• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengujian Kandungan Unsur Hara Pada Eceng (Eichornia crassipes) Dari Danau Toba Chapter III V

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengujian Kandungan Unsur Hara Pada Eceng (Eichornia crassipes) Dari Danau Toba Chapter III V"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan selama 2 (dua) bulan, yang dimulai dari bulan November sampai Desember 2016.Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Central Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah kantung plastik, alat tulis, ember plastik, kamera, dan pisau kater.Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah Eceng gondok (Eichhornia crassipes).

Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode dekstruksi basah yaitu proses perombakan logam organik dengan menggunakan asam kuat, baik tunggal maupun campuran, kemudian dioksidasi menggunakan zat oksidator sehingga dihasilkan logam anorganik bebas. Adapun kandungan unsur hara yang diuji adalah C-organik, N-total, Fospor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Alumunium (Al), Kadmium (Cd), Tembaga (Cu), Besi (Fe), Mangan (Mn), Timbal (Pb), dan Seng (Zn).

Pengambilan Sampel

Pengambilan sampel Eceng gondok (Eichhornia crassipes) dilakukan

(2)

Proses Pembersihan Sampel

Sampel yang sudah diambil dari Danau Toba kemudian dibersihkan dari kotoran seperti tanah dan pasir yang menempel diakar, batang dan daun eceng gondok.

Proses Pengeringan Sampel

Eceng gondok yang sudah dibersihkan kemudian dikeringkan, pengeringan sampel Eceng gondok (Eichhornia crassipes) dilakukan pada suhu

ruang.

Proses Pengujian Dilaboratorium

Alat yang digunakan yaitu grinder, oven, sarung tangan karet, masker.Bahan yang digunakan yaitu eceng gondok, asam sulfat, asam peroxsida (H2O2

1. Diovenkan sampel dengan suhu 70 ) dan aquades.

0

2. Didekstruksi kering (digrinder) untuk menghaluskan eceng gondok c

3. Kemudian didekstruksi basah menggunakan kjehdalterm (C-Organik tidak menggunakan dekstruksi basah)

4. Diberikan asam sulfat sebanyak 1 ml persampel 5. Diberikan asam peroxsida (H2O2

Sampel diambil dan diencerkan dengan aquades dan dibuat menjadi 100 ml (untuk parameter N-total, Fospor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Alumunium (Al), Kadmium (Cd), Tembaga (Cu), Besi (Fe), Mangan (Mn), Timbal (Pb), dan Seng (Zn).

(3)

C-Organik

Alat yang digunakan sarung tangan karet, masker, Erlenmeyer, alat

spektofotometri. Bahan yang digunakan yaitu serbuk eceng gondok, larutan kalnium dikromat (K2Cr2O7), asam sulfat pekat (H2SO4), aquades, asam posfat

H3PO4, larutan NAF, larutan diphenelamine, dan Ferro amonium sulfat

Fe(NH4)2(SO4)

Prosedur kerja:

2.

1. Ditimbang sampel sebanyak 0,1 gram 2. Dimasukkan sampel kedalam Erlenmeyer 3. Diberikan larutan kalnium dikromat (K2Cr2O7

4. Diberikan asam sulfat pekat (H

) sebanyak 5 ml

2SO4

5. Didiamkan selama setengah jam agar proses penghancuran bahan lebih sempurna

) sebanyak 10 ml

6. Ditambahkan aquades sebanyak 100 ml 7. Ditambahkan asam posfat H3PO4

8. Ditambahkan larutan NAF sebanyak 2,5 ml sebanyak 5 ml

9. Ditambahkan diphenelamine sebanyak 5 tetes

10.Kemudian digoncang sampai larutan berubah dari kehijauan kotor menjadi kehitam-hitaman

11.Titrasikan dengan menggunakan Ferro amonium sulfat Fe(NH4)2(SO4)

12.Dari burret menjadi hijau terang

2

(4)

N-total Tanaman

Alat yang digunakan sarung tangan karet, masker, labu ukur, tabung destilasi N, Erlenmeyer 250 cc, buret dan alat spektofotometri.Bahan yang digunakan yaitu serbuk eceng gondok, NaOH 40%, aquades, phenolftaline, campuran asam keras (kuat) antara HClO4 dan HNO3.

Prosedur kerja:

1. Disiapkan hasil dari pegenceran dekstruksi basah 100 ml 2. Diambil 10 ml dari pengenceran 100 ml tadi

3. Masukkan kedalam labu ukur 4. Ditambahkan NaOH sebanyak 5 ml 5. Ditambahkan aquades sebanyak 50 ml

6. Ditambahkan phenolftaline sbanyak 5 tetes sampai larutan pada labu ukur menjadi warna merah jambu

7. Ditempatkan didalam tabung destilasi dialat destilasi N

8. Hasil destilasi berupa amoniak ditampung kedalam Erlenmeyer yang berisi 25 ml H3BO3

9. Hasil destilasi H

(asam borax) dan ditambahkan 15 ml aquades

3BO3

10.Dititrasikan hasil amoniak dari destilasi dengan menggunakan HCL 0,01 N sehingga warna berubah dari hijau menjadi merah kembali

yang berubah dari warna merah menjadi warna hijau mencapai 75 ml

(5)

Fospor (P) Tanaman

Alat yang digunakan sarung tangan karet, masker, tabung reaksi, mixer, alatspektofotometri. Bahan yang digunakan yaitu serbuk eceng gondok, larutan Reagen Preaksi Pospat B dan larutan standar 0-2-4-6-8 dan 10 ppm P.

Prosedur kerja:

1. Diambil sampel dari dekstruksi basah sebanyak 5 ml 2. Dimasukkan kedalam tabung reaksi

3. Ditambahkan Reagen Preaksi Posfat B 4. Dimixer sehingga bahan menjadi homogen

5. Pada saat yang sama dilakukan pula atau dipipet larutan standar 0-2-4-6-8 dan 10 ppm P sebanyak 5 ml pada masing-masing standar

6. Ditambahkan masing-masing larutan standar dengan 10 ml larutan Reagen Preaksi Posfat B

7. Diuji dan diukur pada spectronic/spectroprotometer dengan Kalium (K) Tanaman

Alat yang digunakan sarung tangan karet, masker, alat flamephotometer.Bahan yang digunakan yaitu serbuk eceng gondok dan larutan standar 0-10-20-30 dan 40 ppm K.

Prosedur kerja:

(6)

Kalsium (Ca) Tanaman

Alat yang digunakan sarung tangan karet, masker, alat flamephotometer.Bahan yang digunakan yaitu serbuk eceng gondok dan larutan standar 0-10-20-30 dann 40 ppm Ca.

Prosedur kerja:

1. Diambil sampel dari dekstruksi basah sebanyak 5 ml 2. Diukur larutan standar 0-10-20-30 dan 40 ppm Ca 3. Diukur pada alat flamephotometer

Magnesium (Mg) Tanaman

Alat yang digunakan sarung tangan karet, masker, alat flamephotometer.Bahan yang digunakan yaitu serbuk eceng gondok dan larutan standar 0-10-20-30 dan 40 ppm Mg.

Prosedur kerja:

1. Diambil sampel dari dekstruksi basah sebanyak 5 ml 2. Diukur larutan standar 0-10-20-30 dan 40 ppm Mg 3. Diukur pada alat flamephotometer

Alumunium (Al) Tanaman

Alat yang digunakan sarung tangan karet, masker, alat flamephotometer.Bahan yang digunakan yaitu serbuk eceng gondok dan larutan standar 0-10-20-30 dan 40 ppm Al.

Prosedur kerja:

(7)

Kadmium (Cd) Tanaman

Alat yang digunakan sarung tangan karet, masker, alat flamephotometer.Bahan yang digunakan yaitu serbuk eceng gondok dan larutan standar 0-10-20-30 dan 40 ppm Cd.

Prosedur kerja:

1. Diambil sampel dari dekstruksi basah sebanyak 5 ml 2. Diukur larutan standar 0-10-20-30 dan 40 ppm Cd 3. Diukur pada alat flamephotometer

Tembaga (Cu) Tanaman

Alat yang digunakan sarung tangan karet, masker, alat flamephotometer.Bahan yang digunakan yaitu serbuk eceng gondok dan larutan standar 0-10-20-30 dan 40 ppm Cu.

Prosedur kerja:

1. Diambil sampel dari dekstruksi basah sebanyak 5 ml 2. Diukur larutan standar 0-10-20-30 dan 40 ppm Cu 3. Diukur pada alat flamephotometer

Besi (Fe) Tanaman

Alat yang digunakan sarung tangan karet, masker, alat flamephotometer.Bahan yang digunakan yaitu serbuk eceng gondok dan larutan standar 0-10-20-30 dan 40 ppm Fe.

Prosedur kerja:

(8)

Mangan (Mn) Tanaman

Alat yang digunakan sarung tangan karet, masker, alat flamephotometer.Bahan yang digunakan yaitu serbuk eceng gondok dan larutan standar 0-10-20-30 dan 40 ppm Mn.

Prosedur kerja:

1. Diambil sampel dari dekstruksi basah sebanyak 5 ml 2. Diukur larutan standar 0-10-20-30 dan 40 ppm Mn 3. Diukur pada alat flamephotometer

Timbal (Pb) Tanaman

Alat yang digunakan sarung tangan karet, masker, alat flamephotometer.Bahan yang digunakan yaitu serbuk eceng gondok dan larutan standar 0-10-20-30 dan 40 ppm Pb.

Prosedur kerja:

1. Diambil sampel dari dekstruksi basah sebanyak 5 ml 2. Diukur larutan standar 0-10-20-30 dan 40 ppm Pb 3. Diukur pada alat flamephotometer

Seng (Zn) Tanaman

Alat yang digunakan sarung tangan karet, masker, alat flamephotometer.Bahan yang digunakan yaitu serbuk eceng gondok dan larutan standar 0-10-20-30 dan 40 ppm Zn.

Prosedur kerja:

(9)

Pengolahan Data Unsur hara mikro

%Al,Cd,Cu,Fe,Mn,Pb,Zn=µ�/��ℎ������������������������� (��)������������� 100

����� ����� ℎ(��) 100

Unsur hara makro

%C−Organik, N, P, K, Ca, Mg = ����������

(10)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Sampel eceng gondok (Eichhornia crassipes) yang diuji diLaboratorium

Central Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara menghasilkan unsur hara sebagai berikut:

Gambar 1. Grafik C-Organik pada eceng gondok yang diambil pada berbagai tempat

Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh unsur hara C-Organik yang terdapat pada daerah pemukiman sebesar 35,39%, pada perikanan 38,28%, transportasi 28,71%, kontrol 34,67% dan pertanian 39,36%. Dari grafik diatas dapat dilihat bahwa nilai C-Organik tertinggi terdapat pada daerah pertanian yaitu sebesar 39,36% dan nilai C-Organik terkecil terletak didaerah transportasi dengan jumlah nilai 28,71%.

Gambar 2. Grafik N-Total pada eceng gondok yang diambil pada berbagai tempat

Grafik diatas menunjukkan masing-masing nilai unsur dari N-total mulai dari daerah yang memiliki persen tertinggi terdapat pada daerah perikanan yaitu

35,39 38,28

Pemukiman Perikanan Transportasi Kontrol Pertanian

C

Pemukiman Perikanan Transportasi Kontrol Pertanian

(11)

sebesar 3,14% dan yang terendah ada pada daerah transportasi dengan nilai 2,29% serta nilai dari daerah pemukiman sebesar 2,37%, kontrol 2,545% dan pertanian 2,57%.

Gambar 3. Grafik P (Fospor) pada eceng gondok yang diambil pada berbagai tempat

Masing-masing nilai dari grafik diatas menunjukkan perbedaan yang tidak begitu jauh yaitu hanya terpaut 0,009%. Pada daerah perikanan dan pertanian memiliki nilai yang sama yaitu dengan jumlah 0,19%, sedangkan didaerah pemukiman terdapat nilai dengan jumlah 0,15%, transportasi 0,13 dan kontrol 0,10%.

Gambar 4. Grafik K (Kalium) pada eceng gondok yang diambil pada berbagai tempat

Grafik empat (4) menjelaskan tentang kandungan unsur hara yang terdapat pada eceng gondok yang diambil dari berbagai tempat yang berbeda. Masing-masing nilai dari unsur K, pertama pada daerah pemukiman 0,492%, perikanan 0,570%, transportasi 0,311%, kontrol 0,295% dan pertanian 0,470%. Unsur K

0,15 0,19

Pemukiman Perikanan Transportasi Kontrol Pertanian

P

Pemukiman Perikanan Transportasi Kontrol Pertanian

(12)

(Kalium) yang memiliki nilai atau jumlah tertinggi terdapat didaerah perikanan dan yang terendah pada daerah kontrol.

Gambar 5. Grafik Ca (Kalsium) pada eceng gondok yang diambil pada berbagai tempat

Dari data yang didapat pada perbedaan tempat tumbuh tanaman eceng gondok menyebabkan adanya perbedaan kandungan unsur hara yang ada didalamnya baik unsur hara makro maupun unsur hara mikro. Adapun nilai dari masing-masing tempat yaitu pemukiman dengan jumlah nilai 0,208%, perikanan 0,176%, transportasi 0,183%, kontrol 0,208% dan pertanian 0,164%. Ada dua daerah yang memiliki persen nilai tertinggi yaitu pemukiman dan kontrol, keduanya memiliki jumlah nilai yang sama yaitu sebesar 0,208%. Sedangkan daerah yang terendah ada di pertanian.

Gambar 6. Grafik Mg (Magnesium) pada eceng gondok yang diambil pada berbagai tempat

Mg (Magesium) termasuk kedalam unsur hara makro yaitu unsur hara yang diperlukan dalam jumlah besar untuk tanaman. Selain Mg juga termasuk

0,208

Pemukiman Perikanan Transportasi Kontrol Pertanian

C

Pemukiman Perikanan Transportasi Kontrol Pertanian

(13)

kedalam unsur hara esensial, dimana unsur ini adalah unsur yang fungsinya tidak dapat digantikan oleh unsur hara lain. Adapun fungsi dari Mg (Magnesium) adalah sebagai bahan penyusun klorofil (zat hijau daun) serta dapat menaikkan kadar minyak tanaman penghasil minyak. Pada grafik keenam dapat dilihat bahwa serapan tumbuhan eceng gondok terhadap unsur ini dinilai cukup tinggi karena pada masing-masing daerah tempat pengambilan sampel diketahui mmiliki masing-masing nilai sebesar 0,151% pada daerah pemukiman, 0,149% perikanan, 0,152% transportasi, 0,217% kontrol dan yang terakhir 0,319% didaerah pertanian.

Gambar 7. Grafik Al (Alumunium) pada eceng gondok yang diambil pada berbagai

tempat

Pada grafik ini menjelaskan bahwa daerah transportasi memiliki nilai pertama tertinggi dalam hal penyerapan kadar Al (Alumunium) yaitu sebesar 0,041%, yang kedua berada pada eceng gondok yang diambil dari daerah perikanan dengan nilai 0,020%, yang ketiga terdapat pada daerah pertanian (0,005%) dan yang terakhir ada pada daerah pemukiman dan kontrol (0,004%).

0,004

Pemukiman Perikanan Transportasi Kontrol Pertanian

(14)

Gambar 8. Grafik Cd (Kadmium) pada eceng gondok yang diambil pada berbagai tempat

Pada grafik Cd (Kadmium) diatas menunjukkan bahwa didaerah pemukiman dan pertanian memiliki nilai unsur hara yang tertinggi yaitu 0,10 ppm sedangkan Cd terendah ditemukan pada daerah perikanan 0,005 ppm.

Gambar 9. Grafik Cu (Tembaga) pada eceng gondok yang diambil pada berbagai tempat

Dari data diatas dapat dilihat bahwa pada daerah pemukiman jumlah tembaga yang mampu diserap oleh eceng gondok 0, 007 ppm, prikanan 0,006 ppm, transportasi 0,007 ppm, kontrol 0,006 ppm dan daerah pertanian 0,155 ppm. Daerah pertanian memiliki persen nilai yang paling tinggi dari tempat yang lainnya dan perbedaannya cukup jauh yaitu sebesar 0,155 ppm, sedangkan yang terendah ada didaerah perikanan dan kontro 0,006 ppm.

