• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERDES KEWENAGAN DESA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERDES KEWENAGAN DESA"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

PERATURAN DESA

NOMOR 5 TAHUN 2015

TENTANG

PENETAPAN KEWENANGAN DESA BERDASARKAN HAK ASAL USUL

DAN KEWENANGAN LOKAL BERSKALA DESA DI DESA PEJENGKOLAN

PEMERINTAH

DESA PEJENGKOLAN

(2)

KEPALA DESA PEJENGKOLAN

KABUPATEN KEBUMEN

DRAF PERATURAN DESA PEJENGKOLAN

NOMOR 5 TAHUN 2015

TENTANG

PENETAPAN KEWENANGAN DESA BERDASARKAN HAK ASAL USUL DAN

KEWENANGAN LOKAL BERSKALA DESA DI DESA PEJENGKOLAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

KEPALA DESA PEJENGKOLAN,

Menimbang

: a.

berdasarkan ketentuan

Pasal 6 ayat (1) Peraturan Bupati

Kebumen Nomor 22 Tahun 2015 tentang Kewenangan Desa

Berdasarkan Hak Asal Usul Dan Kewenangan Lokal Berskala

Desa di Kabupaten Kebumen, perlu diatur dengan Peraturan

Desa;

b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud

dalam huruf a, perlu menetapkan Peraturan Desa

Penetapan

Kewenangan Desa Berdasarkan Hak Asal Usul

Dan

Kewenangan Lokal Berskala Desa di Desa Pejengkolan;

Mengingat

: 1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1950 tentang Pembentukan

Daerah-daerah Kabupaten dalam Lingkungan Propinsi Jawa

Tengah (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 1950

Nomor 42);

2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan

Informasi Publik

(Lembaran Negara Republik Indonesia

Tahun 2008 Nomor 61, Tambahan Lembaran Negara Republik

Indonesia Nomor 4846);

3. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan

Peraturan Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik

Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran

Negara Republik Indonesia Nomor 5234);

4. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014

tentang

Desa

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 7,

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor

5495);

5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014

Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

(3)

Nomor 5587) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan

Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014

tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun

2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara

Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 246, Tambahan

Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5589);

6. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1950 tentang

Penetapan Mulai Berlakunya Undang-Undang Nomor 13

Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten

dalam Lingkungan Propinsi Jawa Tengah;

7. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang

Pembagian

Urusan

Pemerintahan

antara

Pemerintah,

Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah

Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia

Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik

Indonesia Nomor 4737);

8. Peraturan Pemerintah Nomor

43

Tahun 2014

tentang

Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 6 tentang

Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014

Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Nomor 5539);

9. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana

Desa yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja

Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014

Nomor 168, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Nomor 5558);

10. Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2014 tentang Peraturan

Pelaksanaan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang

Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (Lembaran

Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 199);

11. Peraturan Daerah Kabupaten Kebumen Nomor 53 Tahun

2004 tentang Partisipasi Masyarakat Dalam Proses Kebijakan

Publik (Lembaran Daerah Kabupaten Kebumen Tahun 2004

Nomor 64);

12. Peraturan Bupati

Kebumen Nomor 22 Tahun 2015 Tentang

Kewenangan Desa Berdasarkan Hak Asal Usul Dan

Kewenangan Lokal Berskala Desa Di Kabupaten Kebumen

MEMUTUSKAN:

(4)

BAB I

KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan :

1.

Desa adalah kesatuan

masyarakat

hukum

yang

memiliki batas

wilayah

yang

berwenang

untuk

mengatur

dan mengurus urusan pemerintahan,

kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa

masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang

diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara

Kesatuan Republik Indonesia

2.

Daerah adalah Kabupaten Kebumen.

3.

Pemerintah Daerah adalah kepala daerah sebagai unsur

penyelengara

Pemerintahan

Daerah

yang

memimpin

pelaksanaan

urusan

pemerintahan

yang

menjadi

kewenangan daerah otonom.

4.

Pemerintahan

Desa

adalah

penyelenggaraan

urusan

pemerintahan

dan kepentingan masyarakat setempat

dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik

Indonesia.

5.

Pemerintah Desa adalah Kepala Desa dibantu Perangkat

Desa sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa.

6.

Peraturan Desa adalah peraturan perundang-undangan

yang ditetapkan oleh Kepala Desa setelah dibahas dan

disepakati bersama Badan Permusyawaratan Desa

7.

Keuangan Desa adalah semua hak dan kewajiban yang

dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu berupa

uang dan barang yang berhubungan dengan pelaksanaan

hak dan kewajiban.

8.

Badan

Permusyawaratan

Desa

atau

yang

selanjutnya

disingkat BPD adalah lembaga yang

melaksanakan

fungsi

pemerintahan

yang

anggotanya merupakan

wakil dari penduduk Desa

berdasarkan keterwakilan

wilayah dan ditetapkan secara demokratis.

9.

Lembaga

Kemasyarakatan

Desa

adalah

lembaga

yang

dibentuk

oleh masyarakat

sesuai dengan

kebutuhan

dan

merupakan mitra

pemerintah desa

dalam memberdayakan masyarakat desa.

10. Musyawarah

Desa

adalah

musyawarah

antara

BPD,

Pemerintah

Desa,

dan

unsur

masyarakat

yang

diselenggarakan oleh BPD untuk menyepakati hal yang

bersifat strategis.

11. Kewenangan Desa adalah kewenangan yang dimiliki

Desa meliputi kewenangan di bidang penyelenggaraan

Pemerintahan Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa,

Pembinaan Kemasyarakatan Desa, dan Pemberdayaan

Masyarakat Desa berdasarkan prakarsa masyarakat, hak

asal usul dan adat istiadat Desa.

(5)

Desa atau prakarsa masyarakat Desa sesuai dengan

perkembangan kehidupan masyarakat.

13. Kewenangan lokal berskala Desa adalah kewenangan untuk

mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat Desa

yang telah dijalankan oleh Desa atau mampu dan efektif

dijalankan

oleh

Desa

atau

yang

muncul

karena

perkembangan Desa dan prakarsa masyarakat Desa.

BAB II

MAKSUD DAN TUJUAN

Pasal 2

(1) Maksud disusunnya Peraturan Desa ini adalah untuk memberikan pedoman

bagi Pemerintah Desa dalam mengatur kewenangannya;

(2) Tujuan disusunnya Peraturan Desa ini adalah agar Pemerintah Desa dalam

mengatur kewenangannya dilakukan sesuai dengan ketentuan

perundang-undangan yang berlaku.

BAB III

JENIS KEWENANGAN DESA

Pasal 3

Kewenangan Desa meliputi:

a. kewenangan berdasarkan hak asal usul;

b. kewenangan lokal berskala Desa;

c. kewenangan yang ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi,

atau Pemerintah Daerah Kabupaten; dan

d. kewenangan lain yang ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah

Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten sesuai dengan ketentuan

peraturan perundang-undangan.

Kewenangan Berdasar Hak Asal Usul

Pasal 4

Ruang Lingkup kewenangan sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 huruf a

meliputi :

a. sistem organisasi perangkat Desa;

b. pembinaan kelembagaan masyarakat;

c. pembinaan lembaga dan hukum adat;

d. pengelolaan tanah Desa atau tanah hak milik Desa yang menggunakan

sebutan setempat;dan

(6)

Kewenangan Lokal Berskala Desa

Pasal 5

Kriteria kewenangan lokal berskala Desa meliputi :

a. kewenangan yang mengutamakan kegiatan pelayanan dan pemberdayaan

masyarakat;

b. kewenangan yang mempunyai lingkup pengaturan dan kegiatan hanya di

dalam wilayah dan masyarakat Desa yang mempunyai dampak internal Desa;

c. kewenangan yang berkaitan dengan kebutuhan dan kepentingan sehari-hari

masyarakat Desa;

d. kegiatan yang telah dijalankan oleh Desa atas dasar prakarsa Desa;

e. program kegiatan pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah

kabupaten/kota dan pihak ketiga yang telah diserahkan dan dikelola oleh

Desa; dan

f. kewenangan lokal berskala Desa yang telah diatur dalam peraturan

perundang-

undangan

tentang

pembagian

kewenangan

pemerintah,

pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten

Pasal 6

Kewenangan lokal berskala Desa meliputi:

a. bidang penyelenggaraan pemerintahan Desa,

b. bidang pelaksanaan pembangunan Desa;

c. bidang pembinaan kemasyarakatan Desa; dan

d. bidang pemberdayaan masyarakat Desa.

Pasal 7

Daftar rincian kewenangan berdasar hak asal usul dan kewenangan lokal

berskala Desa sebagaimana terlampir dan menjadi bagian tidak tepisahkan dalam

Peraturan Desa ini.

Pasal 8

Jenis kewenangan masing-masing bidang sebagaimana dimaksud pada Pasal 3

huruf c dan d menyesuaikan dengan ketentuan peraturan perundangan yang

berlaku.

Pasal 9

(7)

Ditetapkan di Desa Pejengkolan

pada tanggal 26 Oktober 2015

KEPALA DESA PEJENGKOLAN,

TTD

MUSLIMAH

penyelenggaraan

Pemerintahan

Desa,

pelaksanaan

Pembangunan

Desa,

Pembinaan Kemasyarakatan Desa, dan Pemberdayaan Masyarakat Desa.

Pasal 10

Penetapan Kewenangan berdasarkan hak asal usul dan kewenangan lokal

berskala Desa dapat ditinjau kembali disesuaikan dengan potensi desa, sarana

dan parasarana desa dan ditetapkan dengan Peraturan Desa.

BAB IV

KETENTUAN PENUTUP

Pasal 11

Peraturan Desa ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan

Desa ini dengan penempatannya dalam Lembaran Desa Pejengkolan

Diundangkan di Desa Pejengkolan

Pada tanggal 26 Oktober 2015

Pjs. SEKERTARIS DESA PEJENGKOLAN

TTD

PURIMAN

(8)
(9)

B

ngupati,mitoni, munjung, among among cah

angon,enthak enthik,bancakan,mbrokoi, dan

midangan;

(10)

4.2

45 65 78 9 :; 9<= >? 9 @ 9A B >? 9 6>CD; <E F 7GH 69I 98 9 <F

dan

J9 : 9I ;8 9 < K

4.3

L@ > B> : 9< 75 8569G D9 <5<MN 9=56

(pe

:H : 9 <E 9 <

);

4.4

J5E ; 989 < 69; < 75 7 >9; B5 = >8 >G 9 < ? 9 <BH <? ; 7;

de

7 9

JO 4P QPROL P4ON OSTJUQP SF

(11)

Z [

B

\ ]^Z_ `a baZ^Z_^Z

1.1

pene

cd ed f gdf e hf hid jd f kdcd j]hjd l

1.2

pengembangan

j mjchn

admini

jcodjm

dan

info

ond j m ] hjd l

1.4

penda

cdd f

dan pengkla

j msmtdjmdf c hfdid

ke

oud

] hj dl

1.4

penda

dan pengkla

ke

] hj dl

1.5

penda

cdd f

pend

pgp t

y

ang

beke

oud

pada

j htcqo

pe

ocd f mdf gd f j htcqofqf e h ocdfmdfl

1.6

penda

cdd f

pend

pgp t

men

popc

j

pnrd x

pend

pgpt pjmd

ke

oudƒ

angka

cdf

ke

oudƒ

penca

o m

ke

oudƒgd f c mf itdcedoc mj me djm d f itdcd f thoud l

1.7

penda

cdd f

pend

pgp t

be

opnpo

15

cd xpf

ke

a

cd j

y

ang

beke

oud

men

popc

lapangan peke

oud df

jeni

j e hth oud d fgdf j cdcpj ehthoudd fl

1.8

penda

cdd f

pend

pgp t

y

ang

beke

oud

di l

pdo

o md f

i

zin penggunaan gedung pertemuan

atau balai Desa;

1.17

pendataan potensi Desa;

Bidang Penyelenggaraan

Pemerintahan Desa

1.

1.17

pendataan potensi Desa;

1.18

pemberian izin hak pengelolaan atas tanah

Desa;

1.19

penetapan Desa dalam keadaan darurat seperti

kejadian

bencana,

konflik,

rawan

pangan,

wabah

penyakit,

gangguan

keamanan,

dan

kejadian luar biasa lainnya dalam skala Desa;

1.20

pengelolaan arsip Desa;

(12)

1.21

pene

…† ‡† ˆ

po

‰

keamanan

dan

po

‰

A.2.3

pengelolaan dan pembinaan

˜‘‰”†ˆ “Œ’†’Š¨

a)

lay

anan gi

zi untuk balita;

b)

pemeriksaan ibu hamil;

c)

pemberian makanan tambahan;

(13)

d)

pen

© ª« ª¬­ ® ¯ °± ° ¬­ ²­®³

e)

ge

´­ ¯­® ¬µ¶ª· ¸°´±µ¬¶­® ± °¬­ ²³

f)

penimbangan bay

i; dan

g)

ge

´­¯ ­ ®± ° ¬­² ª ®² ª¯ «­®¹ª ² ª±µ­º

A.2.4

pembinaan dan penga

»­± ­ ® ª·­©­ ¯ °±°¬­ ²­ ® ²´­¶µ±µ¼ ®­«³

A.2.5

peman

²­ ª­® ¶­ ® ·° ®½°¾­ ¬­ ®·° ®©­ «­¬¾ª ®­ ­ ®

na

´¯¼²µ¯­¶­® ¿­²­¶ µ¯ ²µ À ¶µ Á°±­ ³

A.2.6

 ° ®© ª« ª ¬­®±°¶°´¬­®­ ² °®²­ ®¾ ·° ®©­¯µ²

men

ª«­´¶­®·°®©­ ¯µ²²µ¶­¯ ð® ª«­´ ³

A.2.7

 ° ®¾°« ¼«­ ­®¶­ ®­ ±°¬­ ²³

A.2.8

 ° ®¾°« ¼«­ ­®¯°¾ µ­ ²­®²­ ®­Ã­® ¼¸­ ² ¯°« ª­´¾­

(

²¼¾­

);

A.2.9

 ° ®¾­¶­ ­ ® ±­´­ ®­ ¯°±°¬­²­ ® ²µ®¾¯ ­ ²¶°±­ ³

A.2.10

 ° ®© °« ° ®¾ ¾­´­­® ª·­ ©­ ·´¼ ü±µ ¯°±°¬­²­®³

A.2.12

Ä­±µ«µ²­ ±µ °®© ° ®¾ ¾ ¾­´­­® Á°±­ ŵ­¾­ ³

A.2.13

 ° ø°® ²ª¯­®¶­ ®  ° ®¾ª­ ²­ ®Æ °« ¼Ã·¼¯ Ç­´¾­  °¶ª«µ ÈÉ Á± ³

A.2.13

 °¶ª«µ ÈÉ Á± ³

A.2.14

 ° ø°´µ­® Ê­ ¯ ­ ®­®Ë­Ã¸­¬­ ® ¶­® ̵²­Ãµ® ³

A.2.15

pembinaan dan pengelolaan pendidikan anak

ª±µ­ ¶µ®µ³

A.2.16

pengadaan dan pengelolaan

±­®¾ ¾­´ ¸°«­¹­´Í ±­®¾ ¾­´±°®µ ¸ª¶­©­ Í ¶­ ® ·°´·ª±²­ ¯­ ­®Á°±­ ³

A.2.17

Ä­±µ«µ²­ ±µ ¶­ ® ü²µÎ­±µ ² °´¬­¶­· ¯°« ¼Ã·¼¯ Ï

kelompok belaja

´¶µ Á°± ­³

A.2.18

Ä­±µ«µ²­ ±µ ·°®© °« °®¾ ¾­´­ ­® °®¶ µ¶µ¯­® È®­ ¯ бµ­ Áµ®µÍ °®¶ µ¶µ¯ ­ ® Ѽ ®Ä¼´Ã­« ¶­® É®À¼´Ã­ «

(

ÂÈÐÁÑ É

);

A.2.19

Ä­±µ«µ²­ ±µ ª± ­ ²Æ°¾ µ­²­®Ò °«­¹­´ Ê­±©­´­ ¯­²

(

ÂÆÒÊ

);

A.2.20

Ä­±µ«µ²­ ±µ Ë ­ í®Ò­½­ ­ ® Ê­ ± ©­´­¯ ­ ²

(

Ë Ò Ê

);

A.2.21

Ä­±µ«µ²­ ±µ ² °Ã·­²  ° ®¶µ¶ µ¯­®Á­ ±­´ ¶µ ¶°±­ ³

A.2.22

 ° ®¶­²­­® ·°®¶µ¶µ¯ ­ ®¶µ ¶°± ­³

A.2.23

Ban

² ª­ ® ŵ±»­ ʵ± ¯µ®³

A.2.24

Ä­±µ«µ²­ ±µ ·°®¾° ø­ ®¾­ ® ± ° ®µ ¶­ ® ¸ª¶­©­ ¶µ

de

±­ ³

A.2.25

 ° í®²­ ª­® ¶­ ® ·° ®½°¾­ ¬­ ®²µ®¶­ ¯­®

keke

´­ ±­®²°´¬­¶­· ·°´°Ã·ª­ ® ¶­® ­ ®­¯ ³

A.2.26

Ê ¸µ²¯ ²¯ ² µ ¯µ

A.2.26

ʰ ®°´ ¸µ²¯­® ±ª´­²¯ ° ²°´­®¾­®Ãµ±¯µ®³

A.2.27

Ä­±µ«µ²­ ±µ ·°®¾ª´ª± ­ ® ¼´­ ®¾²°´«­®²­´ ¶­®

difabel;

A.2.28

 ° ®¶­²­­® ·°® ©­®¶­ ®¾Ã­ ± ­«­¬ ±¼±µ­ «¶­ ®

po

² °®±µ ¯°±°¹­¬²°´­­® ±¼±µ­ «³

A.2.29

Ä­±µ«µ²­ ±µ ·°Ã¸°´µ­® ¸­®²ª­®±¼±µ­ «¸­¾ µ  ° ®©­ ®¶­®¾ Ê­± ­«­¬ ư±°¹­¬²°´­­®Å¼±µ­ «³

A.2.30

 ° ®­®¾ ¾ª«­®¾­ ® ¯ ° õ±¯µ®­ ® ²µ®¾¯ ­ ²¶°±­ ³

A.2.31

 ° ®°²­·­®Â°®¶ª¶ª¯ ʵ±¯µ®³

(14)

B.2.1

pembang

Ó ÔÕ ÔÖÕÔר ÙØ ÚÛÜÕ ÝÕ Õ Ô ÞÕÔßà Ý ÖÕÔ

balai

áØâÕã

B.2.2

äØÙåÕÔæÓ ÔÕ ÔÖÕÔר ÙØ ÚÛÜÕÝÕÕÔ çÕ ÚÕÔ áØâÕã

B.2.3

pembang

Ó ÔÕ ÔÖÕÔר ÙØ ÚÛÜÕ ÝÕ Õ Ô çÕ ÚÕÔ ÓâÕÜÕ

ßÕÔÛã

B.2.4

pembang

Ó ÔÕ ÔÖÕÔר ÙØ ÚÛÜÕ ÝÕ Õ Ô Ø ÙåÓ Ôæ áØâÕã

B.2.5

pembang

Ó ÔÕ ÔØ ÔØÝæÛ åÕÝÓ Ö Õ Ôߨ ÝåÕÝÓ Þ Õ Ôã

B.2.6

pembang

Ó ÔÕ ÔÖÕÔר ÙØ ÚÛÜÕ ÝÕ Õ Ô ÝÓ ÙÕ Ü

ibadah;

B.2.7

pengelolaan pemakaman

áØâÕ Ö Õ ÔרßÛÚÕâÕÔã

B.2.8

pembang

Ó ÔÕ ÔÖÕÔר ÙØ ÚÛÜÕ ÝÕ Õ Ô âÕÔÛßÕâÛ

lingk

ÓÔæÕÔã

B.2.9

pembang

Ó ÔÕ ÔÖÕÔר ÔæØÚà ÚÕÕÔÕ ÛÝ åØ ÝâÛÜ

be

ÝâÞÕÚÕ áØâÕã

B.2.10

pembang

Ó ÔÕ ÔÖÕÔר ÙØ ÚÛÜÕ ÝÕ Õ Ô ÛÝÛæÕâÛ ßØ ÝâÛØÝã

B.2.11

pembang

Ö ÚÛÜ Ú

B.2.11

pembang

Ó ÔÕ ÔÖÕÔר ÙØ ÚÛÜÕ ÝÕ Õ Ô ÚÕ ×Õ ÔæÕÔ áØâÕã

B.2.12

pembang

Ó ÔÕ ÔÖÕÔר ÙØ ÚÛÜÕ ÝÕ Õ Ô ßÕÙÕ Ô áØâÕã

B.2.13

pembang

Ó ÔÕ ÔÖÕÔר ÙØ ÚÛÜÕ ÝÕ Õ Ô âØÝßÕ

pengelolaan

âÕ ÚÓÝÕÔ Ó Ô ßÓ Þ åÓ Ö ÛÖÕèÕ ×ØÝÛÞ Õ ÔÕ Ôã

B.2.14

pengembangan

âÕ ÝÕÔÕ ÖÕÔ ×ÝÕâÕÝÕÔÕ × ÝàÖ Ó ÞâÛ

di

áØâÕ ã

B.2.15

éÕâÛÚÛßÕâÛ ×Ø ÙåØÝÛÕÔ åÕÔßÓ ÕÔ ×Ø ÙÓæÕÝÕ Ô ÝÓ ÙÕÜêë ìã

B.2.16

éÕâÛÚÛßÕâÛ ×Ø ÙåÕÔæÓ ÔÕÔÝÓ ÙÕÜÞ ÕÝØÔÕ

bencana;

B.2.17

éÕâÛÚÛßÕâÛ ×Ø ÙåÕÔæÓ ÔÕÔÖ Õ Ô ×ØÔæØ Úà ÚÕ ÕÔ

ߨÙ×Õß ìÕ ÔÖ ÛíîÓ ï Û ÖÕÔ ðÕÞ Óâ

(

ìî ð

)

ðàÙÓ ÔÕÚã

B.2.18

éÕâÛÚÛßÕâÛ ×Ø ÙåÕÔæÓ ÔÕÔìî ð êëìã

B.2.19

äØÙåÕÔæÓ ÔÕ ÔñÕÝÕÔÕ Ö Õ ÔäÝÕâÕÝÕÔÕ äØÙØÝ ÛÔ ßÕÜÕÔáØâÕã

B.2.20

äØÙåÕÔæÓ ÔÕ ÔÖÕÔäØ ÙØ ÚÛÜÕÝÕÕÔ ñÕÚÓ ÝÕ Ô äØÙåÓ Õ ÔæÕÔò ÛÝ óÛÙåÕÜ Ö Õ ÔáÝÕ ÛÔÕâØ áØâÕã

B.2.21

äØÔÕÔæ æÓ ÚÕÔæÕ Ô åØÔï Õ ÔÕ ß ÛÔæÞÕß ÖØâÕ

ã

B.2.21

äØÔÕÔæ æÓ ÚÕÔæÕ Ô åØÔï Õ ÔÕ ß ÛÔæÞÕß ÖØâÕ

ã

C.2

Pengembangan Ekonomi Lokal Desa ;

C.2.2

pengembangan usaha mikro berbasis Desa;

C.2.3

pendayagunaan keuangan mikro berbasis Desa;

C.2.4

pembangunan dan pengelolaan keramba jaring

apung dan bagan ikan;

(15)

C.2.7

pengaturan pelaksanaan penanggulangan hama

dan penyakit pertanian dan perikanan secara

terpadu;

C.2.8

penetapan jenis pupuk dan pakan organik

untuk pertanian dan perikanan;

C.2.9

pengembangan benih lokal;

C.2.10

pengembangan ternak secara kolektif;

C.2.11

pembangunan dan pengelolaan energi mandiri;

C.2.12

pendirian dan pengelolaan BUM Desa;

C.2.14

pengembangan teknologi tepat guna pengolahan

hasil pertanian dan perikanan; dan

C.2.15

pengembangan sistem usaha produksi

pertanian yang bertumpu pada sumberdaya,

kelembagaan dan budaya lokal;

C.2.16

Fasilitasi pemasaran produk Usaha Mikro Kecil

;

C.2.16

Fasilitasi pemasaran produk Usaha Mikro Kecil

;

C.2.17

Pengelolaan kelompok usaha ekonomi

produktif;

C.2.18

Fasilitasi permodalan bagi UMK (usaha mikro

kecil);

C.2.19

Penguatan kapasitas kelompok UMK;

C.2.20

Pengembangan Kelembagaaan Petani local ;

C.2.21

Pengelolaan jaringan irigasi tingkat usaha tani

dan jaringan irigasi tingkat desa;

C.2.22

Pemasyarakatan pupuk organik;

C.2.24

Fasilitasi modal usaha tani;

C.2.25

Fasilitasi/membantu penyediaan benih/bibit

unggul;

C.2.26

Pengelolaan hutan desa, kecuali hutan desa

memiliki pungsi khusus;

C.2.27

Penghijauan dan konservasi tanah yang

disediakan dari kebun bibit desa;

C.2.28

Pelestarian kebun bibit desa;

C.2.29

Pengelolaan turus jalan desa;

C.2.30

Pengembangan hasil hutan bukan kayu sesuai

potensi lokal desa yang berlokasi pada hutan

rakyat/hutan desa/wana wisata desa

C.2.30

Pengembangan hasil hutan bukan kayu sesuai

potensi lokal desa yang berlokasi pada hutan

rakyat/hutan desa/wana wisata desa

D.2

Pemanfaatan Sumber Daya Alam dan

Lingkungan Desa ;

D.2.1

penghijauan;

D.2.2

pembuatan terasering;

D.2.3

perlindungan mata air;

(16)
(17)
(18)

G H

B

I JKGL MN ONGKGLKG

1.1

lNGI mMN ONGKGLKG

PNpKq_ pKG JNm KPNl NGL MHnKG G HoHp rs sqKt_G

2015

lNGI m MNONGKGLKG uNpJKmKpMKG tK M K mKn_m_n

1.4

pengelolaan

T S RSj\SUJQ U S

pembinaan p

YX UQU RaWiS` c xSgVi eUjX]SyXjc TYS] VUVc]SR iXdXRZ S Rk

(19)

4.1

z{ |{ }~  € ‚ ƒ ~ƒ ƒ{}„ }{ …{ €~  }{ƒ{ † ‡ ˆ‰ Ё„ }{ ƒ{† ‡ |‰~ „ Љ|‰ƒ ‚„€‹ ˆ  ‚„|† ‰ €  ‚„}Œ ‰ €  ‚„ }Œ   ˆ ‚ ‚„ ˆ € ƒ ‚

(b

‰ |‰ } ‚ކ€{ Š

),

~  |†  ‚

(

ziarahkubur), nyorog (umum menjelang sedekah

laut) dan nyorog perorangan, selamatan weton;

4.2

Pelestarian budaya : kuda lumping, sholawatan,

jamjaneng, wayangan, ketoprak, angguk,

Jemblong (sumber cerita mahabarata,

ramayana), menthiet (wayang menak babat

arap);

4.3

Syukuran setelah panen/Kasab (perorangan)/

lubaran;

4.4

Wedusan (motong kambng) menghadapi musim

penghujan;dan

4.5

Kegiatan lain sesuai kebutuhan dan kondisi

desa

KEPALA DESA PEJENGKOLAN ,

4

Bidang Pemberdayaan

Masyarakat

(20)

 

B

‘ ’“” •– —–“”“

1.1

pene

˜™ š™ › œ™› š › ž™ Ÿ™ ›  ™˜™ Ÿ’Ÿ™ ¡

1.2

pengembangan

Ÿ ¢Ÿ˜£

admini

Ÿ˜¤™Ÿ¢

dan

info

¤£™ Ÿ ¢ ’ Ÿ™ ¡

1.4

penda

dan pengkla

ke

’ Ÿ ™¡

¤ ¢™ ›

i

zin penggunaan gedung pertemuan

atau balai Desa;

1.17

pendataan potensi Desa;

1.

Bidang Penyelenggaraan

Pemerintahan Desa

1.17

pendataan potensi Desa;

1.18

pemberian izin hak pengelolaan atas tanah

Desa;

1.19

penetapan Desa dalam keadaan darurat seperti

kejadian

bencana,

konflik,

rawan

pangan,

wabah

penyakit,

gangguan

keamanan,

dan

kejadian luar biasa lainnya dalam skala Desa;

1.20

pengelolaan arsip Desa;

(21)
(22)

A.2.1

pengembangan po

á â ã áãäå æå ç èã áå éå ç ê ëìíç é ãáî

A.2.2

pengembangan

æ ãç åïå â ã áãäåæå ç èã áå î

A.2.3

pengelolaan dan pembinaan

ê ë áðåç é ñ òãìåìñíó

a)

lay

anan gi

zi untuk balita;

b)

pemeriksaan ibu hamil;

c)

pemberian makanan tambahan;

d)

penyuluhan kesehatan;

e)

gerakan hidup bersih dan sehat;

f)

penimbangan bayi; dan

g)

gerakan sehat untuk lanjut usia.

A.2.4

pembinaan dan pengawasan upaya kesehatan

tradisional;

A.2.5

pemantauan dan pencegahan penyalahgunaan

narkotika dan zat adiktif di Desa;

A.2.6

Penyuluhan sederhana tentang penyakit

menular dan penyakit tidak menular ;

A.2.7

Pengelolaan dana sehat;

2

Bidang Pelaksanaan

Pembangunan

A.2.7

Pengelolaan dana sehat;

A.2.8

Pengelolaan kegiatan tanaman obat keluarga

(toga);

A.2.9

Pengadaan sarana kesehatan tingkat desa;

A.2.10

Penyelenggaraan upaya promosi kesehatan;

A.2.11

Pemantauan penyalahgunaan narkotika dan zat

adiktif di desa;

A.2.12

Fasilitasi Penyengggaraan Desa Siaga;

A.2.13

Pembentukan dan Penguatan Kelompok Warga

Peduli AIDs;

A.2.14

Pemberian Makanan Tambahan dan Vitamin ;

A.2.15

pembinaan dan pengelolaan pendidikan anak

usia dini;

A.2.16

pengadaan dan pengelolaan sanggar belajar,

sanggar seni budaya, dan perpustakaan Desa;

A.2.17

Fasilitasi dan motivasi terhadap

kelompok-kelompok belajar di Desa;

A.2.18

Fasilitasi penyelenggaraan Pendidikan Anak

Usia Dini, Pendidikan Non Formal dan Informal

(PAUDNI);

A.2.19

Fasilitasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat

(PKBM);

2

Bidang Pelaksanaan

Pembangunan

A.2.19

Fasilitasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat

(PKBM);

A.2.20

Fasilitasi Taman Bacaan Masyarakat (TBM);

A.2.21

Fasilitasi tempat Pendidikan Dasar di desa;

A.2.22

Pendataan pendidikan di desa;

A.2.23

Bantuan Siswa Miskin;

A.2.24

Fasilitasi pengembangan seni dan budaya di

desa;

A.2.25

Pemantauan dan pencegahan tindakan

kekerasan terhadap perempuan dan anak;

2

Bidang Pelaksanaan

(23)

A.2.26

ô õö õ÷ø ùúû üö ýþ÷ü úû õ úõ ÷üö ÿ üö ùýûùö

A.2.27

üý ù ùú ü ýù õö ÿþ÷þ ý üö ÷ üöÿúõ ÷üö ú ü÷ üö

difabel;

A.2.28

õö ü ú üüö õö üö üöÿ ü ý ü ü ý ýùü üö

po

ú õöýùûõý õü úõ ÷ üüö ý ý ùü

A.2.29

üý ù ùú ü ýù õ ø õ ÷ùüö ø üö úþ üö ýùü øüÿ ù õö üöüö ÿ ôüý ü ü õý õü úõ ÷ üüö ýùü

A.2.30

õö üö ÿ ÿþ üö ÿ üö û õ ùýû ùöüö úùö ÿûüú õýü

A.2.31

õö õú ü üöõö þ þû ôùýû ùö

B.2

ü ÷üö ü üö ÷ ü ýü ÷üö ü õ ýü

B.2.1

pembang

þöüö üö õ õ ù ü÷ ü üö û üö ú ÷ üö

balai

õýü

B.2.2

õ øüö ÿþöüö üö õ õ ù ü ÷ üüö ü üö õ ýü

B.2.3

pembang

þöüö üö õ õ ù ü÷ ü üö ü üö þ ýü ü

úüö ù

B.2.4

pembang

þöüö üö õ õ ù ü÷ ü üö õ øþ ö ÿ õ ýü

B.2.5

pembang

þöüö õö õ ÷ ÿù ø ü ÷þ üö ú õ÷ø ü ÷þ ûüö

B.2.6

pembang

þöüö üö õ õ ù ü÷ ü üö ÷þ ü

ibadah;

2

Bidang

B.2.6

pembang

þöüö üö õ õ ù ü÷ ü üö ÷þ ü

ibadah;

B.2.7

pengelolaan pemakaman

õ ýü üö õ úù ü ýüö

B.2.8

pembang

þöüö üö õ õ ù ü÷ ü üö ýüö ùúü ý ù

lingk

þ ö ÿ üö

B.2.9

pembang

þöüö üö õöÿõ üüöüù÷ øõ÷ ýù

be

÷ýû ü üõý ü

B.2.10

pembang

þöüö üö õ õ ù ü÷ ü üö ù÷ùÿ ü ýù ú õ÷ ýùõ ÷

B.2.11

pembang

þöüö üö õ õ ù ü÷ ü üö ü üöÿüö

õý ü

B.2.12

pembang

þöüö üö õ õ ù ü÷ ü üö úü üö õý ü

B.2.13

pembang

þöüö üö õ õ ù ü÷ ü üö ýõ ÷ú ü

pengelolaan

ý üþ÷üö þöúþ û ø þ ùü üõ ÷ùûüöüö

B.2.14

pengembangan

ý ü÷ üö üüö ÷ üý ü ÷üö ü ÷ þ û ýù

di

õ ýü

B.2.15

üý ù ùú ü ýù õ ø õ ÷ùüö ø üö úþ üö õ þ ÿü ÷ üö ÷þ ü ô

B.2.16

üý ù ùú ü ýù õ ø üö ÿþ ö üö÷þ ü ûü ÷õö ü

bencana;

2

Bidang

B.2.16

bencana;

B.2.17

üý ù ùú ü ýù õ ø üö ÿþ ö üö üö õö ÿ õ ü üö

úõ ü úôüöùþù üö üû þ ý

(

ô

)

þ ö ü

B.2.18

üý ù ùú ü ýù õ ø üö ÿþ ö üöô ô

B.2.19

õ øüö ÿþöüö ü ÷üö ü üö ÷ ü ýü ÷üö ü õ õ ÷ ùöúü üö õ ýü

B.2.20

(24)

B.2.21

! " #

C.2

Pengembangan Ekonomi Lokal Desa ;

C.2.1

pembangunan dan pengelolaan pasar Desa dan

kios Desa;

C.2.2

pembangunan dan pengelolaan tempat

pelelangan ikan milik Desa;

C.2.3

pengembangan usaha mikro berbasis Desa;

C.2.4

pendayagunaan keuangan mikro berbasis Desa;

C.2.5

pembangunan dan pengelolaan keramba jaring

apung dan bagan ikan;

C.2.6

pembangunan dan pengelolaan lumbung

pangan dan penetapan cadangan pangan Desa;

C.2.7

penetapan komoditas unggulan pertanian dan

perikanan Desa;

C.2.8

pengaturan pelaksanaan penanggulangan hama

dan penyakit pertanian dan perikanan secara

terpadu;

C.2.9

penetapan jenis pupuk dan pakan organik

untuk pertanian dan perikanan;

2

Bidang Pelaksanaan

Pembangunan

C.2.9

penetapan jenis pupuk dan pakan organik

untuk pertanian dan perikanan;

C.2.10

pengembangan benih lokal;

C.2.11

pengembangan ternak secara kolektif;

C.2.12

pembangunan dan pengelolaan energi mandiri;

C.2.13

pendirian dan pengelolaan BUM Desa;

C.2.14

pembangunan dan pengelolaan tambatan

perahu;

C.2.15

pengelolaan padang gembala;

C.2.16

pengembangan wisata Desa di luar rencana

induk pengembangan pariwisata kabupaten;

C.2.17

pengelolaan balai benih ikan;

C.2.18

pengembangan teknologi tepat guna pengolahan

hasil pertanian dan perikanan; dan

C.2.19

pengembangan sistem usaha produksi

pertanian yang bertumpu pada sumberdaya,

kelembagaan dan budaya lokal;

C.2.20

Fasilitasi pemasaran produk Usaha Mikro Kecil

;

2

Bidang Pelaksanaan

Pembangunan

C.2.20

Fasilitasi pemasaran produk Usaha Mikro Kecil

;

C.2.21

Pengelolaan kelompok usaha ekonomi

produktif;

C.2.22

Fasilitasi permodalan bagi UMK (usaha mikro

kecil);

C.2.23

Penguatan kapasitas kelompok UMK;

