• Tidak ada hasil yang ditemukan

Epistemologi Spiritualitas Islam dalam G

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Epistemologi Spiritualitas Islam dalam G"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

1 HATI

Pikiran NAFSU A.Peoses Spiritualitas

Gambar 1. Proses Spiritualitas

Corak Perilaku Spiritualitas Resep

Spiritualitas Pintu Masuk Hasil Sementara Proses Lanjutan Corak Penguasaan

Ajaran dan

Tradisi Eksistensi Diri (ED)

Hati (H) Tobat Beberapa

Masuk Hasil Sementara Proses Lanjutan Corak Penguasaan Corak Perilaku Magic dan Kedigdayaan

Pengandaian Rumus Matematik Spiritulitas ED = (P+H)

(P+N)

Jika P+H lebih besar, maka bimbingan cahaya ilahiah dalam proses spiritualitas menguasai P+N. Sebaliknya, jika P+N lebih besar, maka power nafsu menguasai P+H. Penguasaan tampil dalam bentuk-bentuk perilaku, self concept, cara pandang terhadap orang lain, lingkungan, dunia, bahkan terhadap Tuhan. Bentuk-bentuk penguasaan ini dilaksanakan oleh pikiran (P) sebagai aktornya dan sekaligus sebagai corak eksistensi diri pelaku yang bersangkutan.

B.Variasi Kondisi Spiritualitas

1. Corak 1: Spiral (Gambar 2)

Pintu Masuk Hasil Sementara Proses

Lanjutan Corak Penguasaan

Tobat Beberapa kelebihan/

kemampuan Bimbingan cahaya Ilahi Keinginan-keinginan

selain tobat Beberapa kelebihan/ kemampuan Kendali Nafsu

Pintu Masuk Hasil Sementara Proses

Lanjutan Corak Penguasaan

* Materi kajian dalam diskusi KOBAR (Komunitas Baca Rakyat) UIN Sunan Ampel Surabaya, pada 20

September 2016, di Pesantren Al-Jawi, di Jalan Jemur Wonosari Gang Masjid, Jemur Wonosari, Wonocolo, Jemur Wonosari, Surabaya.

** Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UINSA Surabaya, diperbantukan di Universitas Hasyim Asy’ari

(2)

HATI

2. Corak 2: Penguasaan Hati (Gambar 3)

Pintu Masuk Hasil Sementara Proses

Lanjutan Corak Penguasaan

Tobat Beberapa kelebihan/

kemampuan Bimbingan cahaya Ilahi

Keinginan-keinginan

selain tobat Beberapa kelebihan/ kemampuan Kendali Nafsu

Pintu Masuk Hasil Sementara Proses

Lanjutan Corak Penguasaan

3. Corak 3: Penguasaan Nafsu (Gambar 4)

Pintu Masuk Hasil Sementara Proses

Lanjutan Corak Penguasaan

Tobat Beberapa kelebihan/

kemampuan Bimbingan cahaya Ilahi

Keinginan-keinginan

selain tobat Beberapa kelebihan/ kemampuan Kendali Nafsu

Pintu Masuk Hasil Sementara Proses

Lanjutan Corak Penguasaan

4. Corak 4: Konsisten (Istiqamah) (Gambar 5)

Pintu Masuk Hasil Sementara Proses

Lanjutan Corak Penguasaan

Tobat Beberapa kelebihan/

kemampuan Bimbingan cahaya Ilahi

Keinginan-keinginan

selain tobat Beberapa kelebihan/ kemampuan Kendali Nafsu

Pintu Masuk Hasil Sementara Proses

Lanjutan Corak Penguasaan

5. Ruang Kedap Nafsu

Dalam perjalanan spiritual, pelaku akan mengalami berbagai kondisi batin sebagaimana gambaran kondisi spiritualitas di atas. Laku spiritual menuju Sang Ilahi dapat terkondisi dengan baik apabila ia masuk dalam ruang kedap nafsu. Ruang ini dapat tercipta jika pelaku spiritual berusaha mencapai batas penguasaan hati atas nafsu, bukan sebaliknya. Oleh karena demikian, maka pelaku hendaklah berusaha melaksanakan corak 2 (penguasaan hati) atau corak 4 (konsisten) pada jalan spiritualnya.

(3)

dan tidak tertarik pada rayuan nafsu yang menawarkan aneka kemampuan magic

atau kedigdayaan.

