1985-9
EMPAT PULUH TAHUN
INDONESIA MERDEKA:
)EOLOGI, POLITIK
I DAN EKONOMI
CENTRE FOR STRATEGIC AND INTERNATIONAL STUDIES
Pemiinpin Redaksi/
Pel1angiiuiig
J
awah Dewan
RedaksiRedaksi Pelaksana
STT
ISSN
A
lamaIDiterbilkan oleh
CENTRE FOR
STRATEGICAND
INTERNA-TIONAL
STUDIES (CSIS) sebagai icibiiaii bcikala yang incnya- jikan analisa-analisa pcrisiiwa dan masalali inicrnasional dan na- sional, baik idcologi dan poliiik maupiin ekonomi, sosial budaya dan pcriahanan scria kcamanan, yang diiulis olcli SiafCSIS. Tc- lapiANALISA
juga menoiima lulisan-iulisan dari luar CSIS dan mcnycdiakan lionoiaria bagi karangan-karangan yang diniuai.Tulisan-lulisan daiam
ANALISA
lidak sclalu mcnccrminkan pan- dangan CSIS.Pande
RadjaSILALAHI
Daoed JOESOEF
Rufinus
LAHUR
J.
PANGLAYKIM
A.M.W. PRANARKA
M.
HadiSOESASTRO
Harry
TJAN SILALAHI
Jusuf
WANANDI
Clara
JOEWONO
Kirdi
DIPOYUDO
A. Sudiharto
DJIWANDONO
Djisman S.
SIMANDJUNTAK
J. Soedjati
DJIWANDONO
Ronald
NANGOI
Pande
RadjaSILALAHI
Ronald
NANGOI
S.
TJOKROWARDOJO
SK Menpen RI No. 509/SK/DITJEN PPG/STT/1978,
tanggai 28 Agustus 1978 0I26-222X
Redaksi : Jalan Tanah Abang III/27, Jakarta 10160.
Telepon 356532, 356533, 356534. 356535
Ta{a Usaha : Biro Publikasi CSIS, Jalan Tanati Abang 111/27,
Jakarta 10160, Telepon 356532, 356533, 356534, 356535
(\mi\s(\
TAHUN
XIV, NO. 9,SEPTEMBER
1985PENGANTAR REDAKSI
716KESINAMBUNGAN, PENATAAN, DAN IDEOLOGI
A.M.W.
PRANARKA
719MEMANTAPKAN PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI
NEGARA
BABARI 732
PEMBANGUNAN IDEOLOGI SELAMA ORDE BARU:
PROBLEM DAN PROSPEKNYA
M.
DJADIJONO
749MASALAH DAN PROSPER KELEMBAGAAN DI
BIDANG POLITIK
Sarwono
KUSUMAATMADJA
764IKHTISAR MASALAH EKONOMI
HadiSOESASTRO 772
DALAM MASA PASCA-MINYAK HENDAKNYA DIPIKIRKAN KONSEP "FULL SERVICES" BANKING
J.
PANGLA
YKIM 776Pengantar Redaksi
Penerbitan
ANALISA
bulan Agustusyang
lalu secara khusus menyoroti perihalpolitik luar negeriIndonesia selama kurun waktuempat
puluh tahun Indonesia merdeka. Sebagai kelanjutan dan untuk melengkapipembahasan-pembahasan
tersebutmaka
dalampenerbitanANALISA
bulan Septemberinidikemukakan
masalah-masalahyang
berkaitan dengan masalah ideologi, politik dan ekonomi.A.M.
W.PRANARKA
dalam tulisan pertamayang
berjudul "Kesinam- bungan, Penataan, dan Ideologi"secara mendasarmembahas
pengertian danpemahaman
tentang ideologi. Berdasarkan pengertian danpemahaman
ter-sebut penulis antara lain secara lugas
mengemukakan bahwa
selama pencip- taan kerangka landasanmaupun
sepanjang perjalanan bangsa Indonesia,pembangunan
ideologitetapmerupakan
halyangesensial.Dengan
melakukan perbandingan dengan ideologiyang
dianut oleh bangsa-bangsa lain penulismenunjukkan
secarajelas Pancasilayang pada
hakikatnya adalah rumusandari ideologi,
tumbuh
danberkembang
sebagai bagian dari sejarah dan kebudayaan Indonesia. Sebagai kelanjutan dari analisa tersebut selanjutnya penulismengemukakan
berbagai masalah aktual ideologi kebangsaan kita,problem pengembangan
serta berbagaikemungkinan
problem dimasa
depan.Kalau
dalam
artikelyang
pertamaA.M.
W. Pranarkamembahas
perihal ideologi secara sangat mendasar,maka
dalam tulisan kedua yang berjudul"Memantapkan
Pancasila Sebagai Ideologi Negara," BABARI
dalam ana- lisanyamengemukakan bahwa
usahamemantapkan
Pancasila sebagai ideo- logi negara semakin diperlukan. Kesimpulan seperti ini didasarkan atas ke-yakinan penulis
bahwa
Pancasila sebagai ideologi negara dan sekaligus se-bagai dasar negara telah menjadi kesepakatan nasional,
yang
selayaknya di-taati
demi
tercapainya tujuan dan cita-cita bangsa. Pancasila telahmampu
memberikan
harapan bagi masyarakatyang
dapat dipertanggungjawabkan secara rasionalmaupun
emosional.Namun mempertimbangkan ham
batan, tantangan, ancaman,maupun
gangguanyang
dihadapi Pancasila di dalam proses perjalanannya, penulis menginginkan usahapemantapan
jangan sam- pai diabaikan.Salah satu hal
yang tampak
secarajelas dan menonjol dalammasa
OrdeBaru
adalah dilaksanakannyapembangunan
ideologi.Dalam
tulisannyayangIPENGANTAR
REDAKSI 717berjudul
"Fembangunan
Ideologi Selama Orde Baru: Problem dan Prospek-\nya,
" M. DJADIJONO
menyoroti langkah-langkah dan permasalahanyang
\dihadapi Orde Baru dalam usaha
pembangunan
ideologi.Dengan
melakukan ipengkajian tentang latar belakang perjuangan Orde Baru beserta eksponen- teksponennya, penulis ini menyimpulkanbahwa
dengan ditetapkannya Pan-tcasilasebagai satu-satunya asas bagikehidupan berbangsa, bernegaradan ber-
imasyarakat adalah merupakan usahayang sangat bermakna.
