5 BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Definisi Ergonomi
Ergonomi secara umum membahas hubungan antara manusia pekerja dengan tugas-tugas dan pekerjaanya serta desain dari objek yang digunakan.
Ergonomi berusaha untuk menjamin bahwa pekerjaan dan setiap tugas dari pekerjaan tersebut didesain agar sesuai dengan kemampuan dan kapasitas pekerja, untuk mewujudkan efisiensi dan kesejahteraan kerja (Jayanti, Setyaningsih, & Mutiah, 2013). Secara umum tujuan ergonomi dari penerapan ergonomi adalah meningkatankan kesejahtraan fisik dan mental sebagai upaya pencegahan cedera dan penyakit akibat kerja yang dilakukan, menurunkan beban kerja fisik maupun mental, mengelola dan mengkoordinir kerja secara tepat guna, menciptakan keseimbangan rasional antara aspel teknis, aspek ekonomis, antropologis, dan budaya dari setiap sistem kerja yang dilakukan.
Salah satu faktor yang mempengaruhi ergonomi adalah postur dan sikap tubuh pada saat melakukan aktivitas tersebut. Hal tersebut sangat penting untuk diperhatikan karena hasil produksi sangat dipengaruhi oleh apa yang dilakukan pekerja. Bila postur kerja yang digunakan pekerja salah atau tidak ergonomis, pekerja akan cepat lelah sehingga konsentrasi dan tingkat ketelitiannya menurun. Pekerja menjadi lambat, akibatnya kualitas dan kuantitas hasil produksi menurun yang pada akhirnya menyebabkan turunnya produktivitas (Wahyu Susihono & Wahyu Prasetyo, 2012).
Dalam ilmu ergonomi terdapat beberapa metode yang membahas tentang anggota tubuh bagian atas diantaranya adalah :
Tabel 2. 1 Perbedaan beberapa metode dalam ergonomi
Metode Keterangan
Rapid Entire Body Assissment (REBA)
Suatu metode dalam bidang ergonomi yang digunakan secara cepat untuk menilai postur leher, punggung, lengan, pergelangan tangan dan kaki seorang pekerja.
(Dababneh, A. .2016)
Rapid Upper Limb Assessment (RULA)
Sebuah metode untuk menilai postur, gaya dan gerakan suatu aktivitas kerja yang berkaitan dengan penggunaan anggota tubuh bagian atas (upper limb). (Corlett, N. 2004)
American Conference of Governmental Industrial Hygienists
(ACGIH-HAL)
Metode untuk evaluasi faktor-faktor resiko pekerjaan yang berkaitan dengan gangguan muskoluskeletal pada tangan dan lengan.
(Bernard,2001)
Dari ketiga metode tersebut memiliki kriteria yang berbeda-beda dan pada penelitian ini penulis memilih metode American Conference of Governmental Industrial Hygienists (ACGIH-HAL) dikarenakan metode tersebut paling sesuai berdasarkan keluhan pekerja yaitu pada bagian tangan.
2.2 Cummulative Trauma Disorders (CTDs)
Cummulative Trauma Disorders (CTDs) adalah sekumpulan gangguan, luka/kekacaua pada sistem muskuloskeletal berupa cedera pada syaraf, otot, tendon, ligamen, tulang dan persendian pada titik-titik ekstrim tubuh bagian atas (pergelangan, tangan, bahu dan siku), pada tubuh bagian bawah (lutut, kaki dan pinggang) dan bagian tulang belakang (leher dan punggung). CTDs juga dapat diartikan sebagai ganguan umum bersifat kronik yang meliputi berbagai jenis cedera pada jaringan lunak tubuh seperti otot, ligament, persendian dan saraf yang diakibatkan oleh penggunaan tenaga secara repetitif, pergerakan yang cepat, penggunaan tenaga yang besar, kontak dengan tekanan, postur janggal atau ekstrim, getaran dan temperature yang rendah (Putri Desiani.,dkk, 2017). Masalah ini dapat berdampak kepada menurunnya produktivitas kerja, kualitas kerja, serta tingginya angka absenteisme dan turnover pada pekerja.
Aktivitas pekerjaan yang berulang-ulang mendapat perhatian besar dalam usaha peningkatan kualitas kehidupan kerja (quality of working life), karena sering menimbulkan kecelakaan kerja.
Gangguan Cummulative Trauma disorders (CTDs) merupakan gejala yang paling umum yaitu sakit pada bagian punggung. Dalam European Union 2007, sekitar 43% pekerja mengeluh sakit punggung dan sekitar 41%
melaporkan nyeri otot pada bahu. Karena itu, gangguan CTDs adalah yang paling banyak dilaporkan kesehatan terkait masalah pekerjaan (Jackson, 2006). Gejala CTDs biasanya muncul pada jenis pekerjaan yang monoton, sikap kerja yang tidak alamiah, penggunaan atau pengerahan otot yang melebihi kemampuannya (Budiono.,dkk 2003 dalam Novian 2013). Orang yang mengalami CTDs sering mengalami rasa sakit dan cedera, dan dalam beberapa kasus mungkin memerlukan pembedahan. Karena secara bertahap berkembang seiring waktu, CTDs tidak selalu mudah dideteksi atau dihindari.
Inilah yang perlu diketahui organisasi/perusahaan tentang bahaya kesehatan yang berpotensi berbahaya ini dan apa yang dapat dilakukan untuk mencegahnya di tempat kerja.
Kebanyakan Gangguan Trauma Kumulatif dapat dipecah menjadi dua kategori: gangguan tendon dan gangguan saraf yaitu:
a. Gangguan Tendon
Tendon adalah jaringan seperti serat yang menghubungkan otot ke tulang. kerusakan di tendon dapat terjadi saat otot digunakan dan jika tidak sembuh dengan baik maka seiring berjalannya waktu akan menjadi masalah yang serius.
Salah satu jenis gangguan tendon yang paling umum adalah Tenosynovitis, yang disebabkan ketika selubung pelindung di sekitar tendon meradang. Ini sebagian besar mempengaruhi sendi di tangan, kaki, dan kaki. Gerakan sendi menjadi lebih sulit, dan pembengkakan dapat terjadi di daerah yang terkena. Kista ganglionik adalah jenis CTDs umum lainnya. Kista ini terbentuk di pergelangan tangan dari pengumpulan cairan sendi di pergelangan tangan (mengetik adalah
penyebab umum). Penyakit De Quervain terbentuk di sekitar ibu jari dan dapat menjalar ke lengan. Seperti Tenosynovitis, ini biasanya disebabkan oleh gerakan pergelangan tangan atau tangan berulang yang menyebabkan selubung tendon menjadi meradang.
b. Gangguan Saraf
Pekerjaan yang membuat pekerja ditekan, seperti sering menggunakan alat, dapat membuat kerusakan saraf. Salah satu gangguan saraf yang paling umum adalah Carpal Tunnel Syndrome, di mana rongga-rongga di pergelangan tangan runtuh dan menekan saraf- saraf yang berlari ke tangan. Jika tidak ditangani, kelainan ini dapat menyebabkan hilangnya tangan secara permanen. CTDs umum lainnya, Syndrom Raynaud, disebabkan oleh penggunaan alat bergetar yang berkepanjangan. Kulit pucat dan mati rasa di jari adalah gejala umum, dan itu bisa menyebabkan hilangnya otot di tangan.
Gangguan Trauma Kumulatif dapat terjadi akibat pola gerakan yang berulang, duduk, membungkuk, meraih, meregangkan atau mengangkat selama beberapa jam setiap hari atau beberapa hari setiap minggu sehingga akan menciptakan "mikro-trauma" pada tubuh. Tubuh membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan dan beristirahat dari pekerjaan yang dilakukannya. Ketika tidak dapat sepenuhnya pulih dan diperbaiki sebelum harus bekerja lagi, trauma mulai berkembang. Seiring waktu, trauma ini memanifestasikan diri sebagai Gangguan Trauma Kumulatif. Banyak pekerjaan yang rentan terhadap CTDs, mulai dari bekerja di meja hingga berdiri sendiri di gudang. Setiap gerakan yang dilakukan secara berlebihan membuat tubuh berisiko terkena CTDs, terlepas dari apakah gerakan itu tampak tidak berbahaya atau tidak.
