Retribusi Pelayanan Pasar

Teks penuh

(1)

PEMERINTAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG NOMOR 10 TAHUN 2005

TENTANG

RETRIBUSI PELAYANAN PASAR

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA  BUPATI PARIGI MOUTONG,

Menimbang :

Mengingat :

a. bahwa dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab, untuk melaksanakan kegiatan pemerintahan dan pembangunan di bidang perekonomian, maka perlu di tetapkan dasar­dasar retribusi pasar ;

b. bahwa   salah   satu   kewenangan   Pemerintah   adalah   melakukan pengelolaan   pasar   yang   dilaksanakan   secara   sederhana,   efektif berdasarkan kemampuan masyarakat dan aspek keadilan;  

c. bahwa   berdasarkan   pertimbangan   sebagaimana   dimaksud   dalam huruf   a   dan   huruf   b,perlu   membentuk   Peraturan   Daerah   tentang Retribusi Pelayanan Pasar.

1. Undang­Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran   Negara   Republik   Indonesia   tahun   1981   Nomor   76, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209); 

(2)

tahun   2000   (Lembaran   Negara   Republik   Indonesia   Nomor   246, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4048);

3. Undang­Undang   Nomor   10   Tahun   2002   tentang   Pembentukan Kabupaten   Parigi   Moutong   Di   Propinsi   Sulawesi   Tengah   (Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 2002 Nomor 23 Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4185);

4. Undang­Undang   Nomor   10   Tahun   2004   tentang   Pembentukan Peraturan   Perundang­Undangan   (Lembaran   Negara   Republik Indonesia   tahun   2004   Nomor   53,   Lembaran   Negara   Republik Indonesia Nomor 4389);

5. Undang­Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran   Negara   Republik   Indonesia   tahun   2004   Nomor   125 Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437);

6. Peraturan   Pemerintah   Nomor   66   Tahun   2001   tentang   Retribusi Daerah   (Lembaran   Negara   Republik   Indonesia   Tahun   2001   Nomor 119, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4139); 

7. Peraturan   Pemerintah   Nomor   27   Tahun   1983   tentang   Pelaksanaan Undang­Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran   Negara   Republik   Indonesia   Tahun   1983   Nomor   36, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3258); 

8. Keputusan   Menteri   Dalam   Negeri   Nomor   43   Tahun   1999   tentang Sistem   Dan   Prosedur   Adminitrasi   Pajak   Daerah   ,   Retribusi   Daerah Dan Penerimaan Pendapatan Lain – lain;

9. Peraturan Dearah  Kabupaten Parigi  Moutong Nomor  1 Tahun  2004 tentang   Kewenangan   Kabupaten   Parigi   Moutong   Sebagai   Daerah Otonom (Lembaran Daerah tahun 2004 Nomor 4 seri E Nomor 3 );

(3)

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG dan

BUPATI PARIGI MOUTONG

MEMUTUSKAN :

Menetapkan  : PERATURAN DAERAH TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PASAR

BAB I

KETENTUAN UMUM Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan :

1. Pemerintah   Daerah   adalah   Bupati   dan   Perangkat   Daerah   sebagai   unsur   penyelengara Pemerintahan daerah.

2. Bupati adalah Bupati Parigi Moutong.

3. Pejabat   adalah   pegawai   yang   diberi   tugas   tertentu   di   bidang   Retrebusi   Daerah   sesuai dengan peraturan perundang –undangan yang berlaku.

4. Pasar   adalah   tempat   yang   diberi   batas   tertentu   dan   terdiri   atas   halaman/pelataran, bangunan berbentuk Los atau Kios dan bentuk lainnya yang dikelola oleh Pemerintah Daerah dan khusus disediakan untuk pedagang.

5. Los adalah bangunan tetap dalam dilingkungan Pasar berbentuk bangunan memanjang tanpa dilengkapi dinding.

6. Kios adalah bangunan di Pasar yang beratap dan dipisahkan satu dengan yang lainnya dengan dinding pemisah mulai dari lantai sampai dengan langit­langit yang digunakan untuk usaha berjualan.

7. Retribusi   Daerah   yang   selanjutnya   disebut   Retribusi   adalah   pungutan   Daerah   sebagai pembayaran  atas jasa  atau pemberian  izin tertentu  yang khusus  disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.

8. Jasa Umum adalah  retribusi atas jasa yang disediakan atau diberikan oleh Pemerintah  Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh  orang pribadi atau badan.

(4)

10 Wajib Retribusi adalah orang pribadi atau badan yang menurut peraturan perundang­ undangan Retribusi Daerah diwajibkan untuk melakukan pembayaran Retribusi Daerah. 11 Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang

melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama  dan  dalam  bentuk  apapun,  firma,  kongsi,  koperasi,  dana  pension,  persekutuan, perkumpulan, yayasan organisasi massa, organisasi social politik, atau organisasi yang sejenis, lembaga, bentuk usaha tetap, dan bentuk badan lainnya.  

12 Masa Retribusi adalah jangka waktu tertentu yang merupakan batas waktu bagi Wajib Retribusi untuk  memanfaatkan jasa pelayanan fasilitas pasar.

12. Surat Pendaftaran Obyek Retribusi Daerah yang selanjutnya dapat disingkat SPdORD adalah   surat   yang   dipergunakan   oleh   Wajib   Retribusi   untuk   melaporkan   data   obyek Retribusi dan wajib Retribusi sebagai dasar perhitungan dan pembayaran Retribusi yang terutang menurut peraturan perundang­undangan Retribusi Daerah.

13. Surat   Ketetapan   Retribusi   Daerah   untuk   selanjutnya   disingkat   SKRD   adalah   Surat Ketetapan Retribusi yang menentukan besarnya pokok retribusi.

14. Surat Ketetapan Retribusi Daerah Kurang Bayar untuk selanjutnya disingkat SKRDKB adalah   Surat   Ketetapan   Retribusi   yang   menentukan   besarnya   jumlah   Retribusi   yang terutang,   jumlah   Kredit   Retribusi,   jumlah   kekurangan   pembayaran   pokok   Retribusi, besarnya sanksi administrasi dan jumlah yang masih harus dibayar.

15. Surat   Ketetapan   Retribusi   Daerah   Kurang   Bayar   Tambahan   selanjutnya   disingkat SKRDKBT   adalah   Surat   Ketetapan   Retribusi   yang   menentukan   tambahan   atas   jumlah Retribusi yang telah ditetapkan.

16. Surat   Ketetapan   Retribusi   Daerah   Lebih   Bayar   untuk   selanjutnya   disingkat   SKRDLB adalah   surat   Ketetapan   Retribusi   yang   menentukan   jumlah   kelebihan   pembayaran retribusi karena jumlah kredit retribusi lebih besar dari pada Retribusi yang terutang atau tidak seharusnya terutang.

17. Surat Tagihan Retribusi Daerah untuk selanjutnya disingkat STRD adalah surat untuk melakukan   tagihan   Retribusi   dan/atau   sanksi   administrasi   berupa   bunga   dan/atau denda.

18. Surat Keputusan Keberatan adalah Surat Keputusan atas keberatan terhadap SKRD atau dokumen   lain   yang   dipersamakan   SKRDKBT   atau   SKRDLB   yang   diajukan   oleh   Wajib Retribusi.

19. Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan untuk mencari, mengumpulkan,  mengolah data   dan/atau   keterangan   lainnya   untuk   menguji   kepatuhan   pemenuhan   kewajiban Retribusi   dan   untuk   tujuan   lain   dalam   rangka   melaksanakan   ketentuan   perundang­ undangan Rertibusi Daerah.

(5)

BAB II

NAMA, OBYEK DAN SUBYEK RETRIBUSI Pasal 2

(1) Nama   :   Retribusi   Pelayanan   Pasar   adalah   pungutan     retribusi   atas   pelayanan penyediaan   fasilitas   pasar   tradisional/sederhana   yang   berupa   halaman/pelataran,   los dan/atau   kios   yang   dikelola   oleh   Pemerintah   Daerah   dan   khusus   disediakan   untuk pedagang.

(2) Retribusi Pasar sebagaimana disebutkan pada ayat (1) meliputi : a. Retribusi tempat berusaha;

b. Retribusi harian;

c. Retribusi keamanan, ketertiban, pemeliharaan kebersihan halaman.

Pasal 3

(1) Obyek   Retribusi   adalah   pelayanan   penyediaan   fasilitas   pasar   tradisional/sederhana berupa halaman/pelataran, los dan atau kios yang khusus disediakan untuk pedagang; (2) Tidak termasuk obyek retribusi adalah pelayanan penyediaan fasilitas pasar yang dimiliki

dan/atau dikelola oleh pihak swasta maupun Perusahaan Daerah.

Pasal 4

Subyek Retribusi adalah orang pribadi atau   badan yang menggunakan penyediaan fasilitas pasar.

BAB III

GOLONGAN RETRIBUSI Pasal 5

Retribusi Pelayanan Pasar digolongkan sebagai Retribusi Jasa Umum.

BAB IV

CARA MENGUKUR TINGKATAN PENGGUNAAN JASA Pasal 6

Tingkat   penggunaan   jasa   diukur   berdasarkan   luas,   jenis   tempat   dan   kelas   pasar   yang digunakan

BAB V

PRINSIP DAN SASARAN

(6)

(1) Prinsip dan sasaran dalam penetapan struktur dan besarnya tarif retribusi dimaksudkan untuk   menutup   sebagian   atau   seluruh   biaya   penyelenggaraan   penyediaan   pelayanan fasilitas pasar dengan mempertimbangkan kemampuan masyarakat dan aspek keadilan. (2) Biaya   sebagaimana   dimaksud   pada   ayat   (1)   meliputi   biaya   belanja   operasi,   biaya

pemeliharaan dan belanja modal yang berkaitan dengan penyediaan pelayanan pasar. 

BAB VI

STRUKTUR DAN BESARNYA TARIF Pasal 8

(1) Struktur tarif digolongkan berdasarkan jenis fasilitas yang terdiri atas halaman/pelataran, los dan/ atau kios, luas lokasi dan jangka waktu pemakaian.

(2) Lokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digunakan untuk menentukan kelas pasar. (3) Kelas Pasar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Bupati. (4) Struktur dan besarnya tarif ditetapkan sebagai berikut :

a. Sewa Tempat Usaha :

Lokasi Jenis Bangunan Luas Tarif Pasar Kelas I a. Pemakaian Los

 Semi

Permanen

 Perm

anen

b. Pemakaian Kios

 Semi tiap bulan / m2

Rp. 2.500,­ tiap bulan / m2

Rp. 3.000,­ tiap bulan / m2

Rp. 4.000,­ tiap bulan / m2

(7)

c. Pelataran

Pasar Kelas II a. Pemakaian Los

 Semi

Permanen

 Perm

anen

b. Pemakaian Kios

 Semi

Permanen

 Perm

anen

c. Pelataran

2 m x 2 m tiap bulan / m2

Rp. 2.000,­ tiap bulan / m2

Rp. 2.500,­ tiap bulan / m2

Rp. 3.000,­ tiap bulan / m2

Rp. 700,­ tiap bulan / m2

Pasar Kelas III a. Pemakaian Los

 Semi tiap bulan / m2

(8)

b. Pemakaian Kios

 Semi

Permanen

 Perm

anen

c. Pelataran

3 m x 4 m tiap bulan / m2

Rp. 1.750,­ tiap bulan / m2

Rp. 600,­ tiap bulan / m2

Pasar Kelas IV a. Pemakaian Los

 Semi

Permanen

 Perm

anen

b. Pemakaian Kios

 Semi tiap bulan / m2

Rp. 700,­ tiap bulan / m2

Rp. 700,­ tiap bulan / m2

Rp. 1.100,­ tiap bulan / m2

(9)

c. Pelataran

3 m x 3 m

b. Untuk Pemeliharaan Keamanan, Ketertiban dan Kebersihan Pasar, kepada pemakai  kios dan los dipungut dana dengan tarif sebagai berikut :

1. Pasar Kelas I Rp.  6.000/tiap bulan 2. Pasar Kelas II Rp.  5.000/tiap bulan 3. Pasar Kelas III Rp.  4.000/tiap bulan 4. Pasar Kelas IV Rp.  3.000/tiap bulan c. Besarnya Bea Pasar ditetapkan sebagai berikut :

1. Pasar Kelas I

a. Penjual/pedagang pada Kios Rp. 1.000/tiap hari b. Penjual/pedagang pada Los  Rp.    700/tiap hari c. Penjual/pedagang pelataran Rp.    500/tiap hari 2. Pasar Kelas II

a. Penjual/pedagang pada Kios Rp. 800/tiap hari b. Penjual/pedagang pada Los Rp. 700/tiap hari c. Penjual/pedagang pelataran Rp. 300/tiap hari

3. Pasar Kelas III

a. Penjual/pedagang pada Kios Rp. 600/tiap hari b. Penjual/pedagang pada Los Rp. 400/tiap hari c. Penjual/pedagang pelataran Rp. 200/tiap hari 4. Pasar Kelas IV

a. Penjual/pedagang pada Kios Rp. 500/tiap hari b. Penjual/pedagang pada Los Rp. 300/tiap hari c. Penjual/pedagang pelataran Rp. 200/tiap hari

(5) Pemerintah Daerah dilarang melakukan pungutan atau dengan sebutan lain diluar yang telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah ini.

BAB VII

WILAYAH PEMUNGUTAN Pasal 9

Retribusi yang terutang dipungut di Wilayah Kabupaten Parigi Moutong.

BAB VII

(10)

Masa Retribusi adalah jangka waktu yang lamanya 1 (satu) bulan atau ditetapkan dengan Peraturan Bupati.

Pasal 11

Saat   Retribusi   terutang   adalah   pada   saat   ditertibkanya   SKRD   atau   dokumen   lain   yang dipersamakan.

BAB VIII

SURAT PENDAFTARAN Pasal 12

(1) Wajib Retribusi wajib mengisi SPdORD.

(2) SPdORD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus diisi dengan jelas, benar dan lengkap serta ditandatangani oleh Wajib Retribusi atau kuasanya.

(3) Bentuk, isi serta tata cara pengisian dan penyampaian SPdORD sebagaimana dimaksud pada ayat  (1) ditetapkan dengan Peraturan Bupati.

BAB IX

PENETAPAN RETRIBUSI Pasal 13

(1) Berdasarkan SPdORD sebagaimana dimaksud dalam pasal 12 ayat (1) ditetapkan Retribusi terutang dengan menerbitkan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.

(2) Bentuk,   isi   serta   tatacara   penerbitan   SKRD   atau   dokumen   lain   yang   dipersamakan ditetapkan dengan Peraturan Bupati.

BAB X

TATA CARA PEMUNGUTAN Pasal 14

(1) Pemungutan Retribusi tidak dapat diborongkan.

(2) Retribusi dipungut dengan menggunakan SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan atau SKRDKBT.  

BAB XI

SANKSI ADMINISTRASI Pasal 15

Dalam  hal Wajib  Retribusi tidak  membayar tepat  pada waktunya  atau kurang  membayar, dikenakan   sanksi   Administrasi   berupa   bunga   sebesar   2   %   (dua   persen)   setiap   bulan   dari Retribusi yang terutang atau kurang dibayar dan ditagih dengan menggunakan STRD.

BAB XII

(11)

Pasal 16

(1) Pembayaran Retribusi yang terutang dilunasi sekaligus.

(2) Retribusi   yang   terutang   dilunasi   selambat­lambatnya   15   (lima   belas)   hari   sejak diterbitkannya SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan, SKRDKBT dan STRD.

(3) Tata cara pembayaran, penyetoran, tempat pembayaran Retribusi diatur dengan Peraturan Bupati.

BAB XIII

TATA CARA PENAGIHAN Pasal 17

(1) Pengeluaran   surat   teguran/peringatan/surat   lain   yang   sejenis   sebagai   awal   tindakan pelaksanaan   penagihan   Retribusi   dikeluarkan   7   (tujuh)   hari   sejak   jatuh   tempo pembayaran.

(2) Dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari sejak tanggal surat teguran/peringatan/surat yang sejenis, Wajib Retribusi harus melunasi Retribusi yang terutang.

(3) Surat teguran/peringatan/surat lain yang sejenis sebagaimana dimaksud pada   ayat (1) dikeluarkan oleh pejabat yang ditunjuk.

BAB XIX KEBERATAN

Pasal 18

(1) Wajib   Retribusi   dapat   mengajukan   keberatan   hanya   kepada   Bupati   atau   Pejabat   yang ditunjuk atas SKRD atau dokumen lain yang dipersamakan.

(2) Keberatan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia dengan disertai alasan­alasan yang jelas.

(3) Dalam   hal   Wajib   Retribusi   mengajukan   keberatan   atas   ketetapan   Retribusi,   Wajib Retribusi harus dapat membuktikan ketidakbenaran ketetapan Retribusi tersebut.

(4) Keberatan harus diajukan dalam waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak tanggal SKRD diterbitkan, kecuali apabila Wajib Retribusi dapat menunjukan bahwa jangka waktu itu tidak dapat dipenuhi karena keadaan di luar kekuasaannya.

(5) Keberatan yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) tidak dianggap sebagai surat keberatan sehingga tidak dipertimbangkan.

(6) Pengajuan   keberatan   tidak   menunda   kewajiban   membayar   Retribusi   dan   pelaksanaan penagihan Retribusi.

Pasal 19

(1) Bupati   dalam   jangka   waktu   paling   lama   3   (tiga)   bulan   sejak   tanggal   surat   keberatan diterima harus memberi keputusan atas keberatan yang diajukan.

(12)

(3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah lewat dan Bupati tidak memberikan suatu keputusan, keberatan yang diajukan tersebut dianggap dikabulkan.

BAB XX

PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN Pasal 20

(1) Atas   kelebihan   pembayaran   Retribusi,   Wajib   Retribusi   dapat   mengajukan   permohonan pengembalian kepada Bupati.

(2) Bupati dalam jangka waktu paling lama 6 (enam) bulan sejak diterimanya permohonan pengembalian   kelebihan   pembayaran   Retribusi   sebagaimana   dimaksud   pada   ayat     (1) harus memberikan keputusan.

(3) Apabila jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah dilampaui dan Bupati tidak   memberikan   suatu   keputusan,   permohonan   pengembalian   kelebihan   Retribusi dianggap dikabulkan dan SKRDLB harus diterbitkan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) bulan.

(4) Apabila   Wajib   Retribusi   mempunyai   utang   Retribusi   lainnya,   kelebihan   pembayaran Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat  (1) langsung diperhitungkan untuk melunasi terlebih dahulu utang Retribusi tersebut.

(5) Pengembalian   kelebihan   pembayaran   Retribusi   sebagaimana   dimaksud   pada   ayat     (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan sejak diterbitkannya SKRDLB. (6) Apabila   pengembalian   kelebihan   pembayaran   Retribusi   dilakukan   setelah   lewat   jangka

waktu 2 (dua) bulan, Bupati memberikan imbalan bunga sebesar 2 % (dua persen) sebulan atas keterlambatan pembayaran kelebihan Retribusi.

Pasal 21

(1) Permohonan   pengembalian   kelebihan   pembayaran   Retribusi   diajukan   secara   tertulis kepada Bupati dengan sekurang­kurangnya menyebutkan :

a. Nama dan alamat Wajib Retribusi; b. Masa Retribusi;

c. Besarnya kelebihan pembayaran; d. Alasan yang singkat dan jelas.

(2) Permohonan pengembalian kelebihan pembayaran Retribusi disampaikan secara langsung atau melalui pos tercatat.

(3) Bukti  penerimaan oleh  Pejabat Daerah  atau bukti  pengiriman pos  tercatat merupakan bukti saat permohonan diterima oleh Bupati atau Pejabat yang ditunjuk.

Pasal 22

(13)

(2) Apabila kelebihan pembayaran Retribusi diperhitungkan dengan utang retribusi lainnya, sebagaimana   dimaksud   dalam   pasal   20   ayat   (4),   pembayaran   dilakukan   dengan   cara pemindahbukuan juga dan berlaku sebagai bukti pembayaran.

BAB XXI

PENGURANGAN, KERINGANAN DAN PEMBEBASAN RETRIBUSI Pasal 23

(1) Bupati   dapat   memberikan   pengurangan   keringanan   dan   pembebasan   retribusi. Pengurangan, keringanan dan pembebasan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dengan memperhatikan kemampuan Wajib Retribusi.

(2) Tata   cara   pengurangan,   keringanan   dan   pembebasan   Retribusi   ditetapkan   dengan Peraturan Bupati.

BAB XXII

KADALUARSA PENAGIHAN Pasal 24

(1) Hak untuk melakukan penagihan Retribusi kadaluarsa setelah melampaui waktu 3 (tiga) tahun   terhitung   sejak   saat   terutangnya   Retribusi,   kecuali   apabila   Wajib   Retribusi melakukan tindak pidana di bidang retribusi.

(2) Kadaluarsa penagihan Retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tertangguh  apabila: a. diterbitkan Surat Teguran atau;

b. ada pengakuan utang Retribusi dari Wajib Retribusi baik langsung maupun tidak langsung.

BAB XXIII PENYIDIKAN

Pasal 25

(1) Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu dilingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus sebagai penyidik untuk melakukan penyidikan tindak pidana dibidang retribusi daerah   sebagaimana   dimaksud   dalam   Undang­Undang   Nomor   8   Tahun   1981   tentang Hukum Acara Pidana.

(2) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah:

a.   Menerima,   mencari,   mengumpulkan   dan   meneliti   keterangan   atau laporan berkenan dengan tindak pidana di bidang retribusi daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lebih lengkap dan jelas.

(14)

c.   Meminta   keterangan   dan   bahan   bukti   dari   orang   pribadi   atau   badan sehubungan dengan tindak pidana dibidang retribusi daerah;

d.  Melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan, mencatat dokumen­dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut;

e.  Meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang retribusi daerah;

f.   Menyuruh berhenti / melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat   pada   saat   peneriksaan   sedang   berlangsung   dan   memeriksa   identitas   orang dan/atau dokumen yang dibawah sebagaimana yang dimaksud dalam huruf c;

g.   Memotret   seseorang   yang   berkaitan   dengan   tindak     pidana   retribusi daerah;

h.   Memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi;

i.   Memangil   orang   untuk   didengar   keterangannya   dan   diperiksa   sebagai tersangka atau saksi menghentikan penyidikan;

j.  Melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana dibidang retribusi menurut hukum yang bertanggungjawab.

(3) Penyidik sebagaimana di maksud pada ayat (1) membertahukan di mulainya penyidikan dan menyampaikan hasil   penyidikan   kepada penuntut umum melalui Penyidik Pejabat Polisi Negara Repbulik Indonesia, sesuai dengan ketentuan yang diataur dalam Undang­ Undang  Hukum Acara Pidana yang berlaku.

BAB XXIV KETENTUAN PIDANA

Pasal 26

(1) Wajib   Retribusi   yang   tidak   melaksanakan   kewajiban   sehingga   merugikan   keuangan Daerah diancam pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak 4 (empat) kali jumlah Retribusi terutang.

(2) Tindak pidana yang dimaksud pada ayat (1) adalah pelanggaran.

BAB XXV

KETENTUAN PENUTUP Pasal 27

Hal­hal   yang   belum   diatur   dalam   Peraturan   Daerah   ini,   sepanjang   mengenai   teknis pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.

Pasal 28

(15)

Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Parigi Moutong.

Diundangkan di Parigi pada tanggal

SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG,

H. RUSTAM DG. RAHMATU, BE, SE, Msi

Pembina Utama Muda NIP. 010 078 615

Ditetapkan di Parigi Pada Tanggal

BUPATI PARIGI MOUTONG,

LONGKI  DJANGGOLA

(16)

ATAS

KABUPATEN PARIGI MOUTONG NOMOR 10 TAHUN 2005

TENTANG

RETRIBUSI PELAYANAN PASAR

I.  UMUM

Bahwa Retribusi Pasar merupakan sumber Pendapatan yang sangat penting   guna membiayai   penyelenggaraan   Pemerintah   Daerah   dan   Pembangunan   Daerah   untuk memantafkan Otonomi Daerah yang nyata , dinamis , serasi dan bertanggung jawab dengan titik berat pada Daerah Kabupaten Parigi Moutong.

Dalam rangka pembaruan sistem Retribusi Daerah yang mengarah pada sistim yang sederhanan, adil , efektif dan efisien yang dapat mengarahkan peran serta masyarakat dalam membiayai Pembangunan Daerah, maka telah ditetapkan Undang – undang Nomor  18 tahun 1997, tentang Retribusi Daerah sebagaimana  telah diubah dengan Undang – undang nomor 34 tahun 2000.

Dalam   melaksanakan   Undang­Undang   Nomor   18   tahun   1997   sebagaimana   telah diubah dengan Undang­Undang Nomor 34 Tahun 2000   Dimaksud maka perlu menetapkan peraturan   Daerah   tentang   retribusi   pelayanan   pasar   yang   disesuaikan   dengan   peraturan perundang – undangan yang berlaku.

Dengan   berlakunya   peraturan   Daerah   ini   diharapkan   penerimaan   Pendapatan Daerah   disektor   Retribusi   Daerah   akan   dapat   ditingkatkan   sehingga   akan   memberikan kontribusi   yang   lebih   besar   dalam   menunjang   pembiayaan   pembangunan   Daerah   di Kabupaten Parigi Moutong.

II. PASAL DEMI PASAL

Pasal 1

Cukup Jelas Pasal 2

Cukup Jelas Pasal 3

Cukup Jelas Pasal 4

Cukup Jelas Pasal 5

Cukup Jelas Pasal 6

(17)

Pasal 7

Cukup Jelas Pasal 8

Cukup Jelas Pasal 9

Cukup Jelas Pasal 10

Cukup Jelas Pasal 11

Yang   dimaksud   dengan   dokumen   lain   yang   dipersamakan   antara   lain   berupa karcis masuk, kupon dan kartu langganan. 

Pasal  12

Cukup Jelas Pasal  13

Cukup Jelas Pasal  14

Ayat (1)

Yang dimaksud tidak dapat diborongkan adalah   bahwa seluruh proses kegiatan pemungutan Retribusi tidak dapat diserahkan kepada pihak ketiga, namun dalam pengertian ini bukan berarti bahwa Pemerintah Daerah tidak boleh bekerjasama dengan pihak ketiga. Dengan sangat selektif dalam proses pengurusan retribusi, Pemerintah   Daerah   dapat   mengajak   bekerjasama   badan­badan   tertentu   yang karena   profesionalismenya   layak   dipercaya   untuk   ikut   melaksanakan   sebagian tugas   pemungutan   jenis   retribusi   secara   lebih   efisien.   Kegiatan   pemungutan retribusi yang tidak dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga adalah kegiatan penghitungan besarnya retribusi yang terutang, pengawasan penyetoran retribusi dan penagihan retribusi.

Ayat (2)

      Cukup Jelas Pasal  15

Cukup Jelas Pasal  16

Cukup Jelas Pasal  17

Cukup Jelas Pasal  18

Cukup Jelas Pasal  19

Cukup Jelas Pasal 20

(18)

Pasal   21 Cukup Jelas Pasal  22

Cukup Jelas Pasal  23

Cukup Jelas Pasal  24

Cukup Jelas Pasal  25

Cukup Jelas Pasal  26

Cukup Jelas Pasal  27

Cukup Jelas Pasal 28

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...