1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Istilah komik sudah bukan merupakan hal yang asing lagi didengar di Indonesia. Baik untuk kalangan anak-anak, remaja, maupun orang dewasa mengenal dan pernah membaca bacaan bernama komik. Sejak dulu komik mendapat berbagai pandangan dari masyarakat. Kebanyakan berpendapat bahwa komik adalah buku untuk anak-anak karena memuat banyak gambar yang lucu di dalamnya. Bahkan komik dianggap memiliki pengaruh buruk kepada para pelajar karena komik telah membuat para pelajar malas belajar. Daya tarik komik yang sangat besar membuat industri komik meraup untung yang banyak. Tidak hanya harga yang cukup murah saja, buku komik dibuat secara berseri sehingga pembacanya selalu penasaran dan ingin membeli seri selanjutnya.
Secara umum, komik bisa diartikan dengan cerita yang terdiri dari kumpulan gambar dan tulisan dalam majalah, suratkabar, atau dapat pula berbentuk buku, yang pada umumnya mudah dicerna dan lucu, dan ada juga yang menampilkan cerita serius. Tujuan utama komik adalah sebagai hiburan dalam bentuk bacaan ringan, meski cerita yang disajikan beberapa diantaranya relatif panjang, namun tidak selalu terkait dengan pesan-pesan moral tertentu. Namun secara umum, komik terdiri dari teks dan gambar dan hal ini menjadi ciri utama komik dibanding media serupa lainnya.
Dalam konteks perannya sebagai media komunikasi, komik turut berperan dalam merepresentasikan aspek-aspek kehidupan sosial sebuah masyarakat. Adegan-adegan komik yang menggelitik biasanya malah mampu menyuguhkan gambaran atas realitas dengan sangat akurat.
Salah satu contoh dari komik kritik sosial adalah „Panji Koming‟. „Panji Koming‟ adalah strip komik ciptaan kartunis Dwi Koendoro yang diterbitkan secara berkala di surat kabar Kompas edisi Minggu yang mulai dimuat pada tanggal 14 Oktober 1979. Nama komik ini berasal dari nama tokoh utamanya, Panji Koming, yang hidup di masa Kerajaan Majapahit. Meskipun komik ini mengambil setting masa lalu,
2 kasus yang diangkat sering kali dikaitkan dengan hal-hal aktual yang terjadi di Indonesia masa kini, terutama masa Orde Baru dan sesudahnya.
Gambar 1.1. Komik „Panji koming‟ dalam harian KOMPAS
(sumber: http://nikicomic.blogspot.com/2010/12/panji-koming-oye.html)
Selain itu, kini komik tidak hanya dipakai sebagai hiburan untuk mengisi waktu luang. Buku edukasi, mulai dari pengetahuan umum hingga pelajaran sekolah sudah banyak yang berbentuk komik. Tentu saja hal ini membuat para pelajar lebih asyik dalam belajar karena gambar ilustrasinya yang menarik. Salah satu contohnya adalah buku yang ditulis oleh Larry Gonnick yang berjudul „Kartun Fisika‟ dengan judul asli „A Cartoon Guide of Physics‟. Buku ini berisikan tentang teori-teori fisika dasar yang diajarkan di sekolah menengah. Keunggulannya adalah ilustrasi yang menarik sehingga lebih mudah untuk dipahami.
Gambar 1.2. „Kartun Fisika‟ karya Larry Gonnick
3 Saat ini komik banyak dijumpai di toko-toko buku. Perkembangan dunia hiburan Indonesia, khususnya dalam industri komik akhir-akhir ini sudah mulai menunjukkan perkembangan ke arah yang lebih baik setelah industri komik ini mati suri. Bisa dilihat dari sudah adanya beberapa komik buatan anak negeri yang memenangkan kompetisi-kompetisi komik di luar negeri dan orang Indonesia yang direkrut perusahaan besar komik DC untuk menjadi ilustratornya, hal ini menunjukkan bahwa kulitas komik Indonesia sudah bisa bersaing di level dunia.
Gambar 1.3. Ardian Syaf, salah satu ilustrator DC comic dari Indonesia
(sumber: http://indonesiaproud.wordpress.com/2012/10/06/ardian-syaf-komikus-dc-comics-dari-tulungagung/)
Akan tetapi sangat disayangkan bahwa belum ada wadah yang cukup untuk menampung mereka dan karya-karya mereka yang kurang dikenal oleh orang Indonesia sendiri.
1.1.1. Perkembangan Komik di Indonesia
Industri komik di Indonesia sudah mulai dikenal pada masa penjajahan Belanda dengan komikus seorang warga asing. Saat itu rakyat Indonesia banyak dimasuki oleh kebudayaan Barat dan Cina. Komik yang pertama kali muncul pada tahun 1931 di media massa Cina berbahasa Melayu bernama harian Sin Po. Komik yang berbentuk komik strip itu digambar oleh Kho wan Gie yang menceritakan tentang Put On, seorang pria gendut bermata sipit yang suka melindungi rakyat kecil yang banyak disukai oleh
4 penduduk peranakan Cina sehingga komik ini menjadi rujukan gaya hidup pada masa itu.
Gambar 1.4. Komik Strip Put On
(sumber: http://jualkomiklama.blogspot.com/2011/03/put-on.html )
Selain itu, media massa berbahasa Belanda, De Java Bode (1938) memuat komik Amerika yang berjudul Flippie Flink. Di samping media massa berbahasa Belanda, ada pula surat kabar berbahasa Melayu yang memuat komik „impor‟ dari Barat.
Di tengah gempuran budaya Barat dan Cina, ada beberapa penduduk pribumi yang ingin mengangkat komik yang berdasarkan kebudayaan nasional. Pergerakan tersebut terjadi atas dampak terhadap kemerdekaan Indonesia yang dipelopori oleh Presiden Soekarno dimana rakyat Indonesia sedang dalam masa yang dipenuhi semangat nasionalisme. Kemunculan komik asli Indonesia pertama kali ditandai dengan terbitnya Lahirnya Gatotkatja dan Raden Palasara karya Johnlo, Joko Tingkir dan Pangeran Diponegoro karya Abdulsalam, dan seri Mahabharata karya R. A. Kosasih. Dengan cepat cerita-cerita perjuangan, legenda, dan cerita rakyat lokal digemari masyarakat kala itu. Masa-masa sekitar tahun 1954 – 1960 ini bisa dikatakan sebagai masa keemasan komik Indonesia yang pertama. Akan tetapi memasuki tahun 70-an komik Indonesia mulai terpuruk.
5 Gambar 1.5. Komik seri Mahabharata karya R.A.Kosasih
(sumber: http://sastrokomik.blogspot.com/2010/07/seri-mahabharata-komik.html )
Memasuki tahun 80-an, masa keemasan komik Indonesia terjadi kembali ketika ragam komik Indonesia begitu kaya dengan tema silat, superhero, roman remaja, komik cerita rakyat, komedi wayang, dan juga komik-komik keagamaan. Nama-nama seperti Ganes Th, Man, Hasmi, Jan Mintaraga, Djair, Wid N. S., Budijanto, Zaldy, Tatang S., Teguh, Gerdi W. K., menjadi nama yang akrab bagi pecinta dan pecandu komik Indonesia ketika itu. Namun saat itu, komik Indonesia juga dimusuhi oleh orangtua dan bahkan juga pemerintah, karena dianggap telah membuat anak-anak sekolah jadi malas belajar.
Gambar 1.6. Komik „Petruk‟ karya Tatang S. Yang sangat populer di jamannya
(sumber: http://koleksibukuantik.blogspot.com/2010/01/tatangs-jumo-gundul.html)
Pada tahun 1990 – 2000, industri komik asli Indonesia mulai langka. Pada masa ini Indonesia dibanjiri dengan komik-komik dari luar negeri, yaitu Amerika dan
6 Jepang. Para penikmat komik ini pun segera melupakan komik lokal karena komik dari luar, terutama manga dari Jepang memiliki cerita dan gambar yang berbeda dan lebih menarik. Tidak hanya komik, acara-acara di televisi Indonesia pun banyak menayangkan anime dari Jepang yang bisa dijumpai pada acara televisi di Minggu pagi.
Gambar 1.7. Digimon dan Doraemon, contoh anime populer di televisi Indonesia pada 90-an
(sumber: http://szlovely.wordpress.com/2012/02/11/kumpulan-film-film-kartun-90an/)
Memasuki tahun 2009 ada sedikit peningkatan dalam perkembangan komik di Indonesia yang sekilas bisa dilihat adanya peningkatan penerbitan komik di Indonesia. Sebagai contoh, judul komik lokal yang telah terbit sejak awal 2009 mencapai hampir 30 judul. Terinspirasi dari perkembangan seni komik di Prancis yang cukup pesat, dengan adanya Festival Angoulême, sebuah festival komik berskala internasional yang digelar tiap tahun di Prancis, di Surabaya diadakan kegiatan Cergamboree sebagai agenda tahunan dengan menggandeng studio dan seniman komik di seluruh Indonesia. Di Surabaya sendiri, menyusul setelah Cergamboree 2009, beberapa pegiat komik Surabaya menggagas proyek kolektif pembuatan kompilasi komik Area 031 yang melibatkan 25 komikus1.
Para pelaku industri komik pun semakin kreatif dalam manggunakan berbagai media dalam memperkenalkan karyanya, tidak hanya menggunakan format komik di atas kertas media massa atau dalam buku, mereka makin aktif menggunakan atau berkolaborasi dengan media lainnya seperti mengangkat cerita film (The Raid, 5 cm),
7 mengadaptasi novel populer (Kambing Jantan, Anak Kos Dodol Dikomikin), koran (Benny and Mice), dan yang saat ini paling populer yaitu komik online.
Kemajuan komik yang berbasis internet ini sangat pesat dikarenakan populernya situs jejaring sosial dan blogger yang menjamur di kalangan pemuda Indonesia. Para komikus ini memanfaatkan kepopuleran situs jejaring sosial sebagai alat promosi karya komik mereka. Kesuksesan para komikus dunia maya ini dikarenakan konsistensi mereka dalam menerbitkan komik secara berkala sehingga pembaca selalu merasa penasaran dan ide cerita yang sangat sesuai dengan kehidupan anak muda sekarang. Contohnya Si Juki karya Fazameonk dan si Blank karya Soni M. Soleh yang menceritakan respon terhadap gaya hidup anak muda zaman sekarang,
kartun Ngampus yang menceritakan tentang suka duka mahasiswa, dan komik Kostum yang berisi tentang pesan moral yang dikemas dalam komik strip yang
menarik dan lucu.
Gambar 1.8. Komik „Si Juki‟ yang menceritakan kehidupan mahasiswa
(sumber: http://www.bhinneka.com/forum/7263/Komik-Si-Juki-Ongoing)
Selain itu juga mula bermunculan komik-komik lokal yang memiliki ide cerita berbeda dari komik luar negeri seperti mangan gak mangan penting eksis karya vbi-djenggotten yang menceritakan tentang fenomena Facebook yang sedang digandrungi kebanyakan masyarakat Indonesia sekarang, Para Gokil yang berisikan kumpulan komik karya beberapa komikus dan memiliki tema yang berbeda pada tiap serinya,
8 dan Real Masjid karya Tonytrax dan Galang Tirtakusuma yang menceritakan tentang pesan moral seorang Muslim.
Selain populer di tanah sendiri, komik Indonesia juga mulai diakui di tingkat internasional. Hal ini bisa dilihat dari beberapa komik asli Indonesia yang menjuarai kompetisi komik di luar negeri seperti “BOCAH” yang meraih juara 3 pada Kodansha
Morning International Manga Competition dan “Lima Menit Sebelum Siaran” yang
meraih penghargaan Silver pada International Manga Award ke-6 di Jepang.
Dilihat dari sejarahnya, industri komik di Indonesia saat ini sedang dalam masa kebangkitan kembali setelah masa kejayaannya pada tahun 50-an dan 80-an. Para komikus Indonesia masa kini berharap industri komik di Indonesia lebih berkembang daripada masa lalunya sehingga bisa bersaing dengan produk luar negeri yang kini sedang membanjiri pasar komik di Indonesia.
1.1.2. Potensi Industri Komik
Potensi-potensi yang bisa diambil dari hasil karya komik adalah berupa brand yang akan diingat oleh semua orang sehingga bisa dikembangkan menjadi produk yang lebih bersifat komersil. Komik di luar negeri telah mencontohkan bahwa hasil karya komik bisa dikembangkan menjadi berbagai produk jual yang menguntungkan karena
brand yang telah mereka bangun sudah melekat di hati masyarakat seperti di Amerika
yaitu Marvel Comic ( Spiderman, Captain America, Ironman, Hulk ), DC Comic (
Superman, Batman, Cat Woman, Wonder Woman ), Disney ( Donald Duck, Mickey mouse ), dan Peanuts ( Charlie Brown, Snoopy ) dan di Jepang seperti Doraemon, One Piece, Naruto, dan Detective Conan.
Dalam artikel majalah TIME, Edward W. Desmond menjelaskan bahwa pasaran komik di Jepang sangat baik. Tercatat salah satu komik yang berjudul „Big Comic
Spirit‟ setiap pekan terjual lebih dari 1.000.000 eksemplar, sehingga pada tahun 1992
total penjualannya mencapai 2.160.000.000 eksemplar di Jepang (Desmond, 1993 : 46). Potensi komik sebagai brand yang mendunia telah dibuktikan dengan keberhasilan Walt Disney yang mempopulerkan Mickey Mouse. Bahkan menurut majalah Forbes, diperkirakan hanya 10% dari jumlah penduduk dunia yang belum pernah melihat produk Disney (Soetrisno, 1997 : 34). Contoh lain adalah komik „Doraemon‟ ciptaan Fujiko F. Fujio yang menjadi manga terpopuler pasca Perang Dunia dan sekaligus
9 menjadi salah satu komoditi terlaris bagi Jepang. Elex Media Komputindo selaku pemegang lisensi dan penerbit komik „Doraemon‟ di Indonesia mampu menjual sekitar 40.000 eksemplar untuk setiap seri. Jumlah ini sangat besar apabila dibandingkan dengan penjualan buku lain yang hanya mencapai 3.000 eksemplar setiap judul (Shirahashi, 2000 : 8)2.
Untuk di Indonesia, penjualan komik masih memegang penjualan tertinggi di toko buku. Menurut penuturan Jerry Udampo, Bussiness Manager M&C!, hal ini disebabkan karena penggemar komik yang beragam sehingga pembelinya pun tidak terbatas usia. Selain itu, komik menjadi bestseller di toko buku karena sebagian besar merupakan cerita bersambung sehingga pembaca sangat mudah penasaran dengan cerita selanjutnya3.
Yang sangat disayangkan adalah dominasi komik tersebut dipegang oleh manga impor dari Jepang. Bisa dilihat di kebanyakan toko buku yang tersebar di berbagai kota, rak untuk komik yang terletak di bagian paling depan hanya berisi manga, sedangkan komik lokal terletak di rak bagian agak tersembunyi.
1.2. PERMASALAHAN
1.2.1. Permasalahan Umum (non arsitektural)
1. Belum adanya wadah untuk menampung kegiatan dan karya komikus di Yogyakarta
2. Belum adanya fasilitas kepada para komikus di Yogyakarta untuk memproduksi dan mempromosikan karyanya dengan baik
3. Industri komik di Indonesia belum dipandang sebagai industri yang lebih serius dan menguntungkan.
1.2.2.Permasalahan Khusus (arsitektural)
1. Kurangnya fasilitas yang mewadahi berlangsungnya proses pembuatan komik 2. Kurangnya fasilitas untuk menampung hasil karya para komikus agar memiliki
nilai jual yang tinggi 2
Frendly Albertus, Kritik Sosial dalam Komik Benny dan Mice : Talk About Hape, 2010
3 Penjualan Komik Pegang Peringkat Tertinggi
10 3. Belum adanya bangunan pusat komik yang sesuai dengan karakteristik komik
lokal
1.3. TUJUAN DAN SASARAN PENULISAN
1.3.1. Tujuan
Mengetahui dan mempelajari permasalahan dan memperdalam segala kebutuhan yang diperlukan untuk mengembangkan industri komik di Yogyakarta di bidang arsitektural.
1.3.2. Sasaran
Merumuskan landasan konseptual untuk perencanaan dan perancangan bangunan pusat komik yang mampu mewadahi pengembangan brand dari komik di Yogyakarta.
1.4. LINGKUP PEMBAHASAN
Non Arsitektural
Pembahasan masalah di luar ilmu arsitektur yang menjadi dasar perancangan bangunan dibahas dengan pendekatan dan analisis karakteristik komik lokal dan pengembangan brand.
Dalam perancangan bangunan pusat komik yang menjual, potensi komersil karya komik terhadap penerbit maupun konsumen menjadi dasar konsep lingkungan kerja studio dan lingkungan pengunjung.
Arsitektural
Penulisan diarahkan pada masalah arsitektur dalam kaitannya dengan fungsi bangunan yang mewadahi kegiatan studio komik, kegiatan pameran, dan kegiatan negosiasi dengan konsumen maupun penerbit.
Prinsip-prinsip program ruang dan sirkulasi yang nyaman dan atraktif bagi pengunjung yang sesuai dengan standar yang berlaku dan sesuai dengan kebutuhan akan kegiatan dalam bangunan.
11
1.5. METODE PEMBAHASAN
Pembahasan dalam tulisan ini didasarkan pada data-data yang didapatkan dengan cara
1. Studi Literatur
Studi iteratur diperoleh dari buku dan tulisan lain yang memiliki keterkaitan dengan tema pembahasan, tugas akhir mahasiswa yang memiliki pembahasan dan pendekatan tema yang mirip sebagai perbandingan, dan data standar arsitektural yang berkaitan.
2. Observasi Lapangan
Observasi lapangan dilakukan dengan cara mengamati secara langsung hal-hal yang berhubungan dengan komik di Yogyakarta. Sumber bisa didapat dengan cara pengambilan foto, wawancara, maupun kuisioner.
3. Browsing Data Internet
Data masukan juga dilakukan dengan cara browsing dari internet untuk memperoleh data tambahan mengenai sejarah dan perkembangan komik yang tidak bisa didapat dalam literatur dan studi lapangan.
12
1.6. KERANGKA BERPIKIR
Diagram 1.1. Diagram kerangka berpikir
(sumber Analisis pribadi)
1.7. KEASLIAN PENULISAN
Pemilihan judul penulisan Tugas Akhir tentang bangunan komik dan animasi di jurusan Arsitektur dan Perencanaan Universitas Gadjah Mada bukan yang pertama
13 kalinya. Beberapa karya Tugas Akhir yang telah ditulis sebelumnya digunakan sebagai pembanding yang akan diangkat dalam tulisan ini. Penulisan yang mengambil tema komik antara lain:
1. STUDIO KOMIK DAN ANIMASI DI YOGYAKARTA Dadang Suherna 93/91577/TK/18520
2. PUSAT KOMIK DI YOGYAKARTA Helmy Aulia I. 00/138441/TK/25345
1.8. SISTEMATIKA PENULISAN
Bab I PENDAHULUAN
Berisi tentang latar belakang permasalahan dan potensi industri komik di Indonesia disertai dengan penjelasan singkatnya, tujuan, sasaran, lingkup pembahasan, metode yang digunakan, serta kerangka berpikir.
Bab II TINJAUAN TEORI
Berisi studi literatur tentang teor-teori komik, branding, teori dan standar ruang, dan studi kasus arsitektur
Bab III TUNJAUAN LOKASI
Tinjauan tentang sekilas profil kota Yogyakarta sebagai dan pemilihan lokasi site bangunan
Bab IV ANALISIS DAN PENDEKATAN KONSEP
Analisis tentang kebutuhan ruang, sirkulasi, dan site yang cocok untuk menjadi pertimbangan bangunan pusat komik dan lingkungannya.
Bab V KONSEP PERANCANGAN
Konsep dasar untuk desain bangunan Pusat Komik yang akan menjadi acuan dasar untuk perancangan desain selanjutnya.