6. Batas Rawan dan Alternatif Pengamanan

Batas rawan dapat terjadi secara lebih mudah pada corak 1 dan corak 3. Corak 1 menggambarkan proses spiritual yang pontang panting sehingga proses menuju Tuhan dapat dibilang menghabiskan banyak energi yang sia-sia. Energi spiritualitas yang mestinya dapat lebih mungkin dihemat, tetapi justru terbuang sia-sia. Corak 1 juga menggambarkan perjalanan zig zag atau oleng sehingga dapat membahayakan pelaku spiritualitas yang bersangkutan, bahkan mungkin dapat membahayakan juga terhadap orang lain. Sedang corak 3 menggambarkan motivasi awal terhadap spiritualitas atau magic/kedigdayaan sama-sama besar. Pada corak 3 ini pelaku spiritual tertarik pada rayuan nafsu yang menawarkan aneka kemampuan magic atau kedigdayaan sehingga penguasaan nafsu mendominasi dirinya. Dengan demikian, laku spiritualitas sengaja ditutupnya.

C.Jalur dan Pembimbingan Spiritualitas

Gambar 6. Skema Ideal Gerak Interaktif Laku Spiritualitas dalam Islam

سﺎﻨﻟا

سﺎﻨﻟا ﻦﻣ ﻞﺒﺣ

ﺐﯿﻐﻟا ﻢﻠﻋ

ﺮﯿﻏ

ﺐﯿﻐﻟا ﻢﻠﻋ

ﷲ ءﺎﯿﻟوأ

ﮫﺑﺎﺒﺣأو

لﺎﻤﻋﻷأ

ﺔﺤﻟﺎﺼﻟا

ﺪّﻤﺤﻣ

ﻦﻣ

(4)

Keterangan:

1. Laku spiritual manusia bergerak menuju Allah SWT, dengan sarana (amalan dan perbuatan) tertentu menurut versi yang diminati atau dianutnya.

2. Sebagai hamba Allah, manusia dalam laku spiritualnya tidak terlepas dari hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia, termasuk lingkungannya. 3. Manusia dalam laku spiritualnya menggunakan fasilitas berupa amal perbuatan

baik serta peran para wali dan kekasih Allah yang bertugas membimbingnya. 4. Selanjutnya, dengan bekal laku spiritual manusia bergerak menuju Allah SWT

melalui garis masuk (on line) Nabi Muhammad SAW, karena hanya beliaulah yang dapat bertemu langsung dengan Allah SWT.

5. Selama laku spiritual, seseorang dilingkungi oleh realitas alam gaib dan selain alam gaib.

6. Semua sarana (nomor 1), jenis hubungan (nomor 2), fasilitas (nomor 3), garis masuk (nomor 4), dan realitas yang melingkungi laku spiritual terajut dalam lingkaran sistem spiritual dalam rangka gerak menuju Allah SWT.

H

ubunga

n

de

nga

n A

lla

h

Muhammad SAW

Manusia

Hubungan dengan sesama manusia Alam

Gaib Alam Gaib Selain

Para wali dan kekasih

Allah

(5)

DIMENSI

SHAR‘I>YAH DIMENSI SPIRITUALITAS KEWAHYUAN DIMENSI Gambar 7. Skema Gerak Vertikal Pesan Kewahyuan, Spiritualitas,

dan Shari’ah dalam Islam

ﺪّﻤﺤﻣ

ﻲﻧﺎﺜﻟا رﻮﻨﻟا

ءﺎﯿﻟوﻷا

ءﺎﯿﺒﻧﻷا

ءﺎﻤﻠﻌﻟا

ﺔﻣأ

ﻢﮭﻠھأ

رﺎﺘﺨﻤﻟا نﺎﺴﻧﻻا

ﺬﯿﻣﻼﺘﻟا

ﺔﻣأ

ﻢﮭﻠھأ

ﻢﮭﺑﺎﺤﺻأ

ﺖﺨﻤﻟا

ا

ر

ﺔﻣأ

ﻢﮭﻠھأ

ﺬﯿﻣﻼﺘﻟا

رﺎﺘﺨﻤﻟا

نو

(6)

DIMENSI

KEWAHYUAN DIMENSI SPIRITUALITAS SHAR'IDIMENSI >YAH Allah SWT

Muhammad SAW (Nur Pertama)

Nur Kedua (Nabi Khidzr AS)

Para Wali Para ‘Alim

Para Nabi

Umat Keluarga

Manusia Terpilih

Murid Umat

Keluarga

Murid

Umat Keluarga

Sahabat

Muwakkal (Pembimbing

(7)

Gambar 8. Skema Vertikal Target Keberhasilan Spiritualitas dan Peran Pembimbingan Lapangan

كﻮﻠّﺴﻟا لﻮﺼﺣ

ﺪّﻤﺤﻣ

ﻲﻧﺎﺜﻟا رﻮﻨﻟا

كﻮﻠّﺴﻟا لﻮﺼﺣ

كﻮﻠّﺴﻟا لﻮﺼﺣ

ﻦﻣ ّيﻮﻗ رﺎﯿﺘﺧإ

رﺎﺘﺨﻤﻟا نﺎﺴﻧﻻا

كﻮﻠّﺴﻟا لﻮﺼﺣ

ﻞّﻛﻮﻤﻟا

رﺎﺘﺨﻤﻟا نﺎﺴﻧﻻا

ﻞّﻛﻮﻤﻟا

ﻞّﻛﻮﻤﻟا

رﺎﺘﺨﻤﻟا نﺎﺴﻧﻻا

(8)

Keterangan:

1. Nilai utama spiritualitas adalah kesakralan, kesucian, dan keutamaan. Hal-hal selain itu pada dasarnya bersifat ikhtiari, tetapi dapat menjadi kontraproduktif jika dipaksakan masuk dan mencampuri nilai-nilai utama.

2. Proses pembimbingan lapangan memiliki peran strategis untuk mencapai hasil spiritualitas. Semakin jernih proses pembimbingan, maka semakin jernih pula hasil yang diperoleh laku spiritualitas seseorang. Demikian pula sebaliknya; jika ada hal-hal di luar nilai-nilai utama spiritualitas yang dipaksakan masuk dan mencampurinya, maka hasilnya justru kontra-produktif terhadap nilai-nilai utama spiritualitas.

3. Target yang diharapkan dari laku spiritualitas adalah kesatriaan. Seorang pelaku spiritualitas ditargetkan bertanggungjawab atas kesatriaan dirinya. Oleh karena itu, dia hendaklah berusaha mewaspadai dan mengendalikan hal-hal yang kontraproduktif terhadap nilai-nilai kesatriaan.

Keberhasilan

Suluk Keberhasilan Suluk Keberhasilan

Suluk

Allah SWT

Muhammad SAW (Nur Pertama)

Nur Kedua (Nabi Khidzr AS)

Muwakkal Muwakkal

Muwakkal

Manusia Terpilih

Usaha serius manusia terpilih

Manusia Terpilih Manusia Terpilih

(9)

4. Kesatriaan tidak identik dengan keperkasaan atau keberanian yang tidak terkendali, karena hal-hal itu justru merupakan kontraproduksi bagi nilai-nilai utama spiritualitas. Kesatriaan merupakan paduan seimbang hubungan baik dengan Allah dan hubungan baik dengan sesama manusia. Semakin satria seseorang mestinya semakin baik dalam kedua hubungan (kabel) tersebut, tidak malah sebaliknya. Oleh karena itu, jika ada kabel yang justru semakin tidak baik, maka pelaku spiritual perlu melakukan koreksi dan penataan diri secara serius; dia perlu melacak secara jeli faktor-faktor mana yang menyebabkan trouble, kemudian melakukan terapi secara sungguh-sungguh.

5. Dari ketiga skema tersebut, pada kenyataan di lapangan dapat diketahui hal-hal mana yang termasuk laku asli, laku buatan, beban tambahan, faktor-faktor kontraproduktif. Di sinilah diperlukan berbagai verifikasi alamiah, kemanusiaan, dan spiritualitas sendiri. Untuk verifiksi alamiah secara kualitatif, seluruh teknik varifikasi diperlukan, bahkan crosscheck dan triangulasi tingkat lanjutan pun diperlukan, hingga diperoleh puncak kejelasan informasi dengan data-data kredibel yang tidak terbantahkan oleh berbagai kamuflase dan permainan kata-kata.

6. Secara subatansial, inti kesatriaan adalah keeratan paduan Syahadat Tauhid (Gerak Vertikal) dan Syahadat Rasul (Gerak Horisontal). Dalam realitas nyata (kabel kemanusiaan), inti Syahadat Rasul adalah pada hadis Nabi: “Aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Gambar

Gambar 6. Skema Ideal Gerak Interaktif Laku Spiritualitas dalam Islam
Gambar 7. Skema Gerak Vertikal Pesan Kewahyuan, Spiritualitas,  dan Shari’ah dalam Islam
Gambar 8. Skema Vertikal Target Keberhasilan Spiritualitas dan Peran Pembimbingan Lapangan

Referensi

Dokumen terkait