Warta Konservasi Lahan Basah Warta Konservasi Lahan Basah Warta Konservasi Lahan Basah Warta Konservasi Lahan Basah
Warta Konservasi Lahan Basah zzzzzzzzzzzzzzz 22222
Fokus Lahan Basah
Taman Wisata Alam Pulau BAKUT
Bertambah Luas? 3
Konservasi Lahan Basah
Rehabilitasi Pesisir dan Potensi Penerapan Perangkap Sedimen
di Kawasan Pesisir Teluk Maumere, Kab. Sikka 4
Berita Kegiatan Lahan Basah Laporan Singkat
8 Tahun Pasca Kegiatan Proyek Green Coast di Provinsi
Nanggroe Aceh Darussalam 6
Press Release
Kebakaran di Sumatra: Mengurusi Gejala, Tak Cukup Aksi
dalam Menangani Penyakit 8
Mama Loretha
Sorgum: Ketahanan Pangan dan Adaptasi Perubahan Iklim 10 Berita Umum Lahan Basah
Perburuan Rusa:
Sumber Pendapatan Alternatif Masyarakat di Kepala Burung, Papua 12 Penanaman Mangrove di Desa Sawah Luhur, Provinsi Banten
Kerjasama L’Oreal dengan Yayasan Lahan Basah Indonesia 14
Dokumentasi Perpustakaan 19
Stop Press
Irwansyah Reza Lubis - Deputy Asian Coordinator
Otter Specialist Group Periode 2012-2016 19
Daftar Isi
Ucapan Terima Kasih dan Undangan
Kami haturkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya khususnya kepada seluruh penulis yang telah secara sukarela berbagi pengetahuan dan pengalaman berharganya untuk dimuat pada majalah ini.
Kami juga mengundang pihak-pihak lain atau siapapun yang berminat untuk menyumbangkan bahan-bahan berupa artikel, hasil pengamatan, kliping, gambar dan foto, untuk dimuat pada majalah ini.
Tulisan diharapkan sudah dalam bentuk soft copy, diketik dengan huruf Arial 10 spasi 1,5 maksimal 4 halaman A4 (sudah berikut foto-foto).
Semua bahan-bahan tersebut termasuk kritik/saran dapat dikirimkan kepada:
Triana - Divisi Publikasi dan Informasi Wetlands International Indonesia Jl. A. Yani No. 53 Bogor 16161 tel: (0251) 8312189 fax./tel.: (0251) 8325755 e-mail: [email protected]
DEWAN REDAKSI:
Pimpinan Redaksi:
Direktur Program WIIP Anggota Redaksi:
I Nyoman N. Suryadiputra Triana Ita Sualia
“Artikel yang ditulis oleh para penulis, sepenuhnya merupakan opini yang bersangkutan dan Redaksi tidak bertanggung jawab terhadap isinya”
Dari Redaksi
Dengan dilandasi semangat Idul Fitri, mari kita tata dan susun kembali setiap pemikiran, ucap, langkah dan karya kita bersama ke arah yang lebih baik. Saling meminta dan memberi maaf adalah esensi Idul Fitri (kembali suci). Mungkin kita telah ikhlas bersalaman dan saling memaafkan antar sesama, namun ingatkah kita bahwa kekhilafan dan kesalahan juga kadang bahkan sering kita lakukan pada alam lingkungan dan mahluk hidup lainnya di sekitar kita?
Bila kita sudah berdamai dengan sesama (manusia), mari kita juga berdamai dengan alam sekitar kita, agar rahmat Idul Fitri itu nyata dan sempurna. Mulai saat ini, stop ‘kekerasan’ kepada alam. Mari sayangi dan pelihara alam sebagaimana yang telah diamanatkan Sang Pencipta kepada umat manusia.
Mohon maaf dan selamat membaca.
3 33 3
3 zzzzzzzzzzzzzzz Volume 21 No. 3, Juli 2013 Volume 21 No. 3, Juli 2013 Volume 21 No. 3, Juli 2013 Volume 21 No. 3, Juli 2013 Volume 21 No. 3, Juli 2013
...bersambung ke hal 15
P
ulau Bakut adalah daratan yang memanjang dari timur laut ke barat daya atau dari hulu ke hilir di tengah alur Sungai Barito, Kalimantan Selatan (Gambar 1). Di pulau yang terbentuk dari endapan sedimen hasil erosi di wilayah hulu sungai tersebut, tertancap dua dari empat pilar Jembatan Barito. Jembatansepanjang ±1.082 m ini membentang (dari barat laut ke tenggara) di atas pulau dan termasuk salah satu jembatan terpanjang di Indonesia.
Pulau Bakut seluas ±18,70 hektar ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam Pulau Bakut berdasarkan pada Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 140/Kpts-II/2003 tanggal 21 April 2003
(BKSDA Kalsel 2008). Pulau dengan ekosistem mangrove ini dihuni bekantan (Nasalis larvatus), primata endemik Kalimantan (Borneo). Selain itu, dijumpai beberapa spesies burung, seperti elang bondol (Haliastur indus), cipoh jantung (Aegithina viridissima), kapasan kemiri (Lalage nigra), sepah tulin (Pericrocotus igneus), caladi tilik (Picoides
moluccensis), cinenen kelabu (Orthotomus ruficeps), burung-madu sriganti (Nectarinia jugularis), dan burung kacamata (Zosterops sp.).
Fenomena dari Pulau Bakut yang jarang diperhatikan atau bahkan tidak
dipedulikan orang adalah penambahan luas daratannya atau pembentukan lahan oloran. Memang tidak atau belum ada
data luas lahan oloran itu, tetapi dua indikator menunjukkan bahwa fenomena itu adalah fakta dan benar terjadi.
Indikator pertama adalah penambangan pasir di titik yang terletak ±250 m dari ujung pulau bagian hulu (Gambar 2).
Penambangan dilakukan oleh perusahaan dengan bantuan ekskavator terapung, padahal sebelumnya (sekitar 4 tahun lalu) kegiatan ini tidak ada. Pasir hasil
tambangnya diangkut dengan tongkang dan ditumpuk sementara di tepi Sungai Barito, di seberang tenggara/selatan Pulau Bakut, atau tepat di kiri oprit Jembatan Barito dari arah Banjarmasin.
Indikator kedua adalah penumbuhan atau penambahan jumlah rambai (Sonneratia caseolaris) terutama di tepi barat laut Pulau Bakut, padahal sekitar 10 tahun lalu, jumlah rambai di bagian ini bisa dihitung dengan jari (Gambar 3). Rambai merupakan bioindikator yang
menunjukkan terjadinya sedimentasi di daerah atau perairan yang masih dipengaruhi pasang surut air laut.
Penambahan luas Pulau Bakut tentu harus diperhitungkan mulai dari sekarang oleh BKSDA Kalimantan Selatan yang bertanggung jawab pada Taman Wisata Alam Pulau Bakut atau instansi terkait lainnya yang bertanggung jawab (misalnya) pada pengelolaan daerah aliran sungai, perhubungan sungai, dan pemeliharaan jembatan. Kondisi ini mungkin menguntungkan, tetapi bisa juga akan merugikan.
Taman Wisata Alam Pulau BAKUT Bertambah Luas?
Oleh: Mochamad Arief Soendjoto*
Gambar 1. Sketsa Pulau Bakut dan aktivitas sekelilingnya
Fokus
Fokus Fokus
Fokus
Fokus
Lahan Basah
15 1515 15
15 zzzzzzzzzzzzzzz Volume 21 No. 3, Juli 2013 Volume 21 No. 3, Juli 2013 Volume 21 No. 3, Juli 2013 Volume 21 No. 3, Juli 2013 Volume 21 No. 3, Juli 2013
Sedimentasi yang terjadi sedemikian cepat akan menyambungkan Pulau Bakut dengan daratan di seberang barat- laut pulau. Walaupun terjadinya proses itu masih cukup lama, alur sungai sudah pasti tidak akan bisa dilalui lagi dengan kendaraan air (kelotok, jukung, perahu).
Lahan oloran pun akan menjadi sumber konflik.
Pada sisi lain, air sungai di tenggara pulau mengalir semakin deras dan mengikis daratan di seberang pulau.
Tanah yang melindungi fondasi jembatan terkelupas. Oprit jembatan pun mudah
anjlok, apalagi bila kendaraan yang melewatinya —jalan ini adalah jalan Trans Kalimantan yang menghubungkan Kalimantan Selatan dengan Kalimantan Tengah— bertambah banyak dan berukuran besar.
Lebih dari itu, penambahan luas Pulau Bakut sebenarnya mengindikasikan bahwa daerah tangkapan air (DTA) di bagian hulu Sungai Barito tererosi sangat parah. DTA masuk dalam wilayah 10 kabupaten/kota di Kalimantan Selatan serta sedikitnya 4 kabupaten di Kalimantan Tengah.
Di DTA tersebut banyak faktor penyebab erosi. Faktor utama adalah
penambangan batubara sistem terbuka.
Penambangan dilakukan oleh
perusahaan tambang dengan ijin Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (melalui PKP2B), ijin bupati (melalui kawasan penambangan), dan bahkan tanpa ijin. Faktor lainnya adalah pembangunan kebun sawit,
pengembangan permukiman (akibat pemekaran wilayah atau pertambahan penduduk), serta pembangunan infrastruktur (jalan angkutan batubara).
Hasil erosi (sedimen) membentuk gosong serta mendangkalkan alur Sungai Barito. Salah satu gosong terbentuk di tepi Sungai Barito ±500 m dari ujung pulau bagian hulu dan dapat dilihat dari Jembatan Barito.
Pendangkalan dibuktikan dengan lengan ekskavator penggali atau pengangkat pasir yang panjangnya hanya sekitar 6 m.
Akankah kondisi seperti ini terus tidak dipedulikan? Akankah perlakuan diberikan, setelah masalahnya menjadi lebih rumit? Jawabannya bergantung pada pemerintah setempat atau
pemerintah provinsi sebagai penanggung jawab serta pada masyarakat sebagai pengguna. zz
Daftar Pustaka
BKSDA Kalsel. 2008. Kawasan Konservasi Kalimantan Selatan.
Banjarbaru: Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan.
* Dosen Fakultas Kehutanan, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru [email protected] Gambar 2. Penambangan pasir di ujung timur laut Pulau Bakut
Gambar 3. Rambai, bioindikator sedimentasi di tepi barat laut Pulau Bakut ... Sambungan dari halaman 3