• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MATERI POPULASI HEWAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MATERI POPULASI HEWAN"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PENDAHULUAN

Pengetahuan tentang populasi hewan, khususnya yang berhubungan dengan dinamika populasi banyak mengembangkan kaidah-kaidah matematis terutama dalam pembahasan kepadatan dan pertumbuhan populasi. Pengembangan kaidah-kaidah tersebut sangat berguna untuk menentukan dan memprediksikan pertumbuhan populasi organisme (hewan) pada masa yang akan datang dengan memperhatikan faktor faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Pengetahuan tentang dinamika populasi menyadarkan orang untuk mengendalikan populasi dari pertumbuhan meledak atau punah (Susanto, 2000). Oleh karena itu pemahaman terhadap fakta, konsep, prinsip maupun prosedur materi populasi hewan sangat bermanfaat dalam kehidupan nyata.

Identifikasi masalah pada mata kuliah Ekologi Hewan Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Jember, khususnya materi populasi hewan menunjukkan adanya kesulitan mahasiswa untuk memahami konsep-konsep populasi hewan. Selain itu, dalam proses pembelajaran, dosen masih banyak berperan aktif menyampaikan konsep-konsep dasar secara teoritis (teacher centered) dan belum mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata. Akibatnya pemahaman mahasiswa terhadap materi yang diajarkan kurang karena mahasiswa sebatas mengingat, menghafal, mengenal dan menjelaskan fakta-fakta.

Sesuai dengan paradigma pendidikan saat ini yang memandang sains lebih Oleh : Novy Eurika

FKIP Universitas Muhammadiyah Jember Jalan Karimata No. 49 Jember Email : [email protected]

Perum Mastrip Blok R-23 Jember

Abstract

This research and development aims to gain teaching material for Animal Population material consisting of a handout and student activities sheets (Lembar Kegiatan Mahasiswa). This development is applying three of four steps of 4-D development Thiagarajan et al, (1974), which are: (1) define, (2) design and (3) develop. Data is obtained from result of expert appraisal from material experts along with teaching material and 6 (six) students through appraisal form. Furthermore, data is analyzed using descriptive analysis. Research result shows that the developed teaching material is feasible for teaching of animal population material.

(2)

sebagai proses daripada sebagai produk, maka pembelajaran sains saat ini hendaknya mengarahkan mahasiswa untuk dapat berinkuri ilmiah dalam membangun konsep sendiri melalui penjelajahan alam sekitar (Depdiknas, 2006). Hal ini dapat diakomodasi melalui model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM).

Pembelajaran berbasis masalah (PBM) merupakan model pembelajaran dari paradigma konstruktivisme. Pembelajaran berbasis masalah mempunyai akar pemikiran yang sama dengan pengajaran inkuiri dan belajar kooperatif (Arends, 2008). Pembelajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar (Arends, 2008).

Penerapan PBM dalam pembelajaran materi popuasi hewan juga perlu didukung dengan bahan ajar yang memadai. Bahan ajar yang digunakan hendaknya sesuai dengan karakteristik materi ajar, pebelajar (mahasiswa) dan model pembelajaran yang digunakan, dalam hal ini adalah model PBM. Menurut Depdiknas (2008), bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang dipergunakan untuk membantu dosen dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, baik berupa bahan tertulis atau tidak tertulis yang befungsi membantu pengajar dalam mengarahkan semua aktivitasnya pada proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya dipelajari dan dikuasai peserta didik.

Belum tersedianya bahan ajar yang sesuai menjadi kendala tersendiri dalam penerapan model PBM pada pembelajaran materi Populasi Hewan di Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Muhammadiyah Jember. Oleh karena itu diperlukan pengembangan bahan

ajar untuk materi Populasi Hewan guna mendukung penerapan model PBM dalam pembelajaran tersebut.

Salah satu jenis bahan ajar yang dapat dikembangkan untuk mengarahkan aktivitas mahasiswa pada model PBM adalah Lembar Kegiatan Mahasiswa (LKM). Bahan ajar cetak berupa Lembar Kegiatan Mahasiswa (LKM) atau student worksheet adalah lembar-lembar yang berisi tugas yang harus dikerjakan mahasiswa untuk menguasai kompetensi yang dipersyaratkan. LKM biasanya berisi petunjuk atau langkah-langkah penyelesaian tugas.

Karena itu petunjuk dan tugas yang disampaikan lewat LKS ini harus jelas kompetensi dasar yang akan dicapai siswa. Agar tugas-tugas dalam LKS dapat dikerjakan siswa dengan baik, jika LKS dilengkapi/ditunjang dengan bahan ajar lain (yang terkait dengan tugasnya) sebagai referensi. Dalam penerapannya di kelas, LKM dapat dilengkapi (didukung) dengan bahan ajar lain, salah satunya adalah Handout (Darkuni, 2010)

Handout merupakan bahan ajar cetak tertulis yang diharapkan dapat mendukung bahan ajar lainnya atau penjelasan dosen (Depdiknas, 2008). Handout biasanya diambil dari beberapa literatur yang memliki relevansi dengan materi yang diajarkan atau kompetensi dasar dan materi pokok yang harus dikuasai siswa atau mahasiswa.

Handout dapat diperoleh dengan cara download dari internet, atau menyadur dari sebuah buku dan sumber lainnya. Bahan ini akan membantu guru dan dosen dalam melaksanakan pembelajaran, sebab handout bisanya dibuat sebagai “rancangan/planning” kegiatan belajar ke depan (Darkuni, 2010).

(3)

Pengembangan bahan ajar pada penelitian ini, merupakan serangkaian proses atau kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan produk bahan ajar. Kegiatan pengembangan didasarkan pada hasil analisis kebutuhan, dan teori pengembangan yang telah ada.

Pengembangan bahan ajar dilakukan melalui tahap pengkajian yang sistematis terhadap aspek isi atau substansi materi, aspek kebahasaan, dan aspek sajian dan aspek kegrafisan.

Tahapan ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar yang valid, praktis, dan berkualitas. Ketersediaan bahan ajar hasil pengembangan, diharapkan dapat memaksimalkan proses pembelajaran, sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. METODE PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

Model penelitian dan pengembangan bahan ajar yang digunakan merupakan hasil adaptasi model pengembangan 4-P Thiagarajan, yang terdiri dari: (1) pendefinisian, (2) perencanaan, dan (3) pengembangan. Uji validasi ahli dilakukan oleh ahli materi sekaligus bahan ajar, sedangkan uji pengembangan meliputi uji perorangan dan uji kelompok kecil yang melibatkan subyek coba mahasiswa.

Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis skor penilaian dari angket berskala sehingga diketahui kriteria kelayakan perangkat pembelajaran. Sedangkan saran dan masukan dari subyek coba digunakan sebagai pertimbangan dalam melakukan revisi terhadap produk pengembangan.

HASIL PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

Hasil Validasi Ahli terhadap Handout Validasi aspek materi dan struktur Handout oleh ahli menggunakan lembar validasi Handout. Aspek penilaian Handout meliputi penilaian terhadap kelayakan isi, kebahasaan, sajian dan kegrafisan. Hasil analisis data validasi ahli terhadap silabus dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 1.

Analisis Skor Validasi Handout Aspek Penilaian Skor Rata-Rata Validator

Kelayakan Isi A. 3,8 Kebahasaan B. 3,9 Sajian C. 3,8 Kegrafisan D. 3,8 Rata-rata 3,8

Hasil analisis skor validasi Handout oleh ahli diperoleh nilai rata-rata sebesar 3,8. Berdasarkan tabel kriteria kelayakan, nilai tersebut berada pada kisaran 3,26-4, maka nilai tersebut termasuk pada kategori sangat layak dan tidak perlu direvisi. Produk Handout hasil pengembangan meskipun telah memenuhi kriteria kelayakan, namun masih perlu dilakukan perbaikan berdasarkan saran ahli materi dan ahli perangkat pembelajaran. Beberapa catatan dan saran perbaikan ahli terhadap Handout yang dikembangkan adalah: (1) Handout yang disusun sudah cukup lengkap dan ditampilkan secara ringkas; (2) secara umum Handout yang dikembangkan sudah bagus, sistematis, sesuai dan mudah dipelajari; (3) perlu ada penambahan contoh atau ilustrasi pada konsep tertentu agar lebih jelas.

(4)

Hasil Validasi Ahli terhadap LKM Validasi aspek materi dan struktur LKM oleh ahli menggunakan lembar validasi LKM. Aspek penilaian LKM meliputi penilaian terhadap kelayakan isi, kebahasaan, sajian dan kegrafisan. Hasil analisis data validasi ahli terhadap silabus dapat dilihat pada tabel 2.

Hasil analisis skor validasi LKM oleh ahli diperoleh nilai rata-rata sebesar 3,7. Berdasarkan tabel kriteria kelayakan, nilai tersebut berada pada kisaran 3,26-4, maka nilai tersebut termasuk pada kategori sangat layak dan tidak perlu direvisi.

Produk LKM hasil pengembangan telah memenuhi kriteria kelayakan, namun masih perlu dilakukan perbaikan berdasarkan saran ahli materi dan ahli perangkat pembelajaran. Secara umum, ahi menilai bahwa LKM yang dikembangkan sudah cukup lengkap dan operasional. Berikut ini tabel hasil analisis skor validitas LKM.

Tabel 2.

Analisis Skor Validasi LKM

Aspek Penilaian Skor Rata-Rata Validator

Kelayakan Isi A. 3,9 Kebahasaan B. 3,6 Sajian C. 3,8 Kegrafisan D. 3,6 Rata-rata 3,7

Hasil Penilaian Mahasiswa terhadap Handout

Penilaian Handout oleh mahasiswa menggunakan angket penilaian terhadap Handout yang berisi 13 pernyataan, meliputi aspek isi, kebahasaan dan sajian. Tujuan penilaian ini adalah untuk mengetahui keterbacaan Handout.

Hasil analisis skor penilaian mahasiswa terhadap Handout dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 3.

Analisis Skor Penilaian Mahasiswa terhadap Handout

Aspek Penilaian Skor Rata-Rata Mahasiswa Isi/Materi A. 3,5 Kebahasaan B. 3,5 Sajian C. 3,3 Rata-rata 3,4

Hasil analisis skor penilaian Handout oleh mahasiswa pada uji perorangan diperoleh nilai rata-rata sebesar 3,4. Berdasarkan tabel kriteria kelayakan, nilai tersebut berada pada kisaran 3,26-4, maka nilai tersebut termasuk pada kategori sangat layak dan tidak perlu direvisi.

Beberapa komentar/catatan dan masukan mahasiswa terhadap Handout yang dikembangkan adalah: (1) materi dalam Handout sudah sesuai dan mudah dipahami; (2) gambar/ilustrasi yang ditampilkan pada Handout sudah sesuai tetapi sebaiknya gambar perlu sedikit diperbesar; (3) Handout secara umum sudah sesuai, menarik dan mendukung aspek keterbacaan.

Hasil Peniaian Mahasiswa terhadap LKM

Penilaian LKM oleh mahasiswa menggunakan angket penilaian terhadap LKM yang berisi 13 pernyataan, meliputi aspek isi, kebahasaan dan sajian. Tujuan penilaian ini adalah untuk mengetahui keterbacaan LKM Hasil analisis skor penilaian mahasiswa terhadap LKM dapat dilihat pada tabel 4.

(5)

Tabel 4.

