• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai nilai Ideologi dan Sikap Kepengara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Nilai nilai Ideologi dan Sikap Kepengara"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Nilai-nilai Ideologi dan Sikap Kepengarangan:

Sebuah Kajian atas Sastra Drama Karya N. Riantiarno

1

M.Yoesoef, M.Hum.

Departemen Ilmu Susastra

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Abstrak

Nano Riantiarno menulis sastra drama sejak tahun 1970-an. Sampai saat ini tidak kurang dari 40 naskah sastra drama yang telah dibuatnya dan dipentaskan oleh grup teater binaannya, yaitu Teater Koma. Satu hal yang menjadi ciri khas dari karya-karya Nano Riantiarno adalah menampilkan tokoh-tokoh dari kalangan kelas sosial menengah bawah, kendati ada juga karyanya yang menampilkan kelas sosial atau penguasa. Tampilnya kalangan kelas sosial menengah bawah tersebut secara dominan pada sejumlah karyanya mengindikasikan keberpihakan pengarang terhadap nasib dan persoalan-persoalan yang dihadapi kaum marjinal tersebut. Karya Nano Riantiarno yang ditulis tahun 1970-an dan empat di antaranya meraih penghargaan sayembara penulisan naskah drama Dewan Kesenian Jakarta (1972, 1973, 1974, dan 1975), tahun 1980-an ia menulis kurang lebih lima drama opera dan saduran dari penulis dunia seperti Bertolt Brecht, Friederich Durennmat, tahun 1990-an menyadur cerita rakyat Tionghoa “Sampek dan Engtay”, “Opera Sembelit”, dan tahun 2000-an ia lebih banyak membuat novel. Karya-karya dramanya itu menunjukkan sebuah perjalanan ideologi pengarang yang tidak dapat dipisahkan dari motivasinya untuk menyoroti permasalahan yang mengemuka pada masanya.

Kajian dalam makalah ini pada dasarnya menyoroti nilai-nilai ideologis pengarang yang tersirat maupun tersurat dari sejumlah karya tersebut. Pendekatan yang digunakan dalam kajian ini adalah sosiologi sastra yang berkaitan dengan pengarang, teks, dan konteks sosial pada masa karya itu ditulis atau dipertunjukkan. Karya sastra merupakan dokumen sosial yang memuat pikiran, harapan, dan kritik pengarang (dan juga masyarakat secara kolektif) terhadap situasi zaman.

Dengan memahami karya-karya sastra drama yang ditulis Nano Riantiarno diperoleh sebuah pemahaman tentang persoalan orang-orang kecil yang bergumul dengan kehidupan metropolitan Jakarta. Karya-karya itu juga dapat dilihat sebagai indikator adanya berbagai masalah sosial-politik-budaya Indonesia pada masanya.

Pendahuluan

Dalam kurun waktu tahun 1970-an disebutkan oleh Jakob Sumardjo sebagai masa keemasan

terater modern Indonesia. Sebutan yang dilansir oleh Jakob Sumardjo itu dilandaskan pada

tumbuhnya grup-grup teater, yang sebagian besar dibidani oleh Dewan Kesenian Jakarta melalui

kegiatan tahunan berupa Festival Teater Remaja Jakarta. Di samping itu, grup-grup teater seperti

Bengkel Teater Yogya, Teater Populer, Teater Lembaga, Teater Mandiri, Teater Kecil, Teater

      

1

(2)

Saja, Teater Koma, dan Studi Teater Bandung menjadi trend setter melalui karya-karya drama

yang dipentaskannya. Masa keemasan itu juga didukung oleh tradisi penulisan sastra drama yang

menunjukkan trend baru dibandingkan dengan tradisi penulisan sastra drama pada

dekade-dekade sebelumnya. Goenawan Mohamad dalam sebuah artikelnya dalam buku Seks Sastra Kita

(1980) mengungkapkan bahwa pada penciptaan karya Kapai-Kapai, Arifin C. Noer bersamaan

dengan proses latihannya, sehingga naskah itu dinyatakan selesai sesaat menjelang pertunjukan.

Bahkan, tidak jarang menjelang pertunjukan perubahan-perubahan pada naskah masih terus

berlanjut. Apa yang dikemukakan Goenawan Mohamad itu salah satu keunikan yang terjadi pada

masa tahun 1970-an. Dalam pada itu, Dewan Kesenian Jakarta menggiatkan penulisan sastra

drama melalui Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara yang kemudian menelurkan sejumlah

penulis baru sastra drama dan tidak kurang dari 50 naskah drama telah terseleksi melalui

sayembara itu. Salah satu di antara penulis yang karya-karyanya terseleksi dan kemudian sejak

tahun 1980-an hingga kini banyak menulis karya-karya bergaya opera dan mementaskan

bersama grup teaternya adalah Nano Riantiarno.

Nano Riantiarno menulis sastra drama sejak tahun 1970-an. Sampai saat ini tidak kurang dari 40

naskah sastra drama yang telah dibuatnya dan dipentaskan oleh grup teater binaannya, yaitu

Teater Koma. Satu hal yang menjadi ciri khas dari karya-karya Nano Riantiarno adalah

menampilkan tokoh-tokoh dari kalangan kelas sosial menengah bawah, kendati ada juga

karyanya yang menampilkan kelas sosial atas atau penguasa. Tampilnya kalangan kelas sosial

menengah bawah tersebut secara dominan pada sejumlah karyanya mengindikasikan

keberpihakan pengarang terhadap nasib dan persoalan-persoalan yang dihadapi kaum marjinal

(3)

penghargaan sayembara penulisan naskah drama Dewan Kesenian Jakarta (1972, 1973, 1974,

dan 1975), tahun 1980-an ia menulis kurang lebih lima drama opera dan saduran dari penulis

dunia seperti Bertolt Brecht, Friederich Durennmat, tahun 1990-an menyadur cerita rakyat

Tionghoa “Sampek dan Engtay”, “Si Jin Kwie”, “Kenapa Leonardo”, dan tahun 2000-an ia lebih

banyak membuat novel. Karya-karya dramanya itu menunjukkan sebuah perjalanan ideologi

pengarang yang tidak dapat dipisahkan dari motivasinya untuk menyoroti permasalahan yang

mengemuka pada masanya.

Beberapa Karya Populer Nano Riantiarno

Debut pertama Nano Riantiarno dalam penulisan sastra drama ditandai dengan karyanya

“Rumah-rumah Kertas” (1972). Satu per satu karyanya lahir melalui Sayembara Penulisan

Naskah Sandiwara Dewan Kesenian Jakarta. Satu karyanya berjudul “Matahari Sore Bersinar

Lembayung” (1972) mendapat penghargaan dalam sayembara itu, kemudian, tahun 1973

karyanya “Tali-Tali”, dan pada tahun 1974, yaitu “Malam Semakin Kelam” memperoleh hadiah

pemenang harapan, tahun 1975 karyanya “Lingkaran Putih” dan “Maaf Maaf Maaf” Sejak itu,

karya-karyanya tidak tampil melalui sayembara itu, tetapi ia memfokuskan pada pengembangan

grupnya menjadi sebuah grup teater profesional dengan mementaskan karya-karyanya yang

semakin memperlihatkan gaya dan kekhasan Nano Riantiarno, seperti pada “Opera Primadona”

yang mengisahkan kehidupan anak wayang dalam kelompok sandiwara tahun 1920-an pada

masa jayanya Opera Dardanella di Surabaya atau Miss Riboet’s Orion di Jakarta.

 

Era tahun 1980-an, Nano Riantiarno mulai menulis sastra drama dengan model serial yang

(4)

republik (Republik Togog, Republik, Bagong, dan Republik Petruk). Pola demikian sudah

dilakukan oleh Arifin C. Noer dengan serial Orkes Madun dengan tokoh Waska sebagai perekat

antarkarya. Tokoh Julini mewakili tokoh kelas bawah yang marjinal dari segi seksual, marjinal

dari segi sosial, dan marjinal dari segi kehidupan. Serial Julini inilah yang mengukuhkan Nano

Riantiarno sebagai penulis sastra drama bergaya opera. Memang bukan karya opera sebagaimana

lazimnya (cakapan-cakapan antartokoh sepenuhnya dinyanyikan dengan iringan music dan

gerak). Karya-karya Nano ini masih mencampurkan antara cakapan, nyanyian, musik, dan gerak.

Eksperimen pertunjukan yang dilakukan oleh Nano Riantiarno dalam serial Julini ini merupakan

hasil studinya dengan karya-karya opera epik model Bertolt Brecht, yang ia eujudkan juga dalam

karyanya “Opera Ikan Asin” yang merupakan saduran dari karya Bertolt Brecht “The Three

Penny Opera”. Sukses dengan saduran itu, ia semakin intens dengan model opera epik itu dan

lahirlah karya-karya seperti “Sandiwara Para Binatang” (George Orwell), “Sampek dan Eng

Tay”(cerita klasik Tiongkok). Sejumlah karya penulis dunia lainnya ia pentaskan, antara lain

“Kunjungan Nyonya Tua” (Friederich Durennmat), “Mengapa Leonardo”. Dalam hal menyikapi

perkembangan sosial politik di tanah air dalam dekade ’80 dan ’90-an, ia menuangkan kritik dan

tanggapannya melalui karya-karya antara lain “Semar Gugat”, “Suksesi”, “Konglomerat

Burisrawa”, “Opera Sembelit”, dan “Wanita-wanita Parlemen”.

Sikap Kepengarangan Nano Riantiarno

Menyimak sejumlah karya Nano Riantiarno tersebut, hal yang menarik untuk ditelaah adalah

sikap di balik pemilihan karya-karya penulis dunia dan penciptaan karya-karyanya itu yang

disuguhkan kepada masyarakat untuk diapresiasi melalui pertunjukan Teater Koma. Intuisi

(5)

karya-karyanya itu. Setidaknya, dari kaca mata studi sosiologi sastra, sikap pengarang mewakili pula

pandangan dunia masyarakat atau kelas sosial sang pengarang itu. Dalam hal itu, tidak tertutup

pula adanya unsur-unsur ideologis yang berafiliasi pada pandangan partai politik, ideologi

masyarakat perkotaan, ideologi berlandaskan keagamaan, ketradisionalan, dan paham-paham

kritis kaum pascamodernisme yang berpikir global.

Nano Riantiarno, sebagai penulis sastra drama sekaligus sutradara, menunjukkan pandangan

dunia yang dapat dikatakan multidimensional. Dimensi pertama yang terlihat dari sejumlah

karya-karyanya adalah dimensi keindonesiaan (lokal), yang sarat dengan kekayaan budaya

tradisional, dipakai sebagai media untuk menampilkan gagasan-gagasannya. Idiom-idiom

wayang yang sudah lekat dengan pengetahuan kolektif masyarakat Indonesia dipakai sebagai

pengait (hook) yang efektif untuk melontarkan sikap-sikap kritisnya tentang konstelasi sosial,

budaya, ekonomi, dan politik di Indonesia. Dalam “Semar Gugat”, misalnya, Nano Riantiarno

menampilkan betapa Semar sebagai tokoh penting dalam dunia pewayangan harus kehilangan

makna karena terkooptasi oleh kepentingan-kepentingan ekonomi dan politik. Secara ekonomi,

nama tokoh itu dipakai untuk merek dagang, seperti Batik Semar, atau salah satu nama kuliner

khas Jawa, yaitu ‘semar mendem’. Secara politik, tokoh itu dipakai untuk legitimasi kekuasaan,

sehingga muncul sebuah lakon wayang carangan ‘Semar Mbabar Jati Diri’. Dalam konteks

drama karya Nano, tokoh Semar menuntut jati dirinya yang “tercemar” oleh kooptasi tersebut.

Semar adalah Ismaya adalah lambang kesuburan, keprihatinan, sang pamong yang adil,

bijaksana, dan rendah hati. Tokoh-tokoh pewayangan adalah ladang subur bagi Nano Riantiarno.

Ia menjadi sumber penciptaan yang tak pernah kering, karena pribadi dan lambang-lambang di

(6)

berada di posisi kekuasaan. Karakter tokoh ini dipandang cocok untuk menjadi tokoh sentral

dalam drama “Konglomerat Burisrawa”. Burisrawa sendiri dalam pewayangan

merepresentasikan karakter kasar dan suka tertawa. Ia tergila-gila kepada Dewi Wara Sembadra.

Di tangan Nano Riantiarno, tokoh ini menjelma sebagai konglomerat yang serakah, terobsesi

dengan kekayaan, dan menghalalkan segala cara untuk meraup keuntungan termasuk menyogok

para pejabat. Jelas dari situ Nano Riantiarno melalui drama ini sedang menyoroti perilaku bisnis

para konglomerat yang memiliki megabisnis. Dunia pewayangan yang kaya dengan nilai-nilai

kemanusiaan dan moral yang tinggi menjadi berdaya kembali melalui karya-karya Nano

Riantiarno. Dari hal itu, generasi muda metropolitan yang notabene kurang akrab lagi dengan

idiom-idio tradisional semacam wayang, seolah diperkenalkan kembali kepada tokoh-tokoh

pewayangan itu, kendati tidak secara utuh. Misalnya, siapa tokoh-tokoh punakawan itu dan

bagaimana sifat-sifat mereka masing-masing. Punakawan bukan saja Semar, Bagong, Petruk, dan

Gareng, tetapi diperkenalkan pula siapa Togog, Bilung, Limbuk, dan Cangik.

Dimensi kedua adalah dimensi mendunia (global), yaitu ditunjukkan melalui karya-karya

khazanah sastra dunia yang disadurnya ke dalam situasi dan suasana keindonesiaan (lokal).

Perkawinan dua dimensi itu tak urung melahirkan sebuah wacana baru dalam kehidupan teater

modern Indonesia dan tradisi penulisan sastra drama di Indonesia. Kendati perkawinan itu bukan

sebuah kebaruan sama sekali dalam tradisi seni pertunjukan di Indonesia. Transformasi

cerita-cerita epos Mahabarata dan Ramayana dari tradisi dan ajaran keagamaan Hindu ke tradisi dan

ajaran Islam (dan kejawen) merupakan salah contoh akulturasi melalui kesenian yang justru

memperkaya khazanah budaya masyarakat Indonesia. Demikian pula pada karya adaptasi yang

(7)

“Sie Jin Kwie” yang menampilkan sosok pahlawan. Keduanya merupakan khazanah cerita rakyat

Tiongkok. Drama epik Bertolt Brecht, the Threepenny Opera disadur menjadi Opera Ikan Asin

yang bermain di Batavia tahun 1925. Kisah kongkalikong antara penjahat dengan polisi yang

saling menguntungkan menjadi salah satu permasalahan dalam drama ini. Selain itu, dikisahkan

pula bagaimana penjahat itu mampu mempengaruhi pihak penguasa sehingga ia bebas dari jerat

hukuman mati. Bahkan menjadi wakil rakyat yang terhormat pada masa itu (Volksraad). Konsep

drama epik Brecht dengan efek alienasinya tidak menjadi penting lagi di tangan Nano

Riantiarno. Penonton tidak diarahkan untuk berjarak dan bersikap kritis terhadap realitas

panggung (sesuai dengan konsep drama epik Brecht), tetapi penonton disuguhi sebuah tontonan

kocak dan menghibur. Tontonan yang kocak dan menghibur itulah salah satu ciri keberhasilan

Nano Riantiarno dari setiap karya dan pertunjukannya. Dalam hal itulah, karya-karya Nano

Riantiarno menjadi sebuah wacana yang mengingatkan kembali bahwa akulturasi lokal-global

yang mampu memberikan pencerahan dan membuka kreativitas yang sangat luas.

Dalam hal sikap kepengarangan Nano Riantiarno sebagaimana direpresentasikan melalui

karya-karyanya tersebut dapat ditemukan 1) sikap peduli kepada masyarakat kelas bawah; 2)

mengadopsi konsep tontonan yang humoris dan menghibur; 3) kritis terhadap fenomena sosial,

politik, ekonomi, dan budaya yang berkembang di masyarakat; 4) pemanfaatan potensi khazanah

budaya global dan lokal yang dimanfaatkan untuk mengusung gagasan-gagasannya dalam setiap

karyanya.

(8)

Konseptualisasi sikap kepengarangan Nano Riantiarno sebagai telah dikemukakan di atas

merupakan pencerminan nilai-nilai ideologis yang dianutnya. Dalam hal itu, sikap tersebut

menjadi landasan sekaligus nilai-nilai yang menunjukkan satu pendekatan ideologis Nano

Riantiarno, yaitu ia memandang bahwa masyarakat memerlukan seorang “pahlawan” yang

mampu menyampaikan dan merepresentasikan sikap dan pikiran-pikirannya terkait dengan

berbagai isu sosial dan politik. Lakon “Republik Petruk”, “Republik Bagong”, dan Republik

Togog”, misalnya, adalah tiga karya Nano Riantiarno yang tidak lain merupakan representasi

wong cilik yang berkesempatan menjadi pemimpin/penguasa. Kisah-kisah itu sendiri diambil

dari cerita wayang “Petruk Jadi Raja” yang bergelar Prabu Petruk Belgeduwelbeh Tongtongsot.

Kisah itu sendiri adalah tentang pemimpin dadakan yang sesungguhnya tidak memiliki kapasitas

dan kualitas sebagai seorang pemimpin, tetapi tindakannya ternyata melampaui kepatutan dan

kekuasaan seorang pemimpin. Ia menjadi sangat otoriter, menghalalkan segala cara, dan

memanfaatkan kedudukannya untuk kepuasan dan kepentingan diri sendiri yang lazim kita sebut

sebagai 'aji mumpung'. Kejelian Nano Riantiarno menggarap kekayaan cerita wayang dan

karakater tokoh wayang dalam karya-karyanya itu dapat diasosiasikan sebagai sikap keprihatinan

dan kegeramannya terhadap perilaku oknum pemerintah dan pebisnis di Indonesia. Hasilnya

adalah masyarakat yang muak dan kecewa, tetapi tidak memiliki cukup sarana untuk meluapkan

dan menyalurkan opini dan persepsinya karena fasilitas untuk itu terkooptasi oleh kepentingan

oknum-oknum tersebut. Pahlawan-pahlawan itu berasal dari kalangan rakyat, orang kecil, yang

diharapkan dapat mengerti aspirasi, kebutuhan, dan pola pikir rakyat. Akan tetapi, pahlawan itu

ternyata menjadi makhluk asing yang tidak dikenal oleh masyarakatnya sendiri. Mereka bukan

'satria piningit' atau 'ratu adil' yang akan membawa kemakmuran dan kesejahteraan rakyat yang

(9)

Nano Riantiarno memposisikan keberpihakannya pada moral-moral luhur yang diwujudkan

melalui cerita-cerita dan karakter wayang.

 

Di sisi lain, Nano Riantiarno melalui karya dramanya menunjukkan sikap yang berafiliasi pada

ideologi kesenian populer yang adiktif. Pengemasan pertunjukan hibrid dari sejumlah unsur seni

ditambah dengan kemasan humor-humor dalam bentuk sentilan merupakan “politik oposisi”

sederhana dan upaya pembongkaran terus-menerus atas ideologi-ideologi dominan yang tengah

bekerja. Karya-karya Nano Riantiarno adalah sebuah fiksi populer, sebagaimana fiksi-fiksi

populer lainnya (novel), sebagai ruang spesifik yang mengarahkan pembaca/penonton untuk

melakukan distraksi (pengalihan) dari kenyataan sekaligus mengalami kontradiktif terhadap

kenyataan itu sendiri. Pada trilogi opera Julini, pembaca/penonton disuguhi tokoh banci (Julini)

yang berarti pada karya itu ada isu tentang seksis yang secara ideologis mempertajam kategori

gender menjadi tiga, yaitu pria, wanita, dan banci (wadam). Pribadi-pribadi banci itu dalam

realitasnya, di satu sisi menimbulkan persoalan sosial dan di sisi lain—sebagai manusia,

pribadi—mereka mempunyai hak untuk menjadi dirinya sendiri tanpa harus dipandang sebagai

orang yang memiliki kelainan kepribadian. Hal itu sejalan dengan maraknya persoalan kaum

homoseksual di mancanegara yang menuntut pengakuan kesamaan hak, bahkan dalam

perkawinan.

Karya-karya Nano Riantiarno sejak tahun 1970-an hingga 2000-an dapat dikatakan sebuah

rangkuman ideologis yang menonjol pada waktu itu, yaitu kemiskinan; ketidakberdaayaan secara

social, politik, budaya; kekuasaan dan praktik main kuasa; modernitas dalam hal gaya hidup,

(10)

 

Kreativitas Nano Riantiarno sebagai seorang penulis drama, sutradara, dan pemimpin grup

Teater Koma sejak tahun 1970 hingga kini menunjukkan pencapaian prestasi yang sulit

ditandingi oleh penulis dan sutradara lain di Indonesia. Produktivitasnya bersastra dan berteater

menempatkan ia sebagai seniman yang berdedikasi tinggi. Karya-karyanya memiliki

multidimensi dalam hal pertunjukan, permasalahan yang diangkat (tematik), dan kepeduliannya

kepada gejala-gejala sosial, politik, budaya, dan ekonomi. Di samping itu, dalam hal manajemen

pertunjukan, Nano Riantiarno membawa grupnya ke arah grup teater profesional dengan jumlah

hari dan penonton yang senantiasa bertambah.***

   

Daftar Kepustakaan

 

Damono, Sapardi Djoko. 1999. Politik Ideologi dan Sastra Hibrida. Jakarta: Pustaka Firdaus.

Elam, Keir. 1980. The Semiotics of Theatre and Drama. New York: Methuen & Co. Ltd.

Esslin, Martin. 1976. An Anatomy of Drama. New York: Hill and Wang.

