• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konsep takdir dan ikhtiar membangun

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Konsep takdir dan ikhtiar membangun "

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

KONSEP TAKDIR DAN IKHTIAR

DALAM ISLAM

Disusun Oleh :

Lisa Ayu Wulandari (12690003)

Isfia Imanyyka (12690008)

Indah Qona’ah (12690033)

Imam Abdul. G (12690043)

Universitas Islam Negeri

Sunan Kalijaga

Yogyakarta

(2)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sebelum manusia lahir di dunia ini, manusia telah ditetapkan semuanya oleh Allah SWT mulai dari jodoh, rezeki, dan maut. Tetapi setelah manusia terlahir di dunia ini manusia juga harus berusaha untuk bertahan hidup dan mendapatkan apa yang menjadi kebutuhan manusia. Biarpun semuanya sudah ditetapkan oleh Allah kita tidak sepantasnya hanya berdiam diri menerima keadaan atau takdir Allah, kita juga diharuskan berusaha atau ikhtiar kepada Allah.

Mengenai hubungan antara takdir dan ikhtiar ini, banyak mengundang pertanyaan. Telah banyak buku yang ditulis tetapi masih belum bisa memuaskan semua pihak. Karena itu kami akan mencoba memberikan sedikit pandangan dan pendapat dengan tujuan untuk lebih mengenal ilmu Allah dan berguna bagi untuk orang lain.

B. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian Takdir dan Ikhtiar? 2. Apa hubungan antara Takdir dan Ikhtiar?

3. Bagaimana aplikasi secara nyata tentang keduanya?

C. Tujuan

1. Memahami Konsep Takdir dan Ikhtiar. 2. Mencari hubungan antara Takdir dan Ikhtiar.

(3)

BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian Takdir

Kata takdir (taqdir) berasal dari akar kata qadara yang antara lain berarti mengukur, memberi kadar atau ukuran, sehingga jika kita berkata, "Allah telah menakdirkan demikian," maka itu berarti, "Allah telah memberi kadar/ukuran/batas tertentu dalam diri, sifat, atau kemampuan maksimal makhluk-Nya." Takdir adalah ketentuan suatu peristiwa yang terjadi di alam raya ini yang meliputi semua sisi kejadiannya baik itu mengenai kadar atau ukurannya, tempatnya maupun waktunya. Dengan demikian segala sesuatu yang terjadi tentu ada takdirnya, termasuk manusia.

a. Takdir Dalam Agama Islam

Umat Islam memahami takdir sebagai bagian dari tanda kekuasaan Tuhan yang harus diimani sebagaimana dikenal dalam Rukun Iman. Penjelasan tentang takdir hanya dapat dipelajari dari informasi Tuhan, yaitu informasi Allah melalui Al Quran dan Al Hadits. Secara keilmuan, umat Islam dengan sederhana telah mengartikan takdir sebagai segala sesuatu yang sudah terjadi.

b. Konsep Takdir

Takdir adalah suatu yang sangat ghoib, sehingga kita tak mampu mengetahui takdir kita sedikitpun. Yang dapat kita lakukan hanya berusaha, dan berusahapun telah Allah jadikan sebagai kewajiban. “Tugas kita hanyalah senantiasa berusaha, biar hasil Allah yang menentukan”, itulah kalimat yang sepertinya sudah tidak asing lagi di telinga kita, yang menegaskan pentingnya mengusahakan qadha untuk selanjutnya menemui qadarnya.

Takdir itu memiliki empat tingkatan yang semuanya wajib diimani, yaitu :

(4)

yang akan terjadi. Karena segala sesuatu diketahui oleh Allah, baik yang detail maupun jelas atas setiap gerak-gerik makhluknya. Sebagaimana firman Allah :

ةةبببحب لبوب اهبمملبععيب لببإإ ةةقبربوب نمإ طمقمسعتب امبوب رإحعببلعاوب ربإببلعا يفإ امب مملبععيبوب وبهم لببإإ اهبمملبععيب لب بإيعغبلعا حمتإافبمب همدبنعإوب

نةيبإمبم بةاتبكإ يفإ لببإإ سةبإايب لبوب بةطعرب لبوب ضإرعلبا تإامبلمظم يفإ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata.” (QS. Al-an`am:59)

b. Al-Kitabah, Bahwa Allah mencatat semua itu dalam lauhil mahfuz, sebagaimana firman-Nya :

رريسإيب هإلببلا ىلبعب كبلإذب نببإإ بةاتبكإ يفإ كبلإذب نببإإ ضإرعأبلعاوب ءامبسببلا يفإ امب مملبععيب هبلببلا نببأب معلبععتب معلبأب

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab. Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj:70)

c. Al-Masyiah (kehendak), Kehendak Allah ini bersifat umum. Bahwa tidak ada sesuatu pun di langit maupun di bumi melainkan terjadi dengan iradat/masyiah (kehendak /keinginan) Allah SWT. Maka tidak ada dalam kekuasaan-Nya yang tidak diinginkan-Nya selamanya. Baik yang berkaitan dengan apa yang dilakukan oleh Zat Allah atau yang dilakukan oleh makhluq-Nya. Sebagaimana dalam firman-Nya :

نموكميبفب نعكم هملب لبوقميب نعأب اائيعشب دباربأب اذبإإ همرممعأب امبنببإإ

“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia” (QS. Yasin:82)

d. Al-Khalqu, Bahwa tidak sesuatu pun di langit dan di bumi melainkan Allah sebagai penciptanya, pemiliknya, pengaturnya dan menguasainya, dalam firman-Nya dijelaskan :

نبيدبإلا هملبب ااصلإخعمم هبلببلا دإبمععافب قبإحبلعابإ بباتبكإلعا كبيعلبإإ انبلعزبنأب انببإإ

(5)

c. Impliksi Iman Kepada Takdir

Kesadaran manusia untuk beragama merupakan kesadaran akan kelemahan dirinya. Terkait dengan fenomena takdir, maka wujud kelemahan manusia itu ialah ketidaktahuannya akan takdirnya. Manusia tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Kemampuan berfikirnya memang dapat membawa dirinya kepada perhitungan, proyeksi dan perencanaan yang canggih. Namun setelah diusahakan realisasinya tidak selalu sesuai dengan keinginannya. Manusia hanya tahu takdirnya setelah terjadi.

