JURNAL AL-IQDAM Vol. II No. 4 77
PENDIDIKAN ISLAM MASA REFORMASI
BADERIAH
Abstrak
: Dalam pendidikan, reformasi bukanlah langkah akhir
namun reformasi harus segera diimplementasikan dan
diiringi dengan upaya revitalisasi pendidikan, termasuk
pendidikan Islam yang sekian lama telah dinanti oleh
segenap umat. Istilah itu menunjukkan bahwa
pendidikan
Islam
harus
kembali
dipertajam
pelaksanaannya seimbang dengan sistem pendidikan
nasional. Reformasi adalah upaya yang mampu
mengembalikan otonomi pedagogis pada sekolah dan
guru dengan meninjau kembali keseluruhan kebijakan
yang ada mengenai hubungan antara birokrasi
pendidikan, sekolah, dan guru
Kata kunci: Pendidikan Islam, Reformasi
I. PENDAHULUAN
Sejak kekuasaan Orde Baru tumbang pada Mei 1998 dan digantikan oleh rezim yang menamakan diri sebagai ”Reformasi Pembangunan”, meskipun demikian sebagaian besar roh era Reformasi masih tetap berasal dari era Orde Baru, tapi ada sedikit perubahan berupa adanya kebebasan pers dan multi partai.1 Pada era reformasi, masyarakat
Indonesia ingin mewujudkan perubahan dalam segala aspek kehidupan, termasuk aspek pendidikan.
1 Pendidikan Islam Pada Masa.html,2010, http://www.canboyz.co.cc/
JURNAL AL-IQDAM Vol. II No. 4 78
Namun, sistem pendidikan yang ada dirasakan masih sentralistik dan akan menghasilkan otoritarisme, menjadikan lembaga-lembaga sekolah sebagai pencetak robot-robot tanpa mampu mengembangkan kreativitas, selanjutnya yang ada hanyalah kepatuhan dan keseragaman yang sangat jauh dari bobot profesional.2
Selanjutnya A. Malik Fadjar mengemukakan beberapa hal yang perlu diperhatikan pada era Orde Baru, yaitu: (1) Pengelolaan pendidikan di masa lampau yang memberi penekanan berlebihan pada dimensi kognitif dan mengabaikan dimensi-dimensi lain ternyata telah melahirkan manusia Indonesia dengan kepribadian pecah; (2) Pengelolaan pendidikan bersifat sentralistik, akibatnya anak didik merasa terisolasi dari lingkungan sosialnya; (3) Selama Orde Baru, pendidikan telah gagal melahirkan SDM yang dapat memainkan peranan dalam percaturan global; (4) Pembangunan pendidikan mengabaikan penegakan demokratisasi dan hak-hak asasi manusia; (5) Selama Orde Baru, pembangunan pendidikan talah gagal meletakkan sendi-sendi dasar pengembangan desentralisasi dan otonomi daerah; (6) Selama Orde Baru, pembangunan pendidikan belum berhasil meletakkan sendi-sendi dasar pembangunan yang berpijak di atas kemajemukan budaya.3
Berangkat dari beberapa hal di atas, maka reformasi dalam bidang pendidikan perlu dilakukan. Dalam pendidikan, reformasi bukanlah langkah akhir namun reformasi harus segera diimplementasikan dan diiringi dengan upaya revitalisasi pendidikan, termasuk pendidikan
2 Abuddin Nata, ed., Kapita Selekta pendidikan Islam (Bandung:
Angkasa, 2003), h.70.
3Tim Nasional Reformasi Menuju Masyarakat Madani Kelompok
JURNAL AL-IQDAM Vol. II No. 4 79
Islam yang sekian lama telah dinanti oleh segenap umat. Istilah itu menunjukkan bahwa pendidikan Islam harus kembali dipertajam pelaksanaannya seimbang dengan sistem pendidikan nasional.
Pendidikan Nasional dewasa ini, dalam pengamatan para pakar pendidikan berada dalam keadaan terpuruk dan memerlukan paradigma baru. Pendidikan Islam sebagai sub sistem pendidikan nasional dengan sendirinya memerlukan paradigma baru. Paradigma pendidikan nasional haruslah sesuai dengan cita-cita reformasi, yaitu membangun masyarakat Indonesia baru. Paradigma baru pendidikan nasional tentunya diarahkan dalam rangka koridor reformasi menuju masyarakat Indonesia baru tersebut. Koridor reformasi, yaitu: demokrasi, menghormati HAM, dan otonomi daerah yang ditujukan kepada tanggung jawab masyarakat di dalam kehidupannya.4
Pendidikan merupakan bagian penting dari proses pembangunan yang ikut menentukan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas suatu negara. Pendidikan juga merupakan investasi dalam pengembangan sumber daya manusia, dimana peningkatan kecakapan dan kemampuan diyakini sebagai faktor pendukung bagi manusia untuk mengarungi kehidupan
Seiring dengan reformasi, pembaruan pendidikan harus menggambarkan satu sistem pendidikan yang demokratis, konsisten, dan kontinyu serta komprehensif. Pendidikan yang ada harus menggiring ke arah terbentuknya manusia yang berkualitas mampu membangun negara dan diri dengan penuh tanggung jawab.
4 H.A.R. Tilaar, Membenahi Pendidikan Nasional, (Jakarta: Rineka
JURNAL AL-IQDAM Vol. II No. 4 80
II. PEMBAHASAN
A. Arti Reformasi Pendidikan.
Isu reformasi pendidikan bukan sesuatu yang baru. Gagasan pembaruan pendidikan sudah bergulir lama di Indonesia. Akan tetapi, reformasi di Indonesia merupakan sebuah gerakan yang memiliki perspektif sejarah politik monumental, karena era reformasi sebagai sebuah era pemerintahan substitusi pemerintahan Orde Baru.
Kata reformasi secara etimologi dapat diartikan pembaruan, perbaikan, dan perubahan.5 Dalam tulisan Mochtar Buchori, reformasi
adalah perubahan yang perlu dilakukan dalam sekolah tanpa mengubah pondasi dan struktur sistem yang ada.6 Dapat dikatakan pula bahwa
reformasi adalah upaya yang mampu mengembalikan otonomi pedagogis pada sekolah dan guru dengan meninjau kembali keseluruhan kebijakan yang ada mengenai hubungan antara birokrasi pendidikan, sekolah, dan guru.7 Iklim reformasi harus mampu memposisikan masyarakat dan
sekolah (guru) untuk dapat secara bebas mengemukakan ide dan sumbangannya dalam pendidikan.
Satu kata yang mengikuti kata reformasi adalah pendidikan. Dalam arti luas pendidikan adalah proses yang berkaitan dengan upaya untuk mengembangkan manusia seutuhnya, yakni meliputi tiga aspek kehidupan baik itu pandangan, sikap, maupun keterampilan hidup.8
5 Pius A. Partanto, Kamus Ilmiah Populer (Surabaya: Kelompok
Arloka, 1999), h. 60.
6Mochtar Buchori, Ilmu Pendidikan dan Praktek Pendidikan dalam
Renungan (Jakarta: IKIP Muhammadiyah Press, 1994), h. 35.
JURNAL AL-IQDAM Vol. II No. 4 81
Jadi reformasi pendidikan berarti segenap upaya yang dilakukan baik itu oleh pemerintah maupun masyarakat untuk memperbaiki, mengubah ataupun mempertahakan segala aspek kehidupan yang berkaitan dengan sistem pendidikan agar dengan pendidikan setiap individu dapat mendidik diri dan masyarakat, sehingga apa yang dicita-citakan oleh pendidikan Indonesia dapat tercapai.
Reformasi dalam bidang pendidikan sulit dilakukan bila masyarakat tidak disertakan atau dengan kata lain, harus kembali digalakkan demokratisasi sebagai suatu cara hidup yang tentu saja tidak bisa diajarkan oleh sisitem pendidikan yang feodal dan anti demokrasi.
