PENGARUH J IWA KEWIR AUS AHAAN DAN MOTIV AS I TERHADAP
PENGEMBANGAN K ARIR P ADA DISTRIBUTOR MULT I LEVEL MARKETING DI PT TRENI BANDUNG
Dede Jajang1, Siti S2
STIE Sebelas April Sumedang
Jl. Angkrek Situ No. 19 Sumedang 45323
Telp. 081220642779 Email: [email protected]
ABSRAK
Pengaruh Jiwa Kewirausahaan dan Motivasi terhadap Pengembangan Karir pada Distributor Multi Level Marketing di PT TRENI Bandung,Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh Jiwa Kewirausahaan dan Motivasi terhadap Pengembangan Karir pada Distributor Multi Level Marketing di PT TRENI Bandung.Metoda penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analisis untuk mengetahui nilai variabel Jiwa kewirausahaan dan Motivasi terhadap Pengembangan Karir.Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan menyebarkan kuesioner terhadap distributor MLM PT TRENI Bandung dapat diketahui bahwa : Jiwa kewirausahaan mencapai Skor rata-rata 4,23. Rata-rata skor tersebut sesuai dengan tabel kriteria penafsiran termasuk kategori sangat baik. Motivasi mencapai skor rata-rata 4,18. Rata-rata skor tersebut sesuai dengan tabel kriteria penafsiran termasuk kategori baik. Pengembangan Karir mencapai Skor 4,03. Rata-rata skor tersebut sesuai dengan tabel kriteria Penafsiran termasuk kategori baik.Jiwa Kewirausahaan (X1) mempunyai pengaruh langsung terhadap Pengembangan karir sebesar 0,36%, dan pengaruh tidak langsung melalui motivasi sebesar 1,5% sehingga total pengaruhnya sebesar 1,86%. Variabel Motivasi (X2) mempunyai pengaruh langsung terhadap Pengembangan karir sebesar 58,98%, dan pengaruh tidak langsung melalui hubungannya dengan Jiwa Kewirausahaansebesar 1,5% sehingga total pengaruhnya sebesar 60,48%.Secara simultan pengaruh Jiwa Kewirausahaan (X1) dan Motivasi (X2) terhadap pengembangan karir (Y) sebesar 62,4 %. Sedangkan sisanya yaitu sebesar 37,6 % merupakan faktor lain yang mempengaruhi variabel Pengembangan Karir.Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Jiwa Kewirausahaan dan Motivasi secara simultan (bersama-sama) berpengaruh terhadap Pengembangan Karir pada Distributor MLM di PT TRENI Bandung.
Kata kunci : Jiwa Kewirausahaan, Motivasi, Pengembangan Karir.
Latar Belakang Penelitian
Kondisi turunnya ekonomi dunia yang berdampak langsung pada melambatnya pertumbuhan ekonomi indonesia pada triwulan I tahun 2015, telah memberi kontribusi besar pada tingginya pengangguran di negara ini, pengangguran kini telah merata dihampir seluruh wilayah indonesia. Sumatera, jawa, kalimantan, sulawesi hingga papua mengalami peningkatan pengangguran terutama sektor pertanian, perikanan, kelautan dan transportasi. Data (Badan Pusat Statistik) BPS menunjukkan hingga Februari 2015, jumlah angka pengangguran meningkat 2 juta orang sehingga total angka pengangguran mencapai 7,45 juta orang, keadaan ini sudah mulai membahayakan pada tatanan kehidupan masyarakat. (Warta Ekonomi/Waspada, 23 Desember 2015).
Berwirausaha merupakan satu alternatif jalan keluar terbaik untuk mengatasi pengangguran, jumlah wirausaha merupakan cerminan dari kemajuan perekonomian suatu negara. Lazimnya, semakin besar jumlah wirausaha di suatu negara, semakin maju dan stabil perekonomian negara tersebut. Pertambahan jumlah wirausaha juga berkorelasi positif dengan bertambahnya lapangan pekerjaan dan peningkatan tingkat kesejahteraan
masyarakat. Hal ini ditegaskan oleh Suryana (2006:4) yang menyatakan bahwa peran wirausaha adalah menciptakan kemakmuran, pemerataan kekayaan, dan kesempatan kerja yang berfungsi sebagai mesin pertumbuhan perekonomian suatu negara.Saat ini jumlah wirausaha Indonesia masih sekitar 1,65% dari total jumlah penduduk. Masih kalah jauh jika dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN misalnya Singapura, Malaysia, dan Thailand. Persentase wirausaha di Singapura itu sudah 7%, Malaysia 5%, dan Thailand 4%, sedangkan United America State persentasenya kira-kira 12%. (depkop 2015).
Ajang lomba kewirausahaanbanyak dilakukan dari pihak pemerintah maupun swasta, namun tidak semua orang mempunyai kesempatan untuk dapat mengembangkan wirausaha. Kendala financial, softskill, dan minimnya pengetahuan tentang kewirausahaanmenyebabkan susahnya usaha mandiri dapat bertumbuh dengan cepat. Hanya beberapa saja yang berkompetensi dan memiliki mental kuat dapat eksis dalam dunia kewirausahaan. Di tengah masalah tersebut, datanglah sebuah sistem bisnis yang dapat menjanjikan keberhasilan financial dengan sistem pemasaran berjenjang yang dinilai dapat mendorong kemampuan seseorang di bidang marketing yang merupakan salah satu hal yang mendasari kewirausahaan yaitu,(Multi Level Marketing) atau disingkatMLM.
MLM bukan bisnis yang baru, menurut Santoso (2003) sudah sejak abad 19 bisnis ini muncul, tapi masih belum berdampak dan berkembang di Indonesia karena kondisi Indonesia yang belum memadai dan masih belum berkembangnya isu tentang entrepreneurship. Seiring berjalannya waktu, perjalanan bisnis MLM pun terus berkembang di Indonesia dengan memanfaatkan trend kewirausahaan yang ada. Pada dasarnya MLM atau Multi Level Marketing adalah sistem penjualan yang memanfaatkan konsumen sebagai tenaga penyalur secara langsung (distributor). Harga barang yang ditawarkan pada konsumen adalah harga produksi ditambah komisi yang menjadi hak konsumen karena secara tidak langsung telah membantu kelancaran distribusi. Sistem bisnis ini akhirnya mulai banyak dipilih oleh beberapa kalangan sebagai alternatif kegiatan bisnis termasuk mahasiswa/pelajar. Mahasiswa banyak memulai bisnis MLM sebagai pilihan untuk meningkatkan pendapatan mereka tanpa harus selalu meminta kepada orang tua dan tidak mengganggu aktivitas perkuliahan karena tidak ada jam kerja pada sistem bisnis MLM. Bisnis MLM juga diyakini dapat menumbuhkan jiwa entrepreneurship kepada mahasiswa secara tidak langsung.Menurut Suryana (2006: 56) watak, sifat, jiwa dan nilai kewirausahaan muncul dalam bentuk perilaku kewirausahaan dengan ciri-ciri: 1) percaya diri, 2) berorientasi pada tugas dan hasil, 3)berani menghadapi resiko, 4) berjiwa pemimpin, 5) keorisinilan, dan 6) berorientasi kemasa depan.
