G a m b a r 7 .R o a d m a p p e n g e m b a n g a n a g ri b is n is t a n a m a n o b a t K E B IJ A K A N K E B IJ A K A N P E R B A IK A N J A L A N D E S A P E R B A IK A N T A T A A IR P E R B A IK A N J A L A N D E S A P E R B A IK A N T A T A A IR KE GIA TA N P OK OK KE GIA TA N P EN DU KU NG KE GIA TA N P EN DU KU NG P E M B E R D A Y A A N P E T A N I D A N K E L E M B A G A A N P E N G E M B A N G A N IN D U S T R I P E N G O L A H A N O P T IM A L IS A S I 1 ) O N F A R M IN F R A S T R U K T U R IN F R A S T R U K T U R P E N IN G K A T A N P O S IS I T A W A R P E T A N I T E R H A D A P M IT R A U S A H A P E N G E M B A N G A N P E N G E L O L A A N U S A H A P E N IN G K A T A N A K S E S T E K N O L O G II , IN F O R M A S I, P E M B IA Y A A N D A N P A S A R P E R K R E D IT A N P E R M O D A L A N F IS K A L D A N P E R D A G A N G A N K E T E R S E D IA A N T E K N O L O G I P E R K R E D IT A N P E R M O D A L A N F IS K A L D A N P E R D A G A N G A N K E T E R S E D IA A N T E K N O L O G I S IM P L IS IA 7 4 0 U N IT E K S T R A K 3 6 0 U N IT P R O D U K J A D I 7 9 U N IT S IM P L IS IA 7 7 0 U N IT S IM P L IS IA 7 9 0 U N IT S IM P L IS IA 8 1 0 U N IT S IM P L IS IA 8 3 0 U N IT E K S T R A K 3 6 5 U N IT E K S T R A K 3 8 0 U N IT E K S T R A K 3 9 0 U N IT E K S T R A K 4 0 0 U N IT P R O D U K J A D I 8 1 U N IT P R O D U K J A D I 8 3 U N IT P R O D U K J A D I 8 5 U N IT P R O D U K J A D I 8 7 U N IT 2 0 0 6 2 0 0 7 2 0 0 8 2 0 0 9 2 0 1 0 A R E A L P A N E N ( 1 2 .5 7 5 h a ) s In te n s if ik a s i (5 7 8 5 h a ) s N o n I n te n s if ik a s i (6 7 9 0 h a ) A R E A L P A N E N ( 1 2 .8 7 5 h a ) s In te n s if ik a s i (7 7 2 5 h a ) s N o n I n te n s if ik a s i (5 1 5 0 h a ) A R E A L P A N E N ( 1 3 .9 1 7 h a ) s In te n s if ik a s i (9 9 0 0 h a ) s N o n I n te n s if ik a s i (3 2 9 7 h a ) A R E A L P A N E N ( 1 2 .0 1 0 h a ) sI n te n s if ik a s i (3 0 0 0 h a ) sN o n i n te n s if ik a s i (9 0 1 0 h a ) A R E A L P A N E N ( 1 2 .2 8 6 h a ) sI n te n s if ik a s i (4 9 0 0 h a ) sN o n i n te n s if ik a s i (7 3 8 6 h a ) C. Program
Berdasarkan klaim khasiat, jumlah serapan oleh industri obat tradisional, jumlah petani dan te-naga yang terlibat, prospek pe-ngembangan dan trend investasi ke depan, maka disarankan untuk dipilih lima komoditas tanaman obat potensial yaitu temulawak, kunyit, kencur, jahe dan pur-woceng. Program yang dibutuh-kan untuk pengembangan tanaman obat unggulan tersebut adalah:
1. Penetapan wilayah pengembangan tanaman obat unggulan berdasarkan potensi, kesesuaian lahan dan agroklimat, sumberdaya manusia dan potensi serapan pasar.
2. Peningkatan produksi, mutu dan daya saing komoditas tanaman obat unggulan melalui: (a) peningkatan produtivitas dan mutu dengan penerapan praktek pertanian yang baik sesuai GAP (Good Agricultural Practices) yang didasarkan atas SOP (Standard Operational Procedures) untuk masing-masing komoditas, (b) Panen dan pengolahan produk sesuai dengan GMP (Good Manufacturing Practices).
3. Peningkatan produksi produk turunan dari tanaman obat unggulan serta bentuk industri pengolahannya yang dapat memacu ekonomi rakyat dan pedesaan.
4. Peningkatan kompetensi sumberdaya manusia melalui: (a) pelaksanaan pendidikan dan pelatihan untuk menyediakan SDM yang kompeten baik dalam penyediaan bahan baku obat bahan alam dari hulu sampai hilir, juga yang akan terlibat di dalam sistem pelayanan kesehatan berbasis obat bahan alam, (b) demplot teknologi produksi bahan tanaman.
5. Pengembangan infrastruktur dan kelembagaan melalui: (a) pembangunan sarana dan prasarana penunjang transportasi, telekomunikasi ke daerah sentra produksi tanaman obat, (b)
pengembangan kemitraan antara petani dengan industri dan pemerintah.
6. Peningkatan pelayanan informasi, promosi dan pemasaran melalui: (a) pengembangan website, publikasi di media masa dan forum-forum terkait, (b) pembentukan jejaring kerja dan sistem informasi pasar.
7. Penyusunan kebijakan perpajakan dan insentif investasi yang kondusif di sub sistem hulu sampai hilir dalam agribisnis dan agroindustri berbasis tanaman obat melalui: (a) deregulasi peraturan yang tidak sesuai, (b) menciptakan lingkungan usaha agribisnis dan agroindustri yang kondusif.
8. Pembentukan data base tanaman obat yang valid, meliputi jenis tanaman, luas areal, produksi, jumlah petani yang terlibat, serapan, jumlah industri yang terlibat, ekspor, impor, yang akan digunakan sebagai acuan di dalam perencanaan program nasional pengembangan tanaman obat.
VI. KEBUTUHAN INVESTASI
Efek pengganda dari kontribusi pembangunan pertanian terhadap pembangunan ekonomi secara keseluruhan, salah satu di antaranya adalah yang berkaitan dengan investasi. Efek ganda investasi relatif besar sehingga sektor pertanian layak dijadikan sektor andalan. Salah satu di antara komoditas tanaman yang mendukung investasi sektor pertanian adalah tanaman obat termasuk rimpang dan herbal. Selain mendukung kontribusi pembangunan pertanian juga menunjang devisa, kesempatan kerja dan penanggulangan kemiskinan, juga mendorong masyarakat hidup sehat dengan semakin tingginya kesadaran untuk mengkonsumsi obat berbahan baku alami. Kecenderungan animo masyarakat terhadap permintaan tanaman obat termasuk rimpang dan herbal, akan memicu peningkatan produksi dan mutu produk, baik itu dalam bentuk segar maupun kering atau ekstrak. Oleh karena itu untuk menjaga keseimbangan dan keberlanjutannya hingga jangka menengah (5 tahun) diperlukan upaya penambahan investasi baik dari sisi hulu maupun hilir yang termasuk dalam komponen agribisnis.
A. Usaha Pertanian Primer
Jumlah IOT/IKOT di Indonesia pada tahun 2003 mencapai 1.023. Dengan asumsi laju pertumbuhan IOT 6,4% per tahun dan IKOT 1,8% per tahun, maka pada tahun 2005-2010 diperkirakan kebutuhan bahan baku terus meningkat untuk masing-masing komoditas. Untuk mendukung kebutuhan pasokan bahan baku industri obat (IOT/IKOT/farmasi) pada tahun 2005-2010, dibutuhkan pengembangan usaha pertanian primer dari tanaman temulawak, kunyit, kencur, jahe dan purwoceng yang mengacu kepada GAP dengan menerapkan SPO budidaya yang dibakukan. Profil usaha pertanian primer untuk temulawak, kunyit, kencur, jahe dan purwoceng seperti pada Tabel 9.
Investasi yang diperlukan untuk pengembangan luas areal untuk pengadaan bahan baku temulawak, kunyit, kencur, jahe dan purwoceng pada tahun 2005-2010, seperti tercantum pada Tabel 10.
Tabel 9. Input dan output usaha pertanian primer untuk varietas unggul jahe putih
Komoditas Uraian Jml Biaya
(Rp.) Jahe Putih
Besar
Tenaga Kerja 16.436.000
Penyediaan Benih (2 ton x Rp. 4 500, -/kg) 9.000.000
Sarana Produksi (Pupuk kandang, Pupuk buatan, Kaptan, Pestisida, Bahan Pembantu)
5.695.000 Total Biaya 31.131.000 Penerimanaan usahatani -(20 ton x Rp. 4.500 ,/kg) 90 000 000 Pendapatan usahatani 58.869.000 B/C rasio 2,89
Kencur Tenaga Kerja
7.950.000
Penyediaan Benih (2 ton x Rp. 7000, -/kg) 14.000.000
Sarana Produksi (Pupuk kandang, Pupuk buatan, Pestisida, Bahan Pembantu)
4.450.000
Total Biaya 26.400.000
Penerimaan usahatani (16ton x Rp.7.000 /kg) 112.000.000
Pendapatan usahatani 85.600.000
B/C rasio 4,24
Kunyit Tenaga Kerja
9.950.000
Penyediaan Benih (2 ton x Rp. 3000, -/kg) 6.000.000
Sarana Produksi (Pupuk kandang, Pupuk
buatan, Pestisida, B ahan Pembantu)
6.312.500
Total Biaya 22.262.500
Penerimaan usahatani (20ton xRp. 3.000 /kg) 60.000.000
Pendapatan usahatani 37.737.500
B/C rasio 2,70
Temulawak Tenaga Kerja 9.950.000
Penyediaan Benih (2 ton x Rp. 3.500, -/kg) 7.000.000
Sarana Produksi (Pupuk kandang, Pupuk buatan, Pestisida, Bahan Pembantu)
4.000.000
Total Biaya 20.950.000
Penerimaan usahatani (20tonxRp. 3.500 /kg) 70.000.000
Pendapatan usahatani 49.050.000
B/C rasio 3,34
Purwoceng Tenaga Kerja 6.000.000
Penyediaan Benih (80 000 tanamn x Rp. 500, /polibag)
40.000.000 Sarana Produksi (Pupuk kandang, Pupuk
buatan, Kaptan, Pestisida, Bahan Pembantu)
48.000.000
Total Biaya 94.000.000
Penerimaan usahatani (5,8 ton x Rp. 50
000,-/kg)
290 000 000
Pendapatan usahatani 196.000.000
B/C rasio 3,09
Keterangan: Hasil penjualan benih merupakan 80% dari hasil panen, 20 % sebagai penyusutan di gudang.
besar, kencur, kunyit, temulawak dan purwoceng per hektar per tahun
Ta b e l 1 0 . P e rk ir a a n k e b u tu h a n i n v e st a si u n tu k p e n g e m b a n g a n u sa h a p e rt a n ia n p ri m e r te m u la w a k , k u n y it ,k e n cu r, j a h e ( ri m p a n g ) d a n p u rw o ce n g ( h e rb a ) p a d a t a h u n 2 0 0 5 -2 0 1 0 K e te ra n g a n : a n g k a d id a la m k u ru n g m e n u n ju k k a n l u a s l a h a n ( h a ) 2 0 0 5 2 0 0 6 2 0 0 7 2 0 0 8 2 0 0 9 2 0 1 0 K o m o -d it a s V o lu m e (t o n ) In v e st a si (R P. M ily a r) V o lu m e (t o n ) In v e st a si (R P. M ily a r) V o lu m e (t o n ) V o lu m e (t o n ) In v e st a si (R P. M ily a r) Te m u -la w a k 1 2 .4 0 0 2 3 ,4 6 6 (1 .1 1 3 ) 1 2 .7 0 0 2 4 ,1 2 7 (1 .1 9 0 ) 1 3 .0 2 0 7 3 0 1 4 .0 2 0 2 6 ,6 3 1 (1 .2 7 6 ) K u n y it 1 3 .6 5 0 2 5 ,8 7 0 (1 .3 6 0 ) 1 3 .9 9 0 2 6 ,5 1 6 (1 .3 9 0 ) 1 4 .3 3 0 1 5 .4 2 6 2 9 ,2 6 9 (1 .5 2 7 ) K e n cu r 2 3 .2 7 0 6 5 ,9 0 2 (2 .9 0 0 ) 2 3 .8 5 0 6 7 , 4 9 3 (2 .9 7 0 ) 2 4 .4 3 0 1 6 .2 9 0 7 4 ,3 1 0 (3 .2 7 0 ) Ja h e 5 6 .5 8 0 1 3 0 ,8 3 2 (6 .3 0 0 ) 5 8 .0 8 0 1 3 4 ,1 5 4 (6 .4 6 0 ) 5 9 .4 0 0 6 3 .9 6 7 1 4 7 ,9 4 4 (7 .1 2 4 ) P u rw o ce n g 7 1 5 1 2 ,2 6 2 (1 3 0 ) 7 4 5 1 2 ,7 3 3 (1 3 5 ) 7 6 0 V o lu m e (t o n ) 1 3 .3 4 5 1 4 .6 8 0 2 5 .0 4 0 6 0 .8 8 5 8 0 0 V o lu m e (t o n ) 1 3 .6 8 0 1 5 .0 5 0 2 5 .6 5 0 6 2 .4 0 7 8 2 5 8 5 0 1 4 ,3 6 9 (1 5 4 ) JU M L A H -1 9 8 ,3 0 8 -2 5 3 ,1 2 3 -In v e st a si (R P. M ily a r) 2 4 , (1 .1 9 8 ) 2 7 ,1 7 9 (1 .4 2 8 ) 6 9 ,1 9 7 (3 .0 4 5 ) 1 3 7 ,3 7 3 (6 .6 1 5 ) 1 3 ,2 0 5 (1 4 0 ) 2 7 1 ,6 8 4 -In v e st a s i (R P. M ily a r) / 2 5 ,3 4 8 (1 .2 1 5 ) 2 7 ,8 5 9 (1 .4 6 0 ) 7 0 ,9 0 2 (3 .1 2 0 ) 1 4 0 ,8 0 0 (6 .7 8 0 ) 1 3 ,6 7 7 (1 4 5 ) 2 7 8 ,5 8 6 -In v e st a s i (R P. M ily a r) / 2 5 ,9 8 2 (1 .2 4 5 ) 2 8 ,5 5 5 (1 .4 9 0 ) 7 2 ,4 9 2 (3 .1 9 0 ) 1 4 4 ,3 8 0 (6 .9 5 0 ) 1 4 ,0 1 8 (1 5 0 ) 2 8 5 ,4 2 7 - 2 9 2 ,5 2 3
B. Usaha Agribisnis Hulu
Untuk mendukung kebutuhan pasokan bahan baku industri pada tahun 2005-2010, dibutuhkan pengembangan usaha pertanian dari tanaman temulawak, kunyit, kencur, jahe dan purwoceng yang mengacu kepada GAP dengan menerapkan SPO budidaya yang dibakukan. Salah satu komponen budidaya yang penting di dalam agribisnis hulu adalah penyediaan benih bermutu. Untuk memenuhi kebutuhan benih kelima komoditas tanaman obat unggulan tersebut dibutuhkan investasi berupa benih yang berasal dari varietas unggul dan lahan untuk produksi benih. Profil investasi agribisnis hulu dalam pengadaan benih temulawak, kunyit, kencur, jahe dan purwoceng seperti pada Tabel 11.
C. Usaha Agribisnis Hilir
Temulawak, kunyit, kencur dan jahe sebagian besar hasilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku bagi industri jamu, farmasi ataupun industri kosmetika bersama komoditas lainnya. Meningkatnya kebutuhan bahan baku, sebagai akibat peningkatan jumlah industri.
Tanaman obat dicirikan oleh produk turunan yang beragam dan nilai tambah yang tinggi. Seperti ditunjukkan pada Gambar 5 dan 6 (pohon industri), bahwa produk tanaman temulawak, kunyit, kencur dan jahe adalah produk setengah jadi (simplisia, pati, minyak, ekstrak), produk jadi (makanan/minuman, kosmetika, sirup, instan, bedak, tablet dan kapsul). Sedangkan untuk purwoceng, produk setengah jadi berupa simplisia dan ekstrak, produk jadi dalam bentuk jamu seduh, minuman kesehatan (IKOT/IOT), pil atau tablet/kapsul (farmasi).
Kebutuhan bahan baku (produk primer) adalah kebutuhan turunan dari produk-produk tanaman-tanaman obat tersebut. Atas dasar produk-produk turunan yang ada saat ini (2003) dengan asumsi laju pertambahan kebutuhan obat tersebut sesuai dengan laju pertumbuhan penduduk (2,5%/tahun) dapat dihitung jumlah produksi/serapan produk turunan tanaman.
T a b e l 1 1 . P e rk ir a a n k e b u tu h a n i n v e s ta s i u n tu k p e n g e m b a n g a n u s a h a a g ri b is n is h u lu (p e n g a d a a n b e n ih )t e m u la w a k , k u n y it , k e n c u r, j a h e d a n p u rw o c e n g p a d a t a h u n 2 0 0 5 -2 0 1 0 K e te ra n g a n : * ju ta 2 0 0 5 2 0 0 6 2 0 0 7 2 0 0 8 2 0 0 9 2 0 1 0 K o m o d it a s V o lu m e (t o n ) In v e st a si (R P. M ily a r) / L u a s ( h a ) V o lu m e (t o n ) In v e st a si (R P. M ily a r) / L u as ( h a ) V o lu m e (t o n ) In v e st a si (R P. M ily a r) / L u a s ( h a ) In v e st a si (R P. M ily a r) / L u a s ( h a ) In v e st a si (R P. M ily a r) / L u a s ( h a ) V o lu m e (t o n ) In v e st a si (R P. M ily a r) / L u a s ( h a ) Te m u la w a k 3 .3 9 0 4 ,8 6 6 (2 4 0 ,0 0 ) 3 .5 7 0 5 ,1 7 0 (2 5 5 ,0 0 ) 3 .5 9 4 5 ,2 7 1 (2 6 0 ,0 0 ) 3 .6 4 5 5 ,3 9 3 (2 6 6 ,0 0 ) 3 .7 3 5 5 ,5 3 5 (2 7 3 ,0 0 ) 3 .8 2 8 5 ,6 7 7 (2 8 0 ,0 0 ) K u n y it 4 .0 8 0 5 ,3 9 0 (2 9 0 ,0 0 ) 4 .1 7 0 5 ,5 5 6 (3 0 0 ,0 0 ) 4 .2 8 4 5 ,7 6 2 (3 1 0 ,0 0 ) 4 .3 8 0 5 ,9 1 0 (3 1 8 ,0 0 ) 4 .4 7 0 6 ,0 5 9 (3 2 6 ,0 0 ) 4 .5 8 0 6 ,2 0 8 (3 3 4 ,0 0 ) K e n cu r 5.8 0 0 1 3 ,1 8 0 (5 8 0 ,0 0 ) 5 .9 4 0 1 3 ,4 9 8 (5 94 ,0 0 ) 6 .0 9 0 1 3 ,8 3 9 (6 0 9 ,0 0 ) 6 .2 4 0 1 4 ,1 8 0 (6 2 4 ,0 0 ) 6 .3 8 0 1 4 ,5 4 4 (6 4 0 ,0 0 ) 6 .5 4 0 1 4 ,9 0 7 (6 5 6 ,0 0 ) Ja h e 1 8 .9 0 0 2 8 ,0 4 5 (1 .3 5 0 ,0 0 ) 1 9 .3 8 0 2 8 ,6 5 8 (1 .3 8 0 ,0 0 ) 1 9 .8 4 5 2 9 ,3 8 5 (1 .4 2 5 ,0 0 ) 2 0 .3 4 0 2 9 ,3 9 8 (1 .4 5 0 ,0 0 ) 2 0 .8 5 0 3 0 ,8 5 9 (1 .4 8 6 ,0 0 ) 2 1 ,3 7 2 3 1 ,6 2 8 (1 .5 2 3 ,0 0 ) P u rw o ce n g * 1 0 0 ,1 4 1 (1 ,5 0 ) 1 1 0 ,1 4 6 (1 ,5 5 ) 1 1 0 ,1 5 0 (1 ,6 0 ) 1 2 0 ,1 5 5 (1 ,6 5 ) 1 2 0 ,1 6 0 (1 ,7 0 ) 1 2 0 ,1 5 ( 1 ,7 5 ) JU M L A H -5 1 ,6 2 2 -5 3 ,0 2 8 -5 4 ,4 1 1 -5 5 ,0 3 6 -5 7 ,1 5 7 - 5 8 ,0 9 4 V o lu m e (t o n ) V o lu m e (t o n )
tersebut mulai dari usaha simplisia, ekstrak sampai produk jadi dari tahun 2005 sampai 2010 seperti pada Tabel 12-14.
Untuk meningkatkan nilai tambah dari temulawak, kunyit, kencur, jahe dan purwoceng, pengembangan usaha hilir berpeluang untuk dilakukan. Usaha tersebut mencakup industri pengolahan simplisia, ekstrak dan produk jadi. Nilai investasi agribisnis hilir (pembuatan simplisia) tahun 2005-2010 untuk temulawak mencapai Rp. 178,92 milyar, kunyit Rp. 151,098 milyar, kencur Rp. 721,975 milyar, jahe Rp. 1.119 milyar dan purwoceng Rp. 35,366 milyar (Tabel 12). Sedangkan nilai investasi untuk produksi ekstrak temulawak mencapai Rp. 345,857 milyar, kunyit Rp. 448,436 milyar, kencur Rp. 1.364,72 milyar, jahe Rp. 10.091,18 milyar serta purwoceng Rp. 194,277 milyar (Tabel 13). Nilai investasi produk turunan temulawak tahun 2005-2010, mencapai Rp. 380,902 milyar, kunyit Rp. 657,282 milyar, kencur Rp. 2.791,11 milyar, jahe Rp. 913,868 milyar dan purwoceng Rp. 108,532milyar (Tabel 14).
