BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Teks penuh

(1)

1  

Staphylococcus aureus merupakan bakteri yang paling sering menyebabkan infeksi pada kulit (Jawetz et al., 2005). Infeksi Staphylococcus aureus akan menyebabkan beberapa penyakit seperti jerawat, diare, toxic shock syndrome (Mahon and Manuselies, 2000) hingga penyakit yang menyebabkan kematian seperti endocarditis, pneumonia dan osteomyelitis (Murray et al., 2002). Bakteri ini biasanya hidup pada jaringan kulit dan lubang hidung dan tidak akan menginfeksi jika dalam keadaan normal karena tubuh memiliki mekanisme perlindungan seperti antibodi dan akan menginfeksi luka terbuka pada kulit atau melalui makanan yang tercemar.

Cara memutus penyebaran kuman masih menjadi tantangan bagi masyarakat, salah satu cara yang sederhana untuk memutuskan penyebaran kuman adalah dengan mencuci tangan yang merupakan pertahanan awal untuk mencegah penyebaran dan perkembangan kuman yang menyebabkan berbagai penyakit sampai 90% dari jumlah semula dan akan kembali dalam 8 jam (Syahrurachman et al., 2002). Pada saat ini telah umum digunakan sediaan gel tangan sanitizer yang mengandung antiseptik oleh masyarakat yang peduli kesehatan, sebagai jalan keluar untuk menjaga kesehatan dan kebersihan tangan yang praktis dan mudah dibawa (Shu, 2013). Antiseptik tangan bertujuan untuk menghilangkan kotoran dan flora pada tangan (Irianto, 2013).

Gel merupakan sediaan setengah padat, bersifat tiksotropi yaitu menjadi cairan ketika digoyang dan kembali memadat jika dibiarkan tenang. Obat topikal mengandung dua komponen utama yaitu zat aktif yang merupakan komponen bahan topikal yang memiliki efek terapeutik dan zat pembawa sebagai bagian inaktif (Yanhendri dan Yenny, 2012). Bahan antiseptik yang digunakan sebagai bahan aktif adalah alkohol, klorheksidin dan triklosan (Jawets et al., 2005). Alkohol sebagai pelarut organik dan dapat melarutkan lapisan lemak, sebum pada kulit dan mengiritasi kulit pada pemakaian berulang (Dyer et al., 1998). Oleh

(2)

karena itu, pada penelitian ini menggunakan ekstrak buah asam gelugur sebagai pengganti zat aktif alkohol untuk mengurangi efek yang akan terjadi pada pemakaian berulang.

Ekstrak etanol buah asam gelugur (Garcinia atroviridis Griff.et Anders) telah terbukti mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus, dengan nilai KHM 0,08% dan KBM 0,56%. Senyawa kimia dalam ekstrak etanol buah asam gelugur yang beraktivitas antibakteri adalah fenolik dan flavonoid (Hengsa, 2014). Aktivitas antibakteri buah asam gelugur terhadap bakteri Staphylococcus aureus lebih efektif daripada bagian kulit biji (plasenta) (Tongboon et al., 2012).

Berdasarkan uraian di atas, maka dilakukan formulasi gel tangan sanitizer ekstrak etanol buah asam gelugur dengan basis carbomer 940. Carbomer 940 merupakan gelling agent yang sangat umum digunakan dalam produksi kosmetik dengan stabilitas dan kompatibilitas yang tinggi (Flory, 1953, cit Lu and Jun, 1998), mudah menyebar pada kulit (Lachman et al, 1994) dan memiliki sifat iritasi yang sangat rendah pada penggunaan berulang di kulit (Shu, 2013).

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang, maka pada penelitian ini dapat dirumuskan bagaimana sifat fisik gel hand sanitizer dan daya hambat ekstrak etanol buah asam gelugur terhadap bakteri Staphylococcus aureus setelah diformulasi menjadi sediaan gel hand sanitizer.

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah maka tujuan penelitian ini untuk mengetahui sifat fisik gel hand sanitizer dan daya hambat ekstrak etanol buah asam gelugur terhadap bakteri Staphylococcus aureus setelah diformulasi menjadi sediaan gel hand sanitizer.

(3)

D. Tinjauan Pustaka

1. Tanaman asam gelugur (Garcinia atroviridis Griff.et Anders)

Klasifikasi tanaman asam gelugur sebagai berikut: divisi angiospermae, kelas magnoliopsida, anak kelas rosidae, bangsa guttiferales, suku glusiaceae, marga garcinia, jenis Garcinia atroviridis Griff. et Anders (Backer dan Van den Brink.,1965)

Garcinia atroviridis (Gambar 1) yang dikenal dengan nama daerah asam gelugur merupakan pohon berukuran sedang dan memiliki buah sebagai bumbu masakan (Mackeen et al., 2002). Tanaman ini ditemukan di seluruh semenanjung Malaysia, asam gelugur terkenal sebagai antiobesitas dan banyak digunakan di Thailand (Onakoova et al., 2011). Ekstrak etanol buah asam gelugur memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dengan nilai KHM dan KBM 0,08% dan 0,56% serta terhadap Shigella dysenteriae dengan nilai KHM 0,24% dan KBM 0,72% (Hengsa, 2014). Kulit biji (plasenta) dari G.atroviridis telah diteliti mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dengan nilai KHM dan KBM yang sama yaitu 2 mg/ml (Tongboon et al., 2012).

Gambar 1. Tanaman dan buah asam gelugur

(http://en.wikipedia.org/wiki/Garcinia_atroviridis diakses tanggal 5 Mei 2014)

(http://www.flickriver.com/photos/adaduitokla/sets/72157626995607701/ diakses tanggal 5 Mei 2014)

Garcinia atroviridis terbukti mengandung senyawa γ-lakton, atroviridin, atrovirisidon, atrovirinon, vitamin C, pentadekanoat, oktadekanoat, nonadekanoat, asam dodekanoat, beberapa asam organik (Mackeen et al., 2002), dan fenolik (Jantan et al., 2011).

(4)

2. Staphylococcus aureus

Klasifikasi Staphylococcus aureus sebagai berikut: ordo eubacteriales, famili micrococcaceae, genus staphylococcus, spesies Staphylococcus aureus (Syahrurachman et al., 2002).

Gambar 2. Bakteri Staphylococcus aureus

(http://en.wikipedia.org/wiki/Staphylococcus_aureus diakses tanggal 5 Mei 2014) Staphylococcus aureus (Gambar 2) berbentuk sferis, bila menggerombol dalam susunan yang tidak teratur dan bersusun seperti rantai pendek. Diameter 0,8-1,0 mikron. Bakteri ini tidak bergerak, tidak berspora dan Gram positif. Hanya kadang-kadang Gram negatif pada bagian tengah gerombolan bakteri (Syahrurachman et al., 2002). Uji fermentasi dengan menggunakan enam jenis karbohidrat yaitu glukosa, galaktosa, sakarosa, laktosa, fruktosa, dan maltosa menunjukan hasil yang positif pada bakteri S.aureus dengan adanya perubahan warna dari merah menjadi kuning pada enam media karbohidrat (Huda, 2012)

Tanda-tanda yang khas jika terjadi infeksi oleh Staphylococcus aureus adalah peradangan, nekrosis dan pembentukan abses. Selain itu, enterotoksin bakteri ini dapat mengakibatkan keracunan pada makanan dengan gejala mual hebat, muntah, dan diare (Todd, 2005)

3. Carbomer 940

Menurut Rowe, et al., (2009), nama lain Carbopol adalah Carboksipolimetilen, acrylic acid polymer, Carbomer dengan rumus molekul (C3H4O2)n. Carbopol terdiri dari 1450 monomer. Carbomer 940 memiliki berat molekul monomer sekitar 72 g/mol. Carbopol merupakan salah satu gelling agent yang berwarna putih, berbentuk serbuk halus, dan memiliki sifat iritasi kulit yang rendah pada penggunaan berulang dan digunakan sebagian besar di dalam cairan atau sediaan farmasi semisolid yang mengandung air dan alkohol (Rowe et al., 2009 & Shu, 2013).

(5)

Carbomer 940 memiliki viskositas antara 40.000 – 60.000 cP digunakan sebagai bahan pengental dan akan menghasilkan gel yang bening (Shu, 2013). Carbomer 940 akan mengembang jika didispersikan dalam air dengan adanya zat-zat alkali seperti trietanolamin atau diisopropilamin untuk membentuk suatu sediaan semipadat (Lachman et al., 1994). Pembuatan basis gel dilakukan dengan mendispersikan carbomer 940 dalam air dengan rate penggunaan 0,5 % - 2 %, kemudian diaduk cepat untuk mencegah terjadinya aglomerat, kemudian dinetralkan dengan TEA (trietanolamin) sebagai basa. Perlu penambahan pengawet pada penggunaan serbuk kering Carbomer 940 untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme pada sediaan gel tangan sanitizer (Shu, 2013 & Rowe et al., 2009).

E. Landasan Teori

G.atroviridis mempunyai aktivitas antibakteri (Alsarhan et al., 2014). Hengsa (2014) menyatakan bahwa ekstrak etanol buah asam gelugur memiliki aktivitas antibakteri terhadap S.aureus dengan nilai KHM 0,08% dan KBM 0,56% dengan hasil bioautografi terhadap S.aureus dengan menunjukkan adanya zona jernih pada hRf 88. Kandungan kimia yang bertanggung jawab sebagai antibakteri adalah flavonoid dan fenolik (Jantan et al., 2011).

Pemilihan basis carbomer 940 sebagai basis gel dalam gel hand sanitizer ekstrak etanol buah asam gelugur adalah carbomer 940 yang memiliki kestabilan yang tinggi, daya adhesi yang relatif kuat pada kulit sehingga akan meningkatkan waktu kontak antara sediaan dengan kulit (Puryanto, 2005).

F. Hipotesis

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disusun hipotesis ekstrak etanol buah asam gelugur dapat dibuat sediaan gel yang memenuhi persyaratan sifat fisik yang baik dan dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus setelah diformulasi ke dalam sediaan gel tangan sanitizer.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :