KEBAHAGIAAN PADA PEKERJA SEKS KOMERSIAL KELAS BAWAH
DI JAKARTA
Christie dan E. Kristi Poerwandari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
Abstrak
Kehidupan pekerja seks komersial berjalan tidak sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Hal ini menarik peneliti untuk melakukan penelitian mengenai kebahagiaan mereka. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik wawancara sebagai metode utama dan observasi sebagai metode tambahan selama wawancara berlangsung. Pemilihan subyek menggunakan teknik snowball atau berantai dan kemudian diperoleh tiga subyek yang merupakan PSK kelas bawah. Terhadap data yang diperoleh, peneliti melakukan analisis intra kasus dan kemudian dilakukan analisis interkasus. Hasil penelitian menemukan bahwa dua subyek merasakan kepuasan dalam hidupnya, ketiga subyek merasakan kesenangan dalam menjalani kehidupannya sekarang dan belum merasa optimis akan masa depan. Dengan demikian, hampir semua subyek penelitian memiliki emosi positif kepuasan akan kehidupan yang dijalani, semua subyek memiliki perasaan dan pikiran positif mengenai kehidupan masa sekarang, namun belum memiliki pikiran positif akan masa depannya. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan subyek dapat lebih diperbanyak dan diperluas cakupannya, observasi juga digunakan sebagai metode utama dalam pengambilan data. Penelitian berikutnya akan lebih baik jika turut menggali karakter positif yang dimiliki subyek guna mengetahui kebahagiaan otentik subyek.
Kata Kunci: PSK,Kebahagiaan,ekonomi,seks komersial, emosi
Pendahuluan
Setiap orang pasti menginginkan profesi yang layak untuk memenuhi keinginan dan mewujudkan cita-citanya. Ada dua macam pekerjaan yaitu formal dan non-formal. Untuk dapat bekerja di sektor formal, dibutuhkan banyak ketrampilan, kemampuan, dan juga latar belakang pendidikan yang mendukung. Sayangnya tidak semua orang dapat memenuhi berbagai syarat untuk bersaing di sektor formal dan ada kalanya mereka mengandalkan pekerjaan non-formal yang dianggap
buruk oleh masyarakat sekalipun, seperti pelacur atau pekerja seks komersial.
persetubuhan di luar pernikahan, serta tidak membedakan pilihan (May, dalam Nisbet, 1961).
Data statistik yang disusun oleh Departemen Sosial (2000) menyebutkan bahwa ada 70.781 pekerja seks di Indonesia. Sedangkan menurut Hull dan Lim (dalam Surtees, 2003), jumlah pekerja seks di Indonesia yang dapat dikatakan lebih realistis adalah antara 140.000 sampai 230.000 jiwa. Angka tersebut didasarkan pada asumsi bahwa statistik Departemen Sosial (2000) hanya mencatat pekerja seks kelas menengah dan sebagian di kelas bawah, dan tidak mempunyai data untuk hampir semua pekerja seks kelas atas. Usia pekerja seks di Indonesia bervariasi, dapat berkisar dari bawah umur sampai setengah baya. Pekerja seks yang di bawah umur pun banyak jumlahnya. Walaupun demikian pekerja seks cenderung perempuan muda di akhir usia remajanya sampai usia dua puluhan. Oleh karena itu, peneliti memfokuskan diri pada pekerja seks komersial yang berada pada tahap perkembangan dewasa muda.
Pada usia dewasa muda, seorang wanita memiliki tugas perkembangan yang beberapa diantaranya adalah mulai mencari pekerjaan, memilih pasangan hidup, belajar untuk hidup dengan pasangan, bekeluarga, mengasuh anak, mengatur kegiatan rumah tangga, ikut berperan sebagai warga negara, dan menemukan kelompok sosial dengan minat serupa (Havighurst’s, dalam Hurlock, 1983).
Dari pengakuan beberapa pekerja seks di Jakarta (dalam http://groups. google.co.id/group/smokingcorner/ msg/ 02ac5775d564a9a0?&hl=id&q=k awin+kontrak+%2C+bentuk+pelacuran ) diketahui bahwa mereka merasakan kesulitan dalam menjalani hubungan
percintaan dengan laki-laki. Tidak jarang menurut mereka, banyak laki-laki yang justru hanya menginginkan tubuh ataupun uang mereka, bukan untuk mencintai mereka dengan tulus. Selain itu, tidak sedikit pekerja seks komersial yang merupakan seorang janda yang harus menghidupi kebutuhan anaknya (dalam http://www.gatra.com/2007-06-12/versi_cetak.php? id=105263). Salah satunya adalah Hana (bukan nama sebenarnya) seorang pekerja seks komersial yang memiliki seorang anak, mengaku bahwa selama ini ia menitipkan anaknya kepada kerabatnya agar ia bisa mencari uang dengan tenang.
Sebagai pekerjaan yang oleh masyarakat dianggap bertentangan dengan nilai-nilai agama dan aturan sosial, pekerja seks komersial akan mungkin mengalami keterasingan (May, dalam Jahoda, 1958). Keadaan tersebut ditandai dengan pengasingan dari lingkungan teman-temannya, kehilangan pengalaman bermasyarakat dan merasa takut terhadap orang lain. Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa keadaan mental yang negatif akan dicapai oleh individu yang mengalami keterasingan. Bagi pekerja seks komersial, tentu saja hal ini akan mempengaruhi perkembangan diri dan kehidupannya pada umumnya.
berkemungkinan untuk mengalami keterasingan dari lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, kehidupan pekerja seks dewasa muda tidak dapat berjalan seperti layaknya perempuan dewasa muda pada umumnya.
Menurut Seligman (2002), manusia selalu disibukkan dengan keinginan untuk menghilangkan segala sesuatu yang tidak menyenangkan yang ada dalam dirinya. Selain itu, Carr (2004) berpendapat bahwa pada dasarnya keinginan yang cukup besar dalam diri manusia ialah keinginan untuk hidup secara baik, dalam arti semua proses hidup manusia seperti sekolah, bekerja, dan menikah dapat berjalan sebagaimana mestinya.
Selain itu, kebahagiaan adalah keadaan yang sangat diidamkan setiap orang dalam rentang kehidupannya (Carr, 2004). Untuk mencapai hal tesebut tentu saja manusia dengan segala daya upayanya akan selalu melakukan hal-hal yang membuatnya bahagia atau menuntunnya pada kebahagiaan. Menurut Seligman (2002), kebahagiaan bisa tentang masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Kebahagiaan masa lalu mencakup kepuasan, kelegaan, kesuksesan, kebanggaan, dan kedamaian. Kebahagiaan masa sekarang mencakup kenikmatan dan gratifikasi. Sedangkan kebahagian masa depan mencakup optimisme, harapan, keyakinan, dan kepercayaan.
Menurut Bachtiar dan Purnomo (2007), profesi pekerja seks komersial memiliki permasalahan tersendiri, baik yang bersifat internal maupun eksternal. Pertentangan antara permasalahan internal dan eksternal tersebut menurut peneliti dapat mempengaruhi kebahagiaan yang dirasakan oleh pekerja seks komersial. Seorang perempuan yang memang
sudah memiliki keinginan dalam dirinya sendiri untuk menekuni pekerjaan sebagai pekerja seks komersial dapat dikatakan mungkin akan dapat meraih kebahagiaan karena mereka menjalani pekerjaan yang memang benar-benar mereka inginkan. Berbeda apabila seorang perempuan merasa terpaksa oleh keadaan untuk menjalani pekerjaan sebagai pekerja seks komersial, kebahagiaan yang mereka rasakan mungkin akan cenderung lebih rendah.
Weinberg (1960) menyatakan bahwa pekerja seks komersial cenderung kurang memiliki penghargaan terhadap masa lalu ataupun masa yang akan datang sehingga terkadang membuatnya merasa bahwa hidup yang dijalaninya tidak memiliki arti dan tujuan. Hal ini berkaitan dengan konsep kebahagiaan dari Seligman (2002). Menurut peneliti, dimasa lalunya seorang pekerja seks komersial memiliki permasalahan yang berbeda-beda yang pada akhirnya membuat mereka harus menjalani pekerjaannya. Masa lalunya tersebut tentu secara subyektif akan dihayati dengan berbeda-beda bagi setiap individu. Mengenai masa depannya, juga perlu untuk diketahui bagaimana sebenarnya seorang pekerja seks komersial menghayati masa depannya.
seks komersial kelas bawah di Jakarta karena ketika penelitian berlangsung secara tidak sengaja peneliti memperoleh subyek yang menurut Hull (dalam Surtees, 2003) merupakan pekerja seks kelas bawah. 1) Faktor apa yang melatarbelakangi subyek menjadi pekerja seks komersial? 2) Seperti apakah kehidupan yang dijalani subyek sebagai pekerja seks komersial? 3) Bagaimana penghayatan subyek mengenai kehidupan yang dijalaninya sebagai pekerja seks komersial? 4) Bagaimana gambaran kebahagiaan masa lalu subyek? 5) Bagaimana gambaran kebahagiaan masa sekarang subyek? 6) Bagaimana gambaran kebahagiaan masa depan subyek?
