Malang, 26 Maret 2016
1047
STUDI PERBANDINGAN KEANEKARAGAMAN REPTIL DAN AMFIBI DI KAWASAN EKOWISATA AIR TERJUN ROROKUNING, NGANJUK DAN IRONGGOLO, KEDIRI SEBAGAI INDIKATOR KUALITAS LINGKUNGAN
YANG BAIK.
Comparative Study of Reptile and Amphibian Diversity in Rorokuning and Ironggolo Waterfall Ecotourism Area as Environmental Bio Indicator.
Budhi Utami 1) Berry Fakhry Hanifa 1), Novy Nur Choiriyah 2) 1)
Laboratorium Zoologi, Pendidikan Biologi Universitas Nusantara PGRI Kediri
2)
Mahasiswa strata satu, Pendidikan Biologi Universitas Nusantara PGRI Kediri Perum Bendo Permai no 28D, Bendo Pare, Kediri. Telp: 083840779769.
Email: [email protected]
Abstrak
Kediri dan Nganjuk memiliki banyak lokasi alami yang berpotensi menunjang kehidupan hewan Kelas Reptilia dan Amphibia, salah satunya adalah Kawasan Ekowisata Air terjun Rorokuning di Kabupaten Nganjuk dan Kawasan Ekowisata Air Terjun Ironggolo di Kabupaten Kediri. Kedua tempat tersebut memiliki kondisi habitat yang masih alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi keanekaragaman hewan Kelas Reptilia dan Amphibia di dua lokasi tersebut dan mengamati kualitas lingkungan berdasarkan komposisi spesies Reptil dan Amfibi yang tersebar disana. Data dikoleksi pada bulan januari-Maret 2016 (Rorokuning) dan April 2015-Maret 2016 (Ironggolo) dengan menggunakan metode Visual Encounter Survey dimodifikasi teknik Purposive Sampling pada transek sepanjang 200 meter, nokturnal dan diurnal. Berdasarkan survey lapangan, ditemukan 14 spesies Reptil dan Amfibi di Kawasan ekowisata air terjun Rorokuning dan 13 spesies di Kawasan ekowisata air terjun Ironggolo. Enam diantaranya ditemukan dikedua lokasi survey. Spesies Leptobrachium hasseltii sebagai salah satu spesies bioindikator yang sensitif terhadap perubahan lingkungan ditemukan dalam jumlah dominan, menandakan kualitas air di kawasan ekowisata air terjun Rorokuning dan Ironggolo terindikasi baik.
Kata kunci: Keanekaragaman, Reptil, Amfibi, Rorokuning, Ironggolo, Bio indikator.
Abstract
Kediri and Nganjuk have many potential of preserved natural location that supports life of Reptiles and Amphibians. Rorokuning and Ironggolo waterfall ecotourism area were part of them. Those locations were well naturally preserved. This research was aimed to explore reptiles and amphibian diversity to reveals their environtmental wellbeing based on Bio Indicator specimens collected. Data collected from April 2015-March 2016 (Ironggolo), and January-March 2016 (Rorokuning) using Visual encounter method modified by purposive sampling technique on 200 meters transect long for nocturnal and diurnal activity. Based on field surveys, we found 14 species of reptiles and amphibians in Rorokuning, meanwhile 13 of a total species were found from Ironggolo. Six of them were found in both locations. Leptobrachium hasseltii as one of the most sensitive bio indicators was found in both locations in large quantities indicated a good water and environmental quality.
Key words: Biodiversity, Reptile, Amphibian, Rorokuning, Ironggolo, Bio indicator.
PENDAHULUAN
Daerah keresidenan Kediri memiliki banyak lokasi yang berpotensi untuk menunjang kehidupan herpetofauna terutama Kabupaten Kediri dan Nganjuk. Kediri dan
Malang, 26 Maret 2016
1048
Nganjuk dikelilingi oleh beberapa gugus pegunungan diantaranya Gunung Kelud, Gunung Wilis, Gunung Klotok, sehingga tidak sedikit dijumpai daerah ekowisata air terjun di kawasan ini. Banyak tempat ekowisata yang terdapat di kabupaten Nganjuk dan Kediri masih terpelihara dengan baik. Diantaranya adalah Area ekowisata air terjun Ironggolo di Kabupaten Kediri dan Area ekowisata air terjun Rorokuning di Kabupaten Nganjuk.