CTDs merajalela di berbagai industri, dan tidak banyak pekerjaan yang aman dari bahaya. Diyakini mempengaruhi hampir 3% populasi dewasa di Amerika Serikat . Jika dibiarkan atau tidak diobati, efek CTDs bisa menjadi permanen. Beberapa industri yang paling umum di mana CTDs berperan adalah konstruksi, manufaktur, pekerjaan kantoran, permesinan, dan gudang.
Namun, siapa pun yang aktif secara fisik atau mengalami postur tidak alami dalam waktu lama, atau sering menganggur (seperti duduk di depan komputer) mungkin berisiko terkena CTDs.
2.3 Koesioner Nordic Body Map (NBM)
Nordic Body Map adalah salah satu metode pengukuran subjektif untuk mengukur keluhan sakit pada otot para pekerja. Kuesioner Nordic Body Map merupakan bentuk kuesioner checklist ergonomi. Kuesioner Nordic Body Map merupakan kuesioner paling sering digunakan guna mengetahui ketidaknyamanan pada para pekerja karena sudah terstandarisasi dan tersusun rapi (KB and Kromer, 1994).
Pengisian kuesioner Nordic Body Map bertujuan untuk mengetahui bagian tubuh dari pekerja yang terasa sakit sebelum dan sesudah melakukan pekerjaan (Wilson and Corlett, 2005). Berikut merupakan tabel kuesioner Nordic Body Map:
(Sumber : Tabel Standard Nordic Questionaire n.d)
Gambar 2. 1 Koesioner Nordic Body Map Tabel 2. 2 Keterangan skor nordic body map
Keterangan Scoring Keterangan Tingkat Resiko Berdasarkan Skor Hasil Skor 0 Tidak Sakit 0-20 Rendah (tidak diperlukan perbaikan)
Skor 1 Agak Sakit 21-41 Sedang (Sebaiknya dilakukan perbaikan) Skor 2 Sakit 42-62 Tinggi (diperlukan perbaikan)
Skor 3 Sangat Sakit 63-84 Sangat Tinggi (diperlukan perbaikan segera) Sumber : (Wilson and Corlett, 2005)
2.4 American Conference of Governmental Industrial Hygienists – Hand Activity Level (ACGIH-HAL)
The American Conference of Governmental Industrial Hygienists (ACGIH®) Threshold Limit Value® (TLV®) for Hand Activity (2010) mengumumkan metode untuk evaluasi faktor-faktor resiko pekerjaan yang berkaitan dengan gangguan muskoluskeletal pada tangan dan lengan. Evaluasi berdasarkan beban aktivitas tangan dan level kerja untuk postur tertentu ketika melakukan sebuah pekerjaan dengan waktu siklus kerja yang pendek (Bernard,2001).
Tahapan dalam evaluasi resiko menggunakan The American Conference of Governmental Industrial Hygienists Threshold Limit Value® for Hand Activity Level (ACGIH-HAL-TLV) adalah sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi level dari aktivitas tangan dalam skala 0 sampai 10 (dimana 0 adalah tidak ada aktivitas dan 10 adalah level tertinggi dalam aktivitas tangan). Identifikasi level berdasarkan gambar 2.2. Hand Activity Level Rating
Gambar 2. 2 Hand Activity Level Rating
2. Menghitung frekuensi penggunaan tenaga dan presentase beban siklus kerja. Besarnya nilai frekueensi penggunaan tenaga dan presentase beban siklus kerja dapat dilihat pada tabel 2.3
Tabel 2. 3 Menghitung Nilai HAL (ACGIH,2010).
Frekuensi (tenaga/s)
Periode (s/tenaga)
Beban Siklus Kerja (%)
0-20 20-40 40-60 60-80 80-100
0.125 8.0 1 1 - - -
0.25 4.0 2 2 3 - -
0.5 2.0 3 4 5 5 6
1.0 1.0 4 5 5 6 7
2.0 0.5 - 5 6 7 8
Frekuensi =𝐹𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑃𝑒𝑛𝑔𝑔𝑢𝑛𝑎𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑛𝑎𝑔𝑎
𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 (𝐷𝑒𝑡𝑖𝑘) (2.1)
Periode = 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 (𝐷𝑒𝑡𝑖𝑘)
𝐹𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑃𝑒𝑛𝑔𝑔𝑢𝑛𝑎𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑛𝑎𝑔𝑎 (2.2) Beban Siklus Kerja = ( 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 𝐾𝑒𝑟𝑗𝑎
(𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 + 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 𝐼𝑠𝑡𝑖𝑟𝑎ℎ𝑎𝑡) 𝑥 100% (2.3) Catatan:
a. Pembulatan nilai HAL ke nilai paling terdekat.
b. Menggunakan gambar Level Aktivitas Tangan untuk menentukan nilai HAL diluar yang terancam dalam tabel.
3. Menghitung nilai Skor Skala Borg
Mengukur dan menghitung denyut jantung pekerja, dimana nilai detak jantung dalam skala 60-200 denyut/menit sama dengan nilai Rating Percieved Exertion (RPE) atau jumlah tenaga yang dikeluarkan dalam skala 6-20 (Borg,1982). Persamaan skala antara nilai tenaga yang dikeluarkan dan denyut jantung ditunjukkan pada tabel 2.4
Tabel 2. 4 Skala Nilai RPE dan Denyut Jantung
Skala Denyut Rating Percieved Exertion (RPE)
6 60
Sangat Ringan Sekali
7 70
8 80
9 90 Sangat Ringan
10 100
Ringan
11 110
12 120
13 130 Cukup Berat
14 140
Berat
15 150
16 160
17 170
Sangat Berat
18 180
19 190
Sangat Berat Sekali
20 200
Hubungan persamaan antara nilai skala RPE dan skala ratio dapat dilihat pada tabel 2.5
Tabel 2. 5 Hubungan Skala RPE dengan Skala Rasio Borg
Skala RPE Skala
Rasio Kesan Pekerja
6 0
7 0,3
7,5 Sangat Sangat Ringan 0,5 Sangat Lemah Sekali
8 1 Sangat Lemah
9 1,5
10
Cukup Ringan 2 Lemah (Ringan)
11 2,5
12 3 Menengah
13 Cukup Berat 4
14 5 Kuat (Berat)
15 Berat 6
16 7 Sangat Berat
17 Sangat Berat 8
18 9 Sangat Berat Sekali
19 Sangat Sangat Berat 10
20 *
Dalam pengukuran denyut jantung terdapat beberapa ketentuan, diantaranya sebagai berikut :
a. Satuan yang digunakan dalam pengukuran denyut jantung yaitu denyut/menit.
b. Pengukuran denyut jantung dilakukan dengan menggunakan alat Pulse Meter.
c. Pengukuran dilakukan pada tangan kiri dari pekerja.
d. Pengukuran dilakukan setiap periode 1 jam sekali pada saat bekerja
e. Menghitung rata-rata denyut jantung pekerja.
4. Mengkarakteristikan level kerja menghubungkannya tenaga yang dikeluarkan dalam satu siklus kerja dan menghitung NPF. Normalized
Peak Force (NPF) adalah level relatif dari pekerjaan dalam skala 0 dampai 10 dimana rata-rata tenaga yang dikeluarkan manusia pada postur yang sama untuk menyelesaikan pekerjaan. Besarnya gaya yang digunakan dapat diukur dengan menggunakan satu dari ketiga metode yaitu Percent of Maximum Vountary Contraction (MVC) yaitu perbandingan gaya dengan populasi pada postur yang sama, menggunakan electromyography), Subjective Perceived Exertion (Borg Scale), dan Moore Garg Observer Scale. Berikut hubungan level kerja dan nilai NPF sesuai dengan hubungan perhiungan NPF dengan menggunakan ketiga metode (ACGIH,2010).
Perhitungan NPF diperoleh dengan menggunakan perhitungan nilai Skala Borg dengan hubungan sebagai berikut:
Tabel 2. 6 Perhitungan NPF dan Kekuatan Tangan
% MVC Skala Subjektif (Borg Scale) Moore-Garg Observer Scale
(Alternative Method) NPF Skor Kesan Pekerja
0 0 Tidak semua 0
5 0.5 Sangat Lemah Sekali (Terlihat Jelas)
Pengerjaan yang Jarang Terlihat atau Santai
0.5
10 1 Sangat Lemah 1
20 2 Lemah (Ringan) Pengerjaan yang Terlihat atau Pasti
2
30 3 Mencegah 3
40 4 Upaya Pengerjaan Jelas, Namun
Tidak Mempengaruhi Kondisi Fisik Pekerja
4
50 5 Kuat (Berat) 5
60 6 Upaya Pengerjaan yang Besar dan
Mempengaruhi kondisi Fisik Pekerja
6
70 7 Sangat Kuat 7
80 8 8
90 9 Jenis Pengerjaan dengan Tenaga
dan Upaya yang Besar
9 100 10 Sangat Kuat Sekali
(Hampir Maksimum)
10
5. Menempatkan kombinasi dari HAL dan NPF dalam grafik TLV.
Gambar 2. 3 Grafik Threeshold Limit Value (TLV)
6. Mengevaluasi hasil perhitungan yang telah dilakukan dengan menggunakan tabel analisis ACGIH-HAL TLV, seperti pada tabel 2.7
Tabel 2. 7 Analisis ACGIH-HAL TLV
Ketentuan Analisis Grafik Threeshold Limit Value (TLV)
1. Apabila titik berada di atas garis Threeshold Limit Value (TLV) artinya perlakuan tidak dapat diterima, perubahan tempat kerja harus dilakukan untuk mengurangi dampak buruk perlakuan.
2. Apabila titik berada di antara garis Action Limit (AL) dan Threeshold Limit Value (TLV) artinya penentuan batas kerja, perubahan tempat kerja harus dipertimbangkan yang memungkinkan dapat mengurangi perlakuan, pengawasan kepada pekerja seharusnya dilakukan.
3. Apabila titik berada di bawah garis Action Limit (AL) artinya perlakuan diterima.
2.5 Antropometri
Menurut (Nurmianto, 1996) antropometri berasal dari kata Anthropos (manusia) dan metricos (pengukuran). Antropometri merupakan satu kumpulan data numerik yang berkaitan dengan karakteristik fisik tubuh manusia, ukuran, bentuk, dan kekuatan, serta pengaplikasian dari data tersebut untuk penyelesaian desain. Data antropometri merupakan data dari hasil pengukuran yang digunakan untuk perancangan fasilitas kerja, data-data tersebut adalah data ukuran dimensi manusia, yang menjadi target pengukuran adalah setiap manusia yang menggunakan fasilitas kerja.
Menurut (Wignjosoebroto, 2008) antropometri meliputi bermacam- macam ukuran tubuh manusia seperti berat badan, posisi ketika berdiri, ketika merentangkan tanagan, lingkar tubuh, panjang tungkai, dan sebagainya.
Dimensi tubuh kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok statistik dan ukuran persentil. Apabila terdapat seratus orang yang berdiri sejajar dengan urutan dari yang paing kecil ke yang paling besar, maka dapat digolongkan dari 1 persentil sampai 100 persentil. Presentil merupakan jumlah bagian per seratus orang dari suatu populasi yang memiliki ukuran tubuh tertentu yaitu lebih kecil atau lebih besar. Data antropometri dapat digunakan untuk merancang statiun kerja, fasilitas kerja, maupun desain dari sebuah produk dengan tujuan
memperoleh ukuran yang sesuai dan layak digunakan dengan dimensi tubuh penggunanya. Dalam pengukuran dimensi struktur tubuh (static anthropometry) terdapat beberapa dimensi tubuh yang akan diukur, diantaranya adalah:
Gambar 2. 4 Dimensi tubuh manusia untuk pengukuran antropometri
Untuk keterangan gambar diatas dapat dilihat pada tabel 2.8 berikut ini:
Tabel 2. 8 Dimensi tubuh manusia untuk pengukuran antropometri Kode
Dimensi Nama Dimensi Definisi
D1 Tinggi tubuh Jarak vertika dari lantai sampai ujung kepala
D2 Tinggi mata Jarak vertika dari lantai ke bagian luar sudut mata kanan
D3 Tinggi bahu Jarak vertika dari lantai ke bagian atas bahu kanan atau ujung tulang bahu kanan D4 Tinggi siku Jarak vertika dari lantai ke titik bawah di
sudut siku bagian kanan
D5 Tinggi tulang ruas Jarak vertical dari lantai ke bagian tulang ruas/kuku jari tangan kanan
D6 Tinggi badan pada posisi duduk Jarak vertika dari alas duduk ke bagian paling atas kepala
D7 Tinggi mata dalam posisi duduk Jarak vertika dari alas duduk ke bagian luar sudut mata kanan
D8 Tinggi bahu dalam posisi duduk Jarak vertika dari alas duduk ke bagian atas bahu kanan
D9 Tinggi siku dalam posisi duduk Jarak vertika dari alas duduk ke bagian bawah lengan bawah tangan kanan
D10 Tebal atau lebar paha Jarak vertika dari alas duduk ke bagian paling atas dari paha kanan
D11 Panjang paha yang diukur dari pantat sampai ujung lutut
Jarak horizontal dari bagian belakang pantat (pinggul) ke bagian depan lutut kaki kanan
D12 Panjang paha yang diukur dari pantat sampai bagian belakang dari lutut/betis
Jarak horizontal dari bagian belakang pantat (pinggul) ke bagian belakang lutut kanan
D13 Tinggi lutut yang bisa diukur baik dalm posisi berdiri ataupun duduk
Jarak vertikal dari lantai sampai ke tempurung lutut kanan
D14 Tinggi tubuh dalam posisi duduk yang diukur dari lantai sampai dengan paha
Jarak vertikal dari lantai ke paha tepat dibagian belakang lutut kaki kanan D15 Lebar dari bahu bisa diukur baik
dalam posisi berdiri ataupun duduk
Jarak horizontal antara sisi paling luar bahu kiri dan sisi paling luar bahu kanan D16 Lebar pinggul/pantat Jarak horizontal antara bahu atas kanan
dan bahu atas kiri D17 Tebal dada
Jarak horizontal dari bagian belakang tubuh ke bagian dada untuk subjek laki- laki atau bagian buah dada untuk subjek wanita
D18 Tebal perut
Jarak horizontal dari bagian belakang tubuh ke bagian yang paling menonjol dibagian perut
D19
Panjang siku yang diukur dari siku sampai ujung jari – jari dalam posisi siku tegak lurus
Jarak dari bagian atas bahu kanan e ujung jari tengah tangan kanan dengan siku dan pergelangan tangan kanan lurus D20 Lebar kepala
Jarak horizontal dari sisi kepala bagian kiri ke sisi kepala bagian kanan, tepat diatas telinga
D21 Panjang tangan Jarak yang diukur dari pergelangan sampai ujung jari
D22 Lebar telapak tangan
Jarak antara kedua sisi luar empat buku jari tangan kanan yang diposisikan lurus dan rapat
D23 Jarak bentang tangan ke samping
Jarak yang diukur dari ujung jari tengah tangan kanan ke ujung jari tengah tangan kiri
D24
Tinggi Pegangan Tangan (grip) pada Posisi Tangan Vertikal ke Atas &
Berdiri Tegak
Jarak vertical dari lantai ke pusat batang silinder yang digenggam oleh telapak tangan kanan
D25
Tinggi Pegangan Tangan (grip) pada Posisi Tangan Vertikal ke Atas &
Duduk
Jarak vertical dari alas duduk ke pusat batang silinder
D26
Jarak jangkauan tangan yang terjulur ke depan diukur dari bahu sampai ujung jari tangan
Jarak yang diukur dari bagian belakang bahu kanan (tulang belikat) ke pusat batang silinder yang digenggam oleh telapak tangan kanan
Sumber : (Wignjosoebroto, 2008)