• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh: Regina Meijiko

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Oleh: Regina Meijiko"

Copied!
164
0
0

Teks penuh

(1)

STEREOTIP MASYARAKAT TERHADAP ORANG PAPUA (Studi Kasus Masyarakat Kecamatan Pamulang dan Ciputat, Kota

Tangerang Selatan) Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)

Oleh: Regina Meijiko 11151110000061

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL ILMU POLITIK

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2020

(2)

i

PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME Skripsi yang berjudul:

STEREOTIP MASYARAKAT TERHADAP ORANG PAPUA (Studi Kasus Masyarakat Kecamatan Pamulang dan Ciputat, Kota

Tangerang Selatan)

1. Merupakan hasil karya saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya saya ini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 29 Oktober 2020

(3)

ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI Dengan ini, Pembimbing Skripsi menyatakan bahwa mahasiswa:

Nama : Regina Meijiko

NIM : 11151110000061

Program Studi : Sosiologi

Telah menyelesaikan penulisan skripsi dengan judul:

STEREOTIP MASYARAKAT TERHADAP ORANG PAPUA

(Studi Kasus Masyarakat Kecamatan Pamulang dan Ciputat, Kota Tangerang Selatan)

Dan telah memenuhi persyaratan untuk diuji.

Jakarta, 29 Oktober 2020

Mengetahui, Menyetujui,

Ketua Program Studi Pembimbing

Dr. Cucu Nurhayati, M.Si. Kasyfiyullah, M.Si. NIP. 197609182003122003 NIP. -

(4)

iii

PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI SKRIPSI

STEREOTIP MASYARAKAT TERHADAP ORANG PAPUA (Studi Kasus Masyarakat Kecamatan Pamulang dan Ciputat, Kota

Tangerang Selatan) Oleh

Regina Meijiko 11151110000061

Telah dipertimbangkan dalam sidang ujian skripsi di Fakultas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 13 November 2020. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Sosial (S. Sos) pada Program Studi Sosiologi.

Ketua Sekretaris,

Dr. Cucu Nurhayati, M.Si. Dr. Joharatul Jamilah, M.Si. NIP. 197609182003122003 NIP. 196808161997032002

Penguji I, Penguji II,

Dr. Iim Halimatussa’diyah, M.Si. Mohammad Hasan Ansori, Ph.D NIP. 198101122011012009

(5)

NIP.-iv

Diterima dan dinyatakan memenuhi syarat kelulusan pada tanggal 13 November 2020

Ketua Program Studi Sosiologi, FISIP UIN Jakarta

Dr. Cucu Nurhayati, M.Si. NIP. 197609182003122003

(6)

v ABSTRAK

Penelitian ini membahas tentang bagaimana stereotip masyarakat Tangerang Selatan terhadap masyarakat Papua serta dampak yang terjadi akibat dari adanya stereotip tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dan memperoleh data dengan melakukan wawancara. Penelitian ini bertujuan agar penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi untuk daerah lainnya agar daerah lain juga dapat merubah cara pandang mereka terhadap etnis lain selain etnis mereka, khususnya terhadap etnis Papua. Penelitian ini menggunakan teori yang membahas mengenai beberapa karakteristik serta proses terbentuknya stereotip dan juga jenis-jenis diskriminasi terhadap etnis akibat dampak dari adanya stereotip tersebut. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa masyarakat Tangerang Selatan rata-rata kebanyakan dari mereka tidak menilai sikap dan lainnya dari seorang individu itu dari segi dari etnis mana mereka berasal. Melainkan mereka melihatnya langsung dari sosok orangnya itu sendiri. Kemudian dampak dari adanya stereotip tersebut menyebabkan para orang-orang Papua yang tinggal di Tangerang Selatan menjadi nyaman untuk tinggal di tempat mereka merantau.

(7)

vi

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillahirabbil’alamin, Puji syukur kehadirat Allah SWT, peneliti panjatkan atas segala nikmat yang telah diberikan sehingga peneliti dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul “Stereotip Masyarakat Terhadap Orang Papua (Studi Kasus Masyarakat Kecamatan Pamulang dan Ciputat, Kota Tangerang Selatan)”. Shalawat serta salam peneliti selalu tercurahkan kepada nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat-sahabat dan para pengikutnya yang telah mengembangkan Islam hingga pada saat ini.

Untuk yang paling istimewa, Ayahanda Darma Santri dan Ibunda Tzellydia Rhofinda tersayang. Terima kasih juga untuk ketiga kakak tersayang Melanie Savitri, Laura Olivia Ramadhona, dan Nicky Muhammad Zahab. Terima kasih telah memberikan bantuan materi dan nonmaterial, semangat serta kesabaran yang tiada henti kepada peneliti.

Skripsi ini bukan hanya hasil karya peneliti seorang diri, karena banyak pihak-pihak yang terlibat dalam penyelesaian skripsi ini. Dengan selesainya penelitian ini, maka peneliti tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak yang bersangkutan dengan penyelesaian skripsi ini dan juga kepada orangtua dan kawan-kawan. Untuk itu peneliti ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada: 1. Bapak Prof.Dr. Ali Munhanif, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Bapak dan Ibu Wakil Dekan, serta seluruh Dosen Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik UIN Syarif

(8)

vii

Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan pelajaran selama studi peneliti.

2. Ibu Dr. Cucu Nurhayati, M.Si selaku Ketua Program Studi Sosiologi FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Ibu Dr. Joharotul Jamilah, M.Si selaku Sekretaris Program Studi Sosiologi FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Bapak Kasyfiyullah, M.Si, selaku Pembimbing Skripsi yang telah banyak sekali membantu, memberikan motivasi, mendampingi, dan mendengarkan setiap kesulitan, keluhan dalam pengerjaan penelitian ini. 5. Fajar, Umar, Tubagus, Bapak Adit, Bapak Lukman, Bapak Nurdin, Bapak Darma, Bapak Enpa, Bapak Asep, Bapak Abdul, Bapak Bayu, Bapak Samuel, Bapak Oki, dan Putra yang telah bersedia menjadi Informan dalam penelitian ini.

6. Kak Hilda, Kak Fadli, Kak Anton, Kak Ade, Kak Raditya, dan Bapak Richard yang sudah banyak memberikan saran dan motivasi kepada peneliti selama mengerjakan skripsi.

7. Kakak ipar saya, Nyayu Nuurhasanah dan Bayu Putra Susila yang selalu mendukung dan memberikan semangat kepada saya agar saya tidak lelah dan menyerah. Terima kasih ya kakak-kakak, tanpa kalian aku belum tentu sampai di titik ini.

8. Kawan-kawan Sosiologi FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta angkatan 2015 Terima kasih karena telah menjadi teman seperjuangan yang luar biasa.

(9)

viii

9. Semua pihak yang telah berinteraksi kepada peneliti dan memberikan semangat serta inspirasi dalam menyelesaikan skripsi ini. Peneliti menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, peneliti menerima saran dan kritik yang membangun. Semoga penelitian ini memberi manfaat dan pengetahuan bagi pembaca.

Wassalamu’alaikum. Wr. Wb

Jakarta, 29 Oktober 2020

Regina Meijiko

(10)

ix DAFTAR ISI

PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME. ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI. ... ii

PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI. ... iii

ABSTRAK. ... v KATA PENGANTAR ... vi DAFTAR ISI ... ix DAFTAR TABEL ... xi BAB I PENDAHULUAN A. Pernyataan Masalah ... 1 B. Pertanyaan Penelitian ... 4 C. Tujuan Penelitian ... 4 D. Manfaat Penelitian ... 5 E. Tinjauan Pustaka ... 5 F. Definisi Konseptual...10 G. Kerangka Teoretis ... 11

1. Karakteristik & Proses Stereotip ... 11

2. Jenis Diskriminasi Terhadap Etnis ... 14

H. Metode Penelitian... 16

1. Pendekatan Penelitian ... 16

2. Tempat dan Waktu Penelitian ... 17

3. Sumber Data ... 18

4. Instrumen Penelitian ... 19

5. Teknik Pengumpulan Data………...………..19

6. Teknik Pengolahan Data ... 24 BAB II

(11)

x

A. Persebaran Orang Papua ... 27 B. Gambaran Umum Masyarakat Papua di Wilayah Tangerang Selatan...31 BAB III

PEMBAHASAN

A. Stereotip Masyarakat Tangerang Selatan Terhadap Orang-Orang Papua...35 B. Dampak dari Stereotip Masyarakat Tangerang Selatan Terhadap

Orang-Orang Papua dalam Relasi Sosial Kehidupan Bermasyarakat ... 47 BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan ... 58 B. Saran ... 59 DAFTAR PUSTAKA………..xiii

(12)

xi

DAFTAR TABEL

Tabel I.H.1. Karakteristik Sosial Informan...22 Tabel II.D.1. Struktur Kepengurusan Komunitas KOSAPMAJA Wilayah Tangerang Selatan ... 33

(13)

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I. Transkrip Wawancara ... xx Lampiran II. Dokumentasi ... cii

(14)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Pernyataan Masalah

Pada dasarnya Indonesia memiliki latar belakang beragam etnis. Setiap etnis memiliki aspek stereotip masing-masing. Termasuk salah satunya yaitu stereotip terhadap etnis Papua. Stereotip ini dapat muncul apabila adanya interaksi di antara etnis yang berbeda satu dengan yang lainnya.