Jika di
masa
lalu kehidupan politik kita diwarnai dengan konflikpolitikIdan krisis politik yang mencapai
puncaknya pada
saat meletusnyaPembe-
)rontakan G-30-S/PKI,
maka
dalammasa
Orde Baru telah dicapai prestasi lyang menggembirdkan, yakni tertanamnya legitimasi kelembagaan politikI Orde Baru baiksupra
maupun
infrastrukturnya.Dalam
tulisan keempatyangIberjudul "Masalah dan Prospek Kelembagaan di Bidang Politik,
" Sarwono
iKUSUMAATMADJA mengupas
berbagai langkah serta suasanayang sema-Ikin melembagakan kehidupanpolitik diIndonesia.
Menurut
penulis, prospekike arah majunya peranan kelembagaan politik kita akan senantiasa cerah
Idengan adanya
komitmen
yang teguh dariparapenyelenggara negara untukiselalu mendekatkan diri
pada
cita-cita kemerdekaan bangsa.Di
samping itu(dikemukakan penataan kelembagaan di bidangpolitik hendaknya dilakukan [dengan berdasar
pada
sikap keterbukaan dankemampuan
adaptasi yang;moderat, sertayang terpenting
bahwa
langkah tersebutmampu
dipahamioleh :seluruh rakyat.Selama empat puluh tahun Indonesia merdeka banyak halyang dapat di-
i ungkapkan mengenai masalah yang berkaitan dengan ekonomi. Karena tu^
Juan pokok pembangunan ekonomi
adalah untuk meningkatkan kesejahte-.raan rakyat,
maka
adalah tepat bila sekarang, dalam usiaempat puluh tahunImerdeka, kita lebih mencurahkan perhatian kepada usaha peningkatan kese- Jahteraan rakyat tersebut.
Dengan
dasar pemikiran tersebutHadi SOE- .SASTRO
secara ringkas dan jelasmengemukakan
masalahekonomi
yang dihadapi oleh Indonesia.Dalam
tulisannyayang berjudul "IkhtisarMasalah Ekonomi, "penulismengemukakan
masalah-masalah inti melaluipendekatan tematik dan masalah-masalah tersebut disimpulkan berdasarkan pengkajian. yang mendalam.
Dalam
dua dekade terakhir ini,pembangunan ekonomi
yang dilakukan oleh Indonesia sangat banyak ditunjang oleh hasilyang diperoleh darisektor minyak. Berkah minyak telah berakhir dan sekarang kita telahmemasuki
era pasca-minyak.Hal
ini berartibahwa
masalah danapembangunan
dan/atau masalah perbankan dan Jembaga keuangan perlu mendapat perhatian. Se-hubungan dengan ini J.
PANGLA YKIM
dalam tulisannya yang berjudul,"Dalam Masa
Pasca-MinyakHendaknya
DipikirkanKonsep
'Full Services'718
ANALISA
1985 -9Banking," mengemukakan bahwa
Indonesia,mau
tidakmau
harus me- nyiapkan diri ke arah "full services banking," yang
antara lain dengan men- ciptakan sarana bisnisyanglebihcanggih dalam rangka melaksanakanstrategi ekspor,yang
sekarang ini telahmerupakan
suatu tuntutan yangperlu dilak- sanakan.Untuk
mencapai sasaran ekspor dengan jumlah tertentu dalam 20 sampai 25 tahunyang
akan datang atau untukmenjamin
penghasilan devisademi
kelangsunganpembangunan
danperkembangan
perekonomian na- sional,maka
kendala-kendalayang
bersifat ekonomi, politik, dan sosiologis perlu diatasi. Secara singkat dapat dikatakanpenulis menginginkan perlunya dilakukanpembaharuan
secara berkesinambungan sesuai dengan tuntutan perkembangan, dan khususmenyangkut
perbankan penulis menginginkan agarperbankan
dan lembagd-lembaga keuangan dapat berfungsi sebagai ak- selerator danpemain yang
efektifdalammewujudkan
cita-cita bangsa khu- susnyadalam
bidang ekonomi.Penerbitan
ANALISA
bulan Agustus dan September ini seperti yang di-maksudkan
dengan sengajamengemukakan
beberapa tema yang berkaitan denganpembangunan
nasionalsesudah Indonesia berusiaempat
puluh tahun.Banyak
masalah-masalah penting lainnyayang
belum dikemukakan dan di- harapkan akan dapatdikemukakan
dalampenerbitan-penerbitan selanjutnya.September1985
REDAKSI
Kesinambungan, Penataan, dan Ideologi
A.M.W. PRANARKA
IBATASAN PENGERTIAN
Ideologi adalah hal yang kompleks. Pengertiannyapuntelah menjadiamat rmajemuk dan berbeda-beda: lain bagi de Tarcy lain pula bagi Napoleon; lain tbagi Feuerbach lain lagi bagi Karl
Marx
ataupun Althuser; lain bagikaum
l^komunis lain lagi untuk kalangan
Neo
Marxis, dan berbedapula bagi berbagai' Ikalangan ilmiah dan akademik. Di dalam pengertian-pengertian itu terungkap tbahwa ideologimencakup
di dalamnya dimensi kognitif manusia (dewasa iniiideologi lazim dipandang sebagai suatu beliefsystem)
mengandung
unsur ke- [pentingan, interest pamrih ataupun cita-cita(maka
itu ideologi kadang-i'kadang digolongkan kepada pemikiran yang sifatnya pragmatik dan kadang- (kadang manipulatiQ, dan terkait dengan aksi
(maka
ideologi dipandang ber-talian dengan apa yang disebut ideo-praksis). Penggabungan secara komulatif
idari aspek-aspek tersebut tidak jarang
menimbulkan
suatupemahaman
inengenai ideologi sebagai hal yang menyentuh
komitmen
yang sifatnya total.'Namun dari lain pihak tidak jarang pula orang meninjau ideologi sebagai hal yang sifatnya parsial semata-mata. Tidaklah mengherankan apa.bila dewasa
ini terdapat persepsi yang berbeda-beda pula mengenai ideologi itu: ada sementara kalangan yang
memandang
era ideologi telah mati dan karenanyaitiada manfaat berpikir mengenai ideologi itu; sementara kalangan lain sibuk
iterlihat dengan usaha
memacu
ataupunmenumbuhkan
ideologi baru, baik yang bersifat keagamaanmaupun
yang jenisnya non-keagamaan. Pandangan!.yang mengatakan era ideologi telah mati itupun bahkan dipandang sebagai
^suatu bentuk ideologi pula
Ideologi makin puladibedakan dari ilmu, filsafat, dan theologi,
namun
de- nmikian ideologi menjadimembaur
dengan semuanya: dengan ilmu, theologi,filsafat, dengan ekonomi, politik atau
hukum,
dengan kehidupan negara dan720
ANALISA
1985 -9perkembangan
masyarakat, dengan kekuatan dan kekuasaan, denganmasa
lampau,masa
kini danmasa
depan.Ideologi sebagai kenyataan sejarah
tampaknya
tidak diingkari lagi.Dan
ideologi itupun
tampaknya
harus dipahami sebagai bagian dari sejarahmanu-
sia yang sifatnya evolutif,
majemuk. Semua
itu pangkalnya adalah manusia:manusia yang berideologi, bernegara, bermasyarakat, beragama,
mengem- bangkan
pengetahuan, dan lain sebagainya.Di Indonesia kata ideologi sudah lama lazim dipakai dan
memang
cukup memasyarakat pula. Di Indonesia kata ideologimengandung
di dalamnya artisebagai
"pedoman
perjuangan," "pegangan perjuangan," Di dalamnya terkandung aspek ajaran atau doktrin (pengetahuan), dan terkait pula denganaksi, pergerakan, kepentingan, dan cita-cita.