PT Veritra Sentosa Internasional disingkat TRENI merupakan salah satu bisnis dengan perpaduan Direct Selling dan Multi Level Marketing. Perusahaan yang didirikan oleh Ustad Yusuf Mansyur ini bergerak dalam bidang pemasaran alat pembayaran kebutuhan masyarakat yang bernama PayTren. TRENI merupakan salah satu perusahaan MLM yang berkembang saat ini ditengah-tengah paradigma masyarakat yang masih awam terhadap MLM di Indonesia. Salah satu daerah yang menjadi perkembangan perusahaan MLM TRENI adalah Kota Bandung. Hal tersebut ditunjukkan oleh tingginya apresiasi masyarakat terhadap usaha yang menggunakan sistem MLM khususnya TRENI baik yang bersifat pasif maupun aktif. Dalam TRENI semua orang dapat menjadi Mitra/Distributor. Income sebagai distributordiperoleh bila dapat memasarkan atau mengajak orang lain untuk ikut bergabung menjadi distributor/mitra (downline). Dalam MLM terdapat jenjang karir dan semakin tinggi kedudukannya, semakin besar pula income yang diperoleh.Dalam hal ini distributor/Mitra TRENI dituntut untuk memiliki kejelian berimprovisasi untuk mempengaruhi orang lain agar mau bergabung bersama-sama dalam menjalankan usaha MLM tersebut. Dalam TRENI penghasilan didapat dari mengajak orang lain bergabung dan menjadi MITRA. Ini dinamakan mensponsori. Jadi apabila distributor benar-benar bekerja keras, maka bonus yang diperoleh bisa sampai puluhan bahkan ratusan juta per bulan. Dalam rangking 10 profesitermahal di Indonesia, distributorMLM menempati posisi pertama dengan pendapatan tertinggi yang diperoleh pengusaha (distributor) MLM sebesar Rp 100 sampai dengan Rp 200 Jt,- per bulan. (Artikel 7 januari 2014).
Sukses di TRENI berarti sukses di jenjang karir, sukses dalam pengembangan pribadi, sukses menjadi upline dan leader yang mampu mesukseskan downline dan jaringannya. Keberhasilan atau kegagalan wirausaha sangat dipengaruhi oleh sifat dan kepribadiannya. Setiap distributor dalam pengembangan karirnya memiliki perwatakan atau ciri kepribadian tersendiri yang kemudian lebih dikenal dengan jiwa wirausaha. Tanpa adanya jiwa wirausaha yang tertanam dalam individu masing-masing, maka seorang wirausaha jauh dari kesuksesan. Kapabilitas wirausahawan sangat ditentukan oleh pengetahuan dan keterampilan atau kecakapan yang dilengkapi dengan sikap dan motivasi untuk selalu berprestasi membentuk kepribadian wirausaha (Suryana, 2003: 5).
Para ahli mengemukakan bahwa seseorang memiliki minat berwirausaha karena adanya suatu motif, yaitu motif berprestasi. Menurut Gede Anggan Suhandana dalam (Suryana, 2006:52) mengatakan Motif berprestasi adalah suatu nilai sosial yang menekankan pada hasrat untuk mencapai hasil terbaik guna mencapai kepuasan pribadi. Faktor dasarnya adalah adanya kebutuhan yang harus dipenuhi. Kepuasan pribadi yang ingin dicapai diantaranya adalah mencapai jenjang karir yang diinginkan.
Pengembangan karir yang ada di Bisnis MLM berbeda dengan sistem pengembangan karir yang ada dalam instansi pemerintahan yang menganut sistem tradisional atau senioritas yaitu hanya pegawai yang telah lama bekerja yang dapat naik jabatan, dalam bisnis MLM seorang distributor mempunyai kesempatan untuk mendapatkan penghasilan yang tidak kecil bahkan melebihi pendapatan seorang PNS serta mencapai posisi puncak dalam karir tanpa melihat senioritas melainkan prestasi kerjanya. Adakalanya seorang junior bisa menyalip seniornya dan mencapai posisi puncak. Semakin besar jiwa kewirausahaan dan motivasi untuk berprestasi yang dimiliki seorang distributor/Mitra maka semakin tinggi pula kesempatan para distributor/Mitra untuk mencapaisetiap posisi puncak jenjang karir dalam bisnis MLM.
Berdasarkan hasil pemantauan sementara dari penulis, masih ada kesan bahwa untuk mengembangkan karir di MLM tidaklah mudah. masyarakat Indonesia masih awam terhadap bisnis MLM padahal MLM hanyalah salah satu metode untuk memasarkan produk. Banyak orang yang menyatakan bahwa MLM merupakan suatu terobosan baru yang hebat sehingga bisa menghasilkan kekayaan dengan sangat cepat. Namun di sisi lain, banyak orang yang menyatakan bahwa semua MLM bisa dikategorikan dalam skema penipuan keuangan, menguntungkan orang yang berada diatas atau orang yang lebih dahulu bergabungnya, bisnis yang mirip dengan money game (permainan uang), terlalu banyak orang yang gagal, serta bisnis yang akan jenuh sehingga mereka menolak mutlak keberadaan bisnis MLM. Hal tersebut dikarenakan karena adanya mitos - mitos negatif tentang MLM dan kurangnya informasi yang berkembang di masyarakat yang membuat masyarakat menjadi trauma terhadap sebuah bisnis yang menggunakan sistem MLM (Benny Santoso:2008).
Hingga kini banyak perusahaan MLM yang ada di Indonesia. Sampai tahun2014 terdapat 104 perusahaan MLM yangterdaftar dalam APLI (Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia) termasuk diantaranya adalah TRENI. Hal tersebut paling tidak bisa menunjukkan bahwaperkembangan MLM di Indonesia terjadidengan cukup pesat di tengah-tengahparadigma negatif masyarakat terhadapbisnis MLM.
Jumlah pencapaian karir PERINGKAT KARIR TAHUN
2014 TAHUN 2015 TAHUN 2016 STAR LEADER 50 200 603 BRONZE LEADER 20 50 119 JUNIOR SILVER LEADER 1 3 10 SILVER LEADER 0 2 5 GOLD LEADER 0 0 0 EMERALD LEADER 0 0 0 DIAMOND LEADER 0 0 0 AMBASSADOR 0 0 0 CROWN AMBASSADOR 0 0 0
Sumber data : Adm. Operasional PT TRENI Bandung (2016) yang telah diolah oleh penulis
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pencapaian peringkat karir pada Perusahaan TRENI masih rendah dari total Mitra TRENI sebanyak 575.168 orang, dengan masih kosongnya peringkat Gold Leader sampai dengan peringkat Crown Ambassador, 5 orang yang mencapai Silver Leader, 10 orang yang mencapai Junior Silver Leader, 119 orang yang mencapai Bronze Leader, 603 orang yang mencapai Star Leader.
MetodologiPenelitian
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode deskriptif analisis. Dimana dalam metode ini akan dapat memberikan gambaran tentang pengaruh Jiwa Kewirausahaan dan Motivasi terhadap Pengembangan Karir pada PT TRENI bandung. Serta juga akan mendapatkan gambaran pengaruh langsung atau tidak langsung dari variabel – variabel penelitian yang ditetapkan sebagai berikut :
a. Pengaruh Jiwa Kewirausahaan berfungsi sebagai variable bebas (Independen variabel) kemudian diberi catatan X1.
b. Motivasi berfungsi sebagai variable bebas (Independen variabel) kemudian diberi catatan X2.
c. Pengembangan Karir berfungsi sebagai variable terikat (Dependen variabel) kemudian diberi catatan Y.
Populasi dan Sample
Penelitian yang dilakukan dalam tesis ini adalah penelitian survey, dimana penelitian dilakukan pada populasi, tetapi data yang dipelajari adalah data dari sampel yang diambil dari populasi tersebut.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh distributor aktif PT Veritra Sentosa Internasional / TRENI yang tersebar di kota Bandung baik yang sudah mencapai peringkat Leader maupun yang belum mencapai peringkat Leader.
Populasi Penelitian
No Subyek Jumlah Keterangan
1 Distributor Aktif Perusahaan TRENI
Yang Tersebar di Bandung 256
Jumlah seluruhnya 256
Dalam penelitian kuantitatif selalu terdapat populasi yang akan diteliti, berkenaan dengan hal tersebut, terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi berdasarkan hal diatas yang menjadi populasi adalah keseluruhan atau sejumlah individu yang menjadi subjek penelitian.
Dengan diketahuinya populasi, menurut Iqbal Hasan (2002 : 61), penentuan banyaknya sampel dari populasi yang berdistribusi normal menggunakan rumus SLOVIN:
n =
n = = 72
Keterangan : n = ukuran sampel N= ukuran populasi
e = tingkat kesalahan yang masih bisa ditolerir (10%)
pada penelitian ini, penulis mengambil sampel pada distributor aktif PT TRENI yang tersebar di bandung dengan responden yang diambil sebanyak 72 (tujuh puluh dua) responden yang mewakili, dengan koefisien tingkat kesalahan sebesar 10 % (sepuluh persen).
Operasionalisasi Variabel
Operasionalisasi variabel merupakan proses menyederhanakan data konsep menjadi data yang lebih mudah dibaca. Dalam rangka memudahkan proses analisa data, maka semua variabel penelitian dioperasionalisasikan ke dalam indikator – indikator agar mampu mendeskripsikan kejadian yang dapat diuji kebenarannya sesuai data dilapangan.
Operasionalisasi variabel yang dimaksud dalam penelitian ini meliputi sebagai mana terlihat pada tabel di bawah ini:
Operasionalisasi Variabel Penelitian
VARIABEL DIMENSI INDIKATOR
1 2 3
Jiwa
kewirausahaan (X1)
1. Percaya diri a. Keyakinan b. Kemandirian c. Optimisme 2. Berorientasi
pada tugas dan hasil
d. Kebutuhan berprestasi e. Ketekunan & ketabahan f. Berorientasi pada laba g. Tekad kerja keras h. Memiliki dorongan kuat i. Energik & inisiatif 3. Pengambilan
resiko
j. Memiliki kemampuan mengambil resiko k. Suka tantangan
4. Kepemimpinan l. Bertingkah laku sebagai pemimpin m. Dapat bergaul dengan orang lain n. Menanggapi saran dan kritik
5. K
eorisinalan
o. Kreatif p. Inovatif q. Fleksibel
Sumber : ilustrasi peneliti, 2016 Instrumen Penelitian
Pengumpulan data dapat menggunakan sumber primer, yaitu sumber data yang langsung memberikan data dan sumber sekunder yang merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data, data dapat dilakukan melalui interview (wawancara), kuesioner (angket), observasi (pengamatan) serta gabungan ketiganya (Sugiono,2005:156).
Data yang diperoleh dari penelitian terhadap responden ini akan diukur dengan skala Ordinal (Ridwan, 2004:82) dan skala Likert (Sugiono, 2005:107) selanjutnya hasil angket dihitung untuk pengkategorian data digunakan tabulasi data (Redi Panuju, 2000:45).
Pertanyaan yang diberikan kepada Responden akan dibagi pilihan jawaban yang akan disusun secara bertingkat dengan bobot jawaban dan skor yang berbeda, yang dapat dilihat dalam uraian berikut:
1. Untuk jawaban Sangat Setuju (SS) diberi skor 5
2. Untuk jawaban Setuju (S) diberi skor 4
3. Untuk jawaban Kurang Setuju ( KS) diberi skor 3 4. Untuk jawaban Tidak Setuju (TS) diberi skor 2 5. Untuk jawaban Sangat Tidak Setuju (STS) diberi skor 1
Dalam penelitian ini digunakan dua sumber data yaitu data primer dan data sekunder. Data primer yaitu yang langsung diambil dari sumber penelitian, sedangkan data sekunder adalah data yang diambil dari dokumentasi atau kepustakaan.
ke masa depan
depan
s. Selalu berusaha untuk berkarsa dan berkarya
t. Selalu mencari peluang Motivasi (X2) 1. Kebutuhan
berprestasi
a. Ingin mengatasi sendiri kesulitan yang timbul pada dirinya
b. Memerlukan umpan balik yang segera untuk melihat keberhasilan dan kegagalan
c. Tanggung jawab personal yang tinggi
2. Kebutuhan kekuasaan
d. Senang bersaing
e. Berorientasi pada status f. Ingin mempengaruhi orang lain 3. Kebutuhan
berafiliasi
g. Menyukai persahabatan h. Menyukai kerja sama i. Saling pengertian Pengembanga
n karir (Y)
1. Prestasi kerja a. Peningkatan kesejahteraan b. Pencapaian kualifikasi
2. Exposure c. Kesempatan menjadi terkenal 3. Kesetiaan
organisasional
d. Kesetiaan dan keteguhan dalam menjalankan bisnis
4. Mentor dan sponsor
e. Adanya kerja sama tim 5. Kesempatan
-kesempatan untuk tumbuh
f. Peningkatan pertumbuhan jaringan
6. Dukungan manajemen
g. peningkatan pelatihan dan pengembangan bagi para mitra
Uji Validitas dan Reliabilitas
Untuk mengetahui apakah instrument yang digunakan sudah sesuai dengan apa yang diinginkan maka perlu terlebih dahulu diadakan uji validitas terhadap alat ukur tersebut, oleh karena itu uji validitas dilakukan pada setiap item dalam kuesioner.