Area ekowisata air terjun Ironggolo memiliki ketinggian diatas 1000 mdpl dan terletak pada 70 53‘ 0‖ LS - 1110 51‘ 0‖ BT dan terletak pada gugusan Gunung Wilis, Besuki, Mojo, Kabupaten Kediri. Sedangkan area wko wisata air terjun Rorokuning terletak pada ketinggian diatas 650 mdpl dan terletak di Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk. Kedua lokasi tersebut memiliki kisaran suhu mirip yaitu 200c-250c dengan kelembaban berkisar antara 80%-100%. Kedua lokasi tersebut memiliki potensi keanekaragaman hayati namun belum tereksplorasi.
Potensi hayati yang begitu besar di kedua lokasi alami tersebut masih banyak yang belum terdata karena minimnya penelitian yang merujuk pada eksplorasi keanekaragaman hayati di Kabupaten Kediri maupun Nganjuk. Sehingga perlu dilakukannya penelitian yang khusus merekam jejak keberadaan herpetofauna baik reptil maupun amfibi di area Karesidenan Kediri terutama di Kabupaten Kediri dan Nganjuk sebelum mereka punah karena makin maraknya pencemaran polusi dan pengrusakan habitat sejak tahun 1980-an (Kusrini, 2009). Inventarisasi herpetofauna nantinya dapat dijadikan landasan untuk upaya konservasi dalam melestarikan Reptil, amfibi serta habitatnya.
METODE PENELITIAN Bahan dan alat
Penelitian dibagi menjadi 2 tahap, yaitu tahap pengambilan data di lapangan dan taha identifikasi dan preservasi di laboratorium. Alat dan bahan yang dibutuhkan pada saat kegiatan lapangan meliputi jangka sorong, penggaris, meteran skala 100 meter, peralatan tulis dan transek, thermometer, hygrometer, kamera, kantong plastic dan spidol, senter dan mantel hujan.
Sedangkan yang digunakan di laboratorium adalah akuades, formalin, dan alkohol sebagai bahan pengawet utama, kloroform untuk eutanasi sample, bak paraffin, jarum pentul, kapas, tisu, botol bekas selai, syringe, dan gelas ukur untuk proses preservasi serta tabel keanekaragaman herpetofauna Kediri.
Koleksi data
Penelitian dibagi menjadi dua lokasi. Pengoleksian data lapangan di Wisata air terjun Ironggolo dilakukan pada Bulan april 2015 hingga maret 2016, sedangkan untuk data spesimen di wisata air terjun Rorokuning dilakukan pada bulan Januari 2016 hingga maret 2016. Data dikoleksi dengan metode Visual Encounter dan dimodifikasi dengan teknik Purposive sampling. Beberapa sampel spesimen yang representatif dipreservasi dan di inventarisasi di Laboratorium Zoologi Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Nusantara PGRI Kediri.
Data sekunder didapatkan dari wawancara personal dengan beberapa warga setempat yang sering beraktifitas di kebun maupun mencari kayu dihutan. Data sekunder tidak kami masukan ke dalam hasil namun berfungsi sebagai landasan acuan dan target pencarian pada saat kegiatan koleksi spesimen di lapangan.
Malang, 26 Maret 2016
1049
Reptil dan amfibi yang dikoleksi diidentifikasi dengan bantuan kunci identifikasi dari beberapa literatur, yaitu: Iskandar (1998), Iskandar dan Colijn (2000;2001), Rooij (1915 dan 1917). Selain itu beberapa hewan kami identifikasi dengan bantuan dari beberapa rekan peneliti dari Kelompok Studi Herpetologi Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada.
Data kuantatif yang diperoleh kami olah dengan menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener berdasarkan Kusrini (2009), dan Krebs (1978) untuk mengetahui nilai keanekaragaman herpetofauna di masing-masing lokasi. Berikut rumus dari indeks keanekaragaman Shannon-Wiener:
Dimana:
H‘ merupakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener Pi adalah proporsi jenis ke-i
Dari rumus diatas diketahui nilai yang mengindikasikan keanekaragaman reptil dan amfibi di wisata air terjun Rorokuning dan Ironggolo. Keanekaragaman dikatakan tinggi jika nilai H‘>2,0. Keanekaragaman dikatakan sedang jika nilai H‘ berkisar antara 1,5-2,0. Keanekaragaman reptil dan amfibi dikatakan rendah jika nilai H‘ berada pada kisaran 1,0-1,5. Keanekaragaman dikatakan sangat rendah jika Nilai H‘ kurang dari 1,0 (Brower dan Zar, 1997).
Indeks kemerataan spesies berdasarkan Simpson digunakan untuk mengetahui kemerataan spesies pada masing-masing lokasi penelitian. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
Dimana:
E merupakan nilai indeks kemerataan jenis
H‘ adalah Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener S adalah jumlah spesies yang ditemukan pada suatu lokasi
Nilai E yang semakin mendekati nilai 1 mengindikasikan kemerataan jumlah individu antar spesies relatif seragam. Tidak ada spesies yang jumlahnya mencolok dari spesies-spesies lainnya. Namun semakin jauh nilai E dari angka 1 menunjukan adanya populasi suatu spesies yang jumlahnya berbeda mencolok dari populasi spesies yang lain. Hal ini menunjukan adanya dominansi jumlah populasi pada komunitas tersebut.
Reptil dan amfibi yang terdata ditentukan kemelimpahannya dengan menghitung prosentase jumlah populasi yang ditemukan pada satu kali perjumpaan dalam sebagian besar waktu survey. Suatu spesies dimasukan kategori langka jika dalam sekali perjumpaan/survey ditemukan kurang dari 5 individu, dikatakan sulit dijumpai jika hanya sekitar 5 individu, dikatakan jarang jika hanya sekitar 10 invidu, dikatakan cukup melimpah jika ditemukan 10-30 individu, dan dikatakan melimpah jika dijumpai lebih dari 30 individu perhari dalam sebagian besar waktu survey (Buden, 2000).
Malang, 26 Maret 2016
1050
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sebanyak 21 spesies reptil dan amfibi berhasil dikoleksi dalam penelitian ini yang terbagi ke dalam 10 Familia. Sebanyak 13 spesies berasal dari area ekowisata air terjun Ironggolo, dan 14 jenis ditemukan di area ekowisata air terjun rorokuning. 6 spesies ditemukan di kedua lokasi penelitian. Dari 21 spesies tersebut, 3 spesies merupakan anggota Subordo Serpentes, 8 spesies adalah anggota Subordo Lacertilia dan 10 merupakan Ordo Anura (Tabel 1).
Keanekaragaman herpetofauna di kedua lokasi survey menunjukan angka yang mengindikasikan keanekaragaman tinggi. Dengan nilai H‘ menurut indeks keanekaragaman Shannon-wiener sebesar 2,27581 di area ekowisata air terjun Rorokuning, sementara di area ekowisata air terjun Ironggolo menunjukan angka 2,46524. Keanekaragaman yang tinggi tersebut dapat diasumsikan karena masih banyak habitat alami reptil dan amfibi yang cukup terjaga di kedua lokasi penelitian.
Berdasarkan data kemerataan antar jenis pada kedua lokasi, terdapat beberapa spesies dengan jumlah yang lebih dominan dibandingkan dengan spesies lainya. Angka indeks kemerataan Simpson menunjukan angka 0.88727 pada area ekowisata air terjun Rorokuning dan 0,78313 pada area ekowisata air terjun Ironggolo. Hal ini didukung denga data kemelimpahan jenis pada pembahasan dibawah ini.
Di area ekowisata air terjun Rorokuning, ditemukan Phrynoidis aspera sebagai spesies dengan populasi terbanyak berjumlah 26 perjumpaan pada total pertemuan, diikuti Leptobrachium Hasseltii sebanyak 23 perjumpaan, dan Ptychozoon kuhlii sebanyak 22 perjumpaan (Tabel 2). Phrynoidis aspera merupakan kodok buduk dengan tingkat resistensi yang umumnya lebih tinggi dibandingkan anggota Ordo Anura lainnya, sehingga tidak heran spesies tersebut paling banyak ditemukan. Leptobrachium hasseltii termasuk ke dalam spesies yang cukup rentan terhadap polusi dan perubahan lingkungan. Dengan ditemukannya banyak spesies tersebut, hal tersebut mengindikasikan lingkungan pada lokasi penelitian masih sehat bagi kelangsungan hidup Anura secara umum. Sedangkan di area ekowisata air terjun Ironggolo, spesies yang paling banyak dijumpai adalah Hylarana chalconota sebanyak 32 perjumpaan, diikuti oleh spesies Odorrana hosii dan Leptobrachium hasseltii masing-masing sejumlah 15 perjumpaan dan Rhacophorus reinwardtii sebanyak 10 kali perjumpaan (Tabel 3).
Pada penelitian di lokasi area ekowisata air terjun rorokuning, kami menemukan populasi Ptychozoon kuhlii dalam jumlah cukup melimpah, yang sebelumnya terakhir tercatat sekitar tahun 1912 sebelum akhirnya ditemukan lagi oleh Qurniawan (2012) dalam populasi kecil di Goa Kiskendo, Kulon Progo, Yogyakarta. Sebaran alami dari Ptychozoon kuhlii di Pulau Jawa meliputi Sukabumi, Gunung Ungaran, Wilis, dan Tengger serta area ekowisata Goa Kiskendo, Kulon Progo, Yogyakarta. Spesies ini juga ditemukan di Gadok, Buitenzorg, dan Preanger.
Malang, 26 Maret 2016
1051
Tabel 1. Komposisi, persentase, dan kemelimpahan spesies reptil dan amfibi di dua lokasi kajian
Familia No. Spesies
Rorokuning Ironggolo Persentase Kemelimpa han Persentase Kemelimpaha n Ranidae 1 Odorrana hosii 6.76691729 3 Sulit 15.78947368 Cukup melimpah 2 Hylarana calchonota 8.27067669 2 Jarang 33.68421053 Melimpah Megophryidae 3 Leptobrachiu m hasseltii 17.2932330 8 Cukup melimpah 15.78947368 Cukup melimpah Rhacophoridae 4 Polypedates leucomystax 2.25563909 8 Langka 2.105263158 Langka 5 Rhacophorus reinwardtii - - 10.52631579 Jarang Bufonidae 6 Phrynoidis aspera 19.5488721 8 Cukup melimpah - - 7 Duttaphrynus melanostictus - - 2.105263158 Langka Dicroglossidae 8 Fejervarya sp. - - 1.052631579 Langka 9 Limnonectes sp. - - 1.052631579 Langka Microhylidae 10 Microhyla achatina - - 1.052631579 Langka Gekkonidae 11 Cyrtodactylus marmoratus 10.5263157 9 Jarang 7.368421053 Sulit 12 Cossymbotus platyurus 3.00751879 7 Sulit 3.157894737 Langka 13 Hemidactylus frenatus 2.25563909 8 Langka - - 14 Gehyra mutilata 4.51127819 5 Sulit - - 15 Ptychozoon kuhlii 16.5413533 8 Cukup melimpah - - Agamidae 16 Gonocephalus kuhlii - - 4.210526316 Sulit 17 Bronchocela jubata 2.25563909 8 Langka - - 18 Bronchocela cristatella 5.26315789 5 Sulit - - Colubridae 19 Ahaetulla prasina 0.75187969 9 Langka - - 20 Xenochrophis trianguligerus 0.75187969 9 Langka - - Viperidae 21 Trimeresurus puniceus - - 2.105263158 Langka
Malang, 26 Maret 2016
1052
Tabel 2. Indeks keanekaragaman dan kemerataan herpetofauna di lokasi Rorokuning
Jenis jumlah ni/N ln ni/N H' E
Odorrana hosii 9 0.067669 -2.69312 -0.18224 -0.07105 Hylarana calchonota 11 0.082707 -2.49245 -0.20614 -0.08037 Leptobrachium hasseltii 23 0.172932 -1.75485 -0.30347 -0.11831 Polypedates leucomystax 3 0.022556 -3.79174 -0.08553 -0.03334 Phrynoidis aspera 26 0.195489 -1.63225 -0.31909 -0.1244 Cyrtodactylus marmoratus 14 0.105263 -2.25129 -0.23698 -0.09239 Cossymbotus platyurus 4 0.030075 -3.50405 -0.10539 -0.04109 Hemidactylus frenatus 3 0.022556 -3.79174 -0.08553 -0.03334 Gehyra mutilata 6 0.045113 -3.09859 -0.13979 -0.0545 Bronchocela jubata 3 0.022556 -3.79174 -0.08553 -0.03334 Bronchocela cristatella 7 0.052632 -2.94444 -0.15497 -0.06042 Ptychozoon kuhlii 22 0.165414 -1.79931 -0.29763 -0.11604 Ahaetulla prasina 1 0.007519 -4.89035 -0.03677 -0.01434 Xenochrophis trianguligerus 1 0.007519 -4.89035 -0.03677 -0.01434 Total 13 133 1 -43.3263 -2.27581 -0.88727 LnS 2.564949 2.27581 0.88727
Tabel 3. Indeks keanekaragaman dan kemerataan herpetofauna di lokasi Ironggolo
Jenis jumlah ni/N ln ni/N H' E
Odorrana hosii 15 0.157895 -1.84583 -0.29145 -0.11363 Leptobrachium hasseltii 15 0.157895 -1.84583 -0.29145 -0.11363 Rhacophorus reinwardtii 10 0.105263 -2.25129 -0.23698 -0.09239 Hylarana calchonota 32 0.336842 -1.08814 -0.36653 -0.1429 Polypedates leucomystax 2 0.021053 -3.86073 -0.08128 -0.03169 Fejervarya sp. 1 0.010526 -4.55388 -0.04794 -0.01869 Limnonectes sp. 1 0.010526 -4.55388 -0.04794 -0.01869 Duttaphrynus melanostictus 2 0.021053 -3.86073 -0.08128 -0.03169 Microhyla achatina 1 0.010526 -4.55388 -0.04794 -0.01869 Gonocephalus kuhlii 4 0.042105 -3.16758 -0.13337 -0.052 Cyrtodactylus marmoratus 7 0.073684 -2.60797 -0.19217 -0.07492 Cossymbotus platyurus 3 0.031579 -3.45526 -0.10911 -0.04254 Trimeresurus puniceus 2 0.021053 -3.86073 -0.08128 -0.03169 Total 13 95 1 -41.5057 -2.0087 -0.78313 LnS 2.564949 2.46524 0.78313
Malang, 26 Maret 2016
1053
PENUTUP Kesimpulan
Sebanyak 21 spesies reptil dan amfibi berhasil ditemukan di dua lokasi penelitian, terdiri atas 10 familia. Sepuluh spesies yang teramati berasal dari Ordo Anura, 8 spesies dari Subordo Lacertilia dan 3 spesies dari Subordo Serpentes. Dari 21 spesies tersebut, sebanyak 13 spesies berasal dari Ironggolo, 14 spesies ditemukan di Rorokuning, dan sebanyak 6 spesies ditemukan di kedua lokasi. Spesies Leptobrachium hasseltii sebagai salah satu spesies bioindikator yang sensitif terhadap perubahan lingkungan ditemukan dalam jumlah cukup melimpah (Rorokuning: 23 individu; Ironggolo 15 individu) menandakan kualitas lingkungan di kawasan ekowisata air terjun Rorokuning dan Ironggolo terindikasi baik.
Saran
Data penelitian perlu untuk lebih dilengkapi agar lebih valid dan akurat dengan menambah waktu penelitian di lapangan baik diurnal maupun nokturnal. Selain itu perlu untuk dikaji lebih jauh mengenai parameter-parameter lingkungan yang dapat melengkapi data kondisi lingkungan di lokasi penelitian. Spesies Ptychozoon kuhlii merupakan spesies yang eksotik dan termasuk jarang ditemukan, alangkah baiknya jika dilakukan upaya melestarikan spesies tersebut baik di karantina maupun di habitat alaminya.
UCAPAN TERIMAKASIH
Terimakasih kepada Agus Mudji Santoso yang telah membantu mencetuskan ide penelitian di Ironggolo, kepada rekan alumni KSH Biologi UGM Kukuh Indra Kusuma, Anggit Prima Nugraha, Hastin Ambar Asti dan Mochammad Farich dalam proses identifikasi spesies, Tim Study Club of Amphibian and Reptile (SCAR) UN PGRI Kediri, dan untuk Mbah Ran selaku penjaga Rorokuning, Mbah Jan dari Ironggolo, serta pihak-pihak yang telah membantu pelaksanaan penelitian dan tidak bisa disebutkan satu-persatu.
DAFTAR PUSTAKA
Brower, J.E. dan Zarr, J.H. 1997. Field and Laboratory for General Ecology, W.M.C Brown Company Publishing, Portugue, IOWA.
Buden, D.W. 2000. The Reptiles of Pohnpei, Federated Stated of Micronesia. Micronesia, 32 (2): 155-180
Iskandar, D.T. 1998. The Amphibian of Java and Bali.Research and Development Centre for Biology-LIPI-GEF-Biodiversity Collection Project. Bogor. Iskandar,D.T. dan Colijn, E.2000. Preliminary checklist of Southeast Asian and New
Guinean herpetofauna: Amphibians. Treubia, 31 (3): 1−133.
Iskandar, D.T., dan Colijn, E.2001. Preliminary Checklist of Southeast Asian and New Guinean Reptiles Part I: Serpentes. The Gibbon Foundation. Jakarta.
Krebs, C.J. 1978. Ecological Methodology. Harper and Row Publisher. New York
Kusrini, D.M. 2009. Pedoman Penelitian dan Survei Amphibia Di lapangan. Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Malang, 26 Maret 2016
1054
Rooij, N.De. 1915. The Reptiles of the Indo-Australian Archipelago I. Lacertilia, Chelonia, Emydosauria. EJ Brill. Leiden, The Netherlands.
Rooij, N.De. 1917. The Reptiles of the Indo-Australian Archipelago II. Ophidia. EJ Brill. Leiden, The Netherlands