• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERDAGANGAN ORANG BUGIS DI KAWASAN TELUK TOMINI MASA KOLONIAL BELANDA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PERDAGANGAN ORANG BUGIS DI KAWASAN TELUK TOMINI MASA KOLONIAL BELANDA"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

PERDAGANGAN

ORANG BUGIS

DI

KAWASAN

TELUK TOMINI

MASA

KOLONIAL

BELANDA

Hasanuddin

BalaiPelestarian Nilai Budaya Manado JalanKatamso,BumiBeringin Lingkungan Manado

Telepon (0431)864926Faksimile (0431) 864926 Pos

-

el: [email protected]

Abstrak

Perdagangan orang Bugis di kawasan Teluk Tomini didorong karena tradisi yang kuat tentang sompeq (merantau)

.

Pedagang dan perantauan Bugis keluarmencari kekayaan dankeiayaan di kawasan Teluk Tomini

.

Merekadengan perahu traaisionalnya menjadi urat nadi bagi

kehidupan

perekonomian di kawasan Teluk Tomini,sampai dipedalaman melalui pelayaran pantai dan sungai

.

Komoditas utama adalahemas, bijih besi, budak,

sisikpenyu

,teripang, kayucenaana,kopra, damar, dan rotan. Barang dagangan tersebut dipasarkan ke Ternate, Singapura, dan Makassar. Masa kekuasaanVOCkemudian Pemerintah HindiaBelanda telah menjadi persaingan pedagang Bugis untukmemperebutkanprodukemasdanbudak, walaupundikeluarkankebijakanuntukmempersempit usahanyatetapi pedagang Bugistetap menguasai perdagangan, utamanya emas dan budak

.

Faktor ini menyebabkan munculnya perkampungan-perkampungan Bugis, dan beberapa di antaranya berhasil dikuasainya

.

Secara ae facto pedagang Bugismemegang hegemoni politik dan ekonomi di kawasan TelukTomini

.

Penelitian inidilakukan dengan menggunakan metode sejarah yaitustudi pustaka dengan mengumpulkan data-data sejarah,denganmenguraikansuatu peristiwa ke dalam

bagian-

bagiannya

dalam rangka memahamiperanan pedagangBugisdalam jalur perdagangan dan

kekuasaannya di kawasan Teluk Tomini

.

Katakunci:Bugis,perdagangan,Teluk Tomini, PemerintahHindia Belanda

BUGIS SAILING AND TRADING IN TOMINI BAY REGION

Abstract

Bugis trading in Tomini bay regionwas done in supportingof tight tradition about sompeq (wander about)

.

Merchantandsompeq of Bugis leave their land to

seekfor

welfare and glory in Tomini Bay

.

They

used

traditionalship that became the core of economical

life

in Tomini Bay through beach andriversailing.The importance commodity was

produced

mostly by merchant communities suchas gold, slave, and scale of turtle, tripang, yellow sandalwood, copra, resin, and rattan. Those commoditieswere marketed to Ternate, Singapore, and Makassar.VOCreign and then Dutch Indies had been rivals for Bugis merchants in selling goldandslave

.

Although therewas a policy forBugis traderstolimit theiractivities,but Bugis traders still held and masteredintrading, particularlyfor gold and slave

.

This factor stimulatedemergeof Bugis districts andsomeofthemwere colonized

.

Bugis traders held political hegemony de facto

and

economy in TominiBay. This research was conductedusinglibrary research andanalyticaldescription method by describing events to their parts inunderstanding the role ofBugistradersintrading line and theirpowerin Tomini Bay.

Keywords:Bugis,trading

,

Tomini Bay

,

Dutch Indies Government

.

I.PENDAHULUAN

Indonesia merupakan sebuah wilayah yang terdiri dari ribuan pulau besar dan kecil yang membentang dari barat ketimur (Sabang sampai Merauke),dan utara keselatan(Miangas

sampai Rotte). Kondisi ini mempengaruhi keadaan masyarakat yang mendiami wilayah

-wilayah tersebut,sehingga munculberbagai suku bangsa yangkesemuannya memiliki ciri

khas tersendiri, baik dari segi tradisi maupun pola kehidupan sosialnya. Terlepas dari itu

semua wilayah Indonesia yang sebagian besar berbatasan dengan laut, menghasilkan

sebagianmasyarakatnyamelakukan aktivitasdan mencarikehidupandarilaut

.

(2)

lautnya lebih besar dari wilayah daratannya. Selain itu dapat berfungsi sebagai landasan dalammengukuhkankembali kejayaan bangsa Indonesia sebagai bangsa bahariyang hidupdi negarakepulauan.KawasanTeluk Tomini salah satunya telahmenjadiperhatiannasional dan intemasional sejak dilaksanakannya kegiatan,SailTomini tanggal 20September2015 yang

dipusatkan diParigi,KabupatenParigi Moutong.

Menurut Mahan bahwa apabila keadaan suatu negeri memungkinkan penduduknya

untuk turun ke laut, maka merekaakan lebih bergairahuntuk mencari hubungan ke luar melaluilaut. Doronganuntuk menjalin hubunganke luarberkaitan dengan kecenderungan

penduduknya untuk berdagang (Poelinggomang, 2002:13) dan mencari daerah baru atau

kegiatanekspansi.

Jaringan pelayaran Bugis menyinggahi jalur

-

jalur perdagangan, seperti Sulu,

Banjarmasin,Palembang,Johor,Pahang,danAceh.Perahu Bugis juga menyinggahi berbagai

pelabuhan di pesisirtimur Kalimantan, seperti Kutai Pasir, dan Samarinda. Demikianpula

mereka menyinggahi Maluku, Temate, Banda, dan pesisir timur Irian Jaya. Di Sulawesi, menyinggahi Kaili,Bone, Gorontalo,Manado, danKema.Padaumumnya pelabuhanyang

telah disinggahi dijadikan sebagai koloni dagang(Asba, 2007:79).

PelayaranBugisdalamperiodeabad ke

-

19 meliputi hampirseluruhperairanNusantara,

kegiatan pelayaran Bugis telah dikunjungi dari Singapura hingga Papua, dan di bagian

wilayahselatan dariSulu,Filipina Selatan hingga Darwin(Australia).Hampir seluruhdaerah

yang disinggahi dikembangkan menjadi kota

-

kota pantai sebagai pusat aktivitas

perdagangannya. Bahkan dibeberapadaerahmampumendirikankerajaan

-

kerajaan (Pelras, 2006:4).Kajian tentangSawerigadingdalameposLa Galigodapatmemberipetunjuktentang

luasnya daerah

-

daerahyang dikunjungi.Gambaranjelastentangpelayaran Bugis diperoleh

dari catatan hukumlaut Ammana Gappayang juga melampirkan petalaut Bugis (Tobing, 1977).

Kegiatanpelayarandanperdagangandi kawasan Teluk Tomini yangpalingutarnaadalah tersedianyapemasaranbarangekspordanimpor,sepertiemas,budak, sisikpenyu,bijihbesi,

kopi,kopra,kayu cendana,damar,dan rotan. Begitupulakomoditi dari luardibawa berupa

opiumCina,guci,kain,dan berassecara langsung membawa pengaruh terhadapkemajuan pelayaran dan perdagangan di Teluk Tomini. Pelayaran dan perdagangan prinsipnya melakukan usaha

-

usaha untuk mencari keuntungan ekonomis (vent for surplus ) dan pertukaran budaya(cross culturaltrade)

.

Aktivitas perdagangan orang Bugis, menurut Dick dalam kajian ekonomi maritim

melihat pentingnya jaringan perdagangan dalam membentuk hubungan pulau

-

pulau di

Nusantara. Dickjuga menganalis jaringan perdagangankelompok kelompok etnik melalui

perahu layar yang dapat berperan utama dalam pembentukan jaringan perdagangan.

Pelayaranperahulayar yang membentuk solidaritaskelompoketnik sangatberperandalam menghalangi monopoliKPMdi Hindia Belanda pada awal abad ke

-

20. Tingginya solidaritas etnik Bugis, Makassar, Buton, dan Madura membuat mereka bertahan dalam pelayaran,

bahkanmereka menguasaitempat

-

tempatpelayaran yang tidak dijangkauolehKPM(Dick,

1975:69

-

107).