r
n
x y
x
y
n
x
x
n
y
y
i i i i n i i n i n i i n i i n i i n i i n
1 1 1 2 1 1 2 2 1 1 2Untuk menguji reliabilitas digunakan rumus alpha;
r11 =
dan uji signifikansi dengan menggunakan uji t, sebagai berikut : t =
asumsi untuk t adalah menyebar mendekati sebaran t student dengan derajat kebebasan (n-2). Kaidah pengujiannya adalah :
jika t< t;/2 ; (n-2), terima Ho jika t> t;/2 ; (n-2), tolak Ho Teknik Analisis Data
Teknik analisis yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif dan teknik analisis inferensial. Teknik analisis deskriptif digunakan untuk mendeskriptisikan variabel Jiwa kewirausahaan (X1), Motivasi (X2), Pengembangan Karir (Y), dengan cara menghitung mean (rata rata) dari masing-masing variabel penelitian.
Kriteria Penafsiran kondisi variabel penelitian
Rata Rata Skor Penafsiran
4,21 – 5,00 Sangat Baik
3,41 – 4,20 Baik
2,61 – 3,40 Cukup Baik
1,81 – 2,60 Tidak Baik
1,00 – 1,80 Sangat Tidak Baik
Teknikanalisis inferensial digunakan untuk analisis sebagai berikut:
a. Teknik analisis korelasi yakni untuk mengetahui derajat keeratan hubungan antar variabel penelitian dengan rumus:
r
n
x y
x
y
n
x
x
n
y
y
i i i i n i i n i n i i n i i n i i n i i n
1 1 1 2 1 1 2 2 1 1 2Dimana : r hitung = Koefisien korelasi x = Variabel Bebas
y = Variabel Terikat n = Jumlah Responden
b. Teknik Analisis Jalur
Untuk menguji atas hipotesis yang diajukan, rancangan uji hipotesisnya melalui analisis jalur ( path analysis) yang dikembangkan oleh Sewal Wright dalam Priadana (2006 : 1).
PYX1
rx1x2
PYX2
Keterangan :
X1 = Jiwa Kewirausahaan (variabel bebas) X2 = Motivasi (variabel bebas)
Y = Pengembangan Karir ( variabel terikat ) PYX1 = Koefisien Jalur X1 terhadap Y
PYX2 = Koefisien Jalur X2 terhadap Y
rx1x2= Korelasi X1 dan X2
PY€ = Variabel yang tidak diukur, tetapi mempengaruhi.
X1
X2
Pengujian Hipotesis
Y: ρYX 1 . X 1 + ρYX 2. X2+ Ɛ
Hipotesis secara keseluruhan
Ho : ρYX 1 = ρYX 2 = 0 Tidak terdapat pengaruh Jiwa Kewirausahaan dan Motivasi
terhadap Pengembangan Karir Pada PT TRENI Bandung.
Ho : ρYX 1 ρYX 2 0 Terdapat pengaruh Jiwa Kewirausahaan dan Motivasi
terhadap Pengembangan Karir pada PT TRENI Bandung.
h ρyxK Kriteria persamaan jika F hitung > F tabel
bila ada koefisien jalur yang tidak signifikan, akan dilakukan perbaikan model dengan melakukan Trimming yakni dengan jalan mendrop variabel eksogen yang koefisien jalurnya tidak signifikan (Sitepu, 1994 : 12).