0,010

Pemukiman Perikanan Transportasi Kontrol Pertanian

C

Pemukiman Perikanan Transportasi Kontrol Pertanian

(15)

Gambar 10. Grafik Fe (Besi) pada eceng gondok yang diambil pada berbagai tempat

Untuk Fe (Besi) didapat nilai pada daerah pemukiman didapat nilai sebesar 0,005 ppm, perikanan 0,007 ppm, transportasi 0,010 ppm, kontrol 0,003 ppm dan yang terakhir 0,004 ppm pada daerah pertanian. Data diatas menunjukkan penyerapan Fe terbesar ada didaerah transportasi yaitu 0,010 ppm.

Gambar 11. Grafik Mn (Mangan) pada eceng gondok yang diambil pada berbagai tempat

Mangan (Mg) adalah unsur hara yang termasuk kedalam golongan logam berat, tetapi masih memiliki fungsi yang dubutuhkan untuk tanaman. Adapun fungsi dari unsur tersebut adalah sebagai bahan penyusun klorofil dan merangsang perkecambahan serta membantu dalam proses pemasakan buah. Eceng gondok yang menghasilkan kandungan terbesar dari unsur ini adalah yang diambil dari daerah pertanian (0,009 ppm) dan yang terendah pada daerah kontrol (0,005 ppm). Hampir sama dengan yang ada didaerah perikanan dimana memiliki jumlah nilai 0,008 ppm. Adanya tambahan masukan dari masing-masing daerah dipertanian dan perikan menyebabkan tingginya kandungan Mn yang ada pada eceng gondok.

0,007 0,008

Pemukiman Perikanan Transportasi Kontrol Pertanian

(16)

Gambar 12. Grafik Pb (Timbal) pada eceng gondok yang diambil pada berbagaitempat

Penyerapan logam berat berupa Pb (Timbal) yang terlihat pada grafik diatas tidak menunjukkan tingkat daya serap yang tinggi. Pada daerah pemukiman hanya sebesar 0,008 ppm, kontrol 0,006 ppm dan perikanan, transportasi serta pertanian memiliki persamaan nilai yaitu hanya 0,005 ppm.

Gambar 13. Grafik Zn (Seng) pada eceng gondok yang diambil pada berbagai tempat

Zn (Seng) adalah unsur hara yang termasuk kedalam golongan logam berat dan dari data yang diperoleh diatas dapat dilihat bahwa pada daerah transfortasi kandungan logam berat berupa Zn (Seng) masih relative tinggi yaitu 0,008 ppm sedangkan daerah yang penyerapan Zn terendah ada pada daerah pertanian dengan nilai 0,003 ppm.

Pembahasan

Dari hasil penelitian yang didapat bahwa Uji Laboratorium menunjukkan Eceng Gondok (Eichhornia crassipes)mengandung beberapa unsur hara makro dan mikro yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman.Dari keseluruhan

0,008

Pemukiman Perikanan Transportasi Kontrol Pertanian

P

Pemukiman Perikanan Transportasi Kontrol Pertanian

(17)
(18)

Sama halnya dengan kadar unsur hara N- Total, P (Fospor), dan K (Kalium) (Gambar 2,3 dan 4) yang terdapat pada eceng gondok yang diambil dari berbagai tempat yang ada didaerah tangkapan air danau toba seperti pemukiman, perikanan, transfortasi, kontrol dan pertanian memiliki tingkat kandungan unsur hara terbesar berada pada eceng gondok yang diambil didaerah perikanan yaitu N (3,41%), P (0,19%) dan K (0,570%). Selain didaerah perikanan untuk unsur hara P dan K yang terbesar juga berada didalam eceng gondok yang diambil dari daerah pertanian. Tingginya kadar unsur hara yang ada didaerah perikanan dan pertanian disebabkan karena eceng gondok mampu tumbuh subur didaerah perairan yang tidak terkontaminasi oleh bahan-bahan logam, serta pada daerah perikanan yang ada didaerah tangkapan air danau toba tersebut masyarakat sekitar membuat keramba-keramba ikan sehingga dapat menambah masukkan unsur hara pada eceng gondok. Krismono (2010) menyatakan tingginya kandungan unsur hara seperti N, P dan K pada daerah perikanan disebabkan karena adanya keramba ikan didaerah tersebut sehingga menunjukkan aktivitas pemberian pakan ikan telah menjadi sumber masukan dari unsur hara yang kemudian diikat oleh akar eceng gondok. Perbedaan tempat tumbuh dari masing-masing eceng gondok tersebut juga menjadikan perbedaan dari masing-masing nilai yang diperoleh.

(19)

pemberian pupuk.Sehingga kemampuan eceng gondok untuk menyerap Mg juga cukup besar untuk mendukung pertumbuhannya.Kandungan kalsium (Ca) pada setiap lokasi berkisar antara 0.164%-0.208%, dengan nilai tertinggi pada lokasi pemukiman dan kontrol yaitu sebesar 0.208%, serta yang terendah pada lokasi pertanian.Nilai kandungan yang diperoleh tidak jauh berbeda antar lokasi.Hal ini kemungkinan disebabkan Karena ketersediaan unsur hara di setiap lokasi, yang didukung dengan aktivitas pemupukan tanaman maupun pemberian pakan ternak yang mengandung unsur kalsium. Kemampuan eceng gondok dalam menyerap nutrisi juga dikemukakan oleh Shanab, dkk., (2010) yang menyatakan Eceng gondok sangat efisien dalam mengkonsumsi Kalsium, Magnesium, Sulfur, Ferric, Manganese, Aluminium, Boron, Cupper, Molibdenum, Seng, Nitrogen, Fosfor dan kalium yang mendukung pertumbuhannya dibandingkan spesies air lain.

Berdasarkan data yang diperoleh, eceng gondok menyerap logam Al (Alumunium) Gambar.7 sangat tinggi pada lokasi transportasi yaitu sebesar 0.041%, disusul pada lokasi perikanan yaitu sebesar 0.020%.Al yang dihasilkan dari polusi alat transportasi diserap oleh tanaman eceng gondok melalui akarnya.Jumlah serapan Al dan logam berat lainnya tergantung pada jumlah

macronutrient yang terkandung pada tanaman eceng gondok. Jayaweera,

dkk.,(2007) mengatakan bahwa fitoremediasi logam berat pada tanaman sering meningkat saat tanaman dibudidayakan di dalam air yang mengandung

macronutrient yang tinggi. pH asam pada lokasi tersebut meningkatkan kelarutan

(20)

berat yang bersifat racun bagi tanaman bila kelarutan dan transpornya meningkat pada pH kurang dari 5 (Meagher, 2000).

(21)

dan pH tanah.Hal ini membukt ikan bahwa eceng gondok memiliki kemampuan menyerap logam berat terutama yang ada didaerah perairan.Semakin lama eceng gondok berada didalam air maka semakin tinggi daya serap eceng gondok dalam mengakumulasi berbagai jenis logam.Eceng gondok dapat melakukan lokalisasi logam pada bagian akar dan jaringan (batang dan daun), jenis logam sangat mempengaruhi kemampuan tanaman untuk melakukan lokalisai.Kemampuan tanaman melokalisai logam ini menjadi hal yang sangat penting karena hal ini menggambarkan kemampuan tanaman untuk dapat mentoleransi dan melakukan detoksifikasi.Kemampuan toleransi dan detoksifikasi yang dimiliki eceng gondok dilakukan dengan mengakumulasi sebagian logam berat didalam akarr.Eceng gondok juga melakukan toleransi dan detoksifikasi dengan mengakumulasi logam berat di vakuola dalam struktur selnya. Vakuola merupakan tempat yang aman untuk mengakumulasikan logam karena vakuola merupakan daerah yang jauh dari proses metabolisme terhadap daya racun logam berat. Sesuai dngan pernyataan Lukito, (2001) yang melaporkan bahwa eceng gondok dikenal juga sebagai biofilter cemaran logam berat.

(22)
(23)

Pada gambar 9 dan 10 dapat dilihat kandungan unsur hara terbesar dari Fe (Besi) dan Mn (Mangan) berada pada eceng gondok yang diambil dari daerah transportasi dan pertanian yaitu 0,010 ppm untuk Fe dan 0,009 ppm untuk Mn. Sedangkan yang terendah berada pada eceng gondok yang diambil didaerah kontrol, dengan jumlah nilai Fe 0,003 ppm dan Mn 0,005 ppm. Tingginya kandungan Fe pada daerah transportasi membuktikan bahwa aktivitas penyebrangan didaerah danau toba menjadikan sumber pencemaran yang relative tinggi untuk kadar Fe pada perairan tersebut. Menurut Priyanto dan Prayitno (2004), proses penyerapan dan akumulasi logam berat dibagi menjadi tiga proses, yaitu penyerapan oleh akar, translokasi dan lokalisasi. Agar tanaman dapat menyerap logam maka logam harus dibawa kedalam larutan disekitar akar

(rizosfer).Mekanisme penyerapan logam yakni melalui pembentukan zat khelat

yang disebut fitosidorofor. Molekul fitosidoroforyang terbentuk akan mengikat logam dan membbawanya kedalam sel akar melalui peristiwa transport aktif. Senyawa-senyawa yang larut dalam air biasanya diambil oleh akar bersama air, sedangkan senyawa hirofobik diserap oleh permukaan akar. Kedua, translokasi logam dari akar kebagian tanaman lain. Setelah logam mrnrmbus endodermis akar, logam atau senyawa asing lain mengikuti aliran transpirasi kebagian tanaman melalui jaringan pengangkut (xlem da floem) kebagian tanaman lainnya. Ketiga, lokalisasi logam pada sel dan jaringan.Hal ini bertujuan untuk menjaga agar logam tidak menghambat metabolism tanaman dan mencegah peracunan logam terhadap sel.

(24)

penyerapan yang terjadi yaitu dengan adanya bahan-bahan yang diserap menyebabkan vakuola menggelembung, maka sitoplasma terdorong kepinggiran sel sehingga protoplasma dekat dengan permukaan sel. Hal ini menyebabkan pertukaran atau penyerapan unsurr logam antara sebuah sel dengan sekelilingnya menjadi lebih efisien.

(25)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) mengandung beberapa unsur hara

makro dan mikro yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman.Beberapa unsur hara yang termasuk logam, diantaranya Al (Alumunium), Cd (Kadmium), Cu (Tembaga), Fe (Besi), Mn (Mangan), Pb (Timbal) dan Zn (Seng). Unsur hara yang termasuk kedalam unsur hara mikro yaitu unsur hara yang diperlukan dalam jumlah yang besar yaitu C-organik, N-total, P (Fospor), K (Kalium), Ca (Kalsium) dan Mg (Magnesium).Konsentrasi unsur hara yang tinggi di perairan dapat dipengaruhi oleh banyaknya aktivitas manusia yang ada di sekitar perairan.Beberapa hal yang dapat memengaruhi konsentrasi unsur hara adalah masukan unsur hara dari atmosfer, daerah tangkapan air dan sedimen danau serta siklus unsur hara di danau.Unsur hara di perairan juga dipengaruhi oleh pemakaian pupuk di lahan pertanian, penggunaan deterjen yang mengandung fosfat, erosi tanah yang mengandung unsur hara, dan pembuangan limbah industri.

Saran

Gambar

Grafik diatas menunjukkan masing-masing nilai unsur dari N-total mulai
Gambar 4. Grafik K (Kalium) pada eceng gondok yang diambil pada berbagai tempat
Gambar 6. Grafik Mg (Magnesium) pada eceng gondok yang diambil pada berbagai  tempat
Gambar 10. Grafik Fe (Besi) pada eceng gondok yang diambil pada berbagai tempat

Referensi

Dokumen terkait

Ketanggapan (komunikasi interpersonal) pada variabel X yaitu pelayanan cepat dan tepat memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap kepercayaan publik yakni

Gambaran Risiko Pekerjaan Petugas Pemadam Kebakaran di Dinas Pencegah Pemadam Kebakaran (DP2K) Kota Medan .Skripsi: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera

Tidak signifikannya pengaruh derajat desentralisasi fiskal terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) ini menunjukkan bahwa Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagai

Saran yang dapat diberikan kepada masyarakat pribumi dan imigran adalah diharapkan Untuk terbentuknya stereotipe dengan prasangka masyarakat pribumi yang positif pada

bahwa berdasarkan Pasal 32 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup, pemrakarsa usaha dan/ atau kegiatan

[r]

[r]

Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur Tahun 2012 secara elektronik melaluib.