• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN RANCANGAN BAHAN AJAR YANG RAMAH ANAK DI SALAH SATU SEKOLAH INKLUSI: STUDI DESKRIPTIF SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENERAPAN RANCANGAN BAHAN AJAR YANG RAMAH ANAK DI SALAH SATU SEKOLAH INKLUSI: STUDI DESKRIPTIF SKRIPSI"

Copied!
161
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN RANCANGAN BAHAN AJAR YANG RAMAH ANAK DI SALAH SATU SEKOLAH INKLUSI:

STUDI DESKRIPTIF

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh: Afriyanda NIM: 151134220

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2020

(2)
(3)
(4)

iv

PERSEMBAHAN

Bismillahirrohmanirrokhim skripsi ini saya persembahkan untuk:

1. Allah SWT atas ridho dan hidayah nya. 2. Dosen pembimbing Ibu Laura dan Ibu Erlita

3. Teman satu payung yang bernama Gea, Zindi, Intan, Evita, Sasa, Tiwi, Novi, dan Farika

4. Seluruh teman-teman kelas D angkatan 2015

5. Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Sanata Dharma 6. Almamaterku, Universitas Sanata Dharma

(5)

v

Motto

“Hidup damai dan sederhana jauh lebih membahagiakan daripada mengejar kesuksesan berbalut kegelisahan terus menerus”

(Alberd Eintein, Tokyo 1922)

“Bila apa yang kau inginkan tidak sejalan dengan apa yang terjadi, percayalah Tuhan-mu karena Allah tau apa yang lebih kau butuhkan untuk hari esok, aku

percaya dengan Allah-ku”

(6)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 13 Januari 2020

Peneliti

Afriyanda

(7)

vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Afriyanda

Nomor Mahasiswa : 151134220

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

PENERAPAN RANCANGAN BAHAN AJAR YANG RAMAH ANAK DI

SALAH SATU SEKOLAH DASAR INKLUSI; STUDI DESKRIPTIF

Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai peneliti.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal: 13 Januari 2020

Yang menyatakan

(8)

viii

ABSTRAK

PENERAPAN RANCANGAN BAHAN AJAR YANG RAMAH ANAK DI SALAH SATU SEKOLAH INKLUSI; STUDI DESKRIPTIF

Afriyanda

Universitas Sanata Dharma 2020

Sekolah dasar inklusi menerima anak berkebutuhan khusus di satu sekolah yang sama dengan teman sebayanya. Untuk menunjang pembelajaran, guru perlu mengembangkan bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik ABK & siswa regular. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan rancangan bahan ajar yang ramah anak di sekolah dasar “Harapan Mulia, Mekar Jaya, Cinta Kasih, dan Pagi Cerah” wilayah Kota Yogyakarta. Jenis penelitian yang diguanakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus, teknik pengambilan data yang digunakan yaitu wawancara semi terstruktur, observasi dan dokumentasi. Subjek penelitiannya adalah guru kelas atas, guru kelas bawah, GPK, dan Kepala Sekolah. Data yang diperolah akan dilakukan reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian di “SD Harapan Mulia, Mekar Jaya, Cinta Kasih, dan Pagi Cerah” adalah guru belum sepenuhnya dapat memenuhi 10 kriteria merancang bahan ajar yang ramah anak di skolah inklusi.

Hasil penelitian menunjukan bahwa guru belum sepenuhnya dapat menerapkan 10 kriteria merancang bahan ajar yang ramah anak di sekolah inklusi. Guru sudah menerapkan 10 kriteria tersebut dalam rancangan pembelajaran yang ramah anak akan tetapi dalam penerapan rancangan bahan ajar yang telah dibuat, guru belum sepenuhnya dapat menerapkan rancangan bahan ajar tersebut pada anak di dalam kelas. Dari 10 aspek tersebut, ada 4 aspek yang berhasil dirancang dan diterapkan oleh guru di dalam kelas dan ada 6 aspek yang sudah dirancang guru akan tetapi kurang dalam penerapannya di dalam kelas. Guru belum bisa memaksimalkan penerapan rancangan bahan ajar yang ramah anak, karena kurang nya waktu; guru belum memahami karakteristik anak; guru kesulitan membuat pembelajaran yang menarik minat anak; banyak nya jenis ABK dikelas juga

mempengaruhi guru dalam merancang bahan ajar yang ramah anak.

Kata kunci: Sekolah Inklusi, Anak Berkebutuhan Khusus, Bahan Ajar Ramah Anak.

(9)

ix ABSTRACT

IMPLEMENTATION OF CHILDREN-FRIENDLY

TEACHING MATERIALS DESIGN IN ONE OF INCLUSIVE SCHOOL; A DESCRIPTIVE STUDY

Afriyanda

Sanata Dharma University

2020

Inclusive Elementary Schools admit children with special needs in the same school with special needs in the same school with their preers. To sustain the education process, teachers need to develop a teaching material that matches to the characteristics of students with special needs and regular students. This study aims to discover the implementation of children-friendly teaching materials design in following elementary school: Harapan Mulia, Mekar Jaya, Cinta Kasih, and Pagi Cerah in Yogyakarta Region. This study was carried using descriptive qualitative research and cases study method. The data collection techniques was semi structured interviews, observations and documentation. The subjects for this research was upper class teachers, lower class teachers, lower class teachers, GPK, and headmaster. The data then processed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The results in Harapan Mulia, Mekar Jaya, Cinta Kasih, and Pagi Cerah elementary school is that the teachers are not able to fully implement the 10 criteria in designing children-friendly teaching materials in inclusive schools

The result of this research suggested that teachers are not able to fully implement the 10 criteria of designing teaching materials that are children friendly in inclusive schools. Teachers have already managed to implement 10 criteria in designing the children friendly materials, but in realization of the design, teachers are not able to fully implement the design in their classes. Out of 10 aspects, 4 aspects are successfully designed and implemented inside of their classes, while 6 aspects are designed but less-successfully implemented in their classes. Teachers have not maximize the implementation of the children-friendly teaching materials, due to the lack of time, poor understanding of the students’ characteristics, teachers’ difficulty in designing an interasting materials, and also the variety of the students with special needs in class also affects the teacher’s ability in designing children-friendly teaching materials.

Keyword : Inclusive school, children with special needs, children-friendly teaching materials.

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan atas khadirat allah SWT, berkat rahmat dan hidayahnya lah peneliti dapat menyelesikan dengan baik skripsi yang berjudul “

Penerapan Rancangan Bahan Ajar yang Ramah Anak Di Salah Satu Sekolah Inklusi :Studi Deskriptif”. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat kesulusan

dalam memperoleh gelar sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini tidak akan berhasil tanpa kehadiran dan dukungan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

2. Christiyanti Aprinastuti, S.Si., M.Pd., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

3. Kintan Limiansih S.Pd. M.Pd., selaku Wakil Ketua Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

4. Laurensia Aptik Evanjeli, S.Pd., M.A. dan Brigitta Erlita Tri Anggadewi, S.Psi., M.Psi., selaku dosen pembimbing akademik sekaligus dosen pembimbing yang telah memberikan kritik, saran, dan mengarahkan peneliti dalam menyusun skripsi ini.

5. Kepala Sekolah SD Mentari Pagi yang telah memberikan ijin kepada peneliti untuk melaksanakan penelitian di SD Mentari Pagi.

6. Guru SD Mentari pagi yang sudah membantu peneliti untuk memperoleh data yang diinginkan.

7. Kedua orang tua saya, Bapak Ismail dan Ibu Mun yang sudah memberikan kasih sayang,doa, semangat, nasehat, dukungan dan kasih sayang yang begitu berlimpah kepada saya.

8. Kakak dan adik saya, Lupi Mita Sari, Indri Agustina Dan Rizki Julianti sebagai orang yang selalu mendukung apapun keputusan yang saya buat dan orang yang sangat saya hormati, sayangi dan sebagai panutan bagi saya.

(11)

xi

9. Teman satu payung yang bernama, Gea, Zindi, Intan, Sasa, Evita, Novi, Tiwi, dan Farika yang telah membimbing, mengingatkan dan menyemangati saya.

10. Resti dan Elli sebagai penghibur dan penyemangat disaat saya lelah mengerjakan skripsi.

Peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih banyak kekurangan. Semoga skripsi yang dibuat oleh peneliti dapat berguna bagi pembaca dan dapat memperluas wawasan pembaca tentang sekolah inklusi.

Yogyakarta, 13 Januari 2020

(12)

xii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR BAGAN ... xiv

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1 A. Latar Belakang ... 1 B. Rumusan Masalah ... 3 C. Tujuan Penelitian ... 4 D. Manfaat Penelitian ... 4 E. Asumsi Penelitian ... 4 F. Definisi Operasional... 5

BAB II LANDASAN TEORI ... 7

(13)

xiii

1. Anak Berkebutuhan Khusus ... 7

2. Sekolah Inklusi ... 12

3. Perancangan Bahan Ajar yang Ramah Anak ... 19

B. Penelitian yang Relevan ... 25

C. Karangka Berpikir ... 28

BAB III METODE PENELITIAN... 33

A. Jenis Penelitian ... 33

B. Setting Penelitian ... 33

1. Tempat dan Waktu Penelitian ... 33

2. Subjek Penelitian ... 34

3. Objek Penelitian ... 34

C. Desain Penelitian ... 34

D. Teknik Pengumpulan Data ... 36

E. Instrumen Penelitian... 37

F. Kredibilitas dan Transferabilitas ... 40

G. Teknik Analisis Data ... 42

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 44

A. Deskripsi Penelitian ... 44 B. Hasil Penelitian ... 46 1. Wawancara ... 46 2. Observasi ... 68 3. Dokumentasi ... 75 C. Pembahasan ... 75

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 87

A. Kesimpulan ... 87

B. Keterbatasan Penelitian ... 88

C. Saran ... 89

DAFTAR PUSTAKA ... 90

(14)

xiv

DAFTAR BAGAN

Halaman Bagan 2.1 Penelitian yang Relevan ... 30

(15)

xv

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1 Kisi-kisi Wawancara ... 38

Tabel 3.2 Pedoman Observasi ... 40

Tabel 3.3 Pedoman Dokumentasi ... 40

Tabel 4.1 Jadwal Pelaksanaan Wawancara ... 45

Tabel 4.5 Jadwal Pelaksanaan Observasi ... 46

Tabel 4.6 Jadwal Pelaksanaan Dokumentas... 46

Tabel 4.7 Hasil Observasi Kelas Dua ... 68

Tabel 4.8 Hasil Observasi Kelas Enam ... 71

Tabel 4.9 Hasil Dokumentasi Kelas Dua ... 75

(16)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lempiran 1. Surat Perizinan Penelitian ... 94

Lampiran 2. Surat Keterangan Telah Melakukan Penelitian ... 95

Lampiran 3. Reduksi Hasil Wawancara ... 96

Lampiran 4. Reduksi Hasil Observasi ... 134

Lampiran 5. Reduksi Hasil Dokumentasi ... 142

(17)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumya (Wiyani, 2014: 17). Anak berkebutuhan khusus juga memiliki hak yang sama dengan anak pada umumnya untuk memperoleh pendidikan yang layak dan berkualitas. Hal tersebut dikarenakan pendidikan merupakan hak dasar bagi seluruh anak Indonesia tanpa melihat latar belakang, fisik, dan perilaku anak itu sendiri. Anak berkebutuhan khusus bisa mengikuti kegiatan belajar dan mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) yang terdiri dari jenjang taman kanak-kanak, sekolah dasar luar biasa, dan sekolah menengah luar biasa baik tingkat pertama maupun tingkat atas (Pratiwi, 2018 : 20). Sekolah luar biasa adalah sekolah yang di dalamnya terdapat kelompok anak-anak yang sama yaitu anak yang berkebutuhan khusus. Sasaran pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus tidak lagi berfokus kepada kondisi siswa namun lebih mengarah kepada kebutuhan individu dan hambatan belajar yang dialamainya, sehingga pada akhir tahun 90-an inisiasi pendidikan inklusi muncul ( Pratiwi, 2018 : 20).

Sekolah inklusi adalah sekolah regular yang dapat menerima anak berkebutuhan khusus ringan, sedang, dan berat dalam satu sekolah dengan anak pada umumnya (Chatib, 2012 :22). Melalui sekolah inklusi, anak berkebutuhan khusus memiliki kesempatan yang sama dengan teman-temannya untuk mengoptimalkan segenap potensi dan keterampilan yang ada dalam diri mereka tanpa adanya deskriminasi dalam lingkungan belajar mereka. Sekolah inklusi perlu memberikan pembelajaran yang ramah anak dan dapat memberikan gagasan pada peserta didik bahwa sangat penting untuk menerima semua teman yang ada di sekitar, agar anak berkebutuhan khusus tidak tersisihkan dalam lingkungannya sendiri. Sekolah yang mempunyai label inklusi perlu mempersiapkan aspek-aspek yang semestinya sudah diterapkan di sekolah yang berlabel inklusi. Aspek sekolah inklusi ada 8 yaitu Penerimaan Peserta Didik

(18)

2

Baru (PPDB), identifikasi, Asesmen, Adaptasi Kurikulum (kurikulum Fleksibel), Merancang Bahan Ajar dan Kegiatan Pembelajaran yang Ramah Anak, Penataan Kelas yang Ramah Anak, Pengadaan dan Pemanfaatan Media Pembelajaran Adiktif, Penilaian dan Evaluasi Pembelajaran (Kustawan, 2013:90).

Kasus yang ditemukan peneliti di sekolah yaitu adanya siswa yang belum bisa naik ke kelas selanjutnya sehingga perlunya pendampingan khusus dari guru yang tentunya diharapkan guru dapat memuat materi ajar dan rancangan pembelajaran yang matang yang dapat digunakan siswa tersebut tentunya, untuk dapat melaksanakan pembelajaran bagi semua anak, guru juga diharapkan dapat merancang bahan ajar yang ramah anak. Rancangan bahan ajar atau materi ajar yang ramah anak dirancang oleh guru sebelum pembelajaran dimulai. Rancangan bahan ajar disusun secara sistematis, dengan mewujudkan kondisi yang ramah anak di dalam kelas dan mengacu pada kurikulum yang sekolah gunakan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan (Awaludin, 2017: 12). Rancangan bahan ajar yang ramah anak dapat diterapkan dengan baik bila guru memenuhi kriteria perancangan bahan ajar yang ramah anak yaitu melakukan identifikasi kebutuhan siswa sebelum memberikan pembelajaran di kelas; bahan ajar yang diberikan sesuai dengan SK,KD, dan indikator yang ingin dicapai oleh guru; bahan ajar yang diberikan dapat mencapai tujuan dari pembelajaran itu sendiri; bahan ajar yang diberikan seharusnya mencantumkan aspek pengetahun, sikap, dan keterampilan; bahan ajar yang diberikan dapat dikembangkan lagi oleh guru agar dapat dengan mudah dipahami; lebih menarik minat siswa; dan efektif digunakan selama pembelajaran berlangsung. Guru wajib mengumpulkan segala informasi mengenai materi yang akan diajarkan. Guru juga diharapkan dapat menyediakan alat bantu pembelajaran selama pembelajaran berlangsung, memberikan lembar kerja siswa dan menyusun soal-soal latihan yang akan diberikan selama pembelajaran berlangsung. Setelah semua informasi terkumpul guru diharapkan dapat merevisi kembali bahan ajar yang sesuai dengan semua siswa (Widodo, 2018:54).

(19)

3

Berdasarkan data yang diperoleh dari penelitian terdahulu, Damayanti (2018), meneliti tentang permasalahan sekolah dasar inklusi kelas bawah di SD “Suka Ilmu” wilayah Kabupaten Kulon Progo. Penelitian yang dilakukan oleh Damayanti meneliti tantang 8 aspek sekolah inklusi yaitu penerimaan peserta didik baru, identifikasi siswa, assesmen, adaptasi kurikulum, merancang bahan ajar dan perancangan bahan ajar yang ramah anak, penataan kelas yang ramah anak, pengadaan dan pemanfaatan media pembelajaran adaptif, penilaian dan evaluasi pembelajaran. Hasil dari penelitian yang dilakukan Damayanti yaitu SD Suka Ilmu memiliki permasalahan dalam menerapkan kedelapan aspek tersebut salah satunya adalah permasalahan dalam merancang bahan ajar yang ramah anak yaitu, rancangan bahan ajar yang digunakan oleh guru berlaku sama untuk semua anak tanpa terkecuali dan belum adanya kesiapan guru kelas dan guru pendamping khusus dalam menyiapkan rancangan bahan ajar yang akan diberikan kepada siswa.

Kasus pengembangan bahan ajar yang ramah anak yang muncul pada penelitian Damayanti menjadi dasar penelitian ini. Sekolah dasar yang menjadi tempat penelitian yang dilakukan oleh damayanti menjadi tempat penelitian pada penelitian ini. Pengembangan bahan ajar yang ramah anak perlu dikaji lebih lanjut dan dideskripsikan secara terperinci sesuai dengan keadaan yang ada di lapangan. Oleh karena itu, peneliti melakukan penelitian dengan judul “Penerapan Rancangan Bahan Ajar yang Ramah Anak di Sekolah Dasar Inklusi Studi Deskriptif”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah pada penelitian ini adalah “ bagaimana penerapan rancangan bahan ajar yang ramah anak di sekolah dasar inklusi yang ada di Yogyakarta?”

(20)

4

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian adalah mendeskripsikan penerapan rancangan bahan ajar yang ramah anak di sekolah dasar inklusi yang ada di Yogyakarta.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi para pembaca. Manfaat penelitaian ini antara lain sebagai berikut:

1. Manfaat teoritis

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai sekolah inklusi dan dapat mendeskripsikan penerapan rancangan bahan ajar yang ramah anak disalah satu sekolah inklusi yang ada di Yogyakarta.

2. Manfaat praktis

a. Sekolah dasar inklusi

Sekolah dapat mengkaji dan mengetahui sejauh mana penerapan rancangan bahan ajar yang ramah anak di sekolahnya dan mengetahui informasi mengenai rancangan bahan ajar yang sesuai dengan aspek sekolah inklusi.

b. Bagi Guru

Guru mendapatkan informasi tentang perancangan bahan ajar yang ramah anak untuk sekolah inklusi.

c. Bagi Peneliti

Peneliti dapat mendeskripsikan penerapan rancangan bahan ajar yang ramah anak disalah satu sekolah inklusi yang ada di Yogyakarta.

E. Asumsi Penelitian

Rancangan bahan ajar yang ramah anak disusun oleh guru dan sudah kewajiban guru yang mengajar di sekolah inklusi untuk merancang bahan ajar yang ramah anak. Ada sepuluh kriteria bahan ajar yang ramah digunakan anak yaitu mengidentifikasi kebutuhan siswa; sesuai dengan standar kompetensi,

(21)

5

kompetensi dasar dan indkator yang ingin dicapai; tercapainya tujuan pembelajaran, memilih bahan ajar yang akan diajarkan guru; mencantumkan aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan; mengembangkan bahan ajar yang telah ada; mengumpulkan segala informasi terbaru terkait dengan bahan ajar; menyediakan alat bantu pembelajaran dalam rancangan bahan ajar; manfaat materi ajar dapat dirasakan oleh siswa; adanya soal-soal latihan dan lembar kerja siswa; serta merevisi kembali bahan ajar yang telah dibuat (Widodo, 2008:54). Kriteria bahan ajar dibuat agar dapat mengetahui penerapan bahan ajar yang ramah anak. Dari hasil penelitian terdahulu, peneliti belum menemukan penelitian yang membahas secara mendalam tentang penerapan rancangan bahan ajar ataupun tentang bahan ajar yang ramah digunakan anak di sekolah inklusi. Peneliti berasumsi bahwa sekolah belum sepenuhnya menerapkan rancangan bahan ajar yang ramah anak.

F. Definisi Operasional 1. Pendidikan inklusi

Pendidikan inklusi adalah pendidikan yang tidak membeda-bedakan latar belakang kehidupan anak karena keterbatasan yang dimilikinya atau keterbutuhan khusus yang dimiliki anak.

2. Sekolah inklusi

Sekolah inklusi adalah sekolah regular yang dapat menerima anak berkebutuhan khusus ringan, sedang, dan berat dalam satu sekolah dengan anak sebayanya.

3. Anak berkebutuhan khusus

Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang memiliki pemikiran khusus, lambat belajar, memiliki gangguan pada tubuh, gangguan pemikiran, inteligensi serta emosi sehingga membutuhkan perhatian lebih oleh orang di sekitarnya agar dapat mengembangkan kemampuan dalam dirinya dan menemukan potensi yang ada dalam dirinya.

(22)

6

4. Rancangan Bahan Ajar yang Ramah Anak

Rancangan bahan ajar yang ramah anak adalah sebuah rancangan bahan ajar yang akan diajarkan untuk semua siswa dan dapat memudahkan siswa untuk memahami pembelajaran yang diberikan. Kriteria bahan ajar yang ramah anak yaitu mengidentifikasi kebutuhan siswa; sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indkator yang ingin dicapai; tercapainya tujuan pembelajaran, memilih bahan ajar yang akan diajarkan guru; mencantumkan aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan; mengembangkan bahan ajar yang telah ada; mengumpulkan segala informasi terbaru terkait dengan bahan ajar; menyediakan alat bantu pembelajaran dalam rancangan bahan ajar; manfaat materi ajar dapat dirasakan oleh siswa; adanya soal-soal latihan dan lembar kerja siswa; serta merevisi kembali bahan ajar yang telah dibuat

(23)

7

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka

1. Anak Berkebutuhan Khusus

a. Pengertian Anak Bekebutuhan Khusus

Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) adalah anak yang berbeda dengan anak pada umumnya (Wiyani, 2014: 17). Anak berkebutuhan khusus diartikan sebagai anak yang lambat (slow), mengalami gangguan fisik, mental, inteligensi serta emosi sehingga harus diberikan pembelajaran secara khusus (Atmaja, 2018:6). Anak bisa dikatakan memiliki kebutuhan khusus bila anak memiliki gangguan pada fisiknya, anak berbakat, anak jalanan, anak dari penduduk terpencil, anak dari kelompok linguistik, etnik maupun kebudayaan minoritas serta anak dari kelompok lain yang tidak beruntung (Soleh, 2016:20).

Anak berkebutuhan khusus tidak hanya memiliki gangguan pada fisik saja akan tetapi banyak penyebab atau kategori anak berkebutuhan khusus yang belum diketahui banyak orang. Anak berkebutuhan khusus sangat memerlukan perhatian lebih oleh orang yang ada di sekitarnya. Anak berkebutuhan khusus mempunyai kekurangannya masing-masing baik secara mental, emosi, maupun fisik meskipun demikian mereka tetap harus mendapatkan perlakuan khusus dari orang yang ada di sekitarnya (Wiyani, 2014: 17).

Dari pendapat para ahli di atas, penulis dapat menarik kesimpulan bahwa anak berkebutuhan khusus adalah anak yang berbeda dengan anak pada umumnya, lambat belajar, memiliki gangguan fisik, mental, inteligensi serta emosi sehingga membutuhkan perhatian lebih oleh orang terdekatnya agar anak tersebut dapat mengembangkan kemampuannya dan menemukan potensi dalam dirinya.

b. Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus

Ada tiga klasifikasi anak berkebutuhan khusus, yaitu keterbatasan fisik, keterbatasan mental dan keterbatasan perilaku sosial (Atmaja, 2018:15).

(24)

8 1) Keterbatasan Fisik

Anak yang memiliki keterbatasan dalam aspek fisik adalah anak yang mengalami gangguan pada organ tubuh anak tersebut yang menyebabkan keadaan pada fungsi fisik dan tubuhnya tidak berjalan seperti anak pada umumnya (Atmaja, 2018:15). Perbedaan fisik biasanya terjadi pada alat indra fisik dan alat motorik tubuh. Keterbatasan fisik misalnya, keterbatasan pada indra pendengaran (tunarungu), indra penglihatan (tunanetra), dan tidak bisa berbicara (tunawicara) sedangkan keterbatasan alat motorik misalnya otot dan tulang yang tidak berfungsi, keterbatasan pada sistem saraf di otak, dan keterbatasan anggota badan yang disebabkan oleh pertumbuhan tidak sempurna contohnya seperti lahir tanpa tangan dan kaki (Atmaja, 2018:15).

2) Keterbatasan Mental

Anak yang keterbatasan dalam aspek mental adalah anak yang memiliki penyimpangan kemampuan berpikir secara kritis, logis, dalam menanggapi dunia di sekitarnya (Atmaja, 2018:15). Anak dengan perkembangan mental yang terhambat, bukan berarti terhambat pula dalam perkembangan lainnya, contohnya seperti perkembangan fisik anak tersebut hampir sama dengan yang terlihat pada anak umumnya (Muhtar, 2016:5). Ada dua keterbatasan dalam aspek mental anak yaitu keterbatasan mental dalam arti lebih yaitu anak yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata anak pada usianya dan keterbatasan mental kurang yaitu anak yang memiliki kecerdasan yang kurang dari pada anak seusianya (Atmaja, 2018:18).

3) Keterbatasan Perilaku Sosial.

Anak dengan keterbatasan perilaku adalah anak yang mengalami kesulitan untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan, tata tertib, norma sosial dan segala hal yang ada didalam lingkungannya (Atmaja 2018:19). Anak yang termasuk dalam kategori keterbatasan perilaku sosial adalah anak yang menunjukan perilaku yang tidak sesuai dengan adat kebiasaan di lingkungan masyarakat dan dapat merugikan orang lain bahkan dirinya sendiri sehingga perlu adanya pengendalian perilaku pada anak tersebut (Atmaja 2018:20).

(25)

9

Ada delapan kategori anak berkebutuhan khusus yang di jabarkan secara terperinci yaitu (Wiyani, 2014:17).

1) Anak Tunanetra

Anak tunanetra adalah anak yang mengalami gangguan penglihatan yang mengakibatkan tidak bisa atau kurang bisa melihat suatu objek yang ada di sekitar anak tersebut (Atmaja, 2018:21). Anak dengan gangguan penglihatan terbagi lagi menjadi 2 (dua) yaitu anak kurang awas yaitu anak yang mampu melihat tetapi sangat terbatas dan kurang mampu memanfaatkan indera penglihatannya dalam kehidupan sehari-hari dan anak tunanetra total yaitu anak yang memang tidak bisa melihat (Cahya, 2013:7).

