________________________________________
† : Corresponding Author
Analisis Postur Kerja dengan Risk Assessment Methods pada
Penambang Pasir
Titin Isna Oesman1 dan Risma Adelina Simanjuntak2
Jurusan Teknik Industri, Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta Jalan Kalisahak No. 28 Kompleks Balapan Jogjakarta
Email: ti_oesman @yahoo.com1 [email protected]
Abstrak
Kegiatan penambangan pasir di bantaran sungai Progo Kabupaten Kulon Progo Daerah Istimewa Jogjakarta, sistem kerja yang berlangsung pada kegiatan manual material handling (MMH) antara lain kegiatan membawa beban dan mengangkat beban secara manual merupakan suatu kegiatan kerja utama yang dilakukan pekerja. Sikap tubuh pekerja saat beraktivitas terlihat tidak alamiah seperti membungkuk dan memutar, leher menunduk, tangan diangkat di atas bahu, pergelangan tangan memutar, sikap ini dapat menimbulkan gangguan musculoskeletal dan memicu risiko kerja.
Penelitian ini bertujuan untuk menilai dan menentukan faktor risiko pada tubuh pekerja dengan menggunakan metode Quick Exposure Check (QEC) dan Risk Upper Limb Assesment (RULA). Besarnya sampel sebanyak 8 orang pekerja dan metode yang digunakan cross-sectional dengan penelitian langsung dan wawancara dengan pekerja. Analisis hasil penelitian dengan menggunakan QEC dan RULA ditemukan bahwa pekerjaan manual material handling pada penambangan pasir level 4 (QEC) dan level 7 (RULA), dengan usulan tindakan diselidiki lebih lanjut dan diubah segera. Rekomendasi yang disarankan penyuluhan yang diberikan berkesinambungan kepada pekerja tentang penanganan material manual handling untuk menghindari risiko kerja.
Kata kunci: Manual Material Handling, Ergonomik, Risk Assessment Methods, Metode QEC,
RULA
I.PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pasca bencana erupsi Merapi, banyak petani di sejumlah daerah sekitar bencana beralih profesi menjadi penambang pasir. Hal itu dilakukan karena banyak lahan milik petani belum bisa diolah lagi usai tertimbun abu vulkanik merapi.
Petani merasa takut kelaparan dan tidak bisa bertahan hidup jika mengandalkan bantuan pemerintah. Di sisi lain, infrastruktur pengairan juga banyak yang rusak. Di daerah sekitar bencana dari hulu sampai ke hilir dipenuhi warga yang mencari pasir baik secara pribadi maupun berkelompok untuk dijual melalui truk-truk pasir yang sudah antri. Pekerjaan ini menambah penghasilan, di saat lahan pertanian belum bisa diolah.
Endapan pasir akibat luapan lahar dingin Merapi yang terbawa arus sungai Progo dan menyusul banyaknya penambang pasir yang masuk ke Kulon Progo tersebut, terutama di Sungai Progo.
Kegiatan penambangan pasir di bantaran sungai Progo, Kabupaten Kulon Progo Daerah Istimewa
Yogyakarta, sistem kerja yang berlangsung pada kegiatan
manual material handling (MMH) antara lain kegiatan
membawa beban, mengangkat dan menurunkan beban secara manual merupakan suatu kegiatan kerja utama yang dilakukan pekerja.
Pekerjaan ini membutuhkan fleksibelitas tinggi dan tetap mengandalkan kemampuan manusia sebagai pekerja. Perpindahan material secara manual menjadi faktor utama tingginya tingkat cidera disebabkan oleh pengerahan tenaga secara berlebihan. Sering kali faktor penyebab cidera dalam penanganan material secara manual diabaikan oleh pekerja, padahal biaya–biaya langsung untuk pengobatan cidera cukup tinggi. Keluhan sakit otot seperti pegal-pegal pada punggung, lengan dan leher, keseleo, terkilir merupakan keluhan umum yang dilontarkan pekerja.
Sikap tubuh pekerja saat beraktivitas terlihat tidak alamiah seperti membungkuk dan memutar, leher menunduk, tangan diangkat di atas bahu, pergelangan tangan memutar, sikap ini dapat menimbulkan gangguan
Penerapan ergonomi perlu dilakukan untuk pekerjaan tersebut guna terciptanya pekerjaan yang nyaman, serasi, sehat, aman, selamat sehingga risiko cidera dapat dikurangi atau dihilangkan.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dapat dirumuskan permasalahan bagaimana potensi resiko pekerja penambang pasir terhadap kegiatan manual
material handling dengan metode Quick Exposure Check,
dan Rapid upper limb assessment (RULA).
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.
a. Menilai dan menentukan faktor risiko pada tubuh pekerja dengan menggunakan metode Quick
Exposure Check (QEC).
b. Menilai dan menentukan faktor risiko pada tubuh pekerja dengan menggunakan metode Rapid
Upper Limb Assessment (RULA).