Interaksi ini kemudian dapat muncul atau terjadi karena adanya migrasi suatu etnis dari wilayah asalnya ke wilayah lainnya. Namun terkadang akibat atau dampak dari interaksi antar etnis yang terjadi ini dapat berujung konflik, seperti konflik yang sempat terjadi beberapa waktu yang lalu, terdapat peristiwa di Surabaya bahwa adanya pengepungan di asrama mahasiswa-mahasiswa yang berasal dari Papua, dan di sana mereka diberi makian oleh sekelompok organisasi masyarakat (ormas) dan juga aparat di tempat kejadian tersebut seperti kata-kata umpatan terhadap orang-orang Papua (CNN Indonesia, 2019). Ini dapat disebabkan oleh adanya stereotip negatif dari warga lokal terhadap etnis pendatang (Bernie, 2019).

Fokus penelitian ini akan membahas tentang bagaimana stereotip warga lokal Tangerang Selatan terhadap etnis Papua. Peneliti mengambil fokus terhadap etnis Papua selain karena memang sejak bergabung ke dalam negara Indonesia, Papua pembangunannya tertinggal dibandingkan wilayah lainnya (Kusnandar, 2019), dan

(15)

2

juga karena karakteristik fisik etnis Papua cukup berbeda dibandingkan dengan karakteristik fisik etnis lainnya (Putri, 2019).

Tema seperti ini juga sudah pernah dibahas oleh beberapa peneliti, diantaranya yaitu dari Feybee H. Rumondor, Ridwan Paputungan, Pingkan Tangkudung (2014). Penelitian ini membahas tentang bagaimana stereotip suku Minahasa terhadap etnis Papua, yang berstudi kasus pada mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Sam Ratulangi. Hasil dari penelitian ini yaitu stereotip dari suku Minahasa terhadap etnis Papua sangat berimbang, baik itu antara stereotip yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif. Kemudian studi berikutnya yaitu dari Vilta Bernadethe Lefaan (2013). Penelitian ini membahas tentang gambaran konsep diri berdasarkan stereotip pada mahasiswa etnis Papua di kota Surabaya. Namun masih belum ditemukan penelitian yang membahas tentang bagaimana stereotip dari masyarakat Tangerang Selatan terhadap etnis Papua. Bahwa bagaimana pandangan dari masyarakat Tangerang Selatan dalam menilai orang-orang yang berasal dari etnis Papua serta bagaimana dampak atau akibat dari semua itu terhadap kehidupan bermasyarakat di daerah Tangerang Selatan, dalam hal ini terutama antara warga Tangerang Selatan dengan para pendatang yang berasal dari Papua.

Papua merupakan suatu wilayah yang menarik banyak perhatian khalayak, baik karena kompleksitas bahasa, budaya, dan kehidupan masyarakatnya maupun karena masalah-masalah yang muncul dari kompleksitas tersebut. Papua terdiri dari beberapa suku, yang diantaranya sudah terdapat beberapa suku yang telah

(16)

3

membebaskan masyarakatnya untuk bermigrasi dari wilayah Papua. Atau dapat dikatakan telah memperbolehkan untuk masyarakatnya keluar dari wilayah Papua.

Terdapat pula beberapa alasan mengapa warga Papua ini bermigrasi ke pulau lain di luar Papua. Diantaranya seperti dari segi pendidikan dikarenakan beberapa warga Papua ingin menuntut ilmu di luar wilayah Papua, karena mereka juga ingin merasakan suasana dan pengalaman baru. Kemudian dari segi ekonomi juga dikarenakan para warga bermigrasi ke luar wilayah Papua karena ingin memperbaiki tingkat taraf hidup perekonomian mereka.

Berdasarkan uraian di atas penulis akan mengkaji, meneliti dan menulis mengenai dampak yang ditimbulkan dari stereotip terhadap masyarakat Papua khususnya bagi masyarakat Tangerang Selatan, lalu kemudian dari hasil penelitian tersebut akan dikembangkan dan disosialisasikan kepada masyarakat betapa pentingnya tetap mengamal arti dari “Bhineka Tunggal Ika” itu sendiri, maka penulis mengambil judul “Stereotip Masyarakat Terhadap Orang Papua (Studi Kasus Masyarakat Kecamatan Pamulang dan Ciputat, Kota Tangerang Selatan)”.

Kemudian alasan mengapa memilih masyarakat Tangerang Selatan dikarenakan masyarakat yang tinggal di wilayah Kota Tangerang Selatan itu memang dikenal sangat beragam atau dapat dikatakan majemuk. Dalam arti dapat dikatakan para warga yang tinggal di Kota Tangerang Selatan ini memiliki latar belakang asal suku yang sangat beraneka ragam atau majemuk. Kemudian selain itu juga karena memang sejauh ini belum ada studi yang meneliti mengenai bagaimana masyarakat lokal dalam hal ini objek penelitiannya yaitu masyarakat

(17)

4

Tangerang Selatan dalam melihat bagaimana stereotip masyarakat Papua menurut pandangan masyarakat Tangerang Selatan itu sendiri.

Lalu alasan dalam memilih warga yang bertempat tinggal di Perumahan Bumi Serpong Residence, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan dan Gang Puri Intan 2, Pisangan, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan sebagai subjek penelitian karena memang di wilayah-wilayah ini dihuni oleh para warga yang notabene memiliki latar belakang asal suku yang sangat beragam. Kemudian di wilayah-wilayah ini juga para warganya dikenal mudah menerima perbedaan dan keberagaman yang ada di lingkungan perumahan tersebut.

B. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana stereotip masyarakat Tangerang Selatan terhadap orang-orang Papua?

2. Bagaimana dampak dari stereotip masyarakat Tangerang Selatan terhadap orang-orang Papua terkait relasi sosial antara masyarakat lokal dan masyarakat Papua di Tangerang Selatan?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari dilakukannya penelitian ini yaitu:

1. Menjelaskan bagaimana stereotip masyarakat Tangerang Selatan terhadap orang-orang Papua.

(18)

5

2. Mendeskripsikan bagaimana dampak dari stereotip masyarakat Tangerang Selatan terhadap orang-orang Papua terkait relasi sosial antara masyarakat lokal dan masyarakat Papua di Tangerang Selatan.

D. Manfaat Penelitian

Ada beberapa manfaat dari penelitian yang dilakukan, yaitu:

1. Teoretis:

Penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam pengetahuan yang akan dilakukan oleh peneliti baik dalam hal menganalisis masyarakat dan akhirnya mampu memberikan peran dan pembaharuan untuk bidang studi sosiologi dan juga sosiologi klasik.

2. Praktis:

Untuk dapat dijadikan sebagai referensi atau pertimbangan dalam menanggapi permasalahan mengenai stereotip terhadap suku atau etnis lain. Kemudian juga dapat dijadikan sebagai referensi dalam mencari solusi untuk permasalahan mengenai stereotip terhadap suku atau etnis lain.

E. Tinjauan Pustaka

Peneliti memahami bahwa terdapat beberapa penelitian terdahulu yang sudah melakukan riset dengan tema penelitian yang sama. Seperti penelitian berikut ini, yaitu diantaranya dari Nurul Athira Yahya & Turnomo Rahardjo (2014) yang berjudul “Negosiasi Identitas Mahasiswa Papua dengan Host Culture di Kota Semarang”. Penelitian yang dilakukan oleh Nurul Athira Yahya & Turnomo

(19)

6

Rahardjo ini mengkaji mengenai bagaimana stereotip atau pandangan masyarakat di kota Semarang terhadap masyarakat Papua. Metode penelitian yang digunakan oleh Nurul Athira Yahya & Turnomo Rahardjo yaitu metode penelitian deskriptif dengan pendekatan fenomenologi.

Lalu penelitian selanjutnya yaitu dari Nurkhalis & Muizatun Hasanah (2016) yang berjudul “Stereotip Budaya Antar Mahasiswa di Lingkungan Fakultas Dakwah”. Penelitian yang dilakukan oleh Nurkhalis & Muizatun Hasanah ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Subjek penelitian dan studi kasus yang digunakan oleh Nurkhalis & Muizatun Hasanah dalam penelitiannya yaitu para mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi letting 2011 dan 2012 di Provinsi Aceh.

Kemudian penelitian selanjutnya yaitu dari Akhmad Rosihan (2012) yang berjudul “Stereotipisasi Etnis Pribumi Atas Etnis Pendatang”. Penelitian yang dilakukan oleh Akhmad Rosihan yaitu menggunakan metode penelitian kualitatif dengan paradigma interpretif. Lalu penelitian yang dilakukan oleh Akhmad Rosihan mengambil subjek penelitiannya yaitu para siswa-siswi etnis pribumi (komering) di SMA Negeri 1 Martapura, OKU Timur, Sumatera Selatan.

Lalu penelitian berikutnya yaitu dari Feybee H. Rumondor, Ridwan Paputungan, Pingkan Tangkudung (2014) yang berjudul “Stereotip Suku Minahasa terhadap Etnis Papua”. Penelitian yang dilakukan oleh Feybee H. Rumondor, Ridwan Paputungan, Pingkan Tangkudung yaitu menggunakan metode penelitian kualitatif. Kemudian juga mengkaji mengenai bagaimana stereotip masyarakat

(20)

7

suku Minahasa terhadap etnis Papua. Pada penelitian yang dilakukan oleh Feybee H. Rumondor, Ridwan Paputungan, Pingkan Tangkudung mereka mengambil subjek penelitiannya yaitu para mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik di Universitas Sam Ratulangi.

Kemudian penelitian selanjutnya yaitu dari Riza Fariyanti, V. Rudy Handoko, Judhi Hari Wibowo (2012) yang berjudul “Stereotip Etnis Tionghoa Terhadap Etnis Madura di Kota Surabaya”. Penelitian yang dilakukan oleh Riza Fariyanti, V. Rudy Handoko, Judhi Hari Wibowo yaitu menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Riza Fariyanti, V. Rudy Handoko, Judhi Hari Wibowo mereka mengambil subjek penelitiannya para etnis Tionghoa yang menetap di Kota Surabaya yang memiliki stereotip terhadap etnis Madura.

Lalu penelitian selanjutnya yaitu dari Luh Putu Ariasih & Hatim Gazali (2016) yang berjudul “Stereotip Antara Etnis Tionghoa dan Etnis Jawa pada Siswa SMA Santa Theresia”. Penelitian yang dilakukan oleh Luh Putu Ariasih & Hatim Gazali yaitu menggunakan metode penelitian kualitatif. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Luh Putu Ariasih & Hatim Gazali mereka mengambil subjek penelitiannya para siswa di SMA Santa Theresia.

Kemudian penelitian yang berikutnya yaitu dari Christiany Juditha (2015) yang berjudul “Stereotip dan Prasangka dalam Konflik Etnis Tionghoa dan Bugis Makassar”. Penelitian yang dilakukan oleh Christiany Juditha yaitu mengkaji mengenai stereotip masyarakat etnis Tionghoa terhadap etnis Bugis Makassar dan

(21)

8

sebaliknya. Kemudian penelitiannya menggunakan metode kualitatif deskriptif. Lalu dalam penelitian yang dilakukan oleh Christiany Juditha, ia meneliti di Kawasan Etnis Tionghoa di Makassar dan orang Bugis Makassar.

Lalu penelitian selanjutnya yaitu dari Abdul Aziz dkk (2020) yang berjudul “Stereotip Budaya Pada Himpunan Mahasiswa Daerah di Pekanbaru”. Penelitiannya ini mengkaji mengenai bagaimana stereotip etnis atau budaya yang terjadi di kalangan mahasiswa sehingga dapat melahirkan suatu kelompok atau himpunan mahasiswa yang bersifat kedaerahan. Metode penelitian yang digunakan oleh Abdul Aziz dkk yaitu metode kualitatif deskriptif. Kemudian studi kasusnya yaitu di Pekanbaru.

Kemudian penelitian berikutnya yaitu dari Ida Bagus Gede Paramita (2017) yang berjudul “Stereotip Etnis Tionghoa di Banjar Sandakan, Desa Sulangai, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung”. Penelitian dari Ida Bagus Gede Paramita ini mengkaji mengenai bagaimana stereotip dari masyarakat Banjar Sandakan, Desa Sulangai terhadap etnis Tionghoa.

Lalu penelitian selanjutnya yaitu dari Nauval Musaddiq & Nur Anisah (2019) yang berjudul “Stereotip Masyarakat Lokal Aceh Terhadap Pedagang Etnis Tionghoa dalam Berbisnis di Kota Banda Aceh”. Penelitiannya ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Kemudian penelitian selanjutnya yaitu dari Alfarabi dkk (2019) yang berjudul “Rekonstruksi Stereotip Negatif Etnik Melayu”, menggunakan metode penelitian kualitatif dengan studi fenomenologi. Lalu juga berstudi kasus di Pekanbaru, Riau.

(22)

9

Lalu penelitian berikutnya yaitu dari La Iba (2016) yang berjudul “Stereotip antar Etnis dalam Disintegrasi Sosial di Kota Kendari” yang mengkaji mengenai bagaimana stereotip dari etnis lokal yang ada di Kota Kendari yang meliputi etnis Tolaki, etnis Muna dan etnis Buton yang sering berkonflik satu sama lain. Kemudian penelitiannya menggunakan metode kualitatif, dengan subjek penelitiannya yaitu para mahasiswa dan masyarakat di Kelurahan Kambu dan Kelurahan Lalolara, Kota Kendari.

Dari semua penelitian terdahulu di atas, dapat disimpulkan bahwa antara penelitian yang satu dengan penelitian yang lainnya memiliki kesamaan tema dan juga metode penelitian. Dimana kesemuanya sama-sama mengkaji atau membahas mengenai stereotip antara etnis yang satu dengan etnis lainnya. Namun pastinya ada beberapa perbedaan antara penelitian yang satu dengan penelitian lainnya, diantaranya yaitu perbedaannya terletak pada subjek penelitian dan juga lokasi penelitiannya.

Maka dari itu, penelitian ini memiliki posisinya tersendiri, dimana riset yang peneliti lakukan ini memang berbeda dari penelitian yang sebelumnya. Disamping sama-sama membahas mengenai bagaimana stereotip antara etnis yang satu dengan etnis lainnya, dan juga sama-sama menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, namun terdapat beberapa perbedaan pula yang terletak pada objek serta subjek penelitian dan juga studi kasusnya. Kemudian penelitian ini juga membahas mengenai bagaimana pada akhirnya stereotip antara etnis yang satu dengan etnis lainnya tersebut akan berdampak pada relasi sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Maka hasil riset penelitian ini akan menjadi temuan yang baru,

(23)

10

karena sebelumnya belum pernah ada yang meneliti bagaimana stereotip masyarakat Tangerang Selatan terhadap orang-orang yang berasal dari etnis Papua beserta dampak atau akibat yang ditimbulkan dari stereotip tersebut.

F. Definisi Konseptual • Pengertian Etnis

Kata etnis berasal dari Bahasa Yunani yaitu ethnos atau ethnik os yang memiliki arti orang atau sekelompok orang (komunitas/rakyat) tradisional (folk). Penggunaan kata etnis dalam perkembangannya banyak juga digunakan untuk sekelompok orang-orang tertentu yang terjadi karena perbedaan area tinggal, perbedaan kebudayaan, perbedaan bahasa, perbedaan kepercayaan, bahkan perbedaan tampilan fisik dalam suatu ras manusia yang sama (Gumelar, 2016).

Etnis atau suku merupakan suatu kesatuan sosial yang dapat dibedakan dari kesatuan yang lain berdasarkan akar dan identitas kebudayaan, terutama bahasa. Dengan kata lain etnis adalah kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas tadi sering kali dikuatkan oleh kesatuan bahasa. Dari pendapat di atas dapat dilihat bahwa etnis ditentukan oleh adanya kesadaran kelompok, pengakuan akan kesatuan kebudayaan dan juga persamaan asal-usul (Gumelar, 2016).

Sumadi (2016) mengatakan bahwa pengertian etnis mungkin mencakup dari warna kulit sampai asal usus acuan kepercayaan, status kelompok minoritas, kelas stratafikasi, keanggotaan politik bahkan program belajar.

(24)

11

Berdasarkan teori-teori di atas dapat disimpulkan bahwa etnis atau suku merupakan suatu kesatuan sosial yang dapat membedakan kesatuan berdasarkan persamaan asal-usul seseorang sehingga dapat dikategorikan dalam status kelompok mana ia dimasukkan. Istilah etnis ini digunakan untuk mengacu pada satu kelompok, atau ketegori sosial yang perbedaannya terletak pada kriteria kebudayaan.

G. Kerangka Teoretis

1. Karakteristik & Proses Stereotip

Stereotip memiliki beberapa definisi menurut para ahli. Banaji (2001) menunjukkan bahwa konsep stereotip mengacu pada keyakinan, pengetahuan, serta harapan mengenai kelompok sosial. Sedangkan menurut Macrae, Stangor dan Hewstone (1996) menggambarkan stereotip sebagai representasi tentang dunia yang mempengaruhi pemilihan informasi tentang anggota kelompok sosial serta perilaku sosial mereka.

Fiske (1988), Hogg dan Vaughan (2010) menyebutkan lima karakteristik utama stereotip, diantaranya yaitu: a) stereotip adalah gambaran yang disederhanakan dari anggota suatu kelompok, yang paling sering didasarkan pada perbedaan yang terlihat jelas di antara kelompok-kelompok tersebut (misalnya seperti bentuk karakteristik fisik), yang seringkali bersifat merendahkan bila diterapkan pada kelompok luar; b) stereotip adalah jalan pintas pada pemikiran kita atau dapat dikatakan sebagai kesan cepat kita dalam melihat orang-orang lain, di mana sekelompok besar orang dengan mudah dijelaskan menggunakan sedikit karakteristik; kemudian juga, stereotip

(25)

12

berfungsi untuk memberi makna pada beberapa hubungan tertentu antar kelompok; c) stereotip bersifat stabil karena fungsinya sebagai adaptasi kognitif, dan apa yang kita lihat ketika kita melihat perubahannya adalah hasil dari adaptasi terhadap perubahan ekonomi, politik atau sosial yang besar; akan tetapi, stereotip suatu kelompok dapat bervariasi dari satu konteks ke konteks lain karena karena disesuaikan juga berdasarkan situasi dan tujuan serta motif sendiri dari orang yang mempunyai stereotip terhadap kelompok luar tersebut; d) stereotip diperoleh, beberapa di antaranya di usia muda, dan lainnya mengkristal di masa kanak-kanak; e) stereotip menjadi lebih akut dan lebih bersifat negatif ketika ketegangan sosial dan konflik muncul di antara kelompok, dan ketika stereotip tersebut menjadi sangat sulit untuk diubah.

