Beliung Gelombang Pasang/Badai

Banjir dan Tanah Longsor Kebakaran

Kebakaran Hutan dan Lahan Kecelakaan Transportasi Kecelakaan Industri

Kejadian Luar Biasa (KLB) - Penyakit Gagal Teknologi

Kejadian Luar Biasa (KLB) - Keracunan Wabah Penyakit (Epidemi - Pandemi) Konflik Sosial atau Kerusuhan Sosial Aksi Teror dan Sabotase

Lain-lain, Sebutkan

IV. SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN (11)

11. Data ketenagaan pada unit yang mengkoordinir upaya penanggulangan krisis kesehatan di Dinas Kesehatan.

No Tingkat Pendidikan Jumlah

1 S2 Kesehatan 2857

2 S2 Non Kesehatan

3 S1/D4 Kesehatan 6250

4 S1/D4 Non Kesehatan

5 D3 Kesehatan 30731

6 D3 Non Kesehatan

7 SLTA Kesehatan

8 SLTA Umum

9 SLTP

10 SD

(35)

V. KERANGKA HUKUM, MEKANISME KOORDINASI DAN STRUKTUR ORGANISASI TERKAIT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN (12-21)

A. KEBIJAKAN/PERATURAN TERKAIT PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN

12. Apakah Pemerintah Daerah Provinsi pernah membuat peraturan terkait penanggulangan bencana/krisis kesehatan?

Ya Tidak

Bila Ada, mohon disebutkan nomor, tahun dan judul Peraturan tersebut

13. Apakah Dinas Kesehatan Provinsi pernah membuat kebijakan/peraturan terkait penanggulangan krisis kesehatan?

Ya Tidak

Bila Ada, mohon disebutkan nomor, tahun dan judul Peraturan tersebut B. STRUKTUR ORGANISASI PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN

14. Apakah Dinas Kesehatan Provinsi memiliki unit kerja yang memiliki tupoksi sebagai koordinator dalam penanggulangan krisis kesehatan?

Ya Tidak

15. Bila tidak terletak di struktur, siapakah pelaksana koordinator penanggulangan krisis kesehatan?

16. Apakah Dinas Kesehatan Provinsi telah membentuk klaster kesehatan di wilayahnya?

Ya Tidak

Bila “YA” agar melakukan scan SK Klaster Kesehatan.

-

Bila “TIDAK/BELUM”, Mengapa?

C. MEKANISME KOORDINASI PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN

17. Apakah tersedia SOP mekanisme koordinasi terkait penanggulangan krisis kesehatan?

Ya Tidak

18. Bila ya, Apakah SOP tersebut memuat :(Jawaban boleh lebih dari satu) Mekanisme Koordinasi Pra Krisis Kesehatan

Mekanisme Koordinasi Saat Krisis

Mekanisme Koordinasi Pasca Krisis Kesehatan

19. Bila belum ada SOP, bagaimana pelaksanaan koordinasi dalam penanggulangan krisis kesehatan yang pernah dilakukan selama ini?

20. Pelaksanaan pertemuan koordinasi klaster kesehatan/pertemuan koordinasi membahas penanggulangan krisis kesehatan :

Rutin, tidak hanya kalau terjadi bencana

Sewaktu-waktu saja, bila terjadi bencana/ada hal yang penting 21. Unit apa saja yang terlibat dalam pertemuan koordinasi tersebut?

BPBD

Lintas program di Dinkes/koordinator sub-sub klaster Lintas sektor anggota klaster bencana

LSM

Perguruan Tinggi

Masyarakat

Lembaga Usaha

Lain-lain, Sebutkan

(36)

VI. KEPEMILIKAN TIM PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN (22-27)

22. Apakah Provinsi telah memiliki tim penanggulangan krisis kesehatan yang siap melakukan dukungan ke kabupaten/kota saat terjadi krisis kesehatan

Ya Tidak Bila tidak, Mengapa?

23. Bila memiliki, Tim apa sajakah yang tersedia : (Jawaban boleh lebih dari satu) Tim RHA

Tim Penyelidikan Epidemiologi/Tim Surveilans (TGC)

Tim Gerak Cepat (TGC) / Tim Reaksi Cepat (TRC) / Emergency Medical Team (EMT) dan Public Health Rapid Response Team (PHRRT)

24. Apakah pembentukan tim tersebut telah ditetapkan dengan SK Kadinkes/Direktur RS/Bupati?

Ya Tidak

Bila Ya, Mohon Scan SK -

25. Apakah tersedia SOP mekanisme mobilisasi TGC/TRC/Tim PE/EMT/PHRRT dan Tim RHA?

Ya Tidak Jika Tidak, Mengapa?

26. Bila YA, Apakah SOP tersebut memuat : (Jawaban boleh lebih dari satu) Jenis Tenaga Tiap Tim

Waktu Mobilisasi Setelah Bencana

1-24 jam 1-72 jam Lain-lain, Sebutkan Mekanisme Mobilisasi

Lainnya, Sebutkan

27. Apakah Dinkes Provinsi telah memetakan/mengidentifikasi ketersediaan tenaga-tenaga kesehatan yang siap untuk dimobilisasi di wilayah kerjanya pada saat bencana?

Ya, sudah ada data di seluruh kabupaten/kota

Ya, sudah ada data di sebagian kabupaten/kota, karena Belum sama sekali, karena

VII. RENCANA PENANGGULANGAN KRISIS KESEHATAN (28-31)

28. Apakah Dinas Kesehatan telah memfasilitasi/mendukung/membina Dinkes kabupaten/kota untuk melakukan penyusunan Rencana Kontinjensi Bidang Kesehatan?

Ya Tidak Jika Tidak, Mengapa?

29. Bila jawaban nomor 28 «YA», apakah kabupaten/kota tersebut telah menghasilkan dokumen Renkon bidang kesehatan?

Ya Tidak

Bila Ya? a. Apa judul, nama kabupaten/kota, tahun pembuatan dan sumber pembiayaannya?

b. Yang menandatangani Renkon tersebut yaitu : Bupati/walikota

Kadinkes kabupaten/kota

Masih sebatas draft

Gambar

Tabel 2.1 Ancaman Bencana
Tabel 2.2 Rincian Penilaian Kapasitas
Tabel 3.1 Rekapitulasi Penilaian Kapasitas

Referensi

Dokumen terkait

Apakah Dinas Kesehatan memiliki peta/pemetaan kapasitas atau data kapasitas sumber daya yang dapat digunakan untuk penanggulangan krisis kesehatan. (SDM, Sarana

Salah satu langkah awal dalam upaya peningkatan kapasitas tersebut adalah dengan melakukan asistensi ke kabupaten kota untuk selanjutnya memetakan risiko krisis

Salah satu langkah awal dalam upaya peningkatan kapasitas tersebut adalah dengan melakukan asistensi ke kabupaten/kota untuk selanjutnya memetakan risiko krisis

penanggulangan krisis kesehatan Kapasitas untuk memetakan risiko krisis kesehatan Peta kapasitas atau data kapasitas sumber daya yang dapat digunakan untuk penanggulangan

Rencana Strategis Kementerian Kesehatan tahun 2015-2019 menetapkan 170 kabupaten/kota rawan bencana untuk menjadi sasaran peningkatan kapasitas dalam rangka pengurangan risiko

Daftar kontak person lintas program dan lintas sektor terkait Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana baik di tingkat Kabupaten/Kota maupun Provinsi Media informasi

penanggulangan krisis kesehatan Kapasitas untuk memetakan risiko krisis kesehatan Peta kapasitas atau data kapasitas sumber daya yang dapat digunakan untuk penanggulangan

• Dinas Kesehatan pernah mengadakan MoU dengan LSM/Instansi/lembaga non pemerintah dalam penanggulangan krisis kesehatan • Jumlah total seluruh Fasilitas Pelayanan Kesehatan •