Riantiarno, Nano. 2004. Opera Kecoa. Yogyakarta: Matahari.

--- 2005. Maaf, Maaf, Maaf: Politik Cinta Dasamuka. Jakarta: Gramedia.

--- 1995. Semar Gugat. Yogyakarta: Bentang.

--- 1998. Opera Sembelit. Jakarta: Balai Pustaka.

--- 1999. Opera Ikan Asin. Jakarta: Pustaka Jaya.

Storey, John. 1996. Cultural Studies and the Study of Popular Culture: Theories and Methods. Athens: The University of Georgia Press.

(11)

karya‐karya W.S. Rendra.    

Karya  sastra  drama  yang  pernah  ditulisnya  antara  lain  “Bunga  Roos  dari  Tjikembang”  (berdasarkan novel karya Kwee Tek Hoay dengan judul yang sama); “Perang”, “Jaka Tarub  dan  Tujuh  Bidadari”,  dan  “Suara  Hati  dari  Ranah  Minang”  (dipentaskan  oleh  para  mahasiswa Jurusan Indonesia di Osaka University of Foreign Studies, Jepang); “Venus van  Preanger  atawa  Oeler  jang  Tjantik”  (berdasarkan  novel  karya  Soe Lie  Pit).  Menyutradari  sejumlah  pertunjukan  drama  bersama  Teater  Pagupon  sejak  tahun  1983—1998.  Naskah  drama  yang  pernah  digarap  antara  lain  “Brown  Sang  Dewa  Agung”  (Eugene  O’Neill),  “Lelakon Raden Beij Soerio Retno” (F. Wiggers), “Bunga Roos dari Tjikembang” (Yoesoev), 

Staf  Pengajar  Departemen  Susastra,  Fakultas  Ilmu  Pengetahuan  Budaya  Universitas  Indonesia. Di Program Studi Indonesia FIB UI, ia mengajar mata kuliah Pengkajian Drama,  Metode  Penelitian  Sastra,  Manusia  dan  Kesenian  Indonesia,  Tradisi  Sastra  Nusantara,  presiasi  Seni,  dan  Perkembangan  Masyarakat  dan  Kesenian  di  Indonesia  untuk  A

mahasiswa S1.   

(12)

 

Beberapa hasil penelitian yang telah dikerjakan adalah “Film Horor: Sebuah Definisi yang

Berubah”, “Perempuan dalam Sajak-sajak Chairil Anwar”, “Cerpen-cerpen Utuy Tatang Sontani”, “Drama di Masa Pendudukan Jepang (1942—1945): Sebuah Catatan”, “Perempuan dalam Perjalanan Teater Modern Indonesia”, “Kisah Mangir di Tangan Pramoedya Ananta Toer”.

 

Referensi

Dokumen terkait

Secara umum dapat disimpulkan bahwa budaya politik adalah bagian dari ciri-ciri yang khas meliputi legitimasi, pengaturan kekuasaan, proses pembuatan kebijakan, kegiatan partai

Dari ciri-ciri keluarga tradisional dan modern Amerika yang telah disampaikan di atas, video music James Intveld “Remember Me” jelas terlihat lebih banyak menampilkan

Gaya bahasa dalam karya sastra merupakan ciri khas seorang pengarang.Gaya bahasa berhubungan dengan ideologi pengarang terhadap suatu hal yang ada dalam kehidupan

Dengan adanya Perancangan Pusat Batik dan Kerajinan Khas Jawa Timur di Surabaya ini, diharapkan dapat menampilkan ciri khas dari kerajinan yang ada di Jawa Timur

Dengan adanya Perancangan Pusat Batik dan Kerajinan Khas Jawa Timur di Surabaya ini, diharapkan dapat menampilkan ciri khas dari kerajinan yang ada di Jawa Timur

Popularitas tafsir ini di samping terkait dengan keberadaan penulisnya sebagai dua tokoh mazhab al-Syafi'i yang karya- karyanya yang lain sudah lama dikenal di kalangan pesantren, juga

106 Kasimpulan Karya yang dibuat merupakan sebuah buku ilustrasi yang menampilkan beberapa jajanan tradisional khas Sulawesi Selatan utamanya berasal dari suku Bugis-Makassar sebagai

Jadual 6: Hubungan antara Ciri-ciri Pasukan Kerja Di Bawah Tema konteks secara keseluruhan Dengan Keberkesanan Pasukan Kerja Dalam Kalangan guru-guru tingkatan enam sekolah menengah