Adapun informasi tentang kelompok sosial yang direpresentasikan dalam bentuk ingatan, Fedor (2014) mengidentifikasi tiga jenis pendekatan. Diantaranya yaitu: a) skema kelompok, isinya dibentuk oleh struktur abstrak dari pengetahuan tertentu, mendefinisikan karakteristik dan atribut yang relevan dari konsep tertentu; sekali dikembangkan dalam ingatan, mereka mempengaruhi persepsi, penilaian dan perilaku orang secara positif terhadap orang lain, misalnya stereotip tersebut bisa didapatkan dari pemberitaan di televisi, artikel di internet, dan lain sebagainya yang kemudian mempengaruhi persepsi dan penilaian kita terhadap orang lain sesuai dengan yang diberitakan atau kita baca melalui artikel dan sebagainya; b) prototipe kelompok, yaitu representasi mental yang terdiri dari kumpulan asosiasi, label kelompok dan karakteristik yang dianggap benar, misalnya stereotip tersebut didapatkan

(26)

13

berdasarkan dari keyakinan sendiri atas label atau stereotip yang sudah banyak bertebaran diluar, kemudian stereotip itu juga sekaligus memang telah dianggap benar; c) tipe, yaitu kategorisasi objek atau stereotip terbentuk itu tergantung pada bagaimana pengalaman yang pernah dialami yang berkaitan dengan stereotip terhadap orang lain tersebut, yang disimpan di dalam ingatan; artinya stereotip dapat terbentuk juga apabila orang memiliki ingatan untuk individu tertentu (tipe) yang mereka temui sebelumnya.

Stereotip berbasis etnis disebut stereotip etnis. Marger (2011) membedakan stereotip etnis dari generalisasi rasional karena mereka adalah keyakinan berlebihan yang disederhanakan mengenai suatu kelompok, umumnya diperoleh secara pasif dan tahan terhadap perubahan. Dalam interaksi sosial, memperbaiki kategori etnis seringkali kondusif untuk penyederhanaan mental, untuk mengaburkan perbedaan individu di antara anggota kelompok. Karena stereotip adalah deskripsi kelompok, orang-orang yang menerapkan stereotip tidak dilihat sebagai individu semata, tetapi sebagai perwakilan dari kelompok tempat mereka bergabung. Ciri-ciri yang dilekatkan pada berbagai kelompok etnik ditetapkan dalam kepercayaan populer dan menjadi bagian dari pemahaman kita bersama tentang siapa "kita" dan siapa "mereka". Stereotip memiliki pengaruh yang kuat terhadap interaksi sosial; mereka menyusun dan melanggengkan hubungan antar kelompok.

(27)

14

Konsep kebanyakan orang tentang diskriminasi terhadap etnis melibatkan permusuhan langsung dan eksplisit yang diekspresikan oleh etnis superior terhadap anggota kelompok etnis yang inferior. Namun diskriminasi dapat mencakup lebih dari sekedar perilaku langsung; namun bisa juga secara halus dan tidak disadari (seperti sikap bermusuhan nonverbal dalam bentuk nada suara dan sebagainya).

Antagonisme verbal mencakup penghinaan terhadap etnis yang biasa dan komentar yang meremehkan, baik di dalam atau di luar kehadiran target. Bersama dengan ekspresi antagonisme nonverbal, maka ini dapat menciptakan lingkungan yang tidak bersahabat di sekolah, tempat kerja, dan lingkungan (Essed, 1997; Feagin, 1991). Diskriminasi terhadap etnis secara langsung ini terdiri dari beberapa macam, diantaranya yaitu: a) avoidance, atau dapat diartikan sebagai penghindaran yang dalam hal ini berarti ketika seseorang memilih kenyamanan kelompok etnis sendiri (ingroup) daripada interaksi dengan kelompok etnis lain (outgroup). Dalam aturannya bebas — yaitu, di mana orang dapat memilih dengan siapa atau kelompok mana ia ingin bergaul atau tidak. Avoidance mungkin tampak tidak berbahaya dalam situasi tertentu, tetapi jika dilakukan dalam jangka waktu yang lama, maka dapat menyebabkan pengucilan dan pemisahan jangka panjang; b) Segregation, atau dapat diartikan sebagai pemisahan yang terjadi ketika orang secara aktif mengecualikan anggota kelompok etnis tertentu yang kemudian dirugikan dari alokasi sumber daya dan dari akses ke lembaga. Contoh paling umum yaitu diantaranya termasuk penolakan atas pendidikan yang sama, perumahan, pekerjaan, dan

(28)

15

perawatan kesehatan atas dasar perbedaan etnis; c) Physical attacks, atau dapat diartikan sebagai serangan fisik terhadap kelompok luar etnis yang sering dilakukan oleh pendukung segregasi (Green et al., 1999) dan berkorelasi dengan bentuk diskriminasi terbuka lainnya (Schneider et al., 2000); d) Extermination, atau dapat diartikan sebagai pemusnahan atau pembunuhan

massal berdasarkan permusuhan etnis, dan ini merupakan fenomena yang kompleks.

Diskriminasi juga dapat ditimbulkan akibat adanya stereotip yang muncul dari sejarah yang sudah ada sejak dahulu, maupun pemberitaan di media massa mengenai stereotip itu sendiri. Meskipun sikap stereotip tidak selalu mengakibatkan perilaku diskriminatif dengan efek merugikan, sikap tersebut dapat mengakibatkan bentuk diskriminasi terhadap etnis yang tidak disadari dan tidak kentara menggantikan permusuhan langsung yang lebih eksplisit. Inilah yang disebut dengan diskriminasi halus (subtle discrimination).

Diskriminasi secara halus juga bisa tidak disadari dan berlangsung secara otomatis, karena anggota ingroup secara tidak sadar mengkategorikan anggota outgroup berdasarkan etnis, jenis kelamin, dan usia (Fiske, 1998). Namun

konteks sosial atau stereotip terhadap anggota outgroup juga dapat beragam. Reaksi anggota ingroup terhadap anggota outgroup yang memang familiar, atau anggota outgroup yang merupakan bawahan anggota ingroup, atau anggota outgroup yang berkarakteristik unik bisa jadi akan menimbulkan reaksi yang tidak sama seperti reaksi anggota ingroup terhadap anggota

(29)

16

outgroup yang tidak familiar, atau dominan, atau memiliki karakteristik yang

tidak jauh berbeda dengan anggota outgroup lainnya.

Namun demikian, reaksi pada umumnya antara orang-orang terhadap anggota kelompok luar mewakili stereotip di bawah sadar yang mungkin diekspresikan secara nonverbal atau mengarah pada penghindaran terhadap kelompok luar etnis, yang pada gilirannya, dapat menciptakan permusuhan serta diskriminasi.

H. Metode Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Dalam penelitian ini pendekatan yang dilakukan adalah melalui kualitatif. Artinya data yang dikumpulkan bukan berupa angka-angka, melainkan data tersebut berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, dokumen pribadi, catatan memo, dan dokumen resmi lainnya, sehingga yang menjadi tujuan dari penelitian kualitatif ini adalah ingin menggambarkan realita empirik di balik fenomena secara mendalam, rinci dan tuntas. Oleh karena itu penggunaan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini adalah dengan mencocokan antara realita empirik dengan teori yang berlaku dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif deskriptif. Metode deskriptif adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Penelitian deskriptif mempelajari masalah-masalah dalam masyarakat, serta tata cara yang berlaku dalam masyarakat serta situasi-situasi tertentu, termasuk tentang hubungan-hubungan, kegiatan-kegiatan, sikap-sikap,

(30)

pandangan-17

pandangan, serta proses-proses yang sedang berlangsung dan pengaruh-pengaruh dari suatu fenomena (Wijayanti, 2017)

Jenis penelitian deskriptif kualitatif yang digunakan pada penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi mengenai stereotip terhadap orang Papua di Kecamatan Pamulang dan Ciputat, Tangerang Selatan secara mendalam dan komprehensif. Selain itu, dengan pendekatan kualitatif diharapkan dapat diungkapkan situasi dan permasalahan yang dihadapi dalam kegiatan ini.

2. Tempat dan Waktu Penelitian a. Tempat penelitian

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Pamulang dan Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan. Lebih tepatnya di Perumahan Bumi Serpong Residence, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan dan Gang Puri Intan 2, Pisangan, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan. Alasan peneliti dalam memilih warga yang bertempat tinggal di Perumahan Bumi Serpong Residence, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan dan Gang Puri Intan 2, Pisangan, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan sebagai subjek penelitian karena memang di wilayah-wilayah ini dihuni oleh para warga yang notabene memiliki latar belakang asal suku yang sangat beragam. Kemudian di wilayah-wilayah ini juga para warganya dikenal mudah menerima perbedaan dan keberagaman yang ada di lingkungan perumahan tersebut. Lalu di Gang

(31)

18

Puri Intan 2, Pisangan, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan juga karena terdapat tempat asrama mahasiswa Papua di daerah tersebut. b. Waktu penelitian

Proses pengambilan data awal hingga penelitian ini dilakukan mulai dari tanggal 21 Oktober 2019 sampai dengan 4 Oktober 2020.

