METODE PERANCANGAN
1.1 Studi Fisik Bangunan dan Lingkungan
1.1.1 Analisa Makro Bangunan dan Lingkungannya 1. Lokasi
Gedung Serbaguna Senayan terletak di jalan Manila, Komplek Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat. Gedung ini memiliki lokasi yang strategis karena dapat diakses dari jalan-jalan besar seperti Jalan Asia Afrika dan Jalan Jenderal Sudirman, sehingga untuk menuju ke gedung ini dapat menggunakan kendaraan pribadi maupun bus Trans Jakarta.
(Gambar 3.1 Lokasi Gedung Serbaguna Senayan)
(Sumber: www.google.com, diakses 26 Maret pukul 12.08WIB)
2. Suhu
Jakarta memiliki suhu udara yang panas dan kering atau beriklim tropis. Terletak di bagian barat Indonesia, Jakarta mengalami puncak musim penghujan pada bulan Januari dan Februari dengan rata-rata curah hujan 350 milimeter dengan suhu rata-rata 27 °C. Curah hujan antara bulan Januari dan awal Februari sangat tinggi dan puncak musim kemarau terjadi pada bulan Agustus dengan rata-rata curah hujan 60 milimeter . Bulan September dan awal Oktober adalah hari- hari yang sangat panas di Jakata, suhu udara dapat mencapai 40°C.
Suhu rata-rata tahunan berkisar antara 25°-38 °C (77°-100 °F).
3. Lingkungan Sekitar
Gedung Serbaguna Senayan memiliki lokasi yang sangat strategis dan mudah dicapai karena berdekatan dengan:
a. Stadion Gelora Bung Karno b. Hotel Atlet Century
c. Gedung Pengelola Gelora Bung Karno d. Masjid
e. Mall FX
f. Mall Plaza Senayan dan Senayan City g. Ratu Plaza
h. Berbagai Gedung Olahraga
1.1.2 Analisa Mikro Bangunan dan Lingkungannya (Gambar 3.2 Arsitektur Gedung Serbaguna Senayan)
(Sumber: www.gedungserbaguna.com,diakses 25 Maret 2013 pukul 21.16 WIB) (Gambar3.3 Potongan Gedung Serbaguna Senayan)
(Sumber: Pengelola Gelora Bung Karno)
(Gambar 3.4 Lantai dasar Gedung Serbaguna Senayan)
(Sumber: Pengelola Gelora Bung Karno) (Gambar 3.5 Lantai 1 Gedung Serbaguna Senayan)
(Sumber: Pengelola Gelora Bung Karno)
Gedung Serbaguna Senayan merupakan bangunan yang menghadap ke timur laut dengan 2 lantai dan luas bangunan yaitu 3743 m2. Lantai dasar difungsikan sebagai ruang kantor, ruang serbaguna, dan mushola.
Lantai 1 hanya difungsikan sebagai gedung serbaguna. Untuk tinggi gedung, pada lantai dasar tinggi gedung adalah 3.2 m, sedangkan pada lantai 1 tinggi gedung adalah 3.2 m sampai 7.65 m. Pada bangunan ini terdapat 4 pintu masuk yang menghadap ke 4 arah di mana pintu masuk
utama menghadap ke sebelah timur laut, pintu area servis menghadap sebelah barat daya, dan pintu lainnya menghadap ke sebelah barat laut dan tenggara. Berikut ini adalah arah mata angin bangunan Gedung Serbaguna Senayan
Utara : Jalan Manila
Selatan : Jalan Lomba Layar dan Jalan Tinju Barat : Jalan Tinju
Timur : Jalan Manila dan Jalan Lomba Layar
Bentuk bangunan Gedung Serbaguna Senayan ini merupakan bentuk bangunan yang sesuai dengan iklim tropis di Jakarta. Dari atap gedung, dapat diketahui bahwa Gedung ini memiliki bentuk yang merupakan perpaduan bentuk bangunan tropis dan berbagai budaya. Bentuk denah bangunan yaitu persegi yang simetris.
Untuk segi pencahayaan dan penghawaan, Gedung Serbaguna Senayan ini menggunakan banyak pencahayaan alami yang masuk dari jendela kaca yang cukup banyak jumlahnya. Sedangkan penghawaan yang digunakan adalah penghawaan buatan dari AC. Selain itu, area sekitar gedung yang rindang juga menyebabkan gedung ini memiliki suhu udara yang sejuk.
1.2 Studi Aktifitas Pengguna 1.2.1 Data Pengguna
1. Pengelola
Pengelola museum terdiri dari 4 bagian yaitu:
a. Kepala Museum
1) Mempunyai tugas memimpin, mengkoordinasi, mengawasi, dan mengendalikan pelaksanaan tugas dan fungsi museum di wilayah kerjanya.
b. Subbagian Tata Usaha, yang terdiri dari 1 orang kepala bagian dan 4 orang staf.
1) Melaksanakan pengelolaan surat menyurat, urusan rumah tangga dan kearsipan
2) Melaksanakan pengelolaan administrasi kepegawaian dan keuangan
3) Melaksanakan pengelolaan perlengkapan dan peralatan kantor
4) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Museum.
c. Seksi Koleksi dan Dokumentasi, yang terdiri dari 1 kepala bagian dan 3 orang staf
1) Menyusun rencana kegiatan dan program kerja 2) Melaksanakan survei dan pengadaan koleksi
3) Melaksanakan inventerisasi dan katalogisasi koleksi 4) Melaksanakan penyusunan sumber data koleksi
5) Melaksanakan dokumentasi dalam bentuk tulisan, suara, dan visual
6) Melaksanakan penyusunan naskah petunjuk koleksi, penyusunan naskah buku tentang koleksi dan penelitian naskah kuno
7) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Museum
8) Melaksanakan konservasi, fumigasi, restorasi, dan reproduksi koleksi
9) Melaksanakan perawatan gedung dan peralatan teknis museum
d. Seksi Pameran dan Edukasi, yang terdiri dari 1 orang kepala bagian dan 3 orang staff
1) Menyusun rencana kegiatan dan program kerja;
2) Melaksanakan pemutaran film dokumenter;
3) Melaksanakan museum keliling;
4) Melaksanakan penyusunan skenario video program tentang koleksi
5) Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Museum.
6) Melaksanakan tata pameran khusus dan keliling;
e. Jabatan Fungsional
1) Melakukan kegiatan berdasarkan jabatan fungsional masing-masing sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
2. Pengunjung
a. Tipe Individual
Tipe individual adalah pengunjung yang memiliki alasan khusus, misalnya ingin melihat koleksi yang khusus, atau ingin melakukan riset khusus terhadap
koleksi museum tertentu untuk memperoleh informasi yang detail
b. Tipe Kelompok Dewasa
Biasanya banyak menghabiskan waktu di museum untuk berdiskusi secara santai
c. Tipe Kelompok Keluarga
Biasanya memiliki kebutuhan yang besar baik dari segi usia maupun minat.
1.2.2 Pola Aktifitas Pemakai 1. Pengelola
Pola aktivitas yang dilakukan oleh pengelola adalah a. Datang ke kantor
b. Absen
c. Menyimpan barang di loker
d. Bekerja sesuai dengan pekerjaannya masing-masing e. Istirahat pada waktu siang dan kemudian kembali bekerja f. Pada jam pulang mengambil barang di loker
g. Absen pulang
(Gambar 3.6 Pola aktifitas pengelola)
2. Pengunjung
Pola Aktifitas yang dilakukan oleh pengunjung adalah a. Datang ke museum
b. Membeli tiket, atau pergi ke perpustakaan, atau ke kafetaria
c. Setelah membeli tiket, pengunjung kemudian mencari informasi atau langsung menitipkan barangnya
d. Setelah itu, pengunjung kemudian masuk ke area pameran dan melihat koleksi
e. Di dalam area pameran, pengunjung dapat menonton video di auditorium
f. Setelah menonton video, pengunjung dapat berinteraksi dengan games interaktif
g. Setelah selesai melihat koleksi, pengunjung dapat langsung pulang, ke perpustakaan, atau ke kafetaria
Absen
Bekerja Istirahat
Datang
Menerima Tamu
Rapat Mengurus Pekerjaan
Menyimpan dokumen penting
Melayani Pengunjung Loker
Loker
Absen Pulang
(Gambar 3.7 Pola Aktifitas Pengunjung)
1.3 Studi Koleksi Museum Olahraga Atletik 1.3.1 Alur Pengadaan Koleksi
Setiap koleksi yang ada di Museum Olahraga Atletk tentunya akan mengalami beberapa proses hingga menjadi benda koleksi. Proses tersebut adalah
1. Koleksi didatangkan
2. Koleksi kemudian di registrasi terlebih dahulu
3. Koleksi di letakkan pada ruang penyimpanan sementara 4. Setelah itu, koleksi kemudian di bersihkan di laboratorium
Membeli Tiket
Menonton Video
Pulang Datang
Perpustakaan Cafetaria
Menitipkan Barang Mencari
Informasi
Masuk Ruang Pamer
Melihat Pameran Temporer Melihat Koleksi
5. Koleksi yang sudah bersih akan diidentifikasi, klasifikasi, dan dikatalogisasi
6. Setelah semua proses selesai, maka koleksi akan di tempatkan di ruang penyimpanan hingga di pajang di museum
(Gambar 3.8 Alur Pengadaan Koleksi)
1.3.2 Koleksi Olahraga Atletik
Koleksi olahraga atletik yang menjadi koleksi Museum Olahraga Atletik adalah:
1. Koleksi Historika, yaitu dokumen foto sejarah olahraga
2. Koleksi Relis, yaitu foto tokoh penting yang mengisi sejarah olahraga atletik Indonesia
3. Koleksi Numismatik, yaitu pakaian dan alat-alat olahraga yang pernah digunakan olahragawan ketika bertanding maupun latihan.
4. Koleksi Heraldik, yaitu medali, piagam, piala, dan penghargaan yang pernah diperoleh olahragawan ketika memenangkan pertandingan.
Pengadaan Koleksi
Registrasi Koleksi
Penyimpanan Sementara
Pembersihan Koleksi
Identifikasi, Klasifikasi Katalogisasi
Ruang Penyimpanan
5. Patung dan Diorama 6. Permainan interaktif 7. Alat olahraga berupa :
a. bola tolak peluru b. lembing
c. cakram
d. Tiang lompat tinggi e. Tiang lompat galah 1.4 Studi Fasilitas Ruang Museum
1.4.1 Pembagian Ruang
Pembagian Ruang berdaarkan fungsinya yaitu:
1. Fungsi penerima, terdapat beberapa area yaitu:
a. Informasi
b. Penitipan Barang c. Loket Karcis d. Ruang Tunggu e. Pintu Masuk Pameran
2. Fungsi pengelolaan, terdapat beberapa area yaitu:
a. Ruang Kepala Museum b. Ruang Tata Usaha
1) Kepala Tata Usaha 2) Staf Tata Usaha
3) Penyimpanan file tata usaha c. Ruang Seksi Pameran dan Edukasi
1) Staf Koleksi dan Dokumentasi
2) Penyimpanan file Koleksi dan Dokumentasi d. Ruang Tunggu
e. Ruang Rapat f. Ruang Percetakan g. Pantry
h. Loker
3. Fungsi perawatan dan penyimpanan, terdapat beberapa area yaitu:
a. Ruang Seksi Koleksi dan Dokumentasi:
1) Staf Koleksi dan Dokumentasi
2) Penyimpanan file Koleksi dan Dokumentasi b. Ruang Penyimpanan koleksi
c. Ruang Penyimpanan koleksi sementara d. Ruang studi koleksi
e. Ruang laboratorium konservasi f. Bengkel Restorasi dan Preparasi
4. Fungsi Komersial, terdapat beberapa area yaitu:
a. Cinderamata b. Cafetaria
5. Fungsi Edukasi, yaitu perpustakaan 6. Fungsi Penunjang, yaitu gudang
7. Ruang Pameran, terdapat beberapa area yaitu:
a. Ruang Sejarah Olahraga Atletik, menampilkan sejarah olahraga atletik zaman dulu dan sejarah atletik di Indonesia, motto olahraga, dan Organisasi PASI
b. Ruang Pengenalan Olahraga Atletik, manampilkan alat- alat yang dipakai untuk olahraga atletik dan cara-cara penggunaannya
c. Ruang Games Interaktif, menampilkan permainan- permainan yang dapat mendukung olahraga atletik seperti permainan lempar lembing, permainan lempar cakram, games komputer
d. Ruang Pamer Pertandingan Olahraga, menampilkan dokumentasi foto pertandingan olahraga seperti Sea Games, Olympic, dll. Menampilkan koleksi piagam, piala, dan penghargaan olahraga Indonesia
e. Ruang Daftar Kehormatan, menampilkan foto-foto para atlet, pelatih, dan orang yang berjasa dalam olahraga Atletik tiap tahun
f. Ruang Hall Of Fame, menampilkan foto atlet-atlet yang mengharumkan nama bangsa Indonesia beserta koleksi yang dimilikinya.
