BELAJAR SUKSES DARI JEPANG
Disusun oleh:
Almayudin
Muhammad Rafiq
Aswia Abda
Iffah Khairiyah Ismayanti
Nur harianti
Diajukan untuk memenuhi tugas mata pelajaran
Bahasa Indonesia
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………..i
DAFTAR ISI………...ii
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang………...1
1.2 Rumusan Masalah………..2
1.3 Tujuan Penulisan………2
1.4 Manfaat Penulisan………..2
1.5 Metode Penulisan………...2
BAB II PEMBAHASAN 2.1 Budaya Kerja Orang Jepang……….4
2.2 Kerja Keras Orang Jepang………5
2.3 Semangat Belajar Orang Jepang………..6
2.4 Cara Berbisnis Orang Jepang………...8
2.5 Inovasi………..9
BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan……….11
3.2 Saran………...11
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan karya tulis yang berjudul “ BELAJAR SUKSES DARI JEPANG”.
Karya ilmiah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Disamping itu, penulis juga berharap karya tulis ini mampu menjadikan motivasi terutama kepada para siswa dan siswi MA Madani Bintan agar belajar dari negera Jepang yang dapat menjadi salah satu negara maju di dunia dengan segala kekurangan yang dimiliki oleh negara tersebut.
Dengan selesainya karya tulis ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu penulis dalam pembuatan karya tulis ini. Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi kita semua.
Ceruk Ijuk, 28 Oktober 2015
Penulis
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jepang sempat terpuruk setelah kekalahannya dalam Perang Dunia II. Namun, Jepang dapat bangkit kembali sejajar dengan negara-negara maju lainnya dalam kurun waktu yang relatif singkat. Jepang kini menjadi salah satu negara termaju di dunia.
Jepang secara geografis adalah negara yang sangat minim sumber daya alam, namun negeri ini mempunyai banyak keunggulan. Gunung Fuji selalu menjadi sebutan bagi negeri ini karena diselimuti salju putih dan mendamaikan siapa pun yang memandangnya.
Jepang adalah negara kecil yang dulunya sangat tertutup dan menutup diri dari bangsa asing. Jepang mulai maju ketika dipimpin oleh Kaisar Meiji. Dia mengirimkan pemuda-pemuda Jepang ke negara-negara asing untuk mempelajari teknologi. Dia juga menyuruh kalangan akademisi untuk menerjemahkan buku-buku asing ke dalam bahasa Jepang dan dijual dengan harga yang murah. Hasilnya, bangsa Jepang sangat melek bacaan. Dimanapun mereka berada mereka menyempatkan diri untuk membaca.
Di balik segala kekurangannya bangsa Jepang selalu siap maju dan bersaing dengan negara-negara lain di dunia. Bahkan, hal ini semakin memotivasi Jepang untuk membuktikan bahwa mereka layak dan pantas menjadi pemenang.
Salah satu hal yang melandasi pembaharuan di Jepang adalah sikap mereka dalam mempertahankan kebudayaan dan etos kerja. Meskipun, mereka menjadi bangsa yang maju, namun nilai-nilai dasar masyarakat asli Jepang tidak pernah hilang.
Jepang kemudian mampu hancur oleh serangan bom atom pihak Sekutu pada tahun 1945. Jepang pun kalah dalam Perang Dunia II. Kekalahan ini menyebabkan kerusakan fisik dan kehancuran perekonomian yang dahsyat. Namun, 20 tahun kemudian, negeri Matahari Terbit ini mampu bangkit dari keterpurukannya.
Kemampuan negeri Sakura bangkit dari reruntuhan akibat perang dan kehancuran ekonomi dianggap sebagai sebuah keajaiban. Namun, semuanya itu diraih berkat hasil kerja dan usaha keras rakyatnya untuk memulihkan kembali harga diri bangsa dan negara yang telah tercemar.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan Masalah yang diangkat dalam penulisan karya tulis ini adalah:
Bagaimana cara Jepang mengatasi segala keterbatasan yang dimiliki negaranya?