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang dapat diperoleh dalam penelitian ini bagi pekerja :
a. Mengurangi risiko kerja yang salah pada pekerja. b. Meminimalisasi faktor risiko cidera otot dalam
setiap perubahan punggung, bahu, leher, dan pergelangan tangan pekerja dan masukan bagi pekerja pada kegiatan penambangan pasir.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ergonomi dan Penerapannya
Ergonomi didefinisikan sebagai ilmu, seni, dan teknologi untuk menyerasikan alat, metode, dan lingkungan kerja terhadap kemampuan, kebolehan, dan keterbatasan manusia baik fisik maupun mental. Kondisi kerja dan lingkungan yang aman, nyaman, sehat, bugar dan efisien yang pada akhirnya produktivitas setinggi-tingginya yang diharapkan dapat tercapai dan kualitas hidup menjadi lebih baik (Annis & McConville, 1996; Manuaba, 1998a; Kroemer & Grandjean, 2000).
Tujuan penerapan ergonomi adalah (a) meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental, khususnya mengoptimalkan keselamatan dan kesehatan kerja dengan mencegah penyakit akibat kerja, mengurangi beban fisik dan mental dan mempromosikan kepuasan kerja; (b) meningkatkan kesejahteraan sosial dengan jalan meningkatkan kualitas kontak sosial, mengelola dan mengoptimalkan kenyamanan dan kemudahan kerja dengan mengkoordinir kerja secara tepat guna serta meningkatkan jaminan sosial baik selama usia produktif maupun setelah tidak produktif; (c) menciptakan/berkontribusi di dalam meningkatkan keseimbangan rasional antara aspek-aspek
teknik, ekonomi, anthropologi, dan budaya dari sistem manusia-mesin, karena berusaha mengoptimalkan efisiensi kerja manusia (prestasi dan produktivitas) sehingga kualitas kerja dan kualitas hidup dapat ditingkatkan (Manuaba, 1998b; Adiputra, 2000; Tarwaka dkk, 2004).
Manfaat penerapan ergonomi adalah (a) pekerjaan bisa cepat selesai; (b) risiko kecelakaan kerja lebih kecil/berkurang; (c) man-days/hours tidak banyak yang hilang; (d) risiko penyakit akibat kerja lebih kecil/berkurang; (e) gairah/kepuasan kerja lebih tinggi/meningkat; (f) biaya ekstra untuk kecelakaan/penyakit akibat kerja bisa ditekan; (g) absensi/tidak masuk kerja rendah; (h) kelelahan berkurang; (i) rasa sakit lebih kecil/berkurang; (j) produktivitas kerja meningkat (Manuaba, 2003b).
2.2 Keluhan Muskuloskeletal
Sistem muskuloskeletal (sistem kerangka otot atau otot yang melekat pada tulang) terdiri atas otot striatik yang sifat gerakannya di bawah kehendak. Fungsi utama sistem kerangka otot adalah untuk mendukung dan melindungi bagian-bagian tubuh, mempertahankan postur tubuh, membangkitkan gerakan tubuh dan untuk menghasilkan panas serta mempertahankan suhu tubuh (Wickens dkk, 2004).
Keluhan kerja akibat gangguan sistem muskuloske-letal adalah keluhan pada bagian-bagian otot skemuskuloske-letal yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan sangat ringan sampai sangat sakit. Apabila otot menerima beban statis secara berulang dan dalam waktu yang lama, akan dapat menyebabkan keluhan akibat kerusakan pada sendi, ligamen dan tendon. Keluhan karena kerusakan inilah yang biasanya diistilahkan dengan keluhan muskuloskeletal atau cedera pada sistem muskuloskeletal (Grandjean, 1993).
Keluhan pada sistem muskuloskeletal disebabkan karena : (1) beban berlebihan/terlalu berat; (2) gerakan tertentu yang berulang; (3) sikap tubuh ketika duduk, berdiri dan melakukan aktivitas; dan (4) tekanan kerja (Anonim, 2006). Aktivitas fisik yang dilakukan di tempat kerja dengan peralatan yang tidak ergonomis dapat menimbulkan cedera atau keluhan pada otot dan persendian.
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya keluhan muskuloskeletal antara lain sebagai berikut (Mcleod, 1995 ; Tayyari & Smith, 1997).
a. Peregangan otot yang berlebihan pada umumnya sering dikeluhkan pekerja dimana aktivitas kerjanya menuntut pengerahan tenaga yang besar seperti aktivitas mengangkat, mendorong, menarik dan menahan beban yang besar. Peregangan otot yang berlebihan ini terjadi karena pengerahan tenaga yang diperlukan melampaui kekuatan optimum otot. Apabila hal serupa sering dilakukan maka dapat mempertinggi risiko terjadinya
keluhan otot, bahkan dapt menyebabkan terjadinya cedera otot skeletal.
b. Aktivitas berulang-ulang adalah pekerjaan yang dilakukan secara terus menerus seperti pekerjaan mencangkul, membelah kayu besar, mengangkat, mengangkut dan sebagainya. Keluhan otot terjadi karena otot menerima tekanan akibat beban kerja secara terus menerus tanpa memperoleh kesempatan relaksasi. c. Sikap kerja tidak fisiologi/alamiah adalah sikap kerja
yang menyebabkan posisi bagian-bagian tubuh bergerak menjauhi posisi alamiah, misalnya pergerakan tangan terangkat, punggung terlalu membungkuk, kepala terangkat dan sebagainya. Semakin jauh posisi bagian tubuh dari pusat gravitasi tubuh, semakin tinggi riisiko terjadinya keluhan otot skeletal.
d. Faktor penyebab sekunder seperti adanya tekanan langsung pada jaringan otot lunak, getaran dengan frekuensi tinggi, mikroklimatik baik dalam suhu yang dingin maupun panas.
e. Penyebab kombinasi dari faktor-faktor di atas. Ayoub (1996) menyatakan bahwa keluhan sistem muskuloskeletal merupa-kan masalah dalam suatu industri yang disebabkan oleh : (1) tempat kerja yang tidak memadai; (2) aktivitas yang bersifat repetitif; (3) rancangan alat dan peralatan yang tidak sesuai dengan pemakai; (4) organisasi kerja yang tidak efisien; (5) jadwal istirahat yang tidak teratur; dan (6) sikap kerja yang tidak fisiologis/alamiah.
Keluhan muskuloskeletal pada dasarnya dapat terjadi pada hampir semua jenis pekerjaan baik dalam kategori ringan, sedang, berat maupun amat berat, yang meliputi (McLeod, 1995).
2.3 Perpindahan Bahan Secara Manual (MMH).
Pengertian pemindahan bahan secara manul, menurut
American Material Handling Society (AMHS) bahwa material handling dinyatakan sebagai seni dan ilmu yang
meliputi penanganan (handling), pemindahan (moving), pengepakan (packing), penyimpanan (storing), dan pengawasan (controlling) dari material dengan segala bentuknya (Wignjosoebroto, S., 1996).
Meskipun telah banyak mesin yang digunakan pada berbagai industri untuk mengerjakan tugas pemindahan namun belum pernah terjadi dengan otomasi sempurna. Disamping itu adanya pertimbangan ekonomis seperti mahalnya peralatan otomasi atau juga situasi praktis seperti terbatasnya ruang kerja maupun kondisi yang tidak dapat diharapkan, maka pelaksanaan otomatisasi sempurna men- jadi sangat sulit. Sebagai konsekuensinya adalah melakukan kegiatan manual diberbagai tempat kerja.
Keuntungan penanganan material secara manual adalah sebagai berikut : (1) fleksibel dalam gerakan sehingga untuk memindahkan beban dengan ruang yang terbatas akan lebih efisien; (2) untuk beban yang ringan akan lebih murah dibandingkan menggunakan alat bantu berupa mesin; (3) tidak semua material dapat dipindahkan dengan alat.
Saat tubuh manusia mengangkat beban, maka seluruh tubuh akan mengalami semacam ketegangan. Otot-otot tubuh pada dasarnya berfungsi untuk menegakkan tubuh manusia, jadi jika otot ini diberikan beban tambahan maka kelelahan segera terasa.pada dasarnya bahwa mengangkat sesuatu beban bukanlah sebuah kebiasaan bagi manusia. Jika seseorang mengangkat beban, maka otot-otot tubuh akan menegang dan pembuluh darah akan mengecil.
Sewaktu mengangkat dan membawa beban bagian tubuh yang paling terpengaruh dan berkemungkinan untuk cidera adalah tulang punggung. Ketegangan yang diderita tulang punggung akan semakin berat jika beban yang diterima semakin berat. Penanganan material secara
manual dianggap sebagai penyebab utama cidera karena
pengerahan tenaga berlebih dan sakit pinggang dalam industri, dimana satu dari setiap tiga atau empat cidera pengerahan tenaga berlebih yang terjadi disebabkan oleh kegiatan manual material handling. Cidera cidera tersebut pada umumnya mencakup cidera pundak, cidera punggung, hernia, patah tulang pada tubuh bagian belakang, sobek pada otot persendian, kram, dan keseleo. Dalam banyak kasus, cidera cidera tersebut menjadi cacat permanen ataupun sebagian.
2. 4 Quick Exposure Check (QEC)
QEC adalah suatu alat penilaian terhadap resiko
kerja yang berhubungan dengan gangguan otot
(Work-related muculoskeletal disorder-WMSDs) di tempat kerja
(Li dan Buckle, 1999). QEC menilai gangguan resiko yang terjadi pada bagian belakang punggung (back), bahu/lengan (should/arm), pergelangan tangan (hand/wrist), dan leher (neck).
Alat ini mempunyai fungsi utama sebagai berikut : a. Mengidentifikasi faktor resiko untuk WMSDs.
b. Mengevaluasi gangguan resiko untuk daerah/bagian tubuh yang berbeda-beda.
c. Menyarankan suatu tindakan yang perlu diambil dalam rangka mengurangi gangguan resiko yang ada.
d. Mengevaluasi efektivitas dari suatu intervensi ergonomi di tempat kerja.
e. Mendidik para pemakai tentang resiko muculoskeletal di tempat kerja.
Penilaian QEC dilakukan kepada “peneliti” dan “pekerja”. Selanjutnya dengan penjumlahan setiap skor hasil kombinasi masing-masing bagian, diperoleh skor dengan kategori level tindakan.
Tabel 1: Penilaian Peneliti (Observer) QEC
Faktor Kode 1 2 3
Belakang (back) A Hampir netral Berputar atau bengkok sedikit Cenderung berputar atau bengkok
Frekuensi pergerakan bagian belakang
B ≤ 3/menit Kira-kira 8/menit ≥ 12/menit
Tinggi tugas C Hampir atau
setinggi pinggang
Setinggi dada Setinggi bahu
Gerakan bahu/lengan D Sesekali Reguler/teratur dengan jeda Hampir kontiu
Postur pergelangan tangan/tangan
E Hampir lurus Bengkok/berputar
Pergerakan pergelangan tangan/tangan
F ≤ 10/menit 11-20/menit > 20/menit
Postur leher G Hampir netral Kadang-kadang
bengkok/berputar secara berlebihan pada kepala/leher
Bengkok/berpuar secara berlebihan pada kepala/leher
Tabel 2: Penilaian Pekerja (Worker) QEC
Faktor Kode 1 2 3 4
Beban A < 5kg 6-10 kg 11-20 kg > 20 kg
Durasi B < 2 jam 2-4 jam > 4 jam
Kekuatan tangan C < 1 kg 1-4 kg > 4 kg
Vibrasi D Tidak ada/ kecil Sedang Tinggi
Visual E Tidak diperlukan Diperlukan untuk melihat detail
Langkah F Tidak susah Kadang-kadang susah Lebih sering
Tingkat stres G Tidak ada kecil Sedang Tinggi
Tabel 3 Nilai Level Tindakan QEC
Level Tindakan Persentasi Skor
Tindakan Total Skor
exposure
1 0-40% Aman 32-70
2 41-50% Diperlukan beberapa waktu kedepan 71-88
3 51-70% Tindakan dalam waktu dekat 89-123
4 71-100% Tindakan sekarang juga 124-176
2.5 Rapid Upper Limb Assessment (RULA)
Rapid Upper Limb Assessment(RULA) merupakan
suatu metode yang dikembangkan oleh Universitas Park, Notthingham United Kingdom untuk penelitian Ergonomi di tempat kerja terjadinya. Upper Extremity Work-Related
Musculoskeletal Disorders (UEWMSDs).
Skor RULA menyatakan indikasi tingkat pembebanan yang dialami oleh bagian tubuh individu. Metode RULA terdiri dari tiga tahap yaitu: Tahap 1 (penilaian sikap dan posisi tubuh pada saat bekerja yang dibagi dalam dua kelompok A dan B. A terdiri dari lengan atas, bawah dan pergelangan tangan disebut dengan skor A dan B terdiri dari leher, batang tubuh dan pergelangan tangan disebut
dengan skor B. Rentang gerakan untuk tiap bagian tubuh dinilai antara 1-4. Tahap 2 (penilaian pemakaian otot dan tekanan atau beban). Skor ini terdiri atas pemakaian otot dan skor tekanan atau beban. Skor A ditambah skor pemakaian otot dan tekanan untuk kelompok A sama dengan skor C dan skor B ditambah skor pemakaian otot dan tekanan untuk kelompok B sama dengan skor D. Tahap 3 (tahap akhir dan tindakan yang akan dilakukan. Skor akhir merupakan penggabungan skor C dan D yang disebut juga Grand skor.
Skor akhir merupakan petunjuk untuk tindakan yang diambil terbagi 4(empat) dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 4 Kategori tindakan RULA
Kategori tindakan
Level resiko Tindakan
1 – 2 Minimum Aman
3 – 4 Kecil Diperlukan beberapa waktu kedepan
5 – 6 Sedang Tindakan dalam waktu dekat
III. METODE PENELITIAN
3.1 Objek Penelitian.
Penelitian dilakukan pada penambangan pasir di bantaran sungai Progo, Kabupaten Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta.
3.2 Sampel Peneltian
Pada penelitian ini yang menjadi sampel penelitian adalah pekerja yang melakukan kegiatan pemindahan material secara manual, yaitu kegiatan mengumpulkan pasir dan mengangkat pasir ke truk sebanyak 8(delapan) orang pekerja dengan rincian 4 (empat) orang pekerja yang mengumpulkan pasir dan 4 (empat) orang mengangkat pasir ke truk dengan kriteria inklusi : (a) jenis kelamin laki-laki, (b) umur 20-40 tahun, (c) tinggi badan, (d) berat badan, (e) lama bekerja, dan (f) tidak cacat fisik.
3.3
Analisis Data
Analisis data yang dilakukan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif terhadap data subjek antara lain umur, tinggi badan, berat badan, lama bekerja, dan Indeks Masa Tubuh (IMT). Penilaian risiko kerja digunakan QEC dan
RULA.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Karakteristik Subjek
Jumlah subjek penelitian ini sebanyak 8 orang pekerja laki-laki dengan rerata umur subjek adalah 30.tahun 4 bulan dengan simpangan baku sebesar 5,45 tahun , dan rentangan umur antara 22 – 40 tahun. Rentangan umur ini menunjukkan bahwa umur pekerja masih tergolong umur produktif. Dan masih bisa bekerja secara optimal. Menurut Grandjean (1993) usia produktif berkisar antara 25- 40 tahun. Hal ini berarti bahwa pekerja penambang pasir di bantaran sungai Progo masih termasuk usia produktif sehingga masih bisa bekerja walaupun pekerjaan ini termasuk pekerjaan cukup berat.
Rerata tinggi dan berat badan subjek adalah 165,88 cm dengan simpangan baku sebesar 4,32 cm dan rentangan tinggi badan antara 157-171 cm. Rerata berat badan 55,5 kg dengan simpangan baku sebesar 3,42 kg dan rentangan berat badan antara 51-61 kg. Tinggi badan dan berat badan dalam penelitian ini digunakan untuk mencari IMT.
Adapun penggunakan IMT pada penelitian ini untuk mengetahui status gizi dari pekerja Hasil perhitungan menunjukkan bahwa rerata IMT pekerja 19,75 dengan simpangan baku sebesar 1,82 dan rentangan antara 17,64-22,14. Hal ini memberikan informasi bahwa rerata pekerja gizinya normal (IMT= 19,75) akan tetapi ada satu orang pekerja yang gizinya kurang atau badannya kurus (IMT=17,64) karena IMT normal antara 18,5 sampai dengan 24,9.(Anonim, 2009)
Pengalaman pekerja rerata 4,4 bulan dengan simpangan baku sebesar 1,4 bulan dan rentangan pengalaman pekerja antara 2-5 tahun. Masa kerja disini memberikan informasi bahwa pekerja sudah terampil dalam melakukan pekerjaannya.
Lingkungan kerja di alam terbuka, suhu udara pada pukul 10.00 pagi = 38 0C dan pada pukul 13.00= 47 0C. Kondisi lingkungan kerja pekerja penambangan pasir temperatur udara panas, hal ini dapat menimbulkan dehidrasi, heat-stroke, heat-cramp, heat-exhaustion,
apabila tidak di antisipasi dengan banyak mengkonsumsi cairan guna mengganti cairan yang keluar (uptake harus seimbang dengan intake), Ari dkk., 2009.
Penghasilan pekerja penambang pasir per hari antara Rp.25.000 sampai Rp. 30.000 dengan jam kerja dari pukul 6.00 pagi sampai dengan pukul 16.00 sore (istirahat satu jam). Hasil dari penambangan pasir biasanya ditampung oleh pengusaha yang bergerak dibidang penjualan bahan bangunan dan pemborong proyek di bidang infrastruktur maupun properti.
4.2
Penilaian Postur Kerja Pekerja Penambang
Pasir
4.2.1
Proses penambangan pasir.
Proses penambangan pasir di bantaran sungai Progo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta adalah proses pengumpulan pasir dan proses pengangkatan hasil tambang ke dalam truk.
