Terminologi "
evidence-based medicine
" (EBM)meluas di kalangan kedokteran dengan
kecepatan luar biasa pada 15 tahun terakhir
Ide utama adalah dalam pelayanan terhadap
pasien, semaksimal mungkin harus berdasarkan bukti (
evidence
) untuk "if………...,then ………." DULU:
Berdasarkan kepercayaan dari sang author/ klinisi (kemampuannya) atau berdasarkan
konsensus para ekspert
SEKARANG:
statement tersebut harus berdasarkan evidence
Systematic reviews dari medical literature
Large Randomized controlled trials (
the best
way to assess the efficacy of a treatment
), Large prospective studies (followed up over
time)
Merupakan tipe penelitian yang dipublikasikan dalam literatur kedokteran & sangat berguna dalam menyediakan bukti-bukti tentang tes diagnostik dan terapi
Laporan pengalaman tentang pasien atau
sekelompok pasien (Case/ Cases
reports) umumnya dianggap kurang
memiliki bukti yang kuat, meskipun
mungkin laporan tersebut
memberitahukan kemungkinan
adanya
Kebutuhan
:
Dalam praktek sehari-hari dibutuhkan
informasi kuantitatif yang valid tentang
keakuratan diagnosis, prognosis, terapi dan
prevensi
Kurang adekwatnya informasi konvensional:
* Text book: out of date
* Pendapat ekspert: sering keliru
* Mengikuti seminar: kurang efektif
Disparitas kemampuan mendiagnosis dan
pengambilan keputusan klinik
Penurunan keterampilan klinik
Kekurangan waktu untuk meng
update
pengetahuan yang berhubungan dengan kepentingan pasien
Perbedaan antara
evidence
denganpractice
mengakibatkan variasi dalam praktek dan kualitas pelayanan kesehatan
Pengembangan strategi untuk secara efisien
mengambil dan mengevaluasi suatu evidence (validitas dan relevansinya)
Kreasi dalam sistem informasi untuk membawa
evidence ini dalam waktu singkat
Identifikasi dan aplikasi yang strategik dari
kemampuan belajar sepanjang hayat (
lifelong
learning
) dan meningkatkan kemampuan klinikMerupakan integrasi dari:
bukti-bukti hasil penelitian yang terbaik
(
best research evidence
) Kemampuan klinik (
clinical expertise
) Kondisi pasien (patient’s circumstances) &
Nilai yang dianut dan harapan pasien
(by
patient’s value and expectations
)
Terutama penelitian2 klinik:
- Akurasi suatu tes diagnostik
- Kekuatan marker prognostik
- Efikasi dan keamanan suatu terapi,
rehabilitatik dan strategi prevensi
Kemampuan untuk menggunakan keterampilan
klinik dan pengalaman untuk mengidentifikasi secara cepat kondisi kesehatan dan diagnosis pasien, risiko dan keuntungan yang didapat
dari suatu intervensi
Sering juga menyertakan nilai yang dianut dan
Mempertimbangkan kondisi klinik pasien serta
Hal-hal yang dipilih, dipertimbangkan dan
diharapkan oleh pasien juga harus menjadi bahan pertimbangan dalam memberikan
INTEGRATION OF:
BEST RESEARCH EVIDENCE
CLINICAL EXPERTISE PATIENT VALUES
Mengoptimalkan:
CLINICAL OUTCOMES
Clinically relevant research Patient centered research
Diagnostic test dengan Akurasi tinggi dan
precise
Kemamuan untuk menggunakan keterampilan
kinik dan pengalaman2 terdahulu untuk mengidentifikasi:
- Status dan diagnosis pasien yang memiliki ciri khas / keunikan yang ber-beda2
- Risiko dan keuntungan yang didapat dari intervensi yang potensial
Patient Preference Patient expectations Patient concerns
Mengintegrasikan:
Critical appraisal
Clinical expertise
Mengembangkan pedoman yang praktis dengan
menggunakan EBM kemungkinan dapat menurunkan angka kematian
Pedoman tersebut juga dapat meningkatkan
pelayanan kesehatan thd pasien dengan problema2 yang prevalen
EBM tidak menggantikan keputusan klinisi
yang berdasarkan pengalaman klinisi tersebut (EBM does not replace physicians' judgment based on clinical experience)
Setiap rekomendasi yang diambil dari EBM
harus diaplikasikan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi dari setiap pasien
Kadang-kadang tidak tersedia research
evidence yang reliabel untuk menuntun
keputusan klinik, atau prevalensi sangat jarang sehingga tidk mungkin dilakukan penelitian
Clinical finding
(bagaimana mengumpulkandan mengintepretasikan finding)
Etiology
(Bagaimana mengidentifikasipenyebab)
Clinical manifestation
(seberapa sering dankapan clinical manifestation ini muncul)
Diagnostik tes Prognosis
Terapi Prevensi
Experience & meaning
(dari pasien) Many evidence-based medicine guidelines are
publicly accessible. You can use these guidelines to improve your health and make good choices about your medical care.
Together, you and your doctor can make the best
evaluation and treatment plans based on the available medical evidence.
Understanding why your doctor recommends
certain tests or treatments based on evidence from the medical literature will help you make good health care and lifestyle choices
Evidence-based medicine (EBM) has
increasingly influenced decision making in health policy and patient care.
Appropriate use of EBM in decision making
requires a clear understanding of: (1) scientific evidence
(2) judgments applied to that evidence by individuals or organizations.
First, there must be good evidence that each
test or procedure recommended is medically effective in reducing morbidity or mortality
second, the medical benefits must outweigh
the risks
third, the cost of each test or procedure must
be reasonable compared to its expected benefits;
finally, the recommended actions must be
“Many people think that EBM is a more
or less automated process that delivers
a final answer. It does not.”
The level of evidence classification combines an
objective description of the existence and the types of studies supporting the recommendation and
expert consensus:
Level of evidence A:
recommendation based on evidence from multiple randomized trials or meta-analyses
Level of evidence B:
recommendation based on evidence from a single randomized trial or nonrandomized studies
Level of evidence C:
recommendation based on expert opinion, case studies, or standards of care.
Class I:
conditions for which there is evidence and/or general agreement that a given procedure or treatment is useful and effective
Class II:
conditions for which there is conflicting
evidence and/or a divergence of opinion about the usefulness/efficacy of a procedure or
Class IIa:
weight of evidence/opinion is in favor of usefulness/efficacy
Class IIb:
usefulness/efficacy is less well established by evidence/opinion
Class III:
conditions for which there is evidence and/or general agreement that the procedure/treatment is not
Level of evidence C & class II indicate:
Recommendations lacking supporting
evidence and those subject to uncertainties about the appropriate medical decision
EBM membutuhkan keterampilan baru dari dokter
termasuk penelusuran pustaka yang efisien dan aplikasi aturan formal dalam mengevaluasi
referensi klinik (clinical literature)
Saat ini sudah diterima secara global bahwa tidak
ada satupun obat yang diperkenankan untuk digunakan dalam praktek klinik bila belum
mendemonstrasikan efikasinya dalam trial klinik (RCT).
Selain itu, metode randomized trial juga
Mendefinisikan secara tepat apakah yang
menjadi problem pasien
Informasi apa yang diperlukan untuk
mengatasi problem pasien
Melakukan penelusuran literatur secara
efisien
Menseleksi penelitian yang terbaik dan
relevan untuk menentukan validitasnya
Menilai strengths, weaknesses dan pesan
klinik utk diaplkasikan ke problem pasien (
critical appraisal
). EBM juga meliputi pengertian tentang patofisiologi
yang diperlukan untuk mengintepretasikan hasil penelitian klinik
Misalnya hasil RCT yang diterima secara luas, dapat
saja kurang sesuai dengan kondisi pasien kita yang
mungkin terlalu tua, sakit berat, atau juga menderita sakit lainnya.
Pemahaman patofisiologi akan membuat klinisi lebih
mampu dalam menilai apakah hasil penelitian dapat diaplikasikan pada pasien yang sedang dihadapi
Methodological Criteria Diagnosis.
Apakah tes diagnostik telah dievaluasi dengan jumlah sampel yang cukup termasuk dalam
berbagai spektrum dari stadium penyakit (ringan – berat), telah diobati dan belum diobati?
Apakah telah dilakukan uji diagnostik yang
bersifat indipenden, perbandingan yang membuta dengan "
gold standard
" dari diagnosis?
Treatment:
Apakah pasien dilakukan
randomisasi untuk mendapat obat
yang di tes dan obat standar/
plasebo?
Apakah seluruh pasien yang masuk
dalam percobaan sudah masuk dalam
kesimpulan hasil studi?
Review Articles.
Apakah metode yang digunakan untuk
menentukan artikel yang bagaimana yang
digunakan untuk direview?
Bila penelitiannya tidak melakukan
randomisasi maka tidak masuk dalam
kriteria (if not randomized, it is useless
and provides no valuable information),
EBM mengesampingkan pengalaman dan intuisi klinik
Koreksi
Klinisi yang sangat berpengalaman dengan kemampuan intuisi diagnosis, mengobservasi dengan teliti dan dapat mengambil keputusan yang sulit dan tepat, mempunyai peran penting dalam pendidikan
Tes Diagnostik dapat berbeda dalam
akurasinya tergantung dari keterampilan praktisi.
Seorang ekspert (lokal) dapat mendiagnosis
USG jauh lebih baik dari pada rata-rata yang dipublikasikan di literatur
Efektifitas dan komplikasi dari suatu
intervensi terutama prosedur bedah
juga dapat berbeda antar institusi
Anamnesis scara hati2 dan
pemeriksaan fisik sering merupakan
bukti terbaik dalam mendiagnosis dan
pengambilan keputusan untuk
- Penggunaan komputer di bangsal RS untuk
searching
- Hasil diagnostik tes dilengkapi dengan
sensitivity, specificity, dan likelihood ratios.
- Untuk memfasilitasi EBM, Pembuat kebijakan
kesehatan harus merubah paradigma bahwa praktek kedokteran harus dengan cara baku
Analysis of
Evidence judgments Value
Evidence
Scientific judgment
Informations about outcomes
Preference judgments
Decisions/ Policy
- Selanjutnya scientific overview secara
komprehensip juga meliputi toxicity dan side effects, cost, dan konsekuensi bila
menggunakan pengobatan lain diharapkan akan dapat mengembangkan kebijakan pedoman