• Tidak ada hasil yang ditemukan

019 293 308 Penyelidikan Landaian suhu Daerah Pnas Bumi Bonjol

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "019 293 308 Penyelidikan Landaian suhu Daerah Pnas Bumi Bonjol"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

PENYELIDIKAN LANDAIAN SUHU DAERAH PANAS BUMI BONJOL,

KABUPATEN PASAMAN, PROVINSI SUMATERA BARAT

Arif Munandar, Suparman, Robertus SLS

Kelompok Program Penelitian Panas Bumi Pusat Sumber Daya Geologi

SARI

Secara administratif daerah panas bumi Bonjol termasuk dalam wilayah Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat. Sedangkan sumur BJL-1 berada pada

koordinat 100°12’44,64” BT dan 0°0’6,90” LU atau 634920 mE dan 0000212 mN dengan elevasi 236 m di atas permukaan laut.

Umumnya proses ubahan yang terjadi di sumur BJL-1 sampai kedalaman akhir (250,80 m) masih menunjukkan ubahan berderajat rendah yang dicirikan oleh ubahan hasil proses argilitisasi, silifikasi, oksidai, dengan/tanpa piritisasi, karbonatisasi, dan kloritisasi. Mineral-mineral ubahan tersebut dikelompokkan termasuk ke dalam jenis argilik (argilic type) yang berfungsi sebagai lapisan punudung panas (clay cap).

Hadirnya mineral-mineral lempung hasil ubahan hidrotermal dengan jumlah yang cukup dominan di sumur BJL-1 ini, mendukung data survei terpadu sebelumnya (2006), yang menujukkan adanya lapisan batuan bertahanan jenis rendah (low resistivity) hingga kedalaman 800 m. Hal ini meyakinkan bahwa harga tahanan jenis rendah tersebut bukanlah disebabkan oleh adanya batuan sedimen, melainkan adanya lapisan lempung ubahan hidrotermal dalam sistem panas bumi Bonjol.

Hasil pengukuran logging temperatur ke -1 di kedalaman 100 m, temperatur terukur sebesar

33,2 °C (Temperatur udara di kedalaman 0 m = 26,5°C), dengan gradien temperatur sebesar

14,3°C/100 m. Selanjutnya pada pengukuran logging temperatur ke-2 di kedalaman 200 m

diperoleh temperatur maksimal sebesar 42,0°C setelah probe direndam selama 12 jam. Data hasil rendam ini dianalisis dan dilakukan perhitungan temperatur formasi dengan menggunakan

metoda Horner Plot diperoleh harga temperatur formasi = 66,2°C dengan gradien temperatur

(2)

PENDAHULUAN

Dalam rangka pengembangan energi panas bumi di Indonesia dan sebagai tindak lanjut hasil Penyelidikan Terpadu (geologi, geokimia, dan geofisika) yang telah dilakukan pada tahun 2006, di daerah panas bumi Bonjol, Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat yang memberikan perkiraan sementara potensi panas bumi di daerah penyelidikan sebesar 50 MWe (dalam kelas cadangan terduga), dengan perkiraan luas daerah prospek sekitar 7

km2 dan temperatur reservoir sekitar 180°C (temperatur sedang). Berdasarkan data-data tersebut di atas dan dalam rangka pengembangan energi panas bumi di daerah Bonjol, maka pada tahun anggaran 2009 di bawah kelompok Program Penelitian (KP2) Panas Bumi, Pusat Sumber Daya Geologi, Badan Geologi telah melakukan pengeboran landaian suhu sumur BJL-1, dengan kedalaman akhir 250,80 m.

Tujuan dari pengeboran landaian suhu ini adalah untuk mendapatkan data-data bawah permukaan (sub surface) yang meliputi landaian suhu (gradient thermal), litologi, mineral ubahan, intensitas, dan tipe ubahan, serta sebagai pembuktian dari hasil penyelidikan terpadu sebelumnya. Sehingga dari data di atas dapat digunakan untuk menginterpretasi sistem panas bumi di daerah Bonjol yang lebih akurat.

Secara administratif daerah panas bumi Bonjol termasuk dalam wilayah Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat. Letak sumur landaian

suhu BJL-1 berada pada koordinat

100°12’44,64” BT dan 0°0’6,90” LU atau

634920 mE dan 0000212 mN dengan elevasi 236 m di atas permukaan laut, (Gambar 1).

Lokasi sumur BJL-1 ini terletak sekitar 152 km barat laut Kota Padang atau 16 km dari Lubuk Sikaping sebagai ibukota Kabupaten Pasaman. Pecapaian ke lokasi sumur BJL-1 relatif mudah, karena tidak jauh dari jalan provinsi lintas sumatera dan akses sampai ke lokasi berupa jalan desa beraspal.

GEOLOGI DAN SISTEM PANAS BUMI

DAERAH BONJOL

Geologi Daerah Bonjol

Morfologi daerah penyelidikan didominasi oleh perbukitan berlereng sedang hingga terjal yang tersusun oleh perbukitan-perbukitan vulkanik tua maupun muda dan sedimen Formasi Sihapas yang menempati hampir seluruh daerah penyelidikan (± 90%) kecuali di bagian tengah yang merupakan zona depresi yang terisi oleh batuan sedimen danau.

(3)

batuan lava tua, sedangkan batuan vulkanik muda menempati daerah bagian barat, utara, dan selatan daerah penyelidikan yang diantaranya membentuk punggungan-punggungan vulkanik, kerucut Bukit Gajah, dan kerucut Bukit Binuang. Berdasarkan pentarikhan umur absolut batuan dengan metode jejak belah (fision track) untuk lava Bukit Binuang di dapat kisaran umurnya 1.3 ± 0.1 juta tahun (Plistosen). Bukit Binuang ini diperkirakan sebagai kerucut vulkanik termuda yang membentuk kubah lava (lava dome) yang berjenis Andesit piroksen. Endapan aluvium merupakan satuan batuan termuda di daerah penyelidikan yang prosesnya masih terus berlangsung hingga sekarang.

Penyebaran manifestasi panas bumi di daerah penyelidikan dikontrol oleh sesar-sesar normal yang berarah baratlaut – tenggara dan baratdaya – tenggara. Manifestasi aktif di daerah panas bumi Bonjol ini hanya berupa kelompok pemunculan mata air panas, sedangkan manifestasi berupa batuan ubahan merupakan fosil alterasi yang terjadi di masa lampau. Tiga dari empat kelompok mata air panas tersebut membentuk kelurusan, yaitu mata air panas S. Takis (± 87,9°C), mata air panas S. Limau (± 73,5°C, pH= 7,3), dan mata air panas Kambahan (± 73,4°C, pH= 7,5) dikontrol oleh sesar normal Takis, sedangkan mata air panas Padang Baru (± 49.7°C, pH= 6.5) di kontrol oleh sesar normal Padang Baru.

Sistem Panas Bumi Daerah Bonjol

Sumber Panas

Sumber panas (heat sources) merupakan komponen utama dalam suatu sistim panas bumi, ada beberapa bentukan geologi yang bisa menjadi sumber panas, pertama berupa sisa panas dapur magma yang berasosiasi dengan kerucut gunung api muda, kedua bisa berupa tubuh batuan intrusi muda. Secara geologi ada beberapa area di daerah penyelidikan yang memungkinkan menjadi sumber panas, yaitu Bukit Binuang yang berumur 1.3 ± 0.1 juta tahun (Plistosen) dengan produk batuan berkomposisi andesitik dan masih memungkinkan menyimpan sisa panas dari dapur magmanya dan hasil pengukuran gaya berat yang mengindikasikan adanya tubuh intrusi (laccolith ?) di bawah air panas S. Takis dan sekitarnya, yang diduga berumur kuarter (plistosen). Lokasi kedua sumber panas tersebut berada dalam suatu zona depresi yang membentuk graben, hal ini merupakan suatu hal yang wajar dimana Bukit Binuang sebagai fase vulkanik terakhir dalam suatu aktivitas vulkanik besar. Selanjutnya adanya struktur-struktur geologi di daerah penyelidikan merupakan media untuk keluarnya air panas ke permukaan.

Reservoir

(4)

kedalaman lapisan reservoir tidak diketahui, diperkirakan > 1000 meter dengan tahanan jenis 50 – 150 Ohm-m dengan indikasi clay cap berada

pada kedalaman antara 500 – 800 m dengan tahanan jenis antara 10 – 15 Ohm-m dan ke arah selatan relatif lebih dalaOhm-m. Reservoir diduga merupakan batuan vulkanik tua (satuan lava tua dan satuan lava produk Bukit Malintang) yang kaya akan rekahan atau yang bersifat permeabel.

Batuan Penudung

Batuan penudung (cap rock) mempunyai sifat tidak lulus air atau kedap air (impermeable) sehingga fluida hidrotermal yang terdapat di lapisan reservoir di bawahnya dapat tertahan. Batuan yang diduga sebagai lapisan penudung di daerah penyelidikan terdapat di kedalaman sekitar 500 m sampai 800 m, dengan nilai tahan jenisnya sekitar 10 - 15 ohm-meter. Perbedaan kedalaman

yang cukup besar ini disebabkan oleh lapisan penutupnya yang relatif makin tebal ke arah selatan.

Gabungan dari komponen sistem panas bumi di atas (sumber panas, reservoir, dan lapisan penudung) membentuk suatu sistem panas bumi di daerah penyelidikan, (Gambar 2). Sistem panas bumi ini tersebar di sepanjang struktur graben/depresi yang merupakan bagian dari sistem sesar Sumatera.

PENGEBORAN LANDAIAN SUHU BJL-1

Pengeboran

Pengeboran landaian suhu sumur BJL-1 ini dilaksanakan dalam beberapa tahapan/trayek kegiatan, yaitu: 1). Trayek selubung 6” dengan menggunakan mata bor berjenis tricone bit berukuran diameter 7 5/8”, 2). Trayek selubung 4” dengan menggunakan mata bor berjenis tricone bit berukuran diameter 5 5/8” dan diamond bit berukuran diameter 3 4/5”, dan 3). Trayek Open hole dengan menggunakan diamond bit berukuran diameter 3 4/5”.

Kedalaman akhir sumur bor landaian suhu BJL-1 adalah 250,80 m, dengan susunan selubung (casing design), (Gambar 3).

Geologi Sumur

Litologi Sumur BJL-1

Litologi sumur BJL-1 berdasarkan analisis megakospis batuan contoh bor disusun oleh beberapa satuan batuan, antara lain:

1) Endapan Depresi/Danau (SD), dijumpai mulai di permukaan tanah hingga kedalaman 26, 95 m, didominasi oleh batuan lempung-pasiran berwarna abu-abu, kecoklatan.

2) Endapan Sungai Purba (SS), dijumpai di kedalaman 26,95 hingga 41,26 m, berupa batuan-batuan lepas dari berbagai jenis, didominasi oleh batuan beku dengan ukuran bervariasi dari beberapa Cm hingga 50 Cm,

(5)

intesitas bervariasi dari lemah sangat kuat. Bertektur porfiritik dengan fenoris terdiri dari plagioklas, piroksen yang tertanam dalam massa dasar afanitik dan gelas vulkanik. Batuan relatif segar (fresh) dijumpai di kedalaman 41,26 – 45,80 m, sedangkan intinsitas ubahan kuat hingga sangat kuat terdapat di kedalaman 45,80 hingga 54,80 m. Mineral-mineral sekunder yang hadir didominasi oleh mineral lempung (smektit, montmorilonit), kuarsa sekunder, oksida besi, dan pirit.

4) Breksi Tufa Terubah (BTT), dijumpai di kedalaman 54,80 hingga 126,90 m, berwarna abu-abu, kehijauan, lunak-sedang, kurang padu, dengan komponen terdiri dari fragmen-fragmen andesit tertanam dalam matriks berukuran abu-pasir. Batuan telah mengalami ubahan dengan intensitas kuat dengan mineral ubahan yang dominan lempung (smekit, montmorilonit), mineral ubahan lainnya, antara lain: kuarsa sekunder, oksida besi, dan pirit. Batuan bersifat swelling. Terdapat kekar-kekar dan rekahan batuan, sebagian terisi oleh mineral kuarsa sekunder, pirit, dan lempung.

5) Breksi Tufa Terubah Termilonitisasi

(BTT), dijumpai di kedalaman 126,90 m hingga 148,80 m, berwarna abu-abu kehitaman, banyak dijumpai kekar-kekar, hancuran batuan, batuan asal masih dapat terlihat. Dijumpai urat-urat halus (veins) pada batuan yang terisi oleh mineral kalsit, berwarna putih, terutama di kedalaman 141,55 – 148,80 m.

6) Breksi Andesit Terubah (BAT), dijumpai di kedalaman 148,80 m hingga 188,00 m, berwarna abu-abu, sedikit kehijauan, kecoklatan, keputih-putihan,

kekerasan sedang, telah terubah dengan intensitas kuat-sangat

kuat menjadi mineral lempung, kuarsa sekunder, pirit, dan oksida besi. Dijumpai kekar-kekar, rekahan dan rongga pada batuan yang sebagian terisi oleh mineral kuarsa sekunder dan pirit.

7) Andesit Terubah (AT), dijumpai di kedalaman 188,00 hingga 199,70 m, berwarna abu-abu, masif dan keras, sebagian telah terubah dengan intensitas lemah – sedang. Bertektur porfiritik dengan fenoris terdiri dari plagioklas, piroksen yang tertanam dalam massa dasar afanitik dan gelas vulkanik. Mineral-mineral sekunder yang dijumpai adalah mineral lempung (smektit, montmorilonit), kuarsa sekunder, dan sedikit pirit.

8) Breksi Andesit Terubah (BAT), dijumpai di kedalaman 199,70 hingga 205,80 m, berwarna abu-abu kehitaman, sedikit keputih-putihan dan kemerahan, kehijauan. Bertekstur porfiritik, dengan fenokris terdiri dari plagioklas, piroksen, dan hornblende tertanam dalam massa dasar afanitik dan gelas vulkanik. Batuan terubah menjadi mineral lempung, kuarsa sekunder, pirit, dan sedikit oksida besi. Urat-uarat halus batuan terisi oleh pirit dan kuarsa sekunder.

(6)

Batuan telah mengalami ubahan dengan intensitas sedang hingga kuat, dengan mineral-mineral sekunder yang hadir, sebagai berikut: lempung (smektit, montmorilonit), kuarsa sekunder, sedikit pirit dan oksida besi. Banyak dijumpai rekahan batuan, sebagian telah terisi oleh mineral kuarsa sekunder dan pirit.

Jenis, Intensitas, dan Tipe Ubahan

Jenis Mineral Ubahan

Hasil analisis megaskopis dari inti bor pada kedalaman 16 – 251,20 m menunjukkan batuan telah mengalami ubahan hidrotermal, mineral-mineral ubahan dalam contoh batuan tersebut, secara lebih rinci dibahas sebagai berikut.

Mineral lempung, (2 – 67% dari total mineral), dijumpai hampir di semua kedalaman umumnya hadir dengan jumlah banyak (dominan), terdiri dari jenis smektit dan montmorilonit. Berwarna abu-abu keputih-putihan dan kehijauan. Kehadiran mineral lempung ini terutama sebagai hasil proses argilitisasi terhadap mineral primer (plagioklas, piroksen, hornblende) dan gelas vulkanik.

Oksida besi, (1 – 10% dari total mineral), dijumpai hampir di semua kedalaman, hadir dengan jumlah sedikit. Berwarna coklat, sedikit kekuningan, kemerahan. Kadang terdapat pada bagian pinggir fragmen. Hadir sebagai hasil ubahan dari mineral piroksen, plagioklas, dan gelas vulkanik.

Kuarsa sekunder, (5 – 14 % dari total mineral), hadir hampir di semua

kedalaman, dengan jumlah sedikit samai sedang, sebagai replacement dari plagioklas dan

sebagai hasil devitrifikasi terhadap gelas vulkanik. Dalam beberapa fragmen serbuk bor dijumpai sebagai pengisi rekahan/urat halus (veins) dan rongga batuan (vugs).

Pirit, (1 – 5 % dari total mineral), dijumpai hanya pada kedalaman tertentu dalam jumlah sedikit, kadang sulit ditemukan. Hadir sebagai hasil ubahan/replacement dari mineral gelap seperti piroksen, hornblende, dan gelas vulkanik. Mineral ini dijumpai pula sebagai pengisi urat halus (veins) pada batuan dan mengisi rongga (vugs) bersama-sama dengan kuarsa sekunder.

Karbonat, (3 % dari total mineral), dijumpai hanya pada interval kedalaman 126 m, dalam jumlah sedikit, berwarna putih, hadir mengisi urat-urat halus dan rongga-rongga batuan.

Intensitas Ubahan

Batuan/litologi sumur landaian suhu BJL-1 mulai dari kedalaman 41,26 – 250,80 m telah mengalami ubahan hidrotermal dengan intensitas ubahan lemah sampai sangat kuat (SM/TM = 15 – 85 %) oleh

proses ubahan argilitisasi, silisifikasi/devitrifikasi, oksidasi, dengan/tanpa piritisasi dan karbonatisasi.

Tipe Ubahan

(7)

hidrotermal dengan tipe ubahan didominasi tipe argillic (didominasi mineral montmorilonit, smektit) yang berfungsi sebagai batuan penudung panas (clay cap).

Hasil Analisis PIMA Mineral Ubahan

Sebanyak 20 contoh batuan terpilih (selected samples) diambil dari sumur BJL-1 yang selanjutnya dilakukan analisis laboratorium dengan menggunakan metode PIMA.

Hasil analisis PIMA tersebut memberikan hasil mineral-mineral ubahan pada batuan penyusun sumur BJL-1 adalah sebagai berikut: montmorilonit, halosit, kaolinit, gipsum. opal, dan biotit. Secara umum, mineral-mineral ubahan yang hadir didomininasi oleh mineral-mineral lempung berjenis montmorilonit, kaolinit, dan haloisit, yang dapat diidentifikasi hampir pada setiap kedalaman sumur BJL-1.

Hasil Analisis Petrografi

Sebanyak 8 contoh batuan dari sumur BJL-1 dipilih untuk selanjutnya dianalisis laboratorium dengan menggunakan metode petrografi. Berdasarkan hasil analisis petrografi tersebut, maka diketahui nama-nama batuan dan mineral-mineral penyusun batuan tersebut. Nama batuan hasil analisis petrografi tersebut adalah Andesit dan Breksi Vulkanik yang sebagian telah mengalami ubahan hidrotermal menjadi mineral-mineral sekunder, seperti: mineral lempung, kalsit, klorit, kuarsa sekunder, biotit sekunder, dan mineral opak.

Struktur Geologi

Kehadiran struktur geologi pada sumur pengeboran panas bumi dapat ditafsirkan dari beberapa ciri struktur seperti sifat fisik batuan (milonitisasi dan rekahan) yang dikombinasikan dengan data pemboran seperti adanya hilang sirkulasi (total/ sebagian) dan terjadinya drilling break.

Selama kegiatan pengeboran sumur landaian suhu BJL-1 sampai kedalaman akhir (250,80 m), terjadi hilang sirkulasi lumpur pembilas sebagian/parsial (PLC) di kedalaman 30,80 – 39,45 m dan 227 m, masing-masing sebesar 5 – 10 lpm dan 30 lpm. Banyak dijumpai kekar-kekar gerus, rekahan-rekahan yang sebagian terisi oleh kuarsa sekunder, kalsit dan pirit, dan milonitisasi pada kedalaman 126,90 - 148,80 m, berwarna abu-abu kehitaman, bersifat getas, diperkirakan bahwa di kedalaman ini merupakan zona-zona struktur.

Temperatur Lumpur Pembilas

Hasil pengukuran temperatur lumpur masuk (Tin) dan temperatur keluar (Tout) sumur landaian suhu BJL-1, berkisar antara Tin = 23,3 – 33,9°C dan Tout = 23,6 – 35,3°C, dengan selisih temperatur masuk dan

keluar sebesar 0,1 – 2,6 °C.

Hasil analisis batuan sumur landaian suhu BJL-1 dan beberapa parameter bor disajikan dalam Composite Log, (Gambar 4).

(8)

Pengukuran Logging Temperatur

Dari pekerjaan logging tahap pertama sampai kedalaman lubang bor 100 meter, temperatur dipermukaan tanah/posisi kedalaman sama dengan nol terukur

sebesar 26,5°C. Sedangkan pada dasar

lubang bor (100 m) terukur 33,2°C,

setelah dilakukan analisis dan evaluasi terhadap data temperatur pada kedalaman ini diperoleh harga gradien temperatur

sebesar 14,3°C/100 m.

Pekerjaan logging tahap kedua sampai kedalaman lubang bor 250 meter, diperoleh harga bacaan temperatur dipermukaan tanah/posisi kedalaman sama

dengan nol meter adalah sebesar 25,4°C, dimana temperatur udara luar terukur

oleh probe adalah 24,8°C, sedangkan pada kedalaman 200 meter diperoleh harga

bacaan sebesar 42,0°C, pada posisi ini

data rendam diperoleh harga hasil rendam probe T-Logging probe selama 12 jam. Data hasil rendam ini dianalisis dan dilakukan perhitungan temperatur formasi dengan menggunakan metoda Horner Plot diperoleh harga temperatur formasi =

66,2°C dengan gradien temperatursebesar

18,97°C/100 m (> 6 kali gradien normal rata-rata bumi).

PEMBAHASAN

Batuan penyusun sumur landaian suhu BJL-1 mulai dari permukaan hingga kedalaman 41,26 m disusun oleh endapan depresi/danau dan endapan sungai tua (purba) yang belum terkena ubahan hidrotermal, hanya di bagian permukaan

batuan mengalami proses eksogenik berupa pelapukan dengan intensitas rendah-sedang. Adanya endapan sungai tua tersebut dapat dilihat jelas dari contoh batuan yang didapat dan dari parameter bor, dimana contoh batuan terdiri dari berbagai komponen batuan (polimik) dan batuan lepas-lepas, sehingga sulit untuk penetrasi dan lubang sering ambruk saat pengeboran. Selanjutnya pada kedalaman 41,26 m hingga kedalaman akhir (250,80 m) pengaruh fluida hidrotermal mulai nampak, yakni dengan dijumpainya batuan ubahan pada interval kedalaman tersebut. Intensitas ubahan bervariasi dari lemah hingga sangat kuat (SM/TM = 15 – 85 %). Hasil analisis batuan pada sumur BJL-1 memberikan mineral-mineral ubahan yang hadir sebagai berikut: montmorilonit/ smektit, kaolinit, kuarsa sekunder, opal, kalsit, oksida besi, pirit, gipsum, klorit, dan biotit sekunder. Mineral-mineral lempung hadir mendominasi hampir di setiap kedalaman pada sumur BJL-1 ini.

(9)

temperatur pembentukan relatif tinggi, yaitu

>260°C, hal inididuga merupakan

sisa ubahan masa lampau atau sebagai fosil alterasi, hal ini sangat dimungkinkan karena lokasi sumur BJL-1 ini berada tak jauh dari jalur jalur mineralisasi berumur Tersier dengan jenis batuan vulkanik tua, yaitu di sebelah di baratlaut (di sekitar mata air panas S. Takis) dan Bukit Malintang di sebelah timur-tenggara.

Hadirnya mineral-mineral lempung ubahan di sumur BJL-1 hingga kedalaman akhir, mendukung data survei terpadu sebelumnya, yang menunjukkan adanya lapisan batuan bertahanan jenis rendah (low resistivity) hingga kedalaman 800 m. Hal ini menyakinkan bahwa harga tahanan jenis rendah tersebut bukanlah disebabkan oleh batuan sedimen, melainkan adanya lapisan lempung ubahan hidrotermal dalam sistem panas bumi Bonjol.

Berdasarkan temperatur pembentukan dari mineral-mineral ubahan yang hadir di sumur landaian suhu JL-1, maka dapat diperkirakan bahwa secara umum sumur BJL-1 sampai kedalaman akhir (250,80 m)

mempunyai temperatur sekitar 90°C.

Perkiraan temperatur tersebut selaras/sesuai dengan hasil perhitungan temperatur logging yang memberikan

temperatur sebesar 66,2°C di kedalaman 200 m, (Tabel 1).

Pada sumur landaian suhu BJL-1 ini, dijumpai sedikitnya dua kali terjadi hilang sirkulasi parsial (partial loss circulation),

yakni di interval kedalaman 30,80 – 39,45 m dan 227 m, masing-masing sebesar 5 – 10 lpm dan 30 lpm. PLC pertama yang terjadi di interval kedalaman 30,80 – 39,45 m diduga disebabkan oleh adanya rongga-rongga antar komponen batuan pada satuan endapan sungai purba, sedangkan pada kedalaman 227 m PLC terjadi karena adanya kekar-kekar pada batuan dikedalaman tersebut.

Pada pengukuran logging temperatur dilakukan perhitungan dengan metode Horner Plot untuk mendapatkan harga Initial Temperature (temperatur formasi). Berdasarkan hasil perhitungan tersebut diperoleh harga temperatur formasi sebesar 66,2 oC (Gambar 5) Horner Plot pada posisi kedalaman 200 meter.

Berdasarkan temperatur formasi pada posisi kedalaman pengukuran 200 m, diperoleh harga gradien temperatur sebesar 18,97oC/100 meter atau lebih dari enam (6)

kali gradien rata-rata bumi (± 3°C per 100

m). Selanjutnya, jika perkiraan top reservoir di daerah panas bumi Bonjol berada di kedalaman sekitar 1000 m (hasil survei terpadu, 2006) dan gradien diasumsikan linier pada sumur BJL-1, maka temperatur di kedalaman tersebut sekitar 218oC (Gambar 6).

KESIMPULAN

(10)

UCAPAN TERIMA KASIH

Kami mengucapkan terimakasih kepada Kepala Pusat Sumber Daya Geologi, Koordinator Kelompok Program penelitian Panas Bumi, dan editor makalah, serta orang-orang yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA

Arif Munandar, dkk., 2009. Laporan Pengeboran Landaian Suhu Sumur BJL-1, Daerah Panas Bumi Bonjol, Kab. Pasaman, Prov. Sumatera Barat, Pusat Sumber Daya Geologi, Badan Geologi.

Bakrun, dkk., 2007. Laporan survei terpadu daerah panas bumi Bonjol, Kab. Pasaman, Prov. Sumatera Barat, Pusat Sumber Daya Geologi, Badan Geologi.

Browne, P.R.L., 1978. Hydrothermal alteration in Active Geothermal Fields, Annual Riview of Earth and Planetay Science 6:229-250.

Fredi Nanlohi, dkk., 2006. Laporan pengeboran sumur landaian suhu SWW-1 dan SWW-2 Daerah panas bumi Suwawa, Kab. Luwu – Sulawesi Selatan. Laporan Subdit. Panas Bumi, Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral. Tdk dipubl.

Lawless, J.V., White, P.J., and Bogie, I., 1994. Important Hydrothermal Minerals and their Significance, Fifth Edition, Kingston Morrison Ltd.

(11)
(12)
(13)

Gambar 3: Konstruksi sumur landaian suhu BJL-1, daerah panas bumi Bonjol G round S urface

C asing S hoe 4"

C asing 6"

O pen H ole 3 1/2" C asing 4"

44.26 m

250.80 m (TD )

H o le 7 5/8"

H o le 5 5/8"

(14)
(15)

Gambar 5: Grafik analisis temperatur formasi dengan metode Horner Plot

Gambar 6: Penampang bor sumur landaian suhu BJL-1, daerah panas bumi Bonjol. Grafik "Horner Plot" Sumur Landaian Suhu BJL-1 Bonjol

Untuk Temperatur Formasi dan Gradien Temperatur

y = -18,974x + 66,239

36 37 38 39 40 41 42 43

1,32 1,34 1,36 1,38 1,4 1,42 1,44 1,46 1,48

(T+dt)/dt

Temp Formasi = 66.2 oC Gradien Temp. = 18.97

T

e

m

p

e

ra

tu

r

(

o C

(16)

Gambar

Gambar 1: Lokasi daerah panas bumi Bonjol, Kab. Pasaman-Sumbar
Gambar 2: Model panas bumi tentatif daerah panas bumi Bonjol.
Gambar 3: Konstruksi sumur landaian suhu BJL-1, daerah panas bumi Bonjol
Grafik "Horner Plot" Sumur Landaian Suhu BJL-1 Bonjol
+2

Referensi

Dokumen terkait