• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku Materi Peksiminas 11171052160412

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Buku Materi Peksiminas 11171052160412"

Copied!
186
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

ii |M a t e r i L o m b a P e k s i m i n a s X I t a h u n 2 0 1 2

Buku Tamu Museum Perjuangan ... 103

Doa Untuk Indonesia ... 105

Kerawang Bekasi... 107

Rakyat ... 108

DAFTAR LIRIK/NOTASI LAGU VOCAL GRUP ... 121

Losonk... 110

DAFTAR LIRIK LAGU POP HIBURAN PUTRA... 120

(3)

iii |M a t e r i L o m b a P e k s i m i n a s X I t a h u n 2 0 1 2

DAFTAR LIRIK LAGU POP HIBURAN PUTRI ... 127

Tegar ... 128

DAFTAR LIRIK LAGU DANGDUT PUTRA... 134

Pelaminan Kelabu ... 135

DAFTAR LIRIK LAGU DANGDUT PUTRI... 142

Cinta Berawan ... 143

DAFTAR LIRIK/NOTASI LAGU KERONCONG ... 151

Kr. Fantasi... 152

Kr. Senandung Bidari ... 153

Lg. Di Bawah Sinar Bulan Purnama... 154

Lg. Ombak Samudra ... 155

Lg. Tiga Biola... 156

Stb. Janjiku ... 157

Stb. Merdeka ... 158

DAFTAR LIRIK /NOTASI LAGU SERIOSA PUTRA ... 159

Cintaku Jauh di Pulau... 160

Gadis Bernyanyi di Cerah Hari... 164

Kisah Mawar di Malam Hari ... 167

Setitik Embun ... 171

Puisi Rumah Bambu ... 174

Segala Puji ... 176

(4)

iv |M a t e r i L o m b a P e k s i m i n a s X I t a h u n 2 0 1 2

DAFTAR MATERI LOMBA

PEKAN SENI MAHASISWA NASIONAL XI TAHUN 2012

MATARAM-NTB 1-6 JULI 2012

SENI SUARA

NO. TANGKAI SENI SIFAT JUDUL LAGU PENYANYI/PENCIPTA

1 VOCAL GRUP WAJIB 1. Losonk

2. Gelung Perada

WAJIB Simfoni Yang Indah Bob Tutupoli PILIHAN 1. Esok Kan Masih Ada

2. Nuansa Bening

(5)

v |M a t e r i L o m b a P e k s i m i n a s X I t a h u n 2 0 1 2

Cintaku Jauh di Pulau F.X. Sutopo & Chairil Anwar

WAJIB PUTRI

Gadis Bernyanyi di Cerah Hari

Mochtar Embut

PILIHAN 1. Kisah Mawar di Malam Hari

1 WAJIB PUTRA Jembatan Sutardji Calzoum Bachri

2 WAJIB PUTRI Selamat Pagi Indonesia Sapardi Djoko Damono

3 PILIHAN 1. Gergaji

5 Prodo Imitatio Arthur S. Nalan

6 Balada Sumarah Tentrem Lestari

7 Monolog Topeng Rahman Sabur

8 Dua Cinta N. Riantiarno

9 Kasir Kita Arifin C Noer

(6)

1 | tr om smns trm – N T B 2 0 1 2

DAFTAR NASKAH MONOLOG

Demokrasi ... 2

Blok ... 11

Tolong ... 16

Marsinah Menggugat ... 25

Prodo Imitatio ... 41

Balada Sumarah ... 49

Monolog Topeng ... 60

Dua Cinta ... 67

Kasir Kita ... 76

(7)

2 |tr om smns trm – N T B 2 0 1 2

Monolog

DEMOKRASI

(8)

3 |tr om smns trm – N T B 2 0 1 2

DEMOKRASI

Monolog Putu Wijaya

(DAPAT DIMAINKAN OLEH LELAKI MAUPUN PEREMPUAN)

SEORANG WARGA DESA TANG TANAHNYA KENA GUSUR MEMBAWA PELAKAT BERISI TULISAN DEMOKRASI.SETELAH MEMANDANG DAN PENONTON SIAP MENDENGAR ,IA BERBICARA LANGSUNG

Saya mencintai demokrasi. Tapi karena saya rakyat kecil, saya tidak kelihatan sebagai pejuang, apalagi pahlawan. Nama saya tak pernah masuk Koran. Potret saya tak jadi tontonan orang. Saya hanya berjuang dilingkungan RT gang Gugus Depan.

Di RT yang saya pimpin itu, seluruh warga pra demokrasi. Dengan beringas mereka akan berkoar kalau ada yang anti pada demokrasi. Dengan gampang saya bisa mengarahkan mereka untuk maju demi mempertahankan demokrasi. Semua kompak kalau sudah membela demokrasi.

MENGACUNGKAN PLAKATNYA. Demokrasi!

TERDENGAR SERUAN WARGA BERSEMANGAT MENYAMBUT: DEMOKRASI! Demokrasi!

SERUAN LEBIH HANGAT LAGI: Demokrasi!

SERUAN GENAP GEMPITA: DEMOKRASI! IA MENURUNKAN PLAKAT

Bener kan? Hanya salahnya sedikit, tak seorang pun yang benar-benar mengerti apa arti demokrasi.

MENIRUKAN SALAH SEORANG WARGANYA.

“Pokoknya demokrasi itu bagus. Sesuatu yang layak diperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Sesuatu yang memerlukan pengorbanan besar. Sesuatu yang menunjang suksesnya pembagunan menuju kemasyarakat yang adil dan makmur. “Kata mereka.

Saya kira itu sudah cukup. Saya sendiri tidak mampu menerangkan apa arti demokrasi. Saya tidak terlatih untuk menjadi juru penerang. Saya khawatir kalau batasan-batasan saya tentang demokrasi akan disalahgunakan. Apalagi kalau sampai terjadi perbedaan tafsir yang dapat menjadikannya kemudian bertolak belakang. Atau mungkin, karena saya sendiri tidak benar-benar tahu apa arti kata demokrasi.

(9)

4 |!"t#r$ %om&" '#(s$m$n"s )* + !"t"r"m – N T B 2 0 1 2 diadakan pelebaran jalan, sehingga setiap rumah akan dicabik dua meter. Petugas itu menghimbau, agar kami, seperti juga warga lain, merelakan kehilangan itu, demi kepentingan bersama.

MENIRUKAN PETUGAS

“ Walaupun hanya dua meter, tapi sumbangan saudara-saudara sangat penting artinya bagi pembangunan dan kepentingan kita bersama di masa yang akan datang. Atas nama kemanusiaan kami harap saudara-saudara mengerti.”

NAMPAK BINGUNG

Warga kami tercengang. Hanya dua meter? Kok enak saja mengambil dua meter, demi pembangunan siapa? Bagaimana kalau rumah kami hanya enam meter kali empat. Kalau diambil dua meter kali enam, rumah hanya akan cukup untuk gang. Kontan kami tolak. Bagaimana bisa hidup dalam gang dengan rata-rata 5 orang anak?

Tidak bisa itu tidak mungkin!

“Tapi ini sudah merupakan keputusan bersama,” kata petugas tersebut. Kami makin tercengang saja. Bagaimana mungkin membuat keputusan bersama tentang kami, tanpa rembukan dengan kami. Seperti raja Nero saja.

“Soalnya masyarakat disebelah sana,” lanjut petugas itu sambil menunjuk ke kampong disebelah,” mereka semua adalah karyawan yang aktif pabrik tekstil. Semua memerlukan jalan tembus yang bisa dilalui oleh kendaraan. Dengan difungsikannya gang Gugus Depan ini menjadi jalan yang tembus kendaraan bermotor , mobilitas warga yang hendak masuk pekerjaan atau pulang akan lebih cepat. Itu berarti efisiensi dan efektifitas kerja. Mikrolet dan bajaj akan bisa masuk. Itu akan merupakan sumbangan pada pembangunan. Dan pembangunan itu akan dinikmati juga oleh kampong disebelahnya, karena sudah diperhitungkan masak-masak.”

Diperhitungkan masak-masak bagaimana? Kami tidak pernah ditanya apa-apa? Tanah ini milik kami, bantah saya.

Tak lama kemudian, sejumlah warga dari kiri kanan kami datang. Mereka menghimbau agar kami mengerti persoalan mereka. Mereka mengatakan dengan sedikit pengorbanan itu, ratusan kepala keluarga dari kiri kanan kami akan terlolong. Mereka menggambarkannya sebagai perbuatan yang mulia. Setelah menghimbau mereka mengingatkan sekali lagi, betapa pentingnya pelebaran jalan itu. Setelah itu mereka mengisyaratkan betapa tak monolgnya kalau kami tidak menyetujui usul itu. Dan setelah itu mereka mewantu-wanti, kalau tidak bisa dikatakan mengancam.

(10)

5 |,-t.r/ 0om1- 2.3s/m/n-s 45 6 ,-t-r-m – N T B 2 0 1 2

Kalau saudara-saudara menghambat , menghalang-halangi atau berbuat yang tidak-tidak sehingga pelebaran jalan itu tak dilaksanakan,sesuatu yang buruk akan terjadi.

NAMPAK MAKIN BINGUNG

Berbuat yang tidak-tidak apa? Tidak-tidak apa? Kami terjepit diantara kepentingan orang banyak. Belum lagi kami sempat bikin rapat untuk melakukan perundingan ,pelebaran jalan itu sudah dilaksanakan.

TERDENGAR SUARA MESIN MENGERAM .

Tanpa minta ijin lagi, sebuah bulldozer muncul dan menggaruk dua meter wilayah RT kami. Warga kami panic. Jangan!Jangan! Ini tanah kami. Sejak nenek-moyang kami ada disini. Dulu kakek-kakek kami tanahnya lebar,tiap orang punya tegalan dan dua taiga rumah,tapi semua itu sudah dibagi-bagi anak cucu,ada yang sudah dijual. Tapi ini tanah warisan.

Buldozer iu tidak peduli. Mereka terus juang menggaruk. Jangan pak!Jangan! Kalau Bapak ambil dua meter rumah kami tinggal kandang ayam. Kami tidak mau kampung kami dijadikan jalan. Nanti kemana anak-anak kami akan berteduh?

Jangan-jangan pak kami belum selesai berunding !Kami tidak pernah bilang setuju!Diganti berapapun kami tidak akan mau. Ini harta kami satu-satunya sekarang!

Jangan pak!

Tapi bulldozer itu terus juga menyeruduk dengan buas. Sopirnya tidak peduli. Dia hanya menjalankan tugas. Akhirnya kami tidak bisa diam saja. Kami semua terpaksa melawan. Saya tidak bisa mencegah warga rame-rame keluar dari rumah. Mereka berdiri didepan bulldozer itu.

Ini tanah kami,akan kam pertahankan mati-matian. Dibeli ratusan juta juga kami tidak sudi,sebab kami tidak mau pindah dari tempat nenek moyang kami. Anak-anak dan perempuan kami pasang didepan ,sesudah itu orang-orangtua ,lalu saya dan bapak-bapaknya.

Baru bulldozer itu berhenti.

SUARA MESIN BERHENTI.SENYAP..

(11)

6 |78t9r: ;om<8 =9>s:m:n8s ?@ A 78t8r8m – N T B 2 0 1 2

Akhirnya mereka selesai berunding. Sopir itu kembali naik keatas bulldozermya. Dia tersenyum. Kami semua merasa lega. Mereka pasti baru menyadari mereka sudah salah. Mesin dihidupkan kembali.