3. Sumber Data a. Data Primer

Jenis data yang digunakan adalah data primer. Data primer adalah data yang langsung dikumpulkan sendiri oleh peneliti, pengumpulan data primer ini membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang tinggi, tetapi tingkat keakuratan datanya dapat dipercaya (Sugiyono, 2012). Data primer yang didapatkan peneliti yaitu data berupa jumlah masyarakat Papua dan persebarannya di Tangerang Selatan dan juga data mengenai keragaman etnis di Tangerang Selatan.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah informasi yang telah dikumpulkan oleh pihak lain, peneliti tinggal memakai sesuai dengan topik penelitian Notoatmodjo, 2010) Data sekunder tersebut didapatkan dari data yang berupa dokumentasi seperti foto, wawancara, dan data berupa jumlah masyarakat Papua dan persebarannya di Tangerang Selatan dan juga data mengenai keragaman etnis di Tangerang Selatan.

(32)

19 4. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati (Sugiyono, 2016). Di dalam sebuah penelitian dibutuhkan instrumen untuk mendapatkan data yang valid. Dalam penelitian ini, peneliti bertindak sebagai pengumpul data dan sebagai instrumen aktif dalam upaya mengumpulkan data di lapangan, maka peneliti melakukan validasi, terkait persiapan peneliti untuk terjun ke lapangan. Validasi instrumen penelitian meliputi pemahaman metode penelitian kualitatif dan penguasaan mengenai objek penelitian yaitu stereotip masyarakat Tangerang Selatan terhadap orang-orang Papua.

Sedangkan instrumen pengumpulan data yang lain selain manusia adalah alat rekam, alat tulis dan berupa dokumen-dokumen yang berkaitan dengan stereotip masyarakat Papua di Kecamatan Pamulang dan Ciputat tersebut yang dapat digunakan untuk menunjang keabsahan hasil penelitian, namun berfungsi sebagai instrumen pendukung. Oleh karena itu, kehadiran peneliti secara langsung di lapangan sebagai tolak ukur keberhasilan untuk memahami kasus yang diteliti, sehingga keterlibatan peneliti secara langsung dan aktif dengan informan kunci dan pendukung dan sumber data lainnya di sini mutlak diperlukan (R Agustina, 2017).

5. Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data adalah teknik atau cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data, serta instrumen

(33)

20

pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan lebih mudah (Ridwan, 2004). Prosedur yang dipakai dalam pengumpulan data yaitu wawancara sebagai berikut:

• Wawancara

Wawancara merupakan metode pengumpulan data dengan cara bertanya langsung (berkomunikasi langsung) dengan informan. Dalam berwawancara terdapat proses interaksi antara pewawancara dengan informan. Penelitian ini menggunakan metode snowball sampling, di mana peneliti menentukan sendiri dan mewawancarai informan pertama terlebih dahulu, barulah kemudian peneliti mendapatkan beberapa rekomendasi informan-informan selanjutnya yang dapat peneliti wawancarai juga dari informan pertama, dengan menentukan waktu yang tepat agar peneliti dapat mewawancarai informan-informan selanjutnya (Neuman, 2003).

Kemudian wawancara yang digunakan dalam penelitian ini yaitu wawancara semi terstruktur (semistructure interview) yang juga termasuk kedalam kategori in-depth interview yang dalam pelaksanaannya lebih bebas bila dibandingkan dengan wawancara terstruktur. Dalam wawancara jenis ini, pertanyaannya sudah ditetapkan sebelumnya, akan tetapi lebih bersifat fleksibel, namun pertanyaan dan jawaban masih terkontrol karena dibatasi sesuai dengan tema penelitian (Neuman, 2003).

(34)

21

Wawancara ini ditunjukan untuk menggali stereotip masyarakat Tangerang Selatan terhadap orang-orang yang berasal dari etnis Papua. Wawancara ini dilakukan peneliti di Kecamatan Pamulang dan Kecamatan Ciputat. Melalui wawancara diharapakan peneliti mengetahui hal-hal yang lebih mendalam dalam menginterprentasikan situasi dan fenomena yang terjadi. Interview merupakan alat pengumpul informasi dengan cara mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan untuk dijawab untuk secara lisan untuk dijawab secara lisan pula.

Peneliti telah mewawancarai sebanyak 14 (empat belas) informan. Peneliti memilih keempat belas informan tersebut karena mereka pernah mempunyai kenalan atau bertemu dengan orang Papua. Ada beberapa informan yang diwawancarai lebih dari satu kali. Bahkan ada yang sempat diwawancarai sebanyak tiga kali. Namun banyak juga yang hanya diwawancara sebanyak satu kali. Ini dilakukan agar dapat mengumpulkan lebih banyak informasi yang berhubungan dengan tema penelitian ini. Semua informan berjenis kelamin laki-laki, alasan peneliti dalam memilih informan yang berkriteria laki-laki, ini dikarenakan kebanyakan dari mereka diketahui lebih banyak berada di lapangan atau lebih sering berinteraksi dengan masyarakat luas. Dengan demikian mereka lebih banyak mengalami kejadian-kejadian secara langsung di tengah masyarakat. Kemudian pengalaman mereka lebih banyak karena berhubungan dengan pekerjaan mereka. Berikut tabel karakteristik sosial para informan dalam penelitian ini:

(35)

22 No. Nama

Informan

Jenis Kelamin

Status Usia Pekerjaan

1. Fajar Laki-Laki Belum Menikah

22 Tahun

Mahasiswa

2. Umar Laki-Laki Belum Menikah

22 Tahun

Mahasiswa

3. Tubagus Laki-Laki Belum Menikah

22 Tahun

Mahasiswa

4. Adit Laki-Laki Sudah Menikah

42 Tahun

Karyawan Swasta

5. Lukman Laki-Laki Sudah Menikah 48 Tahun Tenaga pendidik di salah satu sekolah

6. Nurdin Laki-Laki Sudah Menikah

42 Tahun

Staf Ahli DPR-RI

7. Darma Laki-Laki Sudah Menikah

67 Tahun

Pensiunan

8. Enpa Laki-Laki Sudah Menikah 58 Tahun Pensiunan Karyawan Swasta

(36)

23

9. Asep Laki-Laki Sudah Menikah

52 Tahun

Guru

10. Abdul Laki-Laki Sudah Menikah

50 Tahun

Karyawan Swasta

11. Bayu Laki-Laki Sudah Menikah

34 Tahun

Pengacara

12. Samuel Laki-Laki Sudah Menikah

36 Tahun

Karyawan Swasta

13. Oki Laki-Laki Sudah Menikah 48 Tahun Pegawai Negeri Sipil

14. Putra Laki-Laki Belum Menikah

22 Tahun

Mahasiswa

Tabel I.H.1. Karakteristik Sosial Informan

Peneliti juga mendapati beberapa kesulitan selama menjalani proses pengumpulan data, seperti salah satunya yaitu ketika peneliti sedang mencari alamat tempat di mana peneliti akan mewawancarai informan sesuai dengan kesepakatan yang sudah disetujui antara peneliti dan juga informan. Kemudian kesulitan berikutnya yaitu karena dibutuhkannya kembali beberapa data tambahan, maka dari itu perlu diadakannya wawancara kembali dengan informan yang sama dan juga kembali

(37)

24

mengatur waktu dan tempat yang tepat agar proses wawancara dapat kembali dilakukan. Namun kesulitan-kesulitan tersebut dapat diatasi dan ditangani dengan baik.

6. Teknik Pengolahan Data

Penelitian ini menggunakan teknik olah data dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Reduksi Data

Pada tahap ini, peneliti memilah-milah hasil wawancara dan dokumentasi yang masih kompleks dan tidak terstruktur sehingga, peneliti memperoleh data yang relevan dengan permasalahan penelitian. Peneliti mengecek ulang dengan informan lain yang dirasa peneliti lebih mengetahui. Proses reduksi data dilakukan oleh peneliti dari awal sampai akhir penelitian. Peneliti mengumpulkan laporan-laporan dari lapangan. Kemudian direduksi, dirangkum, memilih hal pokok, memfokuskan pada hal-hal penting, dicari tema dan pokoknya, dan membuang yang tidak perlu sesuai dengan informasi yang terkait dengan stereotip masyarakat Tangerang Selatan terhadap orang-orang Papua (Manzilati, 2017).

b. Display Data

Display data adalah penyajian data ke dalam matrik yang sesuai.

Dalam penelitian kualitatif, mendisplay data atau menyajikan data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan dan hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Dalam penelitian ini display data

(38)

25

yang dilakukan berupa penyajian secara deskriptif atau naratif atas data yang telah dikategorikan dalam bentuk laporan yang sistematis untuk selanjutnya dianalisis untuk mengambil kesimpulan. Dalam tahap display data ini peneliti melakukan transkrip untuk hasil wawancara

yang telah dikumpulkan. Kemudian peneliti melakukan coding (pengkodean) berdasarkan pengkodean insiden-per-insiden (incident-by-incident coding), yang artinya peneliti melakukan coding

berdasarkan setiap subpokok permasalahan. Display data ini dilakukan dengan memaparkan data dengan memilah inti informasi terkait stereotip masyarakat Tangerang Selatan terhadap orang-orang Papua (Nasution, 2013).

c. Penarikan Kesimpulan atau Verifikasi

Dalam mengambil kesimpulan, peneliti memulai mencari makna dari data-data yang telah terkumpul. Selanjutnya, peneliti mencari arti dan penjelasannya kemudian menyusun pola-pola hubungan tertentu yang mudah dipahami dan ditafsirkan. Data tersebut dihubungkan dan dibandingkan atara yang satu dengan yang lainnya sehingga, mudah ditarik kesimpulan sebagai jawaban benar setiap permasalahan yang ada. Ketiga macam kegiatan analisis yang dipaparkan di atas, saling berhubungan dan berlangsung terus menerus selama penelitian dilakukan. Jadi analisis adalah kegiatan yang terus menerus dari awal sampai akhir penelitian. Sehingga, data yang diperoleh tidak timpang

(39)

26

atau berat sebelah karena antara data yang satu dengan yang lain saling terkait (Notoadmodjo, 2012).