g. Ruang Pameran temporer
h. Auditorium, merupakan tempat untuk menonton video tentang olahraga atletik
1.4.2 Program Aktivitas dan Fasilitas
Di dalam Museum Olahraga Atletik terdapat berbagai macam aktifitas yang dilakukan baik oleh pengelola maupun pengunjung. Aktifitas yang
terjadi tentunya merupakan cikal bakal adanya setiap fasilitas yang ada di setiap ruangan dalam Museum. Aktifitas dan fasilitas yang didapatkan juga dapat memperlihatkan kondisi ideal ruangan yang dapat mendukung aktifitas dalam museum. Berikut ini adalah tabel aktifitas dan fasilitas Museum Olahraga Atletik
(Tabel 3.1 Program Aktifitas dan Fasilitas)
N o
Ruangan Subjek Aktifitas Fasilitas Zo na 1 Loket
karcis
Staff -Menjual Tiket -Menerima Uang -Menyimpan Uang -Duduk
-Menelepon
-Meja -Kursi -Brangkas -Telepon
PB
Pengu njung
Membeli Tiket
2 Penitipan Barang
Staff -Mengambil barang -Memberikan nomor -Menyimpan barang
-Meja -Kursi -Rak
PB
Pengu njung
-Menitipkan Barang
3 Ruang Tunggu
Pengu njung
-Duduk -Istirahat
-Sofa -Meja Tamu
PB
4 Ruang Infomasi
Staff -Memberikan informasi dan Brosur
-Meja -Kursi
PB
N o
Ruangan Subjek Aktifitas Fasilitas Zo na Pengu
njung
-Bertanya
5 Pintu Masuk/
Keluar
Pengu njung
Menunjukkan Tiket Mesin Tiket
PB
6 Ruang sejarah
Staff -Memberikan Informasi
-Diorama -Panel
PB
Olahraga Atletik
Pengu njung
-Melihat-lihat
7 Ruang Pengenala n
Olahraga Atletik
Staff -Memberikan Informasi
-Vitrin -Panel -Patung
PB
Pengu njung
-Melihat-lihat -Track and field 8 Ruang
Games Interaktif
Staff -Memberikan Informasi
-Meja Komputer -Permainan lempar lembing -Permainan lempar cakram -Permainan lari
PB
Pengu njung
-Bermain lempar lembing
-Bermain lempar cakram
-Bermain Komputer -Duduk
9 Ruang Pamer Pertandin gan Olahraga
Staff -Memberikan Informasi
-Vitrin -Panel
PB
Pengu njung
-Melihat-lihat
1 0
Ruang daftar kehormat an
Staff -Memberikan Informasi
-Vitrin -Panel
PB
Pengu njung
-Melihat-lihat
N o
Ruangan Subjek Aktifitas Fasilitas Zo na 1
1
Ruang Hall of
Staff -Memberikan Informasi
-Vitrin -Panel
PB
Fame Pengu njung
-Melihat-lihat
1 2
Pameran Temporer
Staff -Memberikan informasi
-Vitrin -Panel
PB
Pengu njung
-Melihat-lihat -Memfoto 1
3
Auditoriu m
Staff -Memberikan informasi
-Kursi auditorium -Panggung -Meja -Kursi -Rak -Layar
PB
Pengu njung
-Menonton video -Mendengarkan Penjelasan
1 4
Perpustak aan
Staff -Mendata koleksi -Menyimpan file -Menyimpan buku -Memberikan nomor penitipan -Menyimpan barang
-Rak buku -Meja baca -Kursi baca -Meja kerja -Kursi kerja -Lemari file -Meja penitipan -Kursi penitipan -Rak penitipan
PB
Pengu njung
-Mengambil buku -Membaca buku -Menitipkan barang
1 5
Cinderam ata
Staff -Menjual barang -Duduk
-Menulis
-Menyimpan uang
-Meja -Kursi -Rak
PB
Pengu njung
-Melihat-lihat -Membeli N
o
Ruangan Subjek Aktifitas Fasilitas Zo na
1 6
Cafetaria Staff -Membuat minuman -Menghitung pembelian -Mengambilkan makanan
-Meja kasir -Meja pembuatan -Meja pelayanan -Vitrin makanan
PB
Pengu njung
-Mengambil makanan -Membayar -Mengambil minuman -Makan
-Meja makan ber4 -Meja makan ber2 -Kursi makan 1
7
Ruang tunggu kantor
Pengu njung
-Duduk -Menunggu
-Sofa -Meja tamu
SP
1 8
Kantor Kepala Museum
Kepala Museu m
-Bekerja -Menulis
-Menerima telepon -Mengetik
-Duduk
-Menyimpan file -Menerima fax -Menerima tamu
-Meja -Kursi Eksekutif -Kursi tamu -Lemari file -Sofa 2 seat -Coffee table -Printer -Telepon
SP
1 9
Tata Usaha
Kepala Tata Usaha
-Menulis -Membaca -Bekerja
-Menerima tamu -Menerima telepon -Mengetik
-Duduk
-Menyimpan file -Fax
-Meja -Kursi -Credenza set
-Komputer set
SP
N Ruangan Subjek Aktifitas Fasilitas Zo
Staff -Duduk
-Menerima telepon -Mengetik
-Menulis -Menyimpan file
-Meja -Kursi -Komputer set
SP
2 0
Seksi Pameran dan Edukasi
Staff -Duduk
-Menerima telepon -Mengetik
-Menulis
-Meja -Kursi -Komputer Set
SP
2 1
Ruang Rapat
Staff -Rapat -Duduk -Menulis -Presentasi
-Meja -Kursi -White Board -Proyektor
SP
2 2
Percetaka n
Staff -Fotokopi -Menyiapkan Kertas
-Menyimpan Kertas
-Mesin foto kopi -Meja
SP
2 3
Filing Staff -Menyimpan file -Membaca file
-Lemari file SP
2 4
Loker Staff -Menyimpan barang
-Mengambil barang
-Loker SP
2 5
Pantry Staff -Mencuci -Membuat kopi -Minum -Menyimpan piring/gelas
-Sink -Kulkas -Mini pantry -Dispenser -Meja -Kursi
SP
2 6
Koleksi dan Dokumen tasi
Staff -Duduk
-Menerima telepon -Mengetik
-Menulis
-Meja -Kursi -Komputer set
SP
N o
Ruangan Subjek Aktifitas Fasilitas Zo na
Keterangan:
:Butuh :Sedang :Tidak butuh PV :Privat
SP :Semi Privat 2
7
Penyimpa nan koleksi
Staff -Menyimpan koleksi
-Lemari PV
2 8
Penyimpa nan koleksi sementara
Staff -Menyimpan koleksi
-Lemari PV
2 9
Studi koleksi
Staff -Mempelajari koleksi
-Meja PV
3 0
Laborator ium konservas i
Staff -Meneliti koleksi -Meja bengkel -Meja kerja -Kursi -Lemari -Lemari file
PV
3 1
Bengkel Restorasi dan Preparasi
Staff -Membuat replica koleksi
-Memperbaiki sarana
-Meja bengkel -Meja kerja -Kursi kerja -Lemari
PV
3 2
Gudang Staff Menyimpan peralatan
-Rak SP
3 3
Mushola Staff Pengu njung
-Sembahyang -Mengambil peralatan
-Tiakr mushola -Lemari
PB
PB :Publik
Setelah mengetahui setiap aktifitas dan fasilitas yang ada di Museum Olahraga Atletik, maka langkah selanjutnya adalah mengetahui luas kebutuhan minimum dalam setiap ruangan yang berdasarkan pada dimensi manusia dan ruang interior. Luas kebutuhan minuman tersebut akan diberikan tambahan sirkulasi 20% di setiap ruangan. Hasil luas sirkulasi tersebut kemudian akan disesuaikan dengan luas Gedung Serbaguna Senayan. Adapun luas Gedung Serbaguna pada lantai 1 yang akan digunakan yaitu 1521.9 m2. Sedangkan luas Gedung Serbaguna pada lantai 2 yang akan digunakan yaitu 1621.2 m2. Berikut ini adalah tabel perhitungan luas setiap ruangan dalam Museum Olahraga Atletik yang digunakan pada perancangan.
(Tabel 3.2 Perhitungan luas lantai 1)
1 Ruang Duduk 16.82 m2 20.18 m2 36 m2
2 Informasi 8.78 m2 10.53 m2 19 m2
3 Pintu Masuk 9.9 m2 11.88 m2 22 m2
4 Games Interaktif 133.88 m2 170 m2 308 m2
5 Perpustakaan 101.76 m2 122.11 m2 217 m2
6 Cindera Mata 16.14 m2 19.37 m2 37 m2
7 Cafetaria 77.64 m2 93.17 m2 165 m2
8 Ruang Tunggu 8.41 m2 10 m2 18 m2
9 Kantor Kepala Museum 19.46 m2 23.35 m2 41 m2
10 Tata Usaha
Kepala Tata Usaha 7.84 m2 9.4 m2 16.5 m2
Staff 18.8 m2 22.56 m2 40 m2
11 Seksi Pameran dan Edukasi 18.8 m2 22.56 m2 40 m2
12 Filing 12.6m2 15.12 m2 27 m2
13 Ruang Rapat 27.6 m2 33.12 m2 59 m2
14 Percetakan 4.23 m2 5 m2 9 m2
15 Loker 5.58 m2 6.7 m2 12 m2
16 Pantry 22.5 m2 27 m2 47.8 m2
17 Seksi Koleksi dan Dokumentasi 18.8 m2 22.56 m2 40 m2
18 Penyimpanan Koleksi 31.68 m2 38 m2 67.5 m2
19 Penyimpanan koleksi sementara 11.88 m2 14 m2 24.6 m2
20 Studi Koleksi 14.85 m2 17.82 m2 31.5 m2
21 Laboratorium Konservasi 26.65 m2 31.98 m2 57 m2
22 Bengkel Restorasi dan Preparasi 38.7 m2 46.44 m2 83 m2
23 Gudang 9.9 m2 11.88 m2 21 m2 Semi Privat
24 Mushola 39 m2 46.88 m2 83 m2 Publik
Fungsi Perawatan dan Pe nyimpanan
Fungsi Pe nunjang
Semi Privat
Privat 1521.9 m2
Lantai 1 Fungsi Pameran
Fungsi Pe nerima
Fungsi Edukas i Fungsi Komersial
Fungsi Pengelolaan
No Ruang Luas
Kebutuhan Luas dengan sirkulasi
Total Luas
Minimal Zona
Publik Area
Luas Denah Per
Lantai
Luas Disesuaikan
Denah
851.61 m2
(Tabel 3.3 Perhitungan luas lantai 2)
1 Loket Karcis 11.96 m2 14.35 m2 30 m2
2 Penitipan Barang 13.74 m2 16.49 m2 33.2 m2
3 Ruang Duduk 16.82 m2 20.18 m2 40.7 m2
4 Informasi 8.78 m2 10.53 m2 21.2 m2
5 Pintu Masuk 9.9 m2 11.88 m2 24 m2
7 Ruang Sejarah Olahraga Atletik 28.5 m2 34.2 m2 70 m2
8 Pengenalan Olahraga Atletik 287.96 m2 345.55 m2 700 m2
9 Auditorium 90.2 m2 108.24 m2 214 m2
10 Ruang Pamer Pertandingan Olahraga 70.8 m2 84.96 m2 173 m2
11 Daftar Kehormatan 21.24 m2 25.49 m2 52 m2
12 Hall of Fame 37 m2 44.4m2 90 m2
13 Pameran Temporer 70.8 m2 84.96 m2 173 m2
Total Luas Minimal
Luas Denah Per
Lantai
Luas Disesuaikan
Denah
No Ruang Luas
Kebutuhan Luas dengan sirkulasi Fungsi Pe nerima
Fungsi Pameran
1621.2 m2 Lantai 2
801.23 m2
Zona Area
Publik
1.4.3 Matriks Hubungan Antar Ruang
Matriks hubungan antar ruang adalah salah satu cara untuk mengetahui hubungan kedekatan antar ruang yang dapat membantu dalam menempatkan tiap ruangan dalam museum. Berikut ini adalah matriks hubungan antar ruang pada Museum Olahraga Atletik.
