• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ideologi Uang Anggota Dewan.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Ideologi Uang Anggota Dewan."

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

Pikiran

Rakyat

() Selasa \') Rabu () Kamis

.

Jumat f) Sabtu

4

~---6

7-- 8 9

10-11---1213

20 21 ~2 23 24 25 26 27 28

.

Mar

...--..---.---.---.---.----..--.--.--.---.---..-.

0

Apr

0

Mei

0

Jun

0

Jut

0

Ags

0

Sep

0

Okt

() Minggu

14 15 16

29 30 31

o

Nov

:)

Des

'

I deologi Uang Anggota Dewan

Kembali wakil

rak-yat kita--yang

kata-nya sangat terhormat

itu--membikin berita

buruk. Abdul Hadi

Djamal, anggota

Ko-misi V DPR,

tertang-kap tangan oleh

Ko-misi Pemberantasan

Korupsi (KPK),Senin

(2/3) malam silam.

Abdul Hadi Djamal

di-duga telah menerima

uang pelicin sebesar

90.000 dolar AS dan

Rp 54,5 juta untuk

projek percepatan

program lanjutan

pembangunanjasili-tas bandara dan

pela-buhan di wilayah

In-donesia timur yang

anggarannya

menca-pai RplOO miliar.

Oleh DJOKO SUBINARTO

D

ENGAN

penang-kapan Abdul Hadi

Djamal tersebut,

su-dah delapan anggota DPR

dan mantan anggota DPR

ki-ta yang diki-tangkap KPK.

Ka-sus penangkapan Abdul Hadi

Djamal tersebut sangat boleh

jadi bakal memperburuk

ci-tra para wakil rakyat kita.

Kesan bahwa para

wakilrak-yat kita tidak jujur, korup,

dan hanya mengejar uang

dan kekuasaan akan semakin

tebal saja di mata

kebanyak-an rakyat kita. Betulkah

de-mikian?

Mengutip pendapat Kate

VVall,RainerAdam (2004)

da-lam karyanya bertajuk "Apa

yang Menggerakkan Politisi"

menyatakanbahwa di

Indone-sia politik merupakan bisnis

yang menguntungkan.

Menu-rut dia, di Indonesia uang

menjadi pendorong utama

un-tuk teljun ke dunia

politik.Da-lam hal ini, para politisi

ber-upaya menarik

keuntungan-keuntungan dari tender

pub-lik, pembuatan

undang-un-dang dan peraturan

yang

menguntungkan orang-orang,

perusahaan, atau sektor

ter-tentu.

Dengan pemahaman seperti itu, agaknya mereka yang ter-jun ke dunia politik dan kemu-dian terpilih sebagai wakil rak-yat kita sebagian besar motiva-sinya adalah uang. parahnya, meski gaji sebagai wakil rakyat bisa dibilang sudah lebih dari cukup untuk ukuran Indone-sia, sebagian dari wakil rakyat kita itu ternyata masih saja do-yan menerima amplop sogo-kan. Bagi mereka yang masih berpikir normal, tentu ini sa-ngat keterlaluan.

Sebagai gambaran, para anggota DPR kita sekarang ini bergaji Rp 16 juta per bulan. Gaji sebesar itu masih ditam-bah dengan tunjangan biaya listrik dan telefon sekitar Rp 11 juta per bulan. Kemudian me-reka juga masih mendapat tunjangan biaya komunikasi intensif sebesar Rp 17juta.

Ketika menjadipanitia khu-sus pembahasan rancangan undang-undang, para anggota DPR kita akan mendapat Rp 5 juta, dipotong pajak 15persen. Sementara itu, saat rapat di lu-ar Jaklu-arta, mereka mendapat Rp 400.000,00 per hari.

Lan-tas, setiap kunjungan keIja ko-misi di luar masa reses, mere-ka mendapat Rp 4 juta-Rp 5 juta. Masih belum cukup. Me-rekajuga mendapat uang reses Rp 30 juta-Rp 40 juta per orang ditambah tunjangan transportasi dan akomodasi sebesar Rp 10 juta.

Selain itu, mereka akan pula mendapat Rp 7jutajika mela-kQkan kunjungan keIjapriba-di keIjapriba-di luar masa reses dan keIjapriba-di lu-ar komisi. Pundi-pundi uang · mereka juga akan bertambah jika mereka pergi ke luar nege-ri. Dalam setahun, mereka bi-sa lebih dari bi-satu kali terbang ke luar negeri.

Tatkala uang menjadi moti-vasi utama untuk teIjun ke du-nia politik, maka tidak akan pernah ada lagi ideologi yang harus dipeIjuangkan. ~Politik pada akhirnya menjadi soal mata pencaharian dan bukan soal pengabdian. Dalaftl kon-teks ini, "fulusiologi" (uang) dan "kursiologi" (kekuasaan) menjadi jauh lebih menonjol dalam melatarbelakangi sese-orang untuk berkiprah illjagat politik kita ketimbang idealis-me dan pengabdian. Karau su-dah demikian, tampaknya sungguh sulit mengharapkan para wakil rakyat kita itu un-tuk bisa menyuarakan

kepen-Kliping

Humas

Unpad

2009

(2)

---tingan rakyat yang mereka wa-kili karena merekajauh lebih 'sibu4 mengedepankan

kepen-tingan mereka sendiri. Benar kiranya apa yang sempat dikatakan Ketua Presi-dium Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, Muslimin Nasution,bahwaIndonesiase-karang ini tidak mempunyai lagi negarawan, yang ada ha-nya para politisi yang sering kali lebih sibuk

mengedepan-.

kan kepentingannya sendiri. Padahal, keberadaan negarac wan akan sangat dibutuhkan oleh bangsa yang ingin maju. Dalam amatan Lawrence W. Reed, Presiden The Mackinac Center For Public Policy, Mi-chigan, Amerika Serikat, la-zimnya politisi memang se-ngaja mencari jabatan dan ke-kuasaan untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan pri-badi, sedangkan negarawan ti-dak pernah mencari jabatan dan kekuasaan untuk menda-patkan keuntungan-keuntung-an pribadi melainkkeuntungan-keuntung-an semata-mata untuk melayani rakyat.

Menurut Lawrence W. Re-ed, politisi begitu mereka telah terpilih dalam pemilu kecen-derungannya adalah segera melupakan dan meninggalkan rakyat sekaligus menjadi co-rong partai dan akan sekuat

tenaga mempeIjuangkan ke-pentingan-kepentingan priba-di dan kelompoknya, sedang-kan negarawan tidak asedang-kan per-nah melupakan dan mening-galkan rakyat. Mereka benar-benar menjadi corong rakyat dan mempeIjuangkan kepen-tingan-kepentingan rakyat.

Sungguh, betapa meruginya rakyat kita ketika wakil-wakil rakyat yang mereka pilih lewat pemilu itu lebih condong ber-perHaku sebagai politisi ketim-bang negarawan, lantaran ke-pentingan rakyat akan senan-tiasa ditempatkan di urutan paling belakang, bahkan mungkin terlupakan.

Pemilu akhirnya hanya akan mengubah nasib segelintir orang untuk menjadi kelom-pok orang kaya baru sementa-ra nasib sementa-rakyat kebanyakan yang notabene pemilik kedau-latan tertinggi makin terpuruk dan terlupakan.

Lantas, di manakah janji-janji manis para wakil rakyat yang kerap didengung-de-ngungkan semasa kampanye mereka? Kata Ebiet G. Ade, coba kita bertanya kepada rumput yang bergoyang.***

Referensi

Dokumen terkait