(40)

27 BAB II

GAMBARAN UMUM A. Persebaran Orang Papua

1. Sejarah Nenek Moyang Papua

Orang Papua yang sekarang kita kenal terdiri dari 254 suku bangsa asli yang mendiami di pulau paling timur dari kawasan Nusantara. Pulau ini telah mengalami beberapa kali penamaan berdasarkan perkembangan sejarah. Orang Belanda menyebut pulau Papua dahulu yaitu Niew Guinea oleh seorang pelaut Spanyol, Ynigo Ortiz de Retes yang menyebut “Neuva Guinea” (Guinea Baru). Penduduk Irian (Papua) yang berkulit hitam mengingatkan-nya kepada penduduk pantai Guinea di benua Afrika. Sebutan lain juga adalah “Papua” yang mula-mula dipakai oleh pelaut Portugis Antonio d’ Arbreu yang mengunjungi pantai Papua pada tahun 1551. Nama itu sebelumnya dipakai oleh Antonio Pigafetta pada waktu berada di laut Maluku pada tahun 1521. Kata “Papua” berasal dari kata Melayu” Pua-pua” yang berarti “keriting” (Stirling, 1943: 4, dalam Koentjaraningrat, 1994).

Mengenai asal mula orang Papua, Teuku Jacob, guru besar Antropologi ragawi Universitas Gajah Mada pernah mengadakan proposisi dalam desertasinya yang berjudul “Some Problems Pertaining to the Racial History of the Indonesian Region” (1967). Ia menduga bahwa di zaman es yang terakhir

kira-kira 800.000 tahun yang lalu ketika Papua masih menyatu dengan benua Australia, penduduk yang merupakan nenek moyang penduduk Papua dan Melanesia, tetapi juga nenek moyang penduduk asli Australia yang memiliki

(41)

28

ciri-ciri fisik Paleo-Melanesoid. Ketika zaman es berakhir dan permukaan laut menjadi tinggi, maka Australia terpisah dari Papua serta pulau-pulau Nusantara. Ciri fisik penduduk Papua dan Melanesia berkembang menjadi ciri-ciri ras Melanesoid yang kita kenal sekarang, sedang ciri-ciri fisik penduduk Australia berkembang menjadi ciri fisik ras Australoid. Adapun nenek moyang kedua ras itu yaitu ras Paleo Melanesoid, masih sempat bermigrasi ke kepulauan Nusantara bagian barat, dan ciri fisiknya masih tampak sisa-sisanya pada tengkorak manusia purba Homo Wajakensis yang ditemukan di Wajak, di Jawa Timur, yang menurut para ahli paleo-antropologi hidup berkeliaran di Jawa Timur kurang lebih 400.000 tahun yang lalu. Orang Papua yang asli tadi agaknya juga mendapat pengaruh ciri-ciri fisik para pendatang dari Asia Timur di zaman purba, atau dari orang-orang Asia yang tiba dalam zaman yang lebih muda. Campuran antara ciri fisik Paleo-Melanesoid yang asli dengan ciri fisik yang berasal dari para penda-tang di zaman lebih muda ditempat-tempat yang berbeda itulah, ditam-bah dengan penyesuaian ekologi diberbagai daerah yang secara geografi terpisah (seperti orang Tapiro di pegunungan Jayawijaya) yang agaknya mengakibatkan kebinekaan ragawi orang (Rumansara, 2015).

2. Jumlah Penduduk Papua

Hasil proyeksi penduduk berdasarkan Sensus Penduduk 2010 (SP2010) menunjukkan bahwa di tahun 2019, jumlah penduduk Papua mencapai 3.379.302 jiwa. Jumlah tersebut meningkat 1,76 persen dibandingkan jumlah penduduk di tahun 2018. Menurut penyebarannya, jumlah penduduk terbanyak

(42)

29

terdapat di Kota Jayapura yang mencapai 300.192 jiwa, sementara yang paling sedikit adalah Kabupaten Supiori dengan jumlah penduduk 20.710 jiwa. Dengan luas wilayah mencapai 316.553,07 km2, kepadatan penduduk di Provinsi Papua hanya 10 jiwa/km2. Disparitas kepadatan penduduk antar kabupaten/kota sangat tinggi. Kepadatan penduduk paling tinggi terjadi di Kota Jayapura sebagai ibukota Provinsi Papua yang mencapai 303-304 jiwa/km2, sedangkan yang terendah adalah di Mamberamo Raya yang hanya sekitar 8 jiwa per km2. Untuk melihat perbandingan antara penduduk laki-laki dan penduduk perempuan di suatu wilayah dapat digunakan rasio jenis kelamin. Rasio jenis kelamin di Provinsi Papua tahun 2019 sebesar 110,60. Ini berarti untuk setiap 100 penduduk perempuan terdapat sebanyak 110 hingga 111 penduduk laki-laki.

Menurut komposisi penduduk berdasarkan kelompok umurnya, sebagian besar penduduk Papua berada dalam kelompok umur muda. Hal ini ditunjukkan dari bentuk piramida penduduk Papua yang termasuk dalam kategori ekspansif (piramida penduduk muda) yang mengindikasikan cukup tingginya tingkat kelahiran dan pertumbuhan penduduk di Papua. Dasar piramida yang cukup lebar menunjukkan relatif besarnya rasio ketergantungan penduduk muda, sementara puncak piramida yang menciut tajam menunjukkan rendahnya rasio ketergantungan penduduk tua. Rasio ketergantungan menunjukkan beban atau banyaknya penduduk usia nonproduktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas) yang harus ditanggung secara ekonomi oleh penduduk usia produktif (15-64 tahun) (BPS Papua, 2019).

(43)

30 3. Transmigrasi Orang Papua

Transmigrasi di Papua dimulai sejak penjajahan Belanda di Indonesia. Pemerintah Belanda memulai program tersebut dengan nama kolonisasi. Proses pemindahan penduduk berlanjut hingga Papua masuk sebagai bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tahun 1963. Pemerintah Indonesia mengubah istilah kolonisasi dengan transmigrasi untuk menempatkan petani dari daerah padat penduduk ke daerah-daerah kosong di luar Pulau Jawa sebagai salah satu cara memecahkan masalah kemiskinan dan kepadatan penduduk. Jumlah transmigrasi orang Papua. Berdasarkan data (BPS Papua Barat, 2010) jumlah orang Papua yang bertansmigrasi dari kabupaten antara lain: Merauke, Jayawijaya, Jayapura, Nabire, Yapen Waropen, Biak Numfor, Panjai, Puncak Jaya, Mimika, Boven Digoel, Mappi, Asmat, Yahukimo, Pengunungan Bintang, Tolikara, Sami, Keerom, Waropen, Supiori, Mamberamo Raya, Nduga, Lanny Jaya, Mamberamo Tengah , Yalimo, Puncak, Dogiyai, Intan Jaya, dan Deiyai yakni berjumlah 9.147.179 jiwa dengan status imigrasi semur hidup. Para transmigran tersebut di imigrasikan ke beberapa pulau antara lain Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan sedikitnya di pulau Jawa (BPS Papua Barat, 2010). Termasuk yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu para masyarakat Papua yang berimigrasi ke wilayah Tangerang Selatan.

(44)

31

Wilayah Tangerang Selatan memiliki banyak pendatang dari berbagai etnis yang mendiami atau menetap di wilayah tersebut. Seperti mulai dari masyarakat Betawi, Sunda, Tionghoa, dan juga suku lainnya seperti suku Banten, Jawa, Batak, Minangkabau dan lain-lainnya (Tangsel Media, 2019). Termasuk diantaranya yaitu terdapat pula masyarakat dari etnis Papua yang juga menetap di wilayah Tangerang Selatan. Kemudian selain itu, terdapat pula komunitas yang menaungi perkumpulan masyarakat Papua yang berada di wilayah Tangerang Selatan, berikut gambaran umumnya:

1. Gambaran Umum Komunitas KOSAPMAJA Papua Tangerang Selatan a. Sejarah Singkat Terbentuknya Komunitas KOSAPMAJA

Awal mula komunitas KOSAPMAJA ini didirikan pada tahun 2004 oleh salah seorang alumni UIN Jakarta, yang bernama Adnan Yeripele, dan dideklarasikan di Properties UIN. Awal mula terbentuknya komunitas ini karena melihat jumlah anak-anak muslim Papua yang menempuh pendidikan di pulau Jawa ini semakin banyak sehingga dibuatlah satu organisasi untuk mempersatukan atau mewadahi mereka agar misalkan jika ada keperluan-keperluan santri-santri atau pelajar-pelajar muslim Papua tersebut dapat terpenuhi dengan adanya komunitas ini.

Namun semakin ke sini komunitas ini semakin tidak jelas arahnya ke mana atau orientasinya sudah semakin tidak jelas. Pada akhirnya ada yang memanfaatkan komunitas KOSAPMAJA ini untuk kepentingan pribadi. Kemudian pada tahun 2014 karena pendiri komunitas KOSAPMAJA ini sudah lulus dari pendidikan strata I-nya, dan ingin fokus untuk kembali menempuh pendidikan strata II di UIN Jakarta, maka ia menginginkan Arman Asso untuk menjadi ketua. Kemudian

(45)

32

Arman menerima tawaran tersebut. Lalu kemudian Arman langsung membuat rencana untuk mengadakan musyawarah atau kongres untuk pemilihan ketua selanjutnya agar lebih demokratis. Namun tidak ada yang menjalankan rencana itu, karena mereka tetap menginginkan Arman untuk tetap menjadi ketua di komunitas tersebut.

Setelah itu Arman mengundurkan diri, dan dampaknya komunitas ini menjadi semakin vakum. Kemudian sekitar pada tahun 2016 para anggota komunitas ini maupun pengurus lainnya kembali membujuk Arman agar kembali menjadi ketua di komunitas tersebut. Arman kemudian diskusi dengan para pengurus dan anggota lainnya agar komunitas ini lebih memfokuskan lingkup wilayahnya untuk se-Jawa dan Bali. Kemudian komunitas ini sepakat mengadakan kongres di Malang, dan Arman kembali fokus berkegiatan di suatu partai politik.

b. Jumlah Anggota & Struktur Kepengurusan Komunitas KOSAPMAJA Jumlah anggota yang tergabung di komunitas KOSAPMAJA terbilang tidak terlalu banyak, kira-kira jumlah keseluruhannya yaitu 170 orang, dan itu tersebar di setiap kota studi pulau Jawa. Namun untuk total keseluruhan masyarakat Papua yang menetap di wilayah Tangerang Selatan ini tidak hanya meliputi yang tergabung di dalam komunitas KOSAPMAJA ini saja, tetapi juga termasuk bagi yang tidak tergabung ke dalam komunitas KOSAPMAJA ini. Kemudian berikut struktur kepengurusan komunitas KOSAPMAJA saat ini:

(46)

33 Ketua

Asso

Anggota

Tabel II.D.1. Struktur Kepengurusan Komunitas KOSAPMAJA Wilayah Tangerang Selatan

c. Aktivitas Komunitas KOSAPMAJA

Terdapat beberapa kegiatan atau aktivitas yang pernah diadakan oleh komunitas KOSAPMAJA, diantaranya yaitu seperti pernah mengadakan kegiatan acara lebaran dengan mengundang seluruh mahasiswa se-Jabodetabek termasuk juga mengundang mahasiswa-mahasiswa yang non muslim sekalipun juga diundang. Kemudian pernah juga mengadakan acara besar-besaran di UIN. Lalu pernah juga mengadakan diskusi dengan teman-teman dari negara Thailand. Kemudian pernah juga mengundang beberapa organisasi-organisasi primordial lainnya. Kemudian juga pernah mengundang bapak Natalius Pigai, dan juga pernah mengundang mantan Menteri Hukum dan HAM, Bapak Patrialis Akbar.

Komunitas KOSAPMAJA ini pun juga pernah turut ikut terlibat dalam menyuarakan aspirasi para warga Papua terkait dengan kasus mengenai stereotip

Sekretaris Chuan

Bendahara Basori

(47)

34

negatif terhadap masyarakat Papua, seperti komunitas KOSAPMAJA perwakilan daerah Tangerang Selatan juga pernah menuntut agar kebebasan berekspresi mahasiswa tidak dibatasi (Tohir, 2019). Kemudian juga pernah meminta agar para penegak hukum dapat menangkap oknum yang sempat mengucapkan kata-kata umpatan pada peristiwa perlakuan penindasan terhadap mahasiswa asal Papua yang sempat terjadi di Surabaya pada tanggal 16 Agustus 2019 lalu (Tohir, 2019). Kemudian ini pada akhirnya berakibat pada terjadinya kericuhan pula di Manokwari dan Jayapura (Kabar Nusantara, 2019). Kemudian komunitas KOSAPMAJA perwakilan daerah Tangerang Selatan juga pernah meminta agar para aparat keamanan, Pemerintah Kota Surabaya, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan daerah lainnya agar turut menjamin pula atas keamanan masyarakat Papua di wilayah itu (Deniansyah, 2019).

(48)

35 BAB III PEMBAHASAN

A. Stereotip Masyarakat Tangerang Selatan Terhadap Orang-Orang Papua

Masyarakat Tangerang Selatan itu sangat majemuk. Terdiri dari berbagai macam latar belakang, baik itu latar belakang profesi atau pekerjaan, pendidikan, ekonomi, suku, dan juga agama. Maka inilah alasan peneliti ingin melakukan penelitian di Tangerang Selatan, ini karena kemajemukan masyarakat Tangerang Selatan tadi.

Mengenai stereotip masyarakat Tangerang Selatan terhadap orang-orang Papua, maka peneliti telah menyusun dan juga telah menanyakan beberapa pertanyaan kepada para informan terkait dengan topik dan tema penelitian. Berikut akan diuraikan hasil penelitian yang telah dilakukan:

1. Bentuk-Bentuk Stereotip Masyarakat Tangerang Selatan Terhadap Orang-Orang Papua

Bentuk-bentuk stereotip masyarakat Tangerang Selatan terhadap orang Papua antara lain:

a. Memiliki Tempramen yang Tinggi

Stereotip terhadap orang-orang Papua yang menyatakan bahwa mereka memiliki tempramen yang tinggi memang masih sangat melekat. Seperti yang dikatakan oleh Tubagus sebagai berikut:

(49)

36

“...Kekurangannya karena di Papua sebenarnya karena mungkin geografisnya apa jauh dari ibukota, sumber daya manusianya kurang ini

mengakibatkan mereka cepat percaya, terus cepat marah, tempramen, orang

Indonesia timur itu beda dengan Indonesia bagian barat. Mereka lebih cepat

panas...” (Tubagus, wawancara pada 21 Oktober 2019).

Setali tiga uang dengan Tubagus, Pak Bayu pun berpendapat hal serupa, bahwa orang-orang Papua kebanyakan memiliki sifat tempramen yang tinggi. Seperti yang dikatakan oleh Pak Bayu sebagai berikut:

“Kalau budaya mas Bayu nggak tahu ya, cuma kalau karakter dari mayoritas teman Papua itu satu, karakternya memang keras. Keras dalam arti

agak temperamen ya... (Pak Bayu, wawancara pada 16 Februari 2020).

Sama dengan Tubagus dan Pak Bayu, Putra pun setuju mengenai stereotip terhadap orang-orang Papua yang memiliki sifat tempramen yang tinggi. Seperti yang dikatakan oleh Putra sebagai berikut:

“Mereka senang bercanda walaupun terkadang tempramen mereka lebih tinggi.” (Putra, wawancara pada 8 Agustus 2020).

Tambah lagi menurut Pak Oki, bahwa orang-orang Papua itu hanya akan marah jika ia diusik dan disakiti, apalagi terkait dengan hal-hal yang menyangkut prinsip. Seperti yang Pak Oki katakan sebagai berikut:

“...Terus mengenai emosi, yaitu orang Papua itu sebenarnya cool, kalem nggak cepat marah asal tidak disakiti. Kalau tidak ada hal-hal yang prinsip

(50)

37

marah. Dan marahnya akan meledak langsung.” (Pak Oki, wawancara pada 22 Februari 2020).

b. Tidak Suka Berpura-Pura (Apa Adanya)

Kemudian stereotip berikutnya mengenai orang-orang Papua dari masyarakat lokal Tangerang Selatan yaitu mereka tidak suka berpura-pura, dan jujur apa adanya. Seperti yang dikatakan oleh Tubagus sebagai berikut:

“Karakter orang Papua itu kita lihat dari segi baiknya dulu ya. Orang Papua itu orang paling jujur jadi apa yang mereka rasakan apa yang mereka

rasakan itulah yang mereka utarakan...” (Tubagus, wawancara pada 21

Oktober 2019).

Lebih lanjut Tubagus menyampaikan sebagai berikut:

“...Tapi kalau sisi baiknya mereka itu ras paling jujur. Bahkan ada apa.. ada penelitian dari universitas mana gitu dari luar negeri, bahwa ras yang

paling jujur di dunia itu ras Papua Melanesia, itu artinya itu tidak mau

menyebutkan apa yang mereka rasakan sudah tersinggung ya udah, kalau

marah ya marah, kalau senang ya senang. Jadi kalau kita kan kalau di Jawa

banyak orang yang bertopeng, di sana itu jarang, apa adanya gitu. Mereka

kalau mengatakan mereka itu ras paling jujur saya setuju...” (Tubagus,

wawancara pada 21 Oktober 2019).

