MANAJEMEN HUTAN
Prof. Dr. Ir. Supratman, MP.
Prof. Dr. Ir. Syamsu Alam, MS.
i
Kata Pengantar
Mata Kuliah ”Manajemen Hutan” merupakan salah satu mata kuliah yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, baik mahasiswa pada Program Studi Manajemen Hutan maupun pada Program Studi Teknologi Hasil Hutan. Rata-rata jumlah mahasiswa yang ikut pada kuliah ini adalah 120 sampai 150 orang. Untuk mengoptimalkan pencapaian tujuan pembelajaran serta
untuk mempermudah mengorganisir pelaksanaan perkuliahan dengan metode Student
Center Learning (SCL), sejak dua tahun terakhir ini, mahasiswa dibagi menjadi dua kelas sehingga rata-rata jumlah mahasiswa pada setiap kelas adalah 60 – 75 orang.
Pembagian kelas tersebut membawa konsekwensi penyajian materi perkuliahan yang mungkin dapat berbeda antara satu kelas dengan kelas yang lainnya apabila dilakukan oleh dosen yang berbeda, terutama apabila jadwal kelas tersebut paralel sehingga tidak memungkinkan satu orang dosen melaksanakan kuliah di dalam dua kelas yang berbeda pada waktu yang bersamaan. Untuk mengatasi hal ini, diperlukan Buku Ajar yang menjadi pegangan bagi anggota tim pengajar dan mahasiswa di dalam pelaksanakan kuliah.
Buku Ajar ini dihimpun dari Hand Out yang terserak yang selama ini telah digunakan oleh tim pengajar pada setiap kali perkuliahan. Hand Out tersebut diedit, ditambah, ataupun dikurangi materinya kemudian distrukturkan menjadi Bab-Bab sesuai dengan Garis-Garis Besar Rancangan Pembelajaran (GBRP) yang telah disusun sebelumnya, menghasilkan Buku Ajar yang anda baca pada saat ini.
Ide untuk menulis Buku Ajar ini sejatinya telah lama dipikirkan, namun tidak dapat diwujudkan. Tuntutan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran serta adanya dukungan yang kuat dari Pimpinan Fakultas Kehutanan, dan pimpinan universitas pada saat ini telah memicu semangat tim pengajar untuk mewujudkan ide yang terpendam tersebut. Atas dukungan ini, kami ucapkan terima kasih.
Harapan kami, semoga kehadiran Buku Ajar ini dapat melengkapi pustaka mahasiswa dan menjadi pemicu bagi penulis untuk menyusun Buku Ajar yang lebih berkualitas.
Tamalanrea, Agustus 2009
ii
Deskripsi Singkat
:
Mata kuliah ini membahas pengertian dan ruang lingkup
manajemen hutan, beberapa konsep dasar untuk
pengelolaan hutan lestari, preskripsi pengelolaan hutan,
konsep pengaturan hutan, dan analisis keputusan di dalam
manajemen hutan.
Tujuan Umum :
1.
Memahami konsep-konsep dasar pengelolaan hutan
2.
Mampu meningkatkan produktivitas dan dan nilai eknomi
sumberdaya hutan
3.
Mampu menata unit-unit pengelolaan hutan sesuai
dengan karakteristik sumberdaya hutan
Tujuan Khusus
1.
Memahami kaidah-kaidah ilmiah pengelolaan hutan
2.
Mampu mengembangkan manfaat dan jasa sumberdaya
hutan
3.
Mampu merencanakan, menganalisis, dan melaksanakan
iii
D
D
A
A
F
F
T
T
A
A
R
R
I
I
S
S
I
I
H
Haallaammaann
B
BaabbII PPeennddaahhuulluuaann
A
A.. PPeennggeerrttiiaannddaannRRuuaannggLLiinnggkkuuppMMaannaajjeemmeennHHuuttaann... 11
B
B.. TTuujjuuaannddaannFFuunnggssiiMMaannaajjeemmeennHHuuttaann... 33
C
C.. A
Assppeekk--aassppeekkTTeekknniiss,,SSoossiiaall,,EEkkoonnoommii,,ddaannLLiinnggkkuunnggaannddaallaamm
M
MaannaajjeemmeennHHuuttaann... 44
B
BaaBBIIII SSeejjaarraahhPPeennggeelloollaaaannHHuuttaann
A
A.. PPeennaammbbaannggaannKKaayyuu((TTiimmbbeerreexxttrraaccttiioonn))... 88
B
B.. PPeennggeelloollaaaannKKeebbuunnKKaayyuu... 1100
C
C.. PPeennggeelloollaaaannSSuummbbeerrddaayyaaHHuuttaann... 1133
D
D.. PPeennggeelloollaaaannEEkkoossiisstteemmHHuuttaann... 1166
E
E.. EEvvaalluuaassiiPPeennggeelloollaaaannHHuuttaann... 1177
F
F.. K
KeehhuuttaannaannMMaassyyaarraakkaatt((CCoommmmuunniittyyFFoorreessttrryy)):: KKoonnsseepp P
PeennggeelloollaaaannHHuuttaannMMuuttaakkhhiirr... 1188
G
G.. PPeerrttaannyyaaaannddaan nTTuuggaass... 2222
B
BAABBIIIIII RReevviieewwTTeeoorriiDDaassaarrPPeennggeelloollaaaannHHuuttaann A
A.. KKoonnsseeppTTeeggaakkaannddaannHHuuttaann... 2244
B
B.. KKoonnsseeppSSiillvviikkss,,SSiillvviikkuullttuurr,,ddaannSSttrruukkttuurrTTeeggaakkaann... 2299
C
C.. KKoonnsseeppRRiiaapp((IInnccrreemmeenntt))... 3311
D
D.. KKoonnsseeppHHuuttaannNNoorrmmaall... 3366
E
E.. KKoonnsseeppRRoottaassii... 4400
F
iv
B
BAABBIIVV PPrreesskkrriippssiiPPeennggeelloollaaaannHHuuttaann A
A.. PPeennggeerrttiiaannPPrreesskkrriippssiiPPeennggeelloollaaaannHHuuttaann... 5511
B
B.. E
Elleemmeenn--eelleemmeennDDaassaarrMMeemmbbaanngguunnPPrreesskkrriippssiiPPeennggeelloollaaaann H
Huuttaann... 5533
C
C.. BBeebbeerraappaaPPeennggeerrttiiaann... 5588
B
BAABBVV UUnniittPPeennggeelloollaaaannHHuuttaann
A
A.. HHiirraarrkkiiWWiillaayyaahhPPeennggeelloollaaaannHHuuttaann ... 6611
B
B.. UUnniittMMaannaajjeemmeennHHuuttaann... 6633
C
C.. OOrrggaanniissaassiiUUnniittMMaannaajjeemmeennHHuuttaann... 6666
D
D.. UKUKoonnnniittssMeMeppaaKKnneeaassjjeeaammttuueeaannnnHHPPuueentntaaggnnee..ll..oo....ll..aa....aa....nn.....H.H....u.u...t.t..aa....nn.....(..(.K.K...P.P....HH....))....ss....ee....bb....aa....gg....aa....ii..SS....u.u...aa....tt...u.u.......... 6699
E
E.. D
DeessaaiinnUUnniittPPeennggeelloollaaaannKKeehhuuttaannaannBBeerrbbaassiissMMaassyyaarraakkaatt:: C
CoonnttoohhKKaassuuss... 7777
B
BAABBVVII PPeennggaattuurraannHHaassiillHHuuttaann
A
A.. DDaassaarr--DDaassaarrPPeennggaattuurraannHHaassiillHHuuttaann... 110077
B
B.. MMeettooddeePPeennggaattuurraannHHuuttaannSSeeuummuurr... 110088
B
BAABBVVIIII AAnnaalliissiissKKeeppuuttuussaann MMaannaajjeemmeennHHuuttaann
A
A.. KKeerraannggkkaaKKeerrjjaauunnttuukkMMeemmbbuuaatt KKeeppuuttuussaann... 112277
B
B.. PPeerrnnyyaattaaaannMMaassaallaahhddaannPPeennuulliissaannPPeerrssaammaaaann... 112288
C
1 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
B
B
A
A
B
B
P
P
E
E
N
N
D
D
A
A
H
H
U
U
L
L
U
U
A
A
N
N
A. Pengertian dan Ruang Lingkup Manajemen Hutan
Manajemen dapat diartikan sebagai seni, ilmu, dan proses untuk
mencapai tujuan yang telah dirumuskan melalui kegiatan dengan orang lain.
Manajemen Hutan, dalam pandangan luas, adalah integrasi faktor-faktor biologi,
sosial, ekonomi, dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi keputusan
pengelolaan hutan. Setiap sesuatu mempengaruhi sesuatu yang lain dalam
pengelolaan hutan, oleh karena itu, seseorang harus mengetahui segala sesuatu
untuk membuat keputusan. Hal ini mungkin benar, tetapi hanya pada tingkatan
tertentu. Pandangan yang luas tersebut tidak diadopsi pada mata kuliah ini
sebab kebutuhan pengetahuan tersebut tidak mungkin dicapai dan karena
keputusan manajemen hutan tidak dibuat segera saat ini, tetapi melalui proses
yang panjang.