Menurut Pelras (2006:5) bahwa orang Bugis merupakan pedagang antarpulau yang

disegani,dan kuatnya pengaruh pedagangBugistemyatamembawafenomenabarusetelah

munculnya diasporaBugis,kemudian membentukperkampunganBugis danbanyak dijumpai

seperti Parigi,Gorontalo,Banggai,Ampana,Tojo, Togian,Ampibabo,Kasimbar,danTomini.

Kemampuan menyesuaikandirimerupakanmodal terbesaryang memungkinkan orang Bugis

(3)

menyesuaikan diri dengan keadaan sekitamya, orang Bugis tetapmampu mempertahankan identitas .ke

-

Bugis

-

an. mereka.Walaupundemikian, proses hubunganinteraksi membawa transformasi budayapada penduduk setempat, sehingga terjadi adopsidanadaptasibudaya yangsemakinmemperkayabentuk kebudayaan.

Bagi orang Bugis merantau adalah bagian yang tidak terpisahkan dari budayanya,

sompeq(merantau) menyebut dirinya apabilameninggalkan kampung halamannya.Sompeq

merupakan kisah yang sangat tua dalam sejarah peradaban Bugis. Mereka menganggap

bahwa belumlah sempuma kehidupan seseorang tanpa melalui satu fase dalam hidupnya

yaknisebagaipassompeq,"selama lautmasih berombak,maka pasir dipantaitak akan pemah

tenang". Ungkapan ini yang memacu keresahan oarng

-

orang Bugis yang belum pemah merasakanmerantaudan berlayar(Rahman, 2006:409).

Sclainitu,hubungan pelayaran dan perdagangan di kawasan TelukTomini tidakterlepas

dari aktivitas bajak laut/perompak. Para bajak laut aktif melakukan perompakan di Teluk Tomini utamanyabajaklaut Tobelo dan Mangindanao tumt mewamai dinamikapelayaran

danperdagangandi kawasan itu. Bajak laut disebut sebagai orang yang melakukan tindakan

kekerasandi laut,tanpamendapatwewenangdari pemerintah untuk melakukan tindakanitu (Lapian,2011:163).

Penulisanini mencoba menjawabpertanyaan bagaimana kegiatanorang Bugis dalam

pelayaran danperdagangan,kemudian bagaimanakolonidan kekuasaan Bugisdi kawasan

Teluk Tomini dalam menghadapi kekuasaan kolonial Belanda. Meskipun tidak semua

peristiwa tercantum dalam tulisan ini, namun diharapkan dapat menelusuri dan

mengungkapkanproses pelayarandan perdagangan Bugis, danmunculnya perkampungan

Bugisdikawasan TelukTomini. Penelitianini dapatmembantu mengingatkankembalijalur

perdagangan dan perkanpungan Bugis yang dapat menjadi acuan bagi kebijakan

pembangunanmasa kinidan akan datang.

Prosedur penelitian sejarah melalui beberapa tahap, pertama adalah mengumpulkan data

-

data sejarah (heuristik)dilakukan dengan prosesmenemukan sumber

-

sumber sejarah. Olehkarenapenelitian initentangpelayarandanperdagangan orangBugis,mencakup periode

kolonial Belanda, maka sumber primer berupa arsip

-

arsip dari Arsip Nasional Republik

Indonesia (ANRI) seperti arsip Koloniaal Verslag (KV), perjanjian atau kontrak dengan

kolonial Belanda,sertasuratkabar. Adapunsumber sekunderberupabuku

-

bukuhasilkajian

tentang pelayarandanperdagangandidapatkandi perpustakaan.

Sumber

-

sumber primerdan sekunderyangtelahdikumpulkandikoreksi ulang,dipelajari

kemudian dipertimbangkan,manayangsesuaidenganpokokmasalah.Selanjutnyadilakukan

kritik sumber baik otentitas atau keabsahan sumbersebagaikritik ekstemmaupunkredibilitas atau bisa tidaknya dipercaya sumber tersebut. Selanjutnya dilakukan interpretasi dengan merangkai, menghubungkan, dan menerangkan data

-

data sejarah yang ada kaitannya dengan permasalahan yang dikaji. Tahapan ini berupa rekonstmksi yang imajinatif dari masa lampau berdasarkan datayang diperoleh.

Ruanglingkup fokuspenelitian di TelukTominiadalah wilayahGorontalo,Parigi dan Banggaiditentukanoleh letaknya yang strategis dalampelayaran danperdagangandiTeluk Tomini. Sepanjang pengetahuan belum pernah diadakan penelitian pelayaran dan perdagangan orang Bugis di kawasan Teluk Tomini. Umumnya karya tentang Gorontalo,

Parigi dan Banggai hanya menyoroti masalah peristiwa

-

peristiwa dalam politik kerajaan

.

Berkaitan dengan hal tersebut, penelitian ini kiranya dapat merupakan suatu awal untuk mendekati danmempelajarikawasan TelukTomini dalampelayarandanperdagangan.

(4)

perubahan susunan tatanegara Hindia Belanda. Secara formal Gorontalo dan Parigi

dipisahkan dari Karesidenan Temate dan dimasukkan dalam Karesidenan Manado.

Pemerintah Hindia Belanda mulai melakukanperluasan jalursertaperaturan pelayarandan

perdagangan.Selainitu, masuknyaKoninklijke Paketvaart Maatschappij(KPM) akhir abad

ke

-

19di kawasan TelukTomini turut mewamaidinamika pelayaran dan perdagangan,serta

perkembangan teknologisaranatransportasi.

II.PEMBAHASAN

A.JalurPerdaganganRegional

Kegiatan pelayaran dari luar wilayah Teluk Tomini dapat memasuki Teluk Tomini

melalui tigaarah.Pertama,darisebelahutaramelaluiLautCina Selatanmelewati Laut Sulu,

kemudian memasuki Laut Maluku. Kedua, jalur sebelah timur melalui pelayaran dari SamuderaPasifik danLautMaluku.Ketiga

,

Laut JawamenghubungkanLautFlores menuju

Buton,Kendari,Teluk Tolo,dan Pulau Banggai. Para pedagangBugismelalui jalur ketiga

dalammelakukanperjalanan ke Maluku pada bulanDesember danMaret,dengan berlayar

searah angin musim barat.Berangkatdari pantaisebelahtimur SulawesiSelatanmelalui jalur

sebelah utara melalui Kendari, Teluk Tolo, Teluk Tomini, Temate, Halmahera Utara, dan

Papua (Pelras,2006:363).

KawasanTelukTominibersinggungan langsung dengantigawilayah provinsi diPulau

Sulawesi, yaituSulawesiTengah,SulawesiUtara,dan Gorontalo denganluasperairansekitar

59.500 km2. Garis pantai Teluk Tomini terpanjang berada di Provinsi Sulawesi Tengah

dengan jumlahsekitar1.179 km,ProvinsiSulawesi Utara sepanjang784,94km,dan Provinsi

Gorontalosepanjang436,52km.

KawasanTeluk Tomini adalah salahsatuteluk terluas yang berada di Pulau Sulawesi.

International Hydrographic Organization (IHO) mendefinisikan Teluk Tomini sebagai bagiandariperairan EastIndianArchipelago atau KepulauanHindia Timur. Dalampublikasi ilmiahnya Limits of Oceans and Seas(edisi ke

-

3, tahun 1953),TelukTomini berada pada

catatannomor48d. IHOmendefinisikanbatas timurTelukTominisebagai "batasbaratLaut

Maluku", yang diartikan sebagai Tanjung Pasir Panjang (0°39'S 123°25'E) dan Tanjung

Tombalilatu (123°21'E) di pesisir yang berseberangan ("Limits of Oceans and Seas, 3rd

edition". International Hydrographic Organization

,

1953, him. 25. https://epic.awi.de

/29772/l/IH01953a.pdf.). Di tengah

-

tengah Teluk Tomini terdapat 56 pulau yang dikenal

dengannama Kepulauan Togian,dan di antaranya terdapatenam pulau termasuk kategori

pulau besar yaitu Pulau Una

-

Una, Batulada, Togean dan Talatakoh, Waleakodi, dan

Waleabahi.

