BAB AKHLAQ Diam Itu Lebih Baik

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Keutamaan Orang Yang Diam Dan Tidak Banyak Berbicara

Banyak berbicara termasuk salah satu yang menjerumuskan manusia kedalam kubangan dosa. Dan banyak berbicara menjadi sebab utama banyaknya manusia yang menyesal karenanya nanti pada hari mahsyarnya. Oleh karena itu agama islam sangat menganjurkan kepada umatnya untuk menahan bicara dengan cara tidak berbicara kecuali seperlunya saja, alias banyak diam. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Nabi dalam hadits-hadits berikut ini:

(يذمرتلا هاور اج) . ج نج تمجصج نمج : هللا لوسر لاق لاق رمع نب هللا دبع نع :

Barangsiapa yang diam maka dia akan selamat. (H.R. Turmudzi)

ك بباوج ، ك ج تتيببج كج عبسج يجلبوج ، ك ج نجاسج لك كج يبلجعج كب سك مبأج ل : ج اقج ؟ ةتاججننلا امج ، هكلنلا لجوس ت رج ايج ت ت لبقت ل : ج اقج ررمكاعج نكبب ةجبجقبعت نبعج ) .

يذمرتلا هاور كج تكئجيطك خج ىلجعج

Berkata sahabat Uqbah bin Amir , “Wahai Rosul… apakah keselamatan itu?” Maka Nabi s.a.w menjawab, “Hendaknya engkau tahan lidahmu dan hendaknya engkau jadikan rumahmu itu terbuka untuk para tamu, dan menangislah terhadap “Barangsiapa yang menjamin kepadaku dengan yang ada diantara dua gerahamnya (mulut) dan diantara dua pahanya (kemaluan), maka aku jamin dia untuk masuk surga. (H.R. Bukhari) masuk ke dalam surga. Maka Rosulullah s.a.w menjawab, “Bertakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia.” Kemudian ditanya juga tentang perkara-perkara yang banyak menyebabkan manusia banyak masuk ke dalam neraka. Maka beliau menjawab, “Dua hal yang lubang, yaitu mulut dan kemaluan.” (H.R. Turmudzi)

(ايندلا يبأ نبا هاور) . تج مصن لا مجزجليجلفج مج لجسيج نأ ج هترنسج نمج ملسو هلآو هيلع هللا ىلص هللا لوسر لاق : يقهيبلاو

Barangsiapa yang ingin selamat, maka hendaknya ia melazimi diam. (H.R. Ibnu Abi Dunya-Baihaqi)

Tidak akan lurus keimanan seseorang sehingga hatinya menjadi lurus. Dan tidak akan lurus hati seseorang kecuali jika lidahnya lurus. Dan tidak akan masuk ke dalam surga seseorang jika tetangganya tidak aman daripada gangguannya. (H.R. Ibn Abi Dunya)

(2)

ternyata hal itu adalah batu kerikil yang selalu diletakkannya di mulut dan setiap kali akan berbicara dia keluarkan lalu memasukkan kembali setelah usai berbicara. Maka dia bertanya kepadanya, “Apa yang kau lakukan wahai khalifah Rasulullah ?” Maka beliau menjawab, “Inilah yang menyebabkan banyak ancaman dan peringatan daripada Nabi terkait dengannya. Diantaranya Nabi bersabda:

(ىلجعج نت اسج ليلا لن ججوج زنعج هكللا ىلجإك وكتشيج لنإك دكس ج جج لا نمك ءليشج سج يلج ملسو هلآو هيلع هللا ىلص هللا لوسر لاق : ) . ينطق رادلا هاور هكتكدنحك

Tidak ada suatu anggota badan pun kecuali pasti mengadukan lidah kepada Allah SWT karena saking juteknya lidah manusia. (H.R. Ad-Dar Quthni)”

Berkata sahabat Ibn Mas’ud r.a ketika berada di atas bukit Shofa, “Wahai lidah… Katakanlah kebaikan maka kamu akan beruntung karenanya! Dan banyaklah diam dari segala keburukan, maka kamu akan selamat dari kejahatannya dan lakukanlah sebelum datang penyesalan pada akhirnya.” Maka seseorang berkata kepadanya setelah mendengar perkataannya, “Wahai Abu Abdurrohman… apakah perkataan itu berasal darimu atau sesuatu yang pernah engkau dengarkan?” Maka dia berkata, “Tidak bukan perkataanku akan tetapi sesuatu yang pernah aku dengar dari Rosulullah s.a.w dimana beliau bersabda”:

(يناربطلا هاور) . هكنكاسج لك يفك مجدجآ نك با أطج خج رجثجكأج ننإك ملسو هلآو هيلع هللا ىلص هللا لوسر لاق :

Sesungguhnya paling banyaknya dosa bani Adam itu berasal pada lidahnya. (H.R. Thobroni)

(ك ويجلاوج هكلللابك نم ت مكؤيت نج اكج نمج لاق مللسو هيلع هلللا ىللص هلللا لوسر نع هنع هلللا يضر ةريره يبأ نع ” : - -) .“

هيلع قفتم تمتصيجلك وأج ارريخج لقتيجلفج ركخكلا

Barangsiapa beriman dengan Allah SWT dan hari akhir, maka hendaknya dia berkata kebaikan atau diam. (Muttafaq alaih)”

Berkata sahabat Abdullah Ibn Mas’ud r.a : Demi Allah SWT yang tidak ada tuhan selain Dia… Tidak ada sesuatu yang berhak untuk ditahan melebihi daripada lidah manusia.

Berkata At-Thowus r.a : Lidahku ini bagaikan binatang buas. Jika aku lepaskan, maka dia akan menerkamku.

Berkata Imam Hasan Al-Basri r.a : Tidaklah dianggap seseorang cerdik dalam syariat islamnya kalau dia tidak menjaga lidahnya.

Berkata Muhammad bin Wasi’ r.a kepada Malik bin Dinar r.a : Wahai Abu Yahya… Ketahuilah bahwasanya menjaga Lidah itu lebih sulit daripada menjaga dinar dan dirham.

Suatu waktu berkumpul segerombolan orang di depan Mu’awiyah dan mereka sedang berbincang dan berdiskusi. Diantara mereka terdapat Ahnaf bin Qays. Hanya dia saja yang diam dan tidak berbicara. Maka Mu’awiyah berkata kepadanya, “Wahai Abu Bahr.… Kenapa engkau tidak berbicara?” Maka dia menjawab, “Aku takut kepada Allah SWT jika berbohong dan aku takut kepadamu jika aku jujur.”

(3)

mengucapkan suatu ucapan, maka dia telah menguasai aku dan aku tidak dapat menguasainya. Namun jika aku belum mengucapkan suatu ucapan, maka aku mampu mengusainya dan dia tidak dapat menguasaiku.” Berkata raja yang ketiga, “Aku heran kepada orang yang banyak bicara dimana jika ucapannya itu kembali kepadanya, maka pasti akan membahayakannya karena ucapan yang telah menyinggung orang lain. Sedangkan jika tidak kembali lagi kepadanya, maka sama sekali tidak akan bermanfaat baginya.” Berkata raja keempat, “Mengulangi lagi ucapan yang tidak aku ucapkan lebih mudah bagiku daripada menarik kembali apa yang terlanjur aku ucapkan.”

Diriwayatkan bahwasanya Robi’ bin Khoitsam tidak pernah berbicara masalah dunia selama 20 tahun. Dan setiap hari selama 20 tahun itu dia membawa kertas. Apapun yang dia ucapkan, dia akan menulisnya di atas kertas. Dan pada malam harinya dia evaluasi apa saja yang tertulis dari ucapannya itu.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :