• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. berperan penting terhadap pertumbuhan industri ini, industri perhotelan tidak akan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. berperan penting terhadap pertumbuhan industri ini, industri perhotelan tidak akan"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Universitas Kristen Maranatha BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Dalam menghadapi era globalisasi seperti saat ini, dunia pariwisata merupakan salah satu industri yang berpotensi besar terhadap tumbuh kembangnya perekonomian di Indonesia. Pariwisata dan perhotelan saling berperan penting terhadap pertumbuhan industri ini, industri perhotelan tidak akan terus tumbuh jika industri pariwisata tidak berkembang dengan baik. Begitupun, pariwisata tidak akan berkembang dengan baik jika tidak ada dukungan dari industri perhotelan.

Industri perhotelan dan pariwisata di Indonesia dapat dikatakan mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Hal ini di lihat dari meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan dan bertumbuhnya jumlah hotel di Indonesia.

Grafik 1.1 Grafik kunjungan wisatawan mancanegara di Indonesia

Sumber: Badan Pusat Statistik

Menurut data BPS pada tahun 2013 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara di Indonesia mencapai 8802129, tahun 2014 meningkat menjadi 9435591, dan pada tahun 2015 meningkat menjadi 9729350 (www.bps.go.id).

0 2000000 4000000 6000000 8000000 10000000 12000000 2013 2014 2015 2015 2014 2013 8802129 9435591 9729350

(2)

Universitas Kristen Maranatha Grafik 1.2 Grafik jumlah hotel pada hotel bintang dan non bintang di

Indonesia

Sumber: Badan Pusat Statistik

Masih menurut data BPS pada tahun 2013, jumlah hotel berbintang dan non bintang yang ada di Indonesia sebanyak 16685 hotel, tahun 2014 meningkat menjadi 17484 hotel, dan pada tahun 2015 meningkat menjadi 18353 hotel. (www.bps.go.id). Dari sini, dapat dilihat bahwa kenaikan jumlah wisatawan diiringi juga dengan pertumbuhan hotel bintang dan non bintang yang agresif di Indonesia, akan tetapi agresifitas para pelaku bisnis perhotelan tidak sinkron dengan data okupansi hotel di Indonesia yang masih rendah sehingga hal ini dapat menyebabkan perang tarif yang tidak wajar. Hasil survei Badan Pusat Statistik menunjukan okupansi hotel di Indonesia sebenarnya belum menunjukan kinerja yang terlalu memuaskan. Okupansi hotel bintang pada tahun 2014 hanya menginjak angka 52,56%. Sementara itu hotel non bintang justru lebih rendah, yaitu sebesar 35,87%. (www.bps.go.id).

Dilihat dari data BPS tingkat okupansi hotel di Jawa Barat secara rata-rata pada Januari 2016 sebesar 44,60% atau mengalami penurunan 3,00 poin dibandingkan Desember 2015 yang tercatat sebesar 47,60%, hal ini disebabkan karena kurangnya kinerja operasional yang kurang memuaskan dalam segi

15500 16000 16500 17000 17500 18000 18500 2013 2014 2015

Hotel bintang dan non bintang

16685

17484

(3)

Universitas Kristen Maranatha

pelayanan serta fasilitas yang diberikan. Sementara itu, meningkatnya jumlah hotel terutama di daerah seperti Jawa Barat mengakibatkan persaingan bisnis hotel semakin meningkat terlebih dengan adanya apartmen yang disewakan dengan harga yang dapat bersaing dengan hotel. Pertumbuhan hotel yang pesat dengan tingkat okupansi yang rendah karena kurangnya permintaan menimbulkan persaingan yang tinggi dalam bisnis perhotelan. Agar tetap bertahan dan bertumbuh hotel memerlukan manajemen yang ahli dalam mengelola segala sumber daya yang dimiliki untuk memberikan nilai tambah bagi bisnis hotel. Dalam hal ini, maka perlu dilakukan penilaian/pengukuran kinerja manajerial.

Kinerja manajerial adalah kinerja individu anggota organisasi dalam kegiatan manajerial (Kurnianingsih, 2000). Kinerja manajerial meliputi perencanaan, investigasi, pengkoordinasian, evaluasi, pengawasan staff, pengaturan, negosiasi dan perwakilan. Kinerja manajerial sangat dibutuhkan dalam organisasi karena dengan kinerja manajerial yang maksimal diharapkan mampu membawa keberhasilan bagi perusahaan yang dipimpinnya (Mahoney et al, 1965). Agar tujuan yang telah ditetapkan tersebut dapat diketahui telah tercapai atau tidak maka diperlukan sistem pengukuran kinerja yang tepat. Untuk mengukur sistem pengukuran kinerja yang tepat dapat diukur menggunakan indikator meliputi relevan, sensitif, reliabel, akseptabel, dan praktis (Cascio, 1999). Penelitian yang diakukan oleh (Robbins, 2006) sistem pengukuran kinerja diukur menggunakan lima indikator meliputi kualitas, kuantitas, ketetapan waktu, efektivitas, dan kemandirian.

Penelitian ini akan menggunakan indikator sistem pengukuran kinerja dari (Cascio, 1999) yang meliputi relevan, sensitif, reliabel, akseptabel, dan praktis.

(4)

Universitas Kristen Maranatha

Selain itu kinerja manajerial akan menggunakan indikator dari (Mahoney et al, 1965) yang meliputi perencanaan, investigasi, evaluasi, pengkoordinasian, pengawasan, pemilihan staff, negosiasi, perwakilan, dan kinerja rata-rata keseluruhan.

Desain yang baik dari sistem pengukuran kinerja harus mempertimbangkan hakikat multidimensional yang akan mempengaruhi kinerja keseluruhan organisasi. Saat ini, supaya organisasi dapat bersaing di pasar global, pada saat yang sama perlu memuaskan semua stakeholders mereka, organisasi harus bergerak sesuai dengan dimensi kinerja (Cocca & Alberti, 2010). Karena pengukuran kinerja merupakan salah satu fungsi utama dari manajemen untuk menunjukkan sejauh mana perusahaan telah mencapai tujuan dan strategi yang sudah ditetapkan sebelumnya, maka sangat tepat untuk mempelajari sistem pengukuran kinerja pada hotel khususnya di Subang. Pembahasan ini terfokus pada sistem pengendalian manajemen (SPM) yang dijalankan pada sektor hotel terkait dengan pengukuran kinerja. Secara khusus, penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai pengaruh sistem pengukuran kinerja terkait dengan empat dimensi levers of control dari SPM, yaitu: belief system, boundary sytem, diagnostic control system, interactive

control system terhadap kinerja manajerial.

Secara tradisional, model sistem pengukuran kinerja lebih horisontal; terorientasi pada proses dan fokus pada kebutuhan stakeholder (Jamil & Mohamed, 2013). Penulis tertarik meneliti lebih fokus pada pengaruh sistem pengukuran kinerja terkait dengan levers of control terhadap kinerja manajerial. Penulis berpendapat bahwa penting untuk mengkaji kembali ada tidaknya

(5)

Universitas Kristen Maranatha

pengaruh sistem pengukuran kinerja terkait dengan levers of control terhadap kinerja manajerial.

Hasil penelitian Jamil & Mohamed (2013) menyatakan bahwa sistem pengukuran kinerja terkait dengan empat levers of control (system belief, system

boundary, diagnostic control system, interactive control system) sistem

pengendalian manajemen individu yang terseleksi dan juga menyatakan bahwa perkembangan sistem pengukuran kinerja akan mempengaruhi keseluruhan kinerja di sektor hotel menengah kecil melalui tindakan sistem pengendalian manajemen.

Mengingat pentingnya sistem pengukuran kinerja terkait dengan levers of

control terhadap kinerja manajerial dalam sebuah organisasi, maka berdasarkan

latar belakang diatas mendorong peneliti untuk melakukan penelitian dalam bentuk skripsi dengan judul “Pengaruh Sistem Pengukuran Kinerja terkait

dengan Levers of Control terhadap Kinerja Manajerial pada Hotel di Subang”

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan Latar Belakang Penelitian yang telah diuraikan sebelumnya, maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah sistem pengukuran kinerja berpengaruh terhadap kinerja manajerial pada hotel di Subang?

2. Apakah levers of control berpengaruh terhadap kinerja manajerial pada hotel di Subang?

3. Apakah sistem pengukuran kinerja terkait dengan levers of control berpengaruh terhadap kinerja manajerial pada hotel di Subang?

(6)

Universitas Kristen Maranatha 1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan permasalahan yang ada, maka tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui apakah sistem pengukuran kinerja berpengaruh terhadap kinerja manajerial pada hotel di Subang.

2. Untuk mengetahui apakah levers of control berpengaruh terhadap kinerja manajerial pada hotel di Subang

3. Untuk mengetahui apakah sistem pengukuran kinerja terkait dengan levers

of control berpengaruh terhadap kinerja manajerial pada hotel di Subang 1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberikan kegunanaan bagi seluruh pihak yaitu: 1. Bagi Penulis

Untuk memenuhi salah satu syarat dalam mencapai gelar sarjana ekonomi jurusan akuntansi Universitas Kristen Maranatha.

2. Bagi Perusahaan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi para manajer tentang sistem pengukuran kinerja dan levers of control (SPM) untuk menunjang tumbuh kembang perusahaan.

3. Bagi Pembaca

Memberikan ilmu pengetahuan yang berguna bagi pembaca dan sebagai bahan pertimbangan yang dapat memberikan ide untuk perkembangan penelitian lebih lanjut dimasa yang akan datang.

Gambar

Grafik 1.1 Grafik kunjungan wisatawan mancanegara di Indonesia
Grafik 1.2 Grafik jumlah hotel pada hotel bintang dan non bintang di  Indonesia

Referensi

Dokumen terkait

Kuisioner akan berisi pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan penelitian, dalam hal ini terkait pada pengaruh Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) terhadap pilihan politik

Pengendalian operasi juga digunakan untuk peningkatan kualitas kinerja output dan daya saing organisasi, maka efektifitas manajerial ini bersifat relatif dan senantiasa terkait

Maka dari itu, perusahaan Bank Central Asia (BCA) harus dapat menjaga dan mempertahankan loyalitas nasabah Tahapan Bank Central Asia (BCA) agar tidak berganti hati ke

Perawat yang mengalami burnout maka dapat menyebabkan berkurangnya fokus kerja sehingga akan berdampak pada kinerja yang dilakukan, hal yang terjadi ketika

Universitas Kristen Maranatha Untuk mengetahui seberapa besar kendala – kendala perpajakan yaitu mengenai kasus penyelewengan pajak dan pemahaman kewajiban Wajib Pajak berpengaruh

4. Apakah kurs tengah valuta asing, suku bunga dan risiko inflasi secara berganda berpengaruh signifikan terhadap return saham pada perusahaan manufaktur subsektor makanan

Pada penelitian ini analisis dibatasi pada investasi swasta yang dicerminkan dari realisasi PMDN dan PMA, pengeluaran pemerintah yang dicerminkan dari belanja

Universitas Kristen Maranatha Maka dari itu perusahaan memilih periklanan menjadi suatu pilihan yang paling efektif untuk penyampaian ke konsumen daripada alat-alat