Teluk Tominimerupakansalah satu wilayah strategis di bagian tengah Pulau Sulawesi. Kondisi lautnya yang luas danaman dariterjanganombak besar,yangpaling utama adalah kaya akanpotensialam dan menghasilkan komoditasperdagangan utamaadalahemas, bijih

besi, budak, sisik penyu, kerang laut, teripang, kayu cendana, kopra, rotan, damar, dan

pewama kayu.

Perdagangan maritim Bugis dikembangkan oleh pelaut Bone yang bermukim di

Cendrana, Bajoe,danKajuara.Selainpelaut Bone,pelautWajodari DanauTempeatauSungai Cendrana berlayar dari pelabuhankecil merekasendiri di Dopingdan Pineki keMakassar,

dimana orang Wajo memiliki komunitas tersendiri yang cukup penting posisinya(Pelras,

2006: 303).

(5)

telahdijalankanolehpara pedagangBugis dengan menggunakanperahu

-

perahutradisional. DiGorontalo,pedagangBugistelahlama melakukanperdagangandenganparabangsawan Gorontalo.Beberapadi antaranya menggunakan jenisperahu

-

perahulebih besar yang telah disewa olehpara pedagangCina,dan kemudian membawa langsung barang dagangan mereka ke Cina. Perahu

-

perahu milik Bugis memegang peranan penting dalam kehidupan

perekonomian didaerah pesisirdan pedalaman.

Faktor ini didukung oleh jenis perahunya yang rampingdan memiliki akselerasi dan kemampuan bergerak cepat,meskipuntempatpenampungan barang dagangannyaterbatas.

Kegiatanpelayaran Bugismenjadi uratnadibagi kehidupan perekonomiandikawasan Teluk

Tomini sampai utaraSulawesi(JuwonodanFlutagalung,2005: 20).

Pada tahun1669,Banggaibcrada dibawah kekuasaan Temate,namun wilayah Banggai

terns dipengaruhi oleh kekuatan Bone. Para pedagang Bugis sering mengunjungi pesisir

Banggai dan dianggap Temate telah menggangu kekuasaannya. Begitu pula di Tobungku wilayah pinggiran Temate, mendapat perhatian dari VOC sebagai daerah „impian para

penyelundup.. Pedagang Bugisdari Malaka singgah kepelabuhanTobungku,karena dikenal

sebagai penghasil budak, rempah

-

rempah, tempumng penyu, lilin, tembakau, dan banyak

produk lainnyaditemukan dengan harga lebih murah daripada hargayangditetapkan oleh

Belanda. Ketika VOC kekurangan barang dagangan bempa tempumng penyu, maka

Tobungku menjadi pemasok tempumng penyu yang berkualitas, yang didatangkan dari

Togian dan Pulau Banggai. Tobungku juga penghasil bijih besi dalam jumlah besar, dan

berkualitas tinggi dibandingkan dengan bijih besi yang ditemukan di sekitar DanauMatanodi

Luwu(Andaya,2015:102

-

103).

Para pedagang Bugis berlabuh di pelabuhan guna mengumpulkan produk komunitas

sekaligus sebagaititikpemberangkatan pelayaran dagangmerekamenujupelabuhanutamadi

kawasanNusantara danSingapura. Di utaradan tengah PulauSulawesimereka membawa serbuk emas, kayu cendana, sarang burung, dan cangkang penyu. Sekembalinya dari

Singapura,mereka membawaopiumCina,peralatan dapurCina, sutra mentah Cina,kain wol

Eropa,dankomodtas lainnya(Pelras, 2006:362).

Di Gorontalo,pedagang Bugis menguasaiprodukserbukemas jugamenarik perhatian

orangPortugis,budakdankulitkerang.Ekspor tambang lainnya bempa besi,tembaga,dan

timah hitamdariBanggai juga beradadi bawahkekuasaan pedagang Bugis dan membawanya

keTemate(Pelras,2006: 144).Aktivitas pedagang Bugis mendorongVOCbemsahauntuk melakukan monopoli produk barangdan menguasai Gorontalo. Pada 27 September 1677,

Robertus Padtbrugge (Gubernur Maluku) bersama pembesar Ternate mengunjungi

Gorontalo, dan Padtbrugge menekan kekuasaan Olongia Gorontalo melalui Perjanjian

Bungaya(Hasanuddin danAmin,2012:57

-

59).

Walaupun Olongia Gorontalo merasa keheranan atas kekuasaan Temate, kemudian

disepakatiperjanjianyangmemuat8 pasal,antaralain pada pasal1adalah Sungai Gorontalo hams dibuka bagi pelayaran kapal milik VOC; pasal 2 yakni Gorontalo hams menyetor

produk kelapa,kentang,gandum, ubi,dankatun dalam jumlahtertentu;dan pasal4 bahwa

Gorontalo hams menyetor bempa damar, rotan, keranjang, dan bahan tali (Juwono dan

Hutagalung,2005:74

-

75).

Perjanjiandiperbami pada25Maret1678 antaraPadtbmgge dengan KuicilByasebagai

OlongiaGorontalodanperwakilan Limboto dipimpinKapitalauKuicil Golade dan Kuicil Pomaele di Ternate. Isi perjanjian di antaranya pasal 17 bahwa Gorontalo dan Limboto

melarang berdagang bagi pedagang pribumi danpedagangEropa lainnya temtamamusuh

(6)

pelayaran dan perdagangan, dengan melarang orang Bugis berdagang di Gorontalo. KekuasaanVOC dapatmemberi cerminan bahwa sebelumnya Gorontalomempunyai potensi bagi kemajuanperdagangannya.

Perdagangan semakin dinamis setelah terlibatnya pedagangCina dari Gorontaloyang

memiliki hubungan dagang dengan pedagangBugis. BeredamyakepengCina sebagainilai

tukar membawa dampak negatif bagi perdagangan Belanda. Sebaliknnya, barang

-

barang

dagangan, seperticandu,senjata api, dan mesiu dari pedagang Cinadibeli oleh pedagang

Bugis,dan dijual kepada bangsawan Gorontalo.Candu menjadi komoditas penting dalam

kehidupan bangsawan, demikian juga senjata api dan mesiu dijual para bajak laut Mangindano kepada Syahbandar Gorontalo. Syahbandar kemudian menjualnya kepada

Olongiadan para bangsawan Gorontalo dengan membayamyadalam bentuk emas, karena

emasdigunakan sebagaialatpembayaran(JuwonodanHutagalung,2005:160).

Di Tinombo, pedagang Bugis telah lama menjalin perdagangan dengan penguasa Tinombo. Awal abad ke

-

19,kapalBugis sering berlabuh dipantaiTinombo dengan membawa keramik, barang pecahbelah, kain dan kuningan. Setelah berdagang, mereka mengangkut

damar, rotan, dan use timpaus (binatang untuk bahan obat

-

obatan Cina). Selama dalam

berdagangnya,mereka membangunpemukiman kontemporer di pesisir Tinombo (Nourse,

2005:224

-

225).

Di Kwandang (utara Gorontalo) ramai dikunjungi kapal

-

kapal dagang, di antaranya

perahuBugisjenispadewakangyang memuat katun dan guladalambentukkalengberukuran

15 sampai 25bahardari Surabaya, dandipasarkankepedalamanpantaiutara.Sekembalinya,

perahu

-

perahupadewakangmengangkutberas, rotan, dandamar(JuwonodanHutagalung,

2005: 22

-

23).Awalnya penduduk belum mengetahuinilaiprodukdamar (getah kopal) dan rotan.Setelah masuknya pedagangCina danEropa dengan memborongnya,makapenduduk mulai mengusahakannya (Hoevel, 1891:15). Komoditas rotan kualitasnya sangat baik dengan ekspor setiap tahun sekitar 2.000 pikul dan harga f

.

11.000. Selain rotan, damar

merupakanbarang daganganterpenting,setiaptahunnya damardieksporsekitar 21.000pikul

dengan harga

/

350.000 (Haga,1931:75).

Padatahun 1870

-

1873,para pedagangBugisdan Makassar membelidalamjumlahbesar

produk damar dan rotan dari Gorontalo. Sebuah tulisan dalam koran De Java Bode

menunjukkan bagaimana jumlah ekspor dari pelabuhan Gorontalo terns meningkat sejak

tahun 1870. HalinidisebabkanOlongiadan bangsawanGorontalomemaksa rakyatnya untuk

membawa produk damar dan rotan dan kemudian dibeli dengan harga murah, sehingga

menghasilkankeuntunganbesar (JavaBode, 19 Juni1890:lembarke

-

1).