4.2.2 Penilaian postur kerja dengan QEC
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap kegiatan manual material handling yang dilakukan pekerja maka diperoleh data melalui tabel pengamatan sebagai berikut :
4.2.2.1 Proses Pengumpulan Pasir
Tabel 5: Penilaian Peneliti (Observer) QEC pada Proses Pengumpulan Pasir
Faktor Kode 1 2 3
Posisi Belakang A Hampir netral Berputar atau bengkok sedikit Cenderung berputar atau bengkok
Frekuensi gerakan punggung
B ≤ 3/menit Kira-kira 8/menit ≥12/menit
Tinggi tugas C Pada atau setinggi pinggang
Setinggi dada Setinggi bahu
Gerakan bahu/lengan
D Sesekali Regular/teratur dengan jeda Hampir kontinu
Posisi pergelangan tangan/tangan
E Hampir lurus Bengkok berputar
Pergerakan pergelangan tangan/tangan
F ≤ 10/menit 11-20/menit >20/menit
Posisi Leher G Hampir netral Kadang-kadang
bengkok/berputar secara berlebihan pada kepala/leher
Bengkok/berputar secara berlebihan pada kepala/leher
Tabel 6: Penilaian Pekerja (Worker) QEC pada Proses Pengumpulan Pasir
Faktor Kode 1 2 3 4
Beban a < 5 kg 6-10 kg 11-20 kg >20 kg
Durasi b < 2 jam 2-4 jam >4 jam
Kekuatan tangan c < 1 kg 1-4 kg >4 kg
Vibrasi d Tidak ada/kecil Sedang Tinggi
Visual e Tidak diperlukan Diperlukan untuk melihat detail
Langkah f Tidak susah untuk bergerak
Kadang-kadang susah Lebih sering susah
Tingkat stres g Tidak dalam keadaan stres
Stres rendah Sedang Tinggi
Total Exposure Score =Total nilai (punggung + bahu/leher + pergelangan tangan/tangan + total leher) = 130
Tabel 7: Tingkat QEC pada Proses Pengumpulan Pasir Tingkatan
tindakan
Presentase nilai
Tindakan yang diusulkan Total Exposure Score
1 0 – 40 % Diterima 32 – 70
2 41 – 50 % Diselidiki lebih lanjut 71 – 88 3 51 – 70 % Diselidiki lebih lanjut dan diubah segera 89 – 123 4 71 – 100 % Diselidiki dan diubah dengan seketika 124 – 176
Tabel 8: Total Exposure Evaluasi Pekerja pada Proses Pengumpulan Pasir
d1 d2 d3 f1 f2 f3 g1 g2 g3 g4 Total
Tabel 9: Tingkat Evaluasi Pekerja (Worker) QEC pada Proses Pengumpulan Pasir Tingkatan
tindakan
Presentase nilai
Tindakan yang diusulkan Total Exposure Score
1 0 – 40 % Diterima 3 – 13
2 41 – 50 % Diselidiki lebih lanjut 14 – 17
3 51 – 70 % Diselidiki lebih lanjut dan diubah segera 18– 24 4 71 – 100 % Diselidiki dan diubah dengan seketika 25 – 34
4.2.2.1 Proses pengangkatan pasir
Tabel 10. Penilaian Peneliti (Observer) QEC pada Proses Pengangkatan Pasir
Faktor Kode 1 2 3
Belakang(back) A Hampir netral Berputar atau bengkok sedikit
Cenderung berputar atau bengkok
Frekuensi pergerakan bagian belakang
B ≤ 3/menit Kira-kira 8/menit ≥12/menit Tinggi tugas C Pada atau setinggi
pinggang
Setinggi dada Setinggi bahu
Gerakan bahu/lengan D Sesekali Regular/teratur dengan jeda Hampir kontinu
Postur pergelangan tangan/tangan
E Hampir lurus Bengkok berputar
Pergerakan pergelangan tangan/tangan
F ≤ 10/menit 11-20/menit >20/menit
Postur leher G Hampir netral Kadang-kadang bengkok/berputar secara berlebihan pada kepala/leher
Bengkok/berputar secara berlebihan pada kepala/leher
Tabel 11: Penilaian Pekerja (Worker) QEC pada Proses Pengangkatan Pasir
Faktor Kode 1 2 3 4
Beban a < 5 kg 6-10 kg 11-20 kg >20 kg
Durasi b < 2 jam 2-5 jam >4 jam
Kekuatan tangan c < 1 kg 1-4 kg >4 kg
Vibrasi d Tidak ada/kecil Sedang Tinggi
Visual e Tidak diperlukan Diperlukan untuk melihat detail
Langkah f Tidak susah Kadang-kadang susah Lebih sering susah
Tingkat stres g Tidak ada Kecil Sedang Tinggi
Total Exposure Score =Total nilai (punggung + bahu/leher + pergelangan tangan/tangan + total leher) = 130
Tabel 12: Tingkat QEC pada Proses Pengangkatan Pasir
Tingkatan tindakan Presentase nilai Tindakan yang diusulkan Total Exposure Score
1 0 – 40 % Diterima 32 – 70
2 41 – 50 % Diselidiki lebih lanjut 71 – 88 3 51 – 70 % Diselidiki lebih lanjut dan diubah segera 89 – 123 4 71 – 100 % Diselidiki dan diubah dengan seketika 124 – 176
Tabel 13: Total Exposure Evaluasi Pekerja (Worker) pada Proses Pengangkatan Pasir
d1 d2 d3 f1 f2 f3 g1 g2 g3 g4 Total
1 4 9 1 4 9 1 4 9 16 22
Tabel 14 Tingkat Evaluasi Pekerja (Worker) QEC pada Proses Pengangkatan Pasir Tingkatan
tindakan
Presentase nilai
Tindakan yang diusulkan Total Exposure
Score
1 0 – 40 % Diterima 3 – 14
2 41 – 50 % Diselidiki lebih lanjut 15 – 17 3 51 – 70 % Diselidiki lebih lanjut dan diubah segera 18– 24 4 71 – 100 % Diselidiki dan diubah dengan seketika 25 – 34
Penilaian risiko dengan menggunakan QEC terhadap penambang pasir pada proses pengumpulan pasir termasuk pada level 4 dengan presentasi nilai sebesar (71-100)%. Hal ini memberikan informasi bahwa aktivitas proses pengumpulan pasir diselidiki dan diubah dengan seketika sedangkan evaluasi pekerja pada proses pengumpulan pasir dengan nilai total exposure 14. Hal ini memberikan informasi bahwa diselidiki lebih lanjut. Proses pengangkatan pasir termasuk pada level 4 dengan presentasi nilai sebesar (71-100)%. Hal ini memberikan informasi bahwa aktivitas proses pengangkatan pasir diselidiki dan diubah dengan seketika sedangkan evaluasi pekerja pada proses penambangan pasir dengan nilai total
exposure 22. Hal ini memberikan informasi bahwa
diselidiki lebih lanjut dan diubah dengan segera.
4.2.3 Penilaian postur kerja dengan RULA
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan terhadap kegiatan manual material handling yang dilakukan pekerja maka diperoleh data melalui tabel pengamatan sebagai berikut :
Tahap 1 . Penilaian sikap dan posisi tubuh pada saat bekerja (Tabel A dan B)
.
a. Postur tubuh untuk posisi lengan atas, lengan bawah dan pergelangan (Tabel A)
Lengan atas membentuk sudut > 900 = skor 4; lengan bawah membentuk sudut > 900 = skor 2; Posisi pergelangan tangan membentuk sudut 150 = skor 2 ; Posisi pergelangan tangan (Wrist Twist) = 1 maka dengan melakukan langkah-langkah sesuai dengan pengisian tabel A didapatkan skor 4.
b. Postur tubuh untuk posisi leher, batang leher, tungkai dan kaki (Tabel B)
Posisi leher membentuk sudut 100- 200= skor 2; Batang tubuh membentuk sudut 200-600= skor 3; Tungkai bawah dan kaki tidak tertopang dengan merata=skor 2 maka dengan melakukan langkah-langkah sesuai dengan pengisian tabel B didapatkan skor 5.
Tahap 2. Penilaian skor RULA akhir (Grand Score=Tabel C dan D)
Pekerja penambangan pasir ada beban tambahan maka skor untuk tabel C dan D tabel ditambah 1 sehingga tabel C=5 dan tabel D=6 sehingga skor akhir= 7
Tabel 14 Kategori Akhir Penilaian RULA Kategori tindakan Level resiko Tindakan
1 – 2 Minimum Aman
3 – 4 Kecil Diperlukan beberapa waktu kedepan
5 – 6 Sedang Tindakan dalam waktu dekat
7 Tinggi Tindakan sekarang juga
Penilaian risiko dengan menggunakan RULA terhadap penambang pasir pada proses pengumpulan dan pengangkatan pasir termasuk pada level risiko tinggi (7). Hal ini memberikan informasi bahwa aktivitas proses pengumpulan dan pengangkatan pasir diambil tindakan sekarang juga.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil dan pembahasan penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Penilaian risiko dengan menggunakan QEC terhadap penambang pasir pada proses pengumpulan pengangkatan pasir termasuk pada level 4 dengan presentasi nilai sebesar (71-100)%. Hal ini memberikan informasi bahwa aktivitas proses
pengumpulandan pengangkatan pasir diselidiki dan diubah dengan seketika sedangkan evaluasi pekerja pada proses pengumpulan pasir dengan nilai total
exposure 14 (diselidiki lebih lanjut) sedangkan proses
pengangkatan pasir dengan nilai total exposure 22 (diselidiki lebih lanjut dan diubah dengan segera). 2. Penilaian risiko dengan menggunakan RULA
terhadap penambang pasir pada proses pengumpulan dan pengangkatan pasir termasuk pada level risiko tinggi (7). Hal ini memberikan informasi bahwa aktivitas proses pengumpulan dan pengangkatan pasir diambil tindakan sekarang juga.
Adapun rekomendasi yang disarankan adalah penyuluhan yang diberikan berkesinambungan kepada pekerja tentang penanganan material manual handling untuk menghindari risiko kerja.
DAFTAR PUSTAKA
Adiputra, N. 2000. Ergonomi Kuratif (Curative Ergonomics) . Jurnal Ergonomi Imdonesia (The Indonesian
Journal Of Ergonomics), Vol.1 No. 1 Juni 2000, halaman
2-5.
Almatsier, S. (2003). Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Annis, J.F. and McConville, J.T. (1996). Anthropometry. In : Bharattacharya, A. And McGlothin, J.D. editor. Occupational Ergonomics Theory and Aplication. New York: Marcel Dekker Inc. page 1-46.
Anonim, (2009). BMI for Adult Centre for Disease Control and Preventiion. (cited 2009 Februari 23). Available from URL:http://www.cdc.gov/nccdphp/dnpa/bmi/-adult.html
Ari, A., P. dkk. (2009). Analisis Pengaruh Keadaan Lingkungan Fisik dan Proses Produksi Terhadap Manajemen Pengelolaan K3, Proceeding 9 th National Seminar Ergonomics “Ergonomics for Enhanced Quality Of Work
Life” Patrajasa Hotel November 17-18, 2009- Semarang.
Ayoub, M.M. 1996. Modelling in Manual Material Handling, Journal Human Ergol, 25(1,6): 53-59
Grandjean, E. 1993. Fitting The Task to The , November
17-18, 2009-Man. London : Taylor & Francis.
Hartono, W. (2004). Hubungan Antara Sikap dan Posisi Kerja Anggota Tubuh Dengan UEWMSDs Pada Perajin Rotan di Perusahaan “X”. (Tesis). Jakarta: Universitas Indonesia.
Kroemer K.H.E, Grandjean E. (2000). Fitting The Task
to The Human Fifth Edition A Textbook of Occupational Ergonomics. U.K. Taylor & Francis.
Li, G. And Buckle, P. (2005). Quick Exposure Checklist (QEC) for The Assesment of Workplace Risks for
Work-Related Musculoskeletal Disorders (WMsDs). In: Stanton, N,. et.al. Editors. Handbook of Human Factor Ergonomics
Methods. USA: CRC PRESS. P.6.1-6.10
Manuaba, A. (2003b). Organisasi Kerja, Ergonomi dan Produktivitas. Makalah. Dipresentasikan pada Seminar
Nasional Ergonomi. Hotel Peninsula. Jakarta 4-10 April.
Manuaba, A. (1998a). Penerapan Ergonomi Kesehatan Kerja di Rumah Tangga Bunga Rampai Ergonomi. Denpasar: Program Studi Ergonomi-Fisiologi Kerja Universitas Udayana. halaman 38-48.
Manuaba, A. (1998b). Ergonomi Menopang Efisiensi dan Keselamatan Kerja, Bunga Rampai Ergonomi. Denpasar: Program Studi Ergonomi-Fisiologi Kerja Universitas Udayana.
Mac Leod, D. 1995. The Ergonomics Edge, Improving
Safety, Quality, and Productivity. New York: Van Nostrand
Reinhold.
Tarwaka, Bakri, S.H.A. dan Sudiajeng, L. (2004).
Ergonomi untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Produktivitas. Surakarta : UNIBA PRESS.
Tayyari, F. And Smith, J.L. 1997. Occupational
Ergonomics Principles and Applications. New York:
Chapment & Hall.
Wickens, C.D., Lee, J.D, Liu,Y. and Becker, S.E.G. 2004. An Introduction to Human Factor Engineering. New Jersey: Prentice Hall
Wignjosoebroto, S. (2000). “Ergonomi Studi Gerak Waktu, Teknik Analisis Untuk Peningkatan Produktivitas Kerja, Edisi Pertama, Cetakan Kedua, Guna widya, Jakarta.
BIOGRAFI PENULIS
Penulis Pertama adalah dosen di Jurusan Teknik Industri,
Fakultas Teknologi Industri, Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta. Gelar Doktor Ergonomi didapat dari Universitas Udayana, Bali, Indonesia, pada tahun 2010. Fokus pengajaran dan penelitiannya adalah Metodologi Penelitian, Ergonomi Industri, K3, PSK & E dan Analisis Produktivitas. Untuk informasi lebih lanjut, dapat dihubungi melalui ti_oesman @yahoo.com
Penulis Kedua adalah dosen di Jurusan Teknik Industri,
Fakultas Teknologi Industri, Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta. Gelar Magister Teknik Industri didapat dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Indonesia, pada tahun 1998. Fokus pengajaran dan penelitiannya adalah Analisis Perancangan Kerja, Simulasi Sistem, Ergonomi dan Statistik Industri. Untuk informasi lebih lanjut, dapat dihubungi melalui risma_stak @yahoo.com