BAB I PENDAHULUAN. orang juga memiliki kelebihan masing-masing diberbagai bidang.

Teks penuh

(1)

1

1.1 Latar Belakang Masalah

Melihat seseorang berprestasi, atau mendengar kabar tentang prestasi anak bangsa di berbagai bidang adalah suatu kebanggan bagi banyak orang. Peneliti sangat percaya bahwa setiap manusia diciptakan Tuhan berbeda-beda dan setiap orang juga memiliki kelebihan masing-masing diberbagai bidang.

Setiap manusia akan merasa bahwa dirinya berguna jika kelebihannya di gunakan secara maksimal dan kemampuannnya tersebut dapat bermanfaat untuk orang lain yang berada di sekitarnya. Setiap manusia pasti ingin berhasil, seseorang dapat dikatakan berhasil jika ia mampu mencapai target-target dalam standar hidupnya. Namun, dalam mencapai keberhasilan tersebut diperlukan modal awal yaitu sebuah mimpi yang besar dan juga sebuah dorongan atau motivasi dalam diri seseorang untuk mewujudkan keberhasilannya tersebut.

Kenyataannya tidak semua orang yang pada akhirnya bisa berhasil dalam mewujudkan keinginan-keinginan dalam hidupnya. Dalam banyak hal kegagalan-kegagalan seseorang memang bisa disebabkan karena terbatasnya kemampuan yang dimiliki. Namun, dipihak lain kegagalan acapkali disebabkan oleh kurangnya atau bahkan tidak adanya dorongan untuk mencapai sesuatu yang lebih baik. Seiring dengan hal ini para ahli yang berorientasi pada konsep

(2)

humanistik, mengemukakan bahwa banyak potensi pada manusia mubasir, banyak sumber daya manusia terbengkalai karena tidak dibina secara tepat

karena kurangnya motivasi seseorang dalam mencapai sesuatu.1

Peneliti menyadari bahwa begitu hebatnya Tuhan memberikan talenta kepada setiap ciptaannya. Kalau hewan saja bisa dilatih dan begitu pintar dalam melakukan sesuatu, maka peneliti sangat yakin bahwa manusia pasti amat jauh lebih hebat dari makhluk apapun. Namun seringkali manusia tidak menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang berharga dan punya potensi yang sangat besar jika terus dilatih dan memiliki dorongan yang kuat untuk berhasil.

Seiring dengan perkembangannya stasiun televisi tahun 90-an di Indonesia, yang pada waktu itu hanya ada sekitar 6-7 stasiun televisi, produser program televisi melihat adanya begitu banyak bakat-bakat anak bangsa yang potensial dan perlu disalurkan. Hal ini mengundang para tim kreatif produksi program televisi untuk membuat program televisi yang menunjukkan bakat-bakat anak bangsa. Dimulai dari kompetisi menyanyi, yang paling terkenal saat itu adalah kontes Asia Bagus (1992-2000) di TVRI lalu dipindah ke RCTI, merupakan program kompetisi menyanyi dari 4 Negara (Indonesia, Malaysia, Singapura, Jepang), yang merupakan program gabungan dari tiga stasiun TV (Fuji TV Japan, TV3 Malaysia, RCTI Indonesia). Kebanyakan pemenang kontes Asia Bagus ini berasal dari Indonesia hingga mampu mencetak penyanyi terbaik Indonesia seperti Krisdayanti, Dewi Marpaung, Dewi Gita, Alena.

1

(3)

Pada tahun 2000-an, industri televisi berkembang pesat. Jumlah televisi swasta nasional bertambah menjadi 11 stasiun televisi swasta, sehingga bertambah pula berbagai macam program televisi yang berlomba-lomba menarik minat audiensnya. Di era ini, berkembang banyak sekali program kompetisi adu bakat, lalu dikategorikan dalam program reality show. Menurut Morrisan, reality show memiliki beberapa bentuk yaitu, hidden camera, competition show, relationship show, fly on the wall, dan program mistik.2 Hingga saat ini, hampir semua stasiun televisi memiliki program acara kompetisi adu bakat atau competition show. Sekarang ini lebih dikenal dengan kategori talent show. Berikut contoh-contoh program yang dimiliki tiap stasiun televisi. Dari RCTI, setelah sukses dengan Asia Bagus dan Cipta Pesona Bintang, muncul Indonesia Idol (2004), Idola Cilik (2007), The Master (2009), Aksi Anak Bangsa (2010), Master Chef Indonesia (2011), Asia’s Next Top Model (2011), hingga yang teerbaru X Factor Indonesia (2012). Lalu di Indosiar ada yang paling terkenal Academi Fantasi Indosiar (AFI-2003), AFI Junior (2004), MamaMia (2005), Indonesia Model (2005), Stardut (2007), Kondang-In (2008), Indonesia’s Got Talent (2011), hingga yang terbaru The Voice Indonesia (2012). Di TPI (sekarang MNC), juga mendulang sukses program ini walaupun hanya sedikit, dari Pesta Bintang (2000), Pengen Jadi Bintang (2005). Televisi baru pun ikut memproduksi program yang sangat banyak peminatnya ini. TRANS TV, memiliki program Indonesia Mencari Bakat (2010), Pop Star (2011), Suara Indonesia (2012). Di TV7 (sekarang Trans 7) ada Cipta Lagu Populer (2009),

2

Morrisan. Media Penyiaran Strategi Mengelola Radio dan Televisi. Tangerang: Ramdina Prakarsa. 2005. Hal 107

(4)

Dream Band (2010). Di Global TV juga pernah ada MTV VJ-Hunt Indonesia (2006).

Berbagai acara kompetisi adu bakat ini ditayangkan tidak hanya untuk menarik minat penonton untuk menyaksikan acara di stasiun TV tertentu, supaya mendapatkan iklan, tapi peneliti percaya satiap produser program kompetisi adu bakat ini memiliki tujuan untuk menampilkan dan menyalurkan talent-talent anak bangsa. Dengan adanya kompetisi adu bakat yang ditayangkan di televisi, masyarakat Indonesia semakin tahu bahwa anak-anak bangsa memiliki banyak sekali prestasi di berbagai bidang yang tidak hanya di bidang akademik, tapi juga non akademik.selain itu, program kompetisi adu bakat ini juga sebetulnya secara tidak langsung dapat menjadi inspirasi bagi para penonton untuk memotivasi dirinya untuk bisa mencapai mimpi yang mereka miliki. Tidak sedikit pula orang-orang yang pada akhirnya ingin menjadi sosok seperti kontestan atau pemenang dalam kompetisi yang ada. Terlihat dari meningkatnya jumlah peserta audisi dari tahun ke tahun yang diadakan oleh berbagai program talent show yang tadi sudah peneliti sebutkan. Hal ini menunjukkan bahwa ada kecenderungan penonton termotivasi untuk ikut berkompetisi dengan banyak orang.

Menurut teori komunikasi, ada efek pesan dalam media terhadap audiens,

diantaranya kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan konatif (perilaku).3

Dalam hal ini, pesan dalam media sebagai content program televisi. Sehingga bisa diprediksi akan ada efek yang berpengaruh dalam content program acara

3

(5)

kompetisi adu bakat terhadap motivasi seseorang dalam melakukan sesuatu (konatif).

Lewat fenomena yang terjadi ini membuat peneliti ingin meneliti lebih jauh tentang apakah program-program televisi yang berbentuk kompetisi adu bakat dapat mempengaruhi anak-anak dalam memotivasi mereka unttuk berkompetisi dan bahkan berprestasi. Motivasi berprestasi ini harus dibina sejak kecil. Karena dorongan berprestasi yang tinggi pada anak dan remaja akan menjadi modal dan aset berharga bagi bangsa yang sedang membangun

negaranya.4 David McClelland (1961) sendiri mengemukakan bahwa

negara-negara yang perekonomiannya maju, masyarakatnya pada umumnya memiliki dorongan berprestasi yang tinggi, artinya sumber daya yang ada dan dimiliki

dapat dibina dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.5

Dari banyaknya program kompetisi adu bakat yang ada, peneliti memilih melakukan riset pada program La Academia Junior Indonesia. Program pencarian bakat dibidang tarik suara ini merupakan diadaptasi dari Mexico, program pencarian bakat menyanyi anak ini merupakan terobosan baru SCTV yang menyasar segmentasi anak-anak. Program kompetisi La Academia Junior merupakan program reality show dengan pendekatan kompotisi untuk segmen anak-anak dan franchise program televisi di Mexico.

4

Op cit. Psikologi Praktis: Anak, Remaja, dan Keluarga. Hal 146

(6)

SCTV berupaya melakukan konsep reality show sebagai alternatif program untuk segmen anak-anak. Reality show di Indonesia juga beberapa programnya telah sukses mendapatkan peringkat rating atau share timggi.

Ajang pencarian bakat ini telah sukses digelar di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Malaysia, Singapura, Thailand, Paraguay dan Amerika Tengah. Pada program La Academia Junior juga mengadopsi seluruh konsep program yang telah di tayangkan di Mexico dan negara-negara lainnya, konsep atau gaya reality show ala Mexico ini memiliki ciri khas tersendiri sepertii saat opening sering menampilkan budaya Indonesia. Di Indonesia sendiri ajang ini berhasil menyaring 12 finalis tanah air dan siap beradu bakat menyanyi di Jakarta. La Academia Junior Indonesia juga memiliki kemasan yang menarik dengan menghadirkan para juri yang handal dibidangnya seperti Ira Maya Sopha, Dewi Gita, Ryan d’masiv, Anji dan Nycta Gina. Selanjutnya para pemenang ajang yang diikuti anak-anak berusia 5-12 tahun ini bakal mendapatkan hadiah berupa materi serta berkesempatan masuk dapur rekaman. SCTV telah bekerja sama dengan Music Studio membuatkan album untuk pemenang, ini juga salah satu bentuk tanggungjawab moral SCTV agar anak-anak menghasilkan lagu-lagu Indonesia bermutu.

Peneliti sangat tertarik meneliti Konten Lokal La Academia Junior karena program La Academia merupakan program yang di adaptasi dari Mexico namun La Academia yang disiarkan oleh SCTV ini menghadirkan isi program yang berbau Indonesia seperti saat opening sering menghadirkan budaya, lagu serta tarian yang ada di Indonesia, lagu yang dinyanyikan lagu-lagu Indonesia serta

(7)

sering pula menampilkan tari-tarian Indonesia, program reality show dengan pendekatan kompetisi yang mengadaptasi program asing anak pertama di Indonesia adalah La Academia Junior. Program ini juga sukses didukung sponsor Biore, serta berhasil juga mendapatkan rating atau share yang sangat tinggi pada head to head pukul 12.30-16.30. Peneliti ingin mengetahui konsep produksi serta konten lokal yang bagaimana di terapkan oleh Tim Produksi La Academia Junior SCTV sehingga sukses mendapatkan apresiasi dari audiens, sponsor dan pihak-pihak terkait, dalam persaingan industri televisi yang demikian ketat pada saat ini. Penulis menggunakan penelitian studi kasus dimana penulis akan mewawancarai beberapa narasumber yang berkaitan dengan penelkitian, studi kasus yang digunakan adalah studi kasus partikularistik karena studi kasus partikularistik merupakan studi kasus terfokus pada situasi, peristiwa, program atau fenomena.

1.2 Fokus Penelitian

Fokus penelitian merupakan garis besar dari pengamatan penelitian ini yang menjadi fokus penelitiannya adalah bagaimana Konten Lokal Dalam Program Franchise La Academia Junior di SCTV?

.

1.3 Identifikasi Masalah

Dari uraian latar belakang masalah yang telah dipaparkan diatas, maka Identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana konten lokal dalam program franchise la academia junior di SCTV agar selalu menarik dan banyak diminati oleh masyarakat. Karena seperti yang kita tahu anak-anak Indonesia

(8)

saat ini banyak sekali yang tidak menyanyikan lagu-lagu yang sesuai dengan usianya dan anak-anak Indonesia juga kurang mengetahui lagu, tarian ataupun budaya-budaya Indonesia.

1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan pokok permasalahan diatas, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konten lokal dalam program franchise La Academia Junior di SCTV.

1.5 Manfaat Penelitian 1.5.1 Manfaat Akademis

Hasil penelitian ini secara teoritis bermanfaat bagi pengembangan ilmu komunikasi. Khususnya untuk mengetahui analisis konten lokal dalam program franchise La Academia Junior di SCTV. Hal ini dilakukan agar hasil dari penelitian ini dapat memberikan informasi khususnya untuk bidang studi Broadcasting dan pada bidang ilmu komunikasi pada umumnya.

1.5.2 Manfaat Praktis

a. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan dan gambaran kepada televisi lokal sebagai objek penelitian.

b. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi bahan pemikiran dan pembelajaran pada pemilik stasiun televisi agar terpacu untuk memulai

(9)

membuat terobosan baru agar dapat tetap harus bertahan ditengah persaingan yang ketat di industri televisi.

c. Memberikan sumbangan ilmu pada masyarakat khususnya bahan ilmu pengetahuan tentang dunia pertelevisian.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :