• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosiding PEPADU 2021 e-issn: Seminar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2021 Vol. 3, 2021 LPPM Universitas Mataram

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Prosiding PEPADU 2021 e-issn: Seminar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2021 Vol. 3, 2021 LPPM Universitas Mataram"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Virtual conference via Zoom Meeting, 17 November 2021 | 538 Pembentukan Kluster Bisnis Dalam Upaya Memperkuat Daya Saing Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah (UMKM) di Desa Midang, Kecamatan Gunung

Sari, Lombok Barat

Junaidi Sagir*, Alamsyah AB, Muhammad Akhyar

Dosen Jurusan Manajamen Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Mataram Jalan Majapahit No. 62 Mataram, Indonesia.

Alamat korespondensi : [email protected] ABSTRAK

Permasalahan utama yang dihadapi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di desa Midang adalah produksi dan pemasaran. Permasalahan dibidang produksi terutama beragamnya hasil produk dari hasil yang tidak standard samnpai tidak ada keterkaitan antara satu produk dengan lainnya sehingga menyulitkan untuk dilakukannya kerjasama diantara mereka. Selain itu rendahnya saling percaya diantara para pelaku usaha dan tidak adanya kemauan serta kemampuan untuk bersinergi akhirnya berdampak pada sulitnya untuk berkembang baik produk maupun pemasarannya. Tujuan dilakukannya kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan pembentukan kluster bisnis yang menjadi alternative percepatan pengembangan karena merupakan aglomerasi yang melibatkan pelaku dari hulu sampai hilir, sehingga memungkinkan mengeliminasi kelemahan yang dihadapinya dan memperkuat daya saing pelaku UMKM di desa Midang. Manfaat yang diharapkan dari kegiatan ini agar para pelaku usaha tertarik untuk ikut serta bergabung dalam pembentukan kluster bisnis. Dari 8 (delapan) tahapan untuk membentuk dan mengembangkan kluster bisnis yang direkomendasikan untuk dilakukan, baru 3 tahapan yang dapat dilaksanakan pada kegiatan ini yaitu : Analisis potensi ekonomi lokal dari 7 dusun yang ada di desa Midang, terdapat 373 pelaku usaha. Setelah itu tahapan selanjutnya adalah mengumpulkan dan mengidentifikasi banyaknya kluster yang terbentuk dari pelaku usaha tersebut, dalam hal ini teridentifikasi kedalam 5 (lima) kluster yaitu: kluster pengrajin kayu dan bambu, kluster pertanian dan peternakan, kluster penjaual bahan baku (sembako), kluster penjual makanan dan minuman (warung) dan kluster pengolahan. Setelah itu melakukan melakukan identifikasi orang-orang yang akan dijadikan penggerak untuk masing-masing kluster guna dilatih dan dimotivasi untuk melakukan pengembangan kluster masing-masing serta menatapkan ketua / coordinator dalam kluster tersebut. Kegiatan pembentukan kluster ini diikuti dengan sangat antusias oleh para pelaku usaha, tokoh masyarakat dan perangkat desa sehingga ada kesediaan dari kepala desa untuk mendukung penuh kegiatan ini dengan menyediakan bantuan yang diperlukan baik pendanaan maupun bantuan teknis lainnya melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Maju Berkah Desa Midang.

Kata kunci: Kluster Bisnis; Aglomerasi; dan Daya Saing,

PENDAHULUAN

Peranan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia menempati posisi yang sangat strategis dalam perekonomian nasional, karena kontribusinya yang begitu berarti dalam menanggulangi permasalahan bangsa seperti: peningkatan kesempatan kerja, pemerataan pendapatan, pemberdayaan dan pembangunan ekonomi pedesaan, peningkatan ekspor non-migas, dan masih masih banyak lagi sumbangan lainnya.

(2)

Virtual conference via Zoom Meeting, 17 November 2021 | 539 Berdasarkan data BPS (2019) pada Sensus Ekonomi 2016, dikemukakan bahwa UMKM.

menyerap hingga 89,2% dari total tenaga kerja Indonesia, dengan menyediakan lapangan kerja hingga 99%, dan menghasilkan pendapatan domestik bruto (PDB) hingga 60,34%

dari total PDB. Nasional secara keseluruhan, bahkan mampu menyumbang pendapatan dari ekspor hingga 14,17% dari total ekspor Indonesia.

Mengingat peranannya yang begitu penting tersebut, sangat wajar apabila semua pihak turut berperan aktif dalam membantu pertumbuhan dan pengembangan UMKM ini agar semakin kuat dan berdaya saing tinggi, baik untuk saat ini maupun masa-masa yang akan datang. Upaya pengembangan UMKM. ini juga telah disebutkan secara spesifik dalam UU No. 20 tahun 2008 tentang UMKM pada fasal 3 menyebutkan bahwa “Tujuan dikembangkannya UMKM adalah membangun perekonomian nasional berdasarkan demokrasi ekonomi yang berkeadilan”. Dalam implementasinya UU tersebut, dilengkapi dengan penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) No. 17 tahun 2013 dan disebutkan dalam fasal 5 ayat 2 berbunyi bahwa: “Pengembangan Usaha Mikro, Usaha Kecil, dan Usaha Menengah dapat dilakukan dengan pendekatan koperasi, sentra, kluster dan kelompok”.

Pengertian kluster menurut OECD (2000) dalam Taufik (2001) adalah kumpulan/kelompok bisnis dan industri yang terkait melalui suatu rantai produk umum, ketergantungan atas keterampilan tenaga kerja yang serupa, atau penggunaan teknologi yang serupa atau saling komplementer. Sedangkan Porter (2000) menyebutkan bahwa, kluster adalah kelompok perusahaan yang saling berhubungan, berdekatan secara geografis dengan institusi- institusi yang terkait dalam suatu bidang khusus karena kebersamaan dan saling melengkapi.

Pendekatan kluster dalam mengembangkan dan memberdayakan UMKM. telah terbukti kehandalannya diberbagai negara termasuk Indonesia. Hal ini dinyatakan oleh Asian Development Technical Asistance (ADB-TA, 2001) bahwa pendekatan kluster pada industri sepatu di Brazil, India dan Mexico memperlihatkan hasil yang menggembirakan sementara kebehasilan serupa juga diperlihatkan oleh kluster tekstil dan pariwisata di Yogyakarta dan Solo, industri mebel di Jepara dan industri logam di Ceper, Klaten.

Dengan demikian, tidak berlebihan apabila pendekatan kluster ini disebutkan secara spesifik dalam UU.UMKM dan Peraturan Pemerintah yang melengkapinya. diatas. Atas dasar inilah tim pengabdian pada masyarakat tertarik untuk menggunakan pendekatan ini dalam memberdayakan UMKM. di desa Midang, Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat.

Tujuan dari dilakukannya kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan pembentukan kluster bisnis yang menjadi alternative percepatan pengembangan karena merupakan aglomerasi yang melibatkan pelaku dari hulu sampai hilir, sehingga memungkinkan mengeliminasi kelemahan yang dihadapinya dan memperkuat daya saing pelaku UMKM di desa Midang. Sedangkan manfaat yang diharapkan dari kegiatan ini adalah agar para pelaku usaha tertarik untuk ikut serta bergabung dalam pembentukan kluster bisnis.

(3)

Virtual conference via Zoom Meeting, 17 November 2021 | 540 METODE KEGIATAN

Kegiatan pembentukan kluster bisnis ini tidak dapat dilakukan dalam waktu yang singkat, karena membutuhkan proses dan internalisasi dari semua pihak yang terlibat.

Walaupun demikian, dalam kegiatan ini dapat dijelaskan tahapan-tahapan yang sudah dilakukan, antara lain:

1. Studi pendahuluan dan mengidentifikasi potensi pelaku UMKM. Pada tahapan ini tim pengabdian melakukan survey lapangan dan wawancara dengan para pelaku usaha yang potensial untuk diajak bekerja sama dalam pembentukan kluster.

2. Sosialisasi program pendekatan kluster kepada stakeholders. Untuk mendapatkan dukungan yang maksimal dari pihak-pihak terkait, seperti pemerintrahan desa, tokoh agama, tokoh masyarakat dan pemuda serta para pelaku bisnis itu sendiri harus dilibatkan semenjak awal agar memahami manfaat dari pembentukan kluster ini.

3. Melakukan seleksi terhadap kegiatan bisnis yang akan dikelompokkan kedalam kluster- kluster. Setelah didapatkan data dan profil pelaku usaha yang jumlahnya mencapai 373 orang, maka dilakukan seleksi berdasarkan kluster yang akan dibentuk.

4. Membentuk kelompok-kelompok dalam klaster. Pada tahapan ini telah berhasil ditetapkan jumlah kluster yang akan dibentuk dalam hal ini teridentifikasi kedalam 5 (lima) kluster yaitu: kluster pengrajin kayu dan bambu, kluster pertanian dan peternakan, kluster penjual bahan baku (sembako), kluster penjual makanan dan minuman (warung) termasuk penjual keliling dan kluster pengolahan

5. Melakukan pembinaan terutama tokoh-tokoh pengusahanya : pada tahapan ini sudah dilakukan dalam beberapa kali pertemuan, baik yang sifatnya formal dengan mengundang kepala desa sdan aparatnya, maupun diskusi informal dengan hanya mengundang para pelaku yang akan dijadikan orang-orang kunci (key person) dalam pengembangan kluster 6. Tindak lanjut : Dilakukan pencarian calon mitra dan membuat platform pemasaran digital

untuk memasarkan semua hasil produksi di dalam kluster dengan melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDES) Maju Barokah sebagai leading sector-nya

HASIL DAN PEMBAHASAN

Target yang ingin dicapai dalam kegiatan ini adalah semua pemangku kepentingan (stakeholders) dalam terbentuknya kluster bisnis yang akan dilakukan, target utama (main stakeholdersnya) kegiatan ini adalah para pelaku bisnis yang antusias dan bermotrivasi tinggi dalam mengembangkan bisnis.

Dinamika dalam kluster diyakini dapat membangkitkan dan mengembangkan perekonomian masyarakat karena lembaga ini menjadi pendorong untuk berinteraksi antara satu pengrajin dengan pengrajin lainnya. Akan tetapi untuk mencapai kondisi ini tidaklah mudah, bahkan pemerintah baik pusat maupun daerah telah berkali-kali mencoba untuk melakukan hal ini, dan belum memperlihatkan keberhasilannya yang menggembirakan.

Dengan minimnya keberhasilan yang sudah dicapai tidaklah berarti kita harus menyerah,

(4)

Virtual conference via Zoom Meeting, 17 November 2021 | 541 kita berusaha nuntuk mencoba kembali dengan berbagai pendekatan yang mungkin akan membawa kemajuan.

Untuk membentuk dan mengembangkan kluster dibutuhkan upaya, waktu dan biaya yang tidak sedikit, akan tetapi apabila upaya tersebut berhasil, maka akan mendatangkan manfaat yang luar biasa dalam mengembangkan dan meningkatkan daya saing UMKM. Untuk dapat terbentuknya suatu kluster maka dibutuhkan persyaratan dasar (Cluster Navigator, 2001) antara lain adanya usaha inti (core businesses), adanya dukungan dari usaha inti tersebut (support businesses), adanya dukungan infrastruktur lunak (soft support infrastructure) dan adanya dukungan infrastrctur keras (hard support infrastructure). Secara umum, persyaratan dasar yang dibutuhkan untuk membentuk kluster bisnis di atas, telah terpenuhi di desa Midang. Dari hasil survey dan diskusi dengan stakeholders terkait, dapat diketahui bahwa, business inti (core businesses) dari sebagian masyarakat adalah pengrajin kayu dan turunannya. Usaha ini didukung oleh bisnis lainnya (support business) baik langsung maupun tidak langsung, seperti , penyedia bahan baku dan bahan pendukung, adanya perantara permodalan, adanya sarana pemasaran, dan dukungan usaha lainnya. Di samping itu untuk menunjang kelancaran bisnis di desa Midang dan sekitarnya terdapat dukungan infrastruktur lunak (soft support infrastrure), yang bersedia mendukung pengembangan kluster, seperti lembaga pendidikan, asosiasi profesi, dan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dibidang pengembangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dan terakhir adalah adanya sarana dan prasarana (hard support infrastructure), di desa Midang cukup memadai dengan kualitas yang baik seperti, jalan, jembatan, fasilitas komunikasi dan infrastruktur dasar lainnya yang sangat dibutuhkan untuk pengembangan ekonomi local.

Setelah terpenuhinya persyaratan dasar seperti yang dipaparkan diatas, maka langkah selanjutnya adalah pembentukan kluster itu sendiri. Tim pengabdian sudah melaksanakan kegiatan nomor 1, 2 dan 3 dari 8 tahapan yang disarankan yaitu: 1. Analisis Potensi Ekonomi Lokal, tujuannya adalah untuk mengidentifikasi calon kluster yang akan dikembangkan yang sekiranya dapat memajukan ekonomi lokal. 2. Kumpulkan Dan Identifikasi Potensi Kluster, pada tahapan ini sudah didapatkan beberapa calon klaster yang potensial. Selanjutnya lakukan review dan analisis dengan mendalam terhadap kluster perioritas. 3. Tetapkan Pemimpin dalam tim, tahapan ini adalah sangat penting, karena maju mundurnya organisasi kluster tergantung dari kualitas kepemimpuinan mereka. 4.

Kembangkan Visi Kluster, visi ini harus didiskusikan dengan seluruh stakeholder (sharing vision) agar semua pihak terlibat dan bertanggung jawab dalam memberhasilkan visi yang sudah ditetapkan tersebut. 5. Rencanakan Strategi Yang Akan Ditempuh, kluster membutuhkan identifikasi dan strategi umum tentang langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai visi yang telah ditetapkan tersebut. Langkah ini harus difahami oleh seluruh anggota yang terlibat dalam kluster sehingga isu-isu kunci keberhasilan dapat dilakukan dengan baik. 6. Tetapkan Agenda Yang Segera Akan Dilaksanakan, 7.

(5)

Virtual conference via Zoom Meeting, 17 November 2021 | 542 Formalisasi Institusi Kluster, untuk menjamin keberhasilan klaster dalam jangka panjang, maka perlu memformalkan bentuk klaster tersebut menjadi organisasi formal. Biasanya dibutuhkan waktu 12 – 24 bulan untuk memformalkan institusi klaster ini bahkan mungkin dibutuhkan waktu lebih panjang atau lebih cepat apabila memungkinkan. 8. Upgrading Agenda Strategis, kluster yang sudah terbentuk dan terlihat sudah memberikan manfaat bagi anggotanya, maka perlu difikirkan untuk agenda strategis ke depannya, seperti:

benchmarking, studi banding ke kluster yang lebih maju, mengidentifikasi gap antara kemampuan dengan kebutuhan, mengembangkan kerjasama, baik dengan dengan lembaga sejenis, maupun dengan lembaga pendidikan dan mengembangkan merk-merk yang akan mensupport pengembangan kluster ke depannya

Gb 1: Suasana Pelatihan Pembentukan Kluster Gb.2: Bumdes Maju Berkah Sbg Mitra Pembentukan Kluster

KESIMPULAN DAN SARAN

Kegiatan ini sangat diapresiasi oleh semua kalangan dalam masyarakat terutama oleh pemimpin formal di desa Midang seperti kepala desa, kepala dusun dengan segala perngkatnya. Demikian juga hal dengan tokoh masyarakat, tokoh pemuda maupun tokoh agama baik formal maupun informal. Antusiasme peserta untuk mengikuti kegiatan sangat tinggi, akan tetapi karena tempat dan waktu yang terbatas, maka yang dilibatkan hanya orang-orang yang ingin mengembangkan usahanya dan punya keterkaitan usaha satu dengan lainnya. Oleh karena dibutuhkan waktu dan upaya yang luar biasa untuk membentuk suatu kluster, maka dibutuhkan keterlibatan dan keseriusan semua pihak untuk mengawal pembentukan ini. Pihak-pihak yang terkait antara lain: kepala desa dengan segenap aparatnya, para pengusaha yang bersedia untuk dikembangkan, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh agama, pegiat pemberdayaan masyarakat, perguruan tinggi dan pihak lainnya yang tertarik untuk melakukan program ini.

DAFTAR PUSTAKA

(6)

Virtual conference via Zoom Meeting, 17 November 2021 | 543 ---, Undang-Undang No. 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah ---, Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2013 Tentang Pelaksanaan UU No. 20 Tahun

2008

Asian Development Bank SME Development TA, 2001 : Praktek Terbaik Mengembangkan Klaster Industri dan Jaringan Bisnis, Policy Discussion Paper No.8

Asian Development Bank SME Development TA, 2001 : Praktek Terbaik Dalam Menciptakan Suatu Lingkungan Kondusif Bagii UKM., Policy Discussion Paper No.1 Badan Pusat Statistik, 2019, Analisis Hasil SE 2016 Lanjutan, Potensi Peningkatan Kinerja

Usaha Mikro Kecil, Jakarta

Cluster Navigators Ltd., 2001: Cluster Building, A Toolkit, A Manual for Starting and Developing Local Cluster in New Zealand.

Ferdinan, 2016 : Strategi Pengembangan Klaster Usaha Mikro Kecil dan Menengah Keripik Tempe di Sanan Malang, Jurnal Aplikasi Manajemen, Vol 14, No. 1. 2016.

Irianto, Jusuf , 1996 Industri Kecil Dalam Perspektif Pembinaan dan Pengembangan, Airlangga University Press, Surabaya

Iwantono, Sutrisno , 2003: Kiat Sukses Berwirausaha, Strategi baru Mengelola Usaha Kecil dan menengah, Grasindo Jakarta.

Kasanah, Yulinda Uswatun dan Nur Aini Masruroh, 2019 : Pengembangan Model Strategi Pembinaan Sentra UKM Kerajinan Bambu Kabupaten Sleman Prosiding Seminar Nasional Departemen Teknik Industri dan Mesin Universitas Gadjah Mada.

Meneg. KUKM. RI : SK Meneg. KUKM No. 32Kep./M.KUKM/IV/2002

Porter ME. 2000. Local, Competition and Economic Development : Local Cluster in a Global Economy. Jurnal Economic Development Quarterly, Vol 14 (1) : 15-34.

Harvard Business Review.

Tambunan, Tulus, 2002. Usaha Kecil dan Menengah di Indonesia, Beberapa Isu Penting, Salemba Empat, Jakarta

Taufik, Tatang A, 2001, Perspektif Kebijakan : Pendekatan Klaster Dalam Pengembangan Unggulan Daerah, ITS Publication, Surabaya.

Referensi

Dokumen terkait

Beberapa penelitian telah dilakukan di bidang deep learning dan machine learning salah satunya yang dilakukan oleh Halprin Abhirawa1 membahas mengenai implementasi

Langkah pertama yang dapat diambil daerah dalam memanfaatkan atau mengambil peluang besar dalam politik luar negeri adalah dengan memetakan prioritas politik luar negeri

Dari hasil diskusi dengan mitra Kepala Sekolah dan beberapa guru MA NW NW Boro’ Tumbuh diperoleh simpulan bersama bahwa terdapat beberapa masalah utama yang ditemui pada

(3.1.) Pertemuan pertama, pada pertemuan pertama ini tim pelaksana pengabdian yang keseluruhannya berjumlah 5 (lima) orang hadir 1 (satu) hari sebelum pelaksanaan

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini difokuskan pada pendampingan implementasi pembelajaran guided discovery melalui lesson study for learning community (LSLC)

Berkaitan dengan itu, kegiatan PKM ini bertujuan untuk: (1) memberikan pemahaman kepada guru di pondok pesantren Nurul Haramain Putri Narmada tentang konsep LS dan cara

Bentuk Penghinaan ringan (eenvoudigde belediging) dirumuskan dalam Pasal 315 sebagai berikut : Tiap-tiap penghinaan dengan sengaja yang tidak bersifat menista atau

Dengan demikian masyarakat adat Sasak secara hukum berhak untuk menguasai dan memanfaatkan motif-motif kain tenun tradisional mereka dan dapat mengambil tindakan hukum yang