Oleh sebab itu sekiranya manusia menginginkan perubahan kondisi dalam menjalani hidup di dunia ini, diperintah oleh Allah untuk berusaha dan berdoa untuk merubahnya. Usaha perubahan yang dilakukan oleh manusia itu, kalau berhasil seperti yang diinginkannya maka Allah melarangnya untuk menepuk dada sebagai hasil karyanya sendiri. Bahkan sekiranya usahanya itu dinilainya gagal dan bahkan manusia itu sedih bermuram durja menganggap dirinya sumber kegagalan, maka Allah juga menganggap hal itu sebagai kesombongan yang dilarang juga (QS. Al Hadiid:23).

Kesimpulannya, karena manusia itu lemah (antara lain tidak tahu akan takdirnya) maka diwajibkan untuk berusaha secara bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu beribadah kepada Allah. Dalam menjalani hidupnya, manusia diberikan pegangan hidup berupa wahyu Allah yaitu Al Quran dan Al Hadits untuk ditaati.

2 . Pengertian Ikhtiar

Ikhtiar berasal dari bahasa Arab (ررايبتإخعإ) yang berarti mencari hasil yang lebih baik. Adapun secara istilah, pengertian ikhtiar yaitu usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupnya, baik material, spiritual, kesehatan, dan masa depannya agar tujuan hidupnya selamat sejahtera dunia dan akhirat terpenuhi. Maka, segala sesuatu baru bisa dipandang sebagai ikhtiar yang benar jika di dalamnya mengandung unsur kebaikan. Tentu saja, yang dimaksud kebaikan adalah menurut syari’at Islam, bukan semata akal, adat, atau pendapat umum. Dengan sendirinya, ikhtiar lebih tepat diartikan sebagai “memilih yang baik-baik”, yakni segala sesuatu yang selaras tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

(6)

usaha, setiap muslim dianjurkan untuk bersabar karena orang yang sabar tidak akan gelisah dan berkeluh kesah atau berputus asa. Agar ikhtiar atau usaha kita dapat berhasil dan sukses, hendaknya melandasi usaha tersebut dengan niat ikhlas untuk mendapat ridha Allah, berdoa dengan senantiasa mengikuti perintah Allah yang diiringi dengan perbuatan baik, bidang usaha yang akan dilakukan harus dikuasai dengan mengadakan penelitian atau riset, selalu berhati-hati mencari teman (mitra) yang mendukung usaha tersebut, serta memunculkan perbaikan-perbaikan dalam manajemen yang professional.

a. Pentingnya Ikhtiar

Setiap manusia memiliki keinginan dan cita-cita untuk mendapat kesuksesan, tak ada seorang pun yang menginginkan kegagalan. Hal ini karena Allah menganugerahkan kehendak kepada manusia. Jika kehendak tersebut mampu dikelola dengan baik, manusia akan menemukan kesuksesannya.

“ (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui ” (QS.Ash-Shaff:11)

b. Larangan Berputus Asa

Allah telah mencontohkan kisah Nabi Ya’qub dalam Al-Qur’an sebagai contoh nyata pelajaran orang-orang yang ditimpa kesusahan dan larangan berputus asa. Nabi Ya'qub yang terus berdo'a dan berharap pada Tuhannya setiap saat agar tidak termasuk orang-orang yang berputus asa, karena berputus asa pada kebaikan Tuhan adalah sifat-sifat orang yang kafir.

Kisah itu digambarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an surah Yusuf ayat 87.

”Wahai anak-anakku! Pergilah kamu, carilah (berita) tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir”. (QS: Yusuf: 87)

(7)

BAB III

PENUTUP

Dari pembahasan yang ada, maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Takdir diumpamakan sebuah “chip”. Bagaikan sebuah “chip” dalam komputer yang kemudian diselipkan pada otak manusia yang akan dibawanya serta ketika manusia dilahirkan. Setiap manusia memiliki “chip” masing-masing yang berbeda satu sama lain. Ada yang rumit dan ada pula yang sederhana. Semua atas kehendakNya.

2. Sesungguhnya ikhtiar bukan hanya usaha, atau semata-mata upaya untuk menyelesaikan persoalan yang tengah membelit. Ikhtiar adalah konsep Islam dalam cara berpikir dan mengatasi permasalahan. Dalam ikhtiar terkandung pesan taqwa, yakni bagaimana kita menuntaskan masalah dengan mempertimbangkan – pertama-tama – apa yang baik menurut Islam, dan kemudian menjadikannya sebagai pilihan, apapun konsekuensinya dan meskipun tidak populer atau terasa berat.

(8)

Zainuddin.agustus 1992.Ilmu tauhid lengkap.Jakarta:Rineka cipta

Referensi

Dokumen terkait