1.3 Tujuan Penulisan
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan bagi para pelajar tentang negara Jepang. Dan bisa mengenal Negara Jepang lebih dalam lagi.
1.4 Manfaat Penulisan
Menjadi motivasi bagi siswa dan siswi MA Madani Bintan agar lebih kreatif dan inovatif dalam menghasilkan suatu karya.
1.5 Metode Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Budaya Kerja orang Jepang
Bagi orang-orang Jepang, hidup adalah bekerja. Tiada hari tanpa belajar dan bekerja. Mereka sangat disiplin dan menaruh penghargaan yang sangat tinggi terhadap waktu. Seperti halnya Korea, orang-orang Jepang sudah biasa bekerja 14-18 jam sehari, dan 94-126 jam seminggu. Bagi mereka, tak ada waktu selain belajar dan bekerja. Keinginan untuk selalu belajar ini tercermin pada tingginya budaya baca tulis masyarakat Jepang yang ada sejak era Restorasi Meiji, modernisasi Jepang di bawah Kaisar Meiji pada 1868.
Ada karakteristik khas Jepang yang mendorong bangsa ini maju antara lain:
Orang Jepang menghargai jasa orang lain
Orang Jepang menghargai hasil pekerjaan orang lain
Setiap orang harus berusaha
Orang Jepang mempunyai semangat yang tidak pernah luntur, tahan banting, dan tidak mau menyerah
Jepang adalah bangsa yang menghargai tradisi dan memegang teguh kebudayaan yang telah diwariskan oleh pendahulunya
Kehausan yang tidak pernah puas akan pengetahuan
Dengan watak-watak seperti itulah bangsa Jepang dapat memegang kendali salah satu nahkoda dalam pecaturan ekonomi internasional.
3
Sesudah PD II perusahaan Jepang yang besar membentuk tiga sistem, yaitu sistem ketenagakerjaan sepanjang hidup, diorganisasikan menurut perusahaan. Dari ketiga sistem pekerja menganggap sebagai anggota perusahaannya dan memiliki rasa kesetiaan pada perusahaannya. Selain itu, bangsa Jepang juga memiliki etos dan budaya kerja yang unik. Menurut mereka:
Bekerja adalah untuk mendapat kesenangan, bukan sekedar untuk mendapat gaji.
Harus mendewakan langganan.
Bisnis adalah perang. Orang Jepang yang ada di dunia bisnis menganggap bisnis sebagai perang yang melawan denga perusahaan lain.
Bagi orang Jepang, gaji tidak menjadi motivasi yang kuat. Itulah sebabnya etos dan budaya kerja tidak berubah. Perusahaan–perusahaan Jepang memilih untuk menjadi langsing dan ringan.
2.2 Kerja Keras orang Jepang
Orang-orang Jepang memiliki budaya kerja yang tinggi. Mereka menghargai pekerjaan serta menjadikannya sebagai bagian dalam kehidupan mereka. Itulah sebabnya mereka sangat bertanggung jawab terhadap pekerjaan. Mereka juga sangat menghargai waktu, bergerak gesit, dan berjalan dengan cepat.
Orang-orang yang mampu bekerja lembur tanpa harus mendapat tambahan gaji. Mereka juga terbiasa pulang kerja pada larut malam. Semua itu mereka lakukan karena kecintaan mereka terhadap pekerjaan, juga loyalitas pada perusahaan tempat mereka bekerja. Jika ada seorang pekerja yang pulang kerja lebih awal, maka dia akan dicecar pertanyaan oleh istrinya, juga menjadi omongan para tetangga. Mereka yang pulang kerja lebih awal biasanya dikatakan sebagai pekerja yang sedang mendapat masalah, misalnya terancam dipecat dari perusahaan.
Budaya kerja bangsa Jepang yang diperkenalkan melalui asas ini antara lain pencatatan waktu, senam pagi sebelum bekerja, bekerja dalam tim, dan penjelasan singkat mempelajari cara kerja sebelum memulai kerja.
Kaidah dan etika kerja tersebut merupakan ciri-ciri dan budaya kerja di Jepang. Akan tetapi, budaya kerja tersebut tidak berhasil diterapkan dalam budaya kerja orang Malaysia. Untuk menerapkan budaya kerja orang Jepang, diperlukan sikap konsisten dan komitmen tinggi. Jika tidak dilaksanakan sungguh-sungguh, maka akan sia-sia belaka.
Etika kerja orang Jepang berbeda denga etika orang Barat. Bangsa Barat percaya pada anggapan bahwa sesuatu dapat diperoleh dengan cuma-cuma. Oleh karena itu, para pekerja di Barat sering mendesak kenaikan gaji dan hal-hal lain tanpa memperkirakan pengeluaran, kemampuan, dan pendapatan perusahaan. Bangsa Jepang beranggapan bahwa mereka perlu bekerja keras dan berusahademi mendapatkan sesuatu.
Uniknya, Jepang adalah negara yang tidak memiki utang luar negeri. Padahal, jika dilihat pada kondisi yang ada, Jepang tidak memiliki sumber daya alam yang memadai. Alamnya sangat sulit untuk dikembangkan dan sering ditimpa bencana seperti gempa bumi, letusan gunung berapi, dan badai topan. Bahkan, 85% kebutuhan energi Jepang juga masih diimpor dari negara-negara lain.
Meskipun tidak memiliki banyak sumber daya alam, mereka tidak berpangku tangan dan membiarkan keadaan geografis dan takdir menentukan nasib dan masa depan mereka. Bangsa Jepang sadar mereka perlu berjuang untuk kesejahteraan hidupnya. Bagi mereka, hidup merupakan perjuangan. Dalam perjuangan berbagai rintangan dan cobaan harus dihadapi dengan tabah. Perjuangan itu akan berhasil melalui etika kerja yang teratur, penuh disiplin, kreatif dan inovatif.
2.3 Semangat Belajar orang Jepang
5
Hal tersebut bias mereka capai karena adanya sikap kerja keras, rasa malu untuk melanggar norma, hemat, loyalitas, inovasi, pantang menyerah, kerja sama kelompok, mandiri, menjaga tradisi, disiplin, fokus, dan kuatnya budaya baca.
Jelaslah kiranya bahwa pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi bangsa Jepang. Sudah sejak lama Jepang menekankan pentingnya semangat belajar bagi masyarakatnya. Bagi mereka, membaca bukanlah kegiatan yang dipaksakan, melainkan kebutuhan.
Hasilnya, penggunaan waktu secara efisien oleh orang-orang Jepang merupakan sesuatu yang lumrah disana. Misalnya, mereka terbiasa membaca buku ketika sedang dalam perjalanan naik densha (kereta listrik). Anak-anak maupun orang dewasa sibuk membaca buku atau koran. Tidak peduli duduk atau berdiri, banyak yang memanfaatkan waktu di densha untuk membaca.
Budaya baca masyarakat Jepang juga didukung oleh kecepatan dalam proses penerjemahan buku berbahasa Inggris, Prancis, Jerman, dan lain-lain.Penerjemahan buku-buku asing sudah dimulai pada tahun 1684, seiring dibangunnya institute penerjemahan. Cara semacam itu terus berkembang hingga era modern.
Media memiliki peran penting di Jepang sebagai media sosialisasi ilmu pengetahuan dan teknologi. Media bukan hanya menjadi sarana hiburan, namun juga sarana pendidikan. Acara-acara televisi di Jepang banyak di isi dengan kuliah-kuliah dari profesor dari pelbagai bidang pengetahuan, teknologi , serta sosialisasi hasil-hasil penelitian. Bagi bangsa Jepang, ilmu pengetahuan dan teknologi memang dianggap sebagai tulang punggung perekonomian.