Hipotesis secara parsial
Ho : ρYX 1 = 0 Y tidak dipengaruhi oleh X1
Hi : ρYX 1 0 Y dipengaruhi oleh X1
Dan
Ho : ρYX 2 = 0 Y tidak dipengaruhi oleh X2
Hi : ρYX 2 0 Y dipengaruhi oleh X2
Kriteria penolakan dan penerimaan hipotesis Ho Tolak Ho jika t hitung > t tabel.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengolahan data serta pembahasan mengenai pengaruh Jiwa Kewirausahaan dan Motivasi terhadap Pengembangan Karir, penulis memperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1. Jiwa Kewirausahaan di PT TRENI Bandung memiliki rata-rata skor yang paling tinggi yaitu sebesar 4,23 sehingga termasuk dalam kategori sangat baik.
2. Gambaran Motivasi di PT TRENI Bandung yang meliputi dimensi kebutuhan berprestasi, kebutuhan Kekuasaan, dan kebutuhan Berafiliasi termasuk dalam kategori baik.
3. Gambaran Pengembangan karir di PT TRENI Bandung yang meliputi dimensi Prestasi, Exposure, kesetiaan organisasional, mentor dan sponsor, kesempatan-kesempatan untuk tumbuh, dan dukungan manajemen memiliki rata-rata skor paling rendah yaitu sebesar 4,03 tetapi termasuk kategori baik.
4. Jiwa Kewirausahaan tidak berpengaruh positifterhadap Pengembangan Karir pada Distributor MLM di PT TRENI Bandung.
5. Motivasi berpengaruh positifterhadap Pengembangan Karir pada Distributor MLM di PT TRENI Bandung.
6. Jiwa kewirausahaan dan Motivasi secara simultan (bersama-sama) berpengaruh positifterhadap Pengembangan Karir pada Distributor MLM di PT TRENI Bandung. 5.2 Saran-Saran
Sesuai dengan pembahasan serta kesimpulan yang diperoleh dalam hasil penelitian ini, penulis memberi saran sebagai berikut :
1. Guna menjaga dan meningkatkan Jiwa Kewirausahaan di PT TRENI Bandung diperlukan adanya langkah-langkah dari perusahaan untuk membina dan menanamkan kepada seluruh mitra/ distributornya untuk selalu memiliki sikap, sebagai berikut:
a. Tekad yang kuat untuk memulai : Ibarat sebuah bangunan gedung yang menjulang tinggi, tekad kuat untuk memulai usaha menjadi pondasi dasar yang perlu
ditanamkan agar bangunan bisa berdiri dengan kokoh. Salah besar jika menganggap modal utama memulai usaha adalah kucuran dana yang berlimpah. Sebab, dengan tekad dan keyakinan yang kuat dalam diri masing-masing, permasalahan modal dana yang terbatas pun akan terpecahkan dengan berbagai solusi yang bisa di dapatkan. Jadi, singkirkan pikiran-pikiran negatif dan manfaatkan sumber daya yang ada dan telah disediakan oleh Perusahaan.
b. Mulailah dari bakat dan minat yang dimiliki : Meskipun mengawali bisnis dari sesuatu yang kecil, namun jika ditekuni dengan sepenuh hati maka tidak menutup kemungkinan bila hobi atau bakat tersebut bisa menghasilkan untung jutaan setiap bulannya.
2. Guna meningkatkan Motivasi para distributor, diperlukan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Melawan rasa takut dan ragu : Rasa takut dan ragu yang berlebihan merupakan penghalang terbesar dalam mewujudkan cita-cita seseorang. Jika hal ini terjadi maka akan mungkin bisa mengikis motivasi yang mungkin sudah dimiliki sebelumnya.Cara yang bisa dilakukan untuk melawan rasa takut tersebut adalah dengan cara melawan rasa takut itu sendiri. Satu misal, jika takut naik kuda maka lawanlah rasa takut tersebut dengan menunggang kuda.
b. Bergaul dengan orang-orang yang memiliki motivasi tinggi : kita harus percaya bahwa orang-orang yang ada di sekitar kita akan memberikan atmosfer yang bisa berpengaruh terhadap diri kita sendiri.
c. Selalu berfikir positif : Jangan pernah takut untuk mengambil tindakan jika menurut kita tindakan tersebut sudah tepat. Setiap keputusan memang memiliki resiko, meskipun demikian dengan selalu berfikir positif maka kita akan lebih percaya diri dalam mengambil keputusan. Dengan selalu berfikir positif, maka akan memberikan motivasi yang besar untuk perjalanan hidup dalam mencapai kesuksesan.
d. Ingat kembali tujuan utama : Ketika sudah mulai down, mengingat kembali tujuan utama yang akan menjadi motivasi yang sangat luar biasa. Poin ini merupakan kiat meningkatkan motivasi diri ketika semangat mulai turun. Dengan mengingat kembali banyak hal yang telah dicita-citakan maka sangat diharapkan bisa mengembalikan semangat dalam berusaha.