B.Perdagangan Emas

Produk emas menjadi barang utama dalam jalur perdagangan di Gorontalo, terkenal dengan emas berkualitas kadar karat yang tinggi. Pedagang Belanda dan Bugis bersaing dalam menguasai produk emas. Pada 31 Januari 1729,Gubemur Maluku Pielat mengeluarkan

keputusanmelarangsemua pedagang mendekati daerah tambang

-

tambangemas(Juwonodan

Hutagalung, 2005:125

-

126). Untuk mengawasi dan mengendalikan kegiatan perdagangan

emas,VOCmendirikan pos

-

pos di Gorontalo. Bahkanpada 1747

-

1795,di Parigi terdapat

benteng VOC yang letalmya terpencil, dan berfungsi sebagai tempat penampungan emas

(Henley, 2005:41).

Pada tahun 1729,VOC memerintahkansemua produkemasdi Gorontalo hamsdijual

kepadapos pemsahaan dengan harga

/

10perrial

.

Rendahnya harga yangdipatok,mendorong

meningkatnya perdaganganemasyangdikuasaipedagang Bugiskarena membeliharga yang

(7)

perdagangan gelap mengakibatkanpadatahun1774,produkemasyangdikuasaiVOChanya sekitarseperdelapandarijumlahproduksiemasdi Gorontalo (Henley, 2005:93

-

96).

Perdagangan emas di Gorontalo semakin ramai setelah munculnya para pedagang Makassar, Mandar, dan Cina yang ikut terlibat dalam perdagangan emas. Meningkatnya

perdagangan yang dikerjakan pedagang pribumi, utamanya dari pedagang Bugis

menyebabkan VOC mulai menekan perdagangan emas dan memonopolinya. Pada22 Juli

1765, VOC menetapkan perjanjian kepada penguasa Gorontalo untuk melarang kegiatan pelayaran dan perdagangan bagi para pedagang pribumi dan asing di sungai

-

sungai dan

pelabuhan Gorontalo, serta membangun benteng di Kwandang (Riedel, 1870:116) untuk

mengawasikeluar masuknyapara pedagangdi LautSulawesi.

Pada abad ke

-

19, Gorontalo mengalami peningkatan dan perluasan produk tambang

emas setelah ditemukannya kandungan emas. Penemuan ini membawa dampak

meningkatnya jumlahperasahaantambang emas yang melakukaneksplorasidaneksploitasi hampir meliputiseluruh kawasan Gorontalo. Pemerintah Hindia Belanda menaruhperhatian untuk mengatur danmemonopoliemas denganmembuat daftarpenghasilanemasdi Paguat

tahun 1823, dan tahun 1828. Selain di Paguat, juga mendapatkan penyetoran emas dari

berbagai tambangemas diwilayahGorontalo.Pada tahun 1830telah dilakukan eksporemas

pasir,perak,dantembaga.

Pada umumnya kegiatan penambanganemas dikerjakan oleh orang

-

orangBugis dari

Bonesecara berkelompok. Mereka diberi izin penambangan oleh olongiaGorontalo, dan

diwajibkanmembayar izinsebesarf 30

-

35 dalamsekalipenambangan.Pajakpenambangan

kemudiandisetorf 16kepadaPemerintah HindiaBelanda.Pemasukanpajakpenambangan

tahun1842 sebesar799rial,1843 sebesar 662rial,dan tahun1844 sebesar 750rial(Hoevell,

1850:266).Produksiemastahun 1866berjumlah1.500rialataudi nilaidengan uangkira

-

kira f 45.000. Orang

-

orang Bugis menguasai tambang emas dengan berbagai cara termasuk menukamya dengan candu (Riedel, 1870:91

-

92). Pedagang Bugismemasarkan produk emas sebagian besar ke Singapura, sehingga pada tahun 1846 jumlah produksi emas yang

dipasarkan ke Singapuraempatkali lebihbesardari jumlah yang dikirim ke Belanda(Henley,

2005:93

-

96).

C.PerdaganganBudak

Sejak abad ke

-

16, budak merupakan salah satu komoditas perdagangan orang Bugis

(Ricklefs,2009:97)

.

Sepanjangabadke

-

18, perdaganganbudak yang didukungolehpenguasa

setempat berkembang menjadiaktivitas yangsangat menguntungkan.Setiap tahun sekitar 3.000 budak dikirim dari Makassar dengan keuntungan sekitar 100 gulden per kepala.

MenurutRaffles bahwa:

Dari ribuan budak yang setiap tahun diekspor dari Makassar, sebagian besar dari mereka

diculikoleh orang

-

orangsuruhanbangsaEropa,atauraja

-

rajasetempat.Penjualanbudak

merupakan sumber pendapatan utama para raja. Ada beberapa agen kantor dagang

Belanda di berbagai daerah yang memperdagangkan budak. Salah satu di antaranya

mampumengeksporscmbilanratusbudak dalam setahun(Pclras, 2006: 339).

Pada 25 Maret 1678, Robertas Padtbrugge (Gubemur Maluku) mengajukan kontrak

kepadaKuicilBya(OlongaiGorontalo)yang memuat24 pasal,di antaranya dalampasal15

dinyatakan bahwapedagangVOCdibebaskan melakukanperdaganganbudak; danpasal20 disebutkan bahwa penduduk di pantai Teluk Tomini dan perairan Gorontalo yang bukan

penduduk Gorontalo tidak boleh ditangkap, kecuali mereka adalah budak yang mencoba

melarikandiri.Jikahal ita terjadi,mereka wajib menangkap dan menyerahkannyakepada

VOCdan akanmemberikangantirugisesuaidengan harga budak(Juwonodan Hutagalung,

(8)

diwajibkanmenyerahkan150 budaksetiap tahunnya(Hasanuddin danAmin,2012:68).

Pada tahun 1683, VOC menekan Gorontalo melalui perjanjian tambahan tentang penyetoran emas sebanyak 2 kati dalam bentuk batangansetiap tahunnya dan diserahkan

kepada pejabat YOC di Manado (Juwono dan Hutagalung, 2005:103

-

104). Sejak

dikeluarkannya peraturan bagi penduduk Gorontalo diwajibkan menyerahkan emas setiap

tahunnya, dan jika tidak mampu membayar setoran emasnya maka mereka dijual oleh

pemimpinnya sebagai budak. Ratusan penduduk bersama istri dan anak

-

anaknya dijual

sebagai budak kepada orang asingdanpenduduk kaya dengan harga tinggi.Kebanyakandi

antara mereka di ekspor ke Temate dan Ambon

.

Perdagangan budak telah memberi keuntungan besar bagi VOC diGorontalo(Riedel,1870:68).

Pada abad ke

-

18, selainbudakdari Gorontaloterdapat juga sejumlahbesar budakyang

didatangkan dari Tomini, dan kemudian dipasarkan ke Gorontalo (Henley, 2005: 208).

Selamabertahun

-

tahun merekadirampokdan dijarah, sehingga ribuan orang dijadikan budak

baik wanita dan anak

-

anak oleh penguasa Tomini. Mereka dibawa ke Gorontalo dan dipasarkankeTemate.HalinimenarikpedagangBugisuntuk melakukanperdaganganbudak ke Gorontalo(Riedel,1870:556).

Pada wilayah kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda, perdagangan budak praktek

perdagangan budak masih berjalan secara teori dihapuskan sejak 1818, serta diputuskan

semua budakhamsdidaftar(Pelras,2006:361).DiGorontalo,dikeluarkanperaturan tentang

pajakbudak yangtercatattahun1828,1829,1832,1833 dan 1834.Kebijakanini diputuskan

karena budak mempakanperdagangan penting bagi pedagang Bugis. Pemerintah kolonial Belanda kemudian melakukan pendataan para budak, tercatat dimulai tahun 1822, 1823, 1828, 1830, 1831, 1833,dan1840dengan mendaftarnamabudak,tempat lahir, umur,jenis kelamin, nama pemilik, pembahan pemilik, tanggal lahir, kematian, pergi ke tempat lain, datangdaritempatlain,pelariandanpengembalian(InventarisArsipGorontalo,1810

-

1865).

Banyaknyajumlahbudak di Gorontalo disebabkan berlakunya kontrak tanggal 9 Januari

1828, antara Mohammad Iskandar Pui Monoarfa dengan Pemerintah Hindia Belanda.Dalam

pasal 10, tentang kewajiban membayar pajak bempa emas yang ditarik melalui setiap

penduduk.Banyak penduduk yangtidak mampu membayar pajak,sehingga mereka dijual

sebagai budak,agarhasilpenjualannyadapatmemenuhi pembayaranpajaknya(Hasanuddin

danAmin, 2012:76

-

78).

Sampai tahun 1850, perbudakan masih dominan dan kegiatan perdagangan budak

dilakukan dalam jumlah besar di Gorontalo (Riedel, 1870:67). Pada tahun 1856, Assisten ResidenvanBaakdalam laporannya menyatakan bahwa jumlah pendudukGorontalosekitar 40.000jiwa,dan 1/3beradadalamperbudakan(Haga,1931:10).Padatahun1859,Pemerintah Hindia Belanda menghapuskan sistem perbudakan di Gorontalo (Henley, 2005:43).

Walaupun perbudakan telah dilarang, namun pedagang Bugis masih terns melakukan

perdagangan budak (Pelras,2006:360).

D.BajakLaut

Dinamikapelayaran dan perdagangandikawasan TelukTomini menjadikomplekssejak

munculnya bajak laut.Gambarantentangbajaklaut dikawasanTelukTomini,khususnyadi

Gorontalodanhubungannyadenganbajaklaut diketahui dari laporanHartbahwaGorontalo

mempakan sarang bajaklaut/perompak,namun pada pertengahanabadke

-

19,kegiatanpara

perompaksudah tidak ada lagi,danOlongiaGorontalo sudahsangat patuhkepadaPemerintah Hindia Belanda (Hart,1853:226

-

227).
(9)

Gorontalo melakukan pertemuan, salah satu pembahasannya adalah masalah bajak laut. Padtbmgge menyampaikan bahwa keamanan di Teluk Tomini dan pantai utara Sulawesi sangat rawan bagi kapal

-

kapal VOC. Hal ini ini menunjukkan banyaknya bajak laut berkeliaran di Teluk Tomini dan sulit ditaklukan olehpara penguasadi kawasan Teluk Tomini. SelanjutnyaPadtbruggememaksaOlongiaGorontalo mengakuiperjanjian dibuatnya,antara lain pasal 8 memerintahkan Olongia Gorontalo wajib menjaga keamanan di wilayah perairannya darigangguan bajak laut dan bajak laut yang ditangkap harus diserahkan kepada

VOC(Juwono danHutagalung,2005:74

-

75).

Pada tahun 1690, perompakan di pantai utara Sulawesi dan kawasan Teluk Tomini

mengalami peningkatan. Para bajak laut dari Mangindano telah memperluas wilayah

operasinya dari Filipina Selatan terns ke pantai utara Sulawesi sampai di kawasan Teluk

Tomini. Mereka menggunakan jenis perahucoro-coroyangmampu menyusuri sungai dan

pantai.Sasaranutamaperompakannyaadalahkapal

-

kapaldagangmilikVOC (Juwonodan

Hutagalung, 2005:107).

Dipantai utara dan timur Sulawesi juga munculperompakanyangdilakukanpara pelaut Bugisdan Makassar.Para bajak lautBugisdan Makassarlebih memiliki strategi serta cara kerja yang lebih baik. Sepanjang wilayah operasinya, mereka mendirikan pangkalan

-pangkalan yang letaknya strategisdi antara pelabuhanbesar atau dekat dari transit kapal

dagang. Pangkalan mereka antara lain di Donggala berfungsi untuk mengawasi kegiatan

kapal

-

kapal di Teluk Palu. Mereka juga mendirikan pangkalan di Kalangkangan untuk

mengawasipelabuhanTolitoli dan Kwandang,dan mengawasi serta mencegatkapal

-

kapal

yangmemuat barang dagangandariGorontalo ke Manado atausebaliknya.Setiappangkalan

mempunyai seorang pemimpin, dan mereka membentuk jaringan yang saling membantu

ketikamenghadapi musuhnya(Juwono dan Hutagalung,2005:108

-

109).

Selain melakukan perompakan, beberapa bajak laut Bugis juga sebagai pedagang. Mereka melakukan kerjasama dengan para penguasa lokal, seperti Gorontalo, Limboto, Parigi dan Buol. Merekamenjualbarang dagangan,seperti produktekstil,beras, dan garam.

Sebaliknya olongia dan bangsawan Gorontalo membayamya dengan emas atau budak.

Olongia dan bangsawanGorontalo memandang peluang dengan memperoleh keuntungan

lebih besar jika transaksi dengan pedagang Bugis, dibandingkan melakukan transaksi

bersama VOC dengan hargayang telahditetapkan melaluikontrak/perjanjian.

Pada abad ke

-

18, terjadi peningkatan jumlah perompakan kapal

-

kapal dagang VOC.

Munculnya pelautMandarsebagai bajaklautdi perairan Gorontalotelahmenambah semakin

meningkatnya perompakan di kawasan Teluk Tomini. Bajak laut Mandar mendirikan

pangkalannya di Gorontaloagar mudah mengawasi perairan Gorontalo di kawasan Teluk

Tomini. Laporan banyaknya kejadian perompakan menyebabkan Gubemur Maluku di

Temate,Pieter Rooselaar mengambil tindakan untuk mengusir para bajak laut di Gorontalo.

Pada tahun 1702, Rooselaar mengirim armada lautnya yangmendapatbantuan daripenduduk Tambokan menyerang basispangkalanBugis dan Mandar, dan berhasil mengusimya. Pada 25

Februari1703,Rooselaar menarikkembali armadanya keTemate(Juwonodan Hutagalung,

2005:110

-

111), setelah mengetahui bajak laut Bugis dan Mandar tidak kembali lagi ke

Gorontalo.

Sehubungan aktivitasperompakanyang dilakukanolehparapelaut Bugis,Mandar,dan

Mangindano di perairan Gorontalo. Pada tahun 1705,VOC mendirikan benteng dimuara

Sungai Gorontalodikenal dengan nama Fort Nassau dan beberapa loji untuk melindungi

perdagangannyadariseranganpara bajak lautdiperairan Gorontalo.Kemudianmendirikan

kantordagang(factory)dan sekaligus gudang penampungan barang(pakhuis)ekspor.Bahan

(10)

1679(Hasanuddin danAmin,2012:68).

Walaupun pangkalannya di Gorontalo telah dihancurkan, namun bajak laut Mandar

masih aktif melakukan perompakan. Pada 20 Nopember 1713, kapal dagang VOC

"Noodhulp"mengangkut hasil bumi dan rempah

-

rempah di Lambunu,Teluk Tomini telah

dirompak oleh bajak laut Mandar.Mereka kemudian membunuhOnderkoopman Nicolaes

van Beverwijk, sedangkanasistennya Johannes Truytman mengalamiluka

-

luka. Gubemur

Maluku,DavidvanPeterson mengecam kejadiantersebut,kemudian melakukan pembalasan

dengan mengirim sejumlahkora

-

koradi Lambunu,namun usahanya mengalami kegagalan

(Juwono danHutagalung,2005:114).

GubemurMaluku memerintahkanOlongiaGorontalo yang mempunyai pengamhbesar

di kawasan Teluk Tomini untuk menyelesaikan keamanan di wilayahnya. Walaupun

mendapat persetujuandariolongia

,

tetapi sebagianbesarbangsawanmenolakperintahVOC.

Para bangsawan menyadari tekanan politik VOC melalui perjanjian

-

perjanjian yang dibuatnya sangat merugikan Gorontalo. Mereka lebih suka berhubungan denganparabajak laut Bugis dan Mandar yang lebih banyak memberi keuntungan daripada menjalin hubungan

dagang dengan VOC. Tidak mengherankan beberapa bangsawanmemberikan kemudahan

bagi aktivitas para bajak laut dalam melakukan perdagangan dan memberi perlindungan,

sehinggabajaklaut sulitditangkap oleh VOC.

Pada 30 Nopember 1716, Olongia Gorontalo menyurat kepada penguasa VOC di Manadoagar mengirimamiadanya ke Teluk Gorontalo(Teluk Tomini). Tujuannya adalah untuk mengusir bajak laut Bugis yang bernama Sa.rena bersama seratus anak buahnya mendarat di daerah Mabampa. Kelompok Sa.rena sering melakukan berbagai tindakan kekerasandi daerah pantai,di antaranyamenangkaporang

-

orangGorontalo untukdijadikan

budak dan menjualnya ke Buton. DiButon, para budak ditukarkandengan barang

-

barang

selundupan,terutamabeberapa petiamunisi (JuwonodanHutagalung, 2005:121).

Semakinrapatnya pengawasanVOCmelaluipatroli kapal perangnyadi kawasan Teluk Tomini, menyebabkanparabajaklaut Bugis dan Mandar mengalihkanpangkalannyadi Buol, karena mereka telah menjalinhubungankerjasama dagang denganmadikadanbangsawan Buol. Pada 30Nopember1722,terjadikonflikantaraBuoldenganGorontalodan Limboto

disebabkan penduduk Tombolimelarikan diri keBuol.OlongiaGorontalo meminta Madika

Buoluntuk mengembalikan penduduk Tombolike Gorontalo,namunmendapat penolakan.

Akhimya AdrianvanLeene(penguasa VOC diManado)turuntangan untukmenyelesaikan

konflikkedua kerajaan tersebut. Leeneberangkatke Buoluntuk mengembalikan penduduk Tomboli,namun mendapat penolakandariMadikaBuol, bahkan kemudiankapalnya diserang

limapuluh perahu BugisdanMandar sampaidi muara Gorontalo(JuwonodanHutagalung,

2005:122

-

123).

Akibat peristiwa Leene, dan seringnya berkeliaran bajak laut Bugis dan Mandar di perairan Gorontalo dan Teluk Tomini. J. Christiaan Pielat (Gubemur Maluku) mengambil

keputusanuntuk membasmi bajak laut Bugis dan Mandar. Kemudian mengutusKaptenElias

van Stade dengan armadanya ke Gorontalo. Kapten Stade menyusuri Teluk Tomini dan

berhasilmengusirpara bajak lautBugisdanMandardiperairanTelukTomini. KaptenStade

kemudian melanjutkan perjalanannya ke Buol, dan berhasil menekan Madika Buol untuk

memenuhi tuntutanGorontaloagar melepaskan penduduk Tomboli(Juwonodan Hutagalung,

2005:123

-

124).

Pada tahun1750

-

an,bajaklaut MandardipimpinDaengMapata memperluaskegiatan

operasinya di wilayah pesisir Gorontalo sebagai jalur pelayaran kapal

-

kapal pengangkut
(11)

denganBotutihe (OlongiaGorontalo) dan bangsawan Gorontalo. DaengMapatamembawa hasil

-

hasil hutanberupakayu,lilin,madu, damar, getah, danrotandi Gorontalo (Juwonodan Hutagalung, 2005:166). BagipedagangBugis,Mandar,dan Makassar seringkali membawa barang dagangan yang dilarang diperdagangkan oleh VOC, seperti senjata, amunisi, dan

candudiGorontalo.Kembalinyamembawa yaitubudakyangmerupakan komoditasutama

dan menghasilkankeuntunganbesardiMakassar.

Terjalinnya hubungan dagang antara olongiadan bangsawan Gorontalo dengan para

bajaklaut Bugis danMandarmenyebabkan VOC mengalami kerugianbesar. VOCmenuduh

OlongiaGorontalo melanggarperjanjianyangtelahdisepakatiyaitu mengusirpara bajaklaut daridaerahnya. Sebaliknya,para bangsawan melindungi para bajaklaut Bugis dan Mandar.

Peranan bentengVOC Nassau'' yang letaknya dimuara Sungai Gorontalo dengan sejumlah

pasukan untuk mengamankan kepentingan ekonominya temyata tidak banyak membantu

mencegah aktivitas parabajaklaut. Begitupula kurangnya jumlah kapal VOCdi perairan Gorontalo menyebabkan tidakefektifnyapengawasandan kontrolterhadap parabajaklaut di kawasan Gorontalo. Perebutan daerah

-

daerahpotensial penghasilkomoditaspentingantara VOC denganpedagangBugis dan Mandar seringkali menimbulkan konflik untuk menguasai

suatudaerahyangdianggapstrategis.

Pada tahun1790,diKwandang hampirterjadipenyerangan terhadappasukanwakilVOC

yang dilakukan oleh bajak laut Bugis dipimpin Puang Nyili. Penyerangan Puang Nyili

mendapatbantuan dari bajak laut Ilanun.Faktorkemarahan Puang Nyili disebabkanwakil VOCdiKwandang telahmembunuhputranyabernama Labajo bersamasemua pengikutnya, karena tanpa izin dari VOC mereka memasuki wilayah Kwandang. Mengetahui kabar

dibunuhnya Labajo, menyebabkan Puang Nyili ingin membalas kematian anaknya dan

pengikutnya. Namun, penyerangan mengalami kegagalan setelah bantuan pasukan dari

Tematetiba di Kwandang (Riedel,1870:117).

Pada abad ke

-

19, perompakan di kawasan Teluk Tomini mengalami peningkatan,

walaupunseringkali dilakukanpatroli kapal perangBelanda.LaporanumumAsisten Residen

Gorontalo, padatahun1824,1832, 1833,dan 1834 terjadi jumlah perompakan yang cukup

besar.Asisten Residen Gorontalo kemudian menyurat kepada Gubemur Jenderal Hindia

-Belanda diBatavia tentangaktivitas para bajaklaut,danmeminta bantuanGubemur Jenderal

untuk secepatnya menumpas para bajak laut yang telah menggangu pelayaran dan perdagangan di wilayahnya. LaporanAsistenResiden Gorontalo ditanggapi serius dengan menempatkansebuah kapal uap perang untuk mengawasi bajaklaut diperairan Gorontalo

(Rosemberg,1865:15).

Dalam pelayaranMonoarfa(OlongiaGorontalo), bersama Lihawa (OlongiaPaguat), tuan Kumis meneerPoipiser,dan dua jogugudarikerajaan Gorontalo dan Paguatbertemu dengan bajak laut dari Tobelo di Bumbula. Bajak laut Tobelo menyerang kapal Olongia Monoarfa. Penyerangan bajak laut Tobelo berhasil digagalkan oleh rombongan Olongia Monoarfa. Setelah mengalami kegagalan, para bajak laut Tobelo memilih melarikan diri. Peristiwapenyerangan bajaklautTobelo,danmasihseringnya terjadiperompakandiperairan

Gorontalo yangsecara langsungmenghambatjalurperdagangan Gorontalo,maka Olongia

Monoarfa memintabantuan orang

-

orangBugisuntukmengamankandanmengusirbajaklaut

diperairanGorontalo.

Pertengahan abadke

-

19,orang

-

orang Mandartelahmendominasi kegiatanperdagangan

dan perompakan, sedangkan kegiatan bajak laut Bugis mulai mengurangi aktivitasnya.

Walaupun Bugis mengurangi aktivitasnya,tetapi kegiatan perompakanmasihsering terjadi,

(12)

Mereka tidak lagi melakukanperompakansecaraterbuka, namun mereka hanya menunggu

kapal

-

kapaldagang ataumelakukanpenjarahandikampung

-

kampung, sepertiterjadipada

bajaklaut Tobelomenjarahdanmenculikpendudukkampung

-

kampungdi Banggai. Semakin ketatnya pengawasan kapal patroliBelanda menyebabkan semakin sempitnya ruang gerak

para bajak laut. Akhimya banyak pemimpin bajak laut Tobelo menyerahkan diri kepada

PemerintahHindia Belanda.Salah satu pemimpinpaling berpengaruhdanditakuti bemama

Medo atau Medomo bersama anak buahnya menyerahkan diri kepada Pemerintah Hindia

Belanda(Velthoen,2010:215).

