MATA KULIAH AGAMA TERHADAP PENGEMBANGAN KARAKTER MAHASISWA DI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
LAPORAN HIBAH RISET AKSI
Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu Universitas Syiah Kuala
Oleh DR. VIVI SILVIA, S.E, M.Si (KETUA) FAKHRURRAZI, S.E, M.M.
ZULKIFLI, S.E, M.Si
DR. RIDWAN NURDIN, S.E, M.Si
NIP. 196707241992032003 NIP. 197605252003121002 NIP. 197204252006041002 NIP. 197006092005011003
Dibiayai Oleh
Hibah Riset Aksi Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu Universitas Syiah Kuala sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan
Hibah Riset Aksi Tahun Anggaran 2018 Nomor: 15/UN11.LP3M/RA/SP2H/PNBP/2018
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SYIAH KUALA DARUSSALAM – BANDA ACEH
2018
Pengembangan Karakter Mahasiswa di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala
Laporan Hibah Riset Aksi
Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu Universitas Syiah Kuala Oleh
DR. VIVI SILVIA, S.E, M.Si (KETUA) NIP. 196707241992032003 FAKHRURRAZI, S.E, M.M NIP. 197605252003121002 ZULKIFLI, S.E, M.Si NIP. 197204252006041002 DR. RIDWAN NURDIN, S.E, M.Si NIP. 197006092005011003
Dibiayai oleh:
Hibah Riset Aksi Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu Universitas Syiah Kuala sesuai dengan Surat Perjanjian Pelaksanaan
Hibah Riset Aksi Tahun Anggaran 2018
Nomor: 15/UN11.LP3M/RA/SP2H/PNBP/2018
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SYIAH KUALA DARUSSALAM – BANDA ACEH
2018
LEMBAR PENGESAHAN
Judul Riset Aksi : Penguatan Program Pendampingan Mata Kuliah Agama Terhadap Pengembangan Karakter Mahasiswa di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala
Nama Ketua : Dr. Vivi Silvia. S.E, M.Si
NIP : 196707241992032003
Fakultas : Ekonomi dan Bisnis
Darussalam, 31 Oktober 2018 Ketua Pelaksana Riset Aksi
Dr. Vivi Silvia, S.E, M.Si NIP. 19670724199203003
Menyetujui,
Kepala LP3M Universitas Syiah Kuala Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala
Prof. Dr. Adlim, M.Sc Prof. Dr. Nasir, SE, MBA
NIP. 196512041990031004 NIP. 196512021991031001
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Karakter warga negara, terutama mahasiswa, amat menentukan nasib bangsa. Oleh karena itu, kajian tentang pengembangan karakter mahasiswa juga sangat diperlukan. Di Indonesia ditengarai bahwa pendidikan karakter masih dipandang sebagai wacana dan belum menjadi bagian yang terintegrasi dalam pendidikan formal. Padahal di berbagai negara pendidikan karakter sudah mendapatkan prioritas sejak pendidikan dasar dimulai (Chrisiana, 2005). Munculnya gagasan program pendidikan karakter diawali oleh seringnya terjadi tindak kekerasan, kebohongan, konflik, tingginya angka kenakalan, dan kurangnya sikap sopan santun anak didik.
Salah satu kegagalan pendidikan di Indonesia adalah karena sistem pendidikan nasional belum mempunyai kurikulum dan model pendidikan karakter yang kuat yang tersirat pada kurikulum maupun dalam bentuk hidden kurikulum atau yang terintegrasi pada masing-masing mata pelajaran. Sistem Pendidikan nasional hanya mempunyai mata pelajaran tentang pengetahuan karakter (moral) yang tertuang dalam pelajaran Agama, Kewarganegaraan, dan Pancasila. Apalagi proses pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik hanya hafalan sehingga tidak bisa mengubah perilaku menjadi baik (Walid, 2011).
Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), sebagai sebuah perguruan tinggi nasional di Aceh, yang dikenal sebagai daerah yang menerapkan Syariah Islam, selalu berusaha untuk mengatasi problema rendahnya karakter mahasiswa. Salah satu usaha pengembangan karakter mahasiswa yang dilakukan oleh Universitas Syiah Kuala adalah dengan pola religiusitas yaitu melalui Program Pendampingan Mata Kuliah Agama yang dilaksanakan oleh UP3AI (Unit Pengembangan Program Pendampingan Mata Kuliah Agama Islam).
Metode yang digunakan UP3AI adalah melakukan proses pembelajaran agama Islam dengan cara membimbing mahasiswa dalam membaca Al-Qur’an, praktek ibadah, dan mentoring. Kegiatan yang dilakukan UP3AI adalah komponen dalam mata kuliah Pendidikan Agama Islam. Maksudnya setiap mahasiswa yang mengambil mata kuliah Pendidikan Agama Islam (biasanya pada semester dua/genap) harus sudah lulus ujian baca al-Quran (iqra 6) yang ditandai dengan surat keterangan yang dikeluarkan oleh UP3AI masing-masing fakultas.
Keberadaan UP3AI ini telah dilegalkan melalui SK Rektor Unsyiah No.043 tahun
2001 tentang Penyempurnaan dan Peningkatan Proses Pembelajaran Pendidikan Agama
Pada Universitas Syiah Kuala. Kemudian diperjelas lagi melalui SK Rektor No. 582 tahun 2009 tentang Pelaksanaan Perkuliahan Mata kuliah Pendidikan Agama di Universitas Syiah Kuala. Di mana disebutkan dalam SK Rektor No. 582/2009 tersebut bahwa metode Pendidikan dan pengajaran agama dilakukan secara sistem analisis melalui dialog kreatif dan bersifat partisipatoris agar tumbuh wawasan dan kesadaran mengamalkan ajaran agama, tertanamnya keyakinan, meningkatkan kualitas dan taqwa yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, penilaian hasil belajar untuk mengukur tingkat penguasaan, pengetahuan dan pengamatan ajaran agama, dilakukan dengan cara yang memungkinkan terdetektinya perkembangan sikap dan perilaku mahasiswa dalam kesehariannya.
Dinyatakan juga bahwa Program Pendampingan Mata Kuliah Agama Islam (PPAI) yang dilaksanakan oleh UP3AI, merupakan sebuah program yang berfungsi sebagai laboratorium/praktikum Mata Kuliah Agama Islam di Unsyiah yang bertujuan untuk pengembangan dan peningkatan kualitas keislaman dan akhlak mahasiswa Unsyiah, terutama dalam hal pemberantasan buta huruf Al Qur’an di kalangan mahasiswa Muslim Unsyiah (mahasiswa bukan Muslim diserahkan pelaksanaannya kepada pemuka agama terkait).
Sebagaimana disebutkan bahwa program ini mengambil metode mentoring. Di mana mentor adalah mahasiswa-mahasiswa senior yang telah lulus kualifikasi untuk menjadi mentor/mengajar. Dari Dialog awal (Maret 2018) dengan pengurus UP3AI Pusat (Unsyiah) diperoleh informasi bahwa permasalahan yang relatif mengganggu pelaksanaan program adalah rendahnya minat mahasiswa menjadi mentor. Boleh jadi karena mentor, yang juga masih mahasiswa, mengalami kesulitan dalam membagi waktu untuk tugas- tugas kuliah, membaca, dan mengajar. Atau boleh jadi pula ada hal-hal lain yang bisa dielaborasi lebih lanjut. Sedangkan ketika dialog dengan pengurus UP3AI di FEB Unsyiah (Agustus 2018) ternyata program ini juga memiliki kendalanya yang sama, yaitu rendahnya minat mahasiswa menjadi mentor. Menariknya, hal itu tidak terjadi di kalangan mahasiswi atau mentor perempuan. Minat mahasiswa untuk menjadi mentor relatif rendah di kalangan mahasiswa atau mentor pria (FGD Agustus 2018). Ditengarai hal ini ada kaitannya dengan banyaknya jumlah mahasiswa FEB yang tidak lulus UP3AI pada ujian tahap awal di tahun 2017. Dari 572 mahasiswa, yang tidak lulus adalah 237 mahasiswa (lebih kurang 40 persen).
Secara lebih khusus, kajian ini hendak memfokuskan pada penyebab mahasiswa
FEB Unsyiah kurang berkeinginan untuk menjadi mentor UP3AI dan bagaimana
mengatasinya. Riset ini penting untuk dilakukan disebabkan sebagai bagian dari proses
pembelajaran di kampus, program UP3AI dapat menjadi wahana yang penting untuk mengubah pola pikir (mindset) mahasiswa menuju terwujudnya masyarakat madani (civil society) yang adil dan beradab sesuai Pancasila.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas maka rumusan masalah dalam riset aksi ini adalah sebagai berikut:
1. Mengapa minat mahasiswa untuk menjadi mentor UP3AI rendah di FEB Unsyiah?
2. Apakah solusi untuk meningkatkan minat mahasiswa untuk menjadi mentor UP3AI rendah di FEB Unsyiah?
1.3. Tujuan Riset
Ada pun tujuan riset aksi ini adalah berusaha menjawab permasalahan, yaitu:
1. Mengidentifikasi penyebab rendahnya minat mahasiswa menjadi mentor UP3AI di FEB Unsyiah
2. Mendapatkan solusi bagaimana meningkatkan minat mahasiswa menjadi mentor UP3AI di FEB Unsyiah
1.4. Kegunaan Riset
Kegunaan riset ini adalah:
1. Hasil riset aksi ini diharapkan dengan adanya solusi, dapat meningkatkan motivasi mahasiswa untuk menjadi mentor UP3AI.
2. Hasil riset aksi ini diharapkan dapat diadopsi oleh fakultas lainnya dalam
meningkatkan motivasi mahasiswa untuk menjadi mentor UP3AI.
4
BAB II
METODE RISET AKSI
2.1. Ruang Lingkup Riset
Riset ini dibatasi untuk mengkaji mengapa hasrat mahasiswa untuk menjadi mentor UP3AI rendah di FEB Unsyiah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena data disajikan dalam bentuk kata-kata dan penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian seperti perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistik dan penyajian data dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dengan memanfaatkan berbaga metode alamiah.
Jadi disimpulkan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud mendeskripsikan fenomenan secara apa adanya. Penggunaan metode ini tanpa memberikan perlakuan tertentu (dengan menggunakan metode alamiah saja). Metode ini boleh di dukung olehpenyajian data dalam bentuk deskriptif yang bertujuan mendapatkan sebuah makna dibalik sebuah fenomena.
2.2. Sumber Data
Sumber data dalam riset ini adalah data primer dan data sekunder.
1. Data Primer
Data primer merupakan data yang digunakan untuk memperoleh informasi dari subyek penelitian. Sumber data primer dalam penelitian ini, yaitu beberapa mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang menjadi mentor UP3AI, baik mentor laki-laki maupun mentor perempuan. Di samping itu juga dilakukan wawancara dengan Direktur UP3AI pusat lama dan Direktur UP3AI pusat yang baru.
2. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang digunakan untuk mendukung data
yang telah diperoleh dari data primer. Data sekunder dalam penelitian ini adalah data
yang digunakan untuk mendukung data yang telah diperoleh dari hasil observasi dan
wawancara. Data sekunder dalam penelitian ini adalah dokumentasi resmi dari
Program UP3AI, sedangkan dokumentasi pribadi dari peneliti yaitu foto-foto
kegiatan subyek dan catatan lapangan.
2.3. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan sejak bulan Maret 2018 sampai dengan Oktober 2018.
Lokasi penelitian ini pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh.
2.4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan peneliti untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian yang berasal dari nara sumber karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data dan menemukan suatu permasalahan, lalu permasalahan tersebut dikaji apa yang menjadi penyebabnya.
Kemudian akan dilakukan suatu riset aksi untuk mengatasi permasalahan tersebut dana pa yang menjadi solusinya, dan pada akhirnya diharapkan dapat menghasilkan suatu SOP tentang Program UP3AI pada FEB Unsyiah. Tanpa mengetahui teknik pengumpulan data, peneliti tidak akan mendapatkan data yang memenuhi standar data yang ditetapkan.
Sugiyono (2010: 62-63) berpendapat bahwa pengumpulan data dalam penelitian kualitatif dilakukan dengan kondisi yang alamiah, sumber data primer, dan teknik pengumpulan data lebih banyak pada observasi partisipasi, wawancara mendalamam, dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Berikut akan peneliti uraikan teknik pengumpulan data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Observasi
Observasi atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. Sugiyono (2010:204) menyebutkan bahwa observasi dapat dibedakan berdasarkan segi proses pengumpulan data dan segi instrumental yang digunakan.
Berdasarkan segi pengumpulan data, observasi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah observasi non partisipan karena peneliti tidak ikut dalam
kegiatan, kegiatan yang dilakukan peneliti hanya mengamati, mencatat, dan membuat
kesimpulan tentang apa yang dilakukan oleh narasumber mengenai pelaksanaan nilai
religius dalam pendidikan karakter. Berdasarkan dalam segi instrumentasi yang
digunakan, penelitian ini menggunakan observasi terstruktur karena peneliti sudah
membuat rancangan terlebih dahulu secara sistematis tentang apa yang akan diamati,
siapa yang menjadi informan, kapan pelaksanaannya, bagaimana metodenya, dan di
mana lokasinya yang terangkum dalam pedoman observasi.
2. Wawancara
Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang diteliti, tetapi juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari informan secara lebih mendalam (Sugiyono, 2010: 72). Selanjutnya, Esterberg dalam Sugiyono mengemukakan beberapa macam wawancara yaitu wawancara terstruktur, wawancara semiterstruktur, dan tidak terstruktur. Dalam penelitian ini menggunakan wawancara semiterstuktur agar informan lebih terbuka ketika diberi pertanyaan.
Peneliti juga telah membuat daftar-daftar pertanyaan yang akan diajukan kepada informan dengan bantuan pedoman wawancara yang berisi daftar pertanyaan.
Pedoman wawancara dibuat agar pertanyaan yang akan diajukan kepada informan lebih terarah dan sesuai dengan fokus masalah. Pedoman wawancara dikembangkan dari kajian teori dengan menggunakan indikator pengintegrasiaan pendidikan karakter dan indikator nilai religius.
Setiap informan akan diberi pertanyaan yang sama. Tujuan dari wawancara jenis ini adalah untuk menemukan informasi secara lebih terbuka, tewawancara diajak mengungkapkan pendapat dan ide-idenya. Tugas pewawancara yaitu mendengarkan secara seksama dan mencatat apa yang dikemukakan oleh informan.
3. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan kumpulan bukti yang digunakan untuk mendukung pengumpulan data yang diperlukan dalam penelitian. Sugiyono (2010:82) menyatakan bahwa dokumen adalah catatan peristiwa yang sudah berlalu dan biasanya berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang.
Studi dokumen merupakan pelengkap dari penggunaan metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif. Dokumen yang dihimpun dipilih yang sesuai dengan tujuan dan fokus masalah.
Hasil penelitian dari kegiatan observasi dan wawancara akan lebih kredibel
atau dapat dipercaya kalau didukung oleh bukti nyata yang mendukung kegiatan
tersebut. Dokumentasi dibedakan menjadi dua yaitu dokumentasi resmi dan
dokumentasi pribadi. Dokumentasi yang diperlukan dalam penenilitan ini berupa
catatan lapangan yang bermanfaat untuk mencatat informasi yang diberikan informan
yang tidak ada pada pedoman observasi. Selain catatan lapangan, rekaman ketika
melakukan wawancara. Hasil rekaman akan memberikan bantuan apabila peneliti
kurang jelas memahami apa yang diucapkan oleh informan. Disamping hasil
rekaman, foto juga penting dilampirkan ketika mencari informasi dari informan, foto- foto yang akan dibutuhkan dalam penelitian ini adalah foto-foto berupa berbagai kegiatan yang mendukung riset ini.
2.5. Teknik Analisis Data
Data yang telah terkumpul harus diolah atau dianalisis terlebih dahulu sebelum mendapatkan sebuah kesimpulan. Analisis data menurut Sugiyono (2010: 89) adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit- unit, kemudian melakukan sintesa dan menyusunnya ke dalam pola, memilah mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan terakhir adalah membuat kesimpulan yang dapat dipahami. Analisis data dalam penelitian kualitatif bersifat induktif yaitu berdasarkan analisis data yang diperoleh.
Sugiyono (2010: 91) berpendapat bahwa analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan pada saat pengumulan data berlangsung hingga setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Aktivitas analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus hingga tuntas hingga datanya jenuh. Data jenuh adalah keadaan di mana data yang telah diperoleh dari berbagai sumber dan teknik hasilnya tetap sama. Aktivitas dalam analisis data yaitu reduksi data, penyajian data dan membuat kesimpulan. Berikut akan dipaparkan lebih dalam aktivitas dalam analisis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Data Reduction/Reduksi Data
Mereduksi data berarti merangkum, memilah-milah hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang diperoleh setelah reduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya. Dalam penelitian ini reduksi data dilakukan yaitu dengan cara memilah-milah data yang telah diperoleh dari informan, kemudian mengelompokan data-data yang tidak mendukung atau tidak sesuai dengan data yang dibutuhkan. Selanjutnya disederhanakan agar data yang diperoleh ketika penyajian data dapat mudah untuk dipahami.
2. Data Display/Penyajian data
Penyajian data dalam penelitian kualitatif bisa dilakukan dalam bentuk uraian
singkat, bagan, hubungan antar kategori. Dengan mendisplay data, akan
memudahkan peneliti unutk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja
selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut (Sugiyono, 2010:95).
Dalam penelitian ini penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian-uraian singkat agar lebih mudah untuk dideskriptifkan dan ditarik kesimpulan.
3. Conclusing Drawing/verivication/kesimpulan
Kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin menjawab rumusan masalah
yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena masalah dan rumusan
masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang
setelah peneliti di lapangan. Dalam penelitian ini kesimpulan diperoleh ketika reduksi
data dan penyajian data.
BAB III
PEMBAHASAN DAN REKOMENDASI
3.1. Pembahasan
3.1.1 Hasil Diskusi Dengan Mentor Mahasiswa
Mentoring Iqra dan permasalahan mentor pada UP3AI FEB, hasil Focuss Group Discussion (FGD) pada 16 dan 17 Agustus 2018 dengan para mahasiswa mentor.
1. Kemampuan
Berdasarkan FGD yang dilakukan beberapa waktu yang lalu dengan mentor- mentor yang sudah berpengalaman mengajar selama 4 semester atau lebih, maka diperoleh gambaran bahwa banyak mahasiswa baru yang mempunyai kemampuan untuk menjadi mentor. Mentor-mentor yang ikut serta dalam FGD bahkan mengakui bahwa ada beberapa mahasiswa yang kemampuannya dalam bidang ini melebihi kemampuan mereka, mereka bisa membaca dengan fasih dan adapula yang sudah bisa menghafal Al-Qur’an. Mahasiswa-mahasiswa yang memiliki kemampuan tersebut merupakan potensi yang cukup memadai apabila bisa di ajak dan diarahkan untuk menjadi mentor pada masa berikut untuk menggantikan mentor-mentor lama yang akan menyelesaikan studi dan biasanya tidak cukup waktu dan kesempatan lagi untuk mengajarkan Iqra pada UP3AI FEB.
Sebenarnya, mahasiswa-mahasiswa yang berkemampuan yang “lebih” ini dapat segera dipakai sebagai mentor atau pendamping mentor pada saat melalakukan mentoring. Pola seperti ini akan lebih memupuk potensi yang mereka miliki sebelum mereka terkontaminasi dengan lingkungan yang baru mereka masuki dengan berbagai tawaran dan kemungkinan yang bisa saja menyeret mereka ke situasi dan kondisi yang tidak kondusif bagi pengembangan kemempuan mereka dalam bidang penguasaan Al- Qur’an dan pengajarannya.