3. Level/jenjang karir mayoritas distributor MLM Paytren di PT TRENI masih berada pada posisi yang terbilang rendah, tetapi dari hasil kuesioner menunjukkan mereka memiliki jiwa kewirausahaan yang sangat tinggi. Sebaiknya PT TRENI lebih meningkatkan lagi intensitas dalam hal pelatihan di bidang penjualan dan program pengembangan kepemimpinan. Supaya semangat jiwa kewirausahaan dan motivasi para distributor selalu tinggi.
Selain itu guna meningkatkan Pengembangan Karir pada bisnis MLM di PT TRENI diperlukan langkah-langkah lain dari perusahaan itu sendiri dengan membina dan menanamkan pentingnya terhadap para mitra/distributor untuk menjalankan Support Systemdengan baik dan benar.Adapun Support System / kiat-kiat sukses dalam meraih karir di bisnis MLM sebagai berikut :
a. Impian dan sikap : Impian adalah ibarat sebuah peta dan tanpa sebuah peta tidak pernah akan sampai pada tujuan. Kendati pun akan sampai, maka entah berapa lama akan sampai pada tujuan dan apalagi mengenai waktu bukan? Dalam kata lain, apakah tujuan dalam membangun bisnis ini? Apakah yang ingin di raih, dan untuk siapa?
b. Pelajari : Tahap ini adalah tahap dimana mempelajari segala yang terkait dengan MLM , entah itu jenis, tipe produk sampai sistem yang ada di dalamnya. Para distributor harus mampu Belajar mempelajari seolah dirinya adalah pemilik (Owner) Perusahaan dengan begitu mereka akan dengan serius dan konsisten dalam menerapkan dan mempelajari MLM.
c. Membuat janji : Buatlah daftar janji dengan atau minimal dengan orang terdekat terlebih dahulu, dan sesuaikanlah tempat dengan karakter prospek.
4. Guna meningkatkan pengaruh jiwa kewirausahaan terhadap Pengembangan karir pada PT TRENI adalah perlu ditingkatkan lagi perhatian khusus dari pihak perusahaan kepada para mitra/distributor terutama dalam hal pencapaian karir dibisnis MLM. Dalam penelitian ini jiwa kewirausahaan tidak berpengaruh terhadap pengembangan karir, karena pada bisnis MLM tidak hanya faktor jiwa kewirausahaan saja yang dituntut untuk dimiliki tetapi ada faktor lain juga yang menentukan salah satunya adalah menjalankan Support System bisnis MLM dengan baik dan Benar akan membantu mempercepat kesuksesan dalam pengembangan karir di bisnis MLM. 5. Guna meningkatkan Pengaruh Motivasi terhadap Pengembangan karir adalah perlu
ditingkatkan lagi adanya kegiatan-kegiatan yang akan menunjang keahlian dan peningkatan motivasi para mitra/ distributor MLM apabila sudah ada. Seperti peningkatan volume pelatihan, ini akan menambah wawasan dan tatacara pola pikir distributor akan semakin lebih baik. Sehingga aura pikiran positif selalu akan ada. Untuk meningkatkan pengaruh Jiwa kewirausahaan dan Motivasi terhadap Pengembangan Karir perlu adanya kesinerjian antara faktor-faktor tersebut diatas, jadi untuk meningkatkan pengaruh terhadap pengembangan karir maka jiwa kewirausahaan, motivasi harus diperhatikan dan ditingkatkan secara bersamaan. Tidak bisa membenahi yang satu dulu baru kemudian membenahi yang lain.