Analisis Skor Penilaian Mahasiswa terhadap Handout

Aspek Penilaian Skor Rata-Rata Validator

Kelayakan Isi A. 3,9 Kebahasaan B. 3,6 Sajian C. 3,8 Kegrafisan D. 3,6 Rata-rata 3,7

Hasil analisis skor penilaian LKM oleh mahasiswa pada uji perorangan diperoleh nilai rata-rata sebesar 3,5. Berdasarkan tabel kriteria kelayakan, nilai tersebut berada pada kisaran 3,26-4, maka nilai tersebut termasuk pada kategori sangat layak dan tidak perlu direvisi. Komentar/catatan mahasiswa terhadap LKM secara umum menilai bahwa LKM sudah cukup jelas dan mudah dipahami dan telah mencakup keseluruhan materi yang dibahas.

Revisi Bahan Ajar

Hasil analisis data terhadap aspek kelayakan dan keterbacaan, menunjukkan bahwa secara umum kualitas bahan ajar yang dikembangkan sudah baik. Namun demikian, beberapa draft yang masih kurang memenuhi standar penilaian akan direvisi melalui catatan/komentar dan saran serta masukan dari subyek uji coba, baik yang dituliskan pada lembar penilaian maupun yang dituliskan langsung pada draft bahan ajar. Proses revisi bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar yang lebih berkualitas dan layak digunakan. Bagian draft awal Handout dan LKM yang direvisi, antara lain adalah: (1) Sajian materi handout terlalu banyak, sehingga perlu disusun dengan lebih ringkas, beberapa konsep belum diperjelas dengan contoh/ilustrasi

gambar, sehingga perlu diperjelas dengan contoh/ilustrasi gambar; (2) Tujuan LKM perlu disesuaikan denga tujuan pembelajaran.

PEMBAHASAN

Handout yang dikembangkan sebagai salah satu jenis bahan ajar cetak secara umum juga telah memenuhi kriteria baik dari aspek isi, kebahasaan, sajian dan kegrafisan sehingga layak digunakan dalam pembelajaran. Bahan ajar ini dikembangkan berdasarkan analisis kebutuhan sebagai sumber belajar penunjang bagi mahasiswa disamping sumber belajar lain seperti LKM maupun buku teks. Handout yang dikembangkan mengacu pada panduan pengembangan bahan ajar Depdiknas (2008). Struktur Handout yang dikembangkan terdiri dari bagian pendahuluan, uraian materi dan bagian penutup. Bagian pendahuluan berisi petunjuk belajar, petunjuk penggunaan Handout, kompetensi yang akan dicapai mahasiswa, dan peta konsep. Uraian materi penjabaran dari konsep-konsep populasi hewan yang diperjelas dengan ilustrasi gambar, sedangkan bagian penutup berisi evaluasi. Tampilan Handout yang ringkas, sistematis dan menarik secara umum dinilai telah cukup terbaca oleh mahasiswa, meskipun masih ada beberapa kata atau kalimat yang memerlukan penjelasan lebih.

Pengunaan Handout sebagai sebagai bahan ajar pada materi Populasi Hewan ini diperlukan guna memberikan pengetahuan awal kepada mahasiswa mengenai materi Populasi Hewan yang diajarkan melalui model PBM. Pengetahuan awal yang telah dimiliki mahasiswa (prior knowledge/PK) merupakan salah satu

(6)

aspek penting dalam pembelajaran berbasis masalah, mengingat PK merupakan modal utama dalam proses diskusi kelompok. Penyusun skenario untuk PBM perlu memperhatikan PK yang dimiliki oleh para peserta didik; apabila tidak maka para peserta didik akan mengalami kesulitan selama mereka melakukan diskusi (Harsono, 2000). Pembelajaran Berbasis Masalah menuntut mahasiswa untuk aktif melakukan proses integrasi pengetahuan atau pengalaman baru dengan prior knowledge atau pengetahuan yang sudah dimiliki. Pembelajaran tersebut akan mengubah struktur kognitif mahasiswa selalu terjadi perubahan, yang akhimya diharapkan mampu membentuk keterampilan mahasiswa dalam memecahkan permasalahan (Izzaty, 2006).

Analisis ahli materi dan bahan ajar menilai LKM yang dikembangkan telah memenuhi kriteria kelayakan baik dari aspek isi, kebahasaan, sajian dan kegrafisan sehingga dapat digunakan dalam pembelajaran. LKM dikembangkan sebagai salah satu jenis bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran melalui model PBM. Struktur LKM terdiri dari topik, standar kompetensi, kompetensi dasar, tujuan, alat dan bahan, prosedur kegiatan, serta penilaian. LKM dikembangkan berdasarkan karakteristik materi ajar, karakteristik mahasiswa dan karakteristik model PBM.

Pembelajaran berbasis masalah menggunakan masalah sebagai ”trigger” untuk belajar. Masalah yang digunakan sebagai “trigger” dalam LKM ini dikemas dalam bentuk wacana-wacana. Salah satu catatan penting dari penilaian ahli materi dan bahan ajar terhadap LKM yang dikembangkan ini adalah ketepatan pemilihan masalah yang

sesuai dengan PBM. Arends (2008) menjelaskan bahwa masalah yang baik dalam PBM setidaknya memenuhi lima kriteria penting yaitu; (1) masalah harus bersifat autentik, artinya masalah harus dikaitkan dengan pengalaman riil siswa dan bukan dengan prinsip-prinsip akademis tertentu; (2) masalah sebaiknya tidak jelas sehingga menciptakan teka-teki dan menuntut penyelesaian yang tidak sederhana; (3) masalah seharusnya bermakna bagi siswa sesuai dengan tingkat perkembangan intelektualnya; (4) masalah sebaiknya cukup luas (kompleks) sehingga memberikan kesempatan kepada guru untuk memenuhi tujuan pembelajaran; dan (5) masalah yang baik harus mendapatkan manfaat dari usaha kelompok.

White (1997) dalam Paidi (2008) menjelaskan bahwa masalah kompleks atau ill structured diperlukan untuk melatih kemampuan siswa mengenal masalah autentik dan menemukan alternatif-alternatif solusinya. Permasalahan kompleks memerlukan analisis, upaya kooperatif, serta pemikiran dari berbagai sudut padang untuk dapat mengenal dan memecahkannnya dengan baik. Pembelajaran yang didasarkan pada ill structured menempatkan mahasiswa untuk bekerja secara berkelompok secara kolaboratif untuk mengidentifikasi hal-hal yang mereka perlukan untuk belajar guna memecahkan masalah, mengarahkan belajar mandiri, mengaplikasikan pengetahuan baru mereka untuk permasalahan itu, serta merefleksi apa yang telah mereka pelajari dan keefektifan strategi yang telah mereka gunakan.

Masalah-masalah yang diangkat melalui wacana-wacana dalam LKM dinilai telah sesuai dengan aspek kontekstual dan keluasan masalah. Uji

(7)

keterbacaan LKM oleh mahasiswa menilai bahwa masalah masalah yang disajikan dalam wacana LKM menarik dan tidak asing bagi mahasiswa. Masalah-masalah terkait materi Populasi Hewan yang di angkat seperti masalah ledakan populasi ulat bulu di Probolinggo, ledakan populasi Tomcat, penurunan populasi satwa di Taman Nasional Baluran adalah masalah-masalah kontekstual yang dekat dengan mahasiswa. Masalah-masalah tersebut memerlukan lebih dari satu solusi pemecahan yang dapat dirumuskan mahasiswa secara kolaboratif sesuai dengan langkah pemecahan masalah. Langkah-langkah pemecahan masalah dalam LKM diarahkan secara operasional melalui prosedur kerja dalam LKM. LKM juga dilengkapi dengan format laporan hasil diskusi sebagai produk atau artifak hasil PBM yang harus disajikan oleh mahasiswa.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan ini, dapat disimpulkan bahwa secara umum kualitas bahan ajar yang dikembangkan sudah baik, sehingga dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Peneliti memberikan saran pemanfaatan, yaitu bagi dosen dan mahasiswa yang ingin menggunakan bahan ajar, hendaknya memperhatikan komponen-komponen dalam Handout dan LKM agar kedua bahan ajar tersebut dapat dimanfaatkan secara masimal, (2) Handout dan LKM yang dikembangkan hendaknya digunakan secara terintegrasi dalam proses pembelajaran populasi hewan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai, saran diseminasi, yaitu (1) diperkenalkan pada forum seminar atau diskusi, (2) Dimuat pada

fasilitas e-learning yang disediakan oleh perguruan tinggi, dan saran pengembangan lebih lanjut, yaitu (1) melaksanakan tahap uji coba lapangan untuk mengetahui efektifitas bahan ajar, (2) memasukkan seluruh bahan kajian mata kuliah Ekologi Hewan.

DAFTAR PUSTAKA

Arends, R. I. (2008). Learning to Teach. New York : Mc Grow Hill. Inc.

Darkuni, N. (2010). Pengembangan bahan Ajar Bidang Studi Biologi. Malang: FMIPA Jurusan Biologi Universitas Negeri Malang.

Depdiknas. (2006). Permendiknas No.22 Tahun 2006. Jakarta : Depdiknas. Depdiknas, (2008). Panduan Pengembangan

Bahan Ajar. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Harsono. (2000). Peran Prior Knowledge dalam Problem Based Learning. Prosiding Seminar Pengembangan Pendidikan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Izzaty, Rita Eka. (2006). Problem Based Learning dalam Pembelajaran di Perguruan Tinggi. (Online), (http:// eprints.uny.ac.id/536/1/Poblem_Based _Learn-ing.pdf), diakses 21 November 2011.

Paidi. (2008). Pengembangan Perangkat Pembelajaran Biologi Yang Mengimplementasikan PBL dan Strategi Metakognitif Serta Efektivitasnya Terhadap Kemampuan Metakognitif, Pemecahan Masalah, dan Penguasaan Konsep Biologi Siswa SMA di Sleman Yogyakarta. Disertasi tidak diterbitkan. Malang: Program Pascasarjana Universitas

(8)

Negeri Malang.

Susanto, P. (2000). Pengantar Ekologi Hewan. Jakarta: Proyek Pengembangan Guru Sekolah Menengah IBRD Loan No. 3979 Dirjen Dikti.

Thiagarajan, S., Semmel, D. S & Semmel, M. I. (1974). Instructional Development for Training Teachers of Expectional Children. Minneapolis, Minnesota: Leadership Training Institute/ Special Education, University of Minnesota.

Referensi

Dokumen terkait

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization, The Protection of the Underwater Cultural Heritage, Wrecks dapat diakses pada. Vasa Museet, dapat

ROAt-1 dan ROEt-1 Terhadap Profitabilitas Hasil analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa variabel kontrol profitabilitas tahun lalu memiliki nilai p-value sebesar 0,000 baik pada

Karakteristik responden menurut usia menunjukan bahwa, pada data tingkatan usai dalam penelitian dikelompokan dalam 4 kategori yaitu: berusia 18 - 25 Tahun berjumlah 73 pengguna

Serta menghitung kandungan C dan N yang dimiliki air perasan singkong yang sebagai media penumbuh dan melakukan penelitian lanjutan dengan menguji kandungan

Kabupaten Humbang Hasundutan merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga minihidro dan mikrohidro, karena Kabupaten

Apabila proses pemeriksaan perkara suatu Gugatan Perkara Perdata sudah sampai pada tingkat pemeriksaan Banding di Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Tinggi melalui proses

Pendistribusian akat sebagai modal usaha yang diberikan di BAZDA Kabupaten Magelang kalau dianalisis dari perspektif hukum Islam menjadi kajian yang sangat

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan kenakalan remaja adalah perilaku remaja yang melakukan tindakan merusak dan menggangu, baik terhadap diri sendiri maupun