Apa
yang dinamakan ideologi nasional kita adalah pegangan perjuangan kebangsaan Indonesia,TIPOLOGI IDEOLOGI
Ada
manfaatnya kiranyamenengok
sejenak ke dalam tipologi ideologi- ideologi yang telahmempengaruhi
ataupunmembentuk
perkembangan se- jarah dunia sampai saat ini. Secara khusus di sini akan diperhatikan perkem- bangan ideologi-ideologi di Barat.Di
dalam bukunya
tentang Histoire des Ideologis (Hachette, 1978), Fran- cois Chateletmembagi pertumbuhan
ideologi di Barat itu menjadi tiga periode, dan dituangkan ke dalam tigajilidbuku
pula. Periodepertama meli- putiperkembangan Eropa
sampai dengan abad ke-8. Periode inimencakup
alam pikiran kosmologis purba, problematik politheisme dan monotheisme.Fase ini terkait dengan
perkembangan
pengaruh alam pikiran Yunani danRomawi
sampai denganmasuknya agama
Nasrani.Buku
keduamencakup perkembangan Eropa
dari abad ke-9 sampai abad ke-17, dan disebutnya sebagai periode gereja dan negara. Terkandung di dalam periode ini antara laintumbuhnya
ideologi keagamaan, problematik pengetahuan, kekuasaan dan kedaulatan. Sedangbuku
ketigameliputi perkembangan Eropa dari abad ke-17 sampai dengan abad ke-20, dimana
dibicarakan berbagaijenis ideologi:ideologi pengetahuan, ideologi kekuasaan, ideologi kemajuan, ideologi kema- nusiaan, ideologi penaklukan dan ideologi perang dan damai, yang
mencakup
di
dalamnya
pemikiran ideologis mengenai koeksistensi, pembebasan, konflik dan revolusi.Seluruh proses tersebut
tampaknya
dapat dikembalikan kepada dua alam pikiran yangmembentuk
pertumbuhan kebudayaan dan peradaban Barat,KESINAMBUNGAN, PENATAAN, DAN
IDEOLOGI 721jyaitu Hellenisme dan Semitisme. Dari dua alam pikiran tersebui telah tum-
Ibuh dua tipeideologi dasar: ideologi tipe Hellenistik dan ideologi tipe Semitik.
Periode pertama dari Chatelet adalah babak pertumbuhannya ideologi
; Hellenistiksampai kepada pertemuannya denganideologi tipeSemitik. Periode Ikedua merupakan fase di
mana
Barat dikuasai oleh ideologi tipe Semitik.IPeriode ketiga
merupakan
kebangkitannya kembali ideologi tipe Hellenistik.IMemang
dua aliran utama itu sampai sekarang masihmempunyai
laktualitasnya. Interaksi antara Hellenisme dan Semitisme
merupakan
kenya-Itaanyang masihikut
membentuk
situasi kebudayaanmaupun
kemasyarakatan(di Barat, termasuk di dalamnya lahirnya ideologi-ideologi yang besar pe- ingaruhnya terhadap perkembangan dunia sampai saat ini.
Tampaknya
imasyarakat Barat belum dapat menyelesaikan pergumulan antara Hellenisme (dan Semitisme itu dalam suatu kedamaian yang kreatif.
Secarasingkat dapat dikatakan
bahwa
keduatipealam pikiran itumempu-
inyai sifat yang sama: yaltu cenderung kepada determinisme dan absolutisasi.
IPerbedaan terletak antara lain di dalam dalfl dasar berikut: Hellenisme ber- fpangkal dari andalan ''It is
man who
creates God."
Semitisme bertolak dari candalan "It isGod who
creates man."
Dalil yang tampaknya sederhana ini tternyatamempunyai
impiikasi konsepsional, institusional dan operasional )yang amat majemuk.Yang
satu menjadi sumbertumbuhnya
sekularisme danaatheisme, yang lain menjadi sumber
tumbuhnya
theokratisme-keagamaan.IIDEOLOGI KEBANGSAAN INDONESIA SEBAGAI TIPE IDEOLOGI TTERSENDIRI
Pancasila pada hakikatnya adalah rumus dari ideologi kebangsaan yang
Uimbuh
dan berkembang sebagai bagian dari sejarah masyarakat dan kebu- idayaan Indonesia. Kebangkitan nasional kiranya dapat disejajarkan de mgan gerakan Aufkiarung yang terjadi di Eropa beberapa abad yang 1am- pau. Dari kebangkitan nasional (yangmerupakan
interaksi dari berbagaiialiran)
tumbuh
ideologi kebangsaan sebagai ideologi yang mendamaikan, imenyatukan, sehingga pergerakan kebangsaan Indonesia itu menjadi pergerakan yang bhinneka tunggal ika. Ideologi kebangsaan pada hakikatnya adalah cita-cita persatuan dan kesatuan kebangsaan yang tidak didasarkan kkepada konotasi etnis, rasial, daerah, status social, kekuatan ekonomi,agama
aataupun kepercayaan,
namun
dari lain pihak juga bukan persatuan-kesatuan yyang bermaksud mematikan kenyataan etnis, rasial, daerah, mematikan?agama-agama ataupun kepercayaan. Ideologi kebangsaan kita itu melihat adanya interelasi dari kenyataan yang divergen dan
majemuk,
dan karena ituiitumbuhkanlah titik temu yang menyatukan dan mendamaikan.
722
*
ANALISA
1985 - 9Ideologi kebangsaan Indonesia tidak
merupakan
sub-sistem dari ideologi tipe Hellenistik (sekularisme, atheisme), tidak pulamerupakan
sub-sistem dari ideologi tipeSemitik (theokratisme-keagamaan).Dengan
bahasa sekarangmungkin
dapat disebutkanbahwa
ideologi kebangsaan kitamerupakan
alter- natif bagi ideologi tipe Semitikmaupun
ideologi tipe Hellenistik. Di dalam alam pikiran kebangsaan kita itu imanensi diakui, akan tetapi tidak dimutlak- kan, semeniara transendensi diterima akan tetapi tidak dijabarkan. Di baliksemuanya
itu tentu saja ada perbedaan yang lebih mendasar antara Welian- scluiuunii Indonesia di satu pihak dengan alam pikiran Hellenistik ataupun alam pikiran Semitik di lain pihak.Yang
satumengandung
re/afiveerinsis- vernioiiens yang amat tinggi, sedang kedua lainnya didorong oleh gerak de- lerminisme dan absolutisasi yang berkadar tinggi.Mcmang
harus disadari pulabahwa lumbuhnya
ideologi kebangsaan In- donesia itu dipacu dan dibentuk oleh interaksinya alam pikiran Indonesia dengan pengaruh Hellenismemaupun
pengaruh Semitisme, dimana
terjadiproses akulturasi.
IDEOLOGI KEBANGSAAN KITA DAN BERBAGAI PROBLEM AKTUALNYA
Pancasila dan Problem Kontinuitas (Kesinambungan)
Problem kesinambungan adalah problem sejarah. Di dalam sejarah ter-
dapat perubahan akan tetapi juga terdapat kontinuitas. Sejarah sebagai
pengalaman dasar manusia adalah perpaduan dan tegangan yang terus- menerus antara perubahan dan kesinambungan.
Tampaknya
pertanyaan yang dogmatik dilematik untukmembuat
pilihan antara "kontinuitas" atau "dis- kontinuitas" semakin dirasa sebagai pseudo-problem, walaupun di dalam per- caturan politik problematik seperti ini justru tidakjarang ditampilkan sebagai tantangan. Kesadaran juga semakin tinggibahwa
sejarahmerupakan
penga- laman dasar .manusia, dimana
di dalamnya terdapat kesinambungan tidaksaja yang sifatnya individual akan tetapi juga yang sifatnya kolektif, yaitu kesinambungan kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan bahkan umat manusia.
Berkenaan dengan sejarah perlu
dikemukakan
catatanbahwa semua
ideo-logi (terutamayang
tumbuh
darialam pikiran Hellenistik dan alam pikiran Se- mitik di Barat)mengandung
di dalamnya usaha dan pretensi untuk memberi"'arah dan bentuk" kepada sejarah. Di dalam ideologi itu terdapat unsur Futurisme-deterministik, terkandung di dalamnya andalan keyakinan
KESINAMBUNGAN, PENATAAN, DAN
IDEOLOGI 723untuk dapat
mewujudkan
"masyarakat dan sejarah yang sempurna." Di da- lamDe
Civitate Dei-nya Agustinus dan di dalam ajaran KedaulatanTuhan
dan KedaulatanAgama
antara lain dari von Sthal misalnya, terkandung futu-risme deterministik tipe Semitik. Di dalam ajaran Hegel, Marx, Nietzsche dan beberapa gagasan Neo-Marxis terkandung di dalamnya futurisme determinis-
tik tipe Hellenistik. Pengalaman sejarah manusia
tampaknya makin memudarkan
ideologi-ideologi yangmengandung
di dalamnya "janji" yang mengandalkan futurisme deterministik untukmewujudkan
masyarakat yang sempurna. Ideologi Hellenis yangmenawarkan pembangunan
dunia manusia sempurna berdasarkan kepada ilmu pengetahuan misalnyamengandung
di da-lamnya kontradiksi terhadap kenyataan sejarah yang bagaimanapun akan se-
lalu berada di dalam keterbatasan-keterbatasan. Ideologi Semitik yang meii- janjikan
pembangunan
dunia sempurna abadi berdasarkan kepada ajaran keagamaan sebagaiwahyu Tuhan
yang sempurnaabadi bagi seluruhumat ma-
nusiadi duniadansegala
jaman
untuk dijadikanpedoman
hidup perseoranganmaupun
kenegaraan dan kemasyarakatan sempurna dunia akhirattampaknya
jugadihadapkankepadakontradiksiberdasarkan kepadakenyataansejarah, di
mana
manusia dihadapkan kepada kenyataan adanya perbedaan yang amathakiki: antara
Tuhan Yang Maha Sempurna
danagama
yang di dalamnya ter-kandung unsur manusiawi yang terbatas.
Memaksakan
ideologi-ideologi se- perti itu secara keras, hanya akanmembawa
kepada titik absurditas.Berbeda dengan ideologi tipe Hellenistik ataupun ideologi tipe Semitik, Pancasila (ideologi kebangsaan kita, Weltanschauung Indonesia)
tampaknya
kurangmenunjukkan
adanya implikasi futuristik yang jelas dan tegas.Bahkan kadang-kadang dipandang sebagai ideologi yang statis, tidak pro-
gresif. Apabila kita sadari
bahwa
Pancasila (ideologi kebangsaan) adalah pegangan perjuangan kebangsaan kita,maka
jelas sekalibahwa
di dalamnya terkandung dimensi "pergerakan" dimensi "perjalanan kebangsaan," karenaitu juga dimensi sejarah kedepan di dalamnya. Dari lain pihak
memang
jelasbahwa
Pancasila tidakmengandung
pesan futurisme-deterministik (karena alam pikiran Indonesia justru bersifat non-deterministik). Mengenai sejarahitu pesan ideologi kebangsaan kita dapat dirumuskan sebagai berikut: di da- lam pe^juangannya mengarungi jalannya sejarah, bangsa Indonesia hendak- nya selalu berpegang kepada Ketuhanan
Yang Maha
Esa, Kemanusiaan yangadil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hik-
mat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan
mewu-
judkan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Mungkin
Ki Hadjar Dewantara-lah yang secara dini telah berusaha memberikan pendalaman dan kedalaman reflektif-intelektual atas ajaran Pancasila seperti itu: Tuhan.telahmenciptakan kodrat manusia, dan manusia harus
mengembangkan
hidup, ke-hidupan dan penghidupannya di dunia ini sesuai dengan kodratnya itu sebagai kenyataan yang evolutif, bergerak, hidup; kebangsaan Indonesia adalah alam
724
ANALISA
1985 - 9kodratnyarakyat Indonesia, yangjuga
merupakan
bagian darialam kodratnya kemanusiaan; perjalanankehidupan kebangsaanadalahperjalanan kehldupan yang sesuai dengan kebudayaan Indonesia sebagai kodrat alamnya bangsa In- donesia. Di dalam Pancasila itu, menurut Ki Hadjar terkandung ajaran keluhuran kemanusiaan ini.Dengan
perkataan lain: terhadap sejarah sebagai gerak dan proses ideologi kebangsaan kita mengajarkan untuk mengarungija-lannya sejarah itu secara berkebudayaan, yaitu sesuai dengan kodrat kemanu-
siaan dan kodrat kebangsaan Indonesia.