Syarat dan peraturan untuk menjadi mentor yang ada pada Fakultas ekonomi dan
bisnis serta Universitas Syiah Kuala pada umumnya belum bisa mengakomodir hal
tersebut diatas, setiap mahasiswa yang ingin menjadi mentor harus sudah lulus
matakuliah agama yang didalamnya termasuk sudah bisa /lulus mentoring UP3AI
dengan nilai minimal B. Peraturan ini di satu sisi baik bagi penyaringan dan pemilihan,
tetapi akan menjadi kontraproduktif bagi mahasiswa yang kemampuannya sudah jauh
diatas standar yang ditetapkan oleh UP3AI. Mentoring yang mereka terima akan terasa
membosankan dan menyebabkan kehilangan ketertarikan pada bidang tersebut. Di sisi
lain, UP3AI akan mengalami kerugian juga apabila dalam perjalanan 2 semester
berjalan, mahasiswa ini telah menjatuhkan pilihannya pada organisasi kemahasiswaan lainnya yang syraratnya tidak harus menunggu 2 semester, padahal kemmpuan mereka sangat berguna bagi pengembangan program mentoring ini.
2. Minat
Keinginan ataupun minat untuk menjadi mentor merupakan masalah juga dalam perekrutan mentor di FEB. Beberapa mahasiswa dengan kemampuan yang cukup memadai sulit untuk di ajak mengikuti test untuk menjadi mentor. Ada berbagai macam alasan yang muncul, dari berbagai alasan tersebut, alasan peraturan yang ada pada Syarat untuk menjadi Mentor UP3AI merupakan alasan utama sehingga mereka merasa tidak sanggup memenuhi ataupun merasa tidak layak. Hasrat ingin lebih bebas dan mengikuti perkembangan lingkungan juga menjadi salah satu alasan mereka kurang berminat meskipun mereka mampu.
FGD dengan beberapa mentor mengindentifikasikan bahwa sebagian mereka menjadi mentor karena peran mentor sebelumnya. Mereka merasa selalu di ajak dan di motivasi serta di dampingi secara berkelanjutan. Dalam hal ini, mentor sekarang harusnya juga mengikuti dan bahkan harus lebih giat dalam mendampingi, mengarahkan, dan memotivasi mahasiswa mentoringnya yang berbakat untu di siapkan menjadi mentor pangganti mereka pada masa yang akan datang dengan jumlah yang lebih banyak.
3. Beban pertemuan
Secara langsung beban pengajaran oleh Mentor memang tidak terkait dengan perekrutan dan jumlah mentor. tetapi jumlah pertemuan yang di sediakan sebanyak 12 pertemuan dirasa oleh mentor sangat kurang. Target untuk membuat mahasiswa bisa membaca Al-Qur’an dengan jumlah pertemuan tersebut dirasa masih sangat kurang.
Target ini bisa tercapai apabila mahasiswa yang di ajarkan dan di dampingi sudah menguasai dasar-dasar dalam membaca Al-Qur’an seperti sudah mengenal dan bisa membedakan dalam pengucapannya.
Masalah akan timbul menjadi beban mentor bila mahasiswa yang didampingi
belum bisa sama sekali. Banyak mahasiswa yang belum bisa mengenal huruf apalagi
membedakan dalam hal pengucapannya. Keadaan ini menuntut waktu dan kesabaran
yang sangat tinggi pada mentor. Mereka sadar bahwa mahasiswa perlu pendekatan
khusus yang berbeda dengan anak-anak yang sedang belajar Al-Qur’an. Jadi, secar tidak
langsung mahasiswa yang berkeinginan untuk menjadi mentor haris mempunyai
keyakinan yang tinggi untuk dapat melakukan pendekatan pengajaran Al-Qur’an selama
12 kali pertemuan untuk membuat rekan-rekan adik mahasiswanya mampu membaca Al-Qur’an.
4. Latar Belakang Penyediaan Mentor
Jurusan Ekonomi Islam FEB merupakan jurusan yang paling banyak mewakilkan jumlah mentor pada UP3AI FEB. Keadaan ini menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan dan organisasi yang digeluti sebelumnya berperan besar dalam penyediaan mentor. Dari keseluruhan paserta FGD, 80 persen merupakan mahasiswa jurusan ekonomi Islam. Pengalaman dan ketertarikan mereka membuat adanya suatu kesesuain misi dan visi yang ada pada program UP3AI
Jika ditinjau dari satu sisi, ini merupakan suatu hal yang lumrah dan sesuai.
Artinya mereka memamg melaksanakan dan berpartisipasi sesuai dengan keahlian dan kemampuan serta ketertarikan mereka. Tetapi, jika ditinjau adari sisis lain, dimana membaca AL-Qur’an tidak hanya perlu di kuasai oleh mahasiswa kurusan EKI saja, tetapi merupakan tanggung jawab setiap Muslim, maka akan sangat tendensius jika kita mengambil kesimpulan seperti diatas. Jadi ke depan, jurusan lainnpun seharusnya mempunyai peran yang sama besar n dalam menyumbang mentor demi terlaksana progrm pendampingan ini menjadi lebih baik dan merata.
5. Statuta
Terdapat 2 buah organisasi mahasiswa yang sulit dipisahkan secara misi maupun visi terkait dengan program pendampingan mata kuliah agama UP3AI di FEB. Lembaga Dakwah Kampus Al-Mizan dan UP3AI. LDK-Al Mizan dibawahi oleh WD 3 feb, sedangkan UP3AI dibawahi oleh WD 1. Perbedaan statuta ini menuntut para pihak yang terlibat di dalamnya harus lebih intens berkomunikasi sehingga segala permasalah yang timbul dan berpotensi mengganggu kelancaran program pendampingan bisa diatasi lebih cepat dan lebih baik.
Walaupun terpisah secara Statuta, LDK-Al Mizan merupakan penyedia utama mentor-mentor yang berperan dalam UP3AI saat ini. Mahasiswa-mahasiswa yang dari awalnya tertarik dengan kegiatan di LDK akan terbiasa setiap saat dengan kegiatan UP3AI karena mereka sering hadir di Mesjid Al-Mizan Fakultas dimana kegiatan UP3AI sering dilakukan.
Beberapa masukan berhasil diperoleh pada saat dilakukan FGD tentang hal ini.
Banyak masukan penting yang perlu ditindak lanjuti oleh Pengurus dan mentor UP3AI
maupun pengambil kebijakan di tingkat fakultas maupun rektorat. satu diantaranya
adalah perlu pertemuan yang labih banyak dan rutin antara pengurus dan mentor UP3AI
serta mahasiswa mentoring agar tercipta suasana kebersamaan yang lebih baik.
Berikutnya perlu juga koordinasi pihak-pihak yang terlibat dalam LDK- Al Mizan dan UP3AI di tingkat Fakultas yaitu WD I dan WD 3 serta pihak kedekanan terkait untuk mensosialisasikan bahwa program pendampingan ini janganlah hanya diperlakukan sebagai program “Syarat” saja. Masukan selanjutnya bahwa ditingkat rektorat perlu juga dibangun sinergi antara organisasi mahsiswa terkait serta penanggung jawabnya untuk menhilangkan “trade mark” bahwa program pendampingan ini hanyalah sebagai syarat saja seperti yang telah dikemukan di atas.
6. Kafalah
Jika ditinjau dari sudut pemikiran ekonomi, maka segala sesuatu kegiatan dilakukan itu memerlukan pengorbanan. oleh karena itu perlu balas jasa atas pengorbanan tersebut yang mampu membuat pelaku tidak merasa dirugikan atas kegiatan yang dia lakukan atau ia kan memilih kegiatan yang lain yang dianggap memberi balas jasa lebih baik. Namun berbeda sekali dengan hasil yang kita dapatkan ketika melakukan diskusi dengan para mentor UP3AI FEB. Hal ini juga mungkin juga bisa berlaku untuk mentor UP3AI di fakultas lain yang mendapatkan pola perekrutan yang sama.
Para mentor ini mengaku tidak pernah merasa bahwa mereka akan di bayar atau diberikan balas jasa atas pengorbanan waktu dan kemampuan mereka. Pertanyaan yang berkaitan dengan seberapa besar mereka layak menerima kafalah tidak bersedia mereka mereka jawab, Jumlah kafalah RP 15.000 per pertemuan menurut mereka tidak pernah dipersoalkan, bahkan ketika perekrutan mereka sudah terdoktrin bahwa mereka tidak di bayar.
Sisi keikhlasan merupakan gejala yang tidak dapat diukur dengan pemikiran ekonomi konvensional. Panggilan keyakinan dan harapan balasan yang lebih banyak dari “mengajarkan walau satu ayat” membuat pekerjaan mereka sebagai mentor tidak dianggap sebagai kerja, tetapi sebagai suatu ibadah yang bayarannya akan diperoleh di hari akhir nanti.
Perlu Apresiasi yang tinggi untuk keikhlasan mentor-mentor tersebut. Tetapi
perlu juga pemikiran pihak terkait dengan biaya-biaya yang harus mereka keluarkan
secara ekstra untuk melakukan tugas mentoring. perlu pemikiran lebih arif lagi untuk
menghitung biaya-biaya sehingga mereka sudah berbuat untuk program tatapi juga
mereka harus berkorban untuk Program. Skema kafalah yang lebih layak memang sudah
waktunya dipikirkan menyesuaikan dengan kebutuahan dan tingkat perekonomian sekarang.
3.1.2 Hasil Wawancara Dengan Direktur UP3AI
1. Wawancara dengan Fathurrahmi, S.Si, M.Si (Direktur UP3AI baru), 18 Agustus 2018
a. Perekrutan mentor
Mentor direkrut dari berbagai fakultas kemudian diseleksi di UP3AI pusat Unsyiah. Ada dua jenis mentor. Ada mentor untuk Praktek Ibadah (PI) dan mentor untuk al-Qur’an. Ada tim khusus yang menseleksi mereka. Test yang agak berat pada mentor al-Qur’an. Biasanya mentor Iqra (al-Qur’an) selanjutnya akan mengajar juga pada praktek ibadah. Walau ada juga karena satu dan lain hal, ada mentor al-Quran yang tidak mengajar Praktek Ibadah. Mentoring iqra dilaksanakan pada semester pertama dan mentoring praktek ibadah pada semester kedua. Materi praktek ibadah terdiri dari bacaan-bacaan dan gerakan shalat yang betul dan penyelenggaraan jenazah (tahyiz mayit).
b. Syarat mentor
Syarat mentor adalah mahasiswa Unsyiah, jadi tidak terbuka kepada mahasiswa dari kampus lain, misalnya UIN. Ia mesti berakhlak, lancar membaca al-Quran, tidak boleh merokok dan pacaran. Tetapi yang terakhir ini sulit mengukurnya. Barangkali inilah penyebab mengapa di kalangan mahasiswa putra enggan menjadi mentor, karena ingin lebih bebas. Hasrat menjadi mentor lebih banyak pada mahasiswi. Sebenarnya untuk pacaran, misalnya, kita tidak terlalu ketat dalam hal ini. Karena kita sadar tidak mungkin kita mengawasi mereka setiap saat, hari ke hari, jam ke jam. Anak LDK (Lembaga Dakwah Kampus) pun pacaran. Kalau merokok memang agak sulit disembunyikan. Dari aroma mulut dan info kawan-kawannya akan membuatnya malu jika jadi mentor. Sebenarnya jika banyak yang mendaftar menjadi mentor, kita bisa buat standar yang tinggi.
Tetapi biasanya yang daftar tidak banyak, jadi kita perlu penyesuaian dan
kebijakan. Di UP3AI pusat sebulan sekali biasa diadakan pertemuan para mentor
dari berbagai fakultas. Biasanya diiringi juga dengan ceramah/pengajian. Jika di
luar itu, misalnya tiap fakultas ingin membuat lagi pengajiannya sendiri, maka itu
dibolehkan. Diharapkan dengan seperti itu soliditas mereka menjadi lebih kuat.
c. Kafalah
Kafalah untuk mentor, yang diberikan berdasarkan anggaran rektorat adalah untuk 12 kali pengajaran. Tetapi ada yang 20 kali, jika terjadi remedial.
Ada yang sampai berkali-kali remedialnya. Rektorat hanya mampu membayar untuk 1 kali remedial. Jika seperti itu terpaksa mereka dibiayai secara internal.
Kebijakan kita, pengurus UP3AI rata-rata honornya dipotong 50 persen demi lancarnya penyelenggaraan program. Besaran kafalah adalah Rp. 15.000,00 (lima belas ribu rupiah) per sekali mengajar (pertemuan).
Pertahun, UP3AI mendapat anggaran Rp. 240.000.000,- (dua ratus empat puluh juta rupiah). Di mana kita mengelola uang tersebut untuk 13 fakultas dan sekitar 6.000 mahasiswa. Itu dana sebenarnya jauh dari cukup. Tetapi kita diuntungkan karena sikap mentor dan dosen-dosen pembina yang ikhlas. Namun agaknya hal ini perlu dipikirkan lebih lanjut. Barangkali dengan kafalah yang lebih besar bisa lebih memancing minat mereka.
d. Kelulusan
Kita turut merasa sedih bila banyak mahasiswa yang tidak lulus. Beberapa mahasiswa asal daerah tertentu, memang kemampuan membaca al-Qur’annya lemah sekali. Tidak mungkin kita luluskan begitu saja. Kita berkewajiban secara moral agar ia bisa baca al-Qur’an. Oleh karena itu kita buat remedial/ujian ulang.
Kita juga meminta kawan-kawannya untuk membantunya. Ada pula mahasiswa yang kurang peduli dengan program. Akibatnya kehadirannya kurang. Jika kita luluskan begitu saja maka akan terjadi kelembekan. Bahkan ada yang tidak hadir ketika ujian. Remedial diperlukan untuk menjaga kesadaran mereka bahwa program ini penting. Boleh jadi mereka kurang peduli dengan program karena barangkali mentornya tidak menarik. Tantangan kita untuk mendidik mentor agar menarik dalam penyampaian. Sebab mentor yang tidak menarik akan menyulitkan mendapatkan calon mentor baru.
2. Wawancara dengan Prof. Dr. Mustanir, M.Sc (Direktur UP3AI lama), 19 Agustus 2018
a. Sejarah
Pada masa awal tahun 2001, UP3AI dahulu bernama Lembaga
Pengembangan Program Pendamping Mata Kuliah Pendidikan Agama (LP3A),
berdasarkan SK Rektor Nomor 043 tahun 2001, tanggal 7 Februari 2001, yang
ditandatangani Prof. Dr. Dayan Dawood, M.A. Untuk honor pengajar, pada masa
itu saya minta tolong pada NGO Qatar Charity. Belum ada honor yang disediakan Unsyiah. Sekarang relatif lebih baik. Jika honor ditingkatkan tentu saja saya setuju. Mungkin saja bisa menjadi pemicu semangat anak-anak mahasiswa menjadi mentor.
b. Perekrutan Mentor
Perekrutan mentor relatif tidak jauh berbeda dengan yang lalu. Masing- masing mahasiswa yang berminat menjadi mentor dari berbagai fakultas dites di pusat. Ketua UP3AI yang baru, Fathurrahmi, yang seorang Qari dan Hafiz (penghafal al-Quran) membawa warna baru pada UP3AI. Usianya yang masih muda dan belum berkeluarga membawa banyak kreatifitas. Misalnya dengan ide Subuh Education. Mahasiswa yang ikut UP3AI diajak ikut salat berjamaah bersama di waktu subuh. Diundang juga Dekan dan dosen-dosen lainnya. Sudah sunnatullah, untuk sesuatu yang baik, apalagi ke arah agama, hasrat untuk menjadi abdi agama tidak banyak bila dibandingkan dengan yang ke arah hura-hura. Akan tetapi tetap diperlukan pemikiran agar tidak semakin sedikit minat mahasiswa untuk menjadi mentor. Tiap zaman sepertinya punya polanya sendiri
c. Syarat Mentor
Syarat yang relatif ketat itu memang perlu. Sebab kita membawa nama agama. Jika yang mengajar mengaji sendiri tidak fasih, maka akan sukar mendapat respek dari yuniornya/protégé. Penampilan yang baik itu perlu. Tidak merokok itu perlu. Kalau pacaran, bukan sekadar jangan berboncengan berduaan bagi yang bukan muhrim, tetapi menjaga hati agar tidak mendekati zina.
Kita hanya ingin para mentor itu mendapat respek dari yuniornya.
Hubungan yang diinginkan bukan hubungan dosen dan mahasiswa yang kaku tetapi hubungan kakak dengan adik yang luwes. Hubungan itu akan memudahkan untuk mendapatkan mentor baru. Karena calon mentor sudah dipantau oleh mentor senior. Mentor lelaki mengajar yuniornya yang lelaki begitu pula sebaliknya, mentor perempuan mengajar yuniornya yang perempuan. Sepertinya pelatihan untuk membujuk objek dakwah (mentor terhadap yuniornya agar bersedia menjadi mentor) amat diperlukan.
d. Kelulusan
Standar kelulusan perlu dibuat agar program ini tidak dipandang sebelah
mata atau terkesan main-main. Walaupun demikian, kita tidak menginginkan
mereka semua menjadi qari-qariah, karena tidak mungkin. Cukup mereka faham
tajwid dan cara membaca yang standar. Dari dahulu ada saja mahasiswa yang
kurang bahkan tidak perduli dengan program UP3AI. Ada yang mensiasati pada akhir semester mereka kuliah, atau sudah membuat skripsi baru mereka ikut ujian karena mereka berpikir pasti akan diluluskan. Tentu saja kita tidak akan menghambatnya, namun pola remedial mesti tetap mereka lalui, jika mereka tidak bisa baca Al-Quran. Bahkan ada yang remedial intensif agar mahasiswa itu bisa baca Al-Qur’an. Kebijakan seperti itu layak dipertahankan. Tetapi perlu terus mencari cara-cara agar orang semakin banyak tertarik mengikuti UP3AI, salah satunya dengan penguatan mentor.
3.1.3 Prosedur Operasional Baku (POB) Rekrutmen Mentor UP3AI FEB Unsyiah
Perekrutan mentor UP3AI Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah bertujuan untuk meningkatkan kuantitas pengajar Program Pengembangan dan Pendamping Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam FEB Unsyiah, dan program ini menjadi syarat untuk setiap mahasiswa FEB lulus mata kuliah Agama Islam. Rekrutmen mentor merupakan proses untuk mendapatkan pengajar Program UP3AI, di mana perekrutan ini membutuhkan waktu untuk menyeleksi siapa mahasiswa yang bersedia menjadi mentor, baik mentor laki-laki maupun mentor perempuan.
Prosedur Operasional Baku (POB) perekrutan mentor ini mencakup proses penerimaan mentor UP3AI FEB Unsyiah, di mana Prosedur Operasional Bakunya sebagai berikut:
PROSEDUR
UP3AI FAKULTAS
TIM
PENGUJI UP3AI CALON MENTOR 1
Direktur UP3AI Fakuktas membentuk tim penguji calon mentor dengan kriteria yang telah ditentukan
2
Tim penguji yang telah dibentuk mengikuti pelatihan yang dilaksanakan oleh UP3AI Pusat
3 UP3AI Pusat membuat pengumuman terkait pendaftaran calon mentor
4 Calon mentor melakukan pendaftaran via online di website UP3AI
Formulir Pendaftaran
5
Calon mentor mengikuti tes seleksi mentor yang dilaksanakan oleh masing-masing fakultas dengan tim penguji yang terstandarisasi
Lembar Penilaian
6
UP3AI mengumumkan nama mentor yang dinyatakan lulus di web UP3AI UNSYIAH dan mading UP3AI UNSYIAH
NO DESKRIPSI KEGIATAN
YANG TERLIBAT
DOKUMEN
1 1
2 2
3 3
4
5
6
5
6
3.1.4 Prosedur Operasional Baku (POB) Pelatihan Mentor UP3AI FEB Unsyiah
Pelatihan mentor UP3AI Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah bertujuan untuk memberikan pembekalan materi buku pedoman mentor, memberikan pembekalan softskill mentor, dan memberikan wawasan keislaman terhadap mentor. Pelatihan mentor ini merupakan proses belajar-mengajar yang dilaksanakan oleh UP3AI dan diikuti oleh seluruh mentor UP3AI. Adapun modul yang diberikan pada pelatihan mentor UP3AI adalah modul materi Iqra’, praktek ibadah dan mentoring.
Prosedur pelatihan mentor FEB Unsyiah ini dapat dilakukan jika mentor yang sudah dinyatakan lulus harus mengikuti pelatihan di UP3AI Pusat. Di samping itu pelatiham mentor tidak saja dilakukan oleh UP3AI Pusat, tetapi bisa juga dilakukan oleh UP3AI Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah. Pelatihan mentor dilaksanakan satu kali sebulan oleh FEB dan satu kali dalam 3 bulan oleh UP3AI Pusat. Dari hasil Focuss Group Discussion (FGD) dengan semua mentor laki- laki dan perempuan diperoleh informasi bahwa pelatihan mentor yang dilakukan di tingkat UP3AI Fakultas dan di tingkat UP3AI Pusat dirasakan masih kurang dan perlu dilakukan penambahan.
Prosedur pelatihan mentor UP3AI ini mencakup kegiatannya sebagai berikut:
PROSEDUR
3.2. Rekomendasi
Para mentor yang mengikuti FGD telah memberikan pendapat tentang berbagai hal yang terkait dengan adanya kesulitan dalam melakukan pengkaderan mentor UP3AI di FEB, terutama dengan jumlah mentor laki-laki yang belum dapat memenuhi kebutuhan. Dari diskusi ini telah diperoleh beberapa rekomendasi, baik berdasarkan usulan tersurat maupun usulan tersirat dalam diskusi tersebut, rekomendasi tersebut adalah sebagai berikut:
UP3AI MENTOR
1 Mentor yang sudah dinyatakan lulus harus mengikuti pelatihan di UP3AI pusat
Modul materi iqra’, modul praktek ibadah, dan modul mentoring
2 Pelatihan mentor dilaksanakan oleh UP3AI pusat atau UP3AI fakultas
Modul materi iqra’, modul praktek ibadah, dan modul mentoring 3
Pelatihan mentor dilaksanakan 1kali sebulan oleh fakultas dan 1kali dalam 3 bulan oleh UP3AI pusat
Modul materi iqra’, modul praktek ibadah, dan modul mentoring NO DESKRIPSI KEGIATAN SUBJEK TERKAIT
DOKUMEN
1 1
2
3
1. Jumlah mahasiswa yang mempunyai kemampuan yang memadai untuk menjadi mentor sangat banyak. Beberapa mahasiswa yang didampingi mentor bahkan lebih tinggi kemampuannya dibandingkan dengan Mentor. Jadi, masalah sumberdaya sebenarnya tidak menjadi persoalan, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana memanfaatkan potensi yang ada tersebut secepat mungkin tanpa menunggu mereka harus menyelesaikan matakuliah Agama sampai ke semester 2 yang bisa membuat mahasiswa tersebut sudah disibukkan dengan kegiatan/organisasi yang lain.
2. Minat ataupun keinginan untuk terlibat menjadi mentor relatif sangat kurang dengan alasan utama adalah persyaratan yang masih berat bagi mahasiswa pada umumnya. Pengaruh lingkungan masa remaja dan budaya yang baru saja mereka masuki menyebabkan banyak mahasiswa yang tidak yakin bahwa mereka akan mampu memenuhi kewajiban dan persyaratan menjadi mentor. Oleh karena itu peran mentor sebelumnya untuk mendampingi dan meyakinkan calon-calon mentor bahwa syarat tersebut sebenarnya bukan untuk membebankan calon mentor, itu sebenarnya syarat-syarat untuk menjadi manusia Islam yang sukses Dunia akhirat pada masa yang akan datang.
3. Sumber pengkaderan mentor saat ini terpusat pada latar belakang jurusan Ekonomi Islam, artinya sebagian besar mentor saat ini berasal dari jurusan Ekonomi Islam sehingga langkah pertama yang harus ditempuh adalah memaksimalkan peran jurusan Ekonomi Islam tersebut harus dilakukan suatu terobosan agar semua jurusan menyumbang mentor dengan komposisi yang tidak jauh berbeda dan pengkaderan merata di setiap jurusan.
4. Tatap muka sejumlah 12 kali pertemuan dirasakan sangat tidak mencukupi untuk membuat mahasiswa dampingan mampu membaca Al-Qur’an terutama bagi mahasiswa yang sama sekali belum mengenal huruf dan membedakan dalam membacanya. Perlu adanya pola baru yang akomodatif terhadap permasalahan mahasiswa yang secara jelas memang diprediksikan tidak akan bisa didampingi dengan jumlah pertemuan tersebut. Statuta yang berbeda antara UP3AI dan LDK Al-Mizan sebenarnya tidak merupakan suatu masalah bagi pengembangan UP3AI di FEB, tetapi perlu ditingkatkan lagi koordinasi-koordinasi mentor seperti yang sering dilakukan oleh LDK sehingga berbagai kelancaran dan keberlangsungan program pendampingan akan lebih baik dimana kondisi ini akan membuat minat dan ketertarikan menjadi mentor akan lebih tinggi.
5. Tidak ada keluhan ataupun ketidakpuasan yang dirasakan oleh seluruh mentor berkaitan
dengan kafalah yang mereka terima selama ini. Para mentor secara ikhlas menjawab bahwa
masalah ini tidak menjadi salah satu pertimbangan mereka ketika memilih menjadi
mentor. Namun demikian, perlu pemikiran yang lebih arif untuk memberikan penghargaan
yang lebih layak bagi orang-orang yang sudah bekerja dengan hati dan keiklasan, artinya
perlu peninjauan kembali kafalah agar bisa menarik calon-calon mentor baru yang punya
potensi namun mereka di sisi keuangan tidak mampu bekerja dan mengabdi dengan jumlah
kafalah yang tidak bisa menutupi biaya opersional mereka ketika melakukan pendampingan.
20
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN 4.1. Kesimpulan
1. Jumlah mahasiswa yang berpotensi menjadi mentor cukup besar jumlahnya, namun minatnya yang masih kurang sekali akibat belum siap rasa percaya diri mahasiswa dampingan dengan berbagai persyaratan yang ada untuk menjadi mentor. Jumlah pertemuan perlu diubah terutama bagi mahasiswa dengan kemampuan baca Al-Qur’an yang sangat payah. Balas jasa/ kafalah tidak menjadi suatu masalah dalam perekrutan dan pemenuhan kebutuhan mentor menurut mereka yang sudah mendampingi saat ini, namun di sisi lain perlu kajian ulang komposisi kafalah yang bisa menarik lebih banyak mentor dan bekerja lebih baik.
2. Perekrutan mentor UP3AI Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah bertujuan untuk meningkatkan kuantitas pengajar Program Pengembangan dan Pendamping Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam FEB Unsyiah, dan program ini menjadi syarat untuk setiap mahasiswa FEB lulus mata kuliah Agama Islam. Rekrutmen mentor merupakan proses untuk mendapatkan pengajar Program UP3AI, di mana perekrutan ini membutuhkan waktu untuk menyeleksi siapa mahasiswa yang bersedia menjadi mentor, baik mentor laki-laki maupun mentor perempuan.