(Gambar 3.9 Hubungan Antar Ruang Lantai 1)
Keterangan:
: Dekat : Sedang : Jauh
Mushola Semi Privat
No Zona Area
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24
Publik Ruang Duduk Informasi Pintu Masuk R. Games Interaktif
Cindera Mata Cafetaria
Pantry Gudang Loker
R. Tunggu Kantor Kantor Kepala Museum R. Seksi Tata Usaha R. Seksi Pameran dan Edukasi R. Seksi Koleksi dan Dokumentasi Filing
Percetakan
Penyimpanan Koleksi Sementara Ruang Rapat
Privat
Studi Koleksi
Laboratorium Konservasi Bengkel Restorasi dan Preparasi Penyimpanan Koleksi Perpustakaan
(Gambar 3.10 Hubungan Antar Ruang Lantai 2)
Keterangan:
: Dekat : Sedang : Jauh
No Zona Area
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Publik Loket Karcis Penitipan Barang Ruang Duduk Informasi
Ruang Sejarah Olahraga Atletik R. Pengenalan Olahraga Atletik Auditorium
R. Pamer Pertandingan Olahraga R. Daftar Kehormatan
R. Hall of FAME R. Pameran Temporer Pintu Masuk
1.4.4 Diagram Sirkulasi Antar Ruang
Diagram sirkulasi antar ruang adalah diagram yang menjelaskan jalur sirkulasi yang dilewati oleh pengunjung maupun pengelola, tingkat kepadatan pengguna di setiap jalur dan juga zona yang ada dalam museum.
Berikut ini adalah diagram sirkulasi antar ruang di Museum Olahraga Atletik.
(Gambar 3.11 Diagram Sirkulasi Antar Ruang Lantai 1)
Masuk
mata
:Privat
Bengkel
Mushola Kantor
Gudang
Masuk Perpustakaan
Area Duduk Cafetaria
Informasi Cindera-
R. Games Interaktif
Pintu
Keterangan:
:Publik :Semi Privat
:Pengunjung Padat :Pengunjung Sedang :Pengunjung Jarang :Pengelola Padat :Pengelola Sedang :Pengelola Jarang
(Gmabar 3.12 Digram Sirkulasi Antar Ruang Area Kantor)
Keterangan:
:Semi Privat :Privat :Pengelola Padat :Pengelola Sedang :Pengelola Jarang Penyimpanan
Sementara Laboratorium
Penyimpanan Koleksi
Studi Koleksi Bengkel
Pintu Masuk Service
Ruang
Rapat Tata Usaha
Ruang Tunggu Kepala
Museum Loker
Pantry Foto Copy Filing Pameran dan
Edukasi Koleksi dan Dokumentasi
Masuk
(Gambar 3.13 Diagram Sirkulasi Antar Ruang Lantai 2)
Penitipan Loket
Karcis
Masuk Area Duduk Informasi
Pintu
Keterangan:
:Publik :Semi Privat :Pengunjung Padat :Pengunjung Sedang :Pengunjung Jarang :Pengelola Padat :Pengelola Sedang :Pengelola Jarang
Masuk Ruang
Auditorium
Pameran Temporer Sejarah
Olahraga Pengenalan
Olahraga Atletik
Ruang Pertandingan
Olahraga
Hall of Fame
Ruang Daftar Kehormatan
1.4.5 Zoning
Zoning adalah pembagian area berdasarkan penggunanya. Pada perancangan interior Museum Olahraga Atletik ini, zoning terbagi menjadi 3 bagian yaitu:
1. Privat
Area privat adalah area yang sifatnya khusus dan hanya digunakan oleh orang-orang tertentu yang berkepentingan.
Area privat ini memiliki luas area 263.6 m2. Area privat merupakan area yang sangat khusus sehingga sebaiknya diletakkan pada bagian dalam gedung.
2. Semi Privat
Area semi privat adalah area yang dapat dikunjungi oleh orang-orang tertentu saja, seperti pengelola. Area semi privat ini memiliki luas 371.3 m2. Area ini dapat diletakkan di antar area privat dan area publik.
3. Publik
Area publik adalah area yang dapat digunakan oleh pengelola maupun pengunjung. Area public memiliki luas yang paling besar yaitu 2508.2 m2 karena fungsi utama museum yang diperuntukkan pada pengunjung. Area ini dapat diletakkan pada area pintu masuk utama yang dapat dengan mudah dijangkau.
1.4.6 Grouping
Grouping adalah pembagian ruangan berdasarkan area-area zoning.