Perompakan diTelukTomini dan pantaiutaraSulawesisering dianggapsebagai bentuk menentang penindasan oleh pihak yanglemah terhadap mereka yang mendominasi. Para

bajaklaut diTeluk Tominiyangterkenal selama abad ke

-

19 adalahTombolotutu, seorang

bangsawan dianggap oleh penduduk setempat sebagai tokoh yang bangkit menentang

dominasi politik dan ekonomi Pemerintah Hindia Belanda (P.J.Veth,1870:175

-

176).

Pemberontakan Tombolotutu disebabkan pada tanggal 3 Juni 1898, penobatan Raja Moutong bemama Daeng Malino berasal dari garispria keturunan Mandaryangdilakukan

oleh Pemerintah Hindia Belanda. Kurangnya pemahaman Pemerintah Hindia Belanda

tentangtradisidan adatKajeli yanglebihmengutamakanmerekayangditurunkan darigaris wanita, sehingga seharusnya yang menjadi raja adalah Tombolotutu (Poidarawati) karena

merupakan pewaris tahta yang sebenamya. Pengangkatan Daeng Malino sebagai Raja

Moutong bertujuan untuk mempertahankan perampas tahta, tidak menimbulkan kerugian

bagi Belandakarena Tombolotutu tidak dapat diajak kerjasama, dan Tombolotutu dituduh

sebagai pemberontak, dan dijatuhi hukuman mati karena pembunuhan (Soerabajasch

Handelsblad,1902:1).

Dalam dekade awal abad ke

-

20, kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda menghadapi

perlawananparabajaklaut berakhir,hampirsebagianabad ke

-

19kapal

-

kapal perangBelanda

diperintahkanuntuk selalu aktif melakukan patroli. Halinikemudian menjadi penting dalam

pengembangan kemaritiman jalurperdagangan di kawasan Teluk Tomini dan bagian utara

Sulawesi.

E

.

Perkampungan Bugis

Merantau bagi orang Bugis adalah bagian dari budayanya sebagai suku yang genar

merantau. Mereka menyebar di selumh wilayah Teluk Tomini dengan aktivitas dalam pelayaran,perdagangan,pertanian, pembukaanlahanperkebunan, atau pekerjaan apa saja yangmerekaanggapsesuai dengan kondisiruangdan waktu. Kemampuan untukberubahdan

menyesuaikan diri merupakan modal terbesar, sehingga mereka dapat hidup di kampung

-kampung mana saja selamaberabad

-

abad. Walau mereka terns menyesuaikan diri dengan

keadaan sekitamya, orang Bugis temyata tetap mampu mempertahankan identitasnya dan menyatudalam solidaritas yang kuat.

Orang

-

orang Bugis sebelum masuknya kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda telah

bermukim diGorontalo.Setelah masuknya kekuasaan kolonial Belanda,orang

-

orangBugis

melakukan perlawanan kekuasaan kolonial Belanda dan para kepala pribumi. Mereka menghasut penduduk untuk melakukan perlawanan dan menampung semuapelarian yang melakukanperlawanan terhadap kolonialBelanda (Riedel,1870:67

-

69). Kegiatan provokasi

dan tindakan

-

tindakan melawan kekuasaan kolonial Belanda dan kepala pribumi yang

dipimpin Hukala,Badahati,Tilakula,danseorangperempuanbernama Rahmiatiseringkali

dianggap menggangu kehidupan penduduk Gorontalo.Pada 31 Maret1791, RajaMuhammad

Hasanuddin Iskandar Panglima Syah mengirim surat kepada Gubemur Jenderal Willem

(13)

yangtelah menggangu ketentramanpendudukGorontalo (Mu.jizah,2009:144).

PerkampunganBugis di Gorontalo, berawal dari kedatanganpedagang Bonemembentuk

perkampungan serta mengembangkannya dalam kerajaan kecil bemama Bone. Mereka

mendiami sekitar SungaiBonedanPantaiBone.MenurutHenley (2005:87)bahwapadaawal

abad ke

-

19,pelayaran dan perdagangan di Gorontalo umumnya dikuasai oleh orang

-

orang

Bugis. Laporan Rosenberg(1865:100)memberikan gambaran bahwa terdapatlima kampung

yang dihuni oleh orang

-

orang Bone. Kampung Bugis mengalami perkembangan setelah

OlongiaMonoarfa melalui apitalau (panglima laut) meminta bantuan orang

-

orang Bugis

untuk membantu mengusir para bajak laut Tobelo dan Mangindanao yang berkeliaran di perairan Gorontalo. Setelah itu mereka berhasil mengusirnya, dan mereka diberi tempat

sampai dimuaraSungai Bone(Henley,2005:196).

Di Banggai, koloni Bugis tersebar di wilayah daerah

-

daerah pesisir Banggai. Koloni

Bugis membentuk perkampungan dengan pemerintahan sendiri serta berswadaya. Koloni Bugismempunyaiikatan keluarga dengan orang

-

orang Bugisdari Wani, Palu, dan Gorontalo (Donneier,1947:46

-

47).Mereka diberi kebebasan dalam mengatur masyarakatnya.Di Bunta

terdapat seorang mayor Gorontalo yang membawahi koloni Gorontalo, namun di bawah

kekuasaanseorangkapitanBugis.KoloniBugisselama bertahun

-

tahun mendapat pengakuan Pemerintah Hindia Belanda sebagai distrik bawahan (sub

-

distrik), dan dipimpin seorang kepala bergelarkapitan(Dormeier,1947:82).

Di Kasimbar dan Moutongsebagian besar dihuniolehorang

-

orang dariBugis.Halini

disebabkan kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda boleh dikatakan tidak ada, maka

terbukalah kesempatan bagi pelaut dan pedagang Bugis menanamkan pengaruh

kekuasaannya (Kartodirdjo, dkk, 1973:394). Di Parigi, pengaruh kekuasaan Pemerintah

Hindia Belanda sangat kurang, sehingga memberi kesempatan bagi Bone untuk menguasainya.Kemudian Parigi menjadi negeri bawahan Bonedanmembayar upeti setiap tahunnya. Pada tahun 1847, terdapat seorang bangsawan dari Bone bertugas sebagai syahbandar untukmemungutberbagaipajakdanupeti(Kartodirdjo,dkk,1973:394

-

395).

DiTinombo(Siavu),terdapat pemukiman pesisirtemporer bagipedagangBugis. Banyak

kaum laki

-

laki imigran menikahi wanita Lautje yang menetap di kaki bukit. Akhimya Tinombo menjadi perkampungan yang ramai, hal yang sama terjadi di pemukiman

-pemukimanpendatang yang terdapat di sepanjangpesisirTelukTomini,dengan dermagadan

sejumlahgudang milikpedagangBugis,Mandar,dan Gorontalo (Nourse,2005:225).

Wilayah Tojo membentang di sepanjang bagian selatan Teluk Tomini, di sepanjang

pantaiditemukan pemukiman dan sebagianbesardijumpaiorang

-

orang Bugis(Bone),yang

telah menikahdengan penduduk pribumi.Bentuk rumahmendapat pengaruh gayaarsitcktur Bugis dengan tinggi berbentukrumahpanggung(Hoevel, 1893:2

-

3).

Pulau Togianpadaumumnyadihuni oleh orang

-

orang Bugis,dan banyak bergantung dari kekuasaan Bonedi Tojo. Mata pencaharian pendudukTogian terutama pada penangkapan ikan, teripang dan penyu yang banyak ditemukan di laut. Selain itu, mengumpulkan

tumbuhan

-

kerang,semacamkerang mutiara kecil.KomoditasutamadariTogian,sepertidi

Binang

-

Oenang (Una

-

Una) adalah kopra yang mempunyai kualitas yang sangat baik.

Produksi koprameningkatsetiap tahunnya. Kesemuanyadibelioleh pedagangBugis,baik

pemukimandipantaimaupun disukuAlfuru di pedalaman,sehingga mendapatkan banyak keuntungan bagiperdagangannya(Hoevel,1893:7

-

11)

.

Di Sausu, penduduknyaberasal dariGorontalo,Parigi,Tojo,danpaling utamaadalah

Bugis.Sausutelah menarikpara pedagang Bugis untukmencari hasil hutan,garam,kerbau

(14)

dengan sarung.Kehidupansehari

-

hari, kaumpriadi Sausu mengenakan celanapendekmodel

Bugis(Hoevel, 1893:39

-

43).