Pekerja Seks Komersial
Kinsey (1963) menyebutkan bahwa pelacuran merupakan suatu bentuk tertentu dari hubungan kelamin di luar perkawinan, yaitu berhubungan dengan siapapun secara terbuka dan hampir selalu dengan pembayaran, baik untuk persebadanan maupun kegiatan seksual lainnya yang memberikan kepuasan pihak pembayar atau pelanggan. Selain itu, Miracle et al. (2003) menyebutkan bahwa prostitusi merupakan pertukaran jasa seksual dengan uang atau harta lainnya. Bagi Kinsey (1963) perbuatan ini dilakukan sebagai mata pencaharian.
Surtees (2003) membagi kerja seks menjadi dua macam yaitu kerja seks yang lebih langsung dan pekerja seks tidak langsung. Pekerja seks langsung adalah mereka yang melakukan bentuk-bentuk kerja seks terbuka, yaitu:
1. Kompleks rumah bordil resmi (lokalisasi): tempat ini merupakan manifestasi yang paling formal dan sah menurut hukum di dalam sektor seks, yang terdiri dari sekumpulan tempat yang dikelola oleh pemilik dan diawasi
oleh pemerintah. Lokalisasi ini berbeda dengan rumah bordil yang cenderung bertempat di luar lokalisasi dan tidak diatur oleh pemerintah.
2. Kompleks hiburan: tempat ini adalah lokalisasi di mana layanan seks seringkali tersedia selain bentuk-bentuk hiburan lain. Dalam beberapa kasus, pekerja seks komersial beroperasi secara independen sementara dalam situasi lain layanan seksual tersedia melalui pihak manajemen tempat tersebut.
3. Wanita jalanan: mereka ini adalah pekerja seks komersial yang menjajakan layanan seks di jalan atau di tempat terbuka seperti di taman, stasiun kereta apai, dan sebagainya.
Miracle et.al. (2003) juga membagi pekerja seks komersial menjadi tiga kategori utama berdasarkan lokasi dimana mereka melakukan pekerjaannya, yaitu wanita panggilan, pekerja seks di rumah bordil, dan wanita jalanan. Sedangkan berdasarkan penghasilan setiap bulannya, Hull (dalam Surtees, 2003) membagi kelas pekerja seks komersial berdasarkan penghasilan mereka setiap bulannya, yaitu:
1. Kelas Terbawah: Rp 900.000,00 per bulan.
2. Kelas Bawah: Rp 2.250.000,00 per bulan.
3. Kelas Menengah: Rp 4.500.000,00 - Rp 6.750.000,00 per bulan.
4. Kelas Atas: Rp 9.000.000,00 - Rp 13.500.000,00 per bulan.
5. Kelas Tertinggi: Rp 27.000.000,00 per bulan.
yang ”dipaksa” oleh kondisi lingkungan, keadaan rumah tangga yang kandas, adanya kekecewaan karena percintaan yang gagal, atau kurangnya kesempatan kerja di pasar kerja. Adanya kebutuhan yang mendesak untuk mendapatkan penghasilan untuk membiayai diri sendiri, keluarga, dan anak-anak juga merupakan pendorong untuk masuk dalam kerja seks. Selain itu Bachtiar dan Purnomo (2007) menambahkan faktor kemalasan, niat lahir batin, dan faktor sakit hati akibat perceraian ataupun percintaan yang gagal, sebagai faktor yang turut mendorong perempuan menjadi PSK.
Kebahagiaan
Csikszentmihalyi (1997) menyebutkan bahwa kebahagiaan adalah prototipe dari emosi positif. Menurut Myers dan Diener (dalam Duffy dan Atwater, 2005) kebahagiaan merujuk pada banyaknya pikiran positif tentang kehidupan yang dijalani seseorang. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Carr (2004) menyatakan bahwa kebahagiaan adalah keadaan psikologis yang positif yang terlihat dari tingginya tingkat kepuasan hidup, tingkat perasaan positif, dan rendahnya tingkat perasaan negatif. Berdasarkan pernyataan-pernyataan tersebut peneliti membentuk kesimpulan bahwa kebahagiaan adalah keadaan psikologis yang positif dimana seseorang memiliki emosi positif berupa kepuasan hidup dan juga pikiran dan perasaan yang positif terhadap kehidupan yang dijalaninya.
Menurut Seligman (2002) emosi positif bisa tentang masa lalu, masa sekarang, atau masa depan. Dengan mempelajari ketiga macam kebahagiaan ini, seseorang bisa menggerakkan emosi ke arah yang positif dengan mengubah perasaan tentang masa lalu, cara
berpikir tentang masa depan, dan cara menjalani masa sekarang. Kebahagiaan jangka panjang muncul meningkat sejalan dengan banyaknya emosi positif yang dialami seseorang pada saat mengingat masa lalu, menatap masa mendatang, dan menjalani masa kini.
Emosi positif tentang masa lalu mencakup kepuasan, kelegaan, kesuksesan, kebanggaan, dan kedamaian. Secara umum, penilaian manusia akan masa lalunya tercermin dari penilaian kepuasan manusia dalam menjalani masa lalunya (Seligman, 2002). ada dua cara untuk membawa perasaan-perasaan tentang masa lalu menuju ranah kelegaan dan ranah kepuasan, yaitu dengan bersyukur dan memaafkan masa lalu. Kemudian kebahagiaan masa sekarang mencakup dua hal yang sangat berbeda, yaitu kenikmatan (pleasure) dan gratifi kasi. Sedangkan emosi positif tentang masa depan mencakup keyakinan, kepercayaan, kepastian, harapan, dan optimisme. Orang yang optimis percaya bahwa di masa depan selalu ada harapan untuk hidup yang lebih baik.
Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Prosedur pemilihan partisipan menggunakan teknik snowball atau berantai.
Partisipan
Penelitian ini melibatkan 3 subjek yang merupakan pekerja seks komersial kelas bawah di Jakarta yang berusia 20-40 tahun dan juga berpenghasilan kurang dari Rp.2.250.000,00 tiap bulannya.
Pengukuran
dan time sequence (Stewart dan Cash, 2000). Observasi juga dilakukan sebagai metode tambahan. Hasil wawancara ditulis dalam bentuk verbatim kemudian dilakukan pemadatan fakta. Fakta yang terkumpul kemudian dianalisa berdasarkan teori yang digunakan dalam penelitian.
Hasil
Ada empat hal yang melatarbelakangi subyek dalam menjalani pekerjaan sebagai PSK, antara lain terdesak kebutuhan ekonomi, latar belakang pendidikan yang rendah, sakit hati dengan kehidupan di masa lalu, dan juga adanya pihak ketiga yang menawarkan solusi. Pada salah satu subyek ada hal yang berbeda dari subyek lainnya, awal mulanya menjadi PSK karena dirinya merupakan korban perdagangan perempuan di Kalimantan.
Masalah yang sering dihadapi oleh ketiga subyek adalah razia, pertengkaran dengan sesama rekan PSK karena perebutan tamu, masalah yang berhubungan dengan tamu seperti tidak dibayar dan diracuni tamu. Ketika sedang memberikan jasa seksual pada tamunya, mereka merasa senang karena mendapat uang dan juga sekaligus sedih. Semua subyek menyadari dan merasa takut akan risiko penyakit menular seksual. Dua subyek bersikap seolah-olah tidak peduli, sedangkan satu subyek memandangnya sebagai resiko dari pekerjaannya. Dua orang subyek meyakini obat antibiotik dapat melindungi mereka dari penyakit.
Karena memiliki masalah dengan keluarganya, sampai sekarang masing-masing subyek memilih untuk tidak berhubungan lagi dengan keluarga. Hanya satu subyek yang merasakan penyesalan karena terasing dari keluarganya. Dua subyek yang
memiliki anak, sama-sama tidak ingin anaknya mengetahui pekerjaannya dan mengikuti jejak mereka sebagai PSK. Ketiga subyek saat ini juga sedang menjalani hubungan percintaan. Mereka tidak ingin pacar atau suaminya melarang dirinya menjadi PSK. Dua subyek menjalani pekerjaannya dengan sepengetahuan pacar atau suaminya, sedangkan satu subyek menutupi pekerjaan dari pacarnya. Status mereka sebagai PSK dianggap sebagai salah satu penghambat bagi kelancaran hubungan percintaan mereka.
Setiap subyek menyadari bahwa pekerjaannya bukan pekerjaan yang baik dan merasa dirinya banyak memiliki dosa. Namun, keinginan untuk menjalani pekerjaan lain hanya dirasakan oleh satu subyek. Perasaan berdosa, bosan, dan ingin bertobat tidak dapat membuat mereka berhenti dari pekerjaannya. Karena tidak ada lagi pekerjaan lain yang berpenghasilan sama besarnya dengan yang didapatkan sekarang, ketiganya memandang pekerjaannya sekarang sebagai satu-satunya pekerjaan yang bisa mereka lakukan.
terlihat belum memiliki perasaan bersyukur atas kehidupannya selama ini
Ketiga subyek merasakan kenikmatan dalam menjalani kehidupannya. Semua subyek merasakan kenikmatan ragawi berupa uang hasil bekerja, sedangkan dua subyek merasakan kenikmatan yang lebih tinggi dengan bentuk yang berbeda-beda Penelitian ini juga menggambarkan bahwa tidak semua subyek mengalami gratifi kasi atau fl ow dalam kegiatannya. Hanya dua subyek yang mengalami gratifi kasi dan dengan bentuk yang berbeda. Seorang subyek mengalami gratifi kasi sosial sedangkan seorang lagi merasakan gratifi kasi pikiran.