Problem
kesinambungan dapatmuncul
sebagai problem politik terutamadi dalam fase transisi, di
mana
seolah-olah masyarakat diihadapkan kepadapilihan "between two worlds: one dead whilethe other isdifficult to be born."
Situasi seperti ini tidak jarang diwarnai oleh
munculnya
pikiran tentang diskontinuitas sebagai alternatif satu-satunya dan bersama dengan itu di-munculkan
pula ideologi alternatiftertentu.. Fase transisi seperti sekarang inimemang
sebaiknya dijadikan fase refleksi ideologis: Pertanyaan yan^ harus dijawab adalah: siapakah yang sudah menjalani sejarah selama empat puluh tahun yang silam ini? Siapakah yang akan mengarungi sejarah empat puluh tahun, seratus tahun dimasa
yang akan datang nanti? Masihsamakah
subyek yang menjalani "lakon sejarah" tersebut?Ke mana
dan untuk apa perjalanan sejarah ini?Apabila kita berpegang kepada ideologi kebangsaan kita
maka
jawabnya adalah: baik perjalanan empat puluh tahun yangtelah lalumaupun
perjalanan empat puluh tahun yang akan datang, keduanya adalahmerupakan
per-jalanan rakyat Indonesia yang telah disatukan dalam satu cita-cita kebang- saan, satu perjuangan kebangsaan, memiliki satu ideologi kebangsaan, hidup dalam satu negara kebangsaan didasarkan atas satu konstitusi kebangsaan pula.
Dengan
demikian sejarah tersebut pada hakikatnya masihmerupakan
"satu sejarah" yaitu sejarahnya bangsa Indonesia: hanya saja konteks dan tantangannya berbeda. Perjalanan itu adalah perjalanan pergera- kan perjuangannya bangsa Indonesia, sebagai bangsa yang bersatu merdeka dan berdaulat.Pancasila dan Jalur Pelembagaan (Problem Penataan)
Pancasila sebagai ideologi kebangsaan telah memberi arah dan memberi bentuk atas sejarah Indonesia. Di dalam perkembangan terakhir ini Pancasila dinyatakan sebagai saiu-satunya asas kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Pancasila telah
memberi
kemantapan kehidupan kebangsaan dan kenegaraan, di lain pihak Pancasila telah pula dimantapkan di dalam proses kehidupan kebangsaan dan kenegaraan kita itu. Di dalam proses iniKESINAMBUNGAN, PENATAAN, DAN
IDEOLOGI 725memang
tidak jarang terjadi konflik-konflik. Di sini principium ideniiialis berjalan bergandengan dengan principium negafionis: identitas Pancasila sebagai ideologi kebangsaan menjadi semakintumbuh
dan kentara di dalaminteraksinya dengan berbagai ideologi lainnya.
Semua
inimungkin
hafus dipandang sebagai perjalanannya bangsa Indonesia untuk semakin menjadi"bangsa Indonesia," baik dalam pengertian kuantitatif
maupun
dalam pe- ngertian kualitatifnya.Terjadi jalinan resiprokal' antara pendalaman
pemahaman
ideologi ke- bangsaan di satu pihak dengan pemantapan kehidupan kebangsaan dan ke- negaraan di lain pihak. Di sini ideologi kebangsaan menjalani proses ekspli- sitasi danmenemukan
wujud institusionalisasinya.Tumbuhnya
institusionalisasi ideologi kebangsaan dapatmembawa
serta siiatu permasalahan. Di dalam empat puluh tahun perjalanan bangsa Indone-sia sebagai bangsa yang bersatu, merdeka dan berdaulat ini, institusionalisasi Pancasila sebagai ideologi kebangsaan terjadi terutama di dalamjalur kenega- raan dan jalur kepemerintahan. Hal ini tidaklah mengherankan disebabkan karena di dalam empat puluh tahun perjalanan di
masa
yang silam ini bidang kenegaraan dan bidang pemerintahan ternyata telah menjadi ajang dan sasaran utama dari percaturan dan pertarungan ideolpgis-politisdalam rangka merebut kekuasaan atas kehidupan bangsa dan negara Indonesia ini.Tanpa
mengetahui latar belakang sejarah perjuangan bangsa Indonesia akanmudah
orang terjerumus kepada suatu prasangka
bahwa
Pancasila sebagai ideologiini adalah manipulasi politik dari Orde Baru khususnya militer dalam rangka merebut dan mempertahankan kekuasaannya atas kehidupan bangsa dan ne- gara Indonesia.
Maka
proses institusionalisasi ideologi kebangsaan yang ter- jadi dijalur kenegaraan dan kepemerintahan itu pun tidak jarang ditafsirkan sebagai bagian dari manipulasi politik seperti itu, dimana
diusahakan proses konsentrasi kekuatan dan kekuasaan (ideologi, birokrasi, militer) ke dalamstruktur yang menjadi tertutup dan totaliter.
Pandangan
seperti ini tentulah ti-dak
mengungkapkan
kenyataan sejarah kebangsaan kita danmerupakan
suatu generalisasi yang dipaksakan berdasarkan patron teoretik tertentu atas kehidupan bangsa dan negara kita secara deterministik dan apriori.
Namun
demikianbahwa
ideologi kebangsaan itumenemukan
institusio- nalisasinya terutama di jalur formal kenegaraan dan kepemerintahanmemang
perlu pula dijaga agar tidak terjadi proses birokratisasi dinamika ideologi kebangsaan kita itu.