Pemerintah Jepang sangat memperhatikan peningkatan mutu dan kesejahteraan guru. Peningkatan profesionalisme guru tentu saja diikuti oleh peningkatan kesejahteraan guru. Pemerintah menghargai profesi guru dengan memberi insentif yang tinggi.
Beberapa faktor yang mendukung keberhasilan Jepang dalam merombak pendidikan, yaitu:
Perhatian pada pendidikan datang dari beberapa pendidikan
Sekolah di Jepang tidak mahal
Jepang tidak melakukan diskriminasi terhadap sekolah
Disamping itu berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh The Political and Economic Risk Consultancy (PERC), lembaga konsultan yang berkedudukan di Hongkong pada akhir 2001 (Republika, 3 Mei 2002) menempatkan Jepang dalam urutan ketiga, di bawah Korea Selatan dan Singapura, dalam Human Deveploment Index atau indeks pembangunan manusia.
Sampai saat ini Jepang adalah satu-satunya negara di Asia yang mempunyai kedudukan yang sejajar dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan perekonomian dengan raksasa dunia seperti AS. Tak heran jika Malaysia pernah menjadikan Jepang sebagai kiblat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
2.4 Cara berbisnis
Kepercayaan modal utama orang Jepang, kata Francis Fuyukama. Menurutnya, kepercayaan bermanfaat dalam ekonomi karena menekan biaya. Dalam bisnis faktor ini mengurangi kebutuhan untuk merumuskan kontrak berkepanjangan, menghindari situasi tidak terduga, mengurangi konflik, dan mencukupi kebutuhan proses hukum seandainya terjadi konflik. Kepercayaan membantu orang bekerja sama dengan lebih efektif karena mereka lebih mementingkan kelompok daripada kepentingan individu.
Berurusan bisnis dengan orang Jepang tidak semudah berbisnis dengan orang Cina. Setiap perkataan yang diucapkan orang Jepang memiliki banyak pengertian. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak orang yang pertama kali berbisnis dengan orang Jepang merasa kecewa dengan perundingan yang dilakukan.
Orang Jepang mempunyai cara halus untuk menolak suatu tawaran dalam bisnis. Sebisa mungkin mereka berusaha tidak melukai hati orang yang berbisnis dengan mereka. Sebaliknya, jika seseorang melukai hati orang Jepang, kesempatan untuk berbisnis lagi dengannya akan tertutup. Satu hal yang harus dipahami oleh orang Jepang adalah sistem ringi, yaitu sistem pengambilan keputusan dengan mufakat.
7
Hal lain yang perlu diperhatikan orang yang ingin berbisnis di Jepang adalah berusaha menjalin hubungan aisatsu dengan rekan kerja dalam perusahaan dan firma. Aisatsu bermakna “memberikan ucapan selamat”, tetapi sebenarnya ucapan tersebut bermakna dalam. Meskipun ucapan tersebut singkat, hal itu dapat mempererat hubungan bisnis dengan perusahaan Jepang.
Sikap ramah perlu ada dalam urusan bisnis. Hindari sikap sombong dan tinggi hati karena hal itu tidak disukai bangsa Jepang dan juga bangsa manapun di dunia.
2.5 Inovasi
Menurut Amartya Sen, peraih Nobel Ekonomi 1998, “Jepang memiliki pengalaman ekonomi yang baik dari waktu ke waktu, sejalan dengan pembangunan umat manusianya yang baik.” Pernyataan Sen ini jelas memberitahukan bahwa fondasi pembangunan ekonomi kerakyatan Jepang adalah pembangunan kualitas sumber daya manusianya.
Pemerintah membuka jalan kerja sama dengan pihak-pihak di luar negeri untuk alih teknologi, modal, dan pasar. Secara inovatif dan produktif, rakyat elite mencipta dan memproduksi industri teknologi. Rakyat kebanyakan mengoperasikan industri teknologi, jasa, dan servis. Global Competitiveness dari Forum Ekonomi Dunia pada September 2005 mendudukkan inovasi teknologi Jepang pada kualitas nomor satu ranking dunia.
Pada 1997 Prof. Suetmatsu Yoshikazu dari Universitas Nagoya mangatakan bahwa 711.436 industri yang memakai tenaga robot, 58 % dimiliki oleh Jepang, AS 10.8 %, Jerman 9.4 %, dan selebihnya dimiliki Italia, Rusia, serta Korea.
Jepang bukan bangsa penemu, tapi orang Jepang mempunyai kelebihan dalam meracik temuan orang dan kemudian memasarkannya dalam bentuk yang diminati oleh masyarakat. Contohnya:
Jepang memang dikenal suka meniru produk buatan Barat. Namun, meskipun pintar meniru, mereka memiliki daya inovasi yang tinggi. Jika pihak Barat memakai proses logika, rasional, dan kajian empiris untuk menghasilkan sebuah inovasi, maka bangsa Jepang melibatkan aspek emosi dan intuisi untuk menghasilkan inovasi yang sesuai dengan selera pasar.
Bangsa Jepang menggunakan ilmu yang diperoleh untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan produk Barat, membuat produk dengan dasar sama, tetapi dengan penyesuaian pada segi kegunaan dan budaya sendiri demi memenuhi kepentingan pasar dan konsumen.
Hasilnya, produk Jepang terkenal lebih ringan, mudah digunakan, hemat, dan lebih murah dibanding produk Barat yang ditirunya. Tak heran jika produk-produk Jepang kemudian menduduki posisi pertama dan menjadi pilihan konsumen karena lebih ekonomis, bermutu, mudah digunakan, dan memiliki berbagai fungsi.
Iklim usaha inovatif Jepang dilindungi oleh pemerintah dan pihak bisnis yang menciptakan 3 pilar pelindung inovasi, yaitu:
Budaya organisasi yang menfasilitasi kreativitas dan inovasi.
Manajer yang berperan sebagai pemimpin yang memberikan contoh aktivitas-aktivitas kreatif.
Seluruh karyawan harus mendapatkan pelatihan berpikir kreatif dan pelatihan memahami proses inovasi di organisasi.
Yang mengagumkan dari proses inovasi Jepang adalah fakta bahwa mereka membuat produk yang sesuai dengan kebutuhan domestik. Jika kebutuhan domestik mereka telah terpenuhi, maka sisanya diekspor ke negara-negara lain.
Rahasia kemajuan teknologi baterai Jepang untuk otomotif disebabkan kerja sama yang sudah dilakukan sejak 1990 antara pabrikan otomotif dan elektronik atau baterai. Suriawase
9
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan
Negara Jepang adalah salah satu negara maju di dunia yang mempunyai banyak keterbatasan di struktur geografisnya. Dengan keterbatasan yang dimiliki negaranya, semakin menjadikan negara Jepang untuk selalu berusaha bangkit untuk menciptakan suatu karya yang inovatif. Dari kebiasaan orang Jepang dapat kita tarik kesimpulan bahwa kriteria orang Jepang, yaitu gigih dalam bekerja, mempunyai semangat belajar yang tinggi, tidak pantang menyerah dengan segala keterbatasan, tidak malu meniru orang Barat, dan selalu inovatif.
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
Adi Susilo, Taufik. 2010. Belajar Sukses dari Jepang. Jogjakarta: Starbooks
Wahono, Romi Satria. “10 Resep Sukses Bangsa Jepang”, www.romisatriawahono.net. Adhitama, Toeti. “Jepang dan Modernisasi Pendidikan”, http:// www.ppim.or.id/artikel/. “Belajar dari Jepang”, www.sobatbatam.com,
“Belajar dari kesederhanaan Jepang”, http:// taruna-nusantara-mgl. sch. id/id/ index2 .php?option =com_content&do_pdf=1&id=340