• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMANFAATAN MATERIAL LOKAL QUARRY LONGALO SEBAGAI BAHAN LAPIS PONDASI ATAS JALAN RAYA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PEMANFAATAN MATERIAL LOKAL QUARRY LONGALO SEBAGAI BAHAN LAPIS PONDASI ATAS JALAN RAYA"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PEMANFAATAN MATERIAL LOKAL

QUARRY

LONGALO SEBAGAI

BAHAN LAPIS PONDASI ATAS JALAN RAYA

Fadly Achmad

Jurusan Teknik Sipil Universitas Negeri Gorontalo Jl. Jend. Sudirman No. 6 Kota Gorontalo

Email: [email protected]

ABSTRAK

Kabupaten Bone Bolango merupakan salah satu daerah di Provinsi Gorontalo yang memiliki beberapa sumber material yang digunakan sebagai bahan lapis pondasi jalan raya. Material-material ini setiap tahunnya dieksploitasi secara besar-besaran guna memenuhi kebutuhan infrastruktur khususnya jalan raya. Kebutuhan yang begitu besar akan menyebabkan deposit material di daerah tersebut akan semakin berkurang. Jika tidak ada upaya mencari sumber-sumber material alternatif, dikhawatirkan kedepan daerah ini harus mendatangkan material-material tersebut dari daerah lain yang tentunya membutuhkan biaya yang relatif tinggi.

Penelitian ini menggunakan Tras Longalo sebagai agregat halus dan kerikil yang berasal dari Sungai Bone sebagai agregat kasar. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode eksperimen. Pengujian meliputi uji kadar air, gradasi, batas-batas Atterberg, abrasi, pemadatan, dan CBR.

Hasil penelitian menunjukkan bawa agregat Desa Longalo memenui Spesifiksi Umum 2010 Revisi 3 dengan abrasi = 16,40%, butiran pecah = 100/98,92, CBR rendaman = 100%, sementara γd max = 2,40 gr/cm3 and w

opt =7,90%.

Kata kunci: Material Longalo, Lapis Pondasi Atas, Spesifikasi Umum 2010

ABSTRACT

Bone Bolango District is one of the region in Gorontalo Province has several material sources which are used as embankment material or base course. These materials have been exploited in large numbers each year to fulfill the infrastructure needs especially the highway. The large numbers of needs causes the decrease of material deposits in Gorontalo province. If there is not any effort to look for the alternative material sources, it is feared, in the future, this region will bring the materials from other areas which of course will need a quite high costs.

The research used aggregate from Longalo Village. The method of research was experiment research. The tests included water content, gradation, Atterberg limits, abration, compaction, and CBR.

The research result showed that the abration = 16,40%, angular = 100/98,92, CBR soaked = 105%,

while γd max = 2,40 gr/cm3 and wopt =7,90%.

Keywords : Longalo Material, Base Course, General Specification 2010

PENDAHULUAN

Kabupaten Bone Bolango merupakan salah satu daerah di Provinsi Gorontalo yang memiliki beberapa sumber material yang digunakan sebagai bahan lapis pondasi jalan raya. Material-material ini setiap tahunnya dieksploitasi secara besar-besaran guna memenuhi kebutuhan infrastruktur khususnya jalan raya. Kebutuhan yang begitu besar akan menyebabkan deposit material di daerah tersebut akan semakin berkurang. Jika tidak ada

upaya mencari sumber-sumber material alternatif, dikhawatirkan kedepan daerah ini harus mendatangkan material-material tersebut dari daerah lain yang tentunya membutuhkan biaya yang relatif tinggi.

(2)

material Lapis Pondasi Atas jalan raya. Pada penelitian ini, agregat dipecah dengan stone crusher kemudian diuji di laboratorium Teknik Sipil UNG mengenai sifat-sifat fisiknya.

METODE

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Penelitian dilakukan di Laboratorium Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Negeri Gorontalo. Bahan yang digunakan adalah sirtu sungai Desa Longalo Kecamatan Bulango Utara Kabupaten Bone Bolango. Sirtu dipecah dengan stone crusher kemudian diuji di laboratorium Teknik Sipil UNG mengenai sifat-sifat fisiknya.

TINJAUAN PUSTAKA

Laboratorium Teknik Sipil UNG (2007) melakukan penelitian mengenai penggunaan material lokal quarry Molintogupo Kabupaten Bone Bolango, hasilnya menunjukkan bahwa material yang berasal dari kedua sungai tersebut dapat digunakan sebagai material jalan raya. Bahkan agregatnya selama ini digunakan pada campuran beraspal.