Sejak zaman Belanda hingga orde baru kelihatan terjadi pergeseran hakikat pendidikan. Dunia pendidikan kehilangan wawasan profesional dan patriotismenya, pendidikan tidak lagi menjadi watak dan budaya bangsa.9 Oleh sebab itu, dalam reformasi pendidikan harus
mengarah pada munculnya sikap dan sifat patriotik, profesional dan demokratis. Pendidikan harus berangkat dan kembali pada kultur budaya dan mampu menjadi sarana untuk memanusiakan manusia atau untuk membangun manusia seutuhnya. Dunia pendidikan harus memunculkan ide-ide dan paradigma baru sebagai langkah perbaikan menuju manusia Indonesia seutuhnya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam reformasi pendidikan, di antaranya:
a. Reformasi pendidikan harus dianggap sebagai bagian dari reformasi social ekonomi.
b. Harus disadari bahwa reformasi itu berproses dan tidak mudah untuk mengubah tradisi rakyat yang sudah mengakar.
JURNAL AL-IQDAM Vol. II No. 4 82
c. Reformasi perlu kesediaan dana dan tenaga, oleh sebab itu perlu keikhlasan dan kesadaran semua pihak dalam mengupayakannya.10
Reformasi bukan sesuatu yang revolusioner namun perubahan yang evolutif dan antisifatif serta sejalan dengan perubahan dan tuntutan masyarakat. Apayang dicita-citakan oleh reformasi pendidikan adalah bagaimana agar pendidikan betul-betul dapat menjadi media pemberdayaan umat yang mampu menghasilkan sumber daya manusia berkualitas baik menurut agama maupun ilmu pengetahuan. Sistem pendidikan diharapkan tetap konsisten, kontinyu, dan komprehensif serta tetap mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan. Jadi inti reformasi pendidikan adalah bagaimana mewujudkan pembaruan dalam sistem pendidikan yang diikuti revitalisasi konsep pendidikan Islam menuju masyarakat madani Indonesia yang utuh. Dengan kata lain, apa yang menjadi tujuan pendidikan nasional dapat diwujudkan.
B. Kebijakan Pemerintah tentang Pendidikan Islam Era Reformasi
Berbicara mengenai kebijakan pendidikan Islam tidak bisa dilepaskaan dari kebijkan-kebijakan pemerintah tentang pendidikan nasional. Kebijakan pemerintah Indonesia dalam pendidikan secara umum dapat dibagi ke dalam empat tahapan.11 Masa pra kemerdekaan,
kebijakan pemerintah berada di tangan penjajah yang menerapkan pendidikan diskriminatif terutama terhadap umat Islam. Masa pasca kemerdekaan di zaman orde lama, pendidikan Islam lebih diarahkan pada upaya memperbarui dan memperbanyak lembaga pendidikan Islam yang
10Ibid.
11Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan
JURNAL AL-IQDAM Vol. II No. 4 83
lebih bermutu sejalan dengan prkembangan zaman. Namun, keinginan ini belum terlaksana sepenuhnya, mengingat Indonesia yang baru saja merdeka masih berada dalam keadaan panca roba dan mencari bentuk yang sesungguhnya.
Pendidikan masa orde baru tampak karakteristiknya yang hampir sama dengan kebijakan sosial politiknya, yaitu: sentralistik, depolitisasi masyarakat, penguatan kekuasaan pemerintah dan terkesan kurang serius. Orde baru digeser oleh pemerintahan reformasi yang ditandai oleh semakin berkembangnya wacana demokrasi. Namun berbagai kebijakan yang pernah diterapkan pemerintah orde baru belum seluruhnya dihapus. Sentralisasi pendidikan, seperti dalam hal kurikulum, ujian, akreditasi, dan berbagai aturan lainnya belum jauh berbeda dengan yang pernah diterapkan pemerintah orde baru.
Berdasarkan kebijakan-kebijakan pemerintah tersebut, tampak bahwa pendidikan Islam dalam perjalanannya mengalami berbagai hambatan, tantangan, dan harapan. Sepanjang sejarahnya pendidikan Islam senantiasa mengawal dan mengiringi perjalanan pendidikan nasional. Pendidikan Islam terus berproses bersama dengan pendidikan nasional untuk mengisi kemerdekaan dengan pembangunan dalam berbagai bidang.
JURNAL AL-IQDAM Vol. II No. 4 84
kurikulum dan kelembagaan sampai kebijakan transformasi kelembagaan dari institut ke universitas.12
Tahun 1999 Abdurrahman Wahid menjabat sebagai presiden dan melakukan gebrakan dengan restrukturisasi-refungsionalisasi dan menghapus beberapa Kementerian dan lembaga non Kementerian. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diubah menjadi Kementerian Pendidikan Nasional. Perubahan nama tersebut dimaksudkan Gus Dur untuk menyatukan penyelenggaraan dan pembinaan pendidikan yang ada di Indonesia di bawah satu atap atau dalam satu tangan.Tetapi, Yahya Muhaimin sebagai Mendiknas waktu itu menganggap bahwa secara teknis dan psikologis, tidak mudah melakukan pengalihan pembinaan madrasah dari Kementerian Agama ke Kementerian Pendidikan Nasional dalam waktu singkat sekalipun dengan instruksi Presiden.13
Selain itu, di era reformasi upaya konkrit dalam kerangka menata ulang pendidikan untuk meningkatkan kualitas dengan mewujudkan keterlibatan masyarakat secara lebih besar, secara yuridis formal dilakukan oleh pemerintah dengan mengeluarkan berbagai regulasi, antara lain: UU No. 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daaerah yang disempurnakan dengan UU No. 32 tahun 2004, UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, UU No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, dan PP No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan serta berbagai regulasi lainnya, seperti berbagai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional.
12 Kusmana ed., Paradigma Baru Pendidikan: Restrospeksi dan
Proyeksi Modernisasi Pendidikan Islam di Indonesia ,(Jakarta: IISEP), 2008), h.35-36.
13Marwan Saridjo, Pendidikan Islam dari Masa ke Masa: Tinjauan
JURNAL AL-IQDAM Vol. II No. 4 85
Otonomi daerah14dengan gagasan dasar desentralisasinya
memungkinkan munculnya kreativitas pemerintah dan masyarakat di daerah dalam proses pendidikan. Dalam konteks pelaksanaan otonomi daerah, pemerintah pusat bukanlah penentu tunggal kebijakan publik yang berkaitan dengan pendidikan. Adanya proses desentralisasi15
meniscayakan keterlibatan masyarakat dalam porsi yang lebih besar. Berbagai potensi yang dimiliki masyarakat daerah bisa digali, dibina, dan dikembangkan seoptimal mungkin. Demokratisasi pendidikan akan benar-benar dapat bersemi dan menampakkan hasil seiring dengan semakin terbukanya akses terhadap berbagai sumber pendidikan yang dikelola dengan baik oleh pemerintah daerah.
Dalam konteks pelaksanaan otonomi daerah ditegaskan bahwa sistem pendidikan nasional yang bersifat sentralistik selama ini kurang mendorong terjadinya demokratisasi dan desentralisasi penyelenggaraan pendidikan. Sebab sistem pendidikan yang sentralistik diakui kurang bisa mengakomodasi keberagaman daerah, keberagaman sekolah serta keberagaman peserta didik, bahkan cenderung mematikan partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan.16
Seiring dengan otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan, konsep dan implementasi otonomi sekolah/madrasah sebagai pelaksana
14Adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk
mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pemerintah Daerah.pdf./unit/Sumsel/UU-32-2004.http://bpkp.go.id.(28 Juni 2011).
15Adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah kepada
daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ibid.
16 Hasbullah, Otonomi Pendidikan: Kebijakan Otonomi Daerah dan
JURNAL AL-IQDAM Vol. II No. 4 86
tingkat institusional, merupakan langkah maju dalam proses pendidikan yang memberdayakan. Sekolah atau madrasah tidak hanya bersifat menerima dan pasrah menjalankan segala kebijakan pemerintah, tetapi juga diberi kebebasan untuk meramu dan menjalankan kegiatan pendidikan secara otonom. Kreativitas dan inovasi pimpinan sekolah/madrasah dan guru menemukan momentum yang sangat berarti untuk kemajuan pendidikan di sekolahnya. Dalam hal ini konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)17 merupakan pilihan strategis untuk
dijalankan.
Dalam pandangan Mulyasa, kewenangan yang bertumpu pada sekolah merupakan inti dari MBS yang dipandang memiliki tingkat efektivitas serta memberikan beberapa keuntungan. Pertama, kebijakan dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung kepada peserta didik, orang tua dan guru. Kedua, bertujuan bagaimana memanfaatkan sumber daya lokal. Ketiga, efektif dalam membina peserta didik. Keempat, adanya perhatian bersama untuk mengambil keputusan, memberdayakan guru, manajemen sekolah, dan perubahan perencanaan.18
Dengan perbaikan kinerja sekolah, diharapkan mutu hasil belajar siswa dapat meningkat, sehingga berdampak positif terhadap pencitraan siswa itu sendiri dan sekolah secara umum serta dunia pendidikan dalam lingkup yang lebih luas.
Kelahiran UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga merupakan suatu jalan untuk melakukan reformasi pendidikan. Sesuai dengan tuntutan UU SISDIKNAS, pemerintah
17 Ide pokok dari MBS adalah adanya kewenangan pada sekolah untuk
menjalankan proses pendidikan secara mandiri. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi dan Implementasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), h.24-25.
JURNAL AL-IQDAM Vol. II No. 4 87
meengeluarkan Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang menyebabkan kurikulum yang berlaku di sekolah adalah kurikulum yang sesuai dengan standar nasional pendidikan. Agar kurikulum yang digunakan di sekolah sesuai dengan standar nasional pendidikan, maka Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 tahun 2006 tentang standar isi yang memuat kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kalender pendidikan, standar kompetensi dan kompetensi dasar. Untuk sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan Kementerian Agama tidak ketinggalan mengeluarkan Peraturan Menteri Agama No. 2 tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Standar isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah.19
Dalam UU No. 20 tahun 2003 dijelaskan mengenai ketentuan yang berkaitan dengan institusi pendidikan Islam pada pasal 15 dan pasal 30 ayat 3 bahwa pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal. Lembaga pendidikan formal dijelaskan secara berturut-turut dalam pasal 17, 18, 19, dan 20 mencakup pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Lembaga pendidikan nonformal dijelaskan dalam pasal 26 ayat 4: satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis. Lembaga pendidikan informal dalam pasal 28 ayat 3: Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Ketentuan=ketentuan mengenai lembaga pendidikan Islam yang
19Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI,
JURNAL AL-IQDAM Vol. II No. 4 88
termaktub dalam UU No. 20 tahun 2003 tersebut selanjutnya dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 55 tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan pendidikan Keagamaan.20
Demikian beberapa kebijakan pemerintah dalam perkembangan pendidikan Islam era reformasi sebagai sub sistem dalam pendidikan Nasional.
C. Tantangan Pendidikan Islam Era Reformasi.
Era reformasi merupakan penghujung abad 20 dan akan memasuki abad 21 atau biasa disebut sebagai millennium ketiga ditandai oleh munculnya gejala mengglobal dalam berbagai bidang kehidupan sebagai akibat dari kemajuan dalam bidang teknologi komunikasi dan informasi. Perkembangan masyarakat dunia pada umumnya dan masyarakat Indonesia khususnya sudah memasuki masyarakat informasi yang merupakan kelanjutan dari masyarakat modern dengan cirri-cirinya yang bersifat rasional, berorientasi ke masa depan, terbuka, menghargai waktu, kreatif, mandiri, dan inovatif.21 Kemajuan pada bidang informasi
pada akhirnya, akan berpengaruh pada kejiwaan dan kepribadian masyarakat. Pada era informasi yang sanggup bertahan hanyalah mereka yang memiliki orientasi ke depan dan yang memiliki cirri-ciri masyarakat modern seperti tersebut di atas.
Memasuki abad 21 atau millenium ketiga dunia pendidikan dihadapkan pada berbagai masalah yang sangat urgen, apabila tidak diatasi secara tepat, tidak mustahi dunia pendidikan akan ditinggal oleh zaman. Kesadaran akan tampilnya dunia pendidikan dalam memecahkan
20Ibid., h. 14-21.
21Author Saiful, Pendidikan Islam pada Abad 21 dan Orde Baru,
JURNAL AL-IQDAM Vol. II No. 4 89
dan merespons berbagai tantangan baru yang timbul pada setiap zaman adalah suatu hal yang logis bahkan suatu keharusan. Hal ini dapat dipahami mengingat dunia pendidikan merupakan salah satu pranata yang terlibat langsung dalam mempersiapkan masa depan umat manusia.