2) Anak Tunarungu

Anak tunarungu adalah anak yang tidak dapat mendengar sehingga anak tersebut mengalami gangguan dalam memperoleh informasi dan menyulitkan anak tersebut dalam berkomunikasi (Atmaja, 2018:61). Anak dengan gangguan pendengaran (tunarungu) terbagi lagi menjadi 2 (dua) yaitu anak kurang dengar dan anak tuli total (Cahya, 2013:8). Anak yang menyandang ketunarunguan secara fisik hampir sama dengan anak sebaya pada umumnya tidak ada yang berbeda akan tetapi kita akan mengetahui bahwa anak itu adalah anak tunarungu pada saat anak itu berbicara. Saat Anak tunarungu berbicara, artikulasi yang disampaikan sulit untuk dimengerti atau bisa juga mereka merespon pembicaraan melalui isyarat dengan menekankan perkataannya melalui isyarat mata ataupun anggota tubuhnya untuk menyampaikan kalimat yang diinginkan (Atmaja, 2018: 62).

3) Anak Tunagrahita

Anak Tunagrahita adalah suatu kondisi anak yang kecerdasannya jauh dibawah rata-rata dan ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam berkomunikasi dalam lingkungan sosialnya (Atmaja, 2018: 97). Anak dengan gangguan kecerdasan di bawah rata-rata terdiri atas anak tunagrahita ringan dengan rentan IQ 50-70 , tunagrahita sedang dengan rentan IQ 25-49, dan anak tunagrahita berat dengan renatan IQ kurang dari 25. Anak tunagrahita sangat membutuhkan pelayanan secara khusus karena bila tidak diberikan

(26)

10

pelayanan yang sesuai dengan yang dibutuhkan maka anak tunagrahita tidak dapat mencapai tahap perkembangannya secara optimal (Atmaja, 2018: 99). 4) Anak Tunadaksa

Anak tunadaksa sering disebut dengan anak dengan istilah kekurangan pada bagian tubuh, kekurangan pada fisik dan kekurangan pada ortopedi. Kekurangan pada bagian tubuh dan fisik dimaksudkan untuk anak yang kekurangan pada anggota tubuh dan indranya sedangkan anak kekurangan pada bagaian ortopedi itu adalah anak yang mempunyai kekurangan khusus pada tulang, otot, persendian dalam fungsinya yang normal. Tunadaksa adalah anak yang memiliki tubuh yang tidak sempurna, ketidakmampuan anggota tubuh untuk melaksanakan fungsinya disebabkan oleh bekurangnya kemampuan anggota tubuh untuk melaksanakan fungsinya secara normal, sebagai akibat bawaan, luka dari suatu penyakit, atau pertumbuhan fisik yang tidak sempurna sehingga anak tersebut membutuhkan layanan (Atmaja, 2018: 127). Anak dengan gangguan anggota gerak (tunadaksa) terbagi menjadi dua yaitu anak layuh anggota gerak tubuh (polio) dan dengan anak dengan gangguan fungsi saraf otak (Cahya, 2013:8).

5) Anak Tunalaras

Anak tunalaras adalah anak yang tidak mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan sosialnya dan bertingkah laku menyimpang dari norma yang berlaku di lingkungan sekitarnya (Atmaja, 2018: 162). Anak tunalaras sering disebut sebagai anak nakal dan mereka akan kesulitan dalam melaraskan perilaku dengan norma umum yang berlaku di masyarakat. Anak tunalaras dapat disebabkan dari faktor internal dan eksternal, yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar. Anak tunalaras dianggap sangat mengganggu orang lain karena dapat mengganggu lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat contohnya mencuri, menyakiti orang lain, mengganggu temannya yang tidak bersalah (Atmaja, 2018:162). Anak dengan gangguan perilaku terdiri atas dua yaitu anak dengan gangguan perilaku taraf ringan dan anak dengan perilaku emosional (Cahya, 2013:8).

(27)

11 6) Anak Autisme

Autisme adalah gangguan perkembangan yang terjadi pada anak yang mengalami kondisi menutup diri yang membuat anak tersebut memiliki gangguan dalam hal berkomunikasi, berinteraksi sosial dengan orang lain, dan berperilaku (Atmaja, 2018:195). Anak autis sangat berbeda dengan anak pada usianya dalam hal berkomunikasi karena mereka akan kesulitan dalam memproses dan memahami Bahasa yang diberikan oleh lawan bicaranya Contohnya saat seseorang memerintahkan kepada anak autis untuk menuangkan air panas di atas bubuk saus, anak tersebut bahkan menuangkan air tersebut ke atas kemasan bubuk saus sehingga air yang disiram akan terjatuh ke lantai (Thompson, 2010:88). Dari penjelasan di atas, hal yang perlu diperhatikan saat berbicara dengan anak autis adalah memperhatikan instruksi yang diberikan dan harus jelas makna dari kata yang diucapkan sehingga mereka tidak bingung dan tidak salah mengartikan instruksi yang diberikan.

7) Anak ADHD

ADHD adalah kependekan dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder. ADHD adalah anak yang memilki gangguan dengan konsentrasi, hiperaktif, dan impulsif yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan sebagai besar aktifitas mereka (Atmaja, 2018:236). Gejala yang sering diperlihatkan anak ADHD adalah terganggunya konsentrasi bila melihat benda yang menurutnya lebih menarik dari apa yang sedang dikerjakannya. Di dalam kelas, anak ADHD akan lebih hiperaktif karena gerak fisik yang ditunjukan terlalu berlebihan dengan anak sebayanya pada umunya. Anak ADHD cenderung bertingkah implusif yaitu bertingkah tanpa membayangkan atau memikirkan akibat dari perbuatan yang dilakukannya contoh saat bermain anak ADHD akan sulit menunggu gilirannya sehingga anak tersebut akan mendahului teman-temannya. Anak tersebut tidak akan memikirkan apa yang akan diakibatkan dan bagaimana perasaan teman-temannya bila didahului (Thomson, 2010:24).

8) Anak Diagnosis Kesulitan Belajar (DKB)

Anak Diagnosis Kesulitan Belajar terbagi menjadi tiga yaitu anak disleksia, anak disgrafia, dan anak diskalkulia (Atmaja, 2018:257). Disleksia adalah anak

(28)

12

yang kurang mampu dalam menghubungkan kata atau simbol-simbol tulisan sehingga anak disleksia akan sulit dalam belajar membaca, menulis, membedakan huruf yang mirip, sulit mengeja, tidak paham dengan apa yang mereka baca (Atmaja, 2018: 258). Anak disgrafia adalah anak yang tidak bisa menuliskan dan mengekspresikan apa yang ada di dalam pikirannya melalui tulisan sedangkan anak diskakulia adalah anak yang kesulitan dalam menghitung atau mengalkulasikan jumlah hitung penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian yang disebabkan oleh adanya gangguan pada sistem saraf pusat dalam periode perkembangan anak tersebut (Atmaja, 2018:280).

2. Sekolah Inklusi a. Pendidikan inklusi

Pendidikan inklusi adalah pendidikan yang tidak membeda-bedakan latar belakang kehidupan anak karena keterbatasan yang dimilikinya atau keterbutuhan khusus yang dimiliki anak. Konsep pendidikan inklusi merupakan konsep yang menerima keterbukaan dalam menerima anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh hak dasar bagi anak berkebutuhan khusus dalam menerima pendidikan yang lebih baik lagi dari sebelumnya di sekolah regular yang dekat dengan lingkungan anak tersebut (Ilahi, 2016: 24). Pendidikan inklusi mencerminkan pendidikan untuk semua anak tanpa terkecuali termasuk anak yang menyandang keterbutuhan khusus. Dalam konteks yang lebih luas, pendidikan inklusif juga dapat dikatakan sebagai perubahan dalam dunia pendidikan dalam menekankan sikap anti diskriminasi, perjuangan persamaan hak dan kesempatan, keadilan, perluasan akses pendidikan bagi semu, serta upaya mengubah sikap masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus (Ilham, 2016:25)

Pendidikan inklusi diselenggarakan berdasarkan semangat untuk membangun masyarakat yang saling menghargai dan menghormati keberagaman yang dimiliki setiap anak. Pendidikan inklusi meyakini bahwa setiap anak dapat belajar, berkembang, tumbuh, lingkungan kerja, masyarakat, dan bekerja sama dengan semua orang yang memiliki latar belakang yang berbeda di sekolah

(29)

13

(Latif, 2016: 316). Pendidikan inklusi adalah wujud nyata dari pendidikan yang berkomitmen untuk menyediakan kesempatan belajar untuk semua siswa termasuk anak yang berkebutuhan khusus sehingga mereka tidak lagi diabaikan di lingkungannya sendiri (Latif, 2016: 317).

Dari pengertian di atas, pendidikan inklusi adalah pendidikan yang memiliki konsep yang menerima semua anak dan tidak membeda-bedakan latar belakang kehidupan anak dikarenakan keterbatasan mental dan fisik anak tersebut. Dengan adanya pendidikan inklusi, anak berkebutuhan khusus dapat dapat belajar, berkembang, tumbuh di lingkungannya, dan dapat bekerja sama dengan semua orang yang memiliki latar belakang yang berbeda di sekolah reguler.

b. Sekolah Dasar Inklusi

Sekolah dasar adalah suatu lembaga pendidikan yang menyelenggarakan program pendidikan sebagai suatu dasar dalam mempersiapkan siswa untuk melanjutkan pelajaran ke jenjang yang lebih tinggi agar dapat menjadi warga negara yang baik (Herlina, 2014:21). Sekolah dasar dijadikan oleh siswa untuk memulai pendidikan yang paling dasar untuk melatih diri mereka dalam belajar dan mencari potensi yang ada di dalam dirinya lebih awal sebelum mengembangkannya di sekolah menengah yang diinginkan. Sekolah dasar adalah tahap pendidikan awal yang biasanya dimulai oleh anak yang berumur enam sampai tujuh tahun yang ditempuh selama enam tahun mulai dari kelas satu sampai kelas enam lalu setelah kelas enam siswa akan melakukan ujian nasional untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah (Bastian, 2006: 25). Sekolah inklusi adalah sekolah regular yang di dalamnya terdapat anak-anak berkebutuhan khusus agar dapat belajar di sekolah-sekolah terdekat di kelas biasa bersama teman-temannya (Chatib, 2012 :22).

Sekolah inklusi adalah sistem pendidikan yang melibatkan ABK ringan, sedang, dan berat belajar di kelas bersama-sama anak yang sebaya dengannya (Musfah, 2018:223). Pendidikan inklusi diselenggarakan berdasarkan semangat untuk membangun sikap saling menghargai dan menghormati keberagaman yang ada. Pendidikan inklusif diyakini dapat membuat setiap individu dapat belajar, berkembang, tumbuh, dan bekerja dengan semua orang yang memiliki

(30)

14

latar belakang yang berbeda di sekolah, lingkungan kerja, dan masyarakat (Latif, 2016:316).

Dari pengertian di atas, sekolah dasar inklusi adalah sekolah yang menerima anak berkebutuhan khusus di sekolah yang sama dengan teman sebayanya dalam satu sekolah yang sama., sekolah dasar adalah lembaga pendidikan awal bagi anak yang dimulai dari usia enam sampai tujuh tahun dan ditempuh selama kurun waktu enam tahun pelajaran sehingga siswa tersebut dapat melatih diri mereka dalam pembelajaran yang lebih berat dan dapat menemukan potensi yang ada pada dirinya agar dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah.

c. Aspek-Aspek Sekolah Inklusi

Sekolah inklusi memiliki 8 aspek yang seharusnya ada dalam penyelenggaraan sekolah inklusi yaitu (Kustawan, 2013:90)

1) Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang Mengakomodasi Semua Anak Penerimaan peserta didik baru adalah awal dari kegiatan siswa dan guru di sekolah yang mana guru seharusnya dapat menerima peserta didik yang akan diajarkannya tanpa memandang perbedaan fisik, intelektual, sosial, emosi, Bahasa atau kondisi lainnya pada anak. Sekolah yang ramah anak merupakan sekolah yang menerima semua anak yang berhak untuk belajar dan mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya secara optimal dengan adanya bimbingan dari tenaga pendidik yaitu guru (Kustawan, 2013:90).

Dalam pelaksanaan peserta didik baru, sekolah membentuk panitia penerimaan peserta didik baru yang akan didampingi oleh guru pendidikan khusus/konselor yang sudah memahami tentang pendidikan inklusif dan keberagaman karakteristik peserta didik berkebutuhan khusus (Kristiawan, 2017:70). Tugas dari guru pendidikan khusus/konselor adalah melakukan identifikasi awal pada anak berkebutuhan khusus karena saat melakukan pendaftaran baisanya orang tua akan membawa anaknya ke sekolah yang diminati untuk melakukan pendaftaran dan pada saat itulah guru pendidikan khusus/konselor melakukan tugasnya untuk mengidentifikasi calon siswa tersebut.

(31)

15

Dari penjelasan di atas, penerimaan peserta didik baru adalah kegiatan awal penerimaan calon peserta didik tanpa memandang perbedaan fisik, intelektual, sosial, emosi, bahasa atau kondisi lainnya pada anak. Dalam penerimaan peserta didik baru, sekolah harus didampingi oleh guru pendidikan khusus/konselor untuk mengidentifikasi anak berkebutuhan khusus.

2) Identifikasi

Identifikasi adalah upaya guru dalam menemukan dan mengenali anak yang mengalami hambatan/keterbatasan/gangguan baik fisik, intelektual, mental, emosional dan sosial dalam rangka memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan khusus (Kustawan, 2013:93). Dalam melakukan identifikasi, guru akan mengamati gejala-gejala yang nampak atau yang dapat diamati seperti gejala fisik, perilaku, dan hasil belajar yang telah dinilai.

Guru melakukan identifikasi untuk mendapatkan informasi atau data apakah anak yang ada di kelasnya ada yang mengalami keterbatasan/ penyimpangan dalam pertumbuhnya dibandingkan anak-anak pada umumnya. Setelah dilakukan identifikasi, hasil identifikasi dapat digunakan guru untuk menyusun program pembelajaran sesuai dengan kebutuhan dan hambatan yang ada pada anak tersebut (Kustawan, 2013: 94).

Dari penjelasan para ahli di atas, identifikasi adalah upaya guru dalam menemukan hambatan yang ada pada diri anak didik baik yang terlihat secara fisik ataupun yang terlihat dari perilaku anak tersebut.

3) Asesmen

Asesmen adalah suatu upaya seseorang (guru, orang tua, dan tenaga pendidik yang lainnya) untuk melakukan proses penjaringan terhadap anak yang mengalami gangguan/hambatan/keterbatasan dalam rangka memberikan pelayanan pendidikan yang sesuai dengan keadaan siswa tersebut (Kustawa, 2013:97). Sebelum asesmen dilakukan guru perlu melakukan identifikasi telebih dahulu karena sebagian siswa yang memiliki keterbatasan atau adanya gangguan akan sulit untuk dikenali dan terlihat secara jelas oleh guru sehingga anak tersebut terlihat tidak memiliki masalah apapun dan menganggap anak tersebut adalah anak yang sama pada umumnya.

(32)

16

Asesmen dilakukan untuk mengumpulkan data yang lebih banyak untuk dijadikan bahan pertimbangan dan keputusan dalam kegiatan pembelajaran yang akan diambil oleh guru (Triani, 2013:25). Guru akan mengidentifisi anak tersebut terlebih dahulu untuk mengetahui perlu atau tidaknya asesmen pada anak tersebut. Bila diperlukan adanya asesmen, guru akan melakukan tindakan asesmen dengan psikolog guna mengetahui hambatan yang ada pada siswa tersebut serta adanya pertimbangan dan keputusan dalam pembelajaran di dalam kelas.

Jadi dari pengertian di atas, asesmen adalah suatu upaya seseorang dalam memperoleh lebih banyak informasi yang ingin didapatkan tentang hambatan, gangguan, dan keterbatasan pada anak untuk membuat pertimbangan dan keputusan untuk kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan oleh guru. 4) Adaptasi Kurikulum (Kurikulum Fleksibel)

Kurikulum yang digunakan dalam penyelenggaraan pendidikan inklusif pada dasarnya menggunakan kurikulum yang berlaku di sekolah regular, namun kurikulum di sekolah inklusif perlu fleksibel atau menyesuaikan kebutuhan anak, dengan hambatan dan kemampuan yang bervariasi (Kustawan, 2013:105). Hal tersebut berarti setiap sekolah inklusi perlu mengembangkan kurikulum sesuai dengan tingkat, perkembangan, dan karakteristik anak yang akan diajarkan oleh pendidik.

Kurikulum fleksibel seharusnya dapat mengakomodasi setiap anak yang mempunyai latar belakang yang berbeda sehingga pembelajaran yang diberikan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak. Fleksibilitas kurikulum akan digunakan bagi anak berkebutuhan khusus tertentu misalnya, bagi peserta didik yang memiliki hambatan kecerdasan perlu diimplementasikan dalam bentuk Program Pembelajaran Individu (PPI) (Kustawan, 2013:109).

Dari pengertian yang telah dijelaskan di atas, kurikulum yang akan digunakan pada sekolah inklusi adalah kurikulum sekolah regular yang dapat dimodifikasi oleh pihak sekolah sesuai dengan hambatan dan kebutuhan anak berkebutuhan khusus dan dapat diterapkan oleh guru dalam bentuk Program Pembelajaran Individu (PPI).

(33)

17

5) Merancang Bahan Ajar yang Ramah Anak

Bahan ajar adalah semua bahan atau materi pembelajaran yang akan dikuasai oleh peserta didik, yang disusun secara sistematis, ramah anak, dan digunakan dalam proses pembelajaran yang mengacu pada kurikulum yang berlaku dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan (Awaludin, 2017: 12). Kurikulum pendidikan inklusi memakai kurukulum nasional (kurikulum yang dipakai oleh seluruh sekolah) yang dimodifikasi oleh pihak sekolah sesuai dengan perkembangan anak berkebutuhan khusus yang ada di sekolah tersebut dengan mempertimbangkan karakteristik dan tingkat kecerdasan siswa yang berbeda-beda (Ilahi, 2013:171)

Dari pendapat para ahli di atas, bahan ajar adalah semua materi pembelajaran yang dapat dikuasai oleh semua peserta didik yang akan disusun oleh guru secara sistematis dan ramah anak sesuai dengan kurikulum yang telah ada atau yang telah dimodifikasi oleh sekolah untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan.

6) Penataan Kelas yang Ramah Anak

Penataan kelas sebagai lingkungan belajar dapat dirancang agar terasa menyenangkan, nyaman, dan aman serta dapat menimbulkan gairah atau motivasi anak untuk giat belajar (Kustawan, 2013:114). Menciptakan lingkungan yang menyenangkan, nyaman, dan aman tidaklah mudah untuk dilakukan oleh seorang guru perlu adanya pengaturan ruang belajar pada siswa.

Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman yaitu ukuran kelas, meja dan kursi yang dapat diatur dengan mudah untuk mempersiapkan kerja kelompok , jumlah siswa yang ada di dalam kelas, jumlah anak didik dalam setiap kelompok, jumlah siswa perempuan dan laki-laki di dalam kelas, papan tulis dapat disediakan lebih dari satu, adanya tempat pemajangan hasil karya siswa, adanya perpustakaan di dalam kelas, kelas mempunyai pencahayaan, suhu, serta ventilasi udara yang baik, dan kelas dapat dicat dengan warna yang indah namun tidak menyilaukan mata (kustawan, 2013:114).

(34)

18

Dari penjelasan di atas, lingkungan kelas bisa membuat belajar menjadi menyenangkan, nyaman untuk digunakan atau bisa dikatakan ruang kelas tidak kotor, pencahayaan yang baik dan tidak terlalu menyilaukan untuk proses belajar siswa. Guru perlu mengatur ruang kelas semenarik mungkin agar dapat membuat siswa bersemangat dalam belajar di kelas.

7) Pengadaan dan Pemanfaatan Media Pembelajaran Adaptif

Media pembelajaran adalah alat bantu guru dalam pembelajaran di dalam maupun di luar kelas. Media pembelajaran digunakan untuk mempertegas suatu topik dalam menjelaskan materi yang rumit kepada siswa. Penggunaan media pembelajaran akan mempermudah untuk guru menjelaskan suatu makna atau materi yang ingin dijelaskan dan bila tidak adanya media pembelajaran maka penjelasan dari guru akan lebih sulit dicerna dan dipahami oleh semua anak terutama anak berkebutuhan khusus(Kustawan, 2013: 116).

Media pembelajaran adaptif bagi anak berkebutuhan khusus adalah media yang dirancang, dibuat, dipilih dan digunakan dalam pembelajaran sehingga dapat bermanfaat, berguna, dan cocok dengan materi yang sedang disampaikan oleh guru (Kustawan, 2013:117). Dengan adanya media adaptif, anak berkebutuhan khusus diharapkan mampu dan akan lebih mudah untuk mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh guru sehingga anak tersebut tidak tertinggal dalam pembelajaran di kelas.

Dari penjelasan di atas, media pembelajaran Adaptif adalah media yang dirancang, dibuat, dipilih, dan digunakan oleh guru sendiri untuk membantu guru dalam menjelaskan pembelajaran yang rumit untuk dipahami. Media pembelajaran adaptif juga digunakan untuk menarik perhatian anak agar lebih bersemangat dalam belajar.

8) Penilaian dan Evaluasi Pembelajaran

Penilaian pembelajaran dilakukan guru untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan yang telah dicapai oleh siswa dari pengetahuan awal hingga pengetahuan akhir yang didapat siswa (Kustawan, 2013:125). Evaluasi pembelajaran adalah kegiatan mengidentifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan sudah tercapai atau belum, berharga atau tidak,

(35)

19

serta dapat dilihat seberapa jauh tingkat keberhasilan dari suatu program yang telah dijalankan (Astiti, 2017:2). Bagi anak berkebutuhan khusus, evaluasi yang dilakukan guru seharusnya sesuai dengan tingkat kemampuan dan kecerdasannya dalam menerima materi pembelajaran yang telah diberikan oleh tenaga pendidik (Ilahi, 2013:189).

Dari penjelasan di atas, penilaian adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam melihat dan mengamati sejauh mana pemahaman siswa dalam pembelajaran yang telah dilakukan. Evaluasi dilakukan untuk melihat sejauh mana keberhasilan program yang telah direncanakan oleh guru untuk siswa.

3. Perancangan Bahan Ajar yang Ramah Anak

Bahan ajar adalah semua bahan atau materi pembelajaran yang akan dikuasai oleh peserta didik, yang disusun secara sistematis, memenuhi kriteria bahan ajar yang ramah anak, dan digunakan dalam proses pembelajaran yang mengacu pada kurikulum yang berlaku dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan (Awaludin, 2017: 12). Bahan ajar yang diberikan kepada siswa merupaka salah satu komponen dari kurikulum yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Sekolah perlu memberikan sejumlah pengetahuan dan keterampilan untuk siswa agar pengetahuan dan keterampilan yang diberikan dapat membentuk perilaku anak yang terdidik (Ilahi, 2013:171).

Ada sepuluh kriteria bahan ajar yang ramah anak yaitu (Widodo, 2008:54): 1. Melakukan mengidentifikasi kebutuhan siswa

Identifikasi kebutuhan siswa sangatlah penting dalam membuat bahan ajar yang baik. Guru wajib melakukan identifikasi kebutuhan siswa terlebih dahulu agar guru mengetahui bagaimana dan dengan cara yang seperti apa bahan ajar yang akan diajarkan dapat diterima dan dapat menarik minat semua siswa termasuk siswa bekebutuhan khusus. Guru diharapkan dapat lebih mengenal satu persatu siswa nya sebelum memberikan bahan ajar atau materi ajar kepada siswa (Widodo, 2008:54).

(36)

20

2. Bahan Ajar Sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator yang ingin dicapai

Semua bahan ajar yang diberikan kepada siswa seharusnya sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator yang telah dirancang oleh guru sebelumnya sesuai dengan kurikulum yang digunakan pihak sekolah. Bahan ajar yang akan disampaikan seharusnya dapat sesuai dengan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator pembelajaran agar dapat mengetahui sejuah mana siswa dapat menguasai standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator yang telah ditetapkan oleh pihak sekolah. Standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator yang dapat dicapai siswa berupa perubahan prilaku atau sikap, pengetahuan, dan keterampilan selama pembelajaran berlangsung maupun setelah pembelajaran dilakukan (Widodo, 2008:55).

3. Dapat mencapai tujuan dari pembelajaran

Bahan ajar yang diberikan diharapkan dapat mencapai tujuan dari bahan ajar yang diberikan kepada semua siswa termasuk anak berkebutuhan khusus. Guru perlu memperhatikan bagaimana cara agar bahan ajar atau materi ajar yang diberikan kepada siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan atau dirancang oleh guru. Salah satu tujuan diberikan bahan ajar kepada siswa adalah agar siswa tersebut dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap siswa (Widodo, 2008:55).

4. Mencantumkan aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap

Bahan ajar yang akan digunakan pendidik (guru) diharapkan mencantumkan aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang perlu dipelajari anak berkebutuhan khusus yang sesuai dengan kebutuhan atau hambatanya dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan (Hermawan, 2013:113). Guru perlu memikirkan bagaimana caranya agar siswa dapat menerima 3 aspek tersebut dalam pembelajaran yang diberikan oleh guru. Guru diharapkan lebih kreatif lagi dalam menyelipkan 3 aspek tersebut agar semua aspek dapat dimiliki siswa terutama anak berkebutuhan khsus (Widodo, 2008:55).

(37)

21

5. Pengembangan bahan ajar yang lebih mudah dipahami, lebih menarik, dan efektif digunakan dalam pembelajaran.

Bahan ajar yang telah ada seperti buku siswa dapat dikembangkan lagi oleh guru saat menyusun bahan ajar, semua informasi di dalam buku memungkinkan siswa kebingungan atau pun sulit mengerti tentang pembelajaran. Bahan ajar seharusnya dapat mempermudah siswa dalam pembelajaran karena itulah wajib bagi guru untuk mengembangkan kembali bahan ajar yang talah ada sebelumnya menjadi bahan ajar yang yang menarik minat siswa dalam belajar, mudah digunakan dan dimengerti oleh semua siswa termasuk siswa berkebutuhan khusus. Guru juga perlu mengembangkan bahan ajar yang digunakan semenarik mungkin seperti menyediakan media pembelajaran gambar, video atau berkeliling lingkungan sesuai dengan materi atau bahan ajar yang diajarkan kepada siswa. Bahan ajar yang diberikan juga dapat membuat peserta didik mengembangkan kemampua nya untuk menggali informasi yang lebih besar dari lingkungan sekitarnya (Widodo, 2008:55).

6. Mengumpulkan segala informasi terbaru.

Setelah guru menentukan materi apa yang akan diajarkan kepada siswa, guru diharapkan mencari tahu terlebih dahulu informasi terbaru dari materi ajar atau bahan yang akan diajarkan. Informasi baru bisa ditemukan atau guru cari diinternet, youtube, buku, atau lingkungan sekitar guru dan siswa itu sendiri. Informasi baru sangatlah penting untuk bahan ajar siswa karena akan lebih mempermudah siswa dalam memahami pembelajaran yang diberikan oleh guru (Widodo, 2008:55).

7. Menyediakan Alat Bantu Pembelajara

Memakai alat bantu seperti media pembelajaran akan mempermudah guru dalam menjelaskan pembelajaran yang rumit dan sulit untuk siswa pahami terutama anak berkebutuhan khusus. Guru membutuhkan media untuk menarik perhatian siswa terutama anak berkebutuhan khusus. Media sangat diperlukan dalam pembelajaran, selain akan menarik minat siswa dan mempermudah guru dalam menjelaskan materi ajar media pembelajaran juga

(38)

22

dapat digunakan oleh guru dalam mengusir kebosanan anak terlebih anak berkebutuhan khusus. Media yang dapat digunakan guru beragam dan banyak. Guru diharapkan dapat memilih media yang sesuai dengan materi yang diajarkannya pada saat mengajar, guru juga diharapkan dapat memahami media yang diberikan terlebih dahulu sebelum diterapkan kepada siswa. Guru dapat merancang sendiri media yang akan digunakan karena gurulah yang paling memahami karakteristik siswa yang ada di dalam kelas terutama anak berkebutuhan khusus (Widodo, 2008:56).

8. Manfaat pembelajaran dapat dirasakan siswa.

Bahan ajar atau materi ajar yang ingin guru sampaikan tentu nya mempunyai tujuan dan manfaat tersendiri bagi siswa di setiap materinya. Guru diharapkan bisa memikirkan bagaimana siswa dapat merasakan manfaat dari bahan ajar yang diajarkan guru. Salah satu manfaat yang seharusnya dapat dirasakan oleh siswa adalah siswa merasa kegiatan pembelajaran lebih menarik, siswa mengetahui inti dari bahan ajar yang diajarkan sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-harinya, siswa mendapatkan kemudahan untuk mempelajari bahan ajar yang diberikan oleh guru (Widodo, 2008:56).

9. Menyusun soal-soal latihan dan lembar kerja siswa

Sebelum pembelajaran berlangsung guru diharapkan dapat membuat soal-soal latihan kepada siswa seperti soal tugas yang diberikan guru kepada siswa untuk mengukur kemampuan siswa setelah mempelajari bahan ajar yang diberikan oleh guru. Guru juga wajib menyaipakan lembar kerja siswa. Guru diharapkan dapat membuat lembar kerja siswa dan soal latihan semenarik mungkin, soal yang diberikan juga dapat mempermudah siswa dalam pemahaman materi dan tidak memberatkan ABK dalam pengerjaannya (Widodo, 2008:56). Lembar kerja siswa berisikan tentang sekumpulan tugas yang perlu dikerjakan siswa untuk memaksimalkan pemahaman dalam upaya membentuk kemampuan dasar yang perlu dimiliki siswa setelah pembelajaran sesuai dengan indikator pencapaian yang telah dibuat oleh guru (Widodo, 2008:56).

(39)

23 10.Merevisi kembali bahan ajar

Setelah semua bahan ajar mentah disiapkan dan dikumpulkan oleh guru, langkah selanjutnya adalah menyusun bahan ajar mentah yang telah dicari dan dikumpulkan menjadi bahan ajar yang sempurna dan dapat digunakan oleh semua siswa termasuk anak berkebutuhan khusus. Semua informasi mentah disusun menjadi satu sehingga menciptkan bahan ajar yang ramah untuk digunakan oleh semua siswa termasuk anak berkebutuhan khusus. Kegitan ini digunakan agar guru dapat lebih menyempurnakan bahan ajar yang akan diberikan kepada siswa. Guru juga dapat memilih metode dan mengatur waktu yang cukup untuk pembelajaran agar terbentuk lah rancangan bahan ajar yang ramah digunakan anak (Widodo, 2008:56).

Pada kelas yang ramah anak, perencanaan pembelajaran yang kreatif dan aktif berdasarkan pengalaman, kondisi dan kemampuan anak bukanlah tambahan akan tetapi sangat diperlukan oleh semua anak termasuk anak berkebutuhan khusus (Kustawan, 2013:107). Guru diharapkan dapat merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Rancangan bahan ajar yang baik dapat diawali dengan melakukan identifikasi dan asesmen, menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi, menggunakan media pembelajaran adaptif dan dapat menciptakan lingkungan belajar yang menarik bagi semua anak (Kurniawan, 2013:113). Guru dapat memilih metode yang tepat dan sesuai dengan materi yang diajarkannya Metode pembelajaran yang bervariasi ada banyak salah satunya adalah metode ceramah (Hamdayama, 2014:168). Saat merancang bahan ajar guru juga diharapkan memikirkan penggunaan media yang sesuai pembelajaran yang sedang diajarkan dengan memperhatikan keterbutuhan khusus pada anak. Media pembelajaran sangat baik digunakan untuk kegiatan pembelajaran yang ramah anak (Ilahi, 2016:177).

Bahan ajar yang akan digunakan pendidik (guru) diharapkan mencantumkan aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diharapkan dapat dipelajari anak berkebutuhan khusus yang sesuai dengan kebutuhan atau hambatanya dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan (Hermawan,

(40)

24

2013:113). Dalam menyusun bahan ajar untuk anak berkebutuhan khusus, guru diharapkan sudah mengetahui karakteristik dan kebutuhan khusus anak yang perlu diberikan oleh guru dengan berkonsultasi dengan Guru Pendamping Khusus (GPK) dalam membuat Rancangan bahan ajar yang dapat mempermudah anak berkebutuhan khusus dalam mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang akan dinilai dengan menggunakan instrument penilaian yang disusun berdasarkan indikator pencapaian belajar anak berkebutuhan khusus (Hermawan, 2013:113). Bahan ajar disusun atas topik pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang terdapat dalam Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang telah dibuat oleh guru. Materi ajar yang disusun oleh guru akan disampaikan saat pembelajaran berlangsung. Materi ajar digunakan oleh siswa untuk belajar guna mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar dari Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dapat dicapai siswa terutama untuk anak berkebutuhan khusus.

Guru perlu mengembangkan bahan ajar yang telah dirancangnya agar lebih baik lagi. Dalam mengembangkan bahan ajar yang telah ada, guru diharapkan dapat memperhatikan beberapa aspek yaitu, aspek akademik, kebutuhan setelah siswa pulang sekolah, keterampilan fungsional siswa, dan kemampuan perilaku adaptif yang dapat diperoleh siswa saat pembelajaran berlangsung (Ilahi, 2013:174). Guru diharapkan dapat menyampaikan materi ajar dengan cara memanfaatkan berbagai sumber belajar dengan waktu yang fleksibel serta dapat bekerja sama dengan semua pihak baik GPK, orang tua, guru lainnya dan masyarakat (Ilahi, 2013:174).

Dari pendapat para ahli di atas, rancangan bahan ajar adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru kelas dalam menyusun semua materi atau bahan ajar yang akan diajarkan atau disampaikan kepada semua siswa yang ada di kelas. Guru diharapkan dapat mengaplikasikan 10 kriteria bahan ajar yang ramah digunakan anak yaitu melakukan identifikasi terhadap siswa, bahan ajar yang diajarkan sesuai dengan SK,KD, dan Indikator yang akan dicapai, sesuai dengan tujuan pembelajaran, mencantumkan aspek pengetahuan, keterampilan, sikap,

(41)

25

pengembangan bahan ajar mudah dipahami, lebih menarik, efektif digunakan dalam pembelajaran, mengumpulkan semua informasi terbaru, menyediakan alat bantu pembelajaran, manfaat pembelajaran dapat dirasakan, menyusun soal-soal latihan dan lembar kerja siswa, dan merevisi kembali bahan ajar yang akan diajarkan. Guru dapat melakukan identifikasi dan asesmen, menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi, menggunakan media pembelajaran adaptif dan dapat menciptakan lingkungan belajar yang menarik bagi semua anak sebelum pembelajaran dilakukan. Dalam merancang bahan ajar, terdapat tiga aspek yang dapat diberikan guru yaitu aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Bahan ajar yang berikan diharapkan dapat disesuaikan dengan kondisi siswa yang diajarkan. Dalam mengembangkan bahan ajar, guru perlu memperhatikan aspek akademik, kebutuhan setelah siswa pulang sekolah, keterampilan fungsional siswa, kemampuan perilaku adaptif yang dapat diperoleh siswa saat pembelajaran berlangsung dan guru diharapkan dapat bekerja sama dengan orang-orang yang ada di sekitar siswa agar dapat mempermudah siswa dalam belajar.

