5
BAB II Deskripsi Proyek
2.1. Umum
Status proyek : Semi fiktif
Pemilik proyek : Developer swasta dan pemerintah kota Sumber dana : Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kota
Surakarta dan investasi swasta Pengelola : Pemerintah Kota Surakarta
Lokasi lahan : Terletak di kawasan Sriwedari Surakarta
• Batas Utara : Jl. Slamet Riyadi, yang merupakan jalan arteri sekunder
• Batas Selatan : Jl. Kebangkitan Nasional • Batas Barat : Jl. Bhayangkara • Batas Timur : Jl. Museum
Luas lahan : 2,3 ha Luas bangunan : 6060 m2 Data penunjang :
• Garis Sempadan Bangunan : 0 m • Koefisien Dasar Bangunan : 75-80% • Jumlah lantai maksimal : 9 lantai
Kelengkapan fasilitas : tersedia jaringan listrik, telepon, saluran air bersih PAM, riol kota, sistem drainase, dan rencana pembangunan folder penampungan air.
2.2. Interpretasi Kasus
Pusat Pameran dan Konvensi Kota Surakarta:
Suatu fasilitas untuk mempertunjukkan dan memamerkan karya atau produk meliputi bidang industri, perdagangan, jasa, teknologi, pariwisata, seni dan budaya kota Surakarta, serta sebagai fasilitas pertemuan untuk membicarakan dan menyelesaikan permasalahan yang
6 berkenaan dengan kemajuan pembangunan, baik secara promotif, edukatif maupun bisnis, bersifat lokal, nasional, maupun internasional. Promotif
Menjadi wadah untuk memperluas kerjasama dan keterkaitan antar pihak yang terlibat dalam bidang pariwisata, industri, perdagangan, dan jasa. Juga memungkinkan terjadinya koordinasi dalam pemasaran, penataan mutu barang, sehingga dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas pengadaan produk / jasa tersebut.
Edukatif
Sebagai wadah yang dapat membuka kesempatan pertukaran informasi berupa informasi pengembangan desain produk, pelatihan dan penataran singkat mengenai proses produksi maupun tata niaga.
Bisnis
Wadah perluasan pasar, baik lokal, nasional maupun internasional dengan mempertemukan produsen, pengusaha, konsumen, investor, dan pemerintah.
Bagi kota Surakarta, kehadiran fasilitas ini akan dapat menjadi pemacu pertumbuhan ekonomi kota. Dengan adanya fasilitas konvensi dan pameran ini, masyarakat, terutama para pengusaha, baik kecil, menengah maupun besar dapat mempunyai tempat untuk mempromosikan hasil industrinya, yang merupakan hasil khas kota Surakarta. Sehingga secara budaya, kehadiran tempat ini dapat turut serta sebagai sarana pelestarian kearifan lokal yang terwujud dalam barang-barang hasil kerajinan, dan secara ekonomi dapat memacu pertumbuhan ekonomi dan pendapatan daerah.
Apabila dilihat secara mikro kawasan Sriwedari, kehadiran fasilitas baru ini kembali menggairahkan fungsi kawasan Taman Sriwedari sebagai ruang terbuka hijau, sekaligus tempat pelestarian budaya dan promosi industri kerajinan khas Surakarta. Penempatan fungsi baru tersebut menjadi pengikat baru dalam konteks skala kota terhadap Taman Sriwedari. Dengan skala bangunan yang besar, kehadirannya
7 dapat menjadi ikon baru bagi kota, terkait dengan tapak yang memang telah mempunyai arti tersendiri bagi kota.
Pengadaan fasilitas pameran dan konvensi dalam suatu center atau pusat akan memberi keuntungan tersendiri, antara lain:
• Segala keperluan untuk kegiatan pameran dan konvensi dapat diakomodasi dalam kompleks itu sendiri yang menguntungkan pemakai maupun pengelola.
• Seluruh kompleks memang didesain khusus untuk fungsi-fungsi pameran dan konvensi (purpose designed) oleh karena itu standar pelayanan dan perlengkapan untuk kegiatan pameran dan konvensi tinggi.
Faktor-faktor yang dapat dijadikan daya tarik pusat pameran dan konvensi, sesuai dengan keberadaannya di kawasan Taman Sriwedari antara lain:
• Lokasi yang strategis
• Kelengkapan fasilitas penunjang seperti restoran, penginapan dan sebagainya
• Adanya fasilitas olahraga di sekitarnya • Adanya sarana perbelanjaan di sekitarnya • Merupakan daerah tujuan wisata
• Ciri historis kawasan 2.3. Program Kegiatan
Macam kegiatan yang diwadahi dalam fasilitas ini adalah: 1) Kegiatan utama
• Promosi dan pameran
Dari waktu penyelenggaraan, terbagi atas: a. Pameran tetap
b. Pameran berkala c. Pameran insidental
Dari skala pameran yang diselenggarakan, dibedakan menjadi: a. Pameran skala kecil
8 Pameran hanya menggunakan satu bagian dari hall pameran dengan kapasitas 700m2.
b. Pameran skala besar
Kegiatan ini menggunakan keseluruhan ruang pameran. c. Pameran outdoor
Kegiatan pameran yang menggunakan plaza terbuka di luar ruangan.
• Konvensi
Dari segi skala penyelenggaraan, kegiatan konvensi dibedakan atas:
d. Konvensi tingkat kota/propinsi e. Konvensi tingkat nasional f. Konvensi internasional
Dari segi waktu pelaksanaan, kegiatan konvensi dibedakan menjadi:
a. Konvensi setengah hari ( pukul 8.00 – 12.00 ) b. Konvensi sehari penuh ( pukul 8.00 – 17.00 )
c. Konvensi beberapa hari ( tiap hari pada pukul 8.00 – 17.00 ) Kegiatan ini umumnya disertai beberapa kali istirahat atau hanya sekali istirahat pada jam makan siang (anatar pukul 12.00 – 13.00 ).
D samping kegiatan konvensi terdapat kegiatan non konvensi yang ditampung dsalam fasilitas konvensi, seperti pesta, perjamuan, atau pertunjukan yang biasanya diadakan pada hari libur atau pada malam hari di luar aktivitas konvensi.
2) Kegiatan penunjang • Temu/konsultasi bisnis • Acara pelepasan/wisuda • Pertunjukan kecil • Resepsi pernikahan • Retail • Manajemen pengelolaan
9 3) Kegiatan-kegiatan rutin khas kota Solo yang diselenggarakan tiap
tahun secara berkala, yang memungkinkan untuk diselenggarakan dalam fasilitas konvensi, pameran, maupun plaza terbuka.
• Bengawan Solo Festival
• Malem Selikuran (yang secara tradisi diadakan di Taman Sriwedari)
• Gerebeg Mulud
• Tinggal Dalem Jumenengan (hari naik tahta) Paku Buwono • Festival tari
• Dan berbagai festival seni dan budaya lainnya 2.4. Sasaran
• Sasaran pengunjung - Pengunjung khusus
Produsen, pengusaha besar, menengah dan kecil, investor - Pengunjung umum (masyarakat umum)
• Sasaran peserta pameran - Sentra penghasil kerajinan
- Anggota asosiasi pengusaha tertentu - Perusahaan swasta maupun perorangan • Sasaran peserta konvensi
- Para pejabat pemerintah kota - Para pengusaha
- Para investor, baiki lokal maupun internasional • Masyarakat umum
Ruang terbuka hijau d antara dua bangunan utama, pada hari-hari biasa saat fasilitas tidak digunakan dapat dijadikan ruang publik bagi masyarakat kota, yang terintegrasi dengan daerah kolam yang juga diperuntukkan bagi masyarakat umum.
10 2.5 Studi Banding Kasus Sejenis
2.5.1. Jakarta Convention Center
Terletak di jantung Ibu Kota Jakarta, Jakarta Convention Center merupakan fasilitas konvensi dan pameran terbesar di Indonesia. Jakarta Convention Center digunakan sebagai tempat penyelenggaraan berbagai event besar, baik yang bersifat formal seperti pertemuan-pertemuan tingkat tinggi antar negara, konferensi APEC, KTT Non Blok, sampai dengan konser musik yang menampilkan berbagai musisi kelas dunia.
Jakarta Convention Center terdiri atas beberapa hall besar dengan kapasitas yang cukup besar. Plenary Hall yang berbentuk lingkaran, dapat memuat sampai dengan 5000 tempat duduk, merupakan hall utama. Konsep ruang yang fleksibel, memungkinkan fungsi Plenary Hall untuk diubah sesuai dengan kebutuhan, baik untuk kegiatan konvensi maupun pameran. Selain itu terdapat Assembly Hall dengan luas ruang 3.921m2 dapat dibagai menjadi tiga ruangan yang lebih kecil sesuai dengan kebutuhan.
Gambar 3. Denah lt. 1 JCC Gambar 2. Denah lt. basement JCC Gambar 1. Eksterior JCC
11 Selain itu terdapat dua ruang pameran besar, yaitu Exhibition Hall A dan Exhibition Hall B, dengan luas total 9.585m2, beberapa ruang pertemuan sedang maupun kecil, dan lobby utama dengan luas 5.500m2, yang dapat digunakan untuk keperluan-keperluan tertentu sesuai dengan kebutuhan acara.
Plenary Hall dirancang sangat fleksibel, dengan kapasitas sampai dengan 5000 orang, mulai dari kegitan konferensi yang bersifat formal, sampai dengan konser musik yang hingar bingar. Dilengkapi dengan peralatan audio video yang canggih termasuk 64 kamera video, dan sistem penerjemah yang dapat mengakomodasi sampai dengan 8 bahasa. Assembly Hall dapat menampung 2500 orang untuk pertemuan dengan tempat duduk, dan 4500 orang untuk acara dengan berdiri. Ruangnya yang fleksibel memungkinkan berbagai kegiatan untuk dilakukan. Mulai dari gala dinner, ruang kelas, fashion show, launching produk, sampai malam penganugerahan.
Gambar 5. Lay out ruang pameran JCC Gambar 4. Interior JCC
12 Ruang pameran utama terdiri dari dua bagian, A dan B. Kedua ruangan dihubungkan dengan koridor sehingga memungkinkan kedua ruangan untuk dipakai secara bersama-sama. Selain itu terdapat 13 ruang-ruang pertemuan sedang dan kecil, dengan kapasitas mulai dari 20 orang sampai dengan 1000 orang.
Secara umum, penataan ruang-ruang utama tersebut diletakkan menyebar dengan orientasi utama pada lobby utama. Sirkulasi pengunjung dari lobby utama kemudian dipecah ke ruang-ruang sesuai dengan keperluannya. Hal ini memberi keuntungan jika salah satu ruang saja yang terpakai, pintu masuk tetap melalui lobby utama. Sehingga sirkulasi menjadi lebih efisien. Jakarta Convention Center juga mempunyai drop off yang cukup panjang. Hal ini untuk mengakomodasi banyaknya pengunjung yang datang yang mencapai ribuan orang, dan kondisi tapak yang berada di daerah perkotaan yang padat.
2.5.2. Sasana Budaya Ganesha ITB
Sasana Budaya Ganesha ITB dirancang oleh arsitek Slamet Wirasonjaya, dengan pendekatan pemenuhan kebutuhan ruang luar dan lanskap. Tujuannya adalah untuk memberi “ruang” dan peluang kepada mahasiswa untuk berinteraksi dan bersosialisasi baik secara internal maupun eksternal, dan untuk mengimbangi pola fisik bangunan yang telah dikembangkan di kompleks kampus utama. Perancangan Sabuga dilakukan dengan mempertimbangkan sumbu utara-selatan kampus ITB, namun pengolahan pada bangunan menyesuaikan dengan keadaan tapak.
13 Batas-batas dalam tapak Sabuga merupakan batas-batas alami dari tapak seperti sungai Cikapundung di sebelah barat; utara, timur, dan selatan merupakan lereng-lereng terjal di sekeliling lembah. Kondisi ini tentu mempengaruhi perancangan jalur sirkulasi menuju bangunan yang tidak bisa mengarah langsung ke bangunan, namun agak berputar.
Selain tema perancangan yang telah ditetapkan sebagai konsep makro, terdapat faktor fisik yang juga mempengaruhi. Pengembangan konsep dasar perancangan arsitekturnya yaitu keadaan lahan yang berkontur, dan lahan kawasan konservasi yang diharapkan tetap terjaga kelestarian dan keasriannya, baik secara visual maupun substansial. Titik konsentrasi pada tapak adalah area tengah di antara bangunan Sabuga dan kolam renang, yaitu pedestrian pada dekat area lintasan lari. Area ini sangat aktif, karena merupakan pusat berkumpulnya pengguna fasilitas olahraga di sekitar kawasan. Sabuga mempunyai potensi sebagai landmark karena skala bangunan yang cukup besar, namun hal ini tidak ditunjang dengan kondisi tapak yang berada di bawah lembah. Tampak bangunan yang terlihat dari arah permukiman justru memberikan penekanan pada skala bangunan sebenarnya, karena bangunan berdiri dekat rumah-rumah penduduk di area permukiman.
Sumbu Sabuga dirancang dengan konteksnya terhadap karakter alam dan sumbu kampus ITB. Sumbu utama kampus digunakan untuk perancangan komposisi bangunan dalam tapak. Bangunan yang berbentuk setengah lingkaran merupakan tipologi bangunan
14 entertainment dan exhibition yang sudah ada sejak zaman Romawi. Penggunaan bentuk setengah lingkaran merupakan variasi dalam pengolahan bentuk yang disesuaikan dengan kondisi tapak dan fungsi bangunan sebagai pintu gerbang bagi kawasan tersebut.
Konsep triangga (kepala, badan, kaki) diwujudkan dalam desain bangunan, yakni atap kubah setengah lingkaran tampil sebagai kepala, badan dibentuk oleh perwujudan taman atap, dan kaki terbentuk oleh lengkung-lengkung horisontal pada teras bangunan. Bangunan yang didominasi garis-garis lengkung dan penyelesaian fasade dengan detail-detail persegi tersebut mengingatkan pada arsitektur art deco yang membuat Bandung terkenal. Bangunan mempunyai dua muka, muka bagian timur menghadap ke arah lapangan olahraga yang bersifat informal, karena menampung kegiatan-kegiatan non akademis, dan mempunyai bentuk gunung yang diharapkan dapat menjadi analogi kota Bandung yang dikelilingi gunung-gunung, dan muka barat yang menghadap ke arah sungai Cikapundung yang bersifat formal, di mana berlangsung kegiatan-kegiatan akademis.
Gambar 8.
Layout Tapak Sabuga
15 Proses penggalian bentuk-bentuk yang dikembangkan sangat dipengaruhi oleh semangat Antoni Gaudi tentang bentuk: “The straight line belongs to men. The curves are to God”. Akhirnya didapatkan bentuk lengkung setengah lingkaran pada bagian barat bangunan, dan bentuk persegi pada bagian timur. Secara teknis bentuk lengkung dapat memanipulasi penampilan agar bangunan yang berdiameter total ±148m ini seolah-olah lebih sempit dan tidak berbentang panjang. Bangunan tersebut berdimensi besar karena harus menampung ±4000 orang. Permasalahan lingkungan di lembah (secara visual) adalah pemandangan yang lebih banyak terlihat dari atas daripada dari bawah. Oleh karena itu bentuk kubah dipilih karena dapat mewakili tuntutan visual ini dan sekaligus memberi perlindungan pada ruang bebas kolom. Bentuk kubah memang dominan sehingga menjadi focal point.
Fasilitas utama dari bangunan ini adalah ruang konvensi yang dapat menampung lebih dari 4000 orang. Dengan ruang-ruang penunjang berada di samping-sampingnya. Fasilitas pre-function yang berbentuk setengah lingkaran mengikuti bentuk massa utama dapat dijadikan sebagai ruang pamer temporer. Selain itu juga terdapat beberapa ruang-ruang pertemuan kecil yang berada pada sisi timur.
16
17 2.5.3. Tokyo International Forum
Selesai dibangun : 1997
Lokasi : 5-1 Marunouchi 3-chome, Chiyoda-ku, Tokyo, 100-0005, Jepang.
Klien : Tokyo Metropolitan Government
Arsitek : Rafael Viňoly (dibantu Charles Bloomberg) Ahli struktur : Structural Design Group Co. Ltd.
Luas lahan : 21.000 m2 Luas bangunan : 7.360 m2 Luas lantai total : 40.400 m2 Panjang bangunan : 208 m Lebar bangunan : 31,7 m Tinggi bangunan : 57,5 m Berat total konstruksi baja : 6.600 ton
Gambar 13. Eksterior Tokyo International Forum
Tokyo International Forum berlokasi di tengah kota. Di sudut dua blok, yaitu pusat hiburan dan komersial Ginza serta pusat bisnis Marunoichi. Lahan ini sebelumnya ditempati oleh bangunan Tokyo City Hall. Jadi, bangunan ini difungsikan sebagai wadah yang mampu mengakomodasikan aktivitas, baik bisnis maupun hiburan. Bangunan ini telah menjadi ikon baru di Jepang, simbol dari keajaiban perekonomian Jepang.
Bangunan ini dibangun dilatarbelakangi oleh kompetisi internasional pada tahun 1989 yang diadakan oleh Union Internationale der Architectes (UIA) dalam rangka kepentingan politik
18 untuk memfasilitasi pertukaran informasi kebudayaan dan internasional dalam konteks urban center. Rafael Viňoly, seorang arsitek dari New York memenangkan kompetisi ini. Konsep awal dari bangunan ini memakai analogi kapal di tengah ombak yang berguncang. Ombak yang berguncang dia analogikan sebagai Jepang yang sering terguncang oleh gempa. Pemakaian model kapal ini dianggap mampu menahan getaran gempa layaknya sebuah kapal yang mampu menahan gelombang yang kuat.
Skalanya yang besar menggambarkan kebesaran kota Tokyo yang pembangunannya tidak luput dari kepentingan perluasan kebudayaan. Karena skalanya yang besar, Tokyo International Forum (TIF) mampu menampung 5000 orang di dalam ruang konferensinya.
TIF yang dikelilingi oleh jalur subway memudahkan akses masuk ke dalam bangunan yang meraih Commercial DuPont Benedictus Award pada tahun 1997 ini menjadi mudah.
Selain ruang konferensi, TIF dilengkapi dengan fasilitas: • 2 teater (salah satunya terbesar di dunia)
• Lebih dari 6000 m2 area pameran • Restoran
• Perpustakaan • Ruang multimedia
Gambar 14.
19 • Café
• Galeri kesenian • Multimedia teater
Tokyo International Forum mempunyai beberapa elemen yang menarik, di antaranya adalah:
Glass Hall
Glass hall yang sangat besar didukung oleh sistem baja tempa inovatif berbentuk lengkung yang telah melalui proses kompresi dan didukung dengan penggunaan elemen kabel baja (penahan gaya tarik) yang membentang sepanjang 225 m. Kabel baja itu digunakan sebagai pengikat dua mega kolom yang terletak di ujung-ujung sumbu memanjang dari Glass Wall yang berfungsi menopang balok utama yang mempersatukan semua rangka baja yang melengkung. Selain itu didukung pula dengan penggunaan Virendel yang berfungsi sebagai jembatan penghubung elemen bracing antara dua sisi Glass Wall.
Block Cluster
Block Cluster yang disusun oleh empat buah volume yang hamper kubikus dengan komposisi Square dari yang terkeil terletak di utara dan terbesar di selatan.
Hal yang paling menajubkan dari TIF adalah penggunaan kaca yang mencapai 80% dari seluruh fasade bangunan, terutama pada
20 Glass Hall yang luas kacanya mencapai 20.000 m2 disusun atas panel-panel Laminated Heat-strengthened Glass setebal 17,5 mm yang merupakan produksi dari Asahi Glass of Japan ditopang oleh spider joint pada tiap empat panel kaca yang dirangkaikan pada rangka baja lengkung. Tinggi Glass Hall ini mencapai 60 m. pengunaan Laminated Glass ini atas dasar pertimbangan akan keamanan yang tinggi terhadap getaran.
21 2.5.4. San Diego Convention Center
Lokasi : San Diego, California, Amerika Serikat Pemilik : Port of San Diego
Arsitek : Arthur Erickson Architect
San Diego Convention Center berlokasi di tepi San Diego Bay sehingga didesain dengan karakter arsitektur waterfront.
Gambar 17. Waterfront View SDCC
Bangunan dengan luas total 1.705.000.000 kaki persegi ini terdiri dari 250.000 kaki persegi exhibition hall pada lantai dasar, 100.000 kaki persegi meeting rooms pada mezzanine dan lantai atasnya yang terdiri dari 35 ruang konvensi dengan luas antara 1.000-40.000 kaki persegi, dan parkir bawah tanah berkapasitas 2.000 mobil.
Dalam merancang bangunan ini sang arsitek membedakan kegiatan pemakaian bangunan menjadi dua yaitu pemakaian yang ‘aktif’ seperti tempat kedatangan, reception, dan sirkulasi, pada daerah yang menghadap kota, dan pemakaian ‘pasif’ seperti meeting rooms, lounges, dan landscapes terraces, pada bagian yang menghadap pelabuhan.
22 Sebagai tambahan, terdapat 100.000 kaki persegi ruang pamer terbuka yang ditutup atap tenda, yang memanfaatkan iklim California utara yang memang memungkinkan untuk kegiatan seperti itu.
Gambar 18.
Sistem Atap Tenda SDCC
Tantangan dalam merancang lahan waterfront seluas 11,2 acre ini adalah memenuhi kebutuhan bangunan yang massif tanpa memotong akses ke teluk dan kesadaran akan kedekatannya dengan teluk. Setiap usaha dilakukan untuk membuat bangunan serendah mungkin dengan sistem distribusi akomodasi yang bertingkat-tingkat. Akibatnya, bangunan panjang dengan vault-vault kaca ini seperti bertumpuk-tumpuk, kenudian pada satu sisi merendah kearah jalan dan ke arah teluk pada sisi lain. Vault-vault tersebut dipegang oleh struktur beton dipegang oleh struktur beton berbentuk sirip bersudut lancip, yang sebelumnya direncanakan berupa tiang pancang baja untuk lebih memberi kesan kelautan, namun diubah karena alasan dana dan ketahanan terhadap kebakaran.
Vault-vault tersebut diakhiri denga lempeng beton persegi dengan jendela bundar yang memegang medali merah cerah di bagian tengahnya, yang merupakan salah satu aksen warna primer yang menghidupkan bangunan dengan panjang 1.100 kaki. Vault pertama pada sisi yang menghadap kota menutupi lobby dengan pintu-pintu masuk menerus yang memanjang sepanjang bangunan sejajar Harbour Drive. Jembatan untuk pedestrian yang menghubungkan bangunan dengan taman yang diusulkan dan perpanjangan sistem angkutan kota di seberang jalan.
23 Vault di atas daerah sirkulasi dan daerah pre-function memberikan penerangan dan pemandangan yang bagus kea rah kota dan teluk, memberikan kelegaan bagi peserta konvensi yang hampir seharian duduk.
Ruang-ruang ini dihubungkan oleh galeri berkubah yang besar, yang pada eksterior bangunan ditandai dengan seperempat vault miring, yang disebut ‘bubbles’. Bukaan pada galeri pada sisi teluk adalah suatu atrium yang dramatis dengan eskalator dan lingkaran dan busur beton besar yang membentuk dua dinding dan melingkari sisi teluk membentuk amphiteater.
Gambar 19. Eksterior SDCC
Penggunaan kaca pada bangunan ini untuk memberikan kesan ringan, sehingga dapat menghindarkan adanya bangunan raksasa yang tidak menarik sepanjang waterfront. Elemen lain yang menarik adalah atap tenda (tensile roof) yang disinari di malam hari. Atap fiber berlapis Teflon ini merupakan penutup ruang terbuka yang digunakan untuk pameran khusus, konser, dan perjamuan, berkapasitas 6.000 tampat duduk. Atap miring layer yang dipegang oleh jaringan kabel pada ketinggian 30 hingga 90 kaki di atas dek ini mampu meneruskan 15% cahaya dengan beban panas minimum. Vault kaca berterali pada
24 dua sisi ruang, yang diisi dengan bougenvillea, melindungi dek terhadap angina lepas pantai.
Bangunan yang dibangun oleh San Diego Unified Port District dan dikelola oleh kota ini seluruhnya terbuka untuk umum. Pengunjung yang tidak berkepentingan dalam suatu konvensi atau eksibisi yang sedang berlangsung pun dapat menikmati seluruh ruang publik yang ada.
2.5.5.. Kesimpulan Studi Banding Kasus Sejenis
Fasilitas convention center merupakan fasilitas yang dapat menjadi ikon dari suatu daerah, baik skala kota maupun negara. Fasilitas ini memegang peranan penting dalam memacu roda perekonomian dari suatu negara.
Secara ruang, bangunan ini dalam skala kota harus dapat merespon tempat dia berdiri. Isu yang paling jelas dari ketiga studi kasus di atas adalah respon terhadap kebutuhan ruang publik. Pada kasus Sasana Budaya Ganesha ITB, bangunan tersebut sangat merespon kondisi lembah yang curam dan merupakan kawasan konservasi. Bangunan tersebut dirancang dengan tema landscape, sesuai dengan kondisi lahan yang didominasi oleh unsur-unsur alam. Perancangnya dalam hal ini mampu mengelaborasi antara kondisi lahan yang sebenarnya kurang menguntungkan, menjadi sesuai dengan fungsi bangunan yang membutuhkan luas lahan yang cukup besar. Yang dapat diambil pelajaran dari kasus Sabuga adalah pemilihan bentuk massa yang sesuai dengan kondisi lahan. Dari segi fungsi, Sabuga mampu memaksimalkan ruang, khususnya ruang pre-function untuk dijadikan ruang-ruang pamer kecil.
Ruang publik merupakan isu yang sangat penting dalam konteks urban. Hal ini juga direspon oleh desain Tokyo International Forum. Dengan keterbatasan lahan yang ada, Tokyo International Forum masih mempunyai ruang terbuka di antara dua massa bangunan utama yang digunakan sebagai ruang publik, ditanami beberapa pohon agar memberi sedikit keteduhan. Pemilihan material yang digunakan
25 juga sangat modern dan bersih. Pemilihan material-material kaca dan baja sesuai dengan tuntutan struktur yang besar, tetapi tetap ringan.
Pada San Diego Convention Center, sekali lagi dijumpai konsep pemanfaatan ruang untuk kepentingan umum, namun dengan penyelesaian yang berbeda, disesuaikan dengan kondisi lahan yang berada di dekat pantai. Hal ini dapat dianalogikan dalam kasus yang dirancang, yang berada di dekat danau buatan. Meskipun dengan skala yang lebih kecil, kehadiran danau buatan di dalam kota, dapat menjadi potensi bagi kawasan tersebut untuk mengembangkannya lebih lanjut agar dapat optimal sebgai ruang fasilitas umum maupun taman kota. Bangunan yang berada di tepi danau otomatis harus merespon kehadiran danau tersebut, mengintegrasikan perancangan tapak di sekitar bangunan dengan tata lahan di sekitar danau.
Secara organisasi ruang, Jakarta Convention Center, dengan beberapa ruang utama yang cukup banyak, mampu ditata dengan baik. Sirkulasi manusia dan kendaraan dapat dirancang seefisien mungkin. Dari tiap ruang menggunakan prinsip fleksibilitas. Fleksibilitas dalam hal luas ruang maupun fungsi yang dapat digunakan di dalamnya. Pada ruang-ruang pameran utama dpat dibagi-bagi menjadi ruang-ruang yang lebih kecil sesuai dengan jenis pameran yang diadakan. Dan pada Plenary Hall yang berbentuk lingkaran dapat digunakan baik untuk konvensi maupun pameran. Pada lantai dasar sangat open lay-out sehingga dapat diatur peruntukannya sesuai dengan acara yang berlangsung. Dengan kapasitas yang cukup besar, Plenary Hall Jakarta Convention Center dapat digunakan untuk konser musik yang membutuhkan fleksibilitas yang tinggi dengan konsentrasi orang yang sangat banyak.
Fasilitas convention hall, selain dapat berfungsi dengan baik, harus mampu menciptakan ruang publik bagi masyarakat kota. Fasilitas sesuai dengan fungsinya akan membutuhkan luas yang cukup lebar, dan dengan skalanya yang cukup besar, bisa saja menggangu pemandangan kota jika tidak didesain dengan baik. Pemilihan material sangat berpengaruh dalam menimbulkan kesan ‘damai’ dengan konteks urban.
26 Dari segi desain bangunan, fasilitas ini sudah jelas membutuhkan bentang yang lebar, dan bahkan bebas kolom. Sirkulasi pengunjung juga harus diatur, penempatan fungsi yang ada di dalamnya harus ditempatkan sesuai dengan alur yang diinginkan, antara area publik dan private harus dipisahkan dengan jelas, terutama untuk fasilitas konvensi yang membutuhkan konsentrasi dan orientasi ke dalam.