• Tidak ada hasil yang ditemukan

B1J010185 11.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "B1J010185 11."

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

1

I. PENDAHULUAN

Hutan mangrove merupakan tipe hutan yang khas tumbuh di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Hutan mangrove optimal di pantai yang memiliki muara sungai besar yang alirannya banyak mengandung lumpur. Hutan mangrove sulit atau bahkan tidak dapat tumbuh di wilayah pantai yang terjal dan berombak besar dengan arus yang kuat karena tidak memungkinkan terjadinya pengendapan lumpur yang diperlukan untuk pertumbuhannya (Hendarto, 2009).

Menurut FAO (2007) mangrove yang hilang di Indonesia pada kurun waktu 1980 – 2005 dari total luas 4,2 juta ha menjadi 2.9 juta ha atau terjadi pengurangan rata-rata 52 ribu ha per tahun. Pada tahun 1942 luas hutan mangrove di Segara Anakan masih 22.512 ha, namun pada tahun 1997 tersisa 8.958 ha dan pada tahun 2012 tersisa 8200 ha. Kawasan Segara Anakan sendiri mencakup wilayah seluas 34.018,62 ha, meliputi 26.780,65 ha daratan dan 7.237,97 ha perairan. Berkurangnya luas dan rusaknya hutan mangrove tersebut antara lain disebabkan oleh eksploitasi berlebihan serta perubahan fungsi lahan menjadi tambak, sawah, dan pemukiman (Setyawan et al., 2004).

Lingkungan mangrove bersifat dinamik dan periodik sehingga kelangsungan hidup mangrove sangat bergantung pada lingkungan. Mangrove akan mengalami kematian karena tidak dapat beradaptasi dengan lingkungan yang rusak, tetapi mangrove asosiasi seperti Acanthus dan Derris dapat teradaptasi dengan lingkungan

tersebut melalui pertumbuhan secara cepat (Jiménez & Lugo, 1985). Tingkat kerusakan mangrove berkorelasi positif terhadap jumlah kehadiran dan kelimpahan dari Acanthus dan Derris (Ardli et al., 2010). Hal tersebut dapat menunjukkan bahwa Acanthus dan Derris dapat dijadikan bioindikator kerusakan mangrove.

Penyebaran Acanthus dapat secara vegetatif dan generatif. Bunga mengalami

penyerbukan dengan bantuan burung dan serangga. Tingkat produktivitas dan reproduksi Acanthus relatif cepat sehingga anakan mangrove sejati akan sulit

berkompetisi pada daerah yang didominasi oleh jenis ini. Derris dapat tumbuh

dengan optimal pada habitat yang banyak mendapat sinar matahari yang banyak. Habitat yang cocok untuk pertumbuhan Acanthus dan Derris adalah lokasi yang

(2)

2

memiliki kondisi kerapatan mangrove yang rendah baik untuk tingkat pancang dan pohon sehingga memiliki tutupan kanopi yang sangat sedikit (Noor et al., 2006).

Tingkat kerusakan mangrove harus secara berkala dimonitoring sebagai salah satu langkah awal penyelamatan ekosistem mangrove. Proses monitoring dapat menghasilkan informasi yang akurat dan berkesinambungan mengenai perubahan, distribusi dan potensi dari kawasan Segara Anakan. Informasi tersebut dapat dijadikan acuan dalam tindakan antisipasi dan penyusunan kebijakan pengelolaan yang tepat. Monitoring secara biologi dan ekologi telah dan terus memainkan peran penting dalam konservasi spesies, komunitas alami dan lanskap (Spellerberg, 1991).

Berdasarkan latar belakang tersebut perlu dilakukan penelitian tentang monitoring kerusakan mangrove berdasarkan bioindikator Acanthus dan Derris di

Segara Anakan Cilacap. Rumusan masalah yang dapat diambil adalah: 1. bagaimanakah tingkat kerusakan mangrove di Segara Anakan Cilacap, 2. bagaimanakah pola distribusi dari Acanthus dan Derris di Segara Anakan Cilacap,

dan 3. bagaimanakah perubahan kondisi kerusakan mangrove pada tahun 2010 dan 2014 di Segara Anakan Cilacap.

Tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mengetahui tingkat kerusakan mangrove di Segara Anakan Cilacap. 2. Mengetahui distribusi dari Acanthus dan Derris di Segara Anakan Cilacap.

3. Mengetahui perubahan kondisi kerusakan mangrove pada tahun 2010 dan 2014 di Segara Anakan Cilacap.

Oleh karena itu penelitian tentang monitoring kerusakan mangrove berdasarkan bioindikator Acanthus dan Derris di Segara Anakan Cilacap ini sangat

perlu untuk dilaksanakan karena akan memberikan informasi penting untuk pengelolaan lebih lanjut kawasan mangrove Segara Anakan.

Referensi

Dokumen terkait

(5) Penjabaran lebih lanjut mengenai tugas pokok dan fungsi Rumah Sakit Umum Daerah Kelas D ditetapkan dengan Peraturan Bupati.. Bagian Kedua

Perkembangan Informasi dan teknologi komunikasi yang pesat belum diikuti dengan program pembelajaran yang bertujuan mengoptimalkan fungsi informasi untuk pengembangan

Akan tetapi apabila ada yang memakai kain sampai melebihi kaki atau menyentuh tanah, lantai dan sebagainya, itu jelas dilarang menurut hadis tersebut karena sombong namun

[r]

Sesuai dengan hasil penelitian Murni dan Zaubin (1997) yang melaporkan bahwa pemupukan pada tanaman lada produksi di Lampung dengan dosis 1200 g NPKMg ternyata memberikan

Kebijakan puritanisme oleh sultan Aurangzeb dan pengislaman orang-orang Hindu secara paksa demi menjadikan tanah India sebagai negara Islam, dengan menyerang berbagai praktek

Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Daniar et al., (2014) menyatakan bahwa, Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa telah ditemukan 90 jenis tumbuhan

[r]