D. Investasi Pemerintah
Untuk mendukung agribisnis dan agroindustri komoditas tanaman obat unggulan (temulawak, kunyit, kencur, jahe dan purwoceng), diperlukan dukungan investasi yang memadai dari pemerintah diantaranya melalui dukungan kegiatan penelitian dan pengembangan, pendididikan dan latihan. Penelitian dan pengembangan meliputi semua segmen dalam sistem agribisnis yang mencakup usaha hulu, primer, pengolahan (pasca panen) dan pemasaran. Demikian pula untuk pendidikan dan pelatihan untuk instansi terkait dan petani mencakup semua segmen sistem agribisnis. Perkiran investasi yang dibutuhkan untuk kegiatan penelitian dan pengembangan berbahan baku lima tanaman obat unggulan (temulawak, kunyit, kencur, jahe dan purwoceng) diuraikan seperti pada Tabel 15. T a b e l 1 2 . K e b u tu h a n i n v e s ta s i u s a h a a g ri b is n is h il ir ( p ro d u k s i s im p li s ia ) te m u la w a k , k u n y it , k e n c u r, j a h e d a n p u rw o c e n g t a h u n 2 0 0 5 -2 0 1 0 . K e b u tu h a n I n v e s ta s i p e r T a h u n 2 0 0 5 2 0 0 6 2 0 0 7 2 0 0 8 2 0 0 9 2 0 1 0 K o m o d it a s V o lu m e (t ) N ila i (R p . M ily a r) V o lu m e (t ) N ila i (R p . M ily a r) V o lu m e (t ) N ila i (R p . M ily a r) V o lu m e (t ) N ila i (R p . M il y a r) V o lu m e (t ) N ila i (R p . M ily a r) V o lu m e (t ) N ila i (R p . M ily a r) Te m u la w a k 2 .5 0 5 ,6 0 2 8 ,0 0 0 2 .5 6 8 ,2 4 2 8 ,7 0 0 2 .6 3 2 ,5 0 2 9 ,4 1 8 2 .6 9 8 ,3 0 3 0 ,1 5 3 2 .7 6 5 ,7 6 3 0 ,9 3 8 2 .8 3 4 ,9 0 3 1 ,7 1 1 K u n y it 2 .7 3 4 ,6 0 2 3 ,6 5 4 2 .8 0 2 ,9 6 2 4 ,2 4 6 2 .8 7 3 ,0 4 2 4 ,8 5 2 2 .9 4 4 ,8 7 2 5 ,4 7 3 3 .0 1 8 ,5 0 2 6 ,1 1 0 3 .0 9 4 ,0 0 2 6 ,7 6 3 K e n cu r 4 .6 5 4 ,5 8 1 3 4 ,4 5 9 4 .7 7 0 ,9 0 1 3 7 ,8 2 1 4 .8 9 0 ,1 7 1 4 1 ,2 6 6 5 .0 1 2 ,4 2 1 4 4 ,7 9 8 5 .1 3 7 ,7 3 1 4 8 ,4 1 8 5 .2 6 6 ,1 7 1 5 2 ,1 2 8 Ja h e 1 0 .7 5 9 ,6 7 1 7 5 ,1 9 7 1 1 .0 2 8 ,6 6 1 7 9 ,5 7 7 1 1 .3 0 4 ,3 8 1 8 4 ,0 6 7 1 1 .5 8 7 ,0 0 1 8 8 ,6 6 8 1 1 .8 7 6 ,6 7 1 9 3 ,3 8 5 1 2 .1 7 3 ,5 9 1 9 8 ,2 2 0 P u rw o ce n g 4 2 ,4 9 5 ,5 3 7 4 3 ,5 5 5 ,6 75 4 4 ,6 4 5 ,8 1 7 4 5 ,7 6 5 ,9 6 2 4 6 ,9 0 6 ,1 1 1 4 8 ,0 7 6 ,2 6 4 JU M L A H 3 6 6 ,8 4 7 -3 7 6 ,0 1 9 -3 8 5 ,4 2 0 -3 9 5 ,0 5 4 4 0 4 ,9 6 2 -4 1 5 ,0 8 6
Ta b e l 1 3 . K e b u tu h a n i n v e st a si u sa h a a g ri b is n is h ili r (p e m b u a ta n e k st ra k ) te m u la w a k , k u n y it , k e n cu r, j a h e d a n p u rw o ce n g ta h u n 2 0 0 5 -2 0 1 0 . K e b u tu h a n I n v e s ta s i p e r T a h u n 2 0 0 5 2 0 0 6 2 0 0 7 2 0 0 8 2 0 0 9 2 0 1 0 K o m o d it a s V o lu m e p ro d u k ja d i (0 0 0 u n it ) N ila i (R p . M ily a r) V o lu m e p ro d u k ja d i (0 0 0 u n it ) N ila i (R p . M ily a r) V o lu m e p ro d u k ja d i (0 0 0 u n it ) V o lu m e p ro d u k ja d i (0 0 0 u n it ) N ila i (R p. M ily a r) V o lu m e p ro d u k ja d i (0 0 0 u n it ) V o lu m e p ro d u k ja d i (0 0 0 u n it ) N ila i (R p . M ily a r) Te m u la w a k (h e p a to p ro te k to r R p . 1 2 0 ,-/t a b) 6 0 3 .8 8 2 7 2 ,4 6 5 6 1 8 .9 7 6 7 4 ,2 7 7 6 3 4 .4 5 3 7 6 ,1 3 4 6 3 0 .3 1 4 7 8 ,0 3 7 6 6 6 .5 7 2 7 9 ,9 8 8 6 8 3 .2 3 8 1 ,9 8 8 K u n y it ( V it p lu s R p . 1 3 5 ,-/c a p ) 7 6 2 .1 9 5 1 0 2 ,8 9 6 7 8 1 .2 5 0 1 0 5 ,4 6 8 8 0 0 .7 8 1 1 0 8 ,1 0 5 8 2 0 .8 0 1 1 1 0 ,8 0 8 8 4 1 .3 21 1 1 3 ,5 7 8 8 6 2 .3 5 1 1 6 ,4 2 7 K e n cu r (B e ra s k e n cu r R p . 1 .5 5 0 ,-/b o to l) 2 8 2 .0 0 3 4 3 7 ,1 0 5 2 8 9 .0 5 3 4 4 8 ,0 3 2 2 9 6 .2 8 0 4 5 9 ,2 3 3 3 0 3 .6 8 7 4 7 0 ,7 1 4 3 1 1 .1 7 9 4 8 2 ,4 8 2 3 1 9 .0 6 4 9 4 ,5 4 4 Ja h e (S ir u p in st a n R p . 4 7 5 , -/s a ch e t) 5 7 2 .2 5 0 1 4 3 ,0 6 2 5 8 6 .5 5 6 1 4 6 .6 3 9 6 0 1 .2 2 0 1 5 0 .3 0 5 6 1 6 .2 5 1 1 5 4 .0 6 2 6 9 1 .6 6 0 1 5 7 .9 1 0 6 4 7 .4 4 8 1 6 1 .8 9 0 P u rw o ce n g ( O b a t k u a t R p . 2 .0 0 0 /t e a b a g ) 8 .4 9 6 1 6 ,9 9 2 8 .7 0 8 1 7 ,4 2 0 8 .9 2 6 1 7 ,8 5 9 .1 4 9 1 8 ,3 0 0 9 .3 7 8 1 8 ,7 5 9 .6 1 2 1 9 ,2 2 0 JU M L A H -7 7 2 ,2 5 2 -7 9 1 ,8 3 6 -8 1 1 ,6 2 7 -8 3 1 ,9 2 1 -8 5 2 ,7 0 8 8 7 4 ,0 6 9 N ila i (R p . M ily a r) N ila i (R p. M ily a r) Ta b e l 1 4 . K e b u tu h a n i n v e st a si a g ri b is n is h ili r (p ro d u k t u ru n a n ) te m u la w a k , k u n y it , k e n cu r, j a h e d a n p u rw o ce n g ta h u n 2 0 0 5 -2 0 1 0 . N ila i 8 2 3 5 8 9 7 8 .0 4 6 5 5 8 3 -K e b u tu h a n I n v e s ta s i p e r T a h u n 1 .1 4 1 7 .6 5 1 8 .0 9 3 2 , 2 0 0 5 V o lu m e (k g ) N ila i (R p . M ily a r) 5 0 1 .1 1 7 5 4 ,1 4 4 5 4 7 .2 6 0 7 0 ,2 0 3 9 3 0 .9 1 5 2 1 3 ,5 9 5 1 .1 1 4 .6 5 5 1 .4 0 0 ,9 1 1 1 7 .2 2 0 3 0 ,4 1 4 1 .7 1 8 ,4 6 6 2 0 0 6 V o lu m e (k g ) 5 1 3 .6 4 5 5 6 0 .9 4 9 5 4 .1 8 3 1 -N ila i (R p . M ily a r) 5 5 ,4 9 7 7 1 ,9 5 8 2 1 8 ,9 3 5 1 .4 3 5 ,9 3 4 3 1 ,1 7 4 1 .8 1 2 ,5 2 6 V o lu m e (k g ) 5 2 6 .4 8 6 5 7 4 .9 6 5 3 1 .1 7 6 .0 8 6 2 -2 0 0 7 Nila i (R p . M ily a r) 5 6 ,8 8 5 7 3 ,7 5 7 2 2 4 ,4 8 8 1 .4 7 1 ,8 3 3 3 1 ,9 5 4 1 .8 3 8 ,9 1 7 V o lu m e (k g ) 5 3 9 .6 4 8 5 8 9 .3 3 9 1 .0 0 2 .4 9 3 1 .2 0 0 .3 6 5 1 8 .5 4 4 -2 0 0 8 Nila i (R p . M ily a r) 5 8 ,3 0 7 7 5 ,6 0 0 2 3 0 ,1 0 0 1 .5 0 8 ,6 2 8 7 5 3 1 .9 0 4 ,7 6 5 2 0 0 9 V o lu m e (k g ) 5 5 3 .1 3 9 6 0 4 .0 7 1 .0 2 7 .5 5 1 .2 3 0 .3 7 7 1 9 .0 0 -N ila i (R p . M ily a r) 5 9 ,7 6 5 7 7 ,4 9 0 2 3 5 ,8 5 3 1 .5 4 6 ,3 4 4 3 3 ,5 7 1 1 .9 5 3 ,0 0 8 2 0 1 0 V o lu m e (k g ) 5 6 6 .9 6 6 1 9 .1 7 1 .0 5 3 .2 4 1 .2 6 1 .1 6 1 9 .4 8 -(R p . M ily a r) 6 1 ,2 5 9 7 9 ,4 2 8 2 4 1 ,7 4 9 1 .5 8 5 ,0 0 3 3 4 ,4 1 1 2 .0 0 1 ,8 8 1 K o m o d it a s Te m u la w a k K u n y it K e n cu r Ja h e P u rw o ce n g JU M L A H
Tabel 15. Perkiraan investasi penelitian dan pengembangan, pendidikan serta pelatihan tanaman obat unggulan
Keterangan : * Penelitian dan pengembangan bibit, budidaya, pengolahan dan pemasaran. Kebutuhan investasi* (Rp. juta )
Komoditas 2005 2006 2007 2008 2009 2010 Temulawak 900 1.000 1.100 1.210 1.331 1.464 Kunyit 900 1.000 1.100 1.210 1.331 1.464 Kencur 900 1.000 1.100 1.210 1.331 1.464 Jahe 1.800 2.000 2.200 2.420 2.662 2.928 Purwoceng 900 1.000 1.100 1.210 1.331 1.464 Jumlah 5.400 6.000 6.600 7.260 7.986 78.784 E. Infrastruktur
Sentra produksi tanaman obat (temulawak, kunyit, kencur, jahe dan purwoceng) umumnya terdapat di pedesaan. Sebagian besar tanaman obat dibudidayakan sebagai tanaman sela dan tanaman pekarangan, maka infrastrukturnya sudah menyatu dengan infrastruktur desa. Sehingga infrastruktur untuk usaha tanaman obat dan produk turunannya tidak dibuat secara eksplisit.
Untuk melihat kontribusi tanaman obat terhadap perekonomian nasional dengan tolok ukur nilai investasi, maka sampai tahun 2010, terbuka peluang investasi sebesar Rp. 21,745 triliun rupiah (Tabel 16). Atas dasar efek ganda yang ditimbulkan oleh investasi akan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, disamping dampak penyerapan tenaga kerja di hulu dan di hilir serta sumbangannya kepada perbaikan kesehatan masyarakat.
Ta b e l 1 6 . R e k a p it u la si k e b u tu h a n i n v e st a si t e m u la w a k , k u n y it , k e n cu r, j a h e d a n p u rw o ce n g 2 0 0 5 -2 0 1 0 I n v e s ta s i/ T a h u n ( R p . M il y a r ) K o m o d it a s / J e n is I n v e s ta s i 2 0 0 5 2 0 0 6 2 0 0 7 2 0 0 8 2 0 0 9 2 0 1 0 T o ta l T e m u la w a k A g ri b is n is H u lu 2 3 ,4 6 6 2 4 ,1 2 7 2 4 ,7 3 0 2 5 ,3 4 8 2 5 ,9 8 2 2 6 ,6 3 1 1 5 0 ,2 8 4 P e rt a n ia n P ri m e r 4 8 ,6 6 0 5 1 ,7 0 0 5 2 ,7 10 5 3 ,9 3 0 5 3 ,3 5 0 5 6 ,7 7 0 3 1 7 ,1 2 0 A g ri b is n is H ili r 1 8 5 ,8 4 0 1 8 9 ,6 6 5 1 9 4 ,4 0 8 1 9 4 ,4 7 0 2 0 4 ,2 8 1 2 0 9 ,3 9 7 1 .1 7 8 ,0 6 1 P e m e ri n ta h 0 ,9 0 0 1 ,0 0 0 1 ,1 0 0 1 ,2 1 0 1 ,3 3 1 1 ,4 6 4 7 ,0 0 5 S u b to ta l 2 5 8 ,8 6 6 2 6 6 ,4 9 2 2 7 2 ,9 4 8 2 7 4 ,9 5 8 2 8 4 ,9 4 4 2 9 4 ,2 6 2 1 6 5 2 ,4 7 0 K u n y it A g ri b is n is H u lu 5 ,3 9 0 5 ,5 5 6 5 ,7 6 2 5 ,9 1 0 6 ,0 5 9 6 ,2 0 8 3 4 ,8 8 5 P e rt a n ia n P ri m e r 2 5 ,8 7 0 2 6 ,5 1 6 2 7 ,1 7 9 2 7 ,8 5 9 2 8 ,5 5 5 2 9 ,2 6 9 1 6 5 ,2 4 8 A g ri b is n is H ili r 1 0 6 ,7 5 3 2 0 1 ,6 6 2 2 0 6 ,7 1 4 2 1 1 ,8 8 1 2 1 7 ,1 7 8 2 2 2 ,6 1 8 1 .1 6 6 ,8 0 6 P e m e ri n ta h 0 ,9 0 0 1 ,0 0 0 1 ,1 0 0 1 ,2 1 0 1 ,3 3 1 1 ,4 6 4 7 ,0 0 5 S u b -t o ta l 1 3 8 ,9 1 3 2 3 4 ,7 3 4 2 4 0 ,7 5 5 2 4 6 ,8 6 0 2 5 3 ,1 2 3 2 5 9 ,5 5 9 1 .3 7 3 .9 4 4 K e n c u r A g ri b is n is H u lu 6 5 ,9 0 2 6 7 ,4 9 3 6 9 ,1 9 7 7 0 ,9 0 2 7 2 ,4 9 2 7 4 ,3 1 0 4 2 0 ,2 9 6 P e rt a n ia n P ri m e r 1 3 4 ,8 0 0 1 3 6 ,9 8 0 1 3 8 ,3 9 0 1 4 1 ,8 0 0 1 4 5 ,4 4 0 1 4 9 ,0 7 0 8 4 6 ,4 8 0 A g ri b is n is H ili r 7 8 5 ,1 5 9 8 0 4 ,7 8 8 8 2 4 ,9 8 7 8 4 5 ,6 1 2 8 6 6 ,7 5 3 8 8 6 ,5 0 6 5 .0 1 3 ,8 0 5 P e m e ri n ta h 0 ,9 0 0 1 ,0 0 0 1 ,1 0 0 1 ,2 1 0 1 ,3 3 1 1 ,4 6 4 7 ,0 0 5 S u b -t o ta l 9 8 6 ,7 6 1 1 0 1 0 ,2 6 1 1 0 3 3 ,6 7 4 1 0 5 9 ,5 2 4 1 0 8 6 ,0 1 6 1 1 1 1 ,3 5 0 6 2 8 7 ,5 8 6 J a h e A g ri b is n is H u lu 2 8 ,0 4 5 2 8 ,6 5 8 2 9 ,3 8 5 2 9 ,3 9 8 3 0 ,8 5 9 3 1 ,6 2 8 1 7 7 ,9 7 3 P e rt a n ia n P ri m er 1 3 0 ,8 3 2 1 3 4 ,1 5 4 1 3 7 ,3 7 3 1 4 0 ,8 0 0 1 4 4 ,3 8 0 1 4 7 ,9 4 4 8 3 5 ,4 8 3 A g ri b is n is H ili r 1 .7 1 9 ,1 7 0 1 .7 6 2 ,0 9 0 1 .8 0 6 ,2 0 5 1 .8 5 1 ,3 5 8 1 .8 9 7 ,6 3 9 1 .9 4 0 ,1 1 3 1 0 .9 7 6 ,5 8 0 P e m e ri n ta h 1 ,8 0 0 2 ,0 0 0 2 ,2 0 0 2 ,4 2 0 2 ,6 6 2 2 ,9 2 8 1 4 ,0 1 0 S u b to ta l 1 8 7 9 ,8 4 7 1 9 2 6 ,9 0 2 1 9 7 5 ,1 6 3 2 0 2 3 ,9 7 6 2 0 7 5 ,5 4 0 2 1 2 2 ,6 1 3 1 2 0 0 4 ,0 4 0 P u rw o c e n g A g ri b is n is H u lu 0 ,1 4 1 0 ,1 4 6 0 ,1 5 0 0 ,1 5 5 0 ,1 6 0 0 ,1 6 5 0 ,9 1 7 P e rt a n ia n P ri m e r 1 2 ,2 6 2 1 2 ,7 3 3 1 3 ,2 0 5 1 3 ,6 7 7 1 4 ,0 1 8 1 4 ,3 6 9 8 0 ,2 6 5 A g ri b is n is H ili r 5 2 ,9 4 3 5 4 ,8 3 5 5 5 ,6 2 0 5 7 ,0 1 5 5 8 ,4 3 2 5 9 ,8 5 0 3 3 8 ,6 9 5 P e m e ri n ta h 0 ,9 0 0 1 ,0 0 0 1 ,1 0 0 1 ,2 1 0 1 ,3 3 1 1 ,4 6 4 7 ,0 0 5 S u b -t o ta l 6 6 ,2 4 6 6 8 ,7 1 4 7 0 ,0 7 5 7 2 ,0 5 7 7 3 ,9 4 1 7 5 ,8 4 8 3 4 5 ,7 0 0 T O T A L 3 .3 3 0 ,6 3 3 3 .5 0 7 ,1 0 3 3 .5 9 2 ,6 1 5 3 .6 7 7 ,3 7 5 3 .7 7 3 ,5 6 4 3 .8 6 3 ,6 3 2 2 1 .7 4 4 ,9 2
VII. DUKUNGAN KEBIJAKAN
Untuk menjamin keberlangsungan agribisnis dan agroindustri berbasis tanaman obat dari hulu hingga ke hilir perlu dukungan kebijakan dari pemerintah agar citra, khasiat dan nilai tambah pemanfaatan tanaman obat menjadi setara dengan obat-obatan sintetis. Dukungan kebijakan yang dibutuhkan adalah sebagai berikut.
1. Keputusan politik pemerintah untuk menetapkan penggunaan obat bahan alami yang bahan bakunya antara lain tanaman obat sebagai bagian dari pelayanan kesehatan formal.
2. Amandemen dan revisi Undang-undang dan Peraturan Pemerintah yang belum sejalan dengan keputusan politik sebagaimana tersebut pada butir 1.
3. Penyusunan program nasional pengembangan obat bahan alam berbasis tanaman obat asli Indonesia (temulawak, kunyit, kencur, jahe dan purwoceng) secara terpadu, yang melibatkan semua pihak terkait dari hulu sampai hilir.
4. Memanfaatkan kelembagaan yang ada khusus yang memiliki otoritas memadai yang akan merencanakan, mengkoordinir dan mengawasi pelaksanaan program nasional sebagaimana tersebut pada butir 3.
5. Membangun dan melengkapi sarana dan prasarana pendukung : (a). Universitas yang akan mendidik tenaga medis untuk pelayanan kesehatan dengan obat bahan alami, (b) Rumah Sakit dan Apotek yang melayani masyarakat dengan obat bahan alami, (c) Jalan, transportasi dan telekomunikasi ke daerah-daerah sentra produksi tanaman obat, (d) Bantuan modal untuk petani dan pengusaha yang akan berusaha dalam agribisnis dan agroindustri berbasis tanaman obat (temulawak, kunyit, kencur, jahe dan purwoceng) baik di hulu maupun di hilir.
6. Fasilitasi munculnya iklim usaha dan kemitraan yang sinergis dengan prinsip win-win diantara para pelaku agribisnis dan agroindustri berbasis obat bahan alam di Indonesia.