C.2.24

Pengembangan Kelembagaaan Petani local ;

C.2.25

Pengelolaan jaringan irigasi tingkat usaha tani

dan jaringan irigasi tingkat desa;

(25)

C.2.26

Pemasyarakatan pupuk organik;

C.2.27

Pengembangan lumbung pangan;

C.2.28

Fasilitasi modal usaha tani;

C.2.29

Fasilitasi/membantu penyediaan benih/bibit

unggul;

C.2.30

Pengelolaan hutan desa, kecuali hutan desa

memiliki pungsi khusus;

C.2.31

Penghijauan dan konservasi tanah yang

disediakan dari kebun bibit desa;

C.2.32

Pelestarian kebun bibit desa;

C.2.33

Pengelolaan turus jalan desa;

C.2.34

Pengembangan hasil hutan bukan kayu sesuai

potensi lokal desa yang berlokasi pada hutan

rakyat/hutan desa/wana wisata desa

D.2

Pemanfaatan Sumber Daya Alam dan

Lingkungan Desa ;

D.2.3

pemeliharaan hutan bakau;

D.2.4

perlindungan mata air;

D.2.5

pembersihan daerah aliran sungai;

D.2.6

perlindungan terumbu karang;

D.2.7

kegiatan lainnya sesuai kondisi desa.

D.2.8

Pengawasan terhadap kegiatan dan usaha yang

berdampak terhadap lingkungan hidup desa;

D.2.9

Pengaturan, pengendalian, pelestarian

lingkungan dan tata guna lahan desa;

D.2.10

Pengelolaan persampahan di tingkat desa;

D.2.11

Fasilitasi pembentukan Kelompok Peduli

Lingkungan di desa;

D.2.12

Melestarikan ekosistem dan lingkungan hidup;

3.1

membina keamanan, ketertiban dan

ketenteraman wilayah dan masyarakat Desa;

3.2

membina kerukunan warga masyarakat Desa;

3.3

memelihara perdamaian, menangani konflik

dan melakukan mediasi di Desa;

3.4

melestarikan dan mengembangkan gotong

royong masyarakat Desa ;

2

Bidang Pelaksanaan

Pembangunan

3. Bidang Pembinaan

Kemasyarakatan Desa

3.4

melestarikan dan mengembangkan gotong

royong masyarakat Desa ;

3.5

Pelaksanaan Penyuluhan ttg KB ;

3.6

Pelaksanaan Pembinaan akseptor KB ;

3.7

Pengelolaan kelompok-kelompok bina-bina

keluarga ;

3.8

Fasilitasi keikut sertaan RTM dalam program

KB;

3.9

Fasilitasi ketrampilan produktif bagi keluarga

prasejahtera;

3.10

Fasilitasi bantuan pelayanan kesehatan

keluarga bagi RTM ;

(26)

3.11

$ %&' %() *&' *&+ *, *& *- *& . , *+ * ,*& */0*1 , *' *

(27)

4.16

D EFG EHI JK L HM LH NE HO J LILH P Q O LHRS LSR

kema

S T L Q LKLIL H MR MES L U

4.17

D E HR HOK LILH NE QL H S EQIL FLST L Q LKLI

M LVLF

kebijakan peme

QR HILW LH U

4.18

D EFG EHI JK L HM LH XLSRVRI LSR KEVPF NPK

pe

QVR HM J HO LH LH LK M ES L U

4.19

D EFG EHI JK L HM LH

XLSRVRI LSR YP Q JF

L HLKMES L U

4.20

D EFG EQ MLT L LH F LS T L Q LKLI G EQ GLS RS O EH ME Q U

4.21

D E QVR HM J HO LH

KPQG LH K EK E QLS L H

ZE Q GLSRS [EHM EQM LH \HLK MR M ESL U

4.22

D EVLK S L HL LH NE HO LQ JS JI LF LL H O EHM EQ U

4.23

D E HO EVPVL L HDEF GE QM LT L L HM LH ]ES E^L WIEQ L LH ]EVJL Q OL U

4.24

D E HO EVPVL L H

P GT EK _RSLIL FRVRK

MES L U ML H

4.25

XLS RVRILSR N EVLK JJS L WL NL QR_RSLIL MR M ESL`

] aD\ b\ ca d\ e

4. Bidang

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Kewenangan Desa adalah kewenangan yang dimiliki Desa meliputi kewenangan di bidang penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa, Pembinaan

Kewenangan Desa adalah kewenangan yang dimiliki Desa meliputi kewenangan di bidang penyelenggaraan pemerintahan desa, pelaksanaan pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan

Kewenangan Desa adalah kewenangan yang dimiliki Desa meliputi kewenangan di bidang penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa, Pembinaan

Kewenangan Desa adalah kewenangan yang dimiliki Desa meliputi kewenangan di bidang penyelenggaraan Pemerintah Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa, Pembinaan

Kewenangan Desa adalah kewenangan yang dimiliki desa meliputi kewenangan di bidang penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa, Pembinaan

Kewenangan Desa adalah kewenangan yang dimiliki desa meliputi kewenangan dibidang penyelenggaraan Pemerintahan Desa, Pelaksanaan Pembangunan Desa, Pembinaan

Kewenangan Desa adalah kewenangan yang dimiliki Desa meliputi kewenangan di bidang penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa,

Kewenangan Desa adalah kewenangan yang dimiliki desa meliputi kewenangan di bidang penyelenggaraan Pemerintah Desa, pelaksanaan pembangunan desa, pembinaan