Perlu disadari
bahwa
ketahanan nasional pada hakikatnya haruslah ditu- jukan kepada terwujudnya ketahanan rakyat, ketahanan masyarakat, yang menjadi sumber lahir dantumbuhnya
pemerintahan ataupun institusi-institusi726
ANALISA
1985 - 9kenegaraan lainnya. Ini berarti
bahwa
dinamika kehidupan kebangsaan ituharus
menemukan
perwujudannya puladi dalamtumbuh
dan berkembangnya dinamika kemasyarakatan. Masyarakat harusmerupakan
pendukung originaldan kreatif dari ideologi kebangsaanitu. Di sinilah
hikmah
dari pemikiranme- negaskan Pancasila menjadi satu-satunya asas kehidupan berbangsa-berne- gara dan bermasyarakat bagi organisasi kemasyarakatan. Dinamika masyara- kat itumenemukan
jalur institusionalisasinya melalui organisasi kemasyara- katan.Dinamika
ini perlu sekalitumbuh
sebagai basispembangunan
kehi-dupan
bangsa dan negara, tetapi inimengandung
pula suatu pengertianbahwa
dinamika tersebut perlu pula dipadukan dalam satu acuan nasional, sehingga akan terjadilah prosesbangunnya
kekuatan masyarakat secarabhinneka tung- gal ika.Di samping itu perlu sekali disadari
bahwa
iPancasila sebagai ideologimempunyai
akarnya di dalam sifat pergerakan kerakyatan.Maka
itu ideologikebangsaan tersebuf perlu sekali dihayati dan diamalkan di dalam suasana pergerakan kerakyatannya bangsa Indonesia. Pola pergerakan inilah kiranya hal yang perlu sekali dipelajari dan diperhatikan^ sebab
mungkin
sekali ke- berhasilan kita di dalam melaksanakanpembangunan
dimasa
mendatang harus pula melalui jalur pergerakan seperti itu.Tentu saja
menumbuhkan
proses pergerakandi dalamperjalanan kehidup- an bangsa, negara dan masyarakat Indonesia ini tidak harus diartikanbahwa
pemerintah dengan demikian harus dikurangi kekuatannya. Kitamemerlukan
pemerintahan yang kuat. Tetapi kitajugamemerlukan tumbuhnya
pergerakan kemasyarakatan yang kuat pula.Keduanya
tidakmerupakan
kubu yang anta- gonistik, sebaliknya keduanyamerupakan
saudarakembar
yangmembentuk
kekuatan kehidupan bangsa dan negara kita. Penyelenggara negara bukanlah hanya pemerintah semata-mata. Masyarakat jugamerupakan
penyelenggara negara. Inilah artinya apabila negara kebangsaan kita itu dinyatakan sebagai negara yang berkedaulatan rakyat.Perkembangan
ideologi kebangsaan dimasa
mendatang dengan demikianmemerlukan
peranan besar dari pusat-pusat pergerakan kemasyarakatan di Indonesia ini. Oleh karena itutumbuhnya
kreativitas dari pusat-pusat perge- rakan kemasyarakatan itu adalah amat penting, baik ditinjau dari segi ideolo- gismaupun
ditinjau dari urgensitumbuhnya
fungsionalisme dan profesio- nalisme di dalam kehidupan kebangsaan kita. Tentutumbuhnya
kreativitasmelulu masih belum mencukupi.
Tumbuhnya
potensi kreatif di dalampergerakan kemasyarakatan itu perlu disertai pula dengan pendalaman re-
flektif atas nilai-nilai Kebangsaan pula.
Dengan
perkataan laintumbuhnya
ideologi kebangsaan melalui perge- rakan kemasyarakatanmemerlukan
terjadinya proses kebangkitan kebuda-;KESINAMBUNGAN.
PENATAAN, DAN
IDEOLOGI 727yaan kebangsaan Indonesia. Pusat-pusat pergerakan dalam arti pusat kepe- imimpinan, pembentuk nilai dan sikap hidup (pembentuk pandangan dan wa- wasan) perlu
tumbuh
sebagai bagiandari prosesnya bangsa Indonesia semakin menjadi "bangsa Indonesia." Pusat-pusat pergerakan kemasyarakatan di bi- xlang pertumbuhan ekonomi juga amat diperlukan. Pendidikanmerupakan
Avahana yang amat penting. Demikian pula pusat-pusat perguruan swasta se- perti misalnya bangkitnya kembali perguruanTaman
Siswa,tumbuhnya
ppesantren-pesantren (baik Islam, Katholik, Kristen, Budha,
maupun
Hindu) cdalam konteks kebangsaan Indonesia, kiranya perlu dipikirkan untuk menjadifpusat pergerakan kebangsaanmenghadapi tantangan
masa
mendatang. Demi-kkian pula halnya dengan pertumbuhan mediakomunikasi massa.
Tumbuhnya
sseni dan kesusastraan
mungkin merupakan
hal yang sesungguhnya dapat ber- Fperanan besar di dalam prosespembudayaan
ideologi kebangsaan sebagai ge- rrakan. Seni dan sastra dimasa
yang lampau telah menjadi jalur yang amatppenting di dalam
tumbuhnya
kebudayaan Indonesia. Terjemahanmaupun
gu- tbahan atas Mahabarata danRamayana merupakan
bagian yang penting di da-iilam fase akulturasi Hindu-Indonesia.
Wayang
dan dunia pedalangan merupa-Ucan dinamika kesenian yang kompleks yang dapat
membentuk
nilai tidak ha-mya
dalam kalangan elit, akan tetapi menjadi bagian dari kehidupan kerak- yyatan pula.Tumbuhnya
PujanggaLama,
yangdisusulolehbangkitnya Pujang-^a
Baru danlahirnyaAngkatan '45 didalam sejarah sastraIndonesiaMerdeka
imerupakan manifestasi dari pergerakan cita-cita,wawasan
dan rasa kebang-ssaan di dalam kesusasteraan Indonesia.
Memang semua
itu akanmeminta
ter- ijadinya permenungan dari refleksi yang matang,mendalam
dan kreatif atas milai-nilai kebangsaan kita. Proses itupun akanmeminta tumbuhnya
Indone-isianisasi dan penghayatan kehidupan keagamaan (bukan nasionalisasi
agama
idan theologi).
Amat
sukar memastikan apakah sekarang saatnya sudahma-
tang untuk dapat
memasuki
tahap perkembangan seperti itu.Namun
gejalargejala yang
membuka wawasan
ke arah fase inimemang
sudah mulaimuncuL
'Kita perlu melampaui fase polemik sebagai terungkap di dalam sejarah sastra
dama beberapa ratus tahun yang lalu, dalam hal yang berkenaan dengan nilai- milai dasar, termasuk hal "monotheisme kultural" dan "monotheisme Sa-
mawi," agama
dan nilai-nilai kebangsaan. Kita sudahdapatmaju
untukmem-
bangun secara lebih kreatif dan konstruktif.
Bukan
saja kerukunan di antara berbagai pergerakan yang harus diusahakan, akan tetapi kesadaran dan rasa kkekerabatan persaudaraan dari pusat-pusat pergerakan kemasyarakatan, itu- lilah yang harus ditumbuhkan.Mdeologi dan Akulturasi (Problem
Masa
Depan)Mengapa
walaupunditawarkan berbagai aliran ideologi, Pancasila sebagaiI ideologi kebangsaan
tumbuh
makin jelas dan makinkokoh
di Indonesia? Sa-728
ANALISA
1985 -9lah satu uraian yang dapat
memberikan
keterangan atas prosestersebut adalah sejarah kebudayaan Indonesia, khususnyakemampuan
akulturasi di dalam kebudayaan Indonesia.Pertumbuhan
ideologi kebangsaan itu sendiri pada hakikatnyaadalah pro- ses dan produk akulturasi. Nilai-nilai yang adadi dalammasyarakat Indonesiatumbuh berkembang
diperkaya dengan unsur-unsur dari luar, secara terus-menerus, baik unsur-unsur
keagamaan maupun
unsur-unsur non-keagamaan.Dapat dikatakan juga
bahwa
di dalamperkembangan
itu terjadilah proses In- donesianisasi dari unsur-unsur yang datang dari luar.Proses akulturasi
tampak
dimasa
yang telah lampau misalnya akulturasi terhadap Hinduisme danBudhisme
di Indonesia. Proses akulturasi masih ber- jalan terus. Saat inibangsa
Indonesiamenghadapi
tantangan (sebagaiGabe
dan sekaligus juga Aufgabe) untuk melaksanakan akulturasidengan budaya dan peradaban
modern
yang telahtumbuh
danmembentuk
budaya dan peradaban global, dimana
teknologi, pengetahuan dan ekonomi menjadi kekuatan utamanya.Yang dimaksud
denganperkembangan
budayamodern
yangtelahtumbuh
melahirkan budaya dan peradaban global tersebut adalah rangkaian pertum-buhan
dari lahirnya masyarakat industri diEropa
(sekitar abad ke-18), yangkemudian
melahirkan masyarakat mekanik (sekitar abad ke-19), lalumasyarakat dengan peradaban otomatik (sekitar tahun 1945-1970-an), yang
lebih lanjut melahirkan masyarakat dengan peradaban Kibernetik (1970-an.
sampai sekitar tahun 2000 yang akan datang), yang tentunya akan mengalami
evolusi lebih lanjut
menemukan
proses '*optimasinya" sehingga tidak musta-hil akan lahir masyarakat dengan peradaban baru, yang oleh sementara di-
sebut sebagai ''Autonomous Society" dan "Natural Society."
Memang
masih menjadi teka-teki apakah proses tersebut akanmerupakan
evolusi sejarah ke-budayaan sebagai proses humanisasi, sehingga masyarakat akan menjadi semakin manusiawi pula. Sementara mengatakan
bahwa
evolusi itu akanmembawa
proses humanisasimemasuki
tahap yang secara kualitatif lebih tinggi, termasuk didalamnya
proses spiritualisasi di dalam kehidupanmanu-
sia. Fase-fase ini
mungkin
sekalimembawa
serta situasi-situasi yang cukup ga- wat di dalam sejarah manusia. Proses seperti inimemang
telah menjadi salahsatu bahan renunRan bagi Teilhard de Chardin ataupun Tovnbee.
Vans
jelasperubahan-perubahan di dalam peradaban sejarah manusia akan terjadi dan
kita akan kena
dampaknya. Perkembangan
itupun
sejalan dengan evolusi pengetahuan (evolusi epistemologi), dimana
dari"modern
science" telahtumbuh
"control science," lalu Cybernetics, Biotechnics dan Psychotechnics.Proses ini telah
menumbuhkan
teknologi modern, yang berevolusi denganlumbuhnya
automatic control technology, electronic control technology,1
KESINAMBUNGAN, PENATAAN, DAN
IDEOLOGI 729yang akan disusul dengan biologic control technology sampai kepada psycho-
1biologic control technology.
Semua
itu sekedar gambaranbahwa
di hadapan kita terbentang pagelaran lemungkinan yangmengandung
perubahan-perubahan besar, mendasar, yangitentu saja akan
membawa
akibat terhadappembangunan
struktural dalamitataran global.
Dan
berpegang kepada ideologi perjuangan kebangsaan, kita iingin terus berjuang sebagai bangsa yang bersatu, maju, merdeka, dan ber-cdaulat. *
Pancasila sebagaiformula etik /cultural
membawa
amanatbahwa
di dalam rmengarungi perkembangan tersebut kita harus tetap tidak meninggalkan ke- fpercayaan kita terhadapTuhan
dan tidak pula melupakan budi pekerti ke- rmanusiaan yang luhur serta persatuan-kesatuan kebangsaan. Jalan kemajuanaadalah tetap jalan kebudayaan. Pancasila sebagai ideologi perjuangan ke- Ibangsaan
membawa
amanatbahwa
bangsa Indonesia harusmemenangkan
fpergumulannya dengan jalannya sejarah ^yang akan datang itu nanti. Masa- Uahnya adalah bagaimana
membangun
jalinan yang kreatif antara pertum- tbuhan sistem kebangsaan kita dengan pertumbuhan sistemglobal itu. Pengua- ssaan teknologi, pengetahuan dan kemajuan ekonomi nterupakan salah satu ppersyaratan yang harus dipenuhi. Kita ditantang untuk menyiapkankemam-
fpuan bangsa Indonesia
mengadakan
proses akulturasi dengan elemen-elemen Lutama budaya dan peradaban global. Di dalam konteks ideologi dan akul- turasimaka
permasalahannya adalah: bagaimanakah kita berusaha agar pro-^ses tumbuhnya kebudayaan dan peradaban global tersebut tidak akan me- landa kehidupan kebangsaan kita, dan apakah yang perlu dilakukan sebagai langkah-iangkah persiapan untuk
mengadakan
proses Indonesianisasi dari perangkat-perangkat kebudayaan dan peradaban global tersebut. Proses ke larah Indonesianisasi yang maju ke situ bukanlah proses yang sederhana. Pro- blem sosial-ekonomi akan tampil sebagai bagian yang peka di dalam perkem- bangan tersebut.Empat
puluh tahun telahmembuktikan bahwa
bangsa Indonesiamem-
rpunyai
kemampuan
untukmengadakan
proses Indonesianisasi atas dimensiI: idcologis dari kekuatan-kekuatan yang
membentuk
danmenumbuhkan
bu- rdaya dan peradabanmodern
termasuk perkembangan global dewasa ini.Em-
I puluh tahun mendatang bangsa Indonesia ditantang lebih lanjut, yaitu
mgadakan proses Indonesianisasi dari perangkat-perangkat budaya dan peradaban global tersebut. Kita tidak hanya berpikir mengenai modernisasi,
kita ditantang untuk berpikir dalam iingkup global. Sebab di situlah per- jjuangan kebangsaan harus dilaksanakan.