3. Pelatihan mentor UP3AI Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsyiah bertujuan untuk memberikan pembekalan materi buku pedoman mentor, memberikan pembekalan softskill mentor, dan memberikan wawasan keislaman terhadap mentor. Pelatihan mentor ini merupakan proses belajar-mengajar yang dilaksanakan oleh UP3AI dan diikuti oleh seluruh mentor UP3AI. Adapun modul yang diberikan pada pelatihan mentor UP3AI adalah modul materi Iqra’, praktek ibadah dan mentoring.
4.2. Saran
Perlu kenaikan kafalah yang barangkali bisa merangsang mereka berminat menjadi mentor,
walaupun kafalah bukan menjadi alasan mereka enggan menjadi mentor, akan tetapi perlu
dipertimbangkan atas dasar keadilan. Perlu instruktur/motivator yang mampu membekali mereka
cara membujuk adik-adik binaannya untuk menjadi mentor. Minat mahasiswa menjadi mentor
merupakan masalah dalam pelaksanaan program UP3AI. Minat mahasiswa perempuan menjadi
mentor lebih tinggi daripada mahasiswa pria. Biasanya mereka menjadi mentor karena ajakan
mentor sebelumnya. Perlu insentif yang barangkali bisa merangsang mereka berminat menjadi
mentor
DAFTAR PUSTAKA
Amstrong, T. (2009). Multiple Intelligences in the Classroom. 3rd edition. Alexandria, Virginia:
ASCD.
Anderson, J. (2004). Where do habits of mind fit in the curriculum? In c. Owen (Ed.), Habits of Mind: A Resource Kit for Australia Schools (pp. 54-56). Lindfield, NSW: Australian National Schools Network Ltd.
Assessment Reform Group. (2002). Testing, Motivation and Learning. ARG- Nuffield Foundation-EPPI Centre.
Auls, M.W., & Shore, B.M. (2008). Inquiry in Education: The Conceptual Foundations for Research as a Curricular Perspective. Volume 1. New York: Lawrence Erlbaum Associates.
Basri, dkk. 2010. Tarbiyah Ulul Albab; Melacak Tradisi Membentuk Pribadi. Pusat Studi Tarbiyah Ulul Albab Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Malang: UIN Press.
Billah, M.M. 1985. Pikiran Awal Pengembangan Pesantren, dalam M. Dawam Rahardjo (Ed) Pergulatan Dunia Pesantren, Membangun dari Bawah, P3M. Jakarta. 1985
Chrisiana, Wanda, 2005. Upaya Penerapan Pendidikan Karakter Bagi Mahasiswa. Jurnal Teknik Industri Vol. 7, No. 1, Juni 2005: 83 - 90
Fadjar, Malik. 2004. Sintesa antara Perguruan Tinggi dengan Pesantren; Upaya Menghadirkan Wacana Pendidikan Alternatif. Malang: UIN Press.
Ghulsyani, Mahdi. 1986. The Holy Quran and The Science of Nature; Islamic Propagation Organization. Teheran.
Hill, T.A., 2005. Character First! Kimray Inc., http://www.charactercities.org/downloads/
http://www.charactercounts.
KJM UIN MALANG. 2007. Implementasi Sistem Penjaminan Mutu Universitas Islam Negeri Malang.
Madjid, Nurcholish. 1985. Merumuskan Kembali Tujuan Pendidihan Pesantren, dalam M. Dawam Rahardjo (ed), Pergulatan Dunia Pesantren, Membangun dari Bawah, P3M, Jakarta.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Bisnis, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Walid, Muhammad, 2011, Model Pendidikan Karakter di Perguruan Tinggi Agama Islam (Studi tentang Pendidikan Karakter Berbasis Ulul Albab di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang). Jurnal el-Qudwah, Vol. 1 No. 5, Edisi April
LAMPIRAN 1.
DAFTAR PERTANYAAN UNTUK FGD DENGAN MENTOR UP3AI FEB UNSYIAH
1. Apa latar belakang jurusan anda di FEB?
2. Apa syarat-syarat menjadi mentor UP3AI?
3. Apa saja tugas mentor di UP3AI?
4. Sudah berapa lama anda menjadi mentor?
5. Bagaimanakah kemampuan dan potensi mahasiswa dampingan untuk di persiapkan menjadi mentor baru?
6. Masalah apa saja yang biasa muncul dalam penggalian kemampuan dan potensi mahasiswa untuk menjadi mentor?
7. Bagaimanakah minat dari mahasiswa dampingan untuk menjadi mentor?
8. Apa masalah dalam peningkatan dan penyaluran minat untuk menjadi mentor?
9. Bagaimanakah beban tugas anda sebagai mentor?
10. Bagaimanakah hubungan beban mentor dengan target capaian program UP3AI?
11. Bagaimanakah kedudukan UP3AI dan LDK Al-Mizan dalam pelaksanaan program pendampingan?
12. Apa masukan dan saran terhadap sistim koordinasi program pendampingan?
13. Bagaimana sistem honor/kafalah bagi mentor?
14. Apakah honor tersebut layak bagi anda?
LAMPIRAN 2.
DAFTAR PERTANYAAN WAWANCARA UNTUK PENGAMBIL KEBIJAKAN.
Fathurrahmi, SE, M.Si (Direktur UP3AI baru) dan Prof. Dr. Mustanir, M.Sc (Direktur UP3AI lama)
1. Bagaimanakah perekrutan mentor?
2. Apa syarat untuk menjadi mentor?
3. Apakah syarat tidak boleh merokok dan pacaran adalah mutlak?
4. Berapakah kafalah para mentor?
5. Adakah permasalahan dengan masalah kafalah mentor?
6. Bagaimana kafalah pada masa lalu, masa awal UP3AI?
7. Mengapa banyak mahasiswa tidak lulus UP3AI?
8. Bagaimana jika mahasiswa itu tidak lulus?
9. Kebijakan apa saja yang dilakukan oleh UP3AI?
LAMPIRAN 3.
FOTO-FOTO KEGIATAN RISET AKSI
Keterangan: Pembukaan UP3AI untuk mahasiswa baru oleh Dekan FEB Unsyiah
Keterangan: Pembukaan UP3AI untuk mahasiswa baru FEB Unsyiah
Keterangan: Pembukaan UP3AI untuk mahasiswa baru FEB Unsyiah
Keterangan: Pembukaan UP3AI untuk mahasiswa baru FEB Unsyiah
Keteranagan: Rapat Persiapan Riset Aksi
Keteranagan: Rapat Persiapan Riset Aksi
Keterangan: FGD 1 dengan mentor UP3AI
Keterangan: FGD 1 dengan mentor UP3AI
Keterangan: Interview dengan Direktur baru UP3AI Unsyiah
Keterangan: Interview dengan Direktur lama UP3AI Unsyiah