PERATURAN BUPATI KUNINGAN
NOMOR 44 TAHUN 2021
TENTANG PEDOMAN PEMBERIAN TAMBAHAN
PENGHASILAN PEGAWAI NEGERI SIPIL
DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN KUNINGAN
PEMERINTAH KABUPATEN KUNINGAN
PERATURAN BUPATI KUNINGAN NOMOR 44 TAHUN 2021 TENTANG
PEDOMAN PEMBERIAN TAMBAHAN PENGHASILAN PEGAWAI NEGERI SIPIL
DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN KUNINGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
BUPATI KUNINGAN,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan kinerja, motivasi, disiplin, tanggungjawab dan kesejahteraan bagi Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuningan, perlu diberikan tambahan penghasilan;
b. bahwa Peraturan Bupati Kuningan Nomor 92 Tahun 2019 tentang Pedoman Pemberian Tambahan Penghasilan Pegawai Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuningan sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Bupati Kuningan Nomor 40 Tahun 2020 sudah tidak sesuai dengan perkembangan yang ada sehingga perlu ditinjau kembali;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b, maka perlu menetapkan Peraturan Bupati tentang Pedoman Pemberian Tambahan Penghasilan Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuningan.
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Djawa Barat sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1968;
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
4. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah;
5. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara;
6. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015;
7. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan;
8. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 tentang Peraturan Gaji Pegawai Negeri Sipil sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2019;
9. Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil; 10. Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin
Pegawai Negeri Sipil;
11. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 tentang Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil;
12. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2016 tentang Perangkat Daerah sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2019;
13. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2016 tentang Tata Cara Tuntutan Ganti Kerugian Negara/Daerah Terhadap Pegawai Negeri Bukan Bendahara atau Pejabat Lain;
14. Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2020;
15. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah;
16. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 2019 tentang Penilaian Kinerja Pegawai Negeri Sipil;
17. Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan Nomor 3 Tahun 2007 tentang Tata Cara Penyelesaian Ganti Kerugian Negara Terhadap Bendahara;
18. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 63 Tahun 2011 tentang Pedoman Penataan Sistem Tunjangan Kinerja Pegawai Negeri;
19. Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 1 Tahun 2013 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 tentang Penilaian Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil;
20. Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 24 Tahun 2017 tentang Tata Cara Pemberian Cuti Pegawai Negeri Sipil; 21. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi Nomor 35 Tahun 2018 tentang Penugasan Pegawai Negeri Sipil Pada Instansi Pemerintah dan Di Luar Instansi Pemerintah;
22. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 133 Tahun 2018 tentang Penyelesaian Tuntutan Ganti Kerugian Daerah Terhadap Pegawai Negeri Bukan Bendahara atau Pejabat Lain; 23. Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 1 Tahun
2020 tentang Tata Cara Penetapan Penugasan Pegawai Negeri Sipil Pada Instansi Pemerintah Dan Di Luar Instansi Pemerintah;
24. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 77 Tahun 2020 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Keuangan Daerah;
25. Peraturan Daerah Kabupaten Kuningan Nomor 5 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Kuningan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Kabupaten Kuningan Nomor 10 Tahun 2019;
26. Peraturan Bupati Kuningan Nomor 11 Tahun 2018 tentang Ketentuan Tata Naskah Dinas Di Lingkungan Pemerintahan Kabupaten Kuningan.
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN BUPATI TENTANG PEDOMAN PEMBERIAN TAMBAHAN PENGHASILAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN KUNINGAN.
BAB I
KETENTUAN UMUM Pasal 1
Dalam Peraturan Bupati ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Daerah Kabupaten Kuningan;
2. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
3. Pemerintah Daerah adalah Bupati sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom;
4. Bupati adalah Bupati Kuningan;
5. Perangkat Daerah adalah unsur pembantu Kepala Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dalam penyelenggaraan Urusan Pemerintahan yang menjadi kewenangan Daerah;
6. Perangkat Daerah Kabupaten meliputi Sekretariat Daerah, Sekretariat DPRD, Inspektorat, Dinas Daerah, Badan Daerah, Kecamatan di Kabupaten Kuningan;
7. Lembaga Ketentuan Lain terdiri dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, Rumah Sakit Umum Daerah “45”, Rumah Sakit Umum Daerah Linggajati, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah;
8. Calon Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat CPNS adalah Calon Pegawai Negeri Sipil yang bekerja pada Pemerintah Kabupaten Kuningan;
9. Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat dengan PNS adalah Warga Negara Indonesia yang memenuhi syarat tertentu, diangkat sebagai PNS secara tetap oleh Pejabat Pembina Kepegawaian untuk menduduki jabatan pemerintahan;
10. Presensi adalah kehadiran pegawai yang dibuktikan dengan menggunakan alat elektronik dan/atau daftar hadir manual; 11. Mesin Absen adalah alat bantu yang digunakan untuk
menunjukan kehadiran/ketidakhadiran PNS dalam melaksanakan tugas;
12. Jabatan adalah kedudukan yang menunjukkan fungsi, tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak seorang PNS dalam suatu satuan organisasi;
13. Jabatan Fungsional yang selanjutnya disingkat JF adalah sekelompok jabatan yang berisi fungsi dan tugas berkaitan dengan pelayanan fungsional yang berdasarkan pada keahlian dan keterampilan tertentu;
14. Pejabat Fungsional PNS adalah PNS yang menduduki Jabatan Fungsional pada instansi pemerintah;
15. Pejabat yang berwenang adalah pejabat yang mempunyai kewenangan melaksanakan proses pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian PNS sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
16. Pejabat Pembina Kepegawaian adalah pejabat yang mempunyai kewenangan menetapkan pengangkatan, pemindahan, dan pemberhentian PNS dan pembinaan manajemen PNS di instansi pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
17. Tambahan Penghasilan Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disingkat TP PNS adalah penghasilan yang diterima PNS diluar gaji dan tunjangan lainnya yang sah dalam rangka meningkatkan kesejahteraan yang diberikan berbasis kinerja; 18. Pelaksana Tugas yang selanjutnya disingkat Plt. adalah pejabat yang menempati posisi jabatan yang bersifat sementara karena pejabat yang menempati posisi itu sebelumnya berhalangan tetap atau terkena peraturan hukum sehingga tidak menempati posisi tersebut;
19. Pelaksana Harian yang selanjutnya disingkat Plh. adalah pelaksana harian yang melaksanakan tugas rutin dari pejabat definitif yang berhalangan sementara;
20. Penugasan PNS adalah PNS di luar instansi Pemerintah Daerah yang diberikan tugas bekerja di instansi Pemerintah Daerah dalam jangka waktu tertentu dan melaksanakan tugas jabatan yang bersifat pendukung atau administratif; 21. Badan Kepegawaian Dan Pengembangan Sumber Daya
Manusia yang selanjutnya disingkat BKPSDM adalah unsur penunjang urusan pemerintahan bidang kepegawaian dan pengembangan sumber daya manusia yang dipimpin oleh Kepala Badan yang berkedudukan di bawah dan bertanggungjawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah;
22. Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah yang selanjutnya disingkat BPKAD adalah Perangkat Daerah yang melaksanakan fungsi urusan penunjang Pemerintahan Daerah dalam hal pengelolaan keuangan dan aset daerah yang dipimpin oleh seorang Kepala Badan yang berkedudukan dibawah dan bertanggungjawab kepada Bupati melalui Sekretaris Daerah;
23. Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian yang selanjutnya disingkat SIMPEG adalah Sistem Informasi Manajemen Kepegawaian yang dikelola oleh BKPSDM;
24. Sasaran Kinerja Pegawai yang selanjutnya disingkat SKP adalah rencana kinerja dan target yang akan dicapai oleh seorang PNS yang harus dicapai setiap tahun.
BAB II
MAKSUD DAN TUJUAN Pasal 2
(1) Maksud pemberian TP PNS yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan PNS yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah selain gaji sebagai penghargaan atas capaian kinerja.
(2) Pemberian TP PNS bertujuan untuk :
a. Meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat;dan b. Meningkatkan disiplin, kinerja, motivasi dan integritas
PNS.
BAB III
KRITERIA PENERIMA TP PNS Pasal 3
Pemberian TP PNS dalam pelaksanaan reformasi birokrasi menggunakan prinsip-prinsip :
a. Kepastian Hukum; b. Akuntabel;
c. Proporsional; d. Keadilan;
e. Efisien dan efektif; dan f. Kesejahteraan.
Pasal 4
TP PNS merupakan fungsi dan keberhasilan atas dasar tanggung jawab, produktivitas kerja dan kehadiran yang telah dicapai oleh seorang individu pegawai yang dibuktikan dengan nilai produktivitas kerja dan presensi kehadiran setiap bulannya.
Pasal 5 TP PNS diberikan kepada :
a. PNS yang bekerja pada Perangkat Daerah dan Lembaga Ketentuan Lain;
b. PNS yang mutasi masuk ke Pemerintah Daerah setelah adanya penetapan Surat Keterangan Pemberhentian Pembayaran (SKPP) dari instansi asal;
c. PNS di luar instansi Pemerintah Daerah yang diberikan penugasan bekerja di Pemerintah Daerah diberikan TP PNS sesuai jabatan yang didudukinya dan dibayarkan setelah terbitnya Surat Keterangan Pemberhentian Pembayaran (SKPP) dari instansi asal;
d. PNS yang mengalami perpindahan antar instansi atau unit kerja diberikan TP PNS di unit kerja baru pada bulan bersangkutan apabila Surat Perintah Melaksanakan Tugas (SPMT) ditetapkan tertanggal hari kerja pertama, namun apabila SPMT ditetapkan tertanggal setelah hari kerja pertama maka diberikan TP PNS pada bulan berikutnya; e. PNS yang mengalami perpindahan jabatan dari struktural
ke fungsional dan sebaliknya, diberikan TP PNS pada bulan bersangkutan apabila dilantik pada hari kerja pertama, namun apabila dilantik setelah hari kerja pertama maka TP PNS diberikan pada bulan berikutnya;
f. Pejabat Struktural yang mengalami mutasi (promosi, rotasi, atau demosi) diberikan TP PNS pada bulan bersangkutan apabila dilantik pada hari kerja pertama, namun apabila dilantik setelah hari kerja pertama maka TP PNS diberikan pada bulan berikutnya;
g. PNS yang sedang menjalani proses hukum karena menerima gratifikasi, maka TP PNS yang diterima hanya diberikan sebesar 50% (lima puluh persen) dari TP PNS yang seharusnya diterima; atau
h. PNS yang terkena sanksi Tuntutan Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Kerugian Daerah dan telah melaksanakan penandatanganan Surat Pertanggungjawaban Mutlak (SPTJM) dan Penetapan Pembebanan.
Pasal 6 (1) TP PNS tidak diberikan kepada :
a. PNS yang diberhentikan sementara karena ditahan oleh pihak yang berwajib karena menjadi tersangka tindak pidana sampai dengan putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap;
b. PNS yang menjalani hukuman pidana penjara;
c. PNS yang diberhentikan dengan hormat atau tidak dengan hormat;
d. PNS yang ditugaskan pada Instansi/Lembaga Negara dan/atau lembaga lainnya di luar Pemerintah Daerah;
e. PNS yang sedang menjalani Cuti di Luar Tanggungan Negara dan Cuti Besar;
f. PNS yang tidak membuat SKP;
g. PNS yang dalam masa bebas tugas untuk menjalani masa persiapan pensiun;
h. PNS yang sedang melaksanakan tugas belajar;
i. PNS yang menjabat sebagai Kepala Desa dan Perangkat Desa definitif;
j. PNS yang sedang mengajukan banding administratif terhadap putusan hukuman disiplin berat berupa pemberhentian dengan hormat atau tidak dengan hormat yang tidak diizinkan masuk kerja;
k. PNS yang tidak menyampaikan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) sampai dengan batas waktu yang ditentukan;
l. PNS yang terkena sanksi dan tidak melaksanakan kewajiban sesuai keputusan Tuntutan Perbendaharaan dan Tuntutan Ganti Kerugian Daerah;atau
m. PNS yang tidak mengembalikan Barang Milik Daerah (2) Barang Milik Daerah yang tidak dikembalikan PNS
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf m dikarenakan : a. Hilang;
b. Digunakan tidak sesuai kebutuhan; atau c. Dijual.
BAB IV BESARAN TP PNS
Pasal 7
(1) Besaran TP PNS disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah.
(2) Pembayaran TP PNS setiap bulan dinilai berdasarkan komponen Produktivitas Kerja dan Disiplin Kerja.
(3) Pemberian TP PNS dilakukan melalui rekening Bank BJB masing-masing pegawai.
(4) Besaran TP PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut melalui Keputusan Bupati.
Pasal 8
(1) Untuk PNS yang mendapatkan tugas tambahan sebagai Koordinator Wilayah Kecamatan Bidang Pendidikan, mendapatkan tambahan penghasilan sebagaimana tercantum dalam lampiran Keputusan Bupati Kuningan tentang Besaran TP PNS di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuningan.
(2) Apabila PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah mendapatkan tambahan penghasilan pegawai dari jabatan yang diembannya, maka pegawai tersebut diharuskan memilih salah satu tambahan penghasilan yang dianggap paling tinggi.
BAB V
KOMPONEN TP PNS Pasal 9
TP PNS terdiri dari:
a. Produktivitas Kerja sebesar 60% (enam puluh persen); dan b. Disiplin Kerja sebesar 40% (empat puluh persen).
Pasal 10
(1) Penilaian Komponen Produktivitas Kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf a sebesar 60% (enam puluh persen) dari besaran TP PNS.
(2) Komponen Produktivitas Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinilai berdasarkan:
a. Capaian kinerja bulanan sebesar 60% (enam puluh persen), yang terdiri dari:
1) Capaian SKP bulanan sebesar 60% (enam puluh persen); dan
2) Capaian Perilaku bulanan sebesar 40% (empat puluh persen).
b. Capaian waktu aktivitas bulanan sebesar 40% (empat puluh persen).
Pasal 11
(1) Penilaian Komponen Disiplin Kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf b ditetapkan sebesar 40% (empat puluh persen) dari TP PNS.
(2) Penilaian Komponen Disiplin Kerja dilakukan berdasarkan rekapitulasi kehadiran pegawai pada saat masuk kerja dan pada saat pulang kerja.
(3) Pembayaran atas penilaian Komponen Disiplin Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan berdasarkan tingkat ketaatan terhadap ketentuan jam kerja. (4) Ketaatan terhadap ketentuan jam kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dinilai dengan presentase kehadiran PNS selama 1 (satu) bulan berjalan.
(5) Dalam hal tidak memenuhi ketentuan jam kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (3) PNS dikenakan pemotongan Komponen Disiplin Kerja dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Pegawai yang tidak masuk kerja tanpa keterangan, sakit/ijin lebih dari 1 (satu) hari dan tidak mengajukan cuti sakit, sebesar 3% (tiga persen) setiap harinya;
b. Pegawai yang terlambat masuk kerja pada bulan berjalan, maka diberikan pengurangan tambahan penghasilan sebagai berikut:
Keterlambatan
(TL) Lama Keterlambatan Pengurangan Prosentasi
TL1 1 menit s.d. <31 Menit 0,5%
TL2 31 menit s.d. <61 Menit 1%
TL3 61 menit s.d. <91 Menit 1,25%
TL4 ≥91 menit dan atau tidak
mengisi daftar hadir masuk kerja
1,5%
c. Pegawai yang pulang kerja sebelum waktunya pada bulan berjalan, diberikan pengurangan tambahan penghasilan sebagai berikut :
Pulang Sebelum Waktunya (PSW) Lama Meninggalkan Pekerjaan Sebelum Waktunya Prosentasi Pengurangan PSW 1 1 menit s.d. <31 menit 0,5% PSW 2 31 menit s.d. <61 menit 1% PSW 3 61 menit s.d. <91 menit 1,25%
PSW 4 ≥91 menit dan atau tidak
mengisi daftar hadir pulang kantor
1,55%
(6) Izin terlambat masuk kerja dan pulang sebelum waktunya dapat diberikan kepada PNS masing-masing dua kali dalam satu bulan dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
(7) Ketentuan pemotongan Komponen Disiplin Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dikenakan secara kumulatif dengan ketentuan pemotongan paling banyak 100% (seratus persen).
(8) Izin tidak masuk kerja dengan alasan yang sah, maka ketidakhadirannya diperhitungkan dengan sisa hak cuti tahunan yang dimiliki, dan tidak dikenakan pemotongan pada Komponen Disiplin Kerja.
(9) Izin tidak masuk kerja dapat disampaikan secara lisan maupun tulisan, dengan ketentuan menyampaikan surat izin tertulis paling lambat 1 (satu) hari setelah mendapatkan izin dari atasan, sesuai contoh format yang tercantum pada lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Bupati ini.
(10) Ketidakhadiran serta keterlambatan masuk kerja dan pulang kerja sebelum waktunya diluar ketentuan yang ditetapkan, selain berpengaruh terhadap pemotongan besaran TP PNS, juga mendapatkan sanksi sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS.
(11) PNS yang sedang mengikuti diklat, melaksanakan perjalanan dinas dalam daerah/luar daerah/luar negeri dan melaksanakan tugas kedinasan lainnya sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan perekaman kehadiran, tidak dikenakan pengurangan TP PNS dengan melampirkan dokumen pendukung.
(12) PNS yang sedang menjalani cuti selain Cuti Diluar Tanggungan Negara dan Cuti Besar hanya mendapatkan TP PNS dari Komponen Disiplin Kerja.
BAB VI
TP PNS BAGI CPNS, Plt. dan Plh. Bagian Kesatu
TP PNS Bagi CPNS Pasal 12
(1) Pembayaran TP PNS bagi CPNS dibayarkan sesuai dengan Jabatan yang tercantum pada Keputusan pengangkatan sebagai CPNS.
(2) CPNS diberikan tambahan penghasilan di tempat kerja pada bulan bersangkutan apabila Surat Perintah Melaksanakan Tugas (SPMT) ditetapkan tertanggal hari kerja pertama,
BAB VII MESIN ABSEN
Pasal 14
Untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 dan Pasal 11, setiap SKPD mempersiapkan/ menyediakan mesin absen yang terintegrasi dengan aplikasi absensi online pada SIMPEG BKPSDM.
Pasal 15
Pengolahan data absensi PNS serta pemeliharaannya dilaksanakan oleh setiap Perangkat Daerah.
namun apabila SPMT ditetapkan tertanggal setelah hari kerja pertama maka diberikan tambahan penghasilan pada bulan berikutnya terhitung mulai tanggal SPMT.
(3) Pembayaran TP PNS bagi CPNS dibayarkan sebesar 80% (delapan puluh persen) dari besaran TP PNS, sampai dengan ditetapkannya keputusan pengangkatan dari CPNS menjadi PNS.
Bagian Kedua
TP PNS Bagi Plt. dan Plh. Pasal 13
(1) Pegawai yang menjadi Plt. atau Plh. dapat diberikan TP PNS tambahan apabila memenuhi persyaratan yang telah ditentukan oleh BKPSDM.
(2) Plt. atau Plh. diberikan TP PNS tambahan jika menjabat dalam jangka waktu paling singkat 1 (satu) bulan pada bulan bersangkutan.
(3) Pegawai yang merangkap Plt. dalam jabatan satu tingkat dibawah, setingkat, atau satu tingkat di atas jabatan definitif, mendapatkan tambahan 20% (dua puluh persen) dari TP PNS jabatan yang dirangkapnya.
(4) Pegawai yang merangkap Plh. dalam jabatan satu tingkat dibawah, setingkat, atau satu tingkat di atas jabatan definitif, mendapatkan tambahan 20% (dua puluh persen) dari TP PNS jabatan yang dirangkapnya, sedangkan bagi pejabat definitifnya mendapatkan TP PNS sebesar 80% (delapan puluh persen).
Pasal 16
(1) Apabila mesin absen dalam keadaan rusak atau bermasalah, maka PNS dapat mengisi absensi manual sesuai format yang ditentukan untuk selanjutnya diinput ke dalam aplikasi absensi online yang terintegrasi dengan SIMPEG BKPSDM; (2) PNS yang memiliki jam kerja khusus/sistem shift antara lain
tenaga kesehatan, tenaga kebersihan, petugas pengamanan, petugas pemadam kebakaran, dan PNS lainnya dapat mengisi absensi manual sesuai format yang ditentukan untuk selanjutnya diinput ke dalam aplikasi absensi online yang terintegrasi dengan SIMPEG BKPSDM.
BAB VIII
\MEKANISME PELAKSANAAN Pasal 17
(1) TP PNS setiap bulannya dibayarkan pada bulan berikutnya, kecuali untuk TP PNS bulan Desember dibayarkan minggu keempat pada bulan bersangkutan.
(2) Kepala Perangkat Daerah menetapkan Petugas Pengelola TP PNS pada masing-masing Perangkat Daerah setiap tahunnya.
(3) Perangkat Daerah menyampaikan dokumen usulan rekomendasi pembayaran TP PNS ke BKPSDM setiap bulan. (4) BKPSDM menerbitkan rekomendasi pembayaran TP PNS
untuk Perangkat Daerah setelah dilakukan verifikasi dan validasi terhadap dokumen usulan rekomendasi pembayaran TP PNS sebagaimana dimaksud ayat (3).
(5) Perangkat Daerah menyampaikan usulan pencairan TP PNS kepada BPKAD dengan melampirkan rekomendasi pembayaran TP PNS yang telah diterbitkan oleh BKPSDM. (6) Pembayaran TP PNS dilakukan oleh BPKAD.
Pasal 18
(1) BKPSDM melaksanakan verifikasi terhadap pengisian e-kinerja PNS serta dokumen usulan penerimaan TP PNS untuk memberikan rekomendasi besaran TP PNS.
(2) Rekomendasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikeluarkan paling lambat 6 (enam) hari sejak dokumen usulan penerimaan TP PNS diterima dan dinyatakan lengkap.
(3) Pembayaran TP PNS untuk bulan sebelumnya dilakukan paling lambat minggu ketiga bulan berjalan.
(4) Pembayaran TP PNS untuk bulan Desember dilakukan paling lambat minggu keempat bulan berjalan.
Pasal 19
(1) Perangkat Daerah dapat mengajukan keberatan atas jumlah besaran TP PNS dari hasil verifikasi dan validasi yang dilaksanakan oleh BKPSDM.
(2) Keberatan atas jumlah besaran TP PNS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan ke BKPSDM untuk ditindaklanjuti dengan hasil disetujui atau ditolak atas dasar pertimbangan bukti pendukung yang telah dilampirkan Perangkat Daerah.
BAB IX
PEMBINAAN, MONITORING DAN EVALUASI Pasal 20
(1) Pembinaan, Monitoring dan Evaluasi TP PNS dilaksanakan oleh Tim yang terdiri dari BKPSDM, BPKAD, Inspektorat, Bagian Organisasi serta Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kabupaten Kuningan.
(2) Pembinaan, Monitoring dan Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan bagian dari pengendalian TP PNS. (3) Hasil Pembinaan, Monitoring dan Evaluasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) dilaporkan kepada Bupati Kuningan melalui Sekretaris Daerah.
BAB X
KETENTUAN PENUTUP Pasal 21
(1) Pedoman pemberian TP PNS ini digunakan sebagai panduan dalam menetapkan besaran tambahan penghasilan yang diterima PNS di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuningan.
(2) Pada saat mulai berlakunya Peraturan Bupati ini :
a. Peraturan Bupati Kuningan Nomor 92 Tahun 2019 tentang Pedoman Pemberian Tambahan Penghasilan
Pegawai Aparatur Sipil Negara Di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuningan;
b. Peraturan Bupati Kuningan Nomor 23 Tahun 2020 tentang Perubahan Atas Peraturan Bupati Kuningan Nomor 92 Tahun 2019 tentang Pedoman Pemberian Tambahan Penghasilan Pegawai Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuningan;
c. Peraturan Bupati Kuningan Nomor 40 Tahun 2020 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Bupati Kuningan Nomor 92 Tahun 2019 tentang Pedoman Pemberian Tambahan Penghasilan Pegawai Aparatur Sipil Negara Di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuningan,
dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
(3) Semua ketentuan yang mengatur tentang Pemberian Tambahan Penghasilan Pegawai Negeri Sipil Di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kuningan wajib berpedoman pada Peraturan Bupati ini.
Pasal 22
Peraturan Bupati ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Bupati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabupaten Kuningan.
Ditetapkan di Kuningan pada tanggal BUPATI KUNINGAN, ACEP PURNAMA Diundangkan di Kuningan pada tanggal SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN KUNINGAN,
DIAN RACHMAT YANUAR
LAMPIRAN PERATURAN BUPATI KUNINGAN NOMOR : 44 TAHUN 2021
TENTANG : PEDOMAN PEMBERIAN TAMBAHAN PENGHASILAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN
PEMERINTAH KABUPATEN KUNINGAN
CONTOH SURAT
A. CONTOH SURAT PERMOHONAN IZIN TIDAK MASUK KERJA (Dari Pemohon)
SURAT PERMOHONAN IZIN TIDAK MASUK KERJA
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : ...
NIP : ...
Jabatan : ...
Pangkat/Gol. Ruang : ...
Unit Kerja : ...
Pada hari ... tanggal ... mohon izin tidak masuk kerja dengan alasan ...
Untuk menjadi maklum, atas perhatian Bapak/Ibu, kami sampaikan terima kasih.
Kuningan, ... 20.... Mengetahui/Menyetujui
Atasan Langsung*) Hormat Kami,
... ...
NIP... NIP...
*) Diisi nama jabatan atasan langsung
Kuningan, ……….. Kepada
B. CONTOH SURAT PERMOHONAN IZIN DATANG TERLAMBAT/PULANG LEBIH AWAL (Dari Pemohon)
SURAT PERMOHONAN IZIN DATANG TERLAMBAT/PULANG LEBIH AWAL
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : ...
NIP : ...
Jabatan : ...
Pangkat/Gol. Ruang : ...
Unit Kerja : ...
mohon izin datang terlambat/pulang lebih awal*), pukul ... WIB, hari ... tanggal ……… dengan alasan ...
Untuk menjadi maklum, atas perhatian Bapak/Ibu, kami sampaikan terima kasih.
Kuningan, ... 20.... Mengetahui/Menyetujui
Atasan Langsung **) Hormat Kami,
... ...
NIP... NIP...
*) Coret yang tidak perlu
**) Diisi nama jabatan atasan langsung
Kuningan, ……….. Kepada
C. CONTOH SURAT PEMBERIAN IZIN DARI KEPALA PERANGKAT DAERAH
PEMERINTAH KABUPATEN KUNINGAN
NAMA PERANGKAT DAERAH
JALAN ………….……. NO……. TELP. ………..KUNINGAN Kode Pos…………. SURAT IZIN NOMOR ………. TENTANG ………. ………. Dasar : a. ………. ………. b. ………. ………. c. ………. ………. MEMBERI IZIN Kepada : ………. Nama : ………. Jabatan : ………. Alamat : ………. Untuk : ………. Ditetapkan di ……… Pada Tanggal ……… KEPALA PERANGKAT DAERAH, TTD
NAMA DENGAN GELAR PANGKAT NIP Tembusan : 1. ……… BUPATI KUNINGAN, ACEP PURNAMA