III. PENUTUP

A.Kesimpulan

Kegiatanpelayaran dan perdaganganorang Bugis di kawasan TelukTomini didorong karena tradisi merantau (sompeq). Pelayaran dan perdagangan Bugis dikembangkan oleh

orang Boneyang bermukim di Cendrana, Bajoe,dan Kajuara. Merekaberlayar sampai ke

kawasan Teluk Tomini. Teluk Tomini terkenal dengan kaya akan potensi alam dan

menghasilkan komoditas perdagangan berupa hasil laut (sisik penyu, kerang laut, dan

teripang),hasiltambang(emas dan bijihbesi),hasilhutan(damar,lilin,kayucendana,dan

rotan),hasilperkebunan(kopra), sarang burung,dan budak. Faktorini menjadi pendorong

bagi pedagang Bugis mengangkut komoditas tersebut dan memasarkannya ke pelabuhan

-pelabuhanyang disinggahinya terutamaTemate,Singapura,dan Makassar.

Dikawasan Teluk Tomini,utamanyaGorontalomengalami kemajuandan berkembang menjadi pusatperdagangan. KemajuanGorontalo mendorongVOCuntukmenjadisaingan

pedagang Bugis dengan memonopoli perdagangan emas dan budak yang juga diminati

Portugis.Walaupunberbagai kebijakan dikeluarkanVOCdan kemudianPemerintahHindia

Belanda untuk menguasaiemas, budak, dan produk lainnyatetapi sebagiantetap dikuasai

pedagang Bugis.

Hampirdiseluruh kawasan TelukTominiterdapat perkampungan Bugis,danbeberapadi

antaranya berhasildikuasainya.Kekuasaan Bugisdari Bone jugamembawahi orang

-

orang Bajo di Pagimana, serta daerah

-

daerah Parigi, Tojo, Togian, dan Sausu. Mereka juga menanamkanpengaruhnyadi Tobungku dan Banggai, serta membantuperlawanan penguasa lokal,sepertiRajaBanggai, bemama Agama melawan kekuasaan SultanTemate. Pedagang Bugis secaradefactomemegang hegemonipolitikdan ekonomi di kawasan Teluk Tomini.

B. Saran

Gambaran mengenai pelayaran dan perdaganganorangBugis di kawasanTelukTomini terlihat masihkurang memberi keterangan yang lengkap.Untuk itu perlukajianlanjutanbagi

perananpelayarandan perdagangan di daerah

-

daerah yangada di kawasan TelukTomini,

sehingga dapatmengungkapkan sejarah maritimdi kawasanTeluk Tominilebihlengkap.

DAFTARPUSTAKA

Arsip yang Diterbitkan

Kartodirdjo, S., dkk.,(1973). Ikhtisar Keadaan Politik Hindia Belanda Tahun 1839

-

1848

.

Penerbitan Sumber

-

SumberSejarahNo.5.Jakarta: ANRI.

Artikel/Buku

Andaya, L

.

Y

.

, (2015)

.

Dunia Maluku Indonesia Timur Pada Zaman Modern Awal

.

Yogyakarta:Penerbit Ombak.

Asba,A

.

R

.

,(2007)

.

KopraMakassar Perebutan Pusat dan Daerah:Kajian Sejarah Ekonomi Politik Regional di Indonesia

.Jakarta: Yayasan Obor

Indonesia.
(15)

Dormeier, J.J., (1947). "BanggaischAdatrecht", dalam Verhandelingenvan het Koninklijk

lnstituutvoorTaal-, Land- en Volkenkunde (VKI)

,

VI. 's

-

Gravenhage:Martinus Nijhoff.

Haga, B.J., (1931). De Limo

-

pahalad (Gorontalo): Volksordening, adatrecht en

bestuiirspolitiek,LXXI. Bandoeng:A.CNix & Co.

Hart, C.Vander., (1853). Reizerondom het eiland Celebes ennaareenige der Moluksche eilanden.

s Gravenhage: K.Fuhri.

Hasanuddin dan Basri Amin,(2012)

.

Gorontalo Dalam Dinamika Sejarah MasaKolonial

.

Yogyakarta:Penerbit Ombak.

Henley, D

.

, (2005)

.

Fertility, Food and Fever: Population, Economy and Environment in

Northand CentralSulawesi,1600-1930

.Leiden:

KITLV.

Hoevel, G.W.W.C Baron van, (1891). "Onder Rechtstreeksch Bestuur Is Gebracht", De Assistant

-

Residentie Gorontalo.Leiden: E.J Brill.

, (1893). "Tojo,Possoen Saoesoe",dalamTijdschrijtvoorIndische Taal-, Land- en Volkenkunde(TBG)

,

XXXV.

Hoevell,W.R.van,(1850). "LetsOverdeGoudgraverijeninde Residentie Menado", dalam

Tijdschrijt voor Nederlandsch

-

Indie(TNI),Vol.12.

Juwono, H. dan Yosephine Hutagalung, (2005). Lima Lo Pohalaa: Sejarah Kerajaan

Gorontalo

.

Yogyakarta:PenerbitOmbak.

Lapian, A

.

B

.

,(2011)

.

OrangLaut,BajakLaut, RajaLaut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi

AbadXIX.Jakarta:KomunitasBambu.

Mu

.

jizah, (2009). Iluminasi: dalam Surat

-

Surat Melayu Abad ke

-

18 dan ke

-

19. Jakarta:

Kepustakaan PopulerGramedia.

Nourse,J.W.,(2005)."Sawerigading Di TanahAsing:MitosI La Galigo",dalamTapak-Tapak

Waktu

.

Makassar:Inninawa.

Pelras, C.,(2006).ManusiaBugis

.

Jakarta:NalarForumJakarta

-

Paris Paris Ecole francaise

d.Extreme

-

Orient. (Translationof The Bugis. Oxford: Blackwell, 1996).

Poelinggomang,E.L., (2002). Makassar AbadXIX.StuditentangKebijakanPerdagangan

Maritim

.Jakarta:

Kepustakaan PopulerGramedia.

Rahman,N., (2006). Cinta, Laut, dan Kekuasaan: Dalam Epos LaGaligo

.

Makassar:La GaligoPress.

Riedel, G. J. F., (1870). "Het landschappen Holontalo, Limoeto, Bone, Boalemo en Katinggola of Andagile: geographische, statistische, historische en

ethnographische aanteekeningen",dalamTijdschrijt voorIndische Taal

-

, Land

-en Volk-enkunde(TBG)

,

XIX,him.46

-

153.

s(1870). "De Vestiging DerMandareninde Tomini

-

Landen", dalamTijdschrijt

voorIndische Taal-,Land- en Volkenkunde(TBG)

,

XIX,him.555

-

564.

Ricklefs, M.C., (2009). Sejarah Indonesia Modern 1200-2008

.

Jakarta: PT.Serambi Ilmu Semesta.

Rosemberg, C.B.H von,(1865). Reistogten indeafdeelingGorontalo

.

gedaan op last der

NederlandschIndische regering

.Amsterdam: Muller.

Tobing, Ph. O.L., (1977). Hukum Pelayaran dan Perdagangan Amanna Gappa

.

Ujung

Pandang: Yayasan KebudayaanSulawesi.

Velthoen,E.,(2010). "Pirates in the Periphery:EasternSulawesi1820

-

1905",Pirates,Ports,

AndCoatsIn Asia(Historicaland ContemporaryPerspectives).JohnKleinen dan

Manon Osseweijer (ed.).Series on MaritimeIssuesand Piraty in Asia.Singapore:

IIAS/ISEAS

.

Veth, P.J., (1870)."DeZeeroverijin denIndischen archipel, AlsEenBijzondereVormvande

heilige Oorlog Tegen Ongeloovigen Berschouwd", dalam Tijdschrijt voor

(16)

Surat Kabar

"Theorie en Praktijk", dalamDeJavaBode

,

tanggal 19 Juni 1890, lembar ke

-

1. "Gorontalo",dalamSoerabajaschHandelsblad

,

29 Oktober 1902,lembar ke

-

1.

Internet

"Limits of OceansandSeas,3rd edition". International Hydrographic Organization,1953.

Referensi

Dokumen terkait