• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terminologi " evidence-based medicine" (EBM) meluas di kalangan kedokteran dengan kecepatan luar biasa pada 15 tahun terakhir

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Terminologi " evidence-based medicine" (EBM) meluas di kalangan kedokteran dengan kecepatan luar biasa pada 15 tahun terakhir"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

 Terminologi "

evidence-based medicine

" (EBM)

meluas di kalangan kedokteran dengan

kecepatan luar biasa pada 15 tahun terakhir

 Ide utama adalah dalam pelayanan terhadap

pasien, semaksimal mungkin harus berdasarkan bukti (

evidence

) untuk

(3)

 "if………...,then ………."  DULU:

Berdasarkan kepercayaan dari sang author/ klinisi (kemampuannya) atau berdasarkan

konsensus para ekspert

 SEKARANG:

statement tersebut harus berdasarkan evidence

(4)

 Systematic reviews dari medical literature

Large Randomized controlled trials (

the best

way to assess the efficacy of a treatment

),

Large prospective studies (followed up over

time)

Merupakan tipe penelitian yang dipublikasikan dalam literatur kedokteran & sangat berguna dalam menyediakan bukti-bukti tentang tes diagnostik dan terapi

(5)

Laporan pengalaman tentang pasien atau

sekelompok pasien (Case/ Cases

reports) umumnya dianggap kurang

memiliki bukti yang kuat, meskipun

mungkin laporan tersebut

memberitahukan kemungkinan

adanya

(6)

Kebutuhan

:

Dalam praktek sehari-hari dibutuhkan

informasi kuantitatif yang valid tentang

keakuratan diagnosis, prognosis, terapi dan

prevensi

Kurang adekwatnya informasi konvensional:

* Text book: out of date

* Pendapat ekspert: sering keliru

* Mengikuti seminar: kurang efektif

(7)

 Disparitas kemampuan mendiagnosis dan

pengambilan keputusan klinik

 Penurunan keterampilan klinik

 Kekurangan waktu untuk meng

update

pengetahuan yang berhubungan dengan kepentingan pasien

 Perbedaan antara

evidence

dengan

practice

mengakibatkan variasi dalam praktek dan kualitas pelayanan kesehatan

(8)

 Pengembangan strategi untuk secara efisien

mengambil dan mengevaluasi suatu evidence (validitas dan relevansinya)

 Kreasi dalam sistem informasi untuk membawa

evidence ini dalam waktu singkat

 Identifikasi dan aplikasi yang strategik dari

kemampuan belajar sepanjang hayat (

lifelong

learning

) dan meningkatkan kemampuan klinik

(9)

Merupakan integrasi dari:

 bukti-bukti hasil penelitian yang terbaik

(

best research evidence

)

 Kemampuan klinik (

clinical expertise

)

 Kondisi pasien (patient’s circumstances) &

Nilai yang dianut dan harapan pasien

(by

patient’s value and expectations

)

(10)

Terutama penelitian2 klinik:

- Akurasi suatu tes diagnostik

- Kekuatan marker prognostik

- Efikasi dan keamanan suatu terapi,

rehabilitatik dan strategi prevensi

(11)

 Kemampuan untuk menggunakan keterampilan

klinik dan pengalaman untuk mengidentifikasi secara cepat kondisi kesehatan dan diagnosis pasien, risiko dan keuntungan yang didapat

dari suatu intervensi

 Sering juga menyertakan nilai yang dianut dan

(12)

 Mempertimbangkan kondisi klinik pasien serta

(13)

 Hal-hal yang dipilih, dipertimbangkan dan

diharapkan oleh pasien juga harus menjadi bahan pertimbangan dalam memberikan

(14)

INTEGRATION OF:

BEST RESEARCH EVIDENCE

CLINICAL EXPERTISE PATIENT VALUES

(15)

Mengoptimalkan:

CLINICAL OUTCOMES

(16)

 Clinically relevant research  Patient centered research

 Diagnostic test dengan Akurasi tinggi dan

precise

(17)

 Kemamuan untuk menggunakan keterampilan

kinik dan pengalaman2 terdahulu untuk mengidentifikasi:

- Status dan diagnosis pasien yang memiliki ciri khas / keunikan yang ber-beda2

- Risiko dan keuntungan yang didapat dari intervensi yang potensial

(18)

 Patient Preference  Patient expectations  Patient concerns

(19)

Mengintegrasikan:

Critical appraisal

Clinical expertise

(20)

 Mengembangkan pedoman yang praktis dengan

menggunakan EBM kemungkinan dapat menurunkan angka kematian

 Pedoman tersebut juga dapat meningkatkan

pelayanan kesehatan thd pasien dengan problema2 yang prevalen

 EBM tidak menggantikan keputusan klinisi

yang berdasarkan pengalaman klinisi tersebut (EBM does not replace physicians' judgment based on clinical experience)

(21)

 Setiap rekomendasi yang diambil dari EBM

harus diaplikasikan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi dari setiap pasien

 Kadang-kadang tidak tersedia research

evidence yang reliabel untuk menuntun

keputusan klinik, atau prevalensi sangat jarang sehingga tidk mungkin dilakukan penelitian

(22)

Clinical finding

(bagaimana mengumpulkan

dan mengintepretasikan finding)

Etiology

(Bagaimana mengidentifikasi

penyebab)

Clinical manifestation

(seberapa sering dan

kapan clinical manifestation ini muncul)

(23)

 Diagnostik tes  Prognosis

 Terapi  Prevensi

Experience & meaning

(dari pasien)

(24)

 Many evidence-based medicine guidelines are

publicly accessible. You can use these guidelines to improve your health and make good choices about your medical care.

 Together, you and your doctor can make the best

evaluation and treatment plans based on the available medical evidence.

 Understanding why your doctor recommends

certain tests or treatments based on evidence from the medical literature will help you make good health care and lifestyle choices

(25)

 Evidence-based medicine (EBM) has

increasingly influenced decision making in health policy and patient care.

 Appropriate use of EBM in decision making

requires a clear understanding of: (1) scientific evidence

(2) judgments applied to that evidence by individuals or organizations.

(26)

 First, there must be good evidence that each

test or procedure recommended is medically effective in reducing morbidity or mortality

 second, the medical benefits must outweigh

the risks

 third, the cost of each test or procedure must

be reasonable compared to its expected benefits;

 finally, the recommended actions must be

(27)

“Many people think that EBM is a more

or less automated process that delivers

a final answer. It does not.”

(28)

The level of evidence classification combines an

objective description of the existence and the types of studies supporting the recommendation and

expert consensus:

 Level of evidence A:

recommendation based on evidence from multiple randomized trials or meta-analyses

 Level of evidence B:

recommendation based on evidence from a single randomized trial or nonrandomized studies

 Level of evidence C:

recommendation based on expert opinion, case studies, or standards of care.

(29)

 Class I:

conditions for which there is evidence and/or general agreement that a given procedure or treatment is useful and effective

 Class II:

conditions for which there is conflicting

evidence and/or a divergence of opinion about the usefulness/efficacy of a procedure or

(30)

 Class IIa:

weight of evidence/opinion is in favor of usefulness/efficacy

Class IIb:

usefulness/efficacy is less well established by evidence/opinion

 Class III:

conditions for which there is evidence and/or general agreement that the procedure/treatment is not

(31)

 Level of evidence C & class II indicate:

Recommendations lacking supporting

evidence and those subject to uncertainties about the appropriate medical decision

(32)

 EBM membutuhkan keterampilan baru dari dokter

termasuk penelusuran pustaka yang efisien dan aplikasi aturan formal dalam mengevaluasi

referensi klinik (clinical literature)

 Saat ini sudah diterima secara global bahwa tidak

ada satupun obat yang diperkenankan untuk digunakan dalam praktek klinik bila belum

mendemonstrasikan efikasinya dalam trial klinik (RCT).

 Selain itu, metode randomized trial juga

(33)

 Mendefinisikan secara tepat apakah yang

menjadi problem pasien

 Informasi apa yang diperlukan untuk

mengatasi problem pasien

 Melakukan penelusuran literatur secara

efisien

 Menseleksi penelitian yang terbaik dan

relevan untuk menentukan validitasnya

 Menilai strengths, weaknesses dan pesan

klinik utk diaplkasikan ke problem pasien (

critical appraisal

).

(34)

 EBM juga meliputi pengertian tentang patofisiologi

yang diperlukan untuk mengintepretasikan hasil penelitian klinik

 Misalnya hasil RCT yang diterima secara luas, dapat

saja kurang sesuai dengan kondisi pasien kita yang

mungkin terlalu tua, sakit berat, atau juga menderita sakit lainnya.

 Pemahaman patofisiologi akan membuat klinisi lebih

mampu dalam menilai apakah hasil penelitian dapat diaplikasikan pada pasien yang sedang dihadapi

(35)

 Methodological Criteria  Diagnosis.

Apakah tes diagnostik telah dievaluasi dengan jumlah sampel yang cukup termasuk dalam

berbagai spektrum dari stadium penyakit (ringan – berat), telah diobati dan belum diobati?

 Apakah telah dilakukan uji diagnostik yang

bersifat indipenden, perbandingan yang membuta dengan "

gold standard

" dari diagnosis?

(36)

Treatment:

Apakah pasien dilakukan

randomisasi untuk mendapat obat

yang di tes dan obat standar/

plasebo?

Apakah seluruh pasien yang masuk

dalam percobaan sudah masuk dalam

kesimpulan hasil studi?

(37)

Review Articles.

Apakah metode yang digunakan untuk

menentukan artikel yang bagaimana yang

digunakan untuk direview?

Bila penelitiannya tidak melakukan

randomisasi maka tidak masuk dalam

kriteria (if not randomized, it is useless

and provides no valuable information),

(38)

EBM mengesampingkan pengalaman dan intuisi klinik

 Koreksi

Klinisi yang sangat berpengalaman dengan kemampuan intuisi diagnosis, mengobservasi dengan teliti dan dapat mengambil keputusan yang sulit dan tepat, mempunyai peran penting dalam pendidikan

(39)

 Tes Diagnostik dapat berbeda dalam

akurasinya tergantung dari keterampilan praktisi.

 Seorang ekspert (lokal) dapat mendiagnosis

USG jauh lebih baik dari pada rata-rata yang dipublikasikan di literatur

(40)

Efektifitas dan komplikasi dari suatu

intervensi terutama prosedur bedah

juga dapat berbeda antar institusi

Anamnesis scara hati2 dan

pemeriksaan fisik sering merupakan

bukti terbaik dalam mendiagnosis dan

pengambilan keputusan untuk

(41)

- Penggunaan komputer di bangsal RS untuk

searching

- Hasil diagnostik tes dilengkapi dengan

sensitivity, specificity, dan likelihood ratios.

- Untuk memfasilitasi EBM, Pembuat kebijakan

kesehatan harus merubah paradigma bahwa praktek kedokteran harus dengan cara baku

(42)

Analysis of

Evidence judgments Value

Evidence

Scientific judgment

Informations about outcomes

Preference judgments

Decisions/ Policy

(43)

- Selanjutnya scientific overview secara

komprehensip juga meliputi toxicity dan side effects, cost, dan konsekuensi bila

menggunakan pengobatan lain diharapkan akan dapat mengembangkan kebijakan pedoman

Referensi

Dokumen terkait