730
ANALISA
1985 -9PENUTUP
1. Baik sel£ima fase penciptaan kerangka landasan
maupun
sepanjang per- jalanan bangsa Indonesia di seberang kerangka landasan itu nanti, pem-bangunan
ideologi tetapmerupakan
hal yang esensial.2. Apabila
pertumbuhan
ideologi nasionalberkembang
baik,maka
persa- tuan dan kesatuan kebangsaan akan menjadi semakin kokoh. Persatuan dan kesatuan kebangsaan adalahmodal
yang paling fundamental bagi perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Kebangsaan adalah dalil dasarnya sejarah Indonesia.3. Prospek tersebut akan menjadi
makin mantap
apabila doktrin Pancasila sebagai satu-satunya asas kehidupan bernegara, berbangsa dan berma- syarakat, mengalamiperkembangan
lebih lanjut, baik dalam ekstensitasmaupun
intensitasnya. Hal ini berartibahwa
organisasi sosial-politikakan
tumbuh
menjadi organisasi yang sifatnya terbuka, menjadi orga- nisasi-organisasi kebangsaan.4. Klimat persatuan-kesatuan kebangsaan yang
kokoh
juga dapat memberi- kankemungkinan tumbuhnya
organisasi kemasyarakatan menjadi pusat- pusatpertumbuhan
yang kreatif produktif. Klimat tersebut akan mene-mukan
kedalaman lagi apabila proses Indonesianisasi theologi dapattum-buh berkembang
di kalangan berbagaiumat
beragamadi Indonesia.Apa-
bila penghayatan nilai-nilai kebangsaan tidak diterima lagi sebagai an-
caman
tetapi justru dihayati sebagai konteks-nya. kehidupan beragama, suasana itu akan ikutmemacu
proses spiritualisasi masyarakat yang se-dang
membangun. Bukan
saja kerukunan antaraumat
beragama dan penghayat kepercayaan terhadapTuhan Yang Maha
Esa (sebab inihanyalah sekedar prinsip koeksistensi) melainkan akan
tumbuh
suasana persaudaraan antara mereka, karenasemuanya bagaimanapun
dikehen- daki pula olehTuhan
menjadi bagian dari ^atu kehidupan kebangsaan sebagai alam kodratnya rakyat Indonesia. Bila proses ini terjadimaka pertumbuhan
seni dan kesusastraan juga akanmakin
jelas identi- tasnya, fase keraguan dan ambivalensi di dalam nilai-nilai dasar akanterlewati sehingga akan
memacu
kreativitas budaya yang tinggi. Ideologikebangsaan akan ditransformasikan ke dalam budaya kebangsaan.
Bangsa Indonesia semakin menjadi bangsa Indonesia.
5.
Pembangunan
ideologimempunyai
relevansinya pula bagi proses akul- turasi kehidupan kebangsaan kita dengan perkembangan budaya dan peradaban global, yangtampaknya
akan semakin mewarnai perjalanan bangsa Indonesia di seberang kerangka landasan itu nanti.6. Penghayatan Pancasila sebagai ideologi perjuangan kebangsaan me-
ngandung
di dalamnyakemampuan
menghadapi tantangan-tantangan ke-KESINAMBUNGAN, PENATAAN, DAN
IDEOLOGI 731majuan. Dari sejarah kita dapat
menyimpulkan bahwa ABRI,
sebagaisatu-satunya organisasi yang terus-menerus berpegang kepada ideologi perjuangan kebangsaan, adalah organisasi di Indonesia yang saat ini pa- ling siap untuk
memasuki
era global tersebut, termasuk teknologi cang- gih di dalamnya.ABRI
yang tetap seperti inimerupakan
bagian penting bagi bangsa Indonesiamemasuki
era-global dimasa
mendatang.7.
Pembangunan
bidang ekonomiperlu dipikirkan antara lain sebagai suatuwahana
penguasaan teknologi maju, sebagai salah satu sarana akulturasikita dengan peradaban global.
8. Kalau klimat ideologis dapat berkembang baik,
maka
perkembangan bidang ekonomi dapatmakin
diperlancar pula. Di bidang inilah kemung- kinan besar timbul permasalahan-permasalahan yang sifatnya sosial dankultural.
Untuk
itu dalam fase merakit kerangka landasari ini perlu se- kali dipikirkantumbuhnya
sistemekonomi
kebangsaan sejajar dan ber-gandengan dengan "pola negara kebangsaan" dan "ideologi kebang- saan."
Pemahaman
pasal 33UUD
1945 (danpembangunan ekonomi
padaumumnya)
tampaknya perlu didasarkan ataspemahaman
ideologi kebangsaan ini.9. Agar problem sosial-ekonomi itu tidak akan menjadi hal yang
makin
memberat dimasa
mendatang, sehingga akanmenghambat
proses akul- turasi kita dengan peradaban global,maka
selama fase perakitan ke- rangka landasan itu perlu sekali ditumbuhkan pusat-pusat pergerakan ekonomi kemasyarakatan yang kreatif dan saling terkait.110. Apabila saat ini ancaman, hambatan, gangguan, terutama masih ber-
sumber di dalam negeri,
maka
perjalanan di seberang kerangka landasanitunanti
mungkin
akanmenampilkaninteraksidenganluarsebagaisumber ancaman, hambatan dan gangguan.11. Untuk.mengantisipasi perkembangan kemungkinan seperti itu
maka
pem- bangunan yang berwawasan Nusantara perlu sekali mewarnai usaha me-rakit kerangka landasan ini. Pusat-pusat pertumbuhan dan kesejahteraan perlu dibangun di berbagai
medan
strategis Indonesia sebagai kawasan Nusantara ini, yang sekaligus juga dapat terkait dengan konsep perta-hanan
keamanan
kehidupan bangsa dan negara.112. Karena semuanya itu akhirnya harus dilaksanakan oleh manusia Indo- nesia,
maka pembangunan
sistem pendidikan nasional yang secara kon-sisten menunjang proses ini amat diperlukan.