• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAS PHASE STRUCTURE AND STABILITY OF COMPLEX FORMED BY H 2 O, NH 3 , H 2 S AND THEIR METHYL DERIVATIVES WITH THE CATION CO 2+ | Kusumawardani | Indonesian Journal of Chemistry 21862 40949 1 PB

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "GAS PHASE STRUCTURE AND STABILITY OF COMPLEX FORMED BY H 2 O, NH 3 , H 2 S AND THEIR METHYL DERIVATIVES WITH THE CATION CO 2+ | Kusumawardani | Indonesian Journal of Chemistry 21862 40949 1 PB"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

Indonesian Journal of Chemistry, 2004, 4 (2), 106 - 109

Cahyorini Kusumawardhani

106

GAS PHASE STRUCTURE AND STABILITY OF COMPLEX FORMED BY H

2

O, NH

3

,

H

2

S AND THEIR METHYL DERIVATIVES WITH THE CATION CO

2+

Struktur dan Kestabilan Fasa Gas dari Kompleks Co

2+

-L,

dengan L = H

2

O, NH

3

, H

2

S, SiH

2

dan Turunan Metilnya

Cahyorini Kusumawardani

Chemistry Department, Faculty of Mathematics and Natural Sciences

Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta

Received 21 June 2004; Accepted 30 June 2004

ABSTRACT

Ab initio molecular orbital calculations at the Hartree-Fock-Self Consistent Field (HF-SCF) have been performed in order to determine the structure and gas phase energies of complex formed by the Lewis bases of H2O, NH3, H2S and their methyl derivatives with the cation Co2+. The relative basicities of the base studied depend on both the substituent. The gas-phase interaction energies computed by the SCF method including electron correlation Møller-Plesset 2 (MP2) dan Configuration Iteration (CI) were comparable in accuracy. The binding energies computed by these two methods reach the targeted chemical accuracy.

Keywords: ab initio calculation, cobalt complex, structure stability.

PENDAHULUAN

Ion logam terutama logam transisi mempunyai peranan dalam banyak proses penting. Sebagian besar dari logam-logam tersebut berhubungan dengan proses kimia dalam molekul biologi [1,2]. Perhitungan energi interaksi yang akurat antara ion dan molekul pembawa akan membantu kita untuk mengetahui fungsi yang benar dari sistem tersebut (misalnya kanal ion, metalloprotein, metalloenzymes). Informasi penting pada interaksi ion – basa dapat diperoleh dengan mengamati termodinamika proses pada fasa gas, yang bebas pelarut dan pengaruh counter ion. Entalpi dan energi Gibbs dari reaksi ditentukan berdasarkan tingkat kebasaan Lewis pada ketidakhadiran solven. Entropi dan entalpi ikatan yang berhubungan dengan reaksi (1), dimana L adalah basa Lewis, diukur pada fasa gas untuk sejumlah kompleks.

Co2+ (g) + L(g) Æ CoL2+ (g) (1) Penelitian eksperimen tidak memungkinkan penentuan energetika proses ini untuk semua basa penting di bidang kimia maupun biologi. Sebagai contoh, metode ion-kesetimbangan tidak cukup untuk menjelaskan reaksi dengan entalpi ikatan yang tinggi [3], yaitu lebih besar dari ∼ 40 kkal/mol, sedangkan kenyataannya banyak kompleks ion-ligan yang mempunyai entalpi ikatan tinggi ketika menyertakan kation muatan banyak [4]. Metode teoritis ab initio, secara prinsip, dapat memberikan

banyak informasi yang tidak bisa diakses dari teknik eksperimental bahkan teknik yang terbaru. Hasil energi interaksi untuk kompleks kation-basa pada tingkat Hartree-Fock, dibandingkan dengan hasil eksperimen hanya berbeda sedikit [5,6], dan perlu dilakukan koreksi semi empiris untuk memperoleh hasil yang akurat [7]. Perhitungan yang menyertakan korelasi elektron menghasilkan energi kompleks ion logam – basa Lewis dengan akurasi seperti yang diharapkan [8].