Semua subyek mempunyai rencana yang berbeda-beda untuk masa depannya. Seorang subyek memiliki keinginan untuk meninggalkan statusnya sebagai PSK dan mencari pekerjaan baru, sedangkan dua subyek belum memiliki keinginan untuk mengubah pekerjaannya. Dua orang subyek juga menyatakan keinginannya untuk menikah dengan pacarnya. Mengenai kebahagiaan tentang masa depan, ketiga subyek tidak menunjukkan emosi positif keyakinan ketika berbicara tentang masa depan. Dikatakan bahwa ketiga subyek merupakan orang yang cenderung pesimis dalam menghadapi kehidupannya di masa depan. Mereka tidak yakin bahwa kejadian baik akan terjadi di kehidupan mereka di masa depan.
Diskusi
Ketiga subyek belum memaafkan masa lalunya yang terkait dengan hubungannya dengan orang tua dan juga mengenai hubungannya dengan laki-laki. Menurut McCullough dan Witvliet (2005) inidividu lebih cenderung memaafkan
pada hubungan interpersonal yang mereka merasakan adanya kepuasan, merasa memiliki kedekatan dan komitmen. Dalam penelitian ini dapat dikatakan bahwa ketiga subyek belum memaafkan perbuatan orang tuanya karena mereka merasa belum puas terhadap hubungan interpersonal mereka dengan orang tua. Mereka juga merasa tidak memiliki kedekatan dan komitmen terhadap orang tua mereka. Mereka justru tidak menganggap orang tua mereka memiliki peran dalam kehidupan mereka sekarang. Hal inilah yang dapat dikatakan sebagai salah satu penyebab mereka belum memaafkan masa lalunya.
Diketahui pula bahwa salah satu subyek belum merasakan kepuasan akan kehidupan yang dijalaninya. Hal tersebut dapat dikatakan terkait dengan penerimaan dirinya sebagai seorang PSK. Menurut Ryff (1996) individu mempunyai penerimaan diri yang rendah apabila ia merasa tidak puas dengan dirinya, merasa kecewa dengan kehidupan yang telah dijalani, mengalami kesulitan dengan sejumlah kualitas pribadinya, dan ingin menjadi individu yang berbeda dengan dirinya saat ini. Dalam hal ini, diantara ketiga subyek hanya Lani yang menunjukkan keinginan untuk mencari pekerjaan lain, dan tidak menikmati pekerjaannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa subyek tersebut tidak memiliki penerimaan diri akan kehidupan yang dijalani, khususnya mengenai pekerjaan yang dilakukannya.
kejadian yang baik terjadi pada mereka. Dapat dikatakan bahwa ketiga subyek penelitian ini tidak memiliki harapan yang baik akan kehidupan mereka di masa mendatang. Akan tetapi ketika kita memahami kehidupan yang mereka jalani sekarang, sebenarnya dapat dikatakan bahwa harapan mereka tersebut realistis dengan kehidupan yang mereka jalani sekarang. Menurut Hurlock (1974) harapan yang realistis bisa timbul bila individu menentukan sendiri harapannya yang disesuaikan dengan pemahaman mengenai kemampuannya, ia juga memahami keterbatasan dan kekuatan dirinya dalam mencapai harapan tersebut. Jadi, ketika ketiga subyek penelitian memiliki harapan, sepertinya mereka telah mempertimbangkan kemampuan dirinya dalam mencapai harapan tersebut. Dapat disimpulkan bahwa subyek penelitian tidak mampu untuk berharap banyak terhadap kehidupannya di masa depan karena mereka juga mempertimbangkan kehidupan yang mereka jalani sekarang.
Menurut Weinberg (1960), dampak kerja seks yang cukup merusak bagi pekerjanya adalah sikap dan hubungan sosial antara pekerja seks dengan lingkungannya yang kemudian mempengaruhi identitas diri yang dimiliki pekerja seks tersebut.. Dalam penelitian ini terlihat bahwa ketiga subyek memiliki kecenderungan untuk menerima atau mengembangkan sikap yang tidak benar dan merusak terhadap dirinya sendiri. Mereka seolah-olah sudah tidak peduli dengan dosa, tidak takut akan kehidupan setelah mati dan sebagainya. Hal ini menurut Weinberg dapat mungkin terjadi karena label yang diberikan oleh masyarakat terhadap perempuan yang berprofesi sebagai pekerja seks komersial. Namun
menurut peneliti alasan tersebut tidaklah sepenuhnya benar. Mereka mungkin menyadari bahwa pekerjaan mereka bukanlah pekerjaan yang baik untuk dijalankan, mereka juga mungkin sudah cukup banyak mengalami manis dan pahitnya pekerjaan yang mereka jalani. Karena pekerjaan tersebut merupakan satu-satunya yang bisa mereka lakukan, maka mereka akan membentuk sikap yang membenarkan seluruh perbuatan mereka termasuk mengenai pada saat mereka melakukan pekerjaannya. Pembenaran tersebut mereka lakukan agar mereka merasa nyaman dalam menjalani kehidupannya. Pada akhirnya, dengan memiliki sikap tersebut akan membantu mereka untuk meraih kebahagiaan dalam menjalani kehidupannya.
subyek justru merasa bahwa akan sia-sia jika dirinya tetap menjalankan ibadah agama sesuai yang dianutnya. Bagi mereka hal tersebut tidak akan mungkin dapat menghapus dosa mereka yang memang sudah memuncak. Oleh karena itu, pernyataan Weinberg belum sepenuhnya sesuai dengan fakta yang peneliti dapat pada penelitian ini.
Ketiga subyek merasa bahagia dalam menjalani kehidupannya, padahal dapat dikatakan kehidupan yang mereka jalani memiliki perbedaan yang cukup bisa mempengaruhi kebahagiaan yang mereka rasakan. Kehidupan yang mereka jalani dapat dikatakan cukup keras dan jauh berbeda dengan kehidupan perempuan seusianya. Ketiga subyek mungkin sudah mengalami mati rasa akan apapun yang terjadi pada kehidupannya, sehingga mereka pun merasa senang-senang saja dalam menjalani kehidupannya. Selain itu, sekarang ini mereka merasa bahagia karena menurut peneliti secara kebetulan mereka hidup di lingkungan yang mereka persepsikan aman untuk menjalani kehidupannya. Dua subyek tinggal di lingkungan yang memang merupakan lingkungan dimana perempuan dengan profesi sepertinya hidup, sedangkan satu subyek lainnya menyembunyikan identitasnya agar bisa merasakan keamanan dalam menjalani kehidupannya. Keadaan ini pulalah yang membuat keterasingan yang mereka alami tidak memiliki dampak yang begitu besar terhadap kehidupannya secara keseluruhan.
Kepribadian subjek dapat mempengaruhi kedalaman wawancara. Hal ini dapat terlihat dari perbedaan kedalaman informasi antara subjek yang satu dengan subjek yang lainnya. Subjek yang mempunyai kecenderungan introvert mengungkapkan jawaban
wawancara tidak secara detail dan mendalam, juga seringkali harus dilakukan probing untuk mendapatkan jawaban yang dibutuhkan oleh peneliti. Sedangkan subjek yang cenderung ekstrovert seringkali mengungkapkan jawaban terlalu banyak sehingga seringkali pernyataan yang terlontar melenceng dari pertanyaan utama.
Diener, et.al (dalam Carr, 2004) mengatakan bahwa orang dengan profi l kepribadian yang berbeda memiliki tingkat kebahagiaan yang berbeda pula. Menurut peneliti, dari hasil wawancara dan observasi terlihat bahwa dua subyek memiliki kepribadian yang paling terbuka bila dibandingkan satu subyek lainnya. Mereka orang yang sangat terbuka dengan segala pertanyaan. Terutama salah satu dari dua subyek tersebut selalu terlihat kesungguhannya dalam menjawab pertanyaan. Mungkin karena itulah kedua subyek tersebut memiliki tingkat kebahagiaan yang relatif lebih tinggi bila dibandingkan dengan satu subyek lainnya.
Dari penelitian juga terlihat bahwa dua subyek mendapatkan kesenangan dari hubungannya dengan orang-orang terdekatnya. Satu subyek merasa senang karena kehadiran anak-anak dan juga pacarnya. Satu subyek lain juga memperoleh gratifi kasi dari kegiatan yang berhubungan dengan suami dan teman-teman seprofesinya. Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa kebahagiaan yang dirasakan setiap subyek memiliki hubungan dengan orang-orang terdekatnya atau signifi cant others. Sehingga dapat disimpulkan bahwa signifi cant others memiliki peran terhadap kebahagiaan yang dirasakan subyek.
memperoleh data yang lebih mendetil. Gambaran kebahagiaan pada partisipan seharusnya bisa lebih kaya akan insight serta detil-detil. Selain itu, peneliti juga merasakan kesulitan dalam menggali kebahagiaan yang lebih dalam dirasakan oleh subyek. Pada dua subyek terakhir, peneliti tertolong oleh keterbukaan mereka dalam menjawab pertanyaan sehingga kesulitan yang dirasakan tidak begitu berarti. Namun tentu saja tidak semua subyek penelitian dapat memiliki keterbukaan seperti yang dinginkan peneliti, maka solusi konkrit yang dapat dilakukan adalah dengan memahami dan kemudian menerapkan metode wawancara mendalam secara efektif.
Menurut Seligman (2002) kebahagiaan yang berkualitas adalah kebahagiaan otentik yang dapat diperoleh jika seseorang mengetahui dan menggunakan kekuatan dasar (yang berupa karakter positif) yang dimilikinya dan menggunakannya setiap hari dalam setiap kegiatan. Dalam penelitian ini, pada awalnya peneliti juga ingin menggetahui gambaran kebahagiaan otentik yang dirasakan subyek dengan cara menggali karakter positif berupa kekuatan dan kebajikan yang dimiliki oleh subyek. Namun setelah mewawancarai dua orang subyek, peneliti menyadari bahwa tidak mudah untuk menggali kekuatan dasar yang dimiliki subyek hanya melalui wawancara. Sebenarnya, ada cara lain untuk mengetahui kekuatan dan kebajikan yang dimiliki subyek, yaitu melalui kuesioner VIA-Strength. Peneliti tidak menggunakan kuesioner tersebut karena jumlah item dalam kuesioner tersebut sangatlah banyak, yaitu berjumlah 240 item. Selain itu tata bahasa dalam kuesioner tersebut terbilang tidak mudah untuk dipahami, terutama bagi PSK yang rata-rata tidak
memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi. Peneliti mengkhawatirkan subyek penelitian akan merasakan kesulitan dan menjadi bosan ketika mengisi kuesioner tersebut, atau bahkan menolak untuk mengisi kuesioner tersebut. Lalu kemudian keadaan tersebut justru akan mempengaruhi proses wawancara yang akan dilakukan. Oleh karena itu pada akhirnya peneliti memutuskan untuk tidak menggali bagaimana gambaran kebahagiaan otentik pada subyek penelitian ini.
Kesimpulan
Mengenai kebahagiaan pada masa lalu, semua subyek memiliki masa lalu pahit yang belum dapat mereka maafkan, yang kemudian menghalangi mereka untuk mencapai kelegaan akan masa lalunya. Hanya dua subyek yang memiliki emosi positif berupa kepuasan atas kehidupan yang mereka jalani dan juga menggambarkan perasaan bersyukur atas kehidupannya.
Ketiga subyek merasakan kenikmatan dalam menjalani kehidupannya sekarang. Namun hanya dua subyek yang mengalami gratifi kasi dan dengan bentuk yang berbeda. Seorang subyek mengalami gratifi kasi sosial sedangkan seorang lagi merasakan gratifi kasi pikiran. Dua orang subyek tersebut akan lebih tahan terhadap gangguan depresi karena hadirnya gratifi kasi pada kegiatannya, bila dibandingkan dengan subyek yang tidak pernah mengalami gratifikasi. Selain itu dua subyek tersebut juga tidak akan merasa dirinya menjadi manusia depresi di tengah kekayaan materiil yang mereka miliki dan kelaparan spiritual.
disimpulkan bahwa ketiga subyek akan kurang tahan terhadap depresi, tidak lebih baik kinerjanya dan tidak lebih sehat secara fi sik bila dibandingkan dengan orang yang cenderung optimis.
Secara keseluruhan, setiap subyek merasakan kebahagiaan terhadap kehidupan yang dijalaninya. Namun kebahagiaan tersebut memiliki intensitas yang berbeda. Dua subyek memiliki kebahagiaan yang relatif lebih tinggi daripada satu subyek lainnya. Dua subyek tersebut juga menikmati pekerjaannya sebagai PSK. Dapat ditarik kesimpulan bahwa ketiga subyek memiliki perasaan dan pikiran positif akan kehidupan yang dijalaninya, namun belum memiliki perasaan positif akan kehidupan yang akan datang. Selain itu, tidak semua subyek memiliki emosi positif berupa kepuasan akan kehidupannya. Hanya dua subyek yang merasakan kepuasan akan kehidupan yang dijalaninya.
Saran
Terkait dengan metode penelitian, peneliti masih menggunakan metode observasi dalam wawancara sebagai metode pengambilan data tambahan, bukan observasi murni maupun observasi sebagai metode pengambilan data. Ada baiknya jika penelitian berikutnya mengusahakan agar setidaknya dapat melakukan observasi murni terhadap PSK untuk memperoleh data yang akurat dan dapat diricek kembali antara hasil wawancara dengan hasil observasi. Dengan demikian, penggunaan metode observasi dengan behavioral checklist atau instrumen sejenis akan semakin memperkuat data yang diperoleh melalui metode wawancara.
Selain itu, seorang peneliti kualitatif harus mempersiapkan dirinya dengan lebih baik lagi, terutama ketika akan
memasuki lapangan penelitian dan melakukan kontak personal dengan subyek penelitian. Salah satu solusi yang dapat diberikan adalah melatih kemampuan wawancara agar dapat menggali lebih dalam terkait dengan topik penelitian.
Mengingat bahwa tipe penelitian ini adalah kualitatif, pada dasarnya akan lebih menarik jika penelitian dapat dilakukan terhadap beberapa subyek lagi, yang juga berasal dari tempat yang berbeda. Dalam penelitian ini, peneliti hanya berhasil mengumpulkan subyek yang ketiganya merupakan PSK kelas bawah yang berdomisili dan bekerja di Kemayoran, Jakarta Pusat. Akan lebih baik jika subyek penelitian selain diperbanyak yaitu tidak hanya 3 orang, melainkan juga merupakan PSK yang juga beroperasi di beberapa tempat prostitusi di Jakarta yang juga berasal dari kelas yang berbeda. Hal ini diharapkan dapat memperoleh data yang lebih kaya terkait dengan topik penelitian.
Daftar Pustaka
Bachtiar, R. & Purnomo, E. (2007). Bisnis Prostitusi: Profesi yang Menguntungkan. Yogyakarta: Pinus
Carr, A. (2004). Positive Psychology : The Science of Happiness and Human Strengths. Hove & New York : Brunner – Routledge Taylor & Francis Group.
Csikszentmihalyi, M. (1997). Finding Flow: The Psychology of Engagement With Everyday Life, New York: Basic Books.
Duffy, K.G. & Atwater. E. (2005). Psychology For Living (8th ed).
New Jersey: Pearson Prentice Hall.
Hurlock, E. B. (1974). Personality Development. New Delhi: McGraw-Hill Publishing Company.
Hurlock, E. B. (1983). Developmental Psychology: A Life-span Approach (5th Ed.), Boston: McGraw-Hill.
Jahoda, M. (1958). Current Concepts of Positive Mental Health. New York: Basic Books.
Jones, G.W., Sulistyaningsih. E., & Hull, T.H. (1997). Pelacuran di Indonesia, Sejarah dan Perkembangannya. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
Kinsey. C.A. (1963) Sexual Behaviour in The Human Male. London: W.B. Saunders Company.
McCullough, M.E., & Witvliet, C.V. (2005). The Psychology of Forgiveness. C.R. Snyder & Shane J. Lopez (Ed.). New York: Oxford University Press.
Miracle, T.S., Miracle, A.W., & Baumeister, R.F.(2003). Human
SexualityMeeting Your Basic Need, New Jersey: Prentice Hall.
Nisbet, R.A. (1961). The Study of Social Problems. New York: Brace & World Inc.
Papalia, D.E., Feldman, R.D., & Olds, S.W. (2004). Human development (9th ed.). New York: McGraw-Hill.
Rahayu, D.D. (2002). Gambaran Kesejahteraan Psikologis Pekerja Seks Komersial Remaja di Panti Sosial Mulya Jaya. Skripsi tidak dipublikasikan, Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, Depok.
Ryff, C. D. (1996). Psychological Well Being. Encyclopedia of Gerontology. Vol. 2. Madison: Academic Press, Inc.
Seligman, M. (2002). Authentic Happiness: Using The New Positive Psychology to Realize Your Potential for Lasting Fulfi llment, New York: Free Press.
Shaw, M.E., & Constanzo, P.R. (1985). Theories of Social Psycology. International Student Edition. Singapore: McGraw-Hill.
Stewart, C.J. & Cash, W.B. (2000). Interviewing Principles and Practices. USA: McGraw-Hill.
Surtees, R. (2003). Pekerja Seks Komersial. Ruth Rosenberg (Ed.). Jakarta: International Catholic Migration Commission