Pembagian ruangan pada Museum Olahraga Atletik adalah:
1. Area privat terbagi menjadi:
a. Penyimpanan Koleksi
b. Penyimpanan Koleksi Sementara c. Studi koleksi
d. Laboratorium konservasi e. Bengkel restorasi dan preparasi 2. Area semi privat terbagi menjadi:
a. Ruang tunggu
b. Ruang Kepala Museum c. Ruang Tata Usaha
d. Ruang Seksi Pameran dan Edukasi e. Ruang Seksi Koleksi dan Dokumentasi f. Ruang Rapat
g. Ruang Loker h. Ruang Percetakan i. Pantry
j. Gudang k. Filing
3. Area publik terbagi menjadi:
a. Area Pameran b. Auditorium c. Perpustakaan d. Kafetaria e. Cinderamata f. Lobi
1.5 Studi Permasalahan Khusus Interior
1.5.1 Tinjauan Karakteristik Garis dan Bentuk 1. Garis
Menurut Sadjiman (2005:108) semua garis memiliki karakter yang memberikan gambaran kesan yang memancar dari bentuk yang ada. Terdapat beberapa garis yang dapat digunakan dalam Museum Olahraga Atletik, yaitu garis horisontal, vertikal, diagonal, zigzag, lengkung, dan garis S.
(Gambar 3.14 Macam-macam garis)
(Sumber: www.google.com)
Adapun berbagai karakter garis tersebut yaitu :
a. Garis horisontal: mengesankan istirahat, memberikan karakter/ lambang pasif, kaku, ketenangan, kedamaian dan kemantapan.
b. Garis vertikal: mengesankan keadaan tak bergerak, sesuatu yang melesat menusuk langit mengesankan agung, jujur, tegas, cerah, cita-cita, pengharapan. Memberikan karakter/ lambang statis, kestabilan, kemegahan, kekuatan, kekokohan, kejujuran dan kemashuran.
c. Garis diagonal, yaitu garis miring ke kanan atau ke kiri mengasosiasikan orang lari, pohon dan obyek yang mengesankan keadaan tidak seimbang. Melambangkan kedinamisan, kegesitan, kelincahan
d. Garis zigzag merupakan garis patah-patah bersudut runcing, dibuat dari gabungan vertikal dan diagonal sebagai asosiasi petir, retak, letusan. Menggambarkan karakter gairah, semangat, bahaya, mengerikan
e. Garis Lengkung, meliputi lengkung mengapung, lengkung kubah dan lengkung busur. Mengasosiasikan gumpalan asap, buih sabun, balon. Memberikan karakter ringan dan dinamis, kuat yang melambangkan kemegahan dan kekuatan dan kedinamisan.
f. Garis S merupakan garis lengkung ganda yang merupakan garis terindah diantara semua garis atau garis lemah gemulai, mengasosiasikan ombak, pohon tertiup angin, gerakan lincah anak/binatang. Memberikan karakter indah, dinamis, luwes yang melambangkan keindahan, kedinamisan dan keluwesan.
4. Bentuk
Ada beberapa macam bentuk yang ada. Berikut ini adalah kesan-kesan yang dapat ditimbulkan oleh sifat atau karakteristik bentuk
a. Bentuk teratur kubus dan persegi, baik dalam dua atau tiga dimensi memberi kesan statis, stabil, dan formal. Bila menjulang tinggi sifatnya agung dan stabil.
(Gambar 3.15 Bentuk Persegi)
b. Bentuk lengkung bulat atau bola memberi kesan dinamis, labil dan bergerak.
(Gambar 3.16 Bentuk Bulat)
c. Bentuk segitiga runcing memberi kesan aktif, energik, tajam, dan mengarah.
(Gambar 3.17 Bentuk segitiga)
d. Bentuk organik adalah bentuk yang dibatasi oleh lengkung bebas, yang mengesankan kejelangan dan pertumbuhan.
(Gambar 3.18 Bentuk Organik)
1.5.2 Tinjauan Sistem Furnitur
Ada 2 jenis furnitur yang dapat digunakan pada desain Museum Olahraga Atletik, yaitu loose furniture dan custom-made. Lose Furniture adalah furnitur yang dapat dipindah-pindahkan dan dijual di toko sehingga dapat langsung digunakan, sedangkan custom-made furniture adalah furnitur yang dibuat sesuai dengan ukuran dan kebutuhan uang yang dimiliki.
Loose furniture memiliki keunggulan yaitu dapat langsung digunakan dan dibeli dalam jumlah banyak serta memiliki bentuk dan ukuran yang beragam. Kekurangannya, ukuran dan bentuk furnitur tidak dapat dibuat sesuai dengan yang diinginkan. Penerapan loose furniture ini sangat cocok utuk area yang tidak membutuhkan desain khusus seperti area kantor.
Custom made furniture memiliki keunggulan yaitu bentuknya yang dapat dibuat sesuai dengan desain yang diinginkan. Akan tetapi, custom made furniture membutuhkan waktu pengerjaan yang cukup lama jika membuat lebih dari 1 furnitur karena merupakan furnitur yang dibuat secara khusus. Penerapan custom made furniture ini sangat cocok diterapkan pada area pameran karena furniturnya yang dapat dibuat khusus dan disesuaikan dengan tema.
1.5.3 Tinjauan Material Lantai, Dinding, dan Ceiling
Pemilihan material lantai, dinding, dan ceiling Museum Olahraga Atletik merupakan hal yang sangat penting. Setiap material memiliki ciri khas masing-masing yang dapat mengubah suasana suatu ruangan.
Material lantai, dinding, dan ceiling yang akan diterapkan pada museum ini harus tahan lama, tidak cepat rusak, dan juga dapat meredam suara bising yang ditimbulkan baik dari luar maupun dalam ruangan. Oleh karena itu, material yang dapat digunakan pada museum ini yaitu:
1. Material lantai
Lantai merupakan elemen pembentuk interior yang sangat penting. Pemilihan material lantai harus disesuaikan dengan tema dan konsep dari perancangan. Pemilihan warna material lantai juga dapat memberikan kesan yang berbeda pada suatu ruangan. Selain sebagai tempat berpijak, lantai juga dapat difungsikan sebagai pembatas semu pada ruangan.