B. Penelitian yang Relevan

1. Penelitian tentang permasalahan sekolah inklusi

Penelitian ini dilakukan oleh Damayanti (2018) dengan judul permasalahan sekolah dasar inklusi kelas bawah di SD Suka Ilmu wilayah Kabupaten Kulon Progo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui permasalahan dari kedelapan aspek penyelenggaraan sekolah inklusi di kelas bawah SD Suka Ilmu yang berwilayah di Kabupaten Kulon Progo. Subjek dari penelitian ini adalah guru kelas bawah, kepala sekolah dan guru pendamping khusus (GPK). Penelitian ini berupa penelitian kulaitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Hasil dari penelitian ini menunjukan permasalahan dari kedelapan aspek yang diamati dan salah satunya yaitu aspek perancangan bahan ajar yang ramah anak. Permasalahan yang terjadi di kelas bawah SD Suka Ilmu yaitu rancangan bahan ajar yang digunakan oleh guru berlaku sama untuk semua anak tanpa terkecuali dan belum adanya

(42)

26

kesiapan guru kelas dan guru pendamping khusus dalam menyiapkan rancangan bahan ajar yang akan diberikan kepada siswa.

Penelitian ini dilakukan oleh Pradevi (2018) dengan judul Permasalahan Sekolah Dasar Inklusi di Kelas Atas SD Suka Kasih Wilayah Kota Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui permasalahan dari kedelapan aspek penyelenggaraan sekolah inklusi di kelas atas SD Suka Kasih yang berwilayah di Kota Yogyakrta. Subjek dari penelitian ini adalah guru kelas atas, guru pendamping khusus (GPK), dan kepala sekolah. penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Hasil dari penelitian ini menunjukan kedelapan aspek yang diamati salah satunya aspek perancangan bahan ajar yang ramah anak. Permasalahan yang terjadi di kelas atas SD Suka Ilmu yaitu seluruh guru kelas atas SD Suka Kasih belum membuat rancangan pembelajaran individu (RPI) untuk ABK dan hanya menyiapkan rancangan pelaksaan pembelajaran tematik harian (RPPTH) saja.

Penelitian ini dilakukan oleh Kapti (2018) dengan judul permasalahan sekolah dasar inklusi kelas atas di SD Negeri Mentari Pagi wilayah Kabupaten Sleman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui permasalahan dari kedelapan aspek penyelenggaraan sekolah inklusi di kelas atas SD Negeri Mentari Pagi wilayah Kabupaten Sleman. Subjek dari penelitian ini adalah guru kelas atas, guru pendamping khusus (GPK) dan kepala sekolah. penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan metode studi kasus. Hasil dari penelitian ini menunjukan permasalahan dari kedelapan aspek peyelenggaraan sekolah inklusi dan salah satu nya yaitu aspek perancangan bahan ajar yang ramah anak. permasalahan yang terjadi di kelas atas SD Negeri Mentari Pagi yaitu seluruh guru kelas atas belum pernah menggunakan RPP yang telah dimodifikasi dan hanya menggunakan rancangan pelaksaan pembelajaran tematik harian (RPPTH) saja untuk pembelajaran di dalam kelas.

Penelitian ini dilakukan oleh Praptiwi (2018) dengan judul permasalahan sekolah dasar inklusi kelas atas di SD Harapan Mulia wilayah Kabupaten

(43)

27

Bantul. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui permasalahan ke delapan aspek penyelenggaraan sekolah inklusi di kelas atas SD Harapan Mulia wilayah Kabupaten Bantul. Subjek dari penelitian ini adalah guru kelas atas, guru pendamping khusus (GPK), dan kepala sekolah. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan metode studi kasus. Hasil dari penelitian ini menggambarkan permasalahan kedelapan aspek penyelenggaraan sekolah inklusi dan salah satunya adalah perancangan bahan ajar yang ramah anak. Permasalahan dalam SD Harapan Mulia yaitu saat pembelajaran berlangsung guru memiliki keterbatasan oleh waktu dan target yang harus dipenuhi guru sehingga guru belum dapat mengakomodasi dan mendampingi ABK secara penuh.

2. Penelitian bahan ajar bagi anak berkebutuhan khusus

Penelitian ini dilakukan oleh Rasido (2013) dengan judul Pengembangan bahan ajar anak berkebutuhan khusus untuk pendidikan inklusi bagi mahasiswa program studi pg/paud fkip universitas tadulako. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar yang baik dan sesuai dengan anak berkebutuhan khusus dalam sekolah inklusi. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa program studi PG/PAUD FKIP Universitas Tadulako yang berjumlah 30 orang. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui teknik Purposive Sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa hanya 32 % mahasiswa yang mampu mengembangkan pembelajaran untuk anak berkebutuhan khusus yang berarti 68% siswa belum bisa mengembangkan bahan ajar untuk anak berkebutuhan khusus. Penelitian ini mempunyai kesamaan dengan penelitian yang penulis teliti yaitu tentang materi ajar untuk anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusi akan tetapi dalam penelitian tersebut ditunjukan untuk siswa PAUD sedangkan penelitian yang diteliti oleh peneliti memfokuskan ke sekolah dasar inklusi.

Penelitian ini dilakukan oleh Hidayat (2016) dengan judul Desain pembelajaran anak berkebutuhan khusus dalam kelas inklusi. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun rancangan pembelajaran untuk anak

(44)

28

berkebutuhan khusus yang belajar bersama-sama dengan anak pada umunya di kelas yang inklusif. Subjek penelitian ini adalah sepuluh kepala sekolah, tiga puluh guru SD, satu orang pakar inklusif, satu orang pakar pendidikan khusus. Penelitian ini dilakukan di sepuluh sekolah dasar yang ada di kota bandung. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui teknik studi literatur. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari sepuluh sekolah dasar yang telah diteliti terbentuklah suatu rancangan pembelajaran yang dapat di gunakan anak berkebutuhan khusus maupun anak sebayanya. Rancangan dari hasil penelitian berupa, 1). Melakukan identifikasi dan assesmen kepada siswa, 2). Konsultasi kepada Guru Pendamping Khusus (GPK), 3). Bahan ajar untuk anak berkebutuhan khusus dapat di ambil dari kurikulum modifikasi sedangkan anak yang tidak berkebutuhan khusus dapat langsung di ambil dari kurikulum nasional, 4). Membuat rancangan bahan ajar, metode, media, kegiatan evaluasi siswa, dan melakukan modifikasi terhadap bahan ajar yang akan di berikan oleh guru. Penelitian ini mempunyai kesamaan dengan penelitian yang diteliti oleh penulis yaitu menjelaskan tentang rancangan pembelajaran dan bahan ajar yang baik untuk anak berkebutuhan khusus di dalam kelas inklusi.

Penelitian ini dilakukan oleh Darmi (2013) dengan judul Rencana pembelajaran oleh guru di smp negeri 23 padang dalam seting inklusi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah rancangan bahan ajar untuk anak berkebutuhan khusus di SMP Negeri 23 Padang sudah terlaksana dengan baik. Subjek penelitian ini adalah salah satu guru biologi yang ada di SMP Negeri 23 Padang. Metode pengumpulan data diperoleh melalui teknik

Purposive Sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa Rancangan Pembelajaran untuk anak berkebutuhan khusus oleh guru bidang studi biologi di SMP Negeri 23 Padang belum dapat terlaksana dengan baik. Ada beberapa faktor penghambat yang membuat rancangan pembelajaran dan bahan ajar belum dapat terlaksana dengan baik, salah satunya adalah bahan ajar yang diberikan guru kepada siswa sama, anak berkebutuhan khusus juga menerima materi yang sama dengan anak sebayanya sedangkan sebaiknya

(45)

29

guru memodifikasi terlebih dahulu bahan ajar yang akan diberikan kepada anak berkebutuhan khusus. Penelitian ini mempunyai kesamaan dengan penelitian yang diteliti oleh peneliti yaitu tentang perancangan materi ajar untuk sekolah inklusi akan tetapi dalam penelitian ini dikhususkan untuk anak Sekolah Menengah Pertama inklusi sedangkan penelitian yang sedang diteliti oleh peneliti dikhususkan untuk Sekolah Dasar inklusi. Keterkaitan penelitian di atas dengan penelitian ini dapat dilihat dari literature map

Referensi

Dokumen terkait