Achmad (2016) melakukan penelitian tentang potensi material lokal Inengo Kabupaten Bone Bolango sebagai bahan lapis pondasi atas, hasilnya menunjukkan bahwa material tersebut secara kekuatan memenuhi spesifikasi dengan nilai CBR soaked 95%, meskipun dari segi gradasi dan butiran pecah tidak memenuhi. Dari hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa terdapat banyak sumber material alternatif di Kabupaten Bone Bolango yang selama belum dikelola secara optimal yang dapat dimanfaatkan untuk lapis perkerasan jalan raya. Oleh sebab itu sangat diperlukan penelitian-penelitian mengenai sumber material lainnya untuk memenuhi kebutuhan bahan konstruksi jalan raya di Kabupaten Bone Bolango.

Lapis Pondasi Atas

Menurut Hardiyatmo (2011), persyaratan lapis pondasi atas (base course) lebih ketat dibandingkan dengan persyaratan lapis pondasi bawah (subbase course) atau tanah dasar (subgrade). Bahan-bahan lapis pondasi atas harus cukup kuat dan awet, sehingga dapat

menahan beban-beban yang bekerja padanya. Oleh karena itu sebelum menentukan bahan-bahan untuk lapis pondasi atas, maka perlu dilakukan pengujian bahan. Untuk beban lalu-lintas tinggi, agregat juga sering

distabilisasidengan bahan-bahan tertentu. Kriteria kekuatan lapis pondasi biasanya didasarkan pada nilai CBR. Material lapis pondasi atas terdiri dari campuran granuler yang secara mekanis harus stabil. Pemilihan gradasi material, harus memperhatikan

keawetan/ketahanan material itu sendiri. Fungsi dari lapis pondasi atas adalah:

a. Sebagai bagian dari struktur perkerasan untuk mendukung dan menyebarkan beban kendaraan.

b. Untuk efisiensi penggunaan material agar lapisan-lapisan yang lain dapat dikurangi tebalnya, sehingga menghemat biaya.

Persyaratan Bahan

Fraksi agregat kasar yang tertahan pada ayakan 4,75 mm harus terdiri atas partikel yang keras dan awet. Bahan yang pecah bila berulang-ulang dibasahi dan dikeringkan tidak boleh digunakan.

Fraksi agregat halus yang lolos ayakan 4,75 mm harus terdiri atas partikel pasir alami atau batu pecah halus dan partikel halus lainnya. Agregat untuk lapis pondasi harus bebas dari bahan organik dan gumpalan lempung atau bahan-bahan lain yang tidak dikehendaki, harus memenuhi ketentuan gradasi yang diberikan dalam Tabel 1 dan memenuhi sifat-sifat yang diberikan dalam Tabel 2 (Spesifikasi Umum, 2010 revisi 3).

Daya Tahan Agregat

(3)

abrasi dengan alat Los Angeles Machine

(Sukirman, 2007).

Tabel 1. Gradasi Lapis Pondasi Agregat Kelas A

Ukuran saringan Spesifikasi 2010, Revisi 3

ASTM (mm) % lolos

1½” 37,5 100

1” 25,0 79 – 85

3/8” 9,50 44 – 58 No. 4 4,75 29 – 44 No. 10 2,00 17 – 30 No. 40 0,425 7 – 17 No. 200 0,075 2 – 8

Tabel 2. Sifat-sifat Lapis Pondasi Agregat Kelas A

Sifat-sifat Spesifikasi 2010, Revisi 3

Abrasi dari Agregat Kasar

Butiran Pecah, tertahan ayakan 3/8” 0 95/90 – 40 %

Indeks Plastis 0 – 6 %

Batas Cair 0 – 25 %

CBR

Perbandingan % Lolos Ayakan No. 200 dan No. 40

Min. 90 % Maks 2/3

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian laboratorium yang diperoleh dari pengujian sifat-sifat lapis pondasi agregat kelas A yang disyaratkan spesifikasi Bina Marga 2010, Revisi 3 dapat dilihat pada Tabel 3 di bawah ini.

Gradasi

Uji gradasi pada penelitian ini dilakukan terhadap agregat hasil pecahan batu (stone crusher). Hasil pengujian dapat dilihat pada Tabel 4 dan Gambar 2 di bawah ini.

Tabel 3 Hasil Pengujian Sifat-sifat Lapis Pondasi Agregat Kelas A

No. Jenis Pengujian Satuan Hasil Spesifikasi 2010 Rev. 3

1. Abrasi Agregat Kasar % 16,40 0 – 40 2. Butiran Pecah, tertahan 3/8” % 100/98,92 95/90 3. Pemadatan:

- Kadar Air Optimum (wopt) % 7,90 – - Ɣd max

- 95% Ɣd max

gr/cm3 gr/cm3

2,40 2,28

4. CBR Soaked % 105 Min. 90

5. Perbandingan % Lolos Ayakan No. 200 dan No. 40

(4)

Gambar 2 menunjukkan bahwa gradasi batu pecah quarry Longalo memenuhi kriteria gradasi kelas A Spesifikasi Umum 2010, Revisi 3.

Pengujian CBR

Pengujian CBR dilakukan dengan cara rendaman (soaked) masing-masing dengan variasi jumlah tumbukan. Hasil pengujian CBR soaked dapat dilihat pada Gambar 3.

Tabel 4 Hasil Pengujian Gradasi Gabungan

Ukuran Saringan Hasil Uji Spesifikasi 2010, Revisi

3

ASTM (mm) % lolos

1½” 37,5 100 100

1” 25,0 84,91 79 – 85

3/8” 9,50 57,01 44 – 58

(5)

Gambar 3. Hasil Pengujian CBR Soaked

Gambar 3 menunjukkan hasil pengujian CBR soaked sebesar 105%. Hasil ini memenuhi Spesifikasi Umum, 2010 Revisi 3.

SIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan yang didapat dari hasil penelitian adalah sebagai berikut:

1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai abrasi = 16,40%, butiran pecah 100/98,92, CBR soaked = 105% sementara γd maks = 2,40 gr/cm3 dan wopt = 7,90%.

2. Material dari quarry Longalo memenuhi syarat spesifikasi umum 2010 revisi 3. 3. Selalu menjaga perbandingan komposisi

campuran agregat di lapangan dengan alat.

UCAPAN TERIMAKASIH

Ucapan terimakasih ditujukan kepada PT. Nusantara Sejahtera Bersama yang telah mempercayakan kepada kami melakukan pengujian material quarry Inengo Kecamatan

Kabila Bone Kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, F. (2010). Tinjauan Sifat-sifat Agregat untuk Campuran Aspal Panas

(studi kasus beberapa quarry di

Provinsi Gorontalo), Jurnal Sainstek Vol. 5, No. 1, Maret 2010, FMIPA-UNG, hal. 36-49.

Achmad, F., Husnan, F., dan Abudi, R. K. (2013). Kajian Penggunaan Pasir Gunung Donggala sebagai Agregat Halus Pada Lapis Pondasi Bawah Jalan

Raya, Prosiding The 16th FSTPT

International Symposium, UMS Surakarta.

Tabel 5. Hasil Pengujian CBR

No Jenis Pengujian Satuan Hasil Spesifikasi

Umum, 2010

1. Pemadatan modified

- γd maksimum

- Kadar air optimum

gr/cm3 %

2,40 7,90

- -

2. CBR laboratorium

- Soaked CBR % 105 Min 90

(6)

Achmad, F., dan Sunardi, N. (2014),

Penggunaan Sirtu Malango sebagai Bahan Lapis Pondasi Bawah Ditinjau dari Spesifikasi Umum 2007 dan 2010, Prosiding Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Prasarana Wilayah 2014 ITS, Surabaya.

Direktorat Jenderal Bina Marga Kementrian Pekerjaan Umum (2010). Spesifikasi Umum revisi 3.

Hardiyatmo, H. C. (2010). Pemeliharaan Jalan Raya, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Laboratorium Teknik Sipil UNG. (2007).

Laporan JMF PT. Sinar Karya Cahaya,

PT. Cahaya Mandiri Persada, PT.

Jayakarya Permai Utama (tidak

dipublikasikan), Gorontalo.

Sukirman, S. 2010. Beton Aspal Campuran Panas, Bandung.

Gambar

Tabel 1. Gradasi Lapis Pondasi Agregat Kelas A
Tabel 4 Hasil Pengujian Gradasi Gabungan
Gambar 3. Hasil Pengujian CBR Soaked

Referensi

Dokumen terkait

E.W., 2016, Penggunaan Material Batu Kapur sebagai Lapisan Subbase Course Perkerasan Jalan pada Subgrade Tanah Lunak dengan Perkuatan Plastik dan Geosintetik,

Sehingga pada penelitian ini akan dicoba memperkuat lapis pondasi jalan dengan model bucket geogrid dengan mengidentifikasi nilai modulus geser sirtu Bili-bili yang tidak

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan material lokal yang secara umum digunakan di wilayah Balikpapan yaitu Pasir Samboja sebagai alternatif baru yang dapat

Penelitian tentang sirtu Bumela sebagai lapis pondasi bawah jalan raya sebelumnya belum pernah dilakukan, tetapi penelitian mengenai sumber material lainnya sudah

Hasil penelitian laboratorium yang diperoleh dari pengujian material kerikil Sungai Bone dan tras Lompotoo sesuai dengan sifat-sifat lapis pondasi agregat kelas B yang

Hasil pengujian yang nilainya lebih efektif untuk mendekati nilai kuat tekan adalah dengan kadar semen 6% yaitu 36,19 kg/cm2 dan telah memenuhi persyaratan Spesifikasi Khusus Interim

Hasil penelitian menunjukkan tanah Luko belum memenuhi persyaratan untuk bahan lapis pondasi agregat, baik agregat kelas A, kelas B maupun kelas C tetapi tanah Puru dan

Bertolak dari latar belakang di atas, peneliti tertarik melihat bagaimana pemanfaatan material lokal sebagai sumber enzim Poliphenol oksidase pada praktikum