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan suatu tabel energi fasa gas untuk interaksi antara Co2+ dengan basa nitrogen, oksigen, sulfur dan silikon sederhana. Hasil yang diperoleh dapat digunakan untuk menentukan skala absolut kebasaan dari kompleks-kompleks tersebut. Lebih jauh lagi, efek substitusi metil terhadap kekuatan interaksi Co2+ – basa Lewis dapat ditentukan. Beberapa publiksi yang sudah ada [9,10] antara lain ikatan fasa gas Li+, Na+ dan Mg2+ dengan basa-basa tersebut di atas, formaldehida, asetaldehida dan analog silikon dan sulfurnya telah ditentukan menggunakan teori ab initio pada tingkat Hartree – Fock dengan korelasi elektron yang sama dengan metode yang digunakan pada penelitian ini.

METODE PENELITIAN

Peralatan

(2)

Indonesian Journal of Chemistry, 2004, 4 (2), 106 - 109

Cahyorini Kusumawardhani

107

X H

R

Co2+ N

R H

H

Co2+

R=H, CH3; X=S, S, Si

Gambar 1 Struktur kation-basa Lewis yang dipelajari

Prosedur Kerja

Geometri kompleks L…Co2+, dimana L = NH3, H2O, H2S, SiH2 dan turunan metilnya (Gambar

1) telah dioptimasi pada tingkat MP2/LANL2DZECP;6-31G*. Sebagai langkah pertama dari optimasi geometri menggunakan metode MP2/6-31G(d) dilakukan untuk NH3, H2O,

H2S, SiH2 dan turunan metilnya.

Energi interaksi, ∆E, antara kation logam dan molekul ligan diberikan mengikuti persamaan :

∆E298 = E298(Co2+…Ligan) – {E298(Co2+) –

E298(Ligan)} (2) Dimana E298(Co2+) dan E298(Ligan) adalah energi kation logam dan molekul ligan, sedangkan

E298(Co2+…Ligan) energi kompleks terkoreksi untuk energi termal pada T = 298,15 K. Entalpi interaksi,

∆H298, untuk kompleks ion logam – basa Lewis dihitung menggunakan

∆H298 = ∆E298 + ∆(pV) (3) Untuk mengerjakan persamaan (3) dilakukan substitusi ∆(pV) = –RT.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Struktur dan Pertimbangan Energetika

Energi total dari semua spesies yang dihitung disajikan dalam Tabel 1. Optimasi geometri kompleks ditampilkan dalam Tabel 1. Analisis frekuensi vibrasi harmoni pada tingkat teori MP2/LANL2DZECP;6-31G* dari spesies yang sudah dioptimasi menunjukkan bahwa kedua monomer dan kompleks teroptimasi adalah minima (tidak ada frekuensi imajiner). Minima ditemukan planar (Cs) untuk kompleks H2X…Co2+ (X = O, Si),

tetrahedral pada H3N...Co2+ dan stager tipe I. Pada

sistem H2S…Co2+ diperoleh struktur piramida dan

untuk H3CSH...Co2+ diperoleh struktur stager tipe

II. Struktur tersebut identik seperti struktur kompleks L...Mn+ dengan M = Li+, Na+ dan Mg2+ hasil perhitungan dengan metode G2 [12].

Tabel 1 Energi total (dalam hartree) dari sistem yang diamati (pada 298 K)

C S H

H H

H

II

Co2+

C N

H

H H

H

I

H

Co2+

Spesies Entalpi SCF(MP2) Energi bebas SCF(CI) H2O

H2S

H2Si

NH3

H2O....Co2+

H2S...Co2+

H2Si....Co2+

H3N...Co 2+

CH3OH

CH3SH

CH3SiH

CH3NH2

CH3OH...Co2+

CH3SH....Co2+

CH3SiH...Co2+

CH3NH2...Co2+

Li+ Na+ Mg2+

-75,21 -397,81 -289,05 -55,34 -213,16 -497,75 -489,01 -154,31 -114,42 -438,03 -329,30 -94,55 -273,38 -536,09 -517,28 -193,53 -7,12 -161,55 -196,82

(3)

Indonesian Journal of Chemistry, 2004, 4 (2), 106 - 109

Kompleks SCF(MP2) CISCF

E HGEHG

Perubahan geometri ligan pada pembentukan kompleks dapat dituliskan : (1) ikatan logam-ligan yang terpendek ditemukan pada basa oksigen dan terpanjang pada turunan silikon. (2) Substitusi satu hidrogen dari grup metil menyebabkan sedikit penurunan panjang X…Co2+. (3) Hanya terjadi sedikit perubahan geometri basa Lewis selama terjadinya pembentukan kompleks. Sudut valensi H-X-Co2+ berkisar 3 – 50 diperoleh paling rendah pada substitusi turunan metil (Tabel 2). Satu perkecualian pada basa sulfur dimana sudutnya praktis sama untuk spesies H2S dan CH3SH.

Energi Interaksi Fasa Gas

Hasil perhitungan energi interaksi, entalpi dan energi Gibbs dari sistem yang diamati ditampilkan dalam Tabel 3. Perhitungan yang dilakukan menunjukkan bahwa dengan menyertakan korelasi elektron MP2 dan CI pada tingkat teori SCF kuantitas termodinamika yang hampir sama. Akurasi metode SCF dengan menyertakan tersebut diuji dan dibandingkan dengan data eksperimental. Perhitungan SCF(MP2) menghasilkan energi interaksi mendekati hasil CISCF, yang membutuhkan waktu perhitungan lebih lama. Perbedaan antara kedua metode tersebut sangat kecil (sekitar 0,1 – 0,5 kkal/mol) untuk semua kompleks yang dipelajari dan kedua metode menggambarkan termokimia

proses (1) dengan akurasi yang bagus. Diperoleh perbedaan yang sama pada hasil perhitungan energi interaksi dengan metode tersebut untuk koordinasi kation logam dengan basa karbonil, tiokarbonil dan silakarbonil [8].

Hidrida periode pertama dan kedua disebut sebagai basa Lewis paling simpel dimana hidrida tersebut mempunyai pusat basa ikatan tunggal. Untuk kompleks Co2+– hidrida, kebasaan mengikuti urutan N:>Si:>O:>S:. Urutan kebasaan yang berbeda ditemukan pada basa tersubstitusi metil dengan Co2+. Metilsilana memberikan aksi sebagai basa paling kuat dan kebasaan menurun mengikuti urutan : Si:>N:>O:>S:.

(4)

Indonesian Journal of Chemistry, 2004, 4 (2), 106 - 109

Cahyorini Kusumawardhani

109

Tabel 4 Kuantitas termodinamika sistem Co2+-

basa Lewis hasil perhitungan dan eksperimen (kkal/mol)

Parameter Data SCF

Eksperimen MP2 CI

H2O...Co2+ ∆G0 TS0

∆H0

NH3...Co2+ ∆G0 TS0

H0

CH3OH...Co2+ ∆G0

TS0

H0

-69,3 -6,7 -76,0

-83,0 -7,0 -90,0

-82,5 -6,5 -89,0

-70,9 -6,6 -77,5

-85,2 -7,3 -92,5

-82,9 -6,8 -89,7

-70,4 -6,6 -77,0

-84,8 -7,0 -91,8

-82,8 -6,8 -89,6

Analisis parameter termodinamika (Tabel 3 dan Tabel 4) menunjukkan bahwa koordinasi Co2+ dengan basa Lewis adalah proses eksotermis. Entalpi yang diperoleh nilainya besar dan negatif. Perubahan entropi ∆So juga negatif, tetapi cukup rendah sehingga menghasilkan T∆So yang lebih rendah daripada ∆Ho. Entropi hasil perhitungan cukup mendekati hasil eksperimen (Tabel 4) dan tidak menyebabkan energi bebas kembali dari entalpi. Energi Gibbs ∆Go selalu negatif dan membentuk rentang interval energi yang cukup besar (dari –9 sampai –100 kkal/mol) yang berarti bahwa interaksi kation dengan basa yang diamati, meningkat kuat mengikuti pembentukan kompleks pada fase gas.

KESIMPULAN

Energi interaksi dari air, amonia, hidrogen sulfida, silena dan turunan metilnya dengan Co2+ telah diperoleh dari perhitungan pada tingkat teori SCF(MP2) dan CISCF. Perubahan kebasaan berhubungan dengan variasi atom yang berkoordinasi, keadaan dasar substituen pada pusat basa dan keadaan dasar kation logam.

Semua prosedur teoritis yang digunakan menghasilkan kuantitas termodinamika pembentukan kompleks Co2+-basa Lewis yang akurat dari sudut pandang kimiawi. Kestabilan dari sebagian kompleks yang dipelajari diperoleh hampir seluruhnya dari interaksi elektrostatik, sedangkan interaksi valensi hanya memberikan kontribusi kepada kompleks dengan basa H2Si dan CH3SiH.

DAFTAR PUSTAKA

1. Daintith, J., 1997, Kamus Lengkap Kimia, Edisi Baru, Erlangga

2. Lee, J.D., 1991, Concise Inorganic Chemistry, Fourth Edition, Chapman & hall, New York 3. Klassen, J.S., Anderson, S.G., Blades, A.T., and

Kebarle, P., 1996, J. Phys. Chem., 100, 14218 4. Yamashita, M, and Fenn, J.B., 1984, J. Phys.

Chem., 88, 4451

5. Latajka, Z., and Scheiner, S., 1987, J. Chem. Phys., 87, 1194

6. Remko, M, 1997, Mol. Phys., 91, 929

7. Roux, B., and Karplus, M, 1995, J. Comp. Chem., 16, 690

8. Remko, M., 1997, Chem. Phys. Lett., 270, 369 9. Dzidic, I., and Kebarle, P., 1970, J. Phys.

Chem., 74, 1466

10. Staley, R.H., and Beauchamp, J.L, 1978, J. Am. Chem. Soc., 97, 5920

11. Frisch, M.J., Trucks, G.W., Schlegel., Gill, P.M.W., Johnson, B.G., Robb, M.A., Cheesman, J.R., Keith, T.A., Petersson, G.A., Montgomery, J.A., Raghavachari, K., Al-Laham, M.A., Zakrzewski, V.G., Ortiz, J.V., Foresman, J.B., Cioslowski, J., Stefanov, B.B., Nayakkara, A., Challacombe, M., Peng, C.Y., Ayala, P.L., Chen, W., Wong, M.W., Andres, J.L., Replogle, E.S., Gomperts, R., Martin, R.L., Fox. D.L., Binkley, J.S., Defrees, D.J., Baker, J., Stewart, J.J.P., Head-Gordon, M., Gonzalez, C., and Pople, J.A., 1995, GAUSSIAN98, Gaussian Inc., Pittsburgh

Gambar

Gambar 1 Struktur kation-basa Lewis yang dipelajari
Tabel 2  Hasil optimasi geometri sistem Co2+-basa (Å dan 0)
Tabel 4  Kuantitas termodinamika sistem Co2+- basa Lewis hasil perhitungan dan eksperimen (kkal/mol)

Referensi

Dokumen terkait

Disolusi terbanding tablet metformin hidroklorida generik berlogo dengan generik bermerek yang berasal dari pabrik yang sama memiliki kemiripan (produk B. dan

Pasangan suami istri yang telah mempunyai anak kurang dari tiga orang dalam kebijakan pembangunan keluarga sejahtera, dianjurkan untuk mengikuti cara-cara pencegahan

Seperti pada uji organoleptik citarasa, uji organoleptik tekstur bardasarkan hasil analisa sidik ragam menunjukkan bahwa lama pengeringan selama 4 jam dan

konservasi tanah dan air, penyerap karbon, pencegah banjir, transportasi air, dan keanekaragaman hayati yang berperan sekitar 43,03% dari total nilai jasa hutan, dan nilai atas

Memiliki [melalui menerima, menjalankan, menghargai, menghayati, mengamalkan] perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman, berakhlak mulia, percaya diri, dan bertanggung

[r]

Perkembangan politik juga dapat di lihat dari berbagai aspek, seperti adanya teori politik, filosofi politik, politik praktis, etika politik, elit politik, kelompok politik,

Hasil uji model struktural yang diperoleh menunjukkan bahwa model teoretik kompetensi sosial siswa cerdas istimewa yang terdiri atas pengasuhan orangtua, dukungan guru, dan