2. Material dinding
Dinding merupakan elemen ruang yang digunakan sebagai pembatas tiap ruangan. Sebagai partisi ruangan, ada berbagai
macam material yang dapat digunakan sebagai material dinding. Pemilihan material dinding harus disesuaikan dengan fungsi ruangan. Pada area pameran, selain sebagai pembatas ruangan, dinding harus dapat meredam suara bising baik yang ditimbulkan dari dalam maupn dari luar ruangan.
3. Material Ceiling
Ceiling merupakan elemen pembentuk ruang yang berfungsi sebagai elemen penutup rangka atap. Material ceiling yang dapat digunakan adalah material yang tahan lama dan dapat membantu meredam suara bising. Pemilihan warna pada ceiling dapat mempengaruhi kesan tinggi rendahnya ruangan. Ceiling berwarna terang akan membuat ruangan terasa lebih tinggi, sedangkan warna gelap akan membuat ruangan terasa lebih pendek.
1.5.4 Tinjauan Karakteristik Warna
Warna merupakan elemen yang sangat penting dalam interior ruangan. Setiap warna dapat memiliki karakteristik tersendiri yang dapat mengubah suasana hati seseorang. Berikut ini adalah psikologi warna menurut Akmal (2006) yang dapat diterapkan pada Museum Olahraga Atletik.
(Tabel 3.4 Psikologi warna)
Warna Positif Negatif
Merah Hidup, cerah, pemimpin, gairah, kuat
Panas, bahaya, emosi yang meledak, agresif, brutal
Jingga Muda, kreatif, keakraban, dinamis Dominan, Arogan
1.5.5 Tinjauan Sistem Pencahayaan
Pada Museum Olahraga Atletik, koleksi yang ada memiliki tingkat kesensitifan sedang sehingga pencahayaan yang dibutuhkan berkisar 150- 200 lux. Untuk tipe lampu yang dapa digunakan adalah lampu TL dan LED. Akan tetapi lampu TL mengadung ultraviolet sehingga membutuhkan penggunaan kaca buram sebagai filter.
Pada Museum Olahraga Atletik ini, ada 3 tipe penerangan yang dapat digunakan yaitu:
1. Ambient lighting atau general lighting, adalah tipe penerangan yang berasal dari sumber cahaya yang cukup besar dan sinarnya mampu menerangi keseluruhan bangunan/ ruang Kuning
Segar, cepat, jujur, adil, tajam, cerdas
Sinis, kritis, murah/ tidak eksklusif
Hijau Sensitif, stabil, formal, toleran, harmonis, keberuntungan
Pahit
Biru Kebenaran, komtemplatif,
intelegensi tinggi, damai, meditatif
Emosional, egosentris, racun
Ungu Artistik, personal, mistis, spiritual Angkuh, sombong, diktator Pink Kelembutan, kehalusan, sensitif,
romantis, trendi, gairah, energi
Melelahkan, lesu
Cokelat Hangat, etnik, eksotik Tidak cerah, tidak bersih Putih Jujur, bersih, innocent, higienis Monoton, kaku, tidak terkontrol Hitam Kuat, kreativitas, magis, kedalaman
berpikir, idealis, fokus
Terlalu kuat, superior, merusak, menekan
Pastel lembut, feminim, romantis, ringan, tenang, menyenangkan
Melankolis
2. Accent Lighting, adalah pencahayaan khusus untuk satu detail atau ornament yang ingin ditonjolkan.
3. Decorative Lighting, adalah jenis penerangan yang tak hanya berfungsi sebagai penerangan, namun juga sebagai elemen dekorasi dalam tatanan ruang
Terdapat beberapa teknik yang dapat diaplikasikan pada perancangan interior Museum Olahraga Atletik, yaitu:
1. Penerangan langsung (Direct Lighting) adalah suatu teknik di mana sumber cahaya ditata agar bisa menyinari suatu area atau ruang secara langsung
2. Penerangan tidak langsung (Indirect Lighting) adalah teknik pencahayaan yang menempatkan sumber cahaya (lampu) secara tersembunyi, sehingga cahaya yang terlihat dan menerangi ruang akan berupa pantulan cahaya.
3. Penerangan ke bawah (Downlight) adalah teknik pencahayaan dimana lampu diarahkan untuk menyinari benda di bawahnya 4. Penerangan ke atas (Uplight) merupakan teknik pencahayaan
yang menyorotkan sinar lampu ke atas ruang atau benda 5. Penerangan dari samping (Sidelight) adalah sumber
penerangan yang berasal dari samping objek.
6. Penerangan dari depan (Frontlight) merupakan teknik penerangan yang biasanya untuk menerangi lukisan atau hiasan dinding
7. Penerangan dari belakang (Backlight) merupakan teknik penerangan yang dapat memperlihatkan siluet benda yang disinari.
8. Wall washer adalah teknik penerangan yang dibuat sedemikian rupa sehingga cahaya yang dibiaskan menyapu dinding.
1.5.6 Tinjauan Sistem Penghawaan
Sistem penghawaan yang terdapat pada Gedung Serbaguna Senayan ini adalah penghawaan buatan yang berasal dari AC Central. Sistem penghawaan buatan sangat cocok untuk perancangan museum karena suhu udara yang dapat disesuaikan dengan keinginan.
Standar penghawaan yang direkomendasikan dalam museum adalah:
1. Benda koleksi yang dipamerkan: 25-27°C 2. Benda koleksi yang disimpan: 23°C 3. Pengunjung: 23-25°C
4. Pengelola / Staff: 25-27°C Standar kelembaban didalam museum:
1. Benda koleksi yang dipamerkan: maks 55% RAH 2. Benda koleksi yang disimpan: 55% RAH
3. Pengunjung dan Pengelola: 55-65% RAH
1.5.7 Tinjauan Sistem Akustik Ruang
Berbagai upaya yang dapat ditempuh untuk mengurangi kebisingan yang muncul dari dalam atau luar Museum Olahraga Atletik adalah:
1. Mengurangi elemen bukaan pada bangunan namun tetap diimbangi dengan memberikan pemandangan ke area tanaman hijau untuk mengurangi kesan masif
2. Memilih dan menggunakan material yang sederhana dan dapat mereduksi kebisingan seperti material gypsum
3. Membuat penataan interior ruang yang dapat menghambat kebisingan melalui peletakan pintu dan ruang
4. Memberi lapisan penyerap suara di sekitar sumber kebisingan seperti mesin, ducting, dan peralatan elektronik
5. Plywood difungsikan selain sebagai elemen dekorasi juga digunakan untuk memantulkan dan menyerap bunyi.
• Auditorium
Untuk mencegah berkurangnya energi suara, sumber bunyi harus dikelilingi oleh permukaan-permukaan pemantul bunyi seperti gypsum board, plywood, flexyglass dan sebagainya dalam jumlah yang cukup banyak dan besar untuk memberikan energi bunyi pantul tambahan pada tiap bagian daerah penonton, terutama pada tempat-tempat duduk yang jauh.
Jadi salah satu cara untuk memperkuat bunyi dari panggung adalah dengan menyediakan pemantul di atas bagian depan auditorium untuk memantulkan bunyi secara langsung ke tempat duduk bagian belakang, dimana bunyi langsung (direct sound) terdengar paling lemah.
Permukaan-permukaan pemantul bunyi (acoustical board, plywood, gypsum board dan lain-lain) yang memadai akan
memberikan energi pantul tambahan pada tiap-tiap bagian daerah penonton, terutama pada bagian yang jauh.
1.5.8 Tinjauan Sistem Keamanan dan Signage 1. Sistem keamanan
Sistem keamanan Museum Olahraga Atletik terhadap koleksi dapat dilakukan dengan cara:
a. Vitrin dengan bobot berat yang sukar untuk dipindahkan dan bahan yang tidak mudah rusak, serta terkunci dengan baik sehingga sukar untuk dibongkar
b. Permukaan vitrin tertutup kaca sehingga tidak mudah dipecahkan
c. Menempatkan koleksi jauh dari tangan pengunjung, dan memberi penghalang fisik, seperti tali, panil informasi, dan pembatas antara pengunjung dengan koleksi
d. Memberlakukan penitipan tas terutama untuk pengunjung e. Menggunakan pengamanan elektronik seperti detector
kaca pecah,detector getar, CCTV
Sedangkan system keamanan gedung terhadap bahaya kebakaran dapat dilakukan dengan cara menempatkan alat pendeteksi panas dan asap, system penyemprotan, dan tabung pemadam api.
2. Signage
Adapun aspek-aspek yang menjadi syarat signage yang baik adalah:
a. Visibilitas, yaitu tingkat kemudahan sign dapat dilihat
b. Readibilitas, sign tersebut dapat dimengerti oleh orang lain
c. Legibilitas, informasi paling penting dalam signage dapat dibaca dengan jelas.
Berikut ini adalah pemasangan signage yang menempel pada bagian bangunan yang dapat diterapkan pada Museum Olahraga Atletik
a. Free-standing sign adalah sign yang berdiri tegak pada tanah atau lantai
b. Projecting sign adalah sign yang memiliki 2 sisi sehingga dapat dibaca berlawanan arah sekaligus
c. Suspended sign adalah sign yang digantung di langit-langit / ceiling
d. Wall sign adalah tanda yang terpasang paralel dengan tembok bangunan
Signage di dalam ruangan akan berfungsi dengan baik jika diletakkan pada langit-langit atau melekat pada dinding ruangan. Sebuah tanda yang baik menyampaikan persoalan yang penting dalam informasi.
1.5.9 Tinjauan Karakter Betawi Kontemporer
Unsur lokal Betawi yang akan diangkat pada perancangan ini adalah rumah khas Betawi. Rumah khas Betawi memiliki kekhasan yang dapat dilihat dari:
1. Ornamen gigi balang. Ornamen ini memiliki bentuk yang khas yaitu bentuk segitiga dan lingkaran. Selain itu, ornamen ini biasanya diletakkan pada lipslang rumah Betawi dan diletakkan secara berjajar
2. Ragam hias tumpal pada area langkan sebagai pagar pembatas 3. Jendela khas yang disebut jendela krepyak dan jendela jejake 4. Material. Material khas rumah Betawi adalah material kayu
dan bambu.
5. Bentuk rumah Betawi. Rumah khas Betawi ada 3 macam yaitu rumah Rumah tipe Gudang, Bapang, dan Joglo. Bentuk rumah Gudang dan Bapang memiliki bentuk persegi panjang sedangkan rumah tipe Joglo memiliki bentuk persegi.
6. Pada Area Paseban umumnya terdapat tapang/ balai-balai Desain kontemporer mengacu pada apa yang populer atau digunakan sekarang. Ciri khas yang ada pada gaya kontemporer adalah
1. Penggunaan warna-warna netral sebagai fokus utama dan warna cerah sebagai warna aksen
2. Bentuk-bentuk yang digunakan umumnya geometris dengan perpaduan sedikit lekukan
3. Penggunaan material-material lantai yang keras seperti bambu, kayu terang, batu, dan keramik dan finishing yang mengkilap seperti chrome, vernis, kaca, plastik, keramik. Dapat juga menggunakan campuran material yang kontras
4. Memiliki bentuk-bentuk yang sederhana
Dari ciri khas tersebut, maka perpaduan karakter Betawi Kontemporer tersebut dapat diterapkan pada perancangan dengan cara:
1. Menggabungkan material khas betawi yaitu bambu dan kayu dengan material-material modern seperti stainless, kaca, plastik, dan keramik pada furniture maupun elemen pembentuk ruang
2. Menerapkan ornament gigi balang pada interior Museum Olahraga Atletik yang dapat diterapkan pada furniture maupun elemen pembentuk ruang
3. Menerapkan bentuk khas ornament gigi balang yaitu segitiga dan lingkaran serta bentuk rumah betawi yaitu persegi dan persegi panjang pada bentuk furniture, pembagian ruang, maupun elemen pembentuk ruang.
4. Menerapkan unsur-unsur khas Betawi seperti tapang dan jendela khas Betawi pada area pintu masuk utama