KEMBALI SUARA MENGERAM

Kami menunggu dengan deg-degan. Waktu itu sebuah mobil colt datang. Sekitar sepuluh orang laki-laki meloncat turun dengan memakai pakaian seragam. Kami bersorak, melihat akhirnya aparat datang untuk melindungi rakyat. Tapi berbareng dengan itu bulldozer itu menerjang kembali kedepan menggaruk tanah. Perempuan-perempuan menjerit. Beberapa anak jatuh ,salah seorang diantaranya kena garuk. Untung ada yang meloncat naik dan menarik anak itu. Keadaan menjadi kacau.

Orang-orang berseragam itu berlarian datang. Ternyata mereka bukan petugas,tetapi satpam yang mau mengamankan penggarukan. Mereka membawa pentungan yang sudah siap untuk memukul. Kami jadi seperti kucing yang kepepet. Tanpa diberi komando lagi,kami melawan.

Anak-anak mengambil batu dan melempar. Asep ,bapak anak yang hampir kena garuk bulldozer meloncat keatas bulldozer mau menarik sopirnya. Tapi tiba-tiba sopir bulldozer itu menghunus parang yang disembunyikanya dibawah tempat duduk,langsung membacok pundak Asep.

Asep tumbang berlumuran darah .Perempuan-perempuan dan anak-amak menjerit, lalu kabur menyelamatkan diri. Kami para lelaki hampir saja mau menyerang,tapi kemudian sebuah truk datang. Puluhan orang yang kelihatan ganas-ganas melompat turun dan menerjang kami sambil membawa senjata tajam. Saya kenal salah satu diantaranya bajingan diproyek Senen.

Kami terpaksa mundur.Saya melarikan Asep kerumah sakit. Untung saja tidak lewat. Barang kali pembacoknya memang tidak berniat membunuh,hanya kasih peringatan.

MELETAKAN PLAKAT.LALU MEMBUKA PAKAIANYA,SALIN.

Saya bingung.Akhirnya setelah putar otak,saya beranikan diri mengunjungi direktur pabrik tekstil,majikan warga yang mengiginkan jalan pintas itu. Saya memakai batik(kebaya dan jarik kalau pemainya perempuan supaya kelihatan resmi dan sedikit dipandang.

MEMAKAI BATIK/ JARIK

Tapi susah sekali. Orangnya selalu tidak di tempat. Baru setelah mengaku petugas kelurahan,akhirnya saya diterima.

(12)

7 |BCtDrE FomGC HDIsEmEnCs JK L BCtCrCm – N T B 2 0 1 2 saya.Begitu saya semprot bahwa kami tidak sudi dipangkas,dia bingung. Kepalanya geleng-geleng seperti tak percaya. Lalu ia memangil sekretaris. Setelah berunding bisik-bisik, ia kembali memandangi saya seperti orang stress.

MENIRUKAN DIREKTUR PABRIK TEKSTIL YANG DIALEKNYA RADA CADEL/ASING “Tuhan Maha Besar, saya tidak tahu ini. Saya minta maaf. Saya tidak memperbolehkan siapa saja membuat tindakan-tindakan pribadi atas nama perusahaan. Para karyawan sudah diberi uang transport. Kalau mereka memerlukan jalan pintas, mungkin karena mereka ingin menyelamatkan uang transport itu. Itu diluar tanggung jawab perusahaan. Pembuatan jalan itu bukan inisiatif dan bukan tanggungjawab kami. Saya minta maaf. Saya mohon menyampaikan rasa maaf saya kepada seluruh warga,”katanya dengan sungguh-sungguh.

Saya mulai senewen. Saya tak percaya apa yang dikatakanya. Ini sandiwara apa lagi. Saya bukan orang bodoh, saya tidak mau dikibuli mentah-mentah begitu. Saya tahu dia hanya pura-pura. Mulutya yang manis tingkah lakunya yang sopan itu tidak bisa mengelabuhi saya. Saya bisa mengendus apa yang bisa disembunyikan di balik topengnya itu. Orang kaya raya itu begitu, berpendidikan tinggi, luas pandangannya, pasti tau apa sebenarnya yang terjadi. Tidak mungkin dia tidak paham apa artiya dua meter tanah buat kami, meskipun bagi dia 2000 hektar itu hanya seperti upil. Orang yang pasti sudah bolak-balik keluar negeri itu masak tidak tau, kami, paling sedikit saya ini tau, bukannya para karyawannya itu yang serakah mau menyelamatkan uang makan, tapi dia sendiri yang memang mau mencaplok pemukiman kami. Nanti lihat saja, kalau jalan sudah dibuat, uang makan akan di setop, karyawannya akan disuruh jalan kaki datang. Tai kucing. Rai gedek! Sudah konglomerat begitu,menyelamatkan uang receh saja pakai menyembelih rakyat.

Aku tahu! Aku tahu! Tak kasih tahu warga semuanya apa yang sudah terjadi. Aku adukan nanti kepada jaksa agung! Beliau itu dulu waktu masih miskin sering mampir di warung saya! Biar orang semacam ini ditindak. Asu! (MENYUMPAH-NYUMPAH KOTOR DALAM BAHASA DAERAH)

DIA MENYABARKAN DIRINYA, KARENA KATA-KATANYA SEPERTI SUDAH TAK TERKENDALI.

Betul.Orang kecil seperti saya ini memang kelihatanya lemah dan gampang ditipu.Karena kami sadar pada dari kami sehingga kami selalu menahan diri. Tapi kalau sudah kami kebangeten seperti ini saya meledak juga. Semut pun kalo di injak terus akan menggigit.

(13)

8 |MNtOrP QomRN SOTsPmPnNs UV W MNtNrNm – N T B 2 0 1 2 bicaranya. Saya di perlakukan sebagai tamu terhormat. Tapi saya terus maju. Ini perjuangan.

Dia menyuguhkan makanan dan minuman. Saya tolak. Saya datang bukan untuk bertamu atau ramah-tamah. Saya membawa suara rakyat, menurut keadilan. Keadilan untuk kami saja.

Kami tidak minta apa-apa. Kami hanya minta tanah kami yang hanya 2 meter itu jangan di ganggu. Itu hak kami! Titik.

Di atas maja dihidangkan kue-kue yang lezat. Hhhh! Tapi saya tidak sudi menjamah sebelum tuntutan kami didengarkan. Dia mencoba bertanya tentang keluarga saya, anak saya kelas berapa. Ah itu kuno. Saya tahu itu taktik untuk memancing pengertian.

Dia juga berbasa-basi menanyakan bagaimana keadaan Asep. Lho saya tadi tambah curiga. Jadi dia tahu sekali apa yang terjadi. Mungkin dia yang menyuruh sopir itu untuk membacok Asep. Karena Asep juga pernah memprotes pembuangan limbah dari pabrik yan gmengalir ke selokan di depan rumah kami.

Saya bertekad, saya tidak akan keluar dari kantor ini sebelum ada keputusan membatalkan 2 meter tanah kami untuk jalan. Saya ditunggu oleh warga.

Saya mau pergikalau ada keputusan yang menguntungkan rakyat kecil. Akhirnya dia menganguk, tanda dia mengerti. Kemudian dia menunduk dan membuka laci mejanya mengambil kertas. Saya bersorak dalam hati. Akhirnya memang kunci segal-galanya pada kegigihan. Kalau kita getol berjuang pasti akan berhasil.

Tetapi kemudian darah saya tersirap, karena direktur itu mengulurkjan kepada saya sebuah amplop coklat yang tebal. Saya langsung tak mampu ber nafas.

DARI ATAS JATUH SEBUAH AMPLOP RAKSASA BERISI TULISAN RP 25.000.000. DUA PULUH LIMA JUTA RUPIAH. TULISAN MELAYANG SETINGGI DADA DI DEPANNYA. IA GEMETAR.

Tebal, coklat, apalagi diatas amplop itu tertera 25.000.000. Dua puluh lima juta. Ya Tuhan banyaknya. Saya belum pernah memegang uang sebanyak ini. Dua puluh lima juta?

MENGHAMPIRI AMPLOP, MENYENTUH DENGAN GEMETAR, TAK PERCAYA, RAGU-RAGU, GEMBIRA, KEMUDIAN MEMEGANGNYA.

(14)

9 |XYtZr[ \om]Y ^Z_s[m[nYs `a b XYtYrYm – N T B 2 0 1 2 MEMELUK AMPLOP ITU. MENGANGKATNYA. MENJUNJUNGNYA. MEMBAWANYA KESANA KEMAI, MEMELUKNYA SEPERTI KUCING YANG BERMAIN-MAIN DIATAS KERTAS, IA TERLENTANG, TENGKUREP DI ATAS UANG ITU SAMBIL MENCIUM-CIUMNYA. KEMUDIAN DIA MASUK KEDALAM AMPLOP, SEPERTI ANJING YANG MENGOREK-OREK TONG SAMPAH DENGAN BERNAFSU DAN NGOS-NGOSAN. AKHIRNYA IA MENGGULUNG DIRINYA DENGAN AMPLOP UANG ITU.

Dua puluh lima juta. Apa yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak ini. Alhamdulillah saya bisa perbaiki rumah. Kredit motor, jadi tukang ojek. Bayar SPP. Saya bisa kirim uang sama orang tua.

Puji syukur Tuhan, akhirnya Kau kabulkan doa kami setiap malam, supaya kami bisa mengubah nasib, jangan terus terjapit di tempat kumuh ini seperti kecoak.

MENAGIS KARENA GEMBIRA DAN TIDAK PERCAYA. KEMUDIAN DIA BERDIRI KEMBALI DAN MEMELUK AMPLOP BESAR ITU, SAMA SEKALI TAK MAU MELEPASKANNYA.

Saya gemetar. Saya tak menanyakan lagi berapa isi amplop itu. Untuk apa 25 juta itu. Saya tidak perlu lagi menanyakannya. Saya hanya menerimanya, lalu menyambut uluaean tangannya. Lantas terbirit-birit pulang. Takut kalau amplop itu ditarik lagi. Saya ambil jalan belakang, sehingga tak seorang warga pun tahu saya barusan datang dari rumah direktur.

Sya kumpulkan keluarga saya dan jelaskan kepada mereka. Bahwa sejak hari itu hidup kami akan berubah. Doa kita sudah di kabulkan.

MELEPASKAN KEMBALI AMPLOP. AMPLOP BESAR NAIK KENBALI, MELAYANG DIATAS KEPALANYA.

Esok harinya ketika para warga gang Gugus Depan kembali mendatangi saya untuk mendengarkan hasil rembukan saya dengan Pak Direktur untuk selanjutnya menetapkan tindakan apa selanjutnya yang harus dilakukan, saya memberi wejangan.

(15)

10 |cdterf gomhd iejsfmfnds kl m cdtdrdm – N T B 2 0 1 2 Seluruh warga yang saya pimpin tak menjawab. Seperti saya katakan, mereka semuanya pembela demokrasi. Kalau atas nama demokrasi, mereka relakan sega-galanya. Satu per satu kemudian mereka pulang.

He tunggu dulu, saya belum selesai bicara!

Kuping mereka buntet. Tanpa peduli rapat belum rampung, semuanya pergi. Tunggu! Tunggu!

Tak ada yang menggubris. Semuanya ngacir. Tinggal saya sendiri dan seorang tua. Tapi dia tidak pergi bukan karena suka tapi karena kakinya kesemutan. Setelah reda dia juga berdiri dan pergi sambil ngedumel.

“Kalau memang demokrasi itu tidak melindungi kepentingan rakyat kecil, aku berhenti menyokong demokrasi. Sekarang aku menentang demokrasi.

TERDENGAR SUARA SORAK DAN YEL-YEL YANG TIDAK JELAS.

SEPERTI ADA KERIBUTAN. LALU SUARA TEMBAKAN. BARU SEPI KEMBALI.

Sejak itu semunya benci pada demokrasi. Sejak hari itu, warga RT Gugus Depan yang saya pimpin kompak menolak demokrasi. Hanya tinggal ssaya sendiri, yang tetap berdiri disini. Teguh dan tegar. Tidak goyah oleh topan badai. Tidak gentar oleh panas dan hujan. Saya tetap kukuh tegak di atas kaki saya, apa pun yang terjadi siap mempertahankan demokrasi, sampai titik darah penghabisan.

Habis mau apalagi. Siapa lagi kalau bukan saya? Daripada diberikan pada orang lain?

DENGAN SUARA YANG GEMURUH AMPLOP BESAR ITU JATUH MENIMPA, DIIKUTI OLEH BANYAK AMPLOP LAIN YANG LEBIH BESAR, SEHINGGA IA JATUH DAN TERTIMBUN OLEH AMPLOP.

LAMPU MEREDUP DAN PADAM

(16)

11 |notprq romso tpusqmqnos vw x notorom – N T B 2 0 1 2

Monolog

(17)

12 |yzt{r| }om~z {€s|m|nzs ‚ ƒ yztzrzm – N T B 2 0 1 2 NENEK RENTA MENENUN DI BULAN, IA MENYANYIKAN SEBUAH BALADA DENGAN SUARANYA YANG PIKUN-PIKUNAN MENGGODA.

Ada seorang anak muda namanya, Egy, eh. Bukan Egy, Edy. Eh,bukan, Dedy. Evy, Ery ah siapa dia Ada seorang anak muda, anak muda, mungkin aku Ketika aku masih muda, cantik dan tak berdaya Seorang anak muda, lebih muda dari kamu semua Berbakat, enerjetik, agresif, ambisius, payah Sesak oleh harapan, punya masa depan, makhluk baru Tetapi ia sangat lugu dan kurang sabaran Ia sangat dungu, ia tergila-gila menjadi pahlawan Ia ingin menjadi raja uang, presiden, eksekutif Padahal bakatnya yang terbatas jadi badut Ia pun memberontak pada kodratnya Ia magang di kaki kegagahan, keberanian, kenekatan guru, idola yang dipuja dan diagung-agungkannya Ia mati sangat muda sangat sia-sia semuanya

KENANGANNYA YANG DIPANGGILNYA ITU DATANG. LANGKAHNYA BERDENTAM. IA TERKEJUT LALU MENOLEH KEPINTU.

Siapa itu? Kamu egy? Edy atau Dedy? Atau Ery ? Jangan berdiri di situ masuk saja. Ini sudah hampir selesai.

IA BERDIRI LALU MENGAMBIL KAIN YANG DITENUNNYA.

Lihat sendiri sudah hampir jadi. Aku bikin bunga kembang sepatu. Tapi waktu aku mau tulisan namamu, aku lupa. Nama kamu siapa ? Egy ? Dedy ? Ery ? Ah masa bodohlah, pokoknya ini nanti untuk kamu. Sudah kedinginan ya? Memang sejak ozon bimasakti itu tidak bawa jaket. Kamu masih ada waktu menunggu sebentar? Tidak sabar ya?

Kamu mau bawa saja yang belum selesai ini ?

NENEK ITU KEMBALI KE TEMPAT TENUNANNYA

Dia sering ada di situ. Aku kira jadi petinju seperti Tyson. Dia bisa jadi presiden seperti Clinton. Banyak yang mestinya bisa dia bantu, lho itu kamu Egy ? Kamu maksud darimana ? Aku kira kamu ngupet di sono no, nyatanya kamu masuk dari belakang. Jangan suka mainkan orang tua seperti itu. Nganget-ngagetin saja. Buka dulu sepatu kamu. Kok sampai sebegitu-sebegitunya lumpur. Apa turun salju disana. Ya kudengar juga dari radio tetangga salju tahun ini paling tebal dari biasanya, tapi aku tidak bisa membayangkan, aku tidak pernah melihat salju sendiri. Bener dingin ya ? Angin juga ? Wah bahaya juga. Lepaskan jaket kamu itu, topi kamu juga, masak dalam umah pake begituan, sumpek mataku melihat. Sini biar aku gantung di kamar kakek kamu. Hhh baunya, suda berapa hari tidak kamu cuci. Tapi bau kamu mengngatkan aku sama kakek kamu, bau kalian semua sama.

BERBALIK HENDAK MEMBAWA PAKAIAN ITU KE KAMAR, TAPI KEMUDIAN BERBALIK LAGI

(18)

13 |„…t†r‡ ˆom‰… І‹s‡m‡n…s Œ Ž „…t…r…m – N T B 2 0 1 2 NAMPAK PUTUS ASA

Dia sudah tidur lagi. Kalau sudah diberi nasehat dia pura-pura tidur, supaya punya alasan dia tidak punya ngeh semua itu. Dasar berandalan. Tapi ini kesempatan untuk memeriksa isi kantongnya. Jangan-jangan dia bawa heroin lagi. Aku paling tidak suka pengira heroin itu bagian dari peradaban maju. Tidak perlu bukti aku sudah mencoba berkali-kali, ssstttt…tapi dia tidak boleh tahu itu. Rasanya memang bikin enteng . tapir as enteng itu nanti harus dibayar dibelakang kontan segalanya memberat dan menindih. Edy tahu ini. Tapi dia kurang peduli, maklum anak muda, masih suka aksi.

MEMERIKSA

Lho ini bukan Edy, ini Dedy,

TERTAWA

Edy sudah ditetak. Yang ini masih kayak tikus. Tikus cerurut! Kasihan!

TERTAWA CEKAKAAN SAMPAI MENGELUARKAN AIR MATA

Ini Dedy! Kamu dedy ya? Ah! Bkin kacau saja. Mbok dari tadi bilang, jadi aku tidak ngaco ngomong. Kapan kamu pulang? Bukannya lagi di penjara? Asl kamu jangan lari dari situ. Karemna penjara itu baik untukk membuatmu mrngerti baha kejahatan itu bukan sesuatu yang menyenangkan buwat orang lain. Ya kamu sendiri yang senang, orang lain menderita. Bahkan orang yang tidak langsung menderita juga ikut ketakutan. Kalau ingin ssuatu, itu ada aturannya, kamu mesti berusaha. Berjuang sampai titik darah penghabisan! Dan kalau kamu sudah banting tulang, masih tergantung nasib kamu, baik tidak. Jangan marah-marah saja, kalau kalah, karena itu juga terjadi oada orang lain kalau lagi apes. Kamu mesti belajar menerima orang lain yang selalu menangan.

TIBA-TIBA MENUTUP MUKANYA

AH GILA ! Ya Tuhan, maafkan anak sinting ini! Dia tidak tahu apa yang dikerjakannya. BERBALIK Setiap kali dia diberitahu bagaimana mestinya menjadi orang baik-baik, otaknya langsung sakit. Dia buka celana dan menunjukan celana pada kita. Sudah! Sudah! Ini nenek kamu Dedy! Perlihatkan itu sama permpuan-perempuan nakal di tempat pijat sana, jangan sama nenek kamu! Dedy! Aku tahu! Ya betul, betul, memang bagus, kamu memeng gagah, kamu memang jantan. Meskipun kayak tikus kamu yang paling perkasa. Tidak, tidak ada yang bilang seperti tikus, itu bukan tikus, itu bazooka. Sudah cukup.

TERMENUNG

Aku sebenarnya sedih. Dia lakukan semua itu karena diatidak punya apa-apa lagi. Diaa tidak punya kesempatan. Dia tidak punya bakat. Dia tidak punya ornga yang bisa menolong dia. Semuanya sudah di protoli, dia lakukan semua itu , karena sebenarnya tidak ada yng bisa dia lakukan lagi, kecuali menunjukkan kemaluannya setiap kali dia tidak berdaya.

(19)

14 |t‘r’ “om” •‘–s’m’ns —˜ ™ trm – N T B 2 0 1 2 Aaaa! Ya Tuhan! Jangan lakukan itu Dedy! Jangan didepan nenek kamu! Kamu kualat! Tdak! Aku tidak lihat semua ini . masak dia mau memotongnya didepan mataku. Jangan Dedy, Jangan! Jangan sekarang, sudah terlambat! Kamu coba saj hidup dengan apa adanya itu! Tidak hanya kamu sendiri, memang ada beberapa orang dapat dua sekaligus. Betul! Jadi komplit. Ya betul, yin dan yang! Ya ! Begitu! Ah aku tidak bisa menjadi semua ini.

IA BERGEGAS KE PINTU, TERKEJUT

Siapa ya? Siapa Ery? Kamu Ery? Sudah terlalu malam begini kamu mau ngapain? Tidak bisa. Minta maaf tidak bisa malam-malam. Kemarin pagi-pagi mestinya. Paling telat sore-sore . malam-malam begini aku sudah tidur. Aku tidak mau dengar orang minta maaf waktu aku sedang tidur. Kamu boleh datang kemari besok pagi, waktu mataku sudagh melek. Kalau aku masih bisa bangun, sebab mimpiku jelek sekali mala mini. Kamu boleh minta maaf kalo kamu sudah siap, supaya aku mampu bilang tidak.sebab orang yang berkhianat pada Ery, tidak usah dimanfaatkan.kalau aku memaafkan pengkhianatan kamu akan jadi kabur. Menyeberang pada musuh dengan alas an apapun, tak berdaya karena cinta, karena terpaksa, karena alpa, karena disantet, karena ditipu, karena apapun alas an kamu, itu tetap pengkhianatan. Dan pengkhianatan tidak boleh lagi dihaluskan dengan kata-kata menyeberang, mendapat pikiran baru, ganti pandangan, penyegaran, tidak bisa! Memangnya pariwisata!itu hanya ulah penafsir-penafsir kehidupan yang sudah sesat. Itu namanya dagang yang Cuma mau ngejar untung. Pengkhianatan kejahatan-kejahatan yang lain,atas nama apapun, mesti tetap kejahatan, agar buku sejarah kita tidak kacau lagi. Sudah waktunya sekarang bertindak tegas. Dan saipa saja nanti juga boleh bertindak begitu kepadaku. Kalau yang aku lakukan ini adalah kekeliruan dan kejahatan. Aku tidak sdi disulap menjadi kebaikan hanya gara-gara aku sudah mati. Aku akan bangkit dari liang kuburku dan memindahkan tulang belulangku dari makam pahlawan ke pinggir kali, kalau memang aku ini penjahat. Tidak Ery, aku tidak akan luluh karena rayuanmu! Pergi darisitu, sekarang, sekarang juga,

MENGAMBIL SESUATU DAN MELEMPAR-LEMPAR

Pergi! Pergi! Jangan berdiri terus didepan pintu, nanti aku berkhianat pada keyakinanku!

CEPAT-CEPAT MENUTUP PINTU

(20)

15 |š›tœr žomŸ›  œ¡smn›s ¢£ ¤ š›t›r›m – N T B 2 0 1 2 berkhianat! Hilangkan kecurigaan yang kampungan itu! Aku punya pendapat dan keyakinan sendiri, aku harus bersikap! Bukan karena aku sudah kena santhet! Bukan! Bukan! Bukan!

DIAM BEBERAPA SAAT MENDENGARKAN, LALU BERTERIAK LEBIH KERAS

Bukan!!! Bukaaaaaaann! CEPAT Ya! Ya! Betul! Aku takut! Memang aku takut!

IA DUDUK KEMBALI DIDEPAN ALAT PINTALNYA

Aku takut. Benar . Memang. Aku takut setiap kali melangkah. Langkahku gemerincing terasa menggedor ulu hatiku, sehingga aku selalu berfikir beribu-ribu kali sebelum bertindak. Apakah aku tidak akan menyusahkan orang lain? Apakah aku tidak akan berdosa? Apakah aku tidak akan

IA MENENUN LAGI SAMBIL MENANGIS

Ada seorang anak muda namanya, Egy, eh. Bukan Egy, Edy. Eh,bukan, Dedy. Evy, Ery ah siapa dia Ada seorang anak muda, anak muda, mungkin aku Ketika aku masih muda, cantik dan tak berdaya Seorang anak muda, lebih muda dari kamu semua Berbakat, enerjetik, agresif, ambisius, payah Sesak oleh harapan, punya masa depan, makhluk baru Tetapi ia sangat lugu dan kurang sabaran Ia sangat dungu, ia tergila-gila menjadi pahlawan Ia ingin menjadi raja uang, presiden, eksekutif Padahal bakatnya yang terbatas jadi badut Ia pun memberontak pada kodratnya Ia magang di kaki kegagahan, keberanian, kenekatan guru, idola yang dipuja dan diagung-agungkannya Ia mati sangat muda sangat sia-sia semuanya

KENANGANNYA YANG DIPANGGILNYA ITU DATANG DAN SELANJUTNYA

SELESAI

(21)

16 |¥¦t§r¨ ©omª¦ «§¬s¨m¨n¦s ­® ¯ ¥¦t¦r¦m – N T B 2 0 1 2

Monolog

TOLONG

(22)

17 |°±t²r³ ´omµ± ¶²·s³m³n±s ¸¹ º °±t±r±m – N T B 2 0 1 2

ATIKAH(SEKETIKA TERGERAGAP, BANGUN, MENGEJAR KE JENDELA, BERTERIAK)

Tolong! Siapa saja di situ, tolong! Saya di sini! Tolong! Ada manusia di sini. Perempuan. Saya. Tolong! Jangan pergi! Berhenti! Datanglah, datang! Lekas! Saya di sini. Saya butuh pertolongan. Berhenti! Dengar teriakan saya! Dan datang ke mari! Jangan pergi … tolong .. jangan pergi .. tolong ..

(LEMAS. TERKULAI. KATA-KATA TERAKHIRNYA NYARIS TAK TERDENGAR)

Tidak ada yang sudi menolong saya. Tidak ada yang datang. Saya dilupakan.

Sudah berapa lama saya disini? Tidak tahu. Sudah berapa lama saya disiksa, macam binatang? Saya juga tidak tahu. Apa saya binatang?

Empat dinding ini, hanya satu jendela berjeruji besi jauh di atas sana. Tembok yang tebal. Tidak ada perabotan. Hanya tikar dan bantal. Tidak ada selimut. Saya tahu, tidak mungkin lolos dari penjara ini jika tidak ada yang sudi menolong. Mustahil saya selamat, jika tidak ada mukjijat.

(SEAKAN MELIHAT BAYANGAN DI DEPANNYA)

Mudasir? Kamu Mudasir? Bagaimana caranya kamu masuk kamar ini? Mudasir? Kenapa? Tidak kenal saya lagi? Saya Atikah. Isterimu. Dulu, kamu mengantar saya ke Jakarta. Kita berpisahan di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Kamu cerita di surat, sehabis mengantar saya kamu langsung pulang ke kampung mengurus sawah. Sampai setahun lebih kita saling berkirim surat. Sesudah musibah datang, surat-suratmu tidak datang lagi.

Jangan pergi, Mudasir. Jangan tinggalkan saya. Apa saya sudah tidak punya daya tarik lagi? Kamu dulu sering bilang saya cantik. Saya memang cantik. Kecantikan yang alami, tanpa gincu dan bedak. Kamu suka saya apa adanya. Kamu sering bilang begitu. Ini saya, Atikah. Saya tahu, penyiksaan ini bikin saya tidak secantik dulu lagi. Kalau ada cermin di kamar ini, mungkin saya bisa segera tahu. Wajah saya bisa saja sudah seperti gombal busuk. Bacin dan tidak layak dipandang-pandang. Bikin jijik ya?

(23)

18 |»¼t½r¾ ¿omÀ¼ Á½Âs¾m¾n¼s ÃÄ Å »¼t¼r¼m – N T B 2 0 1 2 kerjanya, terutama yang bekerja di manca negara. Kita? Kalau banyak uang, diperas sampai habis tulang sumsum. Tapi kalau ada musibah, pura-pura tidak tahu, diabaikan.

Mudasir, itu kenyataan. Kita binatang penghasil devisa negara. Sebutan pahlawan hanya slogan. Bukan kenyataan. Cuma khayalan para birokrat yang baru menduduki kursi jabatan. Agar kelihatan bekerja di mata atasan, dan disebut punya kesetiakawanan yang kuat terhadap sesama warganegara.

Sudahlah, Mudasir, bicara tentang kekacauan penanganan terhadap para TKW seperti saya, selalu bikin dada seketika sesak. Lebih sesak lagi dada kita, karena kenyataan yang terang benderang itu tidak pernah diakui sebagai kenyataan. Mengapa? Karena mereka malas menanganinya. Tidak sudi tangan kotor dan enerji dihamburkan. Ya. Karena tidak ada uang komisi yang berlimpah dalam setiap kasus yang menimpa para TKW. Lagipula perlu kemampuan diplomasi agar pejabat-pejabat kita dihargai oleh orang asing. Kenyataannya, para pejabat-pejabat kita lebih sering jadi bahan tertawaan diplomat-diplomat asing. Karena dianggap malas dan bodoh, tapi sok pintar. Problem bahasa pun jadi hambatan. Mana bisa memenangkan perkara jika pembahasan dilakukan dengan bahasa tarsan? Sebelum maju pun sudah kalah lebih dulu. Akibatnya, kita yang selalu menjadi korban. Dikorbankan.

Mudasir, ke marilah, mendekat, agar kita bisa saling menyentuh. Mengapa tetap berdiri di sudut itu? Di situlah tempat saya buang air besar dan kecil. Di ruang ini tidak ada kamar mandi dan wc. Ini hanya sebuah kamar, entah tadinya dipakai untuk kamar siapa. Dan mengapa saya sampai disekap di kamar ini, tidak bisa saya tulis di surat. Mana mungkin berkirim surat? Saya tidak punya kertas, pulpen, amplop, prangko. Di sini tidak ada apa-apa. Terang kalau siang karena matahari, dan malamnya gelap pekat karena tidak ada lampu. Saya tersiksa, Mudasir. Tersiksa. Mengapa tidak menolong?

Lihat, bekas-bekas luka di sekujur badan? Sebelum dijebloskan ke dalam kamar ini, saya dipukuli. Semua anggota keluarga majikan ikut memukuli. Pipi, dahi, kepala, punggung, dada, perut, paha, dan semua anggota tubuh saya, jadi bulan-bulanan mereka. Mereka memukuli saya dengan tangan, kepalan, kaki, tongkat besi, setrikaan. Saya tidak berdaya, seperti bola disepak ke sana ke mari tanpa bisa membela diri.

(24)

19 |ÆÇtÈrÉ ÊomËÇ ÌÈÍsÉmÉnÇs ÎÏ Ð ÆÇtÇrÇm – N T B 2 0 1 2 saya dengar. Kata-kata yang diteriakkan berulang kali. Saya Indon. Bangsat. Bajingan. Pencuri, Maling. Tidak tahu diri. Apa salah saya? Demi Tuhan, saya samasekali tidak pernah mencuri. Saya bukan maling. Tapi tidak ada sidang pengadilan yang tidak memihak, supaya bisa diperoleh pembuktian, saya bukan seperti yang mereka tuduhkan. Yang ada hanya ruang ini. Penjara ini. Sesudah dipukuli, kepala saya ditutupi karung, lalu saya diseret. Sebelum pintu dikunci, karung mereka buka dan ternyata, saya di sini. Dalam kamar ini. Sampai sekarang.

Sudah berapa lama saya di sini? Lihat! Luka-luka di sekujur tubuh saya sudah mulai mengering. Bisajadi sudah lebih dari sebulan. Bagaimana saya bisa bertahan? Mereka kasih saya makan dua kali sehari. Minuman di termos plastik yang bocor. Saya makan minum dengan piring dan gelas yang kotor.

Mudasir, kamu tidak akan bisa membayangkan perlakuan apa yang sudah saya terima selama ini. Saya memang lebih pantas disebut anjing. Saya dianggap bukan manusia lagi. Kekuatan hukum nampaknya tidak berdaya dalam hal ini, sebab aparatnya lebih sering pilih kasih. Mana mungkin mereka membela saya yang anjing, Indon lagi. Saya, yang datang hanya untuk merampok uang mereka. Tentu mereka akan lebih percaya kepada sesamanya, yang sebangsa. Dan kaya. Bukan kepada anjing seperti saya.

Tapi, Mudasir, demi Tuhan, saya bekerja. Saya memperoleh upah karena saya bekerja. Saya bukan pemalas. Saya bangun sebelum subuh. Membersihkan rumah, menyapu, mengepel, mengelap perabotan. Saya mencuci, menyeterika, memasak, mengurus taman. Saya sendirian di rumah sebesar ini. Pekerjaan baru selesai sekitar pukul sembilan malam. Itu pun, tidak selalu begitu. Jika ada tamu, saya harus kamu menulis, sudah menerima kiriman ringgit saya. Kamu juga menabung. Kontrak kerja saya lima tahun. Saya bertekad, di ujung tahun ke lima, saya pulang bawa ringgit sebanyak mungkin agar kita bisa membeli beberapa petak sawah, untuk modal hidup di masa depan.

(25)

20 |ÑÒtÓrÔ ÕomÖÒ ×ÓØsÔmÔnÒs ÙÚ Û ÑÒtÒrÒm – N T B 2 0 1 2 menginap di rumah famili di luar kota. Jadi, di rumah sebesar ini, hanya ada kami berdua. Dia masuk kamar, menutup pintu, duduk di pinggir ranjang dan menatap saya dengan diam. Buru-buru saya duduk di kepala ranjang, balas menatap dia dengan mata heran. Saya sampai tidak sempat bertanya, lebih tepatnya tidak berani karena terperanjat. Ya, saya tidak sempat menanya apa maksudnya masuk kamar saya. Tapi sebagai perempuan, naluri saya bilang, ada sesuatu yang tengah menggoda majikan saya itu. Dan saya mulai ketakutan. Keringat dingin mengucur deras.

Kemudian dia berbaring. Dan dengan isyarat tangan, menyuruh saya berbaring di sampingnya. Saya menggelengkan kepala, tubuh gemetaran. Dia melotot dan kembali memberi isyarat dengan tangan agar saya segera berbaring di sampingnya. Saya tetap menggeleng, dan duduk meringkuk di sudut dengan waspada. Dia bangkit. Saya pikir dia berniat menerkam saya. Saya sudah siaga. Saya siap memukul jika hal itu dia lakukan. Tapi, untunglah, hal itu tidak terjadi. Dia bangkit, berdiri, menatap saya dengan mata menyala, lalu berjalan menuju pintu, membuka pintu, menutupnya lagi dengan keras. Terdengar langkahnya semakin menjauh.

Saya menghela nafas panjang dan menangis. Saya bersyukur kepada Tuhan karena malam itu tidak terjadi apa-apa atas diri saya. Ya, saya selamat dari perkosaan majikan. Saya mengunci pintu dan menangis sampai subuh.

Ah, Mudasir, saya baru sadar, barangkali, itulah satu-satunya kesalahan saya: menolak hajat majikan. Itu makanya saya ditendangi, dipukuli dan disiksa macam begini. Siksaan memang tidak segera saya alami. Maksud saya, sampai bulan kelimabelas, keadaan masih berjalan normal. Tapi, di bulan ke enambelas, majikan lelaki saya mulai mengeluh kehilangan uang. Dan siapa lagi yang bisa dituduh kalau bukan saya? Pelayan yang miskin, Indon lagi, setara anjing. Pukulan-pukulan dan tamparan mulai saya terima dari nyonya majikan. Kadang dari anak lelaki mereka. Saya diam saja, dan tentu tidak sudi mengaku sebagai pencuri. Jelas. Saya tidak mencuri. Saya rajin sembahyang. Saya selalu ingat surga dan neraka. Saya takut hukuman akhirat. Dan saya sangat percaya kepada hukum sebab-akibat .

(26)

21 |ÜÝtÞrß àomáÝ âÞãsßmßnÝs äå æ ÜÝtÝrÝm – N T B 2 0 1 2 Tapi kenyataan. Penyiksaan ini memang jelas-jelas bukan impian. Saya mengalaminya.

Tapi ada apa sesungguhnya dengan majikan saya? Ada apa sesungguhnya dengan mereka, bangsa yang sekarang ini banyak menampung para pekerja asal Indonesia? Dulu mereka betul-betul saudara serumpun, senantiasa menjaga sopan santun, sangat menghormati dan banyak belajar dari kita. Mereka pernah mengangkut banyak cendekiawan kita untuk mengajari mahasiswanya, tentu, dengan iming-iming gaji yang sangat besar.

Dalam tempo pendek mereka menjadi bangsa yang kaya-raya. Jadi, tak perlu lagi belajar dari Indonesia. Mereka jauh lebih maju. Lalu mereka mulai menanam modal, di mana-mana dan menerima berbagai jenis modal asing pula. Puluhan ribu pekerja dari luar negri dibawa masuk, karena memang dibutuhkan. Tapi, pekerjaan kasar bukan lagi bagian bangsa ini. Para imigranlah yang mengerjakan. Bagian mereka, terutama, memikirkan bisnis dan kemajuan diplomasi politiknya. Sambil, mencaploki kawasan negri tetangga, selangkah demi selangkah. Mereka berani membuka kasino, dan hasil pajaknya yang besar dipakai untuk membangun negri. Semua tahu, sebagian besar para penjudi datang dari Indonesia. Artinya, uang berjumlah besar mengalir dari Indonesia, dan, untuk membangun negri jiran.

Sukses bertubi-tubi, bikin percaya diri mereka semakin besar. Lahir banyak orang pintar, diplomat handal yang disegani barat. Tapi mereka sadar tidak memiliki kebudayaan dan kesenian asli. Semua bersumber dari negri tetangganya, Indonesia. Maka, dengan uang, mereka mulai mengangkut para seniman. Tugasnya mencipta kesenian baru agar bisa disebut asli asal dari tanah mereka sendiri. Tak puas dengan itu, mereka nekad pula mencuri berbagai jenis kesenian, flora dan fauna. Semuanya, dengan sangat yakin diaku sebagai milik mereka. Kini, mereka ibarat ‘orang kaya baru’ yang yakin bisa membeli apa saja. Lintang pukang mereka membeli apa saja. Jika saja perkaranya berhenti sampai masalah curi-mencuri jenis kesenian, mungkin saya tidak akan sesengsara seperti sekarang. Tapi mentalitas ‘orang kaya baru’ itu sudah sedemikian meracuni hampir setiap orang di negri ini. Mereka yakin bisa membeli apa saja. Mereka yakin, dengan uang, mereka berhak menyiksa siapa saja.

Para pekerja yang bekerja untuk mereka, lebih sering dianggap sebagai budak yang layak disiksa jika dianggap telah melakukan kesalahan atau tidak sudi menuruti hajat seronok mereka.

(27)

22 |çètérê ëomìè íéîsêmênès ïð ñ çètèrèm – N T B 2 0 1 2 sepenuhnya atas para pekerja, muncul lagi. Mereka mengibaratkan diri sebagai penguasa Romawi, pemilik ribuan budak. Dan mereka merasa berhak untuk menyiksa atau membunuh semua budaknya itu.

Mudasir, mengapa diam saja? Kamu tidak percaya cerita saya? Demi Tuhan, saya bersumpah, masih suci. Tidak ada lelaki lain yang berani menyentuh kehormatan saya. Dan jika itu terjadi, saya bisa bunuh orang, atau bunuh diri. Itu tekad saya. Lelaki satu-satunya bagi saya adalah kamu. Saya sesuci Dewi Sinta. Janganlah kamu jadi Rama yang meragukan kesucian Sinta. Saya tetap setia dan sampai kapan pun akan saya pertahankan kesetiaan itu, meski dengan resiko berkorban nyawa. Percayalah kepada saya, Mudasir.

Jangan pergi, jangan berpaling, jangan tinggalkan saya. Saya butuh kehadiranmu. Nyata atau hanya khayalan, tidak penting lagi. Saya butuh kamu, biarpun kamu tidak nyata. Kamulah satu-satunya harapan. Saya juga tahu, kamu marah karena dulu langsung saya tinggal pergi untuk bekerja di negri ini, padahal kita menikah baru tiga bulan. Tapi, itulah rencana saya. Mengumpulkan modal hidup, agar kita tidak sengsara. Saya berharap kamu sudi memahami. Tidak mungkin di negri sendiri saya mampu menggaet penghasilan sebesar saya bekerja di negri ini. Berapa gaji paling besar seorang Pembantu Rumah Tangga di Jakarta? Di negri ini, saya bisa memperoleh limakali lipat dari gaji mereka. Dan itu sangat menggiurkan.

Ya, betul. Saya tahu, menggiurkan tapi dengan resiko yang sangat besar. Apalagi untuk perempuan semuda saya. Saya, yang kamu sering bilang, cantik dan menarik. Saya tahu. Tapi saya sudah menghitung semua resiko. Saya yakin bisa menahan setiap godaan. Sebesar apa pun godaan itu. Ajaran agama jadi pegangan. Nasehat orangtua. Dan terutama, ikrar pernikahan kita. Banyak tameng yang akan membentengi saya sehingga saya tidak jatuh ke dalam maksiat. Lakon saya terjadi dalam dunia nyata, bukan dalam dunia maya, bukan di layar putih. Saya Atikah, dan saya bukan bintang film.

(28)

23 |òótôrõ öom÷ó øôùsõmõnós úû ü òótóróm – N T B 2 0 1 2

(TERDENGAR LANGKAH ORANG)

Mudasir, kamu dengar? Ada langkah orang, menuju ke sini. Tunggu sebentar.

(TERIAK)

Tolong. Siapa saja di situ, tolong. Saya di sini. Ada orang di sini. Perempuan. Saya. Tolong. Jangan pergi. Berhenti. Tolong saya. Tolong. Jangan pergi! Dengar teriakan saya, dan datanglah ke sini. Saya butuh pertolongan. Jangan pergi .. tolong .. tolong ..

(LANGKAH SEMAKIN MENJAUH DAN HILANG. SEPI SEJENAK)

Tidak ada yang sudi menolong saya. Tidak ada yang datang. Saya dilupakan.

Mudasir? Mudasir? Di mana kamu? Kamu juga pergi? Mudasir. Mudasir. Kamu juga pergi. Semua pergi. Saya ditinggal sendiri. Mana mungkin saya bisa bertahan? Saya sudah habis. Tidak ada siapa-siapa lagi, tidak ada harapan. Bahkan bayangan suami juga pergi, tega meninggalkan saya. Dia tidak sudi menemani saya lagi. Dia meninggalkan saya, tanpa pesan ..

Saya rela mati. Kalau memang saya harus mati. Tapi saya wajib menceritakan dulu semua peristiwa yang saya alami ini. Entah kepada siapa. Ya. Kepada siapa saja yang mau mendengar. Saya akan ceritakan sampai rinci. Sampai hal-hal paling kecil. Yang salah harus menerima hukuman. Saya tidak rela mati tanpa orang tahu, apa yang sebenarnya terjadi atas diri saya. Kesalahan saya harus dijelaskan. Siksaan yang saya derita harus dijelaskan. Manusia dilahirkan dengan derajat yang sama. Tidak ada manusia yang berhak menyiksa manusia lain. Nasib manusia tidak bisa ditentukan oleh manusia lain. Hanya Tuhan Yang Maha Esa yang berhak menentukan nasib manusia. Saya dianiaya tanpa sebab, tanpa penjelasan. Adilkah itu?

Tapi terus terang, saya lelah meminta tolong. Entah sudah berapa ratus kali saya berteriak meminta tolong. Dan tidak ada yang datang untuk menolong. Apakah ada yang merasa kehilangan saya? Sehari dua hari hilang, bisa dimaklumi. Tapi sebulan? Itu seharusnya sudah bisa membikin masyarakat curiga. Bisa saja dianggap telah terjadi pembunuhan.

(29)

24 |ýþtÿr omþ ÿs mnþs ýþtþrþm – N T B 2 0 1 2 kebanggaan, karena kita lebih miskin dan lebih kacau dibanding negri jiran yang kaya raya itu. Kita berkali-kali dilecehkan tanpa sanggup membela diri. Kita sering diabaikan. Jadi bahan tertawaan. Kita sering dihapus dari peta dunia, tapi kita tidak pernah merasakannya.

(BERTERIAK)

Tolong! Tapi jangan tolong saya. Tolonglah kita semua. Kita di pinggir jurang. Bangun! Tolong! Tolong! Jangan jadikan diri kita ongol-ongol!

CAHAYA PADAM

(30)

25 | tr om smn s t r m – N T B 2 0 1 2

Monolog

MARSINAH MENGGUGAT

(31)

26 |tr om smns trm – N T B 2 0 1 2 ALAM DILUAR ALAM KEHIDUPAN. DISEBUAH PERKUBURAN.

MARSINAH SEORANG PEREMPUAN MUDA, USIA 24 TAHUN, SEORANG BURUH KECIL DARI SEBUAH PABRIK ARLOJI DI PORONG, JAWA TIMUR, TANGGAL 9 MEI 1993 DITEMUKAN MATI TERBUNUH., DIHUTAN JATI DI MADIUN. DARI HASIL

PEMERIKSAAN OTOPSI, DIKETAHUI KEMATIAN PEREMPUAN MALANG INI DIDAHULUI PENJARAHAN KEJI, PENGANIAYAAN DAN PEMERKOSAAN DENGAN MENGGUNAKAN BENDA TAJAM. KASUS KEMATIAN PEREMPUAN INI KEMUDIAN RAMAI DIBICARAKAN. BANYAK HAL TERJADI. ADA KEPRIHATINAN YANG TINGGI YANG MELAHIRKAN BERBAGAI PENGHARGAAN. TAPI PADA SAAT BERSAMAAN BERBAGAI PELECEHAN JUGA TERJADI DALAM PROSES MENGUNGKAP SIAPA PEMBUNUHNYA. SETELAH MELALUI PROSES YANG AMAT PANJANG DAN TAK MEMBUAHKAN APA-APA, KASUS UNTUK JANGKA WAKTU CUKUP PANJANG, DAN SEKARANG., SETELAH MARSINAH SEBENARNYA SUDAH MENGIKHLASKAN

KEMATIANNYA MENJADI KEMATIAN YANG SIA-SIA, TIBA-TIBA SAJA KASUS INI DIANGKAT KEMBALI. MENDENGAR HAL ITU MARSINAH SANGAT TERGANGGU, DAN MEMUTUSKAN UNTUK MENENGOK SEBENTAR KE ALAM KEHIDUPAN, TEPATNYA, PADA SEBUAH ACARA PELUNCURAN SEBUAH BUKU YANG DI TULIS BERDASARKAN KEMATIANNYA. INILAH UNTUK PERTAMA KALINYA MARSINAH MENGUNJUNGI ALAM KEHIDUPAN. KAWAN-KAWAN SENASIB DI ALAM KUBUR TAMPAKNYA KEBERATAN. DAN DARI SITULAH MONOLOG INI DIMULAI.

____________________________________________________________________

ADA SUARA-SUARA MALAM. PERTUNJUKAN INI TERJADI DI SEBUAH PERKUBURAN. MARSINAH TAMPAK MERINGKUK DI SEBUAH BALE, GELISAH.

DIA TERTEKAN, RAGU AKAN KEPUTUSAN YANG DIBUATNYA.

Kalau saja dalam kesunyian mencekam yang dirasuki hantu- hantu ini aku dapat merasakan kesunyian yang sebenar-benarnya sunyi. Kalau saja dalam kesunyian ini aku dapat menutup telingaku dari pekik mengerikan, raung dari rasa lapar, derita yang tak habis-habis. Kalau saja sesaat saja aku diberi kesempatan merasakan betapa diriku adalah milikku sendiri....

(32)

27 |t r! "om# $ %s!m!ns &' ( trm – N T B 2 0 1 2 Apa gerangan kata Ayahku tentang waktu yang seperti ini.... Kejam rasanya seorang diri, diliputi amarah dan rasa benci. Tersekap rasa takut yang tak putus-putus menghimpit... Ketakutan yang tak bisa diapa-apakan... Tidak bisa bunuh, atau dilawan...

MARSINAH SEPERTI MENDENGAR SUARA DARI MASA LALUNYA, SUARA-SUARA DERAP SEPATU, YANG MEMBUATNYA GUSAR.

Suara-suara itu.... Dia datang lagi.... Seperti derap kaki seribu serigala menggetar bumi....

Mereka datang menghadang kedamaiku... mereka mengikuti terus... Bahkan sampai ke liang kubur ini mereka mengikutiku terus....

Kalau betul maut adalah tempat menemu kedamaian... Kenapa aku masih seperti ini?

Terhimpit ditengah pertarungan-pertarrungan lama.... Kenapa pedih dari luka lamaku masih terasa menggerogoti hati dan perasaanku... Kenapa amarah dan kecewaku masih seperti kobaran api membakarku ?

TERDENGAR SUARA SESEORANG NEMBANG, LIRIH... TEMBANG ITU SESAAT SEOLAH MENGENDURKAN KETEGANGAN MARSINAH. DIA BICARA, LIRIH.

Dengan berbagai cara nek Poeirah, nenekku, mengajarkan kepadaku tentang kepasrahan... Dia mengajarkan kepadaku bagaimana menjadi anak yang menerima dan pasrah... Pasrah itu yang kemudian menjadi kekuatanku... Yang membuatku selalu tersenyum menghadapi kepahitan yang bagaimanapun. Kemiskinan

keluargaku yang melilit... Pendidikanku yang harus terputus ditengah jalan...

Perempuan ini jugalah yang mengajarkan kepadaku betapa hidup membutuhkan kegigihan... Tapi kegigihan seperti apa yang bisa kuberikan sekarang... Pada saat mana aku sudah menjadi arwah seperti ini, dan mereka masih mengikutiku terus ?

Sulit mungkin membayangkan bagaimana dulu kemiskinan melilit keluargaku... Bagaimana setiap pagi dan sore hari aku harus berkeliling menjajakan kue bikinan Nenekku, demi seratus duaratus perak. Aku nyaris tak pernah bermain dengan anak-anak sebayaku. Kebahagiaan masa kecilku hilang... Tapi aku ikhlas... Karena dengan uang itu aku bisa menyewa sebuah buku dan membacanya

(33)

28 |)*t+r, -om.* /+0s,m,n*s 12 3 )*t*r*m – N T B 2 0 1 2 Berupaya meningkatkan pendidikanku yang pas-pasan... Merindukan kehidupan yang lebih layak.... Berlebihankah itu ? Memiliki cita-cita... Memiliki harapan-harapan... Berlebihankah itu ?

Lalu kenapa cita-citalah yang akhirnya memperkenalkanku pada arti kemiskinan yang sesungguhnya. Kenapa harapan-harapanku justru menyeretku berhadapan dengan ketidak berdayaan yang tak terelakan ?

DERAP SEPATU DARI MASA LALU ITU KEMBALI MENGGEMURUH MEMBUAT MARSINAH KEMBALI TEGANG.

Itulah kali teakhir aku datang ke Nganjuk. Ketika Nenekku, tidak seperti biasanya, berkeras menahanku. Dia bicara banyak tentang firasat. Aku tahu dia membaca kegelisahanku... Tapi aku terlalu gusar untuk menggubris nasehat-nasehatnya... Dan sampai akhirnya aku meningggalkan Nganjuk, aku tidak pernah menjelaskan kepadanya, kenapa saat itu Sidoarjo menjadi begitu penting untukku...

MARSINAH MENDADAK SEDIH LUAR BIASA.

Apa yang harus kukatakan ? Apa yang dimengerti perempuan tua itu tentang hak bicara ? Tentang pentingnya memperjuangkan hak? Dia hanya mengerti turun ke sawah sebelum matahari terbit, dan meninggalkannya setelah matahari terbenam, karena perut tiga orang cucu yang diasuhnya harus selalu terisi.

MARSINAH MULAI GUSAR HALUS, SUARA-SUARA DI MASA LALUNYA DULU MULAI MENGIANG DITELINGANYA.

Barangkali kalian menganggap apa yang kulakukan ini tidak masuk akal... Barangkali kalian menganggapnya perbuatan sinting.... Tapi aku harus pergi... Dengan atau tanpa kalian, aku akan pergi...

Setelah empat tahun lebih aku merasa mati sia-sia, mereka tiba-tiba kembali mengungkit-ungkit kematianku. Kematian Marsinah murni kriminal. Kematian Marsinah tidak ada hubungannya dengan pemogokan buruh. Kematian Marsinah berlatar belakang balas dendam.Dan hari ini, sebuah buku yang ditulis atas kematianku, diluncurkan. Gila !

(34)

29 |45t6r7 8om95 :6;s7m7n5s <= > 45t5r5m – N T B 2 0 1 2 Apa yang mereka inginkan dariku? Mereka menggali tulang-tulangku. Dua kali mereka membongkar kuburanku, juga untuk sia-sia, terkontaminasi... Bangsat! Ini mungkin bagian yang paling aku benci. Mereka selalu menganggap semua orang bodoh. Mereka selalu menganggap semua orang bisa dibodohi.

HENING LAGI...

Tapi itulah mungkin betapa aku, kita-kita ini, sesungguhnya adalah orang-orang pilihan. Orang-orang yang dipilih untuk sebuah rencana besar, dan sekaranglah saatnya. Pada saat kita sudah tidak eksist. Pada saat kita sudah tidak mungkin dibunuh karena kita toh sudah terbunuh. Mereka boleh dongkol atau mengamuk sekalian mendengar apa yang kita ucapkan. Tapi menggebuk kita ? Masa arwah mau digebuk juga ?

SUARA -SUARA MASA LALU ITU KEMBALI TERDENGAR. BEBERAPA SAAT MARSINAH TAMPAK TEGANG DAN TERGANGGU, TAPI DIA MELAWANNYA. MELANGKAH SATU-SATU, IA MENGADAHKAN MUKANYA BICARA PADA SUARA-SUARA YANG MENGGANGGUNYA ITU.

Suara-suara itu.... Mereka mengikutiku terus... Aku tahu mereka akan

menggangguku lagi. Aku tahu mereka akan terus menggangguku. Aku tidak takut dan aku tidak akan berhenti... Aku akan berdiri ditengah peluncuran buku itu, dan aku akan menghadapi mereka disana.

Algojo-algojoku... Orang-orang yang dulu begitu bernafsu menghabisi hidupku. Berbaur dengan mereka yang dengan gigih telah berusaha menegakan keadilan atas kematianku. Lalu aku akan menikmati bagaimana mereka satu demi satu berpaling menghindari tatapanku, atau menundukkan kepala; atau lari lintang pukang di kejar dosanya sendiri. Dan sebuah peluncuran buku yang lazimnya dipenuhi tawa, tepuk tangan dan sanjungan itu akan berubah menjadi sebuah upacara mencekam, Marsinah, muncul menggugat' Belati berlumur darah itu muncul didepan matamu, setelah sekian lama kau mengira, kau telah berhasil melenyapkannya dari tuntutan keadilan.

(35)

30 |?@tArB ComD@ EAFsBmBn@s GH I ?@t@r@m – N T B 2 0 1 2 Aku melihat begitu banyak tangan berlumuran darah...Aku melihat bagaimana keserakahan boleh terus berlangsung, para pemilik modal boleh terus mengeruk keuntungan, para Manager dan para pemegang kekuasaan boleh terus-menerus bercengkerama diatas setiap tetes keringatku. Tapi seorang buruh kecil seperti diriku berani membuka mulutnya menuntut kenaikan upah ? Nyawanya akan terenggut.

Dan sekarang lihat bagaimana mereka menjadikan kematianku bagai jembatan emas demi kemanusiaan; Demi ditegakkannya keadilan; Demi perbaikan nasib buruh.

MARSINAH TERTAWA, GETIR.

Memperbaiki nasib buruh.... Dari 1500 menjadi 1700, dari 1700 menjadi 1900.... Satu gelas teh manis dipagi hari, satu mangkok bakso disiang hari, lalu satu

mangkok lainnya di malam hari. Itu takaran mereka tentang kebahagiaan seorang buruh, yang dituntut untuk memberikan seluruh tenaga dan pikirannya, tanpa boleh mengeluh.

Mereka bermain diantara angka-angka. Mereka tidak pernah mempertimbangkan apakah sejumlah angka mampu memanusiakan seorang buruh. Dan mereka menepuk dada karena itu.

Memperbaiki nasib buruh.... Mana mungkin kematian seorang buruh kecil seperti diriku mampu memanusiakan buruh di tengah sebuah bangsa yang sakit ?

SUARA DARI MASA LALU ITU KEMBALI MENGHENTAK, MENGEJUTKAN MARSINAH. TAPI DIA TIDAK TAKUT.

Aku tidak takut. Aku tidak takut. (KE KAWAN-KAWANNYA) Aku tidak takut. (KE SUARA-SUARA) Aku bisa mempertanggung jawabkan semua itu... Masa hidupku yang terhempas-hempas yang terus - menerus dihantui rasa takut bisa

mempertanggung jawabkan semua itu. Kematianku yang menyakitkan. Tulang-tulangku yang remuk; darahku yang berceceran membasahi tumit kalian ... Bisa mempertanggung jawabkan semua itu.

(36)

31 |JKtLrM NomOK PLQsMmMnKs RS T JKtKrKm – N T B 2 0 1 2 Aku disiksa disana... Aku diperkosa disana, dibunuh dengan keji... Begitu kalian telah mematikanku. Begitu kalian merenggut seluruh hak hidupku... Bangsa yang bagaimana kalian pikir aku menyebutnya? Bangsa yang bagaimana?

KETIKA SUARA DARI MASA LALU ITU MENGHILANG, MARSINAH LAGI-LAGI GUSAR. IA DUDUK SAMBIL MEMELUK KEDUA LUTUTNYA, SEPERTI MERINGKUK.

Apa sebenarnya yang sedang kulakukan ini ? Aku kembali mengorek luka itu.... Tuhan, ini menyakitkan. Tidak ! Ini terlalu menyakitkan. Aku tidak akan melakukan ini. Tidak ! Persetan dengan sebuah buku yang terbit. Persetan dengan calon-calon korban yang sekarang ini mungkin telah berdiri ditepi liang lahat dan segera akan menelannya. Aku arwah, dengan air mata yang tak habis-habis.... Arwah yang terus menerus gusar digelayuti beban lama... Apa yang bisa kulakukan ? Tidak !

MARSINAH KEMBALI MENENGADAHKAN KEPALA, SEPERTI BICARA PADA SUARA-SUARA ITU.

Sampaikan pada mereka, Marsinah tidak akan datang! Marsinah yang lemah... Yang lemah lembut... Perempuan miskin yang tak berdaya dan tidak tahu apa-apa... Tidak! Dia tidak akan datang. Dia akan menunggu hingga peradilan agung itu tiba, dan dia akan berdiri disana sebagai saksi utamanya.

SUASANA TIBA-TIBA BERUBAH, CAHAYA MENJADI MERUANG. MARSINAH BANGKIT HERAN.

MARSINAH BERPUTAR MENGAMATI SEKELILINGNYA.

Aku disini sekarang... Sebuah ruangan yang megah... Dan disini, sekelompok manusia berkumpul...

MARSINAH SURUT KE BALE, MENGAMBIL SELENDANGNYA.

Aku akan menghadapi ini dengan sebaik-baiknya...Aku akan membuat mereka terperangah. Aku akan mengecohkan mereka dari setiap sudut yang tidak mereka duga sama sekali.

MARSINAH BERGERAK KE HADAPAN HADIRIN, SAMBIL MENATAP SEKELILING.

(37)

32 |UVtWrX YomZV [W\sXmXnVs ]^ _ UVtVrVm – N T B 2 0 1 2 TATAPAN MARSINAH TERHENTI PADA SATU KELOMPOK HADIRIN.

Dan kalian... Aku mengenali betul siapa kalian... Sebuah generasi, yang

seharusnya ceria dan merdeka, duduk disini dengan tatapan mengandung duka...

MARSINAH BERGERAK KEARAH KELOMPOK ITU.

Demi Tuhan. Bagiku, kalian adalah fakta paling menyakitkan. Kemarahan kalian itu adalah kemarahanku dulu. Harapan dan cita kalian itu adalah harapan dan cita-citaku dulu. Cita-cita yang terlalu sederhana sebenarnya untuk mengorbankan satu kehidupan.

Satu saat, ditengah sebuah arak-arakan, aku menyaksikan kalian menengadahkan muka ke langit, marah... Dengan mulut berbuih, kalian memekik menuntut perubahan Setiap kali aku melihat kalian meronta seperti itu, perasaanku terguncang. Aku ingin sekali berkata, "Jangan!"

Aku adalah korban dari kemarahan seperti itu. Dan tidak satupun dari kita bisa mengelak, kalau kematianku adalah lambang kematian kalian. Lambang kematian sebuah generasi. Kematian dari setiap cita-cita yang merindukan perubahan.

MARSINAH BERHENTI BEBERAPA SAAT SEPERTI SEDANG MENJERNIHKAN PIKIRANNYA. IA LALU MENATAP KELANGIT, DAN MULAI BICARA.

Kalian mungkin tidak akan memahami ini ... Tapi aku ya. Aku memahaminya betul. Didalam matiku aku telah melakukan perjalanan mundur. Sebuah penjelajahan berharga yang kemudian membuka mataku tentang berbagai hal.

Dari situ aku jadi tahu banyak... Aku jadi tahu kalau dunia dimana dulu aku dilahirkan; Dunia yang kemudian dengan dingin telah merenggut hak hidupku; adalah dunia yang sakit, sakit sesakit-sakitnya. Dunia dimana kebenaran-kebenaran dibungkus, dimasukkan ke dalam peti lalu dikubur dalam-dalam...

Didunia seperti itulah aku dibungkam. Tidak cukup hanya dengan gertakan, dengan penganiayaan dan pemerkosaan yang dengan membabi buta telah mereka lakukan. Untuk yakin mulutku tidak lagi akan terbuka, mereka mencabut nyawaku sekaligus.

(38)

33 |`atbrc domea fbgscmcnas hi j `ataram – N T B 2 0 1 2 MARSINAH MENGAMBIL SEBUAH KORAN, LALU MEMBUKA-BUKANYA,

SESAAT.

Kalian pasti tidak bisa membayangkan seberapa banyak kebenaran yang aku ketahui, yang seharusnya kalian ketahui karena sebagai warga masyarakat kalian berhak untuk itu. Aku tidak membaca apa-apa disini. Berita yang kalian dapatkan hanya berita yang boleh kalian dapatkan, bukan yang berhak kalian dapatkan.

Itu sebab kalian baru heboh setelah kebakaran hutan merambat kemana-mana dan mulai menelan korban. Sementara aku...

Aku sudah mengetahui semua itu lama sebelum api pertama disulut. Aku tahu siapa yang menyulut api, dan aku tahu persis kenapa. Semua kalian heboh membicarakan kebakaran hutan. Semua kalian marah dan resah... Koran-koran, seminar-seminar, pertunjukan-pertunjukan kesenian meradang membicarakan kebakaran hutan, seolah kebakaran hutan itu bencana yang datang begitu saja dari langit dan hanya mungkin ditangiskan pada Tuhan. Kehebohan yang tak bertenaga dan tak punya gigi...

MARSINAH MEMBACA KORAN

Pemulihan kondisi moneter akan terus diupayakan. Jangan aku dikultuskan... Tapi bukan berarti aku menolak untuk dikultuskan... Namun, renungkanlah... Waou....

MARSINAH MELEMPAR KORAN ITU KASAR. TAPI TIBA-TIBA JADI TERPERANJAT ATAS ULAHNYA.

Sebentar! Apakah diruangan ini ada intel atau aparat? Alhamdulillah... Dan tolong dicatat baik-baik. Marsinah sebenarnya tidak sungguh-sungguh ingin menggugat. Dia hanya takjub... Rakyat yang mana yang sempat memikirkan pemulihan kondisi moneter? Apa yang mampu mereka pikirkan dengan perut melilit? Mereka terseok-seok terancam kelaparan. Pikiran dan perasaan meraka tercekam mendengar ratusan orang mati karena kelaparan justru ditempatkan dimana uang sedang terus ditambang.

(39)

34 |kltmrn oompl qmrsnmnnls st u kltlrlm – N T B 2 0 1 2 Didunia seperti itulah kalian tumbuh sebagai generasi penerus. Dunia dimana diatas pundak kalian masa depan sebuah bangsa dipercayakan, sambil pada saat yang sama, kedalam rongga hidung kalian serbuk yang mematikan akal sehat, terus menerus ditiupkan. Generasi tumbal...

Generasi yang malang....

MARSINAH MEMBUANG PANDANGAN KE ARAH LAIN.

Lalu kalian.... Entah apa yang aku katakan pada kalian? Terus terang, berhadapan dengan kalian adalah bagian yang paling aku takutkan. Lengan kananku biru kejang-kejang dicengkram dengan kasar oleh seorang satpam yang mencoba menjaili izin haidku dengan merogoh kasar celana dalamku.

Berminggu-minggu si Kuneng, buruh dibawah usia itu dibelenggu rasa takut ketika satpam lain dengan kasar meremas susunya yang belum tumbuh, yang masih melekat ditulang rusuknya. Satpam-satpam itu sama melaratnya dengan kami. Sama menderitanya. Hanya karena mereka laki-laki dan punya pentungan... Mereka merasa berhak ikut-ikutan melukai kami... Ikut-ikutan memperlakukan kami bagai bulan-bulanan. Tapi bukan Subiyanto.

Bagi kami Subiyanto adalah kekecualian. Subiyantolah yang membawa Kuneng ke ahli jiwa, ketika perempuan itu satu saat betul-betul terguncang. Dia mencari pinjaman kesana kemari untuk itu. Bagi kami Subiyanto selalu menjadi pelindung.... Dan dia dituduh sebagai salah satu pembunuhku ? Gila... Lalat hinggap dimakan malamnya dia tidak akan mengusirnya. Itulah Subiyanto.

MARSINAH MEMBUANG PANDANGANNYA, JAUH. SINIS.

Aku menyaksikan bagaimana Lembaga Peradilan berubah menjadi lembaga penganiayaan. Aku menyaksikan bagaimana saksi-saksi utama dibungkam, dilenyapkan... Menyaksikan saksi-saksi palsu berdiri seperti boneka, remuk dan ketakutan.... Dan Subiyanto ada disana... Lelaki berhati lembut itu disiksa disana. Dianiaya, ditelanjangi, disetrum kemaluannya, dan dipaksa mengakui telah ikut membunuhku. Mereka menciptakan cerita-cerita bohong; Mereka memfitnah; Mereka menghakimi orang-orang yang tidak pernah ada.

(40)

35 |vwtxry zom{w |x}symynws ~ € vwtwrwm – N T B 2 0 1 2 Apa yang akan kalian katakan tentang itu? Bahwa Hukum itu gagap? Bahwa Lembaga Peradilan itu gagap? Bahwa diatas meja, dimana mestinya ditegakkan disitulah, uang, darah dan peluru lebih dahulu saling melumuri? Demi Tuhan. Aku tidak bisa membayangkan, bagaimana kelak kalian akan

mempertanggungjawabkan itu pada anak cucu kalian... Lembaga Peradilan adalah harapan terakhir bagi orang-orang kecil seperti kami. Satu-satunya tempat yang seharusnya memberikan pada kami perlindungan.

Tapi apa yang kami dapatkan? Apa yang kami dapatkan?

MARSINAH TIBA-TIBA BERHENTI, MENGALIHKAN TATAPANNYA KE ARAH LAIN.

Nanti dulu. Aku seperti menyaksikan sebuah pemandangan bagus.

MARSINAH MENGAMBIL TEROPONG DARI MEJA PERLENGKAPANNYA, UNTUK BISA MELIHAT DENGAN JELAS.

Bukankah bapak yang duduk di pojok itu adalah seorang anggota DPR? Atau... Jangan-jangan, beliau ini adalah anggota DPR dari Partai terlarang itu? Hm.... Lagi-lagi Kuneng.... Lagi-Lagi-lagi perempuan malang itu mengingatkanku betapa

menyakitkannya menjadi orang tak berdaya. Satu tahun Kuneng berhasil menunda pengosongan

kampung Ijo itu. Kampung dimana Orangtuanya memiliki sepetak kecil tanah yang dibeli dengan cara cicilan.

Bulak-balik Kuneng ke kantor DPR. Dia yakin betul para wakil Rakyat itu mampu membelanya memperoleh ganti rugi yang lebih layak. Satu hari, sepulang kerja, Kuneng terperangah kecewa. Kampung Ijo itu sudah rata digilas traktor. Kuneng akhirnya mati gantung diri. Dan sampai akhir hayatnya dia tidak pernah memahami permaianan apa sebenarnya yang terjadi diatas semua perkara itu.

(41)

36 |‚tƒr„ …om†‚ ‡ƒˆs„m„n‚s ‰Š ‹ ‚t‚r‚m – N T B 2 0 1 2 Tapi aku menyaksikan bagaimana harkat orang-orang dirampas, menyaksikan rumah-rumah digusur; Ibu-ibu menangis, anak-anak kucar-kacir kebingungan... Aku bahkan menyaksikan bagaimana popor senapan mengamuk merenggut nyawa dan harga diri. Dan gedung raksasa itu tidak berbuat apa-apa selain bungkam.

Dan bapak.... Bapak duduk disini, ditengah peluncuran sebuah buku yang ditulis atas kematian seorang buruh kecil, karena ketidakmampuan kalian membela nasibnya. Demi Tuhan.... Aku ingin sekali tahu, apakah kesadaran Bapak hadir disini

merupakan hasil proyek pembekalan yang menghebohkan itu?

MARSINAH MENINGGALKAN PAK DPR, BICARA PADA HADIRIN.

Kalian lihat itu? Bungkam. apa aku bilang? Wakil rakyat itu, mestinya dibekali Rakyat, bukan sebaliknya.

DERAP SEPATU ITU KEMBALI TERDENGAR. MARSINAH SADAR DIA SUDAH HARUS MENYELESAIKAN TUGASNYA. IA SURUT PERLAHAN. MENDADAK TATAPANNYA BERUBAH, GELAP, GERAM.

Sebuah buku ditulis atas kematianku.... Lalu diluncurkan.... Lalu kalian semua hadir disini menunjukan keprihatinan. Keprihatinan apa? Kalau ada yang berhak untuk prihatin disini, aku. Akulah perempuan malang itu.... Aku Marsinah....

Demi Tuhan, aku ingin sekali bertanya, "Apa sebenarnya yang kalian pikir telah kalian perbuat untukku"? Penghargaan-penghargaan itu? Buku yang diterbitkan itu? Atau jerih payah yang kalian berikan untuk menjadikanku seorang Pahlawan? Aku tidak pernah bercita-cita jadi Pahlawan.

MARSINAH TERSENDAT OLEH KEMARAHAN YANG MENDADAK MENDESAKNYA.

Aku nyawa yang tersumbat... Aku kehidupan yang dihentikan dengan keji hanya karena aku mengira aku punya hak untuk mengatakan tidak.... Hanya karena mengira aku berhak untuk punya harapan, Berhak punya jiwa dan raga...

Memperjuangkan sesuap nasi untuk tidak terlalu lapar, Memperjuangkan sedikit tambahan uang untuk meningkatkan pendidikanku yang pas-pasan. Aku

(42)

37 |ŒtŽr om‘ ’Ž“smns ”• – Œtrm – N T B 2 0 1 2 Kalian tahu apa sebenarnya yang paling menyakitkan dari semua itu? Kalian membiarkan dan menerimanya sebagai kebenaran... Kebenaran sinting... Kebenaran yang tidak bisa disentuh atau diapa-apakan...

Kekuatan apa kira-kira yang mampu meremukkan tulang kemaluan seorang perempuan hingga merobek dinding rahimnya, kalau bukan kebiadaban?

SUARA-SUARA MASA LALU ITU KEMBALI MENYERGAP MARSINAH. IA TIBA-TIBA PANIK, SEOLAH SELURUH PENGALAMAN PAHIT DIMASA LALU ITU MENDADAK KEMBALI KEDALAM TUBUHNYA. IA BERPUTAR....

Aku ingat betul bagaimana rasa takut itu menyergapku, ketika tangan-tangan kasar tiba-tiba mengepungku dari belakang, mengikat mataku dengan kain, kencang, lalu mendorongku masuk kesebuah mobil, yang segera meluncur, entah kearah mana... Tidak ada suara... Aku tidak tahu seberapa jauh aku dibawa... Tapi aku ingat betul ketika mobil itu berhenti, aku didorong keluar kasar sekali. Aku diseret, asal... Aku tidak ingat seberapa jauh aku diseret-seret seperti itu. Aku hanya ingat tubuhku menggigil keras didera oleh rasa takut yang dahsyat.

Aku kemudian mendengar sebuah pintu dibuka tepat dihadapanku. Aku tidak tahu apakah kepalaku membentur tembok atau sebuah pentungan telah dipukulkan kekeningku. Aku hanya tahu aku tersungkur dilantai... Ketika aku mencoba bergerak, beberapa kaki bersepatu berat dengan sigap menahanku, menginjak kedua tulang keringku, perutku, dadaku, kedua tanganku....

Kata-kata kotor berhamburan memaki, mengikuti setiap siksaan yang kemudian menyusul. Aku tidak tahu berapa kali tubuhku diangkat, lalu dibanting keras. Diangkat lagi, lalu dibantinglagi.... Kelantai... Kesudut meja....Ke kursi.... Sampai akhirnya aku betul-betul tak berdaya...

Kebiadaban itu tidak mengenal kata puas... Aku bahkan sudah tidak bisa menggerakkan ujung tanganku ketika dengan membabi buta, mereka menggerayangi seluruh tubuhku.

MARSINAH KEMBALI TERSENDAT, GUGUP.

(43)

38 |—˜t™rš ›omœ˜ ™žsšmšn˜s Ÿ  ¡ —˜t˜r˜m – N T B 2 0 1 2 rahangku seakan terkoyak. Aku terus melawan... Terus... Sampai aku akhirnya kehabisan semuanya... Suaraku.... Tenagaku... Semua...

Aku biarkan mereka melahapku sepuas-puasnya.Aku biarkan tulang-tulangku diremuk-remukkan.

Dan...

MARSINAH TERSENDAT LAGI. TUBUHNYA BERGETAR KERAS.

Dan sebuah benda, besar, tajam, keras... Yang aku tidak mampu membayangkan, apa....

Dihunjamkan menembus tulang kemaluanku...

MARSINAH MENJATUHKAN TUBUHNYA. IA BERGERAK SETENGAH MERAYAP.

Tuhan, kenapa? Kenapa aku ? Aku ingin sekali menangis, tapi aku tidak mampu. Aku terlalu remuk bahkan untuk meneteskan setetes air matapun. Darah... Aku melihat darah dimana-mana. Darah itu menghitam dan kotor... Kotor sekali... Dia

melumuri perutku... Melumuri kedua pahaku bagian dalam. Berceceran dilantai; Belepotan dipintu, dikaki meja... Dimana-mana... Itulah saat-saat paling akhir aku bisa merasakan sesuatu. Sesuatu yang terlalu menyakitkan. Sesuatu yang

menakutkannya... Yang kebiadabannya... Demi Tuhan, tidak layak dialami siapapun...

Aku merasa hina... Aku merasa kotor... Dan aku sendirian...Aku betul-betul sendirian...

Aku berusaha mengangkat tubuhku mencari... Entah apa... Entah siapa yang kucari? Nenekku Poerah dan adik-adikku? Ayahku....Kawan-kawanku? Dimana kawan-kawanku? Dimana kalian waktu itu?

Tuhan, kenapa...Kenapa kau biarkan kebiadaban merobek-robek kesucianku? Kenapa kau biarkan ketidakadilan menggerayangi harkat dan kehormatanku? Kau ajarkan kepadaku tentang cinta... Tapi kau biarkan buasnya keserakahan merampas hakku memilikinya... Kau beri aku rahim... Kau janjikan kepadaku tentang

mukjizat-mukjizatnya... Tapi kenapa kau biarkan ia remuk oleh menakutkannya kekuasaan. Kenapa? Kenapa?

(44)

39 |¢£t¤r¥ ¦om§£ ¨¤©s¥m¥n£s ª« ¬ ¢£t£r£m – N T B 2 0 1 2 Aku mengumpulkan seluruh tenagaku yang masih tersisa, lalu mencoba berzikir... Tapi ketika aku hendak membuka mulutku memanggil asmanya.... Tuhan.... Mulutku terasa kelu... Aku merasa tidak layak... Aku merasa terlalu kotor... Kotor sekali...

Aku lalu mulai menghitung.... Satu, dua, sepuluh, seratus,... Terus... Aku terus menghitung.... Enam ribu. Tujuh ribu. Sepuluh ribu... Aku ingin sekali dapat melupakan ketakutanku. Aku ingin sekali dapat membunuh perasaan jijik yang menyerangku, tapi aku tidak berhasil... Dalam keadaan remuk, aku berusaha keras untuk bangkit, lalu mulai berputar...

MARSINAH MULAI MEMUTAR TUBUHNYA, PELAN, SAMPAI MENJADI KENCANG.

Aku berputar... Aku terus berputar... Berputar... Berputar... Berputar,...

MARSINAH TERSUNGKUR JATUH, HENING. TERDENGAR SUARA MEMBACAKAN LA ILLAH HA ILLALLAH (KOOR)

Aku rayakan kegilaanku pad penderitaanku yang tak tertahankan.... Aku pertontonkan dalam pesta dosa dan kenistaan... Aku nyalakan bara dalam dadaku... Aku biarkan asapnya mengepul dari setiap pori-poriku... Api mengaliri pembuluh darahku... Api nafas didalam paru-paruku... Seluruh diriku hangus, terbakar oleh kebencianku pada ketidak adilan...

CAHAYA VERTIKAL MENIMPA KERAS TUBUH MARSINAH. MARSINAH MENGULURKAN TANGANNYA DAN MERAUP TANAH DISEKITARNYA KE DALAM GENGGAMAN, BICARA LIRIH. DIKEJAUHAN, SESEORANG MEMBACAKAN " Yaa ayyatuhan nafsul...."

Tanah... Tanah ini.... Tanah yang dulu memberiku kehidupan dan harapan, kini menyatu dengan daging dan tulang-tulangku Kini, aku adalah tanah dan debu sekaligus.

MARSINAH MERAYAP UNTUK MENCAPAI BALE DAN MULAI BICARA LEBIH JERNIH.

Aku akan pergi sekarang... Aku harus pergi...

CAHAYA PADA MARSINAH DISSOVE DENGAN CAHAYA PADA SEBUAH LAYAR DIMANA WAJAH MARSINAH YANG SESUNGGUHNYA

Referensi

Dokumen terkait