Pada hirarki yang lebih rendah, manajemen hutan didefisikan sebagai
seluruh keputusan yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan pengelolaan
I
Pokok Bahasan : Pendahuluan
Tujuan Umum : Memahami pengertian dan ruang lingkup
manajemen hutan
2 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
hutan secara berkelanjutan. Pengertian ini lebih banyak berfokus pada
pengetahuan yang digunakan secara langsung untuk mengelola suatu areal
hutan. Hal ini berarti bahwa personal manajemen adalah bagian dari manajemen
hutan karena manajemen hutan menggunakan orang, mechanical enggineering adalah juga bagian dari manajemen hutan karena dalam manajemen hutan
menggunakan mesin-mesin. Kadang-kadang interaksi sosial juga termasuk
bagian dari manajemen hutan. Pengertian yang kedua ini juga tidak diadopsi
pada mata kuliah ini karena pengetahuan yang dibutuhkan untuk pengambilan
keputusan tersebut tidak mesti dikuasai oleh manajer hutan, akan tetapi dapat
saja diperoleh melalui tenaga ahli yang dipekerjakan atau disewa sebagai
konsultan.
Secara historis, manajemen hutan pada dasarnya terkait dengan aspek
biologi dan aspek silvikultur dari hutan. Defenisi ini diturunkan dari filosofi biologi
sebagai aspek dasarnya. Kadang-kadang defenisi manajemen hutan juga
mencakup pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), inventarisasi, dan
aspek-aspek kehutanan yang lain. Hal ini semua merupakan bagian integral dari
manajemen hutan. Namun demikian, sebagai suatu profesi, ilmu manajemen
hutan telah berkembang menjadi suatu bidang yang terpisah dari aspek-aspek
tersebut di atas.
Materi Mata Kuliah Manajemen Hutan yang ditulis di dalam buku ajar ini
membatasi kajiannya pada dua hal yaitu: (1) mengkaji kaidah-kaidah ilmiah
pengelolaan hutan, dan (2) mengkaji aspek-aspek teknis membangun dan
mengelola unit-unit pengelolaan hutan. Oleh karena itu, pengertian manajemen
hutan yang diadopsi pada mata kuliah ini adalah aplikasi prinsip-prinsip ilmiah
dan teknis kehutanan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip bisnis dan
sosial untuk mencapai satu atau beberapa tujuan. Aspek-aspek Sosial, Bisnis,
3 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
Tabel 1. Aspek-Aspek Sosial, Bisnis, dan Teknis dalam Mengelola Hutan
No. Aspek Sosial dan Bisnis Aspek Teknis
1. Ekonomi Silvika dan Silvikultur
2. Organisasi dan Administrasi Inventarisasi
3. Keuangan Logging
4. Akuntansi Teknologi Kayu
5. Statistik Patrhology
6. Pemasaran Entomology
7. Hukum Bisnis Perlindungan Hutan
8. Perburuhan Wildlife
9. Real Estate Rekreasi Hutan
10. Ilmu social dan Politik Civil Enginering
Tidak seorangpun yang bisa menguasai semua bidang ilmu tersebut di
atas, dan hal ini menggambarkan bahwa manajemen hutan dalam
pelaksanaannya bersifat kolektif. Seorang manajer hutan perlu memiliki
pengetahuan dasar dan aplikasi dari semua bidang ilmu di atas dan
menguasainya sebisa mungkin.
B. Tujuan dan Fungsi Manajemen Hutan
1. Tujuan Manajemen Hutan
Hutan dikelola untuk tujuan serbaguna, dengan tujuan akhir adalah untuk
mendapatkan nilai manfaat bersih total yang paling tinggi. Pengelolaan hutan
untuk tujuan produksi kayu, harus memperhatikan dan mendukung (compatible)
tujuan lain, seperti DAS, wildlife, rekreasi, dll. Pada beberapa kasus,
penggunaan kawasan hutan bertentangan (incompatible) dengan tujuan
pengelolaan yang lain seperti pengelolaan areal penggembalaan di dalam
kawasan hutan terkadang tidak compatible dengan pengelolaan hutan untuk tujuan produksi kayu. Hal ini mengharuskan pengelola hutan membuat
keputusan tentang prioritas penggunaan lahan hutan. Manajemen hutan
membutuhkan pengkajian dan aplikasi teknik-teknik analisis untuk membantu
memilih alternatif manajemen yang memberikan kontribusi terbaik bagi
4 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
Tujuan pengelolaan hutan sangat tergantung pada tujuan pemilik hutan
dan situasi ekonomi yang ada pada wilayah dimana hutan tersebut berada. Pada
kawasan hutan negara, tujuan pengelolaan hutan sangat ditentukan oleh faktor
politik dan tingkat kepentingan terhadap areal hutan. Tingkat kepentingan
tersebut terkadang tidak dapat diukur dalam satuan ukuran nilai uang.
Pengelolaan hutan negara biasanya lebih banyak difokuskan pada perlindungan
tata air yang dibayar dengan kelestarian supply air, dan dikeola dengan tujuan
serba guna. Sedangkan hutan milik dikelola dengan tujuan untuk menghasilkan
barang dan jasa yang biasanya terfokus pada total produksi dan total benefit
yang dapat diperoleh dari lahan hutan tersebut.
2. Fungsi Manajemen Hutan
Pengelolaan hutan lestari harus mencakup beberapa fungsi yaitu fungsi
teknis, komersil, finansial, personial, fungsi administrasi, dan fungsi
kepemimpinan. Fungsi teknis dalam manajemen hutan diarahkan untuk
mencapai tujuan teknis, fungsi komersiil untuk mencapai tujuan ekonomi
(berkaitan dengan pasar), fungsi finansiil untuk mencapai tujuan finansial
(berkaitan dengan biaya dan pendapatan), fungsi personil berkaitan dengan
kuantitas dan kualitas sumberdaya manusia (SDM), fungsi administrasi
merupakan fungsi penunjang, berkaitan dengan pengembangan, dan fungsi
kepemimpinan berkaitan dengan unsur-unsur manajemen (POAC).
C. Aspek-aspek Teknis, Sosial, Ekonomi, dan
Lingkungan dalam Manajemen Hutan
Untuk merlaksanakan fungsi-fungsi tersebut di lapangan, seorang
manajer hutan harus memperhatikan aspek-aspek teknis, sosial, ekonomi, dan
lingkungan, sebagai berikut:
1. Aspek Teknis
Kegiatan manajemen hutan pada dasarnya berkaitan dengan
pemanfaatan hutan sebagai sumberdaya alam dan sebagai suatu ekosistem.
Kegiatan manajemen hutan akan dan harus berkaitan dengan kegiatan-kegiatan
5 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
pengolahan hasil hutan (industri pengolahan hasil hutan, dan pemasaran hasil
hutan. Untuk dapat mewujudkan aspek-aspek tersebut di atas dalam
pelaksanaan kegiatan manajemen hutan secara operasional di lapangan
diperlukan penguasaan pengetahuan teknis kehutanan.
2. Aspek Sosial Ekonomi
Kegiatan manajemen hutan pada dasarnya adalah kegiatan pengusahaan
hutan. Oleh karena itu, aspek-aspek perusahaan yaitu aspek ekonomi dan aspek
keuangan sangat erat hubungannya dengan manajemen hutan.
Untuk dapat melaksanakan dan mewujudkan aspek teknis manajemen
hutan, dibutuhkan investasi (SDM, peralatan dan teknologi) dan analisis-analisis
ekonomi dan finansial. Hal ini terutama karena manajemen hutan berkaitan
dengan dimensi waktu yang panjang untuk dapat menghasilkan produk serta
harus bertumpu pada prinsip kelestarian sebagai prinsip dasar pengelolaan
hutan. Untuk dapat mewujudkan manajemen hutan lestari diperlukan adanya
perencanaan yang efisien dan rasional.
3. Aspek Lingkungan
Pengelolaan hutan disamping memanfaatkan hutan sebagai sumberdaya
alam, harus pula memperhatikan sisi lain dari hutan yaitu sebagai Ekosistem
(ekosistem hutan).
Secara operasional, pengelolaan hutan akan memanfaatkan ekosistem
hutan. Ini berarti bahwa dalam manajemen hutan harus diperhatikan pula
pengaruh pemanfaatan tersebut terhadap komponen ekosistem hutan yang
terdiri dari “tanah-biologi hutan-iklim/lingkungan”.
6 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
Latihan Soal-soal:
1. Jelaskan pengertian dan ruang lingkup mata kuliah manajemen hutan
2. Jelaskan tujuan dan fungsi manajemen hutan
3. Jelaskan aspek-aspek teknis, sosial, ekonomi, dan lingkungan manejemen
hutan
Rujukan:
Davis, K.P. 1978. Forest Management (Valuation and Regulatino). Mc. Graw-Hill, Inc. Manila.
Junus. M. 1984. Dasar Umum Ilmu Kehutanan. Buku I. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Indonesia Timur. LEPHAS
Leuschener. W. A. 1984. Introduction to Forest Resource Management. Joh Wiley and Sons. Inc.
Lawrence. S. D., K.N. Johnson. 1987. Forest Managament. Mc. Graw-Hill. Inc.
7 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
B
B
A
A
B
B
S
S
E
E
J
J
A
A
R
R
A
A
H
H
P
P
E
E
N
N
G
G
E
E
L
L
O
O
L
L
A
A
A
A
N
N
H
H
U
U
T
T
A
A
N
N
Secara garis besar, bentuk pengusahaan hutan yang pernah dilakukan,
khususnya di negara- negara maju, dari dulu sampai sekarang dapat dibedakan
menjadi tiga atau empat macam (Simon, 1999), yaitu: (1) penambangan kayu,
(2) pengelolaan hutan tanaman, (3) pengelolaan sumberdaya hutan, dan (4)
pengelolaan ekosistem hutan.
Penambangan kayu dan pengelolaan hutan tanaman tergolong pada
strategi kehutanan konvensional, sedangkan pengelolaan sumberdaya hutan
dan pengelolaan ekosistem hutan termasuk dalam strategi kehutanan sosial.
Perbedaan pokok antara kedua strategi pengelolaan hutan tersebut terletak pada
tujuan pengelolaan dan system perencanaan yang digunakan, dengan segala
konsekuensi dan implikasinya.
II
Pokok Bahasan : Sejarah Pengelolaan Hutan
Tujuan Umum : Memahami sejarah pengelolaan hutan
nasional dan dunia
Tujuan Instruksional Khusus : Selesai mempelajari Bab I, mahasiswa/i mampu: (1) menjelaskan perkembangan sejarah pengelolaan hutan, (2) mengevaluasi sejarah pengelolaan hutan, dan (3)
8 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
Pengelolaan hutan berarti pemanfaatan fungsi hutan untuk memenuhi
kebutuhan manusia secara maksimal. Pada waktu masyarakat manusia belum
mengenal hubungan komersil secara luas, hutan hanya dimanfaatkan sebagai
tempat untuk mengambil bahan makanan, nabati ataupun hewani, atau tempat
mengambil kayu untuk membuat rumah tempat tinggal dan untuk sumber
energy. Hutan juga sering ditebang untuk memperluas tempat pemukiman, lahan
pertanian, atau mengamankan wilayah dari gangguan binatang buas.
A. Penambangan Kayu
(Timber extraction)
1. Penambangan kayu di Lembah Eufrat dan Tigris
Penambangan kayu di daerah ini sudah dimulai dilakukan sekitar tahun
2000 SM, yaitu pada masa kerajaan Babylonia. Karena sudah berlangsung
lama, maka sangat sedikit informasi yang tersedia untuk melukiskan lebih
mendalam tentang penambangan kayu di Babylonia ini beserta kerusakan hutan
yang ditimbulkannya.
Salah satu cirri kejayaan suatu negara adalah tingginya intensitas
perdagangan yang dilakukan masyarakat negara tersebut, termasuk
perdagangan kayu. Secara konvensional, kayu diperlukan untuk bahan
konstruksi rumah, alat-alat pertanian dan alat transportasi darat maupun air.
Karena tidak diikuti dengan usaha permudaan kembali, maka timber
extraction di Mesopotamia ini berakhir dengan kehancuran hutan. Bahkan begitu
beratnya tingkat kerusakan hutan tersebut , daerah yang semula terkenal
dengan kesuburannya itu akhirnya sebagian berubah menjadi padang rumput,
bahkan padang pasir sampai sekarang.
2. Penambangan Kayu di Eropa Tengah dan Barat
Penambangan kayu di daerah ini mulai dilakukan sekitar abad ke-3, yaitu
pada waktu kekaisaran Romawi mulai mengembangkan wilayah jajahannya ke
seluruh Eropa Tengah dan Barat. Negara yang paling banyak mengalami
kegiatan ini, dan oleh karena itu juga paling besar menerima dampak negative,
adalah Jerman. Jalan raya yang menghubungkan Roma-Frankfurt sekarang ini
9 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
itu oleh Romawi, di sepanjang jalan ini relatif lebih banyak jumlah kota atau
pusat pemukiman, yang dulu merupakan pusat-pusat kegiatan penebangan kayu
dan pos-pos untuk mengontrol daerah jajahan.
Perkembangan pengelolaan hutan yang sangat berarti sehubungan
dengan kerusakan hutan akibat penambangan kayu di Eropa Tengah dan Barat
adalah diumumkannnya Undang-Undang Kehutanan di Perancis, terkenal
dengan Ordonance de Melun , pada tahun 1376 oleh raja LUIS XIV
(OSMASTON, 1966 dalam SIMON, 1999).
Untuk mendukung kegiatan pengelolaan hutan yang baik, seperti yang
dikehendaki oleh jiwa Undang-Undang itu, kemudian Perancis mendirikan
sekolah kehutanan. Di sini barangkali pengeruh Universitas Al Hambra di
Cordoba memang ada, karena banyak pula pemuda Perancis yang kemudian
ikut menuntut ilmu ke Spanyol.
Setelah Ordonance de Melun pada 482 Kerajaan Inggris juga
mengeluarkan Forest Act , yang kemudian disempurnakan lagi pada Tahun
1543 (OSMASTON, 1966 dalam SIMON, 1999). Pada periode berikutnya,
pendidikan kehutanan lebih berkembang di Jerman. Akademi kehutanan di
Tarrant dikenal sebagai sekolah tinggi kehutanan yang pertama di dunia. Oleh
karena itu, secara konsepsional Jerman juga tampil menjadi negara yang
berhasil memperbaiki kerusakan hutan akibat penambangan kayu di Eropa.
Masalah ini akan dibahas lagi dalam paragraf-paragraf selanjutnya.
3. Penambangan Kayu di Indonesia
Penambangan kayu di Eropa dilakukan oleh pemerintah kolonial. Hal ini
terulang lagi di Negara-negara Asia, Afrika dan Amerika latin sampai masa
perang dunia II. Bnagsa-bangsa Eropa banyak yang keluar dari tanah airnya
mencari tanah jajahan, seperti Inggris, Spanyol Italia, bahkan juga
bangsa-bangsa kecil seperti Belanda, Belgia dan Portugal.
Di negara jajahan itu, para penjajah menguras sumberdaya apa saja yang
dapat dijual dengan memperoleh kekayaan, termasuk hutan. Itu pulalah yang
dilakukan Belanda di Indonesia. Oleh karena itu, penjajah bangsa Belanda juga
10 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
B. Pengelolaan Kebun Kayu
Kerusakan hutan akibat Timber extraction kemudian mulai dipikirkan
benar-benar agar tidak berkepanjangan. Bahkan, kerusakan hutan telah
menyadarkan orang Jerman akan perlunya permudaan kembali kawasan hutan
bekas tebangan agar produksi kayu dapat lestari. Oleh karena itu, salah satu
hikmah yang dirumuskan Jerman dari tragedy kerusakan hutan itu adalah
munculnya istilah kelestarian hasil, yang konon sudah mulai dikenal pada abad
ke-9.
Istilah kelestarian hasil telah mendorong perlu adanya pengaturan
tebangan yang baik sehingga jumlah hasil kayu yang dipungut setiap tahun tidak
terlalu bervariasi. Dari sini, selanjutnya rimbawan Jerman berhasil menemukan
berbagai macam metode pengaturan hasil yang dipergunakan untuk mengatur
etat tebangan. Adanya metode permudaan dan metode pengaturan hasil ini,
setelah jangka waktu yang cukup panjang, membentuk elemen-elemen
pengelolaan hutan modern yang berlandaskan pada kelestarian hasil hutan
(sustained yield principles). Berdasarkan semua pengalaman tersebut, maka
pada tahun 1816 HEINRICH VON COTTA dapat menyelesaikan sebuah buku
yang berjudul Anweisung zum Waldbau (petunjuk silvikultur). Dlam tulisannya,
COTTA menjelaskan secara sistematik metode pengaturan hasil yang sudah
dipraktekkan secara luas di Jerman sejak beberapa abad terakhir. Oleh karena
itu, selanjutnya dikenal ada metode COTTA atau metode Periodik Blok, yang
nama aslinya adalah Periodic Yields with A Regeneration Block method.
Beberapa waktu sebelumnya GEORG LUDWIG HARTIG, guru COTTA,
telah menulis buku yang menerangkan perlunya pembagian wilayah sebagai
dasar penyusunan organisasi lapangan untuk menyelenggarakan pengelolaan
hutan yang efisien. Dalam tulisan HARTIG itu, juga ditekankan perlunya
pembuatan hutan monokultur dengan system silvikultur tebang habis dengan
permudaan buatan. Walaupun ide HARTIG tentang hutan monokultur itu segera
ditentang pada ekolog dan rimbawan konservasionis, misalnya KARL HAYER
11 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
penyakit tetapi para praktisi kehutanan lebih menyukai metode HARTIG karena
monokultur lebih mudah dalam perencanaan dan pelaksanaannya. Nampaknya,
monokultur juga akan menghasilkan kayu lebih tinggi karena jumlah pohon
komersial yang ditanam perhektar lebih baik.
Pada awal abd ke-18, yaitu pada tahun 1710, seorang ahli kehutanan
Jerman lainnya, HANS CARL VON CARLOWITZ, menulis buku dengan judul
Silvicultura economika (ekonomi silvikultur). Di dalam buku ini, CARLOWITZ
menerangkan keuntungan yang diperoleh dari penanaman hutan satu jenis
(monokultur) untuk mewujudkan apa yang dinamakan Sustained yield forestry.
Gagasan CARLOWITZ inilah yang dielaborasi lebih lanjut oleh HARTIG dan
muridnya COTTA.
Gagasan hutan tanaman monokultur dengan 1 daur itu menjadi lebih
kokoh lagi setelah pada tahun 1849 FAUSTMAN menulis rumus daur dinansial.
Dengan dirumuskannya system pengelolaan hutan seperti itu, seolah-olah
Jerman telah memproklamirkan system pengelolaan kebun kayu, yang kelak
menjadi acuan pembangunan hutan di seluruh dunia. Selanjutnya, semua
kegiatan teknik kehutanan mulai dari pembuatan tanaman pemeliharaan sampai
pemanenan dengan segala kelengkapannya terus mengalami kemajuan. Paling
tidak selama lebih dari dua abad, yaitu abad 18 sampai pertengahan abad
ke-20, Jerman memang menjadi kiblat ilmu kehutanan seluruh negara di dunia
(PELUSO, 1993). Di Indonesia, system Jerman diterapkan untuk membangun
hutan jati yang rusak akibat timber extraction selama masa VOC dan awal
pemerintahan Hindia Belanda.
Ciri-ciri system pengelolaan hutan dari Jerman tersebut adalah:
Pada umumnya merupakan hutan tanaman monokultur dengan system
silvikultur tebang habis dan permudaan buatan.
Karena monokultur, maka untuk kesederhanaan dalam perencanaan
digunakan konsep Kelas Perusahaan (Planning unit) yang sekaligus berlaku
12 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
Satuan kelas perusahaan adalah unit perencanaan yang dinamakan Bagian
Hutan, yang untuk hutan jati di Jawa luasnya berkisar antara 4.000 – 6.000 ha.
Untuk pengaturan hasil digunakan konsep daur tunggal. Pada mulanya daur tunggal itu ditetapkan dengan criteria teknik, tetapi kemudian diganti dengan
daur financial setelah FAUSTMANN menemukan rumus perhitungan yang
monumental pada tahun 1949.
Konsep pengelolaan hutan yang dimaksudkan itu berkembang pesat
sejak abad ke-17, terutama karena beberapa keuntungan yang secara teoritik
memang cukup memberi harapan, yaitu:
Perencanaannya sederhana dan oleh karena itu mudah dan murah.
Pelaksanaan pengelolaan juga lebih mudah dan biaya yang murah sehingga
diharapkan diperoleh keuntungan uang yang tinggi.
Konsep kelas perusahaan menguntungkan bagi pengadaan bahan baku
industry yang pada waktu itu di Jerman masih terbatas menggunakan jenis
tertentu saja.
Walaupun konsep yang ditentukan dengan lebih memperhatikan
kepentingan ekonomi itu sejak awal sudah ditentang oleh ekolog dan kaum
konservasionis, tetapi sebagaimana lazimnya, pertimbangan ekonomi hampir
selalu diunggulkan karena jangkauan waktunya hanya untuk jangka pendek,
dibanding dengan pertimbangan lingkungan yang relatif lebih abstrak dan
bersifat jangka panjang. Kekurangan-kekurangan system tersebut:
Tegakan monokultur rentan terhadap gangguan hama dan penyakit karena
keragaman hayati menjadi sangat miskin sehingga ekosistem hutan tidak lagi
stabil.
Fungsi perlindungan terhadap lingkungan berkurang banyak karena
pembangunan hutan hanya ditekankan pada produktivitas kayu yang setinggi
mungkin.
Tidak dapat memaksimumkan produktivitas kawasan hutan karena system
13 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
tanpa memperhatikan ragam sifat fisik wilayah, pengaruh social ekonomi
masyarakat, dan potensi pasar.
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan masyarakat, termasuk di
negara sedang berkembang yang dulu merupakan Negara jajahan
bangsa-bangsa Eropa, kekurangan hutan tanaman monokultur semakin dapat dipahami
secara luas. Di lain pihak, kemajuan teknologi yang selalu menyertai
pembangunan di mana pun, justru menuntut peran hutan sebagai pelindung
ekosistem dan lingkungan hidup. Di samping itu juga dituntut agar fungsi hutan
untuk menjadi sumberdaya yang selalu menyajikan berbagai macam keperluan
masyarakat, seperti yang diberikan oleh hutan alam klimaks, dapat diwujudkan
kembali.
C. Pengelolaan Sumberdaya Hutan
Pengelolaan hutan untuk menghasilkan kayu berkembang pesat di
negara-negara maju, khususnya Eropa Barat dan Amerika Utara, sepanjang
abad ke-18 dan 19. Sistem pengelolaan kebun kayu itu, yang menempatkan
kelesatarian hasil sebagai landasannya, dikenal sebagai sistem pengelolaan
hutan modern. Di Jawa, system tersebut juga dapat dilaksanakan dengan sukses
untuk membuat hutan tanaman jati. Landasan politis ini telah digariskan oleh
DAENDELS tahun 1811, persiapannya dirumuskan Tim MOLLIER yang mulai
bekerja pada tahun 1849, sedangkan pelaksanaan operasionalnya baru berjalan
mulai tahun 1898 setelah usulan BRUINSMA tentang organisasi territorial yang
dinamakan vesterij diterima oleh pemerintah pada tahun 1892 (LUGT, 1933
dalam SIMON, 1999).
Pada waktu sistem Timber Management itu dirumuskan, keadaan social
ekonomi masyarakat di Pulau Jawa masih jauh berbeda dengan keadaan
sekarang. Perubahan keadaan social-ekonomi maupun kemajuan iptek tersebut
menyebabkan konsep kebun kayu yang disusun pada akhir abad ke-19 itu tidak
lagi sinkron (gayut) dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat pada akhir abad
ke-20 ini. Selama dekade 1950-an pengelolaan kebun kayu mulai menghadapi
14 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
masyarakat di sekitar hutan. Dari kondisi lambatnya perkembangan penanganan
masalah tersebut sehingga timbul gangguan keamanan yang menyebabkan
terjadinya kerusakan hutan. Hal tersebut berdampak di seluruh dunia termasuk
pulau Jawa yang telah dibangun dengan sukses selama periode 1898-1942
(periode timber management pertama).
Pada Kongres Kehutanan Dunia V denga tema Multiple Use of Forest
Land dan Kongres Kehutanan Dunia VIII tahun 1978 dengan tema Forest for
People, yang rimbawan telah menyadarinya dan memberi reaksi yang tepat
terhadap perubahan tersebut. Sayangnya aplikasi konsep baru itu di lapangan
sangat lambat sehingga selama periode itu, bahkan sampai sekarang, laju
kerusakan hutan tersebut meningkat.
Dengan lahirnya istilah social forestry (kehutanan sosial) pada Kongres
Kehutanan Dunia VIII tahun 1978, maka pengelolaan kebun kayu yang semula
dianggap sebagai bentuk pengelolaan hutan modern telah berubah menjadi
strategi pengelolaan hutan modern telah berubah menjadi strategi pengelolaan
kehutanan konvensional (conventional forestry). Dalam strategi pengelolaan
hutan yang baru ini ada tiga perbedaan yang penting dibanding dengan sistem
konvensional (kebun kayu), yaitu:
Tujuan pengelolaan hutan tidak hanya untuk menghasilkan kayu
pertukangan, melainkan untuk memanfaatkan sumberdaya kawasan hutan
bagi semua jenis hasil hutan yang dapat dihasilkan di tempat yang bervariasi
menurut lokasi.
Orientasi pengelolaan hutan berubah dari kepentingan untuk memperoleh keuntungan financial bagi perusahaan ke kepentingan dan kebutuhan
masyarakat, khususnya yang bertempat tinggal di dalam dan kawasan hutan.
Berbeda dengan pengelolaan kebun kayu yang berskala luas dengan konsep
kelas perusahaan untuk satu bagian hutan sebagai unit, dalam strategi
kehutanan social bentuk pengelolaan hutan beragam sesuai dengan sifat fisik
wilayah mikro dan pengaruh sosial (management regiems), untuk
memaksimumkan produktivitas tiap jengkal kawasan hutan. Satuan wilayah
15 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
tanaman, yang pada hutan jati di jawa dapat diidentikkan dengan petak
(compartment) dengan luas sekitar 30-40 ha saja.
Karena tujuan pengelolaan hutan tidak lagi hanya menghasilkan kayu
pertukangan, melainkan hasil apa saja yang tersedia di tempat dan sesuai
dengan kondisi fisik wilayah maupun tuntunan sosial-ekonomi masyarakat, maka
bentuk pengelolaan hutan ini dinamakan Pengelolaan Sumber Daya Hutan
(Forest Resource Management).
Bagi forest resource management, konsep timber management dengan
kelas perusahaan monokultur, dan daur tunggal akan membatasi upaya
mencapai produktivitas maksimumnkarena konsep yang lama itu sama sekali
tidak fleksibel, tidak dapat menyesuaikan dengan kondisi mikro. Oleh karena itu,
yang cocok adalah konsep management regimes, polikutur, daur ganda dan
satuan regime dalam petak. Dengan demikian, perubahan dari timber
management ke forest resource management benar-benar memerlukan
perubahan dalam semua aspek perencanaan maupun pelaksanaan pengelolaan.
Tujuan penerapan sistem pengelolaan yang beragam dalam bentuk berbagai
regimes adalah untuk memaksimumkan produktivitas tiap jengkal kawasan hutan
disesuaikan dengan kondisi tanah dan lahan serta faktor lingkungan setempat
yang mempengaruhinya. Kalau konsep kelas perusahaan dibandingkan dengan
konsep Management Regimes, masing-masing mempunyai keuntungan dan
kelemahan.
Keuntungan konsep Management regimes:
Karena polikultur, tegakan lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit; Tegakan polikultur berpengaruh lebih baik terhadap lingkungan, termasuk
aspek hidro-orologi dan kehidupan satwa;
Hasil yang diperoleh dari hutan akan semakin beragam (diversifikasi) sehingga menguntungkan konsumen maupun produsen.
Kekurangan konsep Management regimes:
16 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
Karena titik (1) di atas, maka diperlukan kualifkasi tenaga perencana maupun pengelola yang lebih baik;
Kalau rencana dan pelaksanaan pengelolaan di lapangan kurang professional, keuntungan perusahaan justru menurun.
Keuntungan dan kelemahan konsep Kelas perusahaan merupakan
kebalikan dari konsep Management Regimes tersebut.
D. Pengelolaan Ekosistem Hutan
Sesuai kodratnya, peranan pohon yang paling utama adalah untuk
menjaga ekosistem permukaan planet bumi ini. Oleh karena itu, dengan
semakin banyaknya jumlah penduduk serta produk teknologi, fungsi lindung
akan menjadi lebih penting dibanding dengan fungsi ekonomi yang diharapkan
dari hutan. Dalam kondisi seperti ini, tidak mustahil bahwa fungsi ekonomi akan
berubah menjadi hasil sampingan (side products), sedang hasil utama yang
diharapkan dari hutan adalah fungsi perlindungan lingkungan. Pada tahap ini,
bentuk pengelolaan hutan akan berubah menjadi tingkatan yang sangat
kompleks, yaitu Pengelolaan Ekosistem Hutan (Forest Ecosystem Management).
Dikaitkan dengan masukan (input) yang diperlukan dan keluaran (output)
yang dihasilkan, maka ilmu yang diperlukan untuk membangun sistem
pengelolaan ekosistem hutan benar-benar masih amat jauh dari yang sekarang
tersedia. Namun demikian, bukan berarti bahwa konsep ini belum dapat dimulai
sampai sekarang, karena fenomena-fenomena yang terdapat di lapangan dapat
dikaji dan ditiru untuk model awal. Alternatif lain untuk menyusun rekayasa
system pengelolaan ekosistem hutan adalah dengan mengembangkan sedikit
demi sedikit konsep pengelolaan sumberdaya hutan, dengan menggeser titik
berat keluaran dari fungsi ekonomi ke fungsi perlindungan lingkungan.
Dalam pengelolaan ekosistem hutan, kepentingan lingkungan hidup lebih
diutamakan, sedangkan keuntungan finansial dipandang sebagai hasil
sampingan saja. Oleh karena itu, untuk merancang pengelolaan ekosistem
17 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
kendala utama yang dihadapi oleh perencana yang pada umumnya hanya
berbekal ilmu teknik kehutanan saja.
E. Evaluasi Pengelolaan Hutan
Seperti yang terjadi sejak dulu kala pertentangan tentang peranan hutan
antar kepentingan selalu dimenangkan oleh kepentingan ekonomi. Puncak
perkembangan yang terlahir itu adalah lahirnya badan-badan internasional
seperti ITTO (International Timber Tride Organization). Di samping terjadinya
aksi boikot oleh masyarakat dan LSM di Negara maju terhadap penjualan kayu
yang ditebang dari hutan alam, ITTO lalu membuat aturan-aturan utuk
membatasi laju pengrusakan hutan oleh para pengusaha perkayuan, sambil
mendorong perbaikan sistem pengelolaan hutan yang dilaksanakan di
negara-negara sedang berkembang, khususnya yang memiliki hutan alam tropika.
Namun begitu jauh sebenarnya baik LSM maupun ITTO belum memiliki
konsep yang bersifat operasional untuk memperbaiki pelaksanaan pengelolaan
hutan oleh negara-negara sedang berkembang. Oleh karena itu, aturan-aturan
itu hanya cenderung memberi tekanan kepada negara-negara pemilik hutan
tropika agar yang bersangkutan mencari sendiri jalan pemecahan untuk
memperbaiki system pengelolaan hutan yang harus dilaksanakan. Hal ini
disebabkan karena elemen ilmu yang diperlukan untuk memperbaiki sistem
pengelolaan hutan tropika yang sebagian besar telah rusak karena penebangan
untuk memenuhi permintaan bahan baku industry perkayuan milik atau menjadi
kebutuhan Negara maju itu sebenarnya belum tersedia.
Agar supaya di kemudian hari dilaksanakan penilaian yang obyektif
tentang rencana dan pelaksanaan suatu pengelolaan hutan, maka dipikirkan
adanya landasan teori objektif pula. Pada dasarnya tujuan pengelolaan hutan
harus mengacu pada bagaimana perumusannya untuk memaksimumkan
manfaat yang disediakan oleh hutan. Begitu pula aplikasinya harus tidak
menyimpang dari rencana yang selalu berpegang teguh pada prinsip-prinsip
18 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
F. Kehutanan Masyarakat
(Community Forestry)
:
Konsep Pengelolaan Hutan Mutakhir
Konsep pemikiran kehutanan masyarakat berkembang setelah kebijakan
industrialisasi kehutanan yang bersifat ekonomi-sentrik gagal. Hal ini ditandai
dengan tingginya laju degradasi hutan dan kemiskinan masyarakat di dalam dan
disekitar hutan. Kegagalan kebijakan industrialisasi kehutanan mendorong
terjadinya pergeseran paradigma pembangunan kehutanan, yaitu: dari state based forest management ke community based forest management, dari timber oriented ke forest ecosystem management, dari big scale business ke small owner scale business, dari eksploitasi ke rehabilitasi dan konservasi, dari pendekatan sektoral ke pendekatan regional (sistem), dan dari sistem
pengelolaan yang seragam ke sistem pengelolaan spesifik berdasarkan potensi
lokal (Alam, 2003).
Kehutanan masyarakat (community forestry) adalah sistem pengelolaan hutan yang berintikan partisipasi rakyat, artinya rakyat diberi wewenang
merencanakan dan merumuskan sendiri apa yang mereka kehendaki.
Sedangkan pihak lain menfasilitasi rakyat untuk dapat menumbuhkan bibit,
menanam, mengelola, dan melindungi sumberdaya hutan milik mereka, agar
rakyat memperoleh keuntungan maksimum dari sumberdaya hutan dan
mengelolanya secara berkelanjutan (FAO, 1995).
Desmond F. D. (1996), mengemukakan bahwa kehutanan masyarakat
adalah pengendalian dan pengelolaan sumberdaya hutan oleh masyarakat lokal
untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, yang terpadu dengan system
pertanian masyarakat. Definisi Desmond F. D. ini lebih radikal dibanding dengan
definisi FAO (1995) karena menghilangkan pernyataan perlunya pihak lain
memberikan advis dan input needed kepada masyarakat lokal. Namun demikian,
kedua definisi tersebut mempunyai kesamaan yaitu tidak mempersoalkan status
lahan (kawasan hutan atau bukan kawasan hutan), tetapi menekankan kepada
siapa pengelolanya. Hal inilah yang membedakan konsep kehutanan masyarakat
19 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
Konsep hutan kemasyarakatan (forest community) atau disingkat HKm pertama kali diperkenalkan oleh pemerintah pada tahun 1995 dengan Surat
Keputusan Menteri Kehutanan No. 622/Kpts-II/1995, kemudian direvisi dengan
Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 677/Kpts-II/1998,
kemudian direvisi lagi dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan
Perkebunan No. 865/Kpts-II/1999, dan revisi terakhir adalah Keputusan Menteri
Kehutanan No. 31/Kpts-II/2001. Intisari konsep kehutanan masyarakat dari
beberapa keputusan menteri tersebut adalah membangun sistem pengelolaan
hutan negara yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat setempat tanpa
mengganggu fungsi pokok hutannya.
Kebijakan terakhir pemerintah yang terkait dengan konsep kehutanan
masyarakat adalah Program Social Forestry. Di dalam Peraturan Menteri Kehutanan No: PP.01/Menhut-11/2004 dijelaskan pengertian Social Forestry adalah sistem pengelolaan sumberdaya hutan pada kawasan hutan negara atau
hutan hak, yang memberi kesempatan kepada masyarakat setempat sebagai
pelaku dan atau mitra utama dalam rangka meningkatkan kesejahteraannya dan
mewujudkan kelestarian hutan. Program Social Forestry, dengan demikian, pada
dasarnya berintikan kepada upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat desa
di dalam dan di sekitar hutan melalui suatu sistem pengelolaan hutan yang
menempatkan masyarakat desa sebagai pelaku utama, mitra kerja, dan sebagai
pihak yang harus mendapat bagian kesejahteraan yang memadai dari kegiatan
pengelolaan hutan. Program Social Forestry mengedepankan partisipasi
masyarakat desa sebagai unsur utama dalam pengelolaan hutan.
Social Forestry mengandung makna yaitu rangkaian kegiatan pengembangan dan pengurusan hutan negara dan hutan hak yang dilakukan
sendiri oleh pemiliknya/masyarakat dengan fasilitasi dari semua stakeholder
terkait, serta memperhatikan prinsip-prinsip pengusahaan hutan. Forestry
mengandung makna sebagai suatu tatanan sistem, sedangkan kata social
mempunyai dimensi yang bermacam-macam, yaitu (Kartasubrata, J., 2003):
20 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
2. sosial dalam hal keterpaduan dalam masyarakat. Fungsi kunci yang berhubungan dengan sumberdaya hutan seperti pengambilan keputusan,
pengawasan, pengelolaan, investasi, dan pemanfaatan hasil tidak
terkonsentrasi di tangan institusi pemerintah dan pemegang konsesi
(swasta) saja, akan tetapi terdistribusi ke masyarakat.
3. sosial dalam hal ditetapkan secara sosial, yang berarti situasional dan
dinamis.
4. sosial dalam hal suatu bentuk kehutanan yang menjadi acuan masyarakat
secara politis, sosial, institusional, dan ekonomis.
Pada dasarnya istilah kehutanan masyarakat (community forestry) dan social forestry jika dikaitkan dengan latar belakang permasalahannya menunjukkan kesamaan maksud yaitu, (Alam, 2003):
1. menggeser paradigma pembangunan kehutanan dari atas dan tersentralisasi
menuju pembangunan kehutanan yang mengutamakan kontrol dan
keputusan dari masyarakat lokal.
2. Mengubah sikap dan keterampilan rimbawan dari pelindung hutan terhadap
gangguan manusia menjadi bekerja bersama masyarakat.
Campbel (1997) dalam Suhardjito, dkk. (2000) mengusulkan 20 langkah
pergeseran yang diperlukan untuk menerapkan konsep kehutanan masyarakat,
21 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
Tabel 2. Pergeseran yang Diperlukan untuk Menerapkan Konsep Kehutanan Masyarakat
dari menuju
A. Sikap Dan Orientasi
1. Pengendalian Dukungan/Fasilitasi 2. Penerima Manfaat Mitra
3. Pengguna Pengelola 4. Pembuatan keputusan unilateral Partisipatif
5.Orientasi Penerimaan Orientasi sumberdaya 6. Keuntungan nasional Orientasi keadilan local 7. Diarahkan oleh rencana Proses belajar/evolusi
B. Institusional Dan Adninistratif
8. Sentralisasi Desentralisasi 9. Manajemen (Perencanaan, pelaksanaan,
monitoring) oleh pemerintah
Kemitraan
10. Top down Partisipatif/negosiatif 11. Orientasi target Orientasi proses 12. Anggaran kaku untuk rencana kerja besar Anggaran fleksibel 13. Aturan-aturan untuk menghukum Penyelesaian konflik
C.Metode Manajemen
14. Kaku Fleksibel 15. Tujuan Tunggal Tujuan Ganda 16. Keseragaman Keanekaragaman 17. Produk tunggal Produk beragam 18. Silvikultur tunggal Silvikultur spesifik local 19. Tanaman Regenerasi alam
20. Tenaga kerja/buruh/ pengumpul Manajer/pelaksana/pemroses/ pemasar
Sumber: Suhardjito, dkk. (2000)
Implementasi konsep kehutanan masyarakat di lapangan dijumpai dalam
beberapa istilah yang merupakan varian dari konsep dasar kehutanan
masyarakat, antara lain (Suhardjito, dkk., 2000):
1. Collaborative Forest Management, adalah: pengelolaan kawasan hutan tertentu dengan pola kemitraan yang melibatkan berbagai stakeholders
(pemerintah, pengusaha, dan masyarakat lokal). Para stakeholders
mengembangkan kesepakatan-kesepakatan yang menjelaskan peran,
tanggung jawab, dan dan hak-haknya dalam mengelola sumberdaya hutan.
Kesepakatan-kesepakatan tersebut paling tidak meliputi, (1) kejelasan
kawasan hutan dan tata batasnya, (2) lingkup pemanfaatan dan pemanenan
22 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
masing-masing stakeholders, (4) prosedur pengambilan keputusan dan
menyelesaikan konflik, (5) membuat rencana pengelolaan yang detail dan
utuh.
2. Co-management, sama dengan Collaborative Forest Management, hanya berbeda dalam model partisipasinya, dimana dalam Co-management bentuk
partisipasinya sampai pada proses-proses politik dan proses pengambilan
keputusan.
3. Joint Forest Management (JFM), adalah: kerangka manajemen hutan yang
mendorong kemitraan antara Departemen Kehutanan dengan kelembagaan
lokal dan anggota masyarakat yang hidupnya bergantung pada hutan untuk
mengembangkan pola yang saling menguntungkan dan bertanggung jawab
terhadap sumberdaya hutan yang dikelola. Di India, JFM memberikan akses
penuh hasil hutan bukan kayu kepada masyarakat, dan 20 - 50% bagi hasil
untuk kayu pada saat panen.
Untuk menghindari terjadinya kerancuan definisi, maka perlu adanya
suatu rumusan dasar yang menjadi penciri dari konsep kehutanan masyarakat
yaitu, (Suhardjito, dkk., 2000):
1. Masyarakat lokal mampu mengambil peran utama dalam pengelolaan hutan,
dengan cara-cara yang cocok dan sesuai dengan tujuan serta nilai-nilai lokal.
2. Masyarakat lokal mempunyai hak-hak yang sah dalam mengelola
sumberdaya hutan.
3. Pengelolaan hutan mengkaitkan secara simultan tujuan-tujuan lingkungan,
ekonomi, dan sosial.
4. Kemitraan dan pengembilan keputusan oleh masyarakat lokal merupakan
ciri minimum dari kehutanan masyarakat.
G. Pertanyaan dan Tugas
1. Jelaskan perkemangan sejarah pengelolaan hutan 2. Jelaskan konsep pengelolaan hutan mutakhir
23 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
Rujukan:
Simon. 1993; Hutan Jati dan Kemakmuran: Problematika dan Strategi Pemecahannya. Aditya Media. Yogyakarta.
Simon, 1995; Pengelolaan Hutan Kolaboratif
24 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
B
B
A
A
B
B
R
R
E
E
V
V
I
I
E
E
W
W
T
T
E
E
O
O
R
R
I
I
D
D
A
A
S
S
A
A
R
R
P
P
E
E
N
N
G
G
E
E
L
L
O
O
L
L
A
A
A
A
N
N
H
H
U
U
T
T
A
A
N
N
Untuk dapat mengelola hutan dengan baik, diperlukan dasar-dasar teori
yang berkaitan dengan system pengelolaan hutan. Dasar-dasar teori yang
dimaksud mencakup teori tentang pengelolaan hutan pada umumnya dan
elemen-elemen dasar pengelolaan hutan.
A. Konsep Tegakan dan Hutan
Berikut ini akan dikemukakan beberapa konsep dasar yang terkait dengan
tegakan dan hutan:
1. Tegakan (Stand) adalah kesatuan pohon-pohon atau tumbuhan lain yang menempati suatu areal tertentu dan yang memiliki komposisi jenis (species),
umur, dan kondisi yang cukup seragam untuk dapat dibedakan dari hutan
III
Pokok Bahasan : Review Teori Dasar Pengelolaan Hutan
Tujuan Umum : Memahami dasar-dasar teori yang
berkaitan dengan system pengelolaan hutan lestari
25 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
atau kelompok tumbuhan lain di sebelah atau sekitar areal tersebut. Tegakan
merupakan unit dasar suatu perlakuan silvikultur.
2. Tegakan tidak Seumur (Even-aged stand) adalah tegakan yang terdiri dari pohon-pohon yang berumur sama atau paling tidak berada dalam kelas umur
yang sama. Smith (1962) menyebutkan bahwa suatu tegakan dianggap
seumur kalau perbedaan umur antara pohon-pohon yang paling tuadan yang
paling muda tidak melebihi 20% panjang daur (rotasi).
Sebenarnya dalam hutan yang dipermudakan secara alamsukar sekali
dijumpai tegakan yang terdiri dari pohon-pohon yang berumur sama. Oleh
karena itu mungkin lebih tepat kalau kita katakana bahwa tegakanseumur
adalah tegakan yang terdiri dari pohon-pohon dengan perbedaan umur
antara pohon yang paling muda dan yang paling tua yang diperbolehkan
adalah 10 sampai 20 tahun. Namun demikian, apabila tegakan tersebut tidak
akan ditebang sebelum berumur 100 – 200 tahun, maka perbedaan umur yang diperbolehkan mencapai 25% dari umur daur atau rotasi.
3. Tegakan tidak Seumur (Uneven-aged stand) adalah tegakan yang terdiri dari
pohon-pohon dengan perbedaan umur antara pohon yang paling tua dengan
pohon yang paling muda paling sedikit sebesar tiga kelas umur. Jadi dalam
tegakan tidak seumur terdapat paling sedikit tiga kelas umur.
4. Kelas umur (age class) adalah salah satu dari rangkaian selang (interrval) waktu yang menyusun rentangan umur (life span) pohon hutan. Jadi
rentangan umur pohon hutan dibagi ke dalam beb erapa selang waktu . Di
Indonesia, biasanya panjang selang waktu tanaman hutan adalah 5 atau 10
tahun. Untuk jenis pohon yang rumbuh cepat panjang selang waktu hanya 1
tahun.
Biasanya tiap jenis pohon ditetapkan panjang selang waktui yang sama.
Untuk Albizia falcataria panjang selang waktu ditetapkan 1 tahun, Pinus merkusii 5 tahun, Tectona grandis yang tumbuh lebih lama 10 tahun.
26 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
rotasi) antara pohon-pohon dalam suatu tegakan dengan pohon-pohon dalam
tegakan lainnya.
Contoh: Suatu hutan terdiri dari 4 tegakan yaitu A, B, C, dan D. Tiap tegakan
tersebutadalah tegakan seumur. Kemudian kita perhatikan bahwa
padategakan A terdapat pohopohon yang berumur 60 tahun dan pada
tegakan C terdapat pohon-pohon yang berumur 10 tahun. Kalau diketahui
pula bahwa hutantersebut mempunyairotasi 80 tahun, apakah hutantersebut
masihdapat dikatakan hutan seumur?
Jawabannya adalah benar hutan tersebut adalah hutan seumur. Hal ini
disebabkan karena tiap tegakan dalam hutan tersebut adalah tegakan
seumur, meskipun perbedan umur antara pohon dalam suatu tegakan
dengan pohon dalam tegakan yang lain melebihi ¼ rotasi.
6. Hutan Tidak Seumur (Uneven-aged Forest) adalah hutan yang terdiri dari
tegakan-tegakan tidak seumur.
Contoh: Suatu hutan terdiri dari tegakan-tegakan A, B, C, dan D. Hutan
tersebut dapat dikatakan tidak seumur kalau tegakan A tidak seumur,
tegakan B tidak seumur, tegakan C tidak seumur, dan tegakan D tidak
seumur.
7. Dinamika Tegakan. Dinamika suatu tegakan didasarkan atas prinsip-prinsip
ekologi yang telah memberikan sumbangan kepada sifat dasar dari tegakan
tersebut, seperti suksesi, kompetisi, toleransi,dan konsep zona optimum.
Faktor-faktor inilah yang secara lansung mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan dari tegakan yang dibangun. Pertumbuhan tersebut akan
mempengaruhi pertumbuhan tinggi, diameter, dan volume dari tegakan yang
telah dibangun. Faktor-faktor tersebut selanjutnya akan mempengaruhi
apakah tegakan itu tegakan seumur atau tegakan tidak seumur. Tegakan
seumur dan tegakan tidak seumur inilah yang menentukan sistem silvikultur
yang akan dibangun.
Berikut ini, diuraikan secara singkat tentang prinsip-prinsip ekologi yang telah
memberikan sumbangan kepada sifat dasar dari tegakan, yaitu:
27 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
Suksesi tumbuhan adalah pergantian suatu komunitas tanaman pada suatu
areal oleh komunitas tanaman lain. Suksesi primer mulai dari permukaan
bumi yang tidak ditumbuhi tanaman, kemudian terjadi perkembangan
pergantian ke arah yang lebih maju, dan akhirnya mencapai tahap ekspresi
ekologi yang paling tinggi yang disebut klimaks. Apabila perjalanan suksesi
tadi mundur akibat adanya ganguan seperti api, penebangan oleh peladang
berpindah, maka penyembuhan ke arah tahap sebelum datangnya
gangguan disebut suksesi sekunder. Suksesi primer terjadi karena adanya
pergantian sekelompok spesies oleh yang lainnya yang disebabkan oleh
perkembangan dalam ekosistem itu sendiri, sedangkan suksesi sekunder
terjadi karena pengaruh kekuatan luar yang meruah ekosistem seperti
pengrusakan hutan, dan lain-lain.
Rimbawan pada umumnya mengelola tegakan yang sedang berada dalam
perkembangan suksesi sekunder. Malahan banyak spesies pohon-pohon
membentuk komponen-komponen tahap perkembanmgan di bawah
klimaks, danseringkali usaha utama rimbawan adalah menghalangi
tendensi dari suatu komunitas maju ke arah spesies-spesies pembentuk
klimaks. Setiap wilayah hutan memiliki ciri-ciri komunitas pohon-pohonan
tertentu, dan rimbawan menggunakan praktek-praktek silvikultur untuk
mempertahankan suatu tahap perkembangan dalam rentetan perjalanan
suksesi sehingga tujuan pengelolaan hutandapat dipenuhi.
b. Kompetisi
Kompetisi adalah suatu proses yang bergerak maju karena setiap spesies
memiliki kemampuan yangberbeda dalam suatu lingkungan tertentu, dan
spesies yang kurang mampu mengadakan penyesuaian akan hilang dari
persaingan.
Agar sukses dalam persaingan, suatu spesies harus memiliki sumber biji
yang cukup, tempat perkecambahan biji yang cocok, keadaan pertumbuhan
yang cukup, dan tidak memiliki kelemahan utama dalam terhadap serangan
28 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
Dalam proses kompetisi ini, suatu spesies dapat menempatkan dirinya
sebagai spesies yang dominan dan bahkan suatu spesies dapat
menggantikan spesies lainya sehingga terdapat suatu proses saling ganti
mengganti antarberbagai spesies.
c. Toleransi
Suksesi bergerak maju karena spesies yang menyerang lebih mampu
bersaing dalam lingkungan yang sedang berubah.
Toleransi dalam kehutanan diartikan sebagai kapasitas relatif suatu pohon
untuk bersaing dalam keadaan cahaya yang rendah dan persaingan akar
yang tinggi. Pohon-pohon yang toleran memperbanyak diri dan membentuk
lapisan tanah bawah tajuk dari pohon-pohon yang kurang toleran dan
bahkan di bawah naungannya sendiri. Pohon-pohon yang tidak toleran
memperbanyak diri dengan sukses hanya pada daerah-daerah terbuka
dimana terdapat tajuk yang terbuka lebar. Tentunya terdapat spesies yang
sangat toleran, toleran, tingkat menengah, tidak toleran, dan sangat tidak
toleran. Pengetahunamengenai toleransi dan implikasinya terhadap
persaingan dan pertumbuhan adalah suatu hal yang mendasar untuk
memperoleh sistim silvikultur yang baik dan mendasar pula bagi setiap
keputusan kita dalam pengelolan hutan.
d. Zone Optimum
Zone optimum adalah tempat dimana suatu spesies tertentu sering dijumpai
pada berbagai macam tanah dan tempat tumbuh (site). Pada tempat
tumbuh yang paling baik, spesies tersebut mencapai ukuran, umur, dan
berbagai sifat baik yang maksimum. Ukuran, umur, dan sifat-sifat baik
tersebut menurun pada zone-zone yang lebih dingin atau lebih panas. Pada
zone optimum tersebut spesies yangbersangkutan paling mudah
memperbanyak diri. Suatu spesies yang toleran kemungkinan besar akan
29 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
B. Konsep Silviks, Silvikultur, dan Struktur Tegakan
Silviks adalah studi sejarah hidup dan ciri-ciri umum pohon-pohon hutan
dan tegakan-tegakan dengan memberikan perhatian utama terhadap
faktor-faktor lingkungan sekitarnya.
Silvikultur adalah ilmu dan seni dalam usaha menanam, menumbuhkan,
memelihara, memungut hasil, dan melaksanakan permudaan hutan berdasarkan
pengetahuan silviks dalam pengelolaan hutan. Dengan kata lain, silvikultur
adalah ilmu dan seni penerapan silviks dalam manajemen hutan.
Struktur tegakan adalah susunan tegakan berdasarkan umur, kelas
diameter, tajuk, dan kelas pohon lainnya. Dinamika tegakan dituntun oleh
prinsip-prinsip ekologi yang memberikan sifat dasar dari tegakan seperti,
suksesi, kompetisi, toleransi, dan konsep zona optimum.
Preskripsi silvikultur seyogyanya diberikan setelah kita mengetahui
dinamika tegakan serta tipe hutan yang akan dikelola. Terdapat beberapa
pandangan pakar tentang sistem silvikultur dalam hubungannya dengan
pengelolaan hutan, yaitu:
Sistem silvikultur hendaknya dibuat dimana sistem itu akan digunakan, tidak dirakit dan dibawa dari hutan lain (David, M. Smith, 1986)
Dalam pengelolaan hutan kita tidak dapat menggunakan satu macam sistem
silvikultur karena di dalam hutan terdapat fluktuasi (Hendrikson dan K.
Sanojea, 1975).
Penggunaan sistem silvikultur yang sederhana memang enak, tetapi jangan sampai hutan alam diganti dengan tegakan sederhana hanya karena tegakan
pengganti itu mudah dimengerti (David M Smith, 1986).
Secara umum, sistem silvikultur dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Sistem Silvikultur Tebang Habis
Keuntungan:
Operasi pembalakan terkonsentrasi di areal kecil, tetapi volume kayu besar
Kerusakan akibat pembalakan terhadap tegakan mudah dicegah
30 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
Tanaman baru terdiri jenis intoleran, bebas persaingan dengan tegakan tua Metode sederhana, praktis, dan mudah
Tegakan seumur, murni, dan teratur, tumbuh cepat
Pelaksanaan dengan tumpangsari dapat meningkatkan pendapatan
masyarakat di sekitar hutan
Kerugian:
Memusnahkan penutup tanah, iklim mikro berubah, lahan terbuka, gulma tumbuh meluas
Perlindungan terhadap erosi berkurang, juga tanah mudah lonsor terutama pada lapangan miring
Secara estetika kurang baik pemandangannya
Bahaya kebakaran meningkat karena angin dan panas terik Tidak semua jenis dan ukuran pohon laku dijual
Hutan baru yang seumur dan murni kurang resistent terhadap penyakit, hama, dan kebakaran
Terbentuk humus yang susunanya didominasi oleh unsur tertentu Unit cost penanaman per ha lebih mahal
b. Sistem Silvikultur Tebang Pilih
Keuntungan:
Perlindungan terhadap tempat tumbuh dan permudaan
Terjadi penutupan tajuk vertikal
Perlindungan terhadap hama dan penyakit Secara estetika lebih baik
Permudaan alam jenis toleran dipermudah Penyesuaian dengan situasi pasar kayu
Tegakan tak seumur lebih baik bagi habitat satwa Menjamin kelestarian produksi pada kawasan kecil
Penjarangan dapat dilakukan simultan dengan pemanenan
31 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n Kerugian:
Produksi kecil, tetapi areal penebangan luas sehingga pengangkutan mahal Kerusakan terhadap tegakan sisa
Memusnahkan sumber plasma nutfah/genetika yang baik
Bentuk pohon kurang baik karena ruang tumbuh luas pada umur tua
Permudaan jenis toleran lebih banyak dari pada intoleran Memerlukan kecakapan profesional tinggi dari pelaksana Tertutup terhadap penggembalaan ternak
Kurang menyerap tenaga kerja dalam operasinya
Permudaan alam lebih sulit diatur, demikian pula tindakan
pemeliharaan/pembebasan.
Peran silvikultur dalam pengelolaan hutan adalah adanya
keuntungan-keuntungan yang diperoleh dengan tercapainya tujuan-tujuan praktek silvikultur.
Praktek silvikultur tersebut berupa:
Pengendalian komposisi tegakan
Pengendalian kerapatan tegakan
Pembangunan areal yang tidak produktif Perlindungan hutan
Pengendalian rotasi dan siklus tebang Tercapainya efisiensi kerja
Perlindungan tanah dan manfaat tidak lansung hutan
C. Konsep Riap
(Increment)
Riap adalah pertambahan diameter, bidang dasar (basal area), tinggi,
volume, mutu, atau nilai suatu pohon atau tegakan selama jangka waktu tertentu.
Riap kasar (Gross increment) menunjukkan nilai yang belum dikurangi dengan suatu factor yang disebabkan oleh mortalitas atau kemunduran mutu. Sedang
riap netto adalah nilai yang diperoleh setelah pengurangan factor tersebut. Di
32 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
Riap merupakan tulang punggung ilmu manajemen hutan, yang bertujuan
untuk menghasilkan kayu. Tanpa informasi tentang riap, suatu rencana
pengelolaan hutan tidak lebih dari sekedar petunjuk untuk menghadapi
pekerjaan-pekerjaan di lapangan, dan bukan merupakan suatu rencana yang
harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan pengelolaan.
Biasanya riap dipakai untuk menyatakan pertambahan volume pohon atau
tegakan per satuan waktu tertentu, menyatakan pertambahan nilai tegakan,
menyatakan pertambahan diameter atau tinggi pohon setiap tahun. Pada
bagian ini, pembicaraan akan dibatasi pada riap pohon dan riap tegakan.
1. Riap Individu Pohon
Untuk individu pohon akan dibahas riap diameter, riap tinggi, dan riap
volume.
Riap diameter biasanya diwakili oleh riap diameter stinggi dada. Riap diameter merupakan salah satu komponen yang penting dalam menentukan riap
volume. Alat yang paling banyak dipakai untuk mengukur riap diameter adalah
“bor riap”. Tetapi alat ini hanya efektif untuk mengukur riap pohon yang
mempunyai lingkaran tahun yang jelas. Sebagian besar jenis pohon yang
berasal dari hutan tropika basah tidak mempunyai lingkaran tahun yang nyata
dan pembentukan lingkaran pertumbuhan tidak berkaitandengan siklus tahunan.
Riap diameter tiap tahun dapat dikur dari lebar antara lingkaran tahun tertentu.
Lingkaran tahun dapat dipakai juga untuk menghitung umur pohon.
Riap Tinggi juga mempunyai peranan dalam perhitungan ripa volume, terutama untuk tegakan yang masih muda. Ada empat cara untuk menentukan
riap tinggi, yaitu:
a. Menaksir atau mengukur panjang ruas tahunan. Cara ini hanya dapat dipakai
untuk spesies tertentu saja terutama spesies dari daerah temperate dan boreal.
b. Analisis tinggi (height analysis) terhadap pohon yang ditebang. Dengan menghitung lingkaran tahun pada penampang lintang pohon untuk berbagai
33 | B u k u A j a r M a n a j e m e n H u t a n
tertentu. Cara ini dapat dilakukan untuk semua spesies yang mempunyai
lingkaran tahun.
c. Mengukur pertambahan tinggi pohon selama periode waktu tertentu.
Pengukuran tinggi dapat menggunakan hypsometer. Cara ini dapat dilakukan
untuk semua jenis pohon, tetapi memerlukan waktu yang lama untuk
menunggu sampai pada pengukuran yang kedua.
d. Menentukan riap tinggi dengan kurva tinggi. Kurva tinggi untuk semua spesies
bergantung pada umur. Sampai umur tertentu, pohon sudah tidak lagi tumbuh
meninggi, dan sejak itu volume pohon hanya dipengaruhi oleh riap diameter.
Riap volume pohon adalah pertambahan volume selama jangka waktu tertentu. Dalam teori, riap volume dapat ditentukan secara tepat dengan
mengurangi volume pada akhir periode (B) dengan volume pohon tersebut pada
awal peroide (A).
2. Riap Tegakan
Riap volume suatu tegakan bergantung pada kepadatan (jumlah) pohon
yang menyusun tegakan tersebut (degree of stocking), jenisnya, dan kesuburan tanahnya. Riap volume suatu pohon dapat dilihat dari kecepatan tumbuh
diameter, yang setiap jenis, biasanya mempunyai nilai (rate) yang berbeda-beda.
Untuk semua jenis pada waktu muda mempunyai kecepatan tumbuh diameter
yang tinggi. Kemudian, semakin tua semakin menurun, sampai akhirnya
berhenti. Untuk hutan tanaman, biasanya pertumbuhan diameter mengikuti
bentuk hurup S (sigmoid), karena pada mulanya tumbuh agak lambat, kemudian
cepat, lalu menurun. Lambatnya pertumbuhan diameter pada waktu muda
disebabkan oleh perlakuan terhadap tanaman yang rapat, untuk menghindari
percabangan ya