(51)

38

Lalu stereotip berikutnya mengenai orang-orang Papua dari masyarakat lokal Tangerang Selatan yaitu mereka memiliki nasionalisme yang tinggi terhadap negaranya. Seperti yang dikatakan oleh Pak Nurdin sebagai berikut:

“Sangat tinggi, sangat tinggi, dan mereka sangat menghargai juga Indonesia sebagai bangsanya, sebagai negaranya. Dan yang ketiga orang

Papua itu yang sangat identik itu adalah kebudayaannya dari sisi bahasa

mereka banyak sekali bahasa di Papua, dari sisi apa kerukunan

masyarakatnya sangat luar biasa. Bahkan saya pernah dikirim oleh yang..

siapa namanya pak Titus Pikei yang menemukan noken, noken Papua itu.. itu

kan sangat.. noken itu kan lebih kepada satu simbolik, kuyub dan cara

bermusyawarahnya orang Papua. Jadi orang Papua itu memang jangan

diusik. Jangan diganggu harkat dan martabatnya sehingga kita harus lebih

mengerti siapa itu orang Papua. Jadi sepanjang yang saya ketahui orang

Papua itu orang yang baik, orang yang legaliter, orang yang mencintai

negaranya, orang yang mencintai masyarakat sekitarnya dan orang yang

sangat menghargai keragaman di luar orangnya Papua. Kalaupun ada orang

yang Papua sepertinya tidak suka kepada Indonesia atau diasumsikan ingin

merdeka itu biasanya memang dalam suatu negara kesatuan itu pasti ada

oknum-oknum tertentu. Saya kira gitu.” (Pak Nurdin, wawancara pada 26

Oktober 2019).

Setali tiga uang dengan Pak Nurdin, Putra pun berpendapat hal yang sama, bahwa orang-orang Papua memiliki sifat nasionalisme yang cukup tinggi terhadap negaranya. Seperti yang Putra katakan sebagai berikut:

(52)

39

“Cukup tinggi ya setau saya.” (Putra, wawancara pada 8 Agustus 2020). d. Berpendirian Teguh dan Pekerja Keras

Kemudian stereotip berikutnya mengenai orang-orang Papua dari masyarakat lokal Tangerang Selatan yaitu mereka memiliki sifat berpendirian teguh serta pekerja keras. Seperti yang dikatakan oleh Pak Lukman sebagai berikut:

“...orang-orang Papua yang terkenal mungkin sedikit keras artinya mungkin keras dalam tanda petik, konotasinya bukan berarti keras yang

negatif tapi keras dalam tanda petik, bisa juga termasuk mungkin keras

hatinya, teguh pendiriannya, kerja keras dan sebagainya itu yang mungkin

saya tau. Gitu ya. Sehingga misalnya dalam suatu pekerjaan misalnya orang

Papua diberikan tanggung jawab itu komitmen dari sebuah pekerjaan itu

memang betul-betul komit.” (Pak Lukman, wawancara pada 26 Oktober 2019).

e. Tidak Mau Menimbulkan Masalah

Lalu stereotip berikutnya mengenai orang-orang Papua dari masyarakat lokal Tangerang Selatan yaitu mereka tidak suka dan tidak ingin menimbulkan masalah dengan orang lain. Seperti yang dikatakan oleh Pak Darma sebagai berikut:

“Yang kalau saya rasakan, mereka tidak usil, dan mereka kalau tidak ajak ngobrol mereka diam aja. Beda dengan kita pernah tempat lain misalnya kita

kan awalnya kan bilang dia itu jahat, tetapi dia itu banyak diam aja. Nggak

(53)

40

lihat dia nongkrong, ini karyawan di tempat saya kerja juga di gudang, dia

diam aja merokok-rokok sendiri, kalau kita tegur memang mereka menjawab,

habis itu ya ini tak terlalu banyak ngomong dengan kita. Yah itu yang saya tau.

Jadi mereka itu tidak usil dengan kita, jadi dia dia, kita kita gitu.” (Pak Darma,

wawancara pada 30 Oktober 2019).

f. Mudah Bersahabat dan Bersahaja

Kemudian stereotip berikutnya mengenai orang-orang Papua dari masyarakat lokal Tangerang Selatan yaitu kebanyakan dari mereka termasuk orang-orang yang mudah bersahabat dan sangat bersahaja. Seperti yang dikatakan oleh Pak Darma sebagai berikut:

“Yang saya sukai dengan orang Papua yaitu mereka mudah bersahabat dengan saya. Berkomunikasi dengan mereka menyenangkan. Mereka

merespon pertanyaan kita dengan baik dan cepat. Berbincang bincang dengan

mereka serasa bicara dengan sahabat lama, padahal kita baru saja kenal.

Mereka sangat sederhana dan bersahaja. Selama saya kenal dengan orang

Papua saya tidak menemukan hal-hal yang tidak saya sukai.” (Pak Darma,

wawancara pada 7 Agustus 2020).

Pak Samuel pun berpendapat hal yang sama, bahwa pada dasarnya orang-orang Papua itu mudah bersahabat. Seperti yang Pak Samuel katakan sebagai berikut:

(54)

41

“Kalau karakter orangnya baik sih. Maksudnya mereka friendly gitu. Memang tampilannya aja yang seperti itu. Tapi orangnya baik...” (Pak

Samuel, wawancara pada 22 Februari 2020).

g. Aktif dalam Kegiatan Sosial

Lalu stereotip berikutnya mengenai orang-orang Papua dari masyarakat lokal Tangerang Selatan yaitu kebanyakan dari mereka itu termasuk yang aktif berpartisipasi dalam kegiatan sosial. Seperti yang disampaikan oleh Pak Nurdin sebagai berikut:

“...Mereka aktif dan justru mereka dalam kelompok sesama Papua nya sangat solid ya. Membangun jaringan dalam pengertian seperti sekarang kan

ada kepala di BKPM orang Papua teman saya orang Papua itu sangat aktif

sekali tuh di kegiatan sosial, bangun jaringan dia kan sebagai pengusaha juga.

Artinya bertanya kepada saya mereka yang sangat aktif membangun jaringan

mereka, usaha mereka, komunitas mereka dan diantara mereka juga sangat

kuat ya...” (Pak Nurdin, wawancara pada 26 Oktober 2019).

Kemudian Pak Asep juga menyampaikan bahwa orang-orang Papua itu akan lebih aktif lagi berpartisipasi dalam kegiatan sosial asalkan mereka memang diikutsertakan. Maka mereka akan jauh lebih aktif lagi dalam mengikuti kegiatan sosial. Seperti yang Pak Asep sampaikan sebagai berikut:

“Kalau aktif tinggal misal disini tinggal kitanya. Biasanya kita ketemuan nih sebulan dua kali atau empat kali, itukan jadi komunikasi. Nah mereka lebih

(55)

42

kalau kita janjikan agar besok kita kerja bakti, mereka lebih giat.” (Pak Asep,

wawancara pada 13 Februari 2020).

h. Memiliki Sifat Solidaritas yang Tinggi

Kemudian stereotip berikutnya mengenai orang-orang Papua dari masyarakat lokal Tangerang Selatan yaitu mereka memiliki sifat solidaritas yang tinggi. Seperti yang dikatakan oleh Pak Enpa sebagai berikut:

“Dia orang punya sosial dia orang punya kayak satu kumpulan untuk bisa membantu orang ada kumpulan begitu walau dia masih mahasiswa dia bikin

ngamen, dia cari duit apapun dia orang ada tujuan. Ada orientasinya. Nanti

kalau ada permintaan dari Papua kalau ada masalah Papua, dia orang ada

kas, ada uang. Dia orang punya itu, dia solidaritasnya besar semacam ada

organisasi. Kami juga begitu, solidaritas kita besar.” (Pak Enpa, wawancara

pada 13 Februari 2020).

Lebih lanjut Pak Enpa menyatakan sebagai berikut:

“Ada saya suka dia orang itu karena selalu satu yang komuniti yang bagus dia selalu kerjasama ya, dia orang selalu begitu tiap-tiap di mana-mana

anak-anak selalu punya solidaritas, persamaan itu besar...” (Pak Enpa, wawancara

pada 14 Agustus 2020).

Rata-rata kebanyakan informan dalam penelitian ini sebagai masyarakat lokal Tangerang Selatan tidak setuju dengan stereotip negatif yang selama ini dilekatkan terhadap orang-orang Papua. Karena pada dasarnya mereka tidak melihat sifat seseorang dari latar belakang etnisnya, namun memang

Gambar

Tabel I.H.1. Karakteristik Sosial Informan...........................................................22  Tabel  II.D.1
Tabel I.H.1. Karakteristik Sosial Informan
Tabel II.D.1. Struktur Kepengurusan Komunitas KOSAPMAJA Wilayah  Tangerang Selatan

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penggunaan metode wawancara pada penelitian ini adalah agar diperoleh data-data atau informasi secara jelas dan kongkret mengenai proses implementasi

• Pelayanan yang disediakan oleh Puskesmas perlu diketahui oleh masyarakat sebagai pengguna pelayanan, oleh lintas program, dan sektor terkait untuk meningkatkan kerjasama,

Guru dan stakeholder lainnya belum mampu memanfaatkan berbagai sarana dan menjadikan PSBG sebagai bengkel penempah guru yang professional sampai pada

keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa. Apabila penutur bahasa itu adalah kelompok yang homogen, baik etnis, status sosial, maupun lapangan pekerjaannya, maka variasi atau

diujicobakan terlebih dahulu pada kelas lain untuk mengetahui tingkat kesukaran, daya beda, validitas, dan reliabilitas soal. Teknik pengumpulan data yang digunakan

agama dan nilai-nilai normatif. Banyak program dakwahtainment, tapi sebagian besar membahas isu-isu sepele, tak relevan dan tak berkaitan, sambil menggunakan

Dari hasil perhitungan koefisien reliabilitas, daya pembeda, dan indeks tingkat kesukaran pada ins- trumen tes pemahaman konsep mate- matis siswa dalam penelitian ini telah

Masasaksihan po natin ang pagpasok ng mga batang nagkamit ng karangalan kasama ang kanilang mga magulang, kasunod ang mga batang magsisipagtapos