Masa depan pendidikan Islam di Indonesia dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.22 Secara internal, dunia pendidikan Islam
pada dasarnya masih menghadapi problem pokok berupa rendahnya kualitas sumber daya manusia, namun demikian dari waktu ke waktu menunjukkan bahwa penyelesaian masalah sumber daya manusia mengalami penanganan yang semakin baik. Di samping adanya usaha perbaikan pada lembaga-lembaga pendidikan, sejak beberapa tahun terakhir ini telah diselenggarakan program-program pelatihan dalam berbagai bidang dan profesi kependidikan, mulai dari pimpinan sekolah, pengelola administrasi dan keuangan, pustakawan, guru, tenaga bimbingan dan penyuluhan.
Secara eksternal, masa depan pendidikan Islam dipengaruhi oleh globalisasi dan demokratisasi.23 Globalisasi tidak semata-mata
memengaruhi sistem pasar, tapi juga sistem pendidikan. Penetrasi budaya global terhadap kehidupan masyarakat Indonesia akan direspons secara berbeda-beda oleh kalangan pendidikan, yaitu: (1) kelompok permisif, cenderung menerima pola dan model budaya global akibat pengaruh teknologi informasi; (2) kelompok defensive, cenderung apriori terhadap budaya dan peradaban global karena semata-mata bukan berasal dari tradisi yang diikutinya selam ini; (3) Kelompok transformatif, berusaha
22 Abuddin Nata ed., Kapita Selekta Pendidikan Islam, op.cit.,h.
104-105.
JURNAL AL-IQDAM Vol. II No. 4 90
mendialogkan antara budaya global dan lokal, sehingga terjadi sintesis budaya yang dinamis dan harmonis.
Di samping globalisasi, demokratisasi juga merupakan faktor eksternal yang memengaruhi masa depan pendidikan Islam di Indoenesia. Tuntutan demokratisasi pada awalnya ditujukan terhadap sistem politik negara sebagai perlawanan terhadap sistem politik otoriter. Dalam perkembangannya, tuntutan ini mengarah pada sistem pengelolaan berbagai kehidupan termasuk pendidikan. Jika sebelumnya sistem pendidikan bersifat sentralistik, seragam, dan dependen, maka belakangan belakangan berkembang tuntutan pengelolaan pendidikan yang lebih otonom dan beragam. Selain itu, tuntutan partisipasi masyarakat khususnya dalam pengawasan mutu pendidikan yang semakin meningkat menuntut pengelolaan pendidikan yang transparan dan bertanggung jawab. Termasuk ke dalam tuntutan demokratisasi ini adalah lebih menekankan pada peran siswa secara aktif.
Dampak globalisasi sebagai akibat dari kemajuan di bidang informasi sebagaimana disebutkan di atas terhadap peradaban dunia merujuk kepada suatu pengaruh yang mendunia. Demikian pula keterbukaan terhadap arus informasi yang menyangkut perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam era globalisasi ini memberikan dampak terhadap lingkungan dan masyarakat. Berbagai perkembangan dan kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti kemajuan teknologi komunikasi, informasi,dan unsur budaya lainnya akan mudah diketahui oleh masyarakat.
Berkenaan dengan hal tersebut di atas, perlu dilakukan upaya-upaya strategis, antara lain:24
1. Visi dan Orientasi pendidikan Islam.
JURNAL AL-IQDAM Vol. II No. 4 91
Tujuan pendidikan dimana sekarang tidak cukup hanya memberikan bekal pengetahuan, keterampilan, keimanan, dan ketakwaan saja, tetapi juga harus diupayakan melahirkan manusia yang kreatif, inovatif,mandiri dan produktif, mengingat dunia yang akan datang adalah dunia kompetitif.
Dalam konteks ini, pendidikan sebagaimana dinyatakan Jusuf Amir Faisal, harus mampu menyiapkan sumber daya manusia yang tidak sekedar sebagai penerima arus informasi global, tetapi juga harus memberikan bekal kepada mereka agar dapat mengolah, menyesuaikan dan mengembangkan segala hal yang diterima melalui arus informasi itu, yakni manusia yang kreatif, dan produktif.25 Manusia yang kreatif dan
produktif inilah, menurut Muchtar Buchari, yang harus dijadikan visi pendidikan, termasuk pendidikan Islam, karena manusia yang demikianlah yang didambakan kehadirannya baik secara individual, social maupun nasional.26
Selain manusia kreatif dan produktif sebagai visi pendidikan Islam, maka yang perlu diperhatikan juga adalah bagaimana visi dan orientasi pendidikan Islam tidak semata-mata menekankan pada pengisian otak, tetapi juga pengisian jiwa, pembinaan akhlak dan kepatuhan dalam menjalankan ibadah.
2. Strategi pembelajaran.
Strategi pembelajaran merupakan salah satu aspek penting dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, dunia pendidikan seharusnya melihat strategi pembelajaran sebagai upaya yang bertujuan membantu
25 Jusuf Amir Feisal, Reorientasi Pendidikan Islam, (Jakarta: Gema Insani
Press, 1995), h. 131.
26 Muchtar Buhari, Ilmu Pendidikan dan Praktek Pendidikan, (Jakarta:
JURNAL AL-IQDAM Vol. II No. 4 92
para lulusan agar dapat melakukan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi dalam rangka ibadah kepada Allah. Maka konsekwensinya perlu dirumuskan kembali mengenai konsep kurikulum yang lebih berorientasi pada konstruksi social, yaitu kurikulum yang dirancang dalam rangka melakukan perubahan sosial.27 Kurikulum semacam ini sifatnya dinamis
karena apa yang dirancang akan disesuaikan dengan tuntutan perubahan sosial.
Demikian pula guru, di samping memiliki informasi, berakhlak baik dan mampu menyampaikannya secara metodologis, juga harus mampu mendayagunakan berbagai sumber informasi ke dalam kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, pembelajaran harus terpusat pada siswa sehingga dapat menimbulkan masyarakat belajar.
3. Keterpaduan antara Ilmu Agama dan Umum.
Bahan pelajaran umum dan agama perlu diintegrasikan dan diberikan kepada siswa sebagai bekal yang memungkinkan ia dapat memiliki kepribadian utuh, yaitu pribadi yang di samping berilmu pengetahuan juga berakhlak mulia. Hal ini penting,karena kehidupan di masa yang akan datang banyak dihadapkan pada tantangan yang bersifat moral.Untuk itu perlu dikembangkan pengamalan akhlak tasawuf di sekolah-sekolah.
III. PENUTUP
Pada bagian ini akan dikemukakan kesimpulan-kesimpulan dari uraian di atas:
1. Reformasi pendidikan adalah upaya bersama untuk mewujudkan pendidikan yang lebih mengarah pada pemberdayaan
27 S. Nasution, Pengembangan Kurikulum, (Bandung: Citra Aditya Bakti,
JURNAL AL-IQDAM Vol. II No. 4 93
pendidikan dengan revitalisasi konsep pendidikan Islam yang pada akhirnya mampu melahirkan individu berkualitas menuju masyarakat madani dengan menjunjung nilai-nilai demokratisasi dan HAM.
2. Kebijakan pemerintah terhadap pendidikan Islam di era reformasi tidak dapat dipisahkan dari kebijakan-kebijakan pemerintah terhadap pendidikan Nasional dengan dikeluarkannya beberapa regulasi secara yuridis formal, antara lain: UU SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003, UU No. 23 Tahun 2004, UU No. 14 tentang Guru dan Dosen, Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional, dan berbagai peraturan Menteri Pendidikan Nasional.
JURNAL AL-IQDAM Vol. II No. 4 94
DAFTAR PUSTAKA
Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan Mengatasi Kelemahan Pendidikan Islam di Indonesia Jakarta:Prenada Media, 2003
______., Kapita Selekta pendidikan Islam (Bandung: Angkasa, 2003
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI, Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan, 2006
Hasbullah, Otonomi Pendidikan: Kebijakan Otonomi Daerah dan Implikasinya terhadap Penyelenggaraan Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Pers, 2006
Jusuf Amir Feisal, Reorientasi Pendidikan Islam, Jakarta: Gema Insani Press, 1995.
Marwan Saridjo, Pendidikan Islam dari Masa ke Masa: Tinjauan Kebijakan Publik tarhadap Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Penamadani, 2010
Muchtar Buhari, Ilmu Pendidikan dan Praktek Pendidikan, Jakarta: IKIP Muhammadiyah Jakarta Press, 1994.
Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah: Konsep, Strategi dan Implementasi, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003
S